Rabu, 30 Mei 2012

Dampak Sosial Haji


Predikat Haji meamang luarbiasa. Apalagi kalau predikat haji itu sebagai tanda kemabruran dalam melaksanakan ibadah haji.

Ibadah Haji memang  gemanya menggaung ke seluruh dunia. Sekalipun ibadah tahunan, namun gemanya selalu mengalahkan ibadah-ibadah yang yang berskala lokal maupun regional. Syiar Haji melampaui batas-batas negara bahkan dunia. Barangkali tidak ada ibadah rutin yang beritanya selalu menyedot perhatian dunia seperti Haji. Sebuah Ibadah sangat kolosal karena ditunaikan dan diikuti oleh jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia.
Setiap ibadah dalam Islam memiliki efek sosial : salat, puasa, haji dan ibadah lainnya. Efek itu bervariasi . Ada yang besifat individual atau mungkin komunal, ada pula yang bersifat keumatan yang mengatasi batas-batas negara, efek dari sosial Haji.
Haji seperti dikatakan Ali Ahmad Al Jurjawi dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuh, ibadah Haji adalah ibadah yang membuat takut bangsa barat. Sebab mereka sangat paham akan hikmah dan efek potensial haji untuk meemperkuat kebersatuan dan solidaritas umat Islam di seluruh dunia.
Gubernur Jendral Rafles dam buku History of Java pernah menyatakan,” Setiap orang Arab dari Mekkah, begitu pula orang Jawa yang pulang haji, segera dianggap sebagai orang suci, sementara orang awam menyimpulkan bahwa mereka memiliki kekuatan gaib. Karena itu, mudah bagi mereka untuk membangkitkan gerakan perlawanan dalam negara dan mereka menjadi instrumen paling berbahaya di tangan para pejabat yang menentang otoritas Hindia Belanda.”
Gubernur Jendral Inggris itu juga menulis, ”Mohammedan priests have almost invariably been found most active in every case of insurrection.” (Para pastur Islam--maksudnya Kyai , Haji dan orang Arab—hampir selalu didapati paling aktif dalam, setiap kasus pemeberontakan).
Kenyataan memang demikian, misalnya pemberontakan petani di Cilegon tahun 1888 yang telah menghebohkan seluruh Hindia Belanda itu, dipimpin oleh Haji Wasid. Begitupun pemberontakan di Sidoarjo dan Yogyakarta yang meletus hampir bersamaan.
Perang Paderi di Sumatera Barat mula-mula dipicu oleh trio Haji yang baru pulang dari Mekkah. Mereka tergugah melihat berbagai pelanggaran Syariat yang terjadi di daerahnya mulai dari sabung ayam, mabuk-mabukan dan semacamanya. Dari mula-mula perang melawan maksiat, lalu berkembang melawan penjajah.
Begitu takutnya dengan pak Haji, sampai-sampai para pejabat kolonial tidak mau mengangkat anak seorang bupati sebagai pengganti sang bapak karena mereka telah bertitel Haji.
 Begitulah, haji memang potensial untuk memicu transformasi sosial. Berhaji tidak hanya memepertebal ketaqwaan dan keimanan, tetapi juga memberi kesempatan pada jamaah untuk melakukan studi banding. Haji mempertebal kecoiantaan terhadap nilai-nilai dahn akhlaq keislaman , sehingga orang terdorong untuk menerapkannya sekembali dari tanah suci, setidaknya begitu yng banyak terjadi dahulu.
Orang pun termotivasi untuk melakukann transformasi sosial di daerahnya mengubah alam maksiat menuju alam ketaatan , dari alam penindasan menuju alam keadilan dari alam kegelapan menuju alam terang benderang.
Luar biasa memang dampak sosial bagi jamaah haji. Saat wukuf di Arofah, semua orang berbaur menjadi satu dan hanya memakai pakaian ihram berwarna putih.  Yang terjadi saat wukuf adalah bangkitnya rasa ukhuwwah. Merasakan berada di tengah orang yang saling bercakap dengan beraaneka bahasa yang tidak dapat dimengerti satu persatu. Tapi merasakan ada kedekatan antara satu orang dengan orang yang lain.
Walau berlainan bahasa, tidak berarti para jamaah tidak saling bertegur sapa, tidak saling berkomunikasi. Walapun hanya dengan salam, “Assalamu’alaikum,” yang dipahami oleh semua dan diketahui jawabannya oleh semua. Atau hanya dengan anggukan kepala dengan senyuman.
Tidak sedikit jamaah haji dari Indonesia yang masih berlepotan apalagi berkomunikasi dengan  bahasa asing dan pulang sambil membawa oleh-oleh. Bahkan tak jarang antar jemaah saling bertukar cindera mata, mereka melakukan dengan berkomunikasi lewat aksi saling menolong, berbagi dan saling bekerjasama. Ringan  sama dijinjing berat sama dipikul.
Dengan saling memberi tempat di masjid atau berbagi makanan dan minuman. Tidak sedikit jamaah ada yang diundang makan makan oleh saudaranya yang berasal dari negara lain. Atau saling menyemprotkan air ke kepala jamaah lain guna meredam dampak panas matahari, yang kemudian dibalas senyum oleh orang yang disemprot. Sungguh indahnya kebersamaan, solidaritas dan rasa persaudaraan yang tinggi di saat berhaji.
Solidaritas itu mestinya bisa membuahkan hal-hal positip sekembali mereka dari tanah suci ke negara masing-masing. Bisa merasakan senasib sependeritaan dengan sesama muslim, tak peduli di mana mereka berada. Terutama kepada muslim yang ditimpa kesusahan: dalam ketertindasan sepertisaudara –saudara kita di Iraq, Palestina dan Afganistan. Atau saudaara-saudara kita yang kerap terkena bencana alam.
Namun kenyataannya, kita melihat makin merosotnya rasa ukhuwwah diantara kita. Perpecahan, permusuhan dan konflik yang mudah disulut diantara kita. Mengapa?
Ada banyak jawaban, Namun semuanya bermuara pada dua faktor internal umat dan faktor eksternal. Secara internal ada masalah dengan kedewasaaan kita sebagai umat. Ini diperparah dengan kurangnya penghayatan jamaah terhadap nilai-nilai sosial haji. Sedang secara eksternal, kita menghadapi serangan yang begitu hebat terhadap kohesi keumatan kita. Ada politikk devide et impera yang begitu canggih dan efektip. Contoh paling konkrit dapat kita saksikan di Irak,M Afganistan, Palestina, Yaman, Libanon sekarang ini.
Tetapi politik ini juga dengan cara yang lebih halus menghantam umat lainnya: antara negara Arab dengan negara Arab lainnya, bahkan antara negera muslim dengan negeri muslim lainnya. Tak terkecuali antara satu komunitas muslim dengan komunitas muslim lainnya.
Di samping itu, diperkenalkannya ide-ide tandingan oleh kaum cerdik pandai muslim juga potensial untuk mereduksi atau malaha menenggelamkan ajaran ukhuwah islamiyah kita. Misalnya ide ukhuwwah basyariah (persaudaraan kemanuisaan) atau ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan)-istilah-istilah yang sebenarnya tidak dikenal dalam teks Islam. Ide-ide itu terus menerus diperkenalkan sembari mencibir ukhuwwah islamiyyah sebagai sesuatu yang kolot dan ketinggalan dan bukan berati kita menentang ide-ide tersebut, sebatas tidak mengganggu ajaran ukhuwwah islamiyah yang asli.
Lebih dari itu, ada usaha yang konsisten untuk menjauhkan kita secara emosional  dari saudara-saudara muslim yang berlainan bangsa. Ditanamkan terus propaganda bahwa kita satu bangsa dan mereka bangsa lain. Sehingga adalah naif untuk memberikan kepedulian “berlebihan” kepada mereka. Kalau perlu dengan menanamkan citra atau cap buruk mengenai mereka. Alhasil diantara kita dibuat jarak yang lebar dan semakin lebar. Terkadang sesam muslim di satu negeri pun tanpa kita sadari dibangun tembok tinggi sehingga terjadi saling curiga.
Barat, sebagaimana Jurjawi sangat memahami dampak sosial Haji yang begitu hebat. Karena Haji adalah Muktamar ibadah orang muslim sedunia. Tetapi mereka tahu, sekarang tidak mungkin menghalangi orang berhaji. Yang bisa kita lakukan hanyalah barangkali, membuat pencitraan yang buruk mengenai haji, melalui dramatisasi kecelakaan selebihnya adalah mereduksi (mengurangi) atau bahkan menetralisir dampak positip haji tadi melalui usaha-usaha besar  baikl yang kasar maupun yang halus . Ibarat Air, dampak positip haji yang berupa riak-riak itu segera melenyap diterjang arus gelombang lebih besar dan terus menerus.
Barat, sekali lagi sangat tahu tidak mungkin menghalangi orang berghaji. Di samping itu bertentangan dengan prinsip demokrasi dan keterbukaan mereka. Dari tahun ke tahun jumnlah haji kita sekalu mengalami peningkatan membuat orang bertanya-tanya sekarang kalau kita hendak berhaji kita harus mendaftar dahulu 2-3 tahun sebelumnya karena jatah untuk tahun depan sudah habis.
Itulah hebatnya haji memang tak mungkin bisa dibendung. Dia ibarat air yang selalu mencari jalan untuk mengalir atau ibarat udara yang akan mencari-caari celah untuk menembus. Sebab panggilan haji sangatlah bukan dengan suara manusia tetapi langsung oleh Allah, sesuasi farm,an-Nya,”Dan serukanlah kepada  mnusia yang berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari seluruh penjuru yang jauh.” (QS Al Hajj:27).
Karena berasal dari Allah, maka pangggilan itu langsung menghunjam dna menggema di hati lubuk paling dalam. Dari situlah orang tergugah untuk berhaji. Tak peduli betapa pun mahalnya . Betapa pun bahayanya , betapapun jerih payahnya, Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar, Walilla hilhamd!    (***) Aji Setiawan

Tidak ada komentar: