Selasa, 15 Mei 2012

Natalie Sarah

Tausiah K.H. Abdullah Gymnastiar di Pondok Pesantren Daarut Tauhid yang menyejukkan membuka pintu hatinya untuk mendalami Islam.

Siapa tak kenal artis sinetron Natalie Sarah? Artis pendatang baru yang namanya mencuat lewat sinetron Kawin Gantung itu, di tengah kesibukan shooting-nya, masih menyempatkan diri mengikuti pengajian artis di Jemaah Syamsu Rizal. Artis berdarah Aceh dan Sunda ini memang mualaf, belum lama menjadi muslimah.
Sebelum main sinetron, ia sudah lama berkiprah di dunia model. Kariernya ia tempuh dari bawah, mulai dari model dalam pameran busana dan sebagai cover majalah remaja, kemudian menjadi figuran dalam sebuah sinetron remaja. Selain Doa dan Anugrah 2, sinetron lain yang ia dukung, antara lain, Cintaku di Rumah Susun, Kawin Gantung, dan Dari Temen Jadi Demen produksi Multivision Plus.
Meski lahir dan dibesarkan dalam keluarga Aceh-Sunda, tidak berarti ia cukup dekat dengan suasana dan kehidupan yang Islami. Sebab, orangtuanya beragama Kristen. Maka bisa dimaklumi jika hidayah Allah SWT yang ia terima melalui proses yang cukup panjang. Hidayah itu mulai menyentuh hatinya sekitar empat tahun lalu, ketika ia berusia 18 tahun. Ia lahir 1 Desember 1983 di Bandung. Ketika itu, pada suatu malam, ia bermimpi bertemu seorang kakek berjubah putih yang mengajaknya membaca surah Al-Fatihah.
Sejak itu hatinya mulai bergolak. Timbul semacam pergulatan batin untuk mulai mendekati Islam. Namun, ketika itu ia sama sekali tidak mengenal ajaran Islam. Bahkan makna Al-Fatihah pun ia tidak tahu. “Saya sama sekali tidak tahu makna Al-Fatihah, walaupun ketika di SD saya sering mendengar teman-teman membacanya. Setelah bertanya kepada teman-teman apa makna mimpi tersebut, saya diberi kitab Al-Quran terjemahan. Saya lalu mempelajarinya,” tuturnya.
Namun, karena keluarganya termasuk sangat taat beragama Kristen, sangat sulit bagi mereka untuk menerima jika salah seorang anggota keluarga memeluk agama lain. Meski begitu, tekad Natalie Sarah sudah bulat – ia sudah mantap untuk memeluk Islam. “Sebelum mengucapkan dua kalimah syahadat, saya sudah memikirkan bakal jadi urusan keluarga. Ternyata benar. Dan semua mualaf ternyata memang mengalami hal seperti itu,” tuturnya lagi.
Sarah mendapatkan hidayah Islam di usia yang masih muda, sekitar 18 tahun. Saat itu, rumah tangga orangtuanya di ambang perceraian. Khawatir kehilangan sandaran hidup, ia berusaha mencari pegangan hidup sendiri. Alhamdulillah, ia bertemu seorang sahabat yang kerap mengikuti pengajian di Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, asuhan K.H. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Maka ia pun ikut sang sahabat mengaji di sana.

Elu Ngapain?
Mengikuti kehidupan Islami, praktik ibadah yang khusyuk dan tausiah Aa Gym yang sejuk di Daarut Tauhid, membawanya menemukan Islam, yang damai. Islam, yang mengajarkan tata cara menata hati, bertolak belakang dengan pemahaman sebelumnya seolah Islam itu keras dan garang. “Soalnya selama ini saya sering mendengar ceramah-ceramah para ustaz yang selalu mendiskreditkan agama tertentu,” katanya.
Bahkan pada hari pertama mengikuti tausiah Aa Gym, air matanya sempat menitik. “Ketika itu ada acara bagi para jemaah untuk kembali kepada diri kita sendiri dengan cara merenung. Di situlah, malam itu, saya benar-benar mengenal diri saya sendiri. Dan saya menangis,” katanya lagi. Tapi, ia sengaja hadir usai salat Isya. Mengapa? Pertama, ia khawatir teman-temannya memergokinya. “Saya takut teman-teman yang tahu saya non-muslim pada teriak, ‘Sarah elu ngapain? Bukan muslim kok ada di sini?’.” Selain itu, ia kan belum bisa salat. Jadi, ia sengaja datang ketika semua jemaah sudah menunaikan salat.
Setelah yakin dengan kebenaran Islam, Natalie, yang ketika itu masih duduk di kelas III SMA, pada bulan Juli 2001 memutuskan menjadi seorang muslimah. Namun, hal itu ia lakukan secara sembunyi-sembunyi – takut ketahuan oleh keluarganya. Seperti mualaf yang lain, ia juga takut bakal diusir oleh keluarga dari rumah, dijauhi teman-teman dan saudaranya.
Memang cukup banyak cobaan yang ia hadapi. Namun, ia tetap berusaha menghadapinya dengan sabar. “Sejak saya menjadi muslimah, sedikit demi sedikit komunitas dan pergaulan saya berubah,” tuturnya. Untuk menghindari keluarganya itulah, setelah lulus SMA ia hijrah ke Jakarta menemani ibunya, Nurmiaty, yang sudah bercerai dengan ayahnya. “Dan di Jakarta saya benar-benar seperti ayam kehilangan induk, karena enggak punya teman sama sekali, sementara beberapa keluarga Mama sering datang ke rumah mengajak pergi beribadat ke gereja,” ujarnya.
Ajakan itu ia tolak dengan halus. Berbagai alasan ia ajukan: malas, ketiduran, dan sebagainya. “Tapi, lama-lama keluarga saya curiga.” Agar tidak ketahuan sudah menjadi muslimah, Sarah mengatur siasat dengan main kucing-kucingan: setiap malam Minggu ia menginap di rumah seorang teman. Meski demikian, sesekali ia terpaksa ikut serta pergi ke gereja. Tapi, di gereja itu ia membaca doanya sendiri kepada Allah SWT.
Suatu hari, ketika ikut serta ke gereja, seorang temannya bertanya, “Sar, kamu kok enggak nyanyi?”
Ia segera menjawab, “Itu kan lagu baru, saya enggak hafal,” sambil terus berzikir. Main kucing-kucingan itu sempat berlangsung selama beberapa tahun. Sarah melakukan ibadah dengan sangat hati-hati, sampai-sampai kepada teman-temannya pun ia tetap mengaku sebagai seorang Kristiani. Pernah suatu ketika ibunya memeriksa tasnya, dan ketahuan ada buku panduan salat di dalamnya. Kontan ia berujar, “Buku itu milik teman yang ketinggalan, akan saya kembalikan.”
Begitu pula ketika ia memasuki dunia sinetron pada 2001, semua awak sinetron menganggap dia masih Kristen. Tapi, ada beberapa teman yang belakangan secara tidak langsung membocorkan bahwa dia sudah muslimah, tapi tidak mau mengaku. Setiap kali masuk waktu salat, ia menunaikannya dengan sembunyi-sembunyi – setelah semua pemain dan awak sinetron selesai salat. Hal itu berlangsung selama dua tahun, sejak 2001 hingga pertengahan 2003.

Bingung Mengubur
Pada pertengahan 2003 itulah, ketika pamannya meninggal dunia, tabir mulai tersingkap. Saat itu, pamannya – yang muslim tapi juga menyembunyikan kemuslimannya seperti halnya Sarah – hampir saja dikubur dengan upacara Kristen, sampai akhirnya ditemukan identitas yang menunjukkan kemuslimannya. Dari kejadian itu Sarah seperti mendapat peringatan, terutama ketika salah seorang anggota keluarga besarnya bilang, “Makanya kalau beragama itu harus jelas. Kalau Islam ya Islam, kalau Kristen ya Kristen. Kalau seperti ini kan menguburnya pun jadinya bingung.”
Namun, sampai sejauh itu, lagi-lagi, ia tak punya nyali untuk mengaku kepada keluarga besarnya sebagai seorang muslimah. Ia hanya berpesan kepada seorang sahabatnya, “Seandainya suatu saat kelak saya meninggal, tolong kuburkan saya secara Islam. Itu wasiat lisan saya, karena soal umur siapa yang tahu.”
Akan tetapi, sekarang, ia sudah secara terang-terangan menyatakan diri sebagai muslimah. Ia juga sudah tidak lagi takut dihujat atau diusir oleh keluarganya. Sebab, secara ekonomi, ia sudah mapan. Apalagi, pada 2003, sebenarnya sudah tersebar berita di sebuah acara infotainment di sebuah televisi swasta bahwa ia seorang mualaf. “Untung acara itu ditayangkan pagi hari, sehingga tak banyak keluarga saya yang tahu. Namun, memasuki tahun 2004, berita bahwa saya mualaf mulai banyak tersiar, sehingga keluarganya banyak yang tahu. Tapi mereka diam saja, karena beranggapan bahwa kelak saya bakal kembali lagi, seperti halnya artis yang lainnya,” katanya.
Baru pada bulan Juni 2005, keluarga besarnya heboh, ketika Sarah bermaksud menunaikan ibadah umrah. “Mereka datang ke rumah untuk menyidang saya,” kenangnya. Saat itu, Sarah sedang berpuasa sunah dan tengah sibuk shooting, sementara tekanan psikologis dari keluarga besarnya tak kunjung henti. Akhirnya ia jatuh sakit dan puasa sunahnya batal. Ia sempat pingsan sejenak, dan merasa berada di tengah lautan manusia yang sedang bertawaf. Bahkan ketika sudah sadar, bibirnya masih melafalkan Labbaikallahumma labaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wannikmata laka wal mulk. La syarikalak.
“Sejak itu saya lebih rajin menabung, dan bertekad untuk menunaikan ibadah umrah secepatnya,” katanya lagi. Akhirnya, cita-citanya terkabul. Ketika hendak berangkat, Sarah menemui keluarganya untuk pamitan, dan sempat menangis. Beberapa saat menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, ia sempat berujar lirih, “Ya Allah... masa, saya tidak boleh menginjakkan kaki ini ke Tanah Suci-Mu?” Di Tanah Suci ia memanjatkan segala macam doa, antara lain agar Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya sehingga keluarga besarnya memahami kemuslimahannya.
Doanya terkabul. Kini, keluarga besarnya sudah memahami pilihan Natalie Sarah memeluk Islam. Mereka bahkan menghormati pilihan itu.


Tidak ada komentar: