Jumat, 18 Desember 2015

Berdayakan Lahan Tidur



Memberdayakan Lahan Kosong

Musim hujan telah tiba. Saatnya membangkitkan pekarangan dan lahan kosong untuk dibersihkan dan ditanami pohon-pohon yang produktif baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Sebagai tabungan untuk hari tua.

Tanaman palawija, buah-buahan dan kayu-kayuan sangat cocok ditanam di kebun yang kosong atau lahan tidur. Salah satunya yang dilakukan oleh petani asal desa Cipawon Kec Bukateja Kab Purbalingga, Warsono (48 tahun). Lahan kosong miliknya ditanami Cabai dan  Tanaman Albasia.
Cara bertanam cabai kuning sangat mudah. Dengan modal kurang lebih hanya 100 ribu rupiah. Ia bisa Menanam 3000 biji yang setelah ditanam 1 setengah bulan, dapat dijual Rp 300,- per batang. “Jadi untuk ongkos jual yang kurang lebih totalnya 900ribu dikurangi modal awal, dapat keuntungan keuntungan 800 ribu. Jadi prospek usahanya sangat menjanjikan,” kata Bapak 2 putra (1 putra, 1 putri) ini mengawali kisahnya.
Untuk tanaman lain yang sekarang diberdayakan adalah kayu Albasiah. Albasiah merupakan jenis tanaman jangka panjang yang memerlukan perawatan khusus secara kontinyu pada usia 1 sampai dengan 3 tahun pertama masa budidaya. Selama kurang lebih 3 tahun atau kira-kira tanaman tersebut sudah hampir mencapai lingkaran gelang tangan orang dewasa tanaman sengon membutuhkan perawatan yang meliputi : pemupukan, penyiangan, dan penggemburan tanah di sekitar pohon albasia tersebut. Perawatan tersebut sangatlah diperlukan karena pada masa 1 s/d 3 tahun merupakan masa pertumbuhan yang sangat baik sekaligus rawan sehingga perawatan sangatlah penting untuk dilakukan secara berkala.
“Untuk pemupukan biasanya di lakukan pada usia 30 hari setelah penanaman. Hal ini penting mengingat akar tanaman sudah mulai tumbuh dan mulai menyerap unsur hara atau pupuk yang ada. Adapun untuk pupuknya bisa menggunakan pupuk jenis organik maupun anorganik dengan dosis yang cukup. Untuk interval pemupukan sendiri di lakukan 1 tahun 2 kali, yaitu sekitar 6 bulan sekali,” katanya.
Ada pun untuk penyiangan pun sangat penting dilakukan, meng├Čngat biasanya tanaman albasia yang masih kecil biasanya tidak kuat apabila dirambati terlalu banyak rumput merambat atau rumput galunggung. Jadi hal ini pun penting dilakukan secara berkala sebulan sekali, mengingat rumput tersebut daya rambatnya yang cepat.
Penggemburan tanah atau pendangiran di sekitar tanaman tersebut juga sangat diperlukan sampai tanaman albasia tersebut berumur 1 tahun. Hal ini bertujuan agar akar tanaman dapat leluasa dan lebih mudah menjangkau unsur hara di dalam tanah. Biasanya penggemburan tanah dilakukan dengan cara dicangkul di sekitar tanaman dengan jarak 0.5 meter. Dan akan sangat baik apabila tanah yang telah digemburkan tersebut selanjutnya ditimbun pupuk kandang matang.
Penyemprotan juga penting pada tanaman usia di bawah 1 tahun. Hal ini agar tanaman terhindar serangan hama cendawan yang biasanya menyerang pada ujung atau pucuk tanaman sengon. Sehingga penyemprotan pestisida baik organik maupun kimia juga penting dilakukan secara berkala sebagai aktivitas pengontrolan secara rutin.
Disarankan apabila hendak melakukan penyemprotan pupuk daun sebaiknya dilakukan pada pagi hari di bawah jam 10.00. Sebab pada waktu tersebut adalah situasi di mana kondisi stomata (mulut daun) terbuka untuk melakukan fotosintesis atau pemasakan nutrisi. Sehingga apabila penyemprotan tersebut dilakukan pada pagi hari, maka nutrisi yang disemprotkan pada tanaman akan langsung dimasak oleh daun dan dimanfaatkan untuk pertumbuhannya.
Menurut Warsono petani tanaman albasiah dengan modal 5 juta rupiah dapat dihasilkan  9000 batang siap edar. “Sebatang dijual 1000 rupiah, total 9000 juta rupiah keuntungan kotor 4 juta rupiah,” kata petani asal dukuh kembaran Desa Cipawon Kec Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah ini.
Bagi petani yang membutuhkan bibit tanaman unggulan seperti durian montong, cengkih, jambu citra, jeruk dll dapat memesan langsung ke tempat pembibitan untuk memilih bibit bermutu dan sehat, tersedia partai eceran dan grosiran atau lebih gampangnya kontak langsung telp 085290636532.
Demikian beberapa cara perawatan tanaman albasia berdasarkan hasil pengalaman dari banyak petani dan pengusaha budidaya tanaman sengon atau albasia yang sukses. (***) Aji

Selasa, 15 Desember 2015

Kumpulan Hikmah







Kumpulan
Hikmah



Disusun oleh : Aji Setiawan












Kumpulan Hikmah
Katalog Dalam Penerbitan : ISBN : 0507-11878
Mutiara Mutiara Rasulullah SAW

Hak penerbitan ada pada penerbit :

Penyusun: Aji Setiawan
Penyunting: Penerbit
Desain Sampul:
Diterbitkan oleh penerbit:


Buku ini dapat dipesan di perwakilan penerbit:













Kata Pengantar



Puji syukur penulis panjatkan ke Hadlirat Allah SWT Jalajalluhu warahmatuhu atas terselesaikannya bunga rampai kumpulan Mutiara-mutiara Rasulullah SAW yang dimuat majalah alKisah dan sebagian kisah Hikmah Harian Umum Republika. Dan tidak lupa seiring salam dan shalawat penulis haturkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang telah membawa kita dari dunia yang penuh kegelapan menunju kehidupan yang terang benderang. 
Naskah-naskah buku ini sebelumnya tercerai berai, namun setelah mendapat respon positif dari teman-teman sesama penulis, penulis terpacu untuk mengumpulkan kembali bahan-bahan tulisan tentang kehidupan sehari-hari Rasulullah SAW.
Dengan diterbitkannya buku ini, penulis mengajak pembaca agar benar-benar menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi Akhirul Jaman, Nabi terakhir yang mempunyai misi besar untuk menyempurnakan akhlaq manusia.
Dengan membaca buku yang berjudul Kumpulan Hikmah, harapannya semoga pembaca dapat mengambil suri tauladan (uswatun khasanah) dari kehidupan beliau di masa lampau, untuk dihidupkan kembali pada masa-masa sekarang dan mendatang.
Akhirul kalam, akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat untuk kita semua kaum muslimin pada saat ini dan umat yang akan datang hingga datang ketetapan Allah. Dan semoga Allah SWT berkenan membuka pintu Hidayah sehingga semakin banyak orang bisa mengambil manfaat bagi umat Islam dan kaum muslimin. Amin Ya Robal Alamin.
Senin, 05 Nopember 2011 M 09 Dzulhijah 1432 H



Aji Setiawan





















Daftar Isi halaman
Cover..................................................................................................................................... ...i
Kata Pengantar....................................................................................................................... .ii
Daftar isi..................................................................................................................................iii
Kelahiran Sang Nabi ...............................................................................................................1
Dusta Yang Diperbolehkan .................................................................................................... .3
Ridha Allah, Ridha Ibu............................................................................................................5
Takluknya Raja Habib bin Malik.............................................................................................7
Kapak untuk Sang Pengemis...................................................................................................10
Kabar Gembira dari Langit.....................................................................................................12
Keberkahan Hidangan Jabir....................................................................................................17
Usapan Yang Penuh Berkah...................................................................................................19
Dajal, Isa Ya’juj dan Ma’juj....................................................................................................21
Lelaki Terakhir Masuk Sorga.................................................................................................23
Syafa’at Rasulullah SAW.......................................................................................................25
Pelajaran Hakikat Rasulullah SAW........................................................................................27
Amal yang diterima Allah SWT..............................................................................................28
Jaminan Rasulullah SAW........................................................................................................30
Rasulullah SAW Dibantu Jin Muslim......................................................................................32
Terjebak ke Lubang Jebakan Sendiri.......................................................................................34
Tanda-tanda Kiamat Kecil.......................................................................................................36
Cinta Rasul pada Anak Yatim.................................................................................................38
Menjaga Lisan.........................................................................................................................40
Ajaran Rasul tentang Zakat.....................................................................................................41
Keutamaan Bulan Ramadan....................................................................................................43
Ancaman Melalaikan Salat......................................................................................................45
Keutamaan Salat......................................................................................................................47
Salat Malam Sepanjang Malam...............................................................................................49
Kesaksian Seekor Unta............................................................................................................51
Sembuh berkat Doa Rasulullah SAW.....................................................................................53
Orang Mukmin dan Kafir Saat Meninggal..............................................................................55
Kunci Kegaiban dan Kejadian Sesudah Kematian..................................................................57
Mimpi Rasulullah SAW..........................................................................................................60
Pinangan 400 Dirham..............................................................................................................62
Sederhana dan Bersahaja.........................................................................................................65
Mensyukuri Nikmat Allah SWT..............................................................................................67
Bangkit Bersama Untuk Perubahan.........................................................................................69
Keadilan Rasulullah SAW.......................................................................................................71
Kearifan Rasulullah SAW........................................................................................................73
Abu Thalhah dan Keberkahan Rasulullah...................................................................................
Smiling Full Rasulullah SAW.....................................................................................................
Air Minum Tak Pernah Habis.....................................................................................................
Kesabaran Rasulullah Berdakwah di Tha’if................................................................................
Keikhlasan Rasulullah SAW.......................................................................................................
Kehidupan beliau yang Zuhud.....................................................................................................
Penghormatan Rasululloh Kepada Ali bin Abu Thalib................................................................
Jejak Kedermawanan Rasulullah..................................................................................................
Hari Terakhir Rasulullah..............................................................................................................











































Kelahiran Sang Nabi

Banyak kejadian yang luarbiasa sebagai tanda kenabian yang terjadi saat Nabi Muhammad SAW dilahirkan.


Malam sunyi senyap, bintang-bintang terang bertaburan di langit angkasa. Tiba-tiba empat belas tembok tinggi Istana Kisra (Maharaja Parsi) runtuh, api sesembahan orang-orang Majusi mendadak padam, dan gereja-gereja di sekitar telaga “Sawah” roboh, setelah dilanda gempa dahsyat. Saat itulah lahir bayi mungil nan tampan dari rahim Siti Aminah. Lepas dari kelahiran, Siti Aminah lalu memberi kabar gembira tetang kelahiran anaknya pada sang kakek yakni Abdul Muthalib. Bayi laki-laki itu adalah buah perkawinan antara Siti Aminah dan Abdullah bin Abdul Muthalib. 
Kelahiran anak laki-laki bagi bangsa Arab merupakan kebanggaan tersendiri. Abdul Muthalib pada hari itu bergembira ria. Hari itu, Senin pagi, 9 Rabiul Awal (22 April 571 M) yang bertepatan dengan tahun pertama peristiwa pasukan gajah Raja Abrahah meyerang kota Mekkah.
Lalu dengan diliputi senyum sumringah dan diliputi kegembiraan yang luarbiasa Abdul Muthalib membawa cucunya ke Ka’bah. Abdul Muthalib berdoa kepada Allah dan bersyukur kepadanya dan ia menamakannya Muhammad. Karena Nama ini tidak populer dan belum dikenal oleh bangsa Arab.
Orang yang pertama kali menyusuinya adalah sang ibu, Siti Aminah dan Tsuaibah. Tsuaibah adalah budak, Abu Lahab yang saatu tengah menyusui anaknya yang bernama Masruh.
Memang sudah menjadi kebiasaan orang arab yang hidup di kota adalah mencari para ibu yang menyusui agar bisa menyusui anak-anak.Tujuan mereka adalah menjauhkan anak-anak dari penyakit-penyakit peradaban dan sekaligus memperkuat fisik anak-anak serta agar mereka sejak kecil bisa mempelajari bahasa Arab. Muhammad SAW tidak hanya disusui oleh Tsuaibah, namun oleh Abul Muthalib, sang paman, ia disusui juga oleh seorang wanita dari bani Sa’d bin Bakr yaitu Halimah binti Abi Dzuaib, istri dari Al Haris bin Abdil Uzza.
Banyak kejadian aneh saat menyusui putra Siti Aminah itu. Saat Halimah bersama suami dan anaknya yang masih menyusu pergi dari kampung dalam rombongan bani Sa’d mencari anak-anak susuan di musim panas dan kering kerontang.
Halimah berkata,”Aku keluar dengan mengendarai keledai putihku. Kami membawa onta kami yang sudah tua. Demi Alloh, onta tersebut tidak mengalirkan air susu setetespun. Semalaman kami tidak bisa tidur karena bayi kami menangis terus menerus karena kelaparan. Air susuku tidak dapat mengenyangkannya dan onta kami pun tidak dapat memberikan air susunya. Kami hanya mengharapkan pertolongan,”pikir Halimah seorang diri.
Halimah lalu keluar dengan mengendarai keledai putih hingga sang keledai kelelahan dan merasa kepayahan. Setelah sampai di Mekkah, Halimah lalu menacari anak-anak sususan. Setiap dari rombongan bani Sa’d itui lalu mencari anak-anak susuan setiap dari wanita-wanita itu tidak ada yang mau menyusui Rasulullah SAW, dikarena ia anak yatim. Sebab mereka mnyusui anak-anak atau bayi yang baru lahir karena mengharapkann kebaikan dari bapak anak-anak yang disusukannya.
Sebagain adari wanita kaum Sa’d itu mengatakan,”Yatim! Apa yang akan diperbuat ibu dan kakeknya?”
Sehingga semua angggota rombongan pun tidak ada yang menginginkannya. Setelah semua hampir siap berangkat pulang, Halimah tiba-tiba berkata pada sang suami yakni Al Haris bin Abdil Uzza, ”Demi Allah, saya tidak suka pulang di tengah sahabat-sahabatku dengan tidak membawa anak susuan.Saya akana membawa anak yatim tersebut dan akan saya ambil.“ 
Al Haris bin Abdil Uzza llau menjawab, “Boleh saja hal itu kamu lakukan. Semoga Allah memberikan barakah pada dirinya untuk kita.”
Selanjutnya Halimah mengatakan,” Aku pun mendatanginya dan mengambilnya. Tidak ada satupun yang mendorongku untuk membawa kecuali karena tidak ada bayi lagi selain dia (Muhammad SAW) yang saya dapati.”
Lepas semua sudah mendapat bayi susuan, rombongan pulang ke kampung halamanya dengan cepat. Aneh, begitu sampai di rumah, kambing-kambing Al Haris bin Abdil Uzza yang tadinya tidak mengeluarkan susu, setelah ada bayi Muhammad SAW kambing-kambing utu dapat mengeluarkan susu. Tanah dan tempat tinggal mereka yang semula tandus dan kering kerontang berubah menjadi padang rumput yang menghijau dan tanaman-tanaman pun berbuah banyak.
Kejadian itu berlangsung sampai 2 tahun lamanya. Setelah berumur dua tahun, Muhammad SAW dibawa ke ibunya di Mekkah sementara Halimah dan Al Haris bin Abdil Uzza. Sebenarnya masih ingin memelihara dan mengasuh Muhammad SAW. Setelah berbincang dengan Siti Aminah, akhirnya Ibunda Muhammad SAW melepaskan kembali sang anak tampan itu untuk kembali diasuh oleh Halimah. Apalagi di Mekkah saat itu banyak terjangkiti penyakit berbahaya.
Demikianlah, Rasulullah SAW sampai berumur 5 tahun diasuh oleh Halimah hidup dan tinggal bersama di tengah-tengah bani Sa’d. Pada umur lima tahun itu pula Muhammad SAW dibelah dadanyna oleh Jibril saat ia bermain-main anak-anak lainnya.
Beliau dibawa Jibril pergi lalu dibaringkan, dibelah dadanya dan dikeluarkan hatinya. Dari hati beliau diambil segumpal darah hitam. Jibril berkata,” Ini lah bagian setan yang ada di dalam tubuhmu.”
Hati beliau lalu dicuci dengan zam-zam dalam sebuah baskom emas, lalu diletakan kembali ke tempat semula, lalau dada beliau ditutup kembali. Sementara itu, anak-anak yang bermain bersama beliau lari menemui ibu susunya memberitahukan bahwa Muhammad SAW dibunuh orang. Semua anggota keluarga mendatanginya dan mereka mendapati Muhammad SAW dalam keadaan pucat.
Setelah peristiwa tersebut, Halimah khawatir terhadap Muhammad SAW. Ia lalu mengembalikannya ke pada sang Ibu kandung saat Muhammad SAW berumur enam tahun. (Sumber referensi : Sejarah Hidup Muhammamad; Sirah Nabawiyah Syaikh Shafiyur Rahman Al Mubarakfury), Robbani Press). 










Menyambut Sang Insanul Kamil

Ihsannul kamil atau akhlaq paripurna atau budi pekerti mulia sebagaimana dicontohkan dan digambarkan dalam perilaku Rasulullah SAW. Sungguh pada diri Rasulullah SAW terdapat perilaku yang mulia dan terpuji.

Islam diakui sebagai agama yang istimewa karena hal ini oleh Allah sendiri telah dinyatakan sebagai agama paripurna dan membentuk insane-insan yang mulia. Inilah dinnul Islam yang lurus , agung , sempurna, abadi dan universal. Tentu saja agama yang sempurna ini hanya mampu dibawa oleh seorang utusan yang mulia dan sempurna pula. Utusan yang mengemban agama Tuhan yang terakhir ini adalah nabi terakhir, Sayidunna Muhammad SAW. 
Kekaguman kepada Rasulullah SAW tidak hanya diakui oleh orang Islam sendiri, namun dunia Barat juga mengakuinua, sebagaimana mereka tulis dalam buku-buku mereka. Adalah sarjana Barat Michael H Hart salah satu ilmuwan barat yang mengakui dan mengagumi Rasulullah SAW, ia tulis dalam bukunya “The 100 a Ranking of The Most Influential Person in History,” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul,”Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah,” dia menempatkan nama Nabi Muhammad SAW pada rangking pertama. Dia menjatuhkan pilihan kepada Nabi Muhammad SAW  pada urutan pertama sebagai tokoh paling berpengaruh tentu mengejutkan  para pembacanya dan menjadi tanda Tanya sebagian yang  lain.
“Tapi saya berpegang pada keyakinan saya , dia (Nabi Muhammad SAW-red) satu-satunya manusia dalam sejarah yang meraih sukses luar biasa , baik ditilik dari sisi agama ataupun lingkup duniawi,” demikian alasan Michael H Hart sang penulis buku.
Sedemikian tinggi kedudukan agung Rasulullah SAW sehingga orang non muslim seperti Michael H Hart pun sebagai sejarahwan besar kontemporer mengakui dan kita atas umat Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk mengikuti dan menjadikannya suri tauladan , karena inilah makna dari beriman kepada Nabi Muhammad SAW termasuk mengamalkan al Qur’an dan al Hadist menjadi bagian pokok dari tanggung jawab untuk mencontoh dan mengikuti ajaran beliau.
Adalah Sunnah-sunnah beliau yang dahulu kita tinggalkan, mulailah kita hidupkan kembali termasuk upaya untuk mengikuti beliau. Kewajiban kita adalah mendahulukan sunnah-sunnah beliau di atas nalar pemikiran. Jangan sampai mempertentangkan dengan Allah SWT sebab tidak mungkin beliau menyimpang dari pada ajaran syariat Allah SWT. Selain itu beliau adalah Nabi terakhir sebagai utusan Allah kepada ummat manusia sepanjang masa.    
Jika pada zaman ini ada yang mempertentangkan Sunnah insan kamil ini dengan Allah SWT atau dengan al Qur’an maka sudah barang tentu orang tersebut telah terseret dalam kesesatan aqidah. Sebab tidak mungkin dan mustahil seorang utusan seperti beliau berpertentangkan dengan Allah dan tidak mungkin pula syariat yang dibawanya menyimpang dari tuntunan Illahy.
Setiap kata yang terucap dari lisannya, perbuatan dan perangainya berada dalam bingkai syari’at dan tentunya itu semua datang dari Allah SWT yang telah mengutus beliau sebagai Nabi. Hal ini senada dengan penjelasan Allah dalam Al Qur’an, ”Dan tidakla Dia (Nabi Muhammad SAW) berbicara dengan hawa nafsu (keinginan dirinya semata), ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diturunkan (kepadanya).” (QS An-Najm; 3-14).
Maka semua akhlaq Rasulullah adalah yang terbaik, perkataannya adalah paling utama. Dengan mengikuti jejak Sang Insan Kamil ini dapat dipastikan kita akan mendapat kebahagiaan dunia akherat.
Ayat Al Qu’ran paling sarat memuji Nabi Muhammad SAW adalah ayat berbunyi wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim, yang artinya sesungguhnya engkau (hai Muhammad ) memiliki akhlak yang sangat agung. Kata khuluq berarti akhlak secara linguistik mempunyai akar kata yang sama dengan khalq yang berarti cipataan. Bedanya kalau kalau khalq lebih bermakna cipataan Allah yang bersifat lahiriah dan fisikal, maka khuluq adalah ciptaan Allah yang bersifat batiniah.
Seorang sahabat pernah mengenang Nabi Muhammad SAW yang mulia dengan kalimat kana rasulullah ahsanan nasi khalqan wa khuluqan, bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang terbaik secara khalq dan khuluq. Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW adalah manusia sempurna dalam segala aspek, baik lahiriah maupun batiniah.
Kesempurnaan lahiriah beliau sering kita dengar dari riwayat para sahabat yang melaporkan tentang sifat-sifat beliau. Hindun bin Abi Halah misalnya mendeskripsikan sifat-sifat lahiriah beliau bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia yang sangat anggun, yang wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama di saat sempurnanya. Badannya tinggi sedang. 
Postur tubuh Nabi tegap. Rambutnya ikal dan panjang tidak melebihi daun telinganya. Warna kulitnya terang. Dahinya luas. Alisnya memanjang halus, bersambung dan indah. Sepotong urat halus membelah kedua alisnya yang akan timbul saat marahnya. Hidungnya mancung sedikit membengkok, yang bagian atasnya berkilau cahaya. Janggutnya lebat, pipinya halus. Matanya hitam. Mulutnya sedang. Giginya putih tersusun rapi. Dadanya bidang dan berbulu ringan. Lehernya putih, bersih dan kemerah-merahan. Perutnya rata dengan dadanya.
Bila berjalan, jalannya cepat laksana orang yang turun dari atas. Bila menoleh, seluruh tubuhnya menoleh. Pandangannya lebih banyak ke arah bumi ketimbang langit, sering merenung. Beliau mengiringi sahabat-sahabatnya di saat berjalan, dan beliau jugalah yang memulai salam.
Deskripsi para sahabat Nabi tentang sifat-sifat manuisa agung seperti ini sangat banyak. Namun ada yang fokus dari al-Qur’an tentang gambaran sifat Nabi Muhammad SAW. Lalu apa yang menjadi fokus pandangan al-Qur’an terhadap Nabi? Jawabnya adalah khuluq-nya alias akhlaqnya. Apa arti akhlak? 
Kata Imam al-Ghazali, akhlak adalah wajah batiniah manusia. Ia bisa indah dan juga bisa buruk. Akhlak yang indah disebut al khuluq al hasan; sementara akhlak yang buruk disebut al khuluq as-sayyi. Akhlak yang baik adalah akhlak yang mampu meletakan secara proporsional fakultas-fakultas yang ada di dalam jiwa manusia. Ia mampu meletakkan dan menggunakan secara adil fakultas-fakultas yang ada dalam dirinya: ‘aqliyah (rasio), ghadabiyah (emosi), syahwaniyyah (syahwat) dan wahmiyah (imajinasi). 
Manusia yang berakhlak baik adalah yang tidak melampui batas dalam menggunakan empat fakultas di atas dan tidak mengabaikannya secara total. Ia akan sangat adil dan proposional di dalam menggunakan fakultas yang ada dalam dirinya.
Orang yang menyandang khuluq al-hasan adalah orang yang mampu meletakan secara proposional dalam membagi secara adil mana hak dunia dan hak akhiratnya. Orang yang menyandang sifat ini akan memantulkan suatu bentuk sangat indah lahiriah di dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Akhlak seperti inilah yang ditunjukan Rasulullah SAW kepada umatnya.
Akhlak Nabi Muhammad SAW adalah cerminan al Qur’an. Bahkan belaiu sendiri adalah Al Qur’an hidup yang hadir di tengah-tengah umat manusia. Membaca dan menghayati akhlak beliau berarti membaca dan menghayati isi kandungan Al Qur’an. Itulah kenapa Siti Aisyah berkata akhlaq Nabi adalah al-Qur’an. (***)










































Dusta Yang Diperbolehkan


“Kedustaan ditetapkan sebagai dosa anak Adam kecuali tiga perkara: Seorang lelaki berdusta terhadap istrinya untuk memuaskan hatinya, seseorang yang yang berdusta karena siasat untuk perang, dan seseorang yang berdusta di antara dua orang Muslim untuk mendamaikan keduanya.” (HR. Ath-Thabrany dan Ahmad)


Suatu waktu, beberapa pemuda muslim diutus oleh Rasulullah SAW ke wilayah Mudhar. Di tengah perjalanan mereka kehausan, kelaparan dan kepanasan. Akhirnya, mereka melewati sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan dan sebuah pohon rindang di sisi luarnya. Ternyata tak jauh dari tempat mereka, tampak sebuah kemah kecil yang di depannya ada sekumpulan kambing. Tanpa berpikir panjang lagi, para utusan Rasulullah SAW itu lalu menemui pemiliknya, orang Badui sambil berkata,”Berilah kami satu ekor kambing untuk dimakan.”
Mengetahui yang meminta adalah para utusan Rasulullah SAW yang tengah kelaparan, orang Badui itu kemudian mengambil satu ekor kambing jantan yang gemuk dan dengan sigap ia segera menyerahkannya pada mereka. Para utusan Rasul itu tentu saja gembira mendapat pemberian kambing gemuk. Mereka lalu menyembelih dan memotong daging kambing. Semua dagingnya kemudian dimasak. Setelah matang, mereka makan masakan daging kambing itu dengan lahapnya sampai habis.
Melihat daging yang dimakan para utusan Rasul telah habis, orang Badui itu kemudian memberi mereka satu ekor lagi kambing gemuk. Mereka kembali menyembelih dan memasaknya. Orang badui itu berkata,”Tidak ada yang tersisa dari kambing-kambingku yang dapat disembelih kecuali yang hamil atau seekor pejantan.”
Utusan-utusan kembali mengambil seekor lagi. Setelah siang hari dan panas menyengat, apalagi saat itu merupakan musim kemarau. Mereka pun tidak mempunyai tempat berlindung. Orang Badui itu menggiring kambing-kambingnya ke bawah perlindungan sebuah pohon rindang di tengah gurun. 
Utusan Rasulullah SAW kemudian mendekati orang Badui itu, lalu berkata, ”Kami lebih berhak berlindung di bawah pohon, dari pada kambing-kambing kamu.” 
Mereka semakin mendekat dengan orang Badui itu sambil memerintahkan untuk menggiring kambing-kambing yang sedang berteduh, ”Keluarkanlah kambing-kambingmu, agar kami dapat berlindung di tempat ini!”
Orang badui itu berkata, ”Jika kalian mengeluarkan kambing-kambing itu, maka kambing-kambingku yang sedang hamil tidak akan kuat terkena terik panas matahari. Aku takut, anak dalam kandungannya akan keguguran. Sementara aku sudah berima kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat dan juga mengeluarkan zakat.”
Namun jawaban dari orang Badui itu tidak digubris oleh para utusan Rasulullah SAW. Mereka dengan kasar lalu menggiring semua kambing-kambing yang tengah berlindung di bawah pohon rindang itu. Tak berapa lama kemudian, kambing-kambing itu pun langsung meregang kepanasan oleh terik matahari yang tengah panas-panasnya, berada tepat di atas ubun-ubun kepala. Seperti dugaan orang Badui itu, kambing-kambing yang tengah hamil tak lama berselang mengalami keguguran.
Orang Badui itu dengan muka masam, kemudian berlalu pulang dari para utusan Rasul. Ia dengan langkah tergopoh-gopoh kemudian menemui Rasulullah SAW dan menceritakan semua kejadian yang menimpa kambing-kambingnya. Beliau sangat marah mendengar cerita orang Badui itu, kemudian bersabda,”Tunggulah di sini hingga mereka tiba.”
Setelah para utusan beliau kembali semua, mereka semua dikumpulkan dan dipertemukan dengan orang Badui itu. Satu per satu mereka dipanggil oleh Rasulullah SAW, untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya di padang sahara. Namun para utusan itu semuanya berkata dusta, dan semua yang dikatakan para utusan itu hanya ingin menggembirakan Rasulullah SAW. 
Orang Badui yang mendengar dan melihat langsung kesaksian dari para utusan itu langsung berkata sambil menahan isak tangis karena sedih melihat perilaku sahabat Nabi yang berbohong di hadapan beliau, ”Demi Allah, sesungguhnya Allah Jala Jalalluhu wa Rahmatuhu benar-benar tahu bahwa aku berkata jujur dan merekalah yang berkata dusta. Semoga Allah memberitahukan kepada engkau tentang hal ini wahai Nabi Allah! wahai Rasulullah SAW!”
Rasulullah SAW pun terharu mendengar kata-kata dari orang Badui. Beliau melihat dengan mata batinnya yang tajam, kalau orang Badui itu kata-katanya begitu polos dan penuh kejujuran. Hingga, membuat bulir-bulir air mata menetes dari sorot mata beliau yang mulia itu.
 Beliau baru menyadari, kalau perkataan dari orang Badui itulah yang benar, dan perkataan penuh kedustaan dari para utusannya yang penuh tipu muslihat. Tentu saja, beliau marah besar. 
Wajah beliau yang biasa teduh, kini langsung berubah dengan sorot mata yang tajam. Maka, segeralah beliau kembali memanggil satu per satu para utusan untuk menghadap dan bersumpah.
Suara baginda Rasulullah SAW yang tegas dan berwibawa, membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi gentar dan tergetar hatinya.Ternyata, para utusan itu tak satu pun yang berani mengucap sumpah di hadapan baginda Rasulullah SAW. Akhirnya, para utusan beliau membenarkan semua perkataan orang Badui itu dan mengakui kalau mereka telah berkata dusta. 
Sekalipun beliau dari tadi mendengarkan saja kata para utusan dengan seksama dan penuh kearifan, namun Rasulullah SAW tetap tidak bisa menerima serta membenarkan setiap kedustaan.
Beliau kemudian berdiri dan bersabda, ”Apa yang mendorong kalian akur dalam kedustaan sebagaimana kasur yang hangus berturut-turut dalam api? Kedustaan ditetapkan sebagai dosa anak Adam kecuali tiga perkara; Seorang lelaki berdusta terhadap istrinya untuk memuaskan hatinya, seseorang yang yang berdusta karena siasat untuk perang, dan seseorang yang berdusta di antara dua orang Muslim untuk mendamaikan keduanya.”











Ridha Allah, Ridha Ibu


”Hai sahabat Muhajir dan Anshar! Siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya, maka ia akan terkena kutukan (laknat) Allah dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunnatnya,” sabda Rasululah SAW


Di jaman Rasulullah SAW pernah hidup seorang pemuda yang rajin beribadah dan banyak sedekah. Namun, tiba-tiba ia menderita penyakit yang sangat berat. Sang isteri dari pemuda tersebut telah menyuruh orang memanggil Rasulullah SAW dan mengabarkan bahwa suaminya sudah mendekati sakaratul maut.
Mendengar permintaan itu, Rasulullah SAW langsung mengutus Bilal, Ali, Salman dan Ammar pergi ke rumah seorang pemuda yang sakit itu dan memperhatikan bagaimana keadaannya. Sampai di rumah pemuda yang bernama Alqomah itu, mereka langsung menemuinya serta menuntunnya supaya membaca, ”Laa ilaha illallah.” 
Tetapi, walau sudah dituntun berulangkali, lidah Alqomah tetap terkunci tidak bisa mengucapkan hal itu. Para sahabat ketika itu merasa bahwa Alqomah pasti akan mati. Mereka lalu menyuruh Bilal supaya memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW.
Beliau bertanya pada sahabat Bilal,”Apakah ia masih mempunyai ayah dan ibu?”
“Ayahnya telah meninggal, sedang ibunya masih hidup tetapi terlampau tua,” jawab Bilal.
“Ya Bilal, pergilah kepada ibu Alqomah dan sampaikan salamku kepadanya dan katakan, ’Jika kamu dapat berjalan pergi kepada Rasulullah SAW dan jika tidak dapat, maka Rasulullah akan datang ke tempat mu’.”
Bilal pun kemudian menyampaikan pesan dari Rasulullah SAW pada ibu Alqomah. Apa jawab ibu Alqomah?
“Sayalah yang lebih layak pergi kepada Nabi SAW,” jawab ibu Alqomah. Lalu ia mengambil tongkat dan berjalan kaki dengan diikuti sahabat Bilal hingga masuk ke rumah Nabi SAW. Sesudah memberi salam ia langsung duduk di depan Rasulullah SAW.
“Katakanlah yang benar kepadaku, jika engkau dusta kepadaku niscaya akan turun wahyu memberitahu kepadaku; Bagaimanakah keadaan Alqomah?” tanya beliau.
“Alqomah adalah anak yang rajin ibadah sembahyang, puasa dan bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui berapa banyaknya,” jawab ibu Alqamah.
“Lalu bagaimana hubunganmu dengan dia?” Tanya Rasulullah SAW.
“Saya murka kepadanya,” kata Ibu Alqomah.
“Mengapa?” 
“Karena ia lebih mengutamakan isterinya lebih dari padaku dan lebih menurut kepada sang isteri serta berani menentangku,” jawab sang ibu, dengan raut muka masam.
Sejenak semuanya terdiam, wajah Rasulullah SAW tertunduk sebentar dan menarik nafas dalam-dalam, tanda beliau telah mengetahui duduk persoalan yang menimpa Alqomah. 
Beliau kemudian bersabda, “Murka ibunya, itulah yang mengunci (menutup) lidahnya untuk mengucap; La ilaha illallah.”
Kemudian Nabi SAW menyuruh Bilal supaya mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untuk membakar Alqomah dengan api.
Ibu Alqomah tentu heran dengan perintah Rasulullah SAW. Ia lalu bertanya, ”Ya Rasulullah, putraku, buah hatiku akan kau bakar dengan api di depanku? Bagaimana aku dapat menerima buah hatiku, engkau perlakukan begitu?”
Rasulullah SAW bersabda, ”Hai ibu Alqomah! Siksa Allah lebih berat dan lebih kekal. Karena itu, jika kau ingin Allah mengampunkan dosa anakmu maka relakanlah ia (kau harus ridha kepadanya).
Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidak akan berguna sembahyang, sedekahnya selama engkau masih murka kepadanya.”
Lalu ibu Alqomah mengangkat kedua tangannya dan berkata,”Ya Rasulullah! Saya menyaksikan kepada Allah di langit dan kepada mu. Ya Rasulullah, serta kepada siapa saja yang hadir di tempat ini, bahwa saya telah ridha Alqomah.”
Mendengar ucapan itu, gembiralah hati Rasulullah SAW. Beliau langsung menyuruh Bilal untuk pergi melihat Alqomah apakah ia sudah mengucap Laa ilaha illallah atau tidak, khawatir kalau-kalau ibu Alqomah mengucapkan hal itu hanya karena malu pada Rasulullah SAW dan bukan dari lubuk hatinya yang terdalam.
Ketika Bilal sampai di depan pintu kamar Alqomah, terdengar suara Alqomah mengucapkan, ‘Laa ilaha illallah’, lalu Bilal masuk dan berkata, ”Hai orang-orang, sesungguhnya murka ibu Alqomah itu menutup lidah untuk mengucapkan syahadat, dan karena ridha ibunya, kini telah melepas lidahnya untuk mengucap, “Laa ilaha illallah”.
Kematian Alqomah pada hari itu langsung tersiar sampai ke kediaman Rasulullah SAW. Beliau bersama para sahabat bertakziyah ke rumah Alqomah. Begitu sampai, beliau langsung menyuruh yang hadir supaya jasad Alqomah segera dimandikan dan dikafankan, serta disembahyangkan oleh Rasulullah SAW. 
Sesudah dikubur, Nabi SAW berdiri di atas tepi kubur sambil bersabda,”Hai sahabat Muhajir dan Anshar! Siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya, maka ia akan terkena kutukan (laknat) Allah dan tidak diterima daripadanya ibadah fardhu dan sunnatnya.”




















Takluknya Raja Habib bin Malik


Sekalipun Rasulullah SAW telah membelah bulan menjadi dua bagian, dan masing-masing bagian dimasukan ke lengan bajunya, Raja Habib bin Malik belum mengakui kerasulan beliau. Bagaimana kisahnya sehingga ia bisa takluk?


Pada jaman jahiliyah hiduplah seorang raja bernama Habib bin Malik yang berkuasa di negeri Syam. Namanya sangat terkenal hingga ke kota Mekkah dan orang-orang kafir sangat menghormatinya. Mereka mengaguminya karena Raja Habib bin Malik itu termasuk penyembah berhala yang sangat fanatik sehingga ia sangat menentang dan membenci setiap agama-agama baru yang didakwahkan ke muka bumi.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Abu Jahal untuk mengadu domba Raja Habib bin Malik dengan Rasulullah SAW. 
Suatu ketika Abu Jahal mengirim surat kepada Raja Habib bin Malik yang isinya menceritakan tentang Rasulullah dan agama baru yang dibawanya. Isinya tentu saja dibuat sedemikian rupa oleh Abu Jahal sehingga membuat Raja Habib bin Malik penasaran dan ingin bertemu langsung dengan Rasulullah SAW.
Ternyata dugaan Abu Jahal tidak meleset, karena begitu Habib bin Malik mendapat suratnya, ia segera mengirim surat balasan melalui seorang utusan bahwa dalam waktu dekat akan berkunjung ke Mekkah untuk bertemu langsung dengan Muhammad SAW dan mengujinya.
Pada hari yang ditentukan, berangkatlah Habib bin Malik menuju kota Mekkah dengan iring-iringan sepuluh ribu pengawal. Ketika rombongan Raja Habib sampai di daerah yang bernama Abthah, ia mengirim seorang utusan untuk memberitahukan kepada Abu Jahal bahwa dirinya telah sampai perbatasan kita Mekkah. Maka Abu Jahal mendengar berita tersebut, bersama pemuka-pemuka kafir Quraisy lainnya menyambut dengan ramainya dan memberi beraneka macam hadiah.
Pada pertemuan sambutan tersebut, Habib bin Malik bertanya,”Seperti apa kepribadian Muhammad?”
“Sebaiknya itu tuan tanyakan saja kepada keluarga dari Bani Hasyim,” jawab Abu Jahal. 
Kemudian Habib bin Malik bertanya kepada kaum kerabat Muhammad dari Bani Hasyim. Apa jawabannya?
“Kami mengetahui masa kecil Muhammad. Ia adalah seorang anak yang bisa dipercaya, jujur serta baik budi pekertinya. Tetapi, sejak usianya menginjak 40 tahun, ia mulai menyiarkan agama baru, dengan menghina dan menyepelekan tuhan-tuhan yang kami sembah. Ia menyiarkan agama selain dari agama warisan nenek moyang kami,” kata salah seorang keluarga bani Hasyim.
Setelah mendengar penjelasan dari Bani Hasyim, Habib bin Malik lalu menyuruh utusan untuk memanggil Muhammad.
“Bila ia tidak mau dipanggil dengan cara yang sopan, maka paksalah ia supaya datang kemari!”
Rasulullah SAW yang mendapat panggilan tersebut, langsung menuju ke tempat Raja Habib bin Malik berada dengan ditemani sahabat Abu Bakar dan Khadijah, isteri beliau.
Sepanjang perjalanan, Khadijah tidak henti-hentinya meneteskan air mata karena khawatir atas keselamatan suaminya di hadapan raja zalim itu.
Perasaan yang serupa juga tampak dari raut muka sahabat Abu Bakar yang penuh kecemasan, hanya ia diam saja mendampingi langkah-langkah Rasulullah SAW yang berjalan cepat di depannya. Khadijah yang semakin cemas itu, dari belakang kemudian berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sangat mengkhawatirkan keadaan dan keselamatanmu dari murka orang-orang kafir.”
“Kalian jangan takut, kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT,” kata Rasulullah SAW yang saat itu memakai jubah warna merah dan sorban hitam pemberian Abu Bakar.
Sampai di tempat Raja Habib bin Malik, Rasulullah disambut dengan cukup ramah dan dipersilahkan duduk di kursi emas yang telah dipersiapkan sebelumnya. Khadijah yang hatinya masih diliputi kekhawatiran, berdoa kepada Allah,”Ya Allah. Tolonglah Muhammad dan kuatkan hatinya.”
Ketika Rasulullah telah duduk di kursi yang disediakan Habib bin Malik, terpancarlah sinar kemilau dari wajahnya yang penuh kewibawaan sehingga membuat yang melihatnya tertegun keheranan.
Kemudian, Habib bin Malik mengawali pembicaraannya dengan bertanya,”Wahai Muhammad, tentu engkau telah mengetahui bahwa setiap nabi pasti memiliki mukjizat. Bila engkau mengaku sebagai nabi, mukjizat apakah yang telah engkau miliki?”
Mendapat pertanyaan seperti itu beliau tidak langsung menjawabnya, tetapi beliau balik bertanya kepada Habib bin Malik,”Mukjizat apakah yang tuan kehendaki?”
“Aku menginginkan matahari yang sedang bersinar itu engkau tenggelamkan, kemudian munculkanlah bulan. Setelah bulan muncul, lalu turunkanlah dengan tanganmu sendiri. Setelah bulan berada di tanganmu, lalu belahkan bulan itu menjadi dua bagian, dan masukkanlah masing-masing ke lengan baju mu sebelah kiri dan kanan. Kemudian keluarkan lagi bulan itu dari kedua lengan bajumu, lalu satukanlah lagi. Dan suruhlah bulan itu mengakui bahwa kamu adalah seorang rasul. Setelah itu, kembalikanlah bulan itu ke tempatnya semula. Jika kamu dapat melakukan semua itu, aku akan beriman kepadamu dan mengakui kenabianmu,” kata Raja Habib bin Malik.
Permintaan Habib bin Malik tersebut aneh sekali kedengarannya dan terlalu mengada-ada. Mendengar permintaan itu, Abu Jahal sangat gembira sebab ia sudah yakin Muhammad pasti tidak dapat melakukannya. Akan tetapi, ia menjadi waswas ketika dengan tegas dan penuh keyakinan, beliau menjawab tantangan itu dengan berkata,”Aku penuhi permintaan tuan.”
Bagi Rasulullah, tidak ada sesuatu yang mustahil, selama beliau meminta pertolongan Allah SWT, pasti akan dikabulkan. Kemudian, beliau berjalan ke arah Gunung Abi Qubaisy dan melakukan shalat dua rakaat. Selesai shalat, beliau menengadahkan tangannya tinggi-tinggi berdoa memohon kepada Allah agar apa yang menjadi permintaan Habib bin Malik dapat dipenuhi dengan baik dan sempurna.
Kemudian, datanglah pasukan malaikat yang berjumlah 12.000 dan tidak seorang pun yang mengetahui kedatangan malaikat-malaikat tersebut kecuali Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyampaikan salam kepadamu. Allah berfirman,’Wahai kekasihku, janganlah engkau takut dan ragu. Sesungguhnya Aku senantiasa bersamamu di mana pun kamu berada. Aku telah menetapkan keputusan-Ku sejak jaman azali, tentang apa yang menjadi permintaan Habib bin Malik pada hari ini. Sekarang pergilah engkau ke hadapan mereka untuk menunjukan hujjah tentang kerasulanmu. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang memperjalankan matahari dan bulan serta yang mengganti siang dengan malam. Selain itu, Habib bin Malik mempunyai seorang putri yang cacat, tidak mempunyai kaki dan tangan serta buta. Allah telah menyembuhkan anak perempuan Habib bin Malik menjadi seorang yang sempurna bentuknya, bisa berjalan, meraba dan melihat,’” kata malaikat itu menyampaikan firman Allah.
Maka bergegaslah Rasulullah turun dari Gunung Abi Qubaisy dan menjumpai orang-orang kafir yang sedang menantinya. Bias cahaya yang memantul dari wajah Rasulullah semakin bersinar. Sedangkan di atasnya para malaikat pimpinan Jibril berbaris mengikuti langkah-langkah Rasulullah.
Waktu itu hari telah beranjak senja, matahari hampir saja tenggelam ke peraduannya sehingga suasana menjadi remang-remang. Kemudian, beliau berdoa agar bulan segera keluar maka keluarlah bulan dengan sinarnya yang benderang. Dengan kedua jarinya, Rasulullah mengisyaratkan agar bulan segera turun kepadanya.
Tiba-tiba suasana menjadi amat menegangkan karena suara gemuruh yang sangat menyeramkan. Awan berjalan mengiringi turunnya bulan ke tangan Rasulullah SAW, kemudian setelah bulan berada dalam tangan beliau, dibelahnya bulan itu menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian dimasukan ke lengan bajunya. Satu di sebelah kanan dan satunya lagi di sebelah kiri.
Tidak lama kemudian, beliau mengeluarkan bulan tersebut dan menyatukannya kembali maka jadilah terlihat oleh semua orang bahwa Rasulullah tengah menggenggam bulan yang sedang bersinar cemerlang. Hal tersebut membuat orang-orang yang menyaksikan semakin takjub dan terbengong-bengong.
Lebih terkejut lagi karena kemudian mereka mendengar suara yang sangat keras bergema, ”Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-hamba-Nya dan utusan-Nya.” Itulah suara bulan yang bersaksi akan kerasulan beliau, seperti permintaan Raja Habib bin Malik. 
Kejadian tersebut telah menggoncangkan perasaan yang hadir di tempat tersebut. Kalau itu dibilang mimpi, tetapi ini adalah kenyataan. Mukjizat yang demikian luar biasa hebatnya disaksikan sendiri oleh Raja Habib bin Malik. Ia menyadari bahwa kejadian aneh ini tidak mungkin terjadi pada manusia biasa, walaupun ia mempunyai sihir yang sangat hebat.
Akan tetapi hatinya belum terbuka juga untuk menerima kebenaran Islam. Ia masih hendak mencoba kembali Rasulullah dengan suatu cobaan yang sebenarnya telah terjawab melalui pemberitahuan Jibril.
“Aku masih mempunyai syarat lagi untuk mengujimu.” Belum lagi Habib bin Malik melanjutkan ucapannya, Rasulullah telah terlebih dahulu memotong pembicaraan,”Engkau mempunyai seorang putri yang cacat bukan? Sekarang, Allah telah menyembuhkannya dan menjadikannya menjadi seorang putrid yang sempurna bentuknya.”
Mendengar ucapan Rasulullah SAW, sangatlah girang hati Habib bin Malik. Seketika itu juga ia berdiri dan berseru di hadapan orang-orang kafir Quraisy yang belum habis keheranan mereka. Habib berseru,”Hai penduduk Mekkah, kalian yang telah beriman. Janganlah kembali kafir, karena tidak ada lagi yang perlu diragukan dengan peristiwa ini. Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya dan hamba-Nya!”
Peristiwa itu diakhiri dengan masuk Islamnya Habib bin Malik serta seluruh bala tentaranya. Tiada orang yang paling jengkel dan marah melihat peristiwa selain Abu Jahal. Ia terperangkap oleh permainan yang ia buat sendiri. Dengan emosi, ia langsung mendekati Habib bin Malik dan berkata,”Wahai junjungan orang Quraisy, apakah engkau beriman kepada tukang sihir ini, hanya melihat kehebatan sihirnya?”
Raja Habib bin Malik tidak menghiraukan ejekan Abu Jahal. Ia segera berkemas untuk pulang ke negeri asalnya karena tidak sabar lagi ingin segera melihat keadaan puterinya.
Setiba di istana, baginda raja disambut dengan sangat meriah oleh rakyatnya. Di depan pintu gerbang ia disambut oleh puterinya yang kini mempunyai anggota tubuh yang lengkap dan berucap,”Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Alangkah terkejutnya Habib mendengar kata-kata putrinya tadi. Kemudian ia bertanya,”Wahai putriku, darimana kamu mengetahui ucapan seperti ini? Siapa yang mengajarimu?”
“Aku bermimpi. Dalam tidurku aku didatangi oleh seorang laki-laki rupawan. Ia berkata bahwa ayahanda telah masuk Islam. Jika aku mau menjadi muslimah, anggota tubuhku akan menjadi lengkap. Tentu saja aku mau dan kemudian aku mengucapkan dua kalimah syahadat, seperti yang barusan ayahanda dengar.”
Seketika itu Habib bin Malik bersujud ke hadirat Allah SWT dikarenakan rasa syukurnya yang tiada terhingga. Sebagai tanda syukurnya kepada Allah SWT, Habib bin Malik mengirimkan berbagai hadiah kepada Rasulullah sebagai tanda terima kasih, atas pertolongan yang telah diberikan kepadanya. AST 






























Kapak untuk Sang Pengemis


Seorang pengemis yang mendatangi Rasulullah SAW, tidak berapa lama kemudian berhenti mengemis. Dengan bermodalkan sebuah kapak, nasibnya berubah menjadi pencari kayu bakar di gurun


Suatu hari ada seorang laki-laki dari kaum Anshar mendatangi kediaman baginda Rasulullah SAW. Ia datang dengan pakaian compang-camping dan wajah yang pucat, langsung menghadap di depan Rasulullah SAW untuk mengemis. Seusai mengucap salam, pengemis itu meminta sesuatu pada baginda Rasulullah SAW.
“Ya. Ada sehelai kain. Kami pakai sebagiannya dan kami bentangkan sebagiannya untuk duduk dan lain sebagainya. Saya juga punya satu bejana untuk minum air,” Jawab Rasulullah SAW.
Beliau kemudian menyuruh para sahabat yang hadir saat itu untuk membawakan kain dan bejana kepunyaan beliau.”Bawalah keduanya kepadaku!”
Dengan bergegas, salah satu sahabat yang ada di majelis beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil barang-barang yang dimaksud. Lalu sahabat itu membawanya ke hadapan beliau.
Rasulullah SAW lalu mengambil keduanya dengan kedua tangannya dan memperlihatkannnya di hadapan para sahabat, beliau kemudian bercerita,”Aku beli kain dan bejana ini satu dirham.”
Rasulullah SAW menawarkan barang-barang kepunyaan beliau kepada para sahabat, ”Aku akan menjualnya. Adakah saudara-saudara akan membelinya? Adakah yang sanggup menambah satu dirham?”
Beliau berulang-ulang menawarkan kepada para sahabat. Akhirnya salah seorang sahabat mengambilnya. “Aku ambil dengan dua dirham, seperti tawaran mu, Ya Rasulullah,” jawab salah seorang sahabat yang hadir. 
Rasulullah SAW kemudian memberikan kedua barang itu kepada salah seorang sahabat yang telah sepakat membeli kedua barang itu tadi sembari menerima uang dua dirham. Beliau kemudian mendekati sang pengemis dari kaum Anshar itu dan langsung beliau serahkan uang dua dirham itu seraya memberikan nasehat untuk sang pengemis,”Belilah dengan satu dirham makanan dan serahkan kepada keluargamu. Dan belilah dengan satu dirham lagi sebuah kapak di pasar terdekat dan kemudian bawalah kapak yang kamu beli itu kepadaku!”
Setelah menerima uang dua dirham, sang pengemis itu kemudian pamit pulang. Ia kemudian mampir ke pasar untuk melaksanakan apa yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah SAW yakni membeli makanan dan sebuah kapak besi. Selepas mengantar makanan untuk keluarganya di rumah yang tengah kelaparan, ia kemudian membungkus kapak itu dengan sebuah kantong kulit dan ia langsung kembali menuju ke kediaman Rasulullah.
Saat itu Rasulullah SAW masih dalam satu majelis dengan dikelilingi oleh para sahabat yang menyimak penjelasan tentang masalah agama. 
“Hai fulan, sudahkah engkau laksakan perintahku?” tanya Rasulullah SAW pada sang pengemis yang tampak malu-malu berdiri di depan pintu rumah.
“Sudah, tuan,”jawab sang pengemis itu.
“Kemarilah! Bawa kemari kapak yang telah engkau beli itu!” perintah beliau.
Lalu sang pengemis itu dengan berjalan perlahan mendekati baginda Rasulullah SAW dan duduk di depan beliau. Pengemis itu kemudian mengeluarkan kapak itu dari kantong kulit dan diserahkan pada Rasululah SAW.
Rasulullah SAW hari itu tampak bergembira melihat perangai dari sang pengemis yang telah taat menerima perintah beliau. Baginda Rasulullah SAW lalu mengambil kapak besi dan ia beranjak ke pojok ruangan. Beliau kemudian berjongkok dan mengambil sepotong kayu yang tergeletak di pojok majelis itu. Tangan beliau yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari, dengan sangat cekatan segera memasang tangkai kayu pada lobang kapak besi. Tak berapa lama kemudian kapak besi itu telah siap untuk digunakan. 
Selesai memasang tangkai kapak besi itu, Rasulullah SAW kemudian kembali ke tempat semula, di majelis yang sedari tadi para sahabat biasa menyimak penjelasan dan mengambil hikmah ilmu dari beliau. “Pergilah ke gurun dan tebanglah kayu! Kemudian jual kayu bakar yang kau peroleh ke pasar dan kemarilah lima belas hari lagi!” sabda Rasulullah SAW kepada pengemis dari kaum Anshar itu.
Sang pengemis itu lalu pamit pada Rasulullah SAW. Ia kemudian pulang ke rumah dan mengambil perbekalan makanan dan minuman secukupnya untuk dibawa ke gurun. Dengan penuh semangat, sang pengemis itu lalu berangkat ke gurun yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Satu per satu ranting pohon yang telah kering dipotong dengan kapak. Setelah terkumpul banyak kayu bakar, ia kemudian membawanya pulang ke rumah. Selama lima belas hari sang pengemis itu melakukan pekerjaan mencari kayu bakar dan seluruh kayu bakar yang dikumpulkan dijual ke pasar.
Genap pada hari kelima belas, pengemis itu menghadap ke Rasulullah SAW dengan membawa sepuluh dirham dari hasil penjualan kayu bakar. Beliau kemudian memberikan nasihat kepadanya. “Belilah sebahagian dengan uangmu itu makanan dan sebahagian lagi pakaian. Ini adalah lebih baik bagi kamu daripada meminta-minta. Sebab, mengemis itu merupakan satu tanda di muka mu di hari Kiamat nanti. Sesungguhnya mengemis itu tidaklah layak melainkan bagi orang yang sangat miskin/papa dina atau orang yang berhutang berat atau harus membayar diyat (denda karena membunuh orang).” AST, hadits Ibnu Majah 

















Kabar Gembira dari Langit


Di saat menghadapi ujian dan tingkat perjuangan yang maha berat, Nabi Muhammad SAW diperintahkan menjalani Mi’raj. Sebuah kabar gembira dari langit untuk menghibur beliau yang tengah berduka cita


Setelah wafatnya paman Nabi, Abu Thalib dan tidak berapa lama kemudian disusul oleh isteri tercinta, Siti Khadijah. Baik Abu Thalib maupun Siti Khadijah adalah dua orang sosok yang telah banyak memberikan bantuan kepada Nabi, moril dan materiil. Kedua musibah itu terjadi pada tahun 10 dari masa kenabian. Pada tahun itu dalam sejarah disebut,”Aamul Huzni”(tahun kesedihan). 
Pada saat yang bersamaan, beliau juga menghadapi ujian yang maha berat dan tingkat perjuangan yang sudah mencapai puncaknya. Gangguan dan hinaan, aniaya serta siksaan yang dialami beliau dengan pengikut-pengikutnya juga semakin hebat. Maka Nabi diperintahkan oleh Allah SWT menjalani Isra’ dan Mi’raj. Hari itu adalah 27 Rajab pada tahun 621 M. 
Pada tengah malam yang sunyi dan hening, burung-burung malam diam membisu, binatang-binatang buas berdiam diri, gemericik air dan siulan angin sudah tidak terdengar lagi.
Ketika itu Rasulullah SAW tengah berbaring di samping Ka’bah. Tiba-tiba ia didatangi Malaikat Jibril dan Mikail. Keduanya lalu membawanya ke ke serambi Masjidil Haram.
Jibril lalu berkata pada Mikail,”Bawakan aku semangkuk air zamzam untuk mencuci hatinya dan melapangkan dadanya serta mengangkat namanya.”
Malaikat Mikail kemudian membawakan mangkuk emas yang penuh dengan permata-permata dari cahaya, dan Jibril langsung menuangkan semua isi mangkuk tersebut ke dada Nabi serta memenuhinya dengan kebijaksanan, ilmu, keyakinan, dan iman kepada Allah SWT.
Setelah selesai, Jibril langsung menutup dada beliau dengan khotamunnubuwah (stempel kenabian) yang bertuliskan Allohu Wahdah La Syarikallahu berbentuk segitiga, persis di antara dua pundaknya. Kemudian Jibril membawa Buraq. Ia adalah seekor binatang berwarna putih, sedikit lebih tinggi daripada seekor keledai tetapi lebih kecil daripada seekor unta.
Disamping buraq, Malaikat Jibril berdiri dengan wajah yang putih bersih berseri dan berkilauan seperti salju. Ia mengenakan pakaian yang berumbaikan mutiara dan emas, lalu Jibril melepas ikat rambut, terurailah rambutnya yang panjang itu. Dari sekelilingnya sayap-sayap berkilauan yang beraneka warna. Tangannya memegang buraq, yang bersayap seperti garuda.
Hewan itu membungkuk dihadapan Raulullah SAW. Ketika akan dinaiki oleh beliau agak kesulitan, maka Jibril pun menaruh tangannya di atas punggung Buraq yang bersinarkan cahaya. Lalu Jibril berkata,”Tidakkah engkau malu wahai Buraq? Tidak ada mahluq yang pernah menaiki mu lebih mulia di sisi Allah dari orang ini.”
Buraq pun malu sehingga bercucuran keringat. Setelah tenang, Rasulullah SAW pun naik di atasnya bersama Jibril, sambil berucap,”Bismillah wala haula quwata illa bilah.”
Sekali melangkah, meluncurlah buraq itu bagaikan anak panah membumbung di atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju arah utara. Mereka berdua lalu tiba di sebuah daerah yang memiliki banyak kebun korma. Jibril lalu berkata,”Turunlah wahai Muhammad!”

Nabi pun turun dan langsung menunaikan shalat dua rakaat atas perintah Jibril. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan dan Jibril bertanya kepada Nabi,”Tahukah engkau di mana barusan perjalanan dan Jibril bertanya kepada Nabi,”Tahukah engkau di mana barusan engkau shalat?”
“Tidak,” jawab Nabi SAW.
“Wahai orang yang bagus peranginya, engkau tadi shalat di tanah Thoiybah (sekarang Madinah), di sanalah tempat hijrah nantinya,” kata Jibril. 
Setelah terbang sebentar, lalu Jibril memerintahkan Buraq,”Turunlah di sini!”
Rasulullah SAW kemudian shalat dua rakaat dan mereka kembali melanjutkan perjalanan kembali.
Seperti biasa Jibril bertanya,”Wahai yang diutus rahmat, tahukah engkau di mana tadi engkau shalat?”
“Tidak,”
“Engkau tadi shalat di Madyan, di bawah pohon Nabi Musa, Kalimullah,”
Lalu berhenti di gunung Thursina di tempat Tempat Tuhan berbicara dengan Musa. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa dilahirkan.
Sesudah itu kemudian melanjutkan perjalanan dan mereka menjumpai sekelompok manusia yang menanam dan memanen dalam sehari saja. Setiap kali mereka memanen tanaman itu akan tumbuh seperti semula. Nabi SAW kaget dan bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”
“Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah, pahala mereka dilipatgandakan sampai 700 kali lipat dan siapakah yang tepat janjinya dari Allah.”
Kembali mereka bertemu kelompok manusia yang aneh, kepala mereka dihantam batu besar sampai pecah dan setiap kali pecah kepalanya kembali utuh seperti semula.
Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka gerangan?”
“Mereka adalah orang yang kepalanya terasa berat jika diajak melaksanakan shalat.”
Setelah itu mereka bertemu sekelompok manusia yang di bagian depan dan belakangnya ada tambalan. Mereka digembalakan seperti onta, memakan tanaman kering dan tanaman berduri. Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”
“Mereka adalah orang-orang yang tidak mau membayar zakat harta mereka, padahal Allah tidak pernah mendzalimi mereka.”
Pemandangan aneh lain juga nampak, sekelompok orang di hadapan mereka ada daging matang yang lezat tersedia dalam panci-panci. Di situ juga ada daging mentah busuk yang mengeluarkan bau tak sedap, ternyata mereka makan daging mentah dan busuk serta meninggalkan daging matang dan lezat.
“Apa maksudnya ini wahai Jibril?”
“Ini adalah laki-laki dari umatmu yang memiliki wanita halal, tetapi malah mendatangi perempuan lacur dan tidur dengannya sampai pagi. Demikian juga dengan perempuan yang memiliki suami halal, tetapi tidur bersama laki-laki keji dan menginap bersamanya dalam maksiat.”
Dalam perjalanan berikutnya mereka melihat sebongkah kayu tergeletak di tengah jalan, tidak seorang pun yang lewat kecuali kayu tersebut dapat mengoyak baju serta menghalangi pejalan kaki yang melewatinya. Melihat hal aneh tersebut, Nabi SAW bertanya,”Apa maksudnya ini, Jibril?”
“Ini adalah perumpamaan sekelompok kaum dari umatmu yang duduk-duduk di jalanan untuk menggosip, mengadu domba dan mengganggu,” jawab Jibril menjelaskan seraya membaca sebuah ayat dalam Al-Qur’an.
Dalam perjalanan itu Nabi juga melihat seorang laki-laki berenang di sebuah sungai darah dan menelan bebatuan terbuat dari api.”Apa ini wahai Jibril?”
“Ini adalah pemakan riba yang telah diharamkan oleh Allah SWT,” jawab Jibril.
Selanjutnya ada seorang laki-laki yang mengumpulkan beberapa ikat kayu bakar tetapi tidak mampu membawanya,”Apa maksud kejadian ini wahai Jibril?”
“Ini adalah laki-laki dari umatmu yang membebani dirinya dengan amanat-amanat manusia. Padahal sebenarnya dia tidak mampu untuk melaksanakannya, tetapi dia memaksakan diri untuk menambah amanat-amanat lainnya,” terang Jibril.
Kemudian Nabi SAW bertemu sekelompok orang yang lidah dan bibir mereka digunting dengan gunting besi. Setiap kali digunting langsung kembali seperti semula. Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”
“Mereka adalah para penceramah dari umatmu yang berkata sesuatu yang tidak mereka kerjakan tanpa perhatian dan cegahan,” kata Jibril.
Nabi SAW juga melewati sekelompok kaum dari umatmu yang memiliki kuku dari timah, dengan kuku tersebut mereka mencabik-cabik muka dan dadanya sendiri, mereka benar-benar tersiksa dengan hal itu.
“Siapakah mereka?”
“Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mengganggu kehormatan mereka.” kata Jibril.
Nabi SAW juga melihat seekor kerbau besar keluar dari lubang kecil dan ingin kembali masuk ke lubang tersebut tapi sama sekali tidak bisa. Beliau lalu bertanya,”Apa maksudnya ini wahai Jibril?”
“Ini adalah seorang lelaki dari umatmu yang mengeluarkan kata-kata jelek kemudian menyesal atas ucapannya tetapi tidak mampu menarik omongannya yang sudah terlanjur keluar.”
Tak berselang berapa lama kemudian ada seseorang yang memanggil-manggil beliau dari arah kanan,”Wahai Muhammad, tataplah aku!”
Tetapi Nabi SAW tidak menghiraukannya karena hikmah dan tuntunan dari Allah SWT.
Beliau bertanya,”Apakah itu wahai Jibril?”
“Itu adalah panggilan Yahudi, andaikata engkau tadi menjawabnya, maka seluruh umatmu akan menjadi Yahudi,”jawab Jibril.
Setelah itu muncul lagi panggilan dari sebelah kiri,”Wahai Muhammad tataplah aku.” 
Sebagaimana yang panggilan yang pertama, Nabi SAW tidak menghiraukannya sama sekali.
Kemudian beliau bertanya,”Apakah itu wahai Jibril?”
“Itu adalah panggilan Nasrani. Seandainya engkau penuhi panggilan tersebut, maka umatmu akan menjadi Nasrani.”
Beliaupun meneruskan perjalanan dan tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyingsingkan kedua lengan bajunya memanggil, ”Wahai Muhammad tataplah aku.”
Nabi SAW tidak menghiraukannya karena dia itu adalah dunia, Jibril berkata, ”Kalau seandainya engkau menjawab panggilan itu maka seluruh umatmu akan lebih memilih dunia dari pada akhirat.”
Beliau juga dipanggil oleh seorang tua yang berada di pinggir jalan,”Muhammad kemarilah.”
Namun Jibril langsung bekata,“Teruslah berjalan wahai Muhammad!”
“Siapakah dia itu?”
“Dia itu Iblis,” jawab Jibril sambil melanjutkan,“Ia ingin kamu melenceng dan mengikuti dakwahnya karena dia adalah musuh Allah.”
Nabi SAW masih meneruskan, tiba-tiba ada seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan berada di samping jalan memanggil beliau,”Muhammad, pandanglah aku.”
Nabi SAW kemudian bertanya,”Siapakah dia, Jibril?”
“Sungguh tidaklah tersisa dari umur dunia kecuali seperti yang tersisa dari umur perempuan tua yang sudah rapuh dimakan usia ini.“
Lalu mereka meluncur lagi ke udara bersama Buraq hingga tiba di Baitul Maqdis. Setelah itu beliau pun mengikat Buraq pada sebuah cincin yang biasa dikenakan oleh para nabi.
Kemudian beliau masuk ke dalam Masjid lewat pintu Yamaniyah. Bersama Jibril, beliau mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Tak lama berselang, seorang muadzin mengumandangkan adzan. Jibril lalu menuntun Nabi SAW untuk menjadi imam shalat dua rakaat di dalamnya bersama Ibrahim, Musa dan Isa. Seusai shalat para Nabi memuji Allah SWT.
Nabi SAW lalu bersabda, ”Masing-masing dari kalian memuji Tuhan-Nya dan aku pun memuji Tuhanku, Allah SWT.”
Nabi melanjutkan kembali khutbahnya, ”Segala puji bagi Allah yang telah mengutusku sebagai rahmat bagi seluruh manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Allah telah turunkan ayat-ayat Qur’an kepadaku. Dan umatku dijadikan umat yang tengah-tengah, merekalah yang pertama dan terakhir. Allah telah melapangkan dadaku, meninggikan sebutanku, menjadikanku pembuka dan penutup para nabi-nabi-Nya.” 
Selesai berkhutbah, Nabi SAW keluar dari masjid, lalu Jibril membawakan secangkir susu dan khamer, Nabi Muhammad SAW memilih secangkir susu. Lalu Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah. Yakni watak yang selamat. Andaikata engkau memilih khamer, tentulah umatmu akan sesat, ” kata Jibril.

Menuju langit ketujuh
KEMUDIAN setelah itu, dibawakannya sebuah tangga yang dipancangkan di atas batu Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit. Kemudian Jibril naik ke atas bersama Nabi Muhammad SAW menuju langit pertama. Jibril memerintahkan langit pertama terbuka dan terdengar suara,”Siapakah gerangan?”
“Jibril,” jawab Malikat Jibril.
Terdengar suara lagi,”Siapakah gerangan bersamamu?”
Jibril menjawab:”Muhammad.”
Terdengar lagi suara,”Adakah ia seorang Rasul?”
Jibril menjawab, ”Ya Muhammad Rasulullah, lalu pintu terbuka bagi kami. Saya bertemu Adam yang menyambutku dan mengucapkan salam kepadaku. Kemudian kami ke langit kedua, dan Jibril memerintahkan agar langit kedua terbuka.
Terdengarlah suara:”Siapakah gerangan?”
Jibril menjawab:”Muhammad”
Terdengar langi suara:”Adakah ia seorang Rasul?”
Lalu Jibril menjawab lagi:”Ya Muhammad Rasulullah.”
Kemudian pintu pun terbuka bagi Muhammad dan Jibril. Mereka disambut Isa putra Maryam dan Yahya Ibn Zakaria. Setelah mengucap salam, Muhammad dan Jibril naik ke langit ketiga dan terjadi seperti sebelumnya.
Pintu terbuka dan bertemu dengan Nabi Yusuf.
Selepas mengucap salam, mereka naik ke langit keempat dan bertemu dengan Nabi Idris. Pada langit kelima mereka bertemu dengan Harun As. Lalu dilanjutkan ke langit keenam dan mereka berjumpa dengan Nabi Musa As. Selanjutnya naik lagi ke langit ketujuh dan mereka berjumpa dengan Ibrahim As.
Nabi Muhammad dan Jibril bertemu dengan Ibrahim yang tampak kurus sedang menjaga Baitul Ma’mur (rumah yang banyak dikunjungi). Setiap hari 70.000 malaikat berkunjung kepadanya.
Kemudian Jibril mengantarkan Muhammad lagi ke sebuah pohon di Sidratul Muntaha, daunnya mirip telinga gajah dan buahnya mirip bejana yang terbuat dari tembikar. Ketika itu perintah Allah menyelimutinya, maka tidak satupun dari mahluknya yang mampu menggambarkan keindahannya.
Kemudian Allah mewahyukan apa yang telah Dia wahyukan. Allah SWT menetapkan kewajiban atas Nabi Muhammad SAW 50 salat dalam sehari semalam. Nabi Muhammad SAW kemudian turun dan bertemu dengan Musa dan dia bertanya,”Apa yang telah ditetapkan Allah sebagai kewajiban terhadap umatmu?”
Rasulullah SAW menjawab,”50 salat,”
“Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan! Umatmu tidak akan mampu melakukannya. Saya telah mencobakan hal itu kepada Bani Israil dan aku memberikan saran kepadamu berdasarkan pengalamanku,” kata Musa.
Rasulullah SAW kemudian kembali menjumpai Allah dan berkata,”Ya Tuhanku, kurangilah kewajiban tersebut demi umatku.”
Lalu Allah mengurangi lima salat. Dan Nabi Muhammad SAW dan bertemu Nabi Musa kembali sambil menceritakan bahwa Allah SWT telah mengurangi lima salat. Musa menjawab,”Umatmu tidak akan sanggup melakukannya, jadi kembalilah kepada Tuhanmu mintalah keringan.”
Nabi Muhammad SAW berkali-kali naik turun menemui Musa hingga akhirnya Allah berfirman: “Muhammad, sekarang tinggallah lima salat untuk dikerjakan dalam sehari dan semalam. Masing-masing salat setara sepuluh salat, sehingga lima salat tersebut sepadan dengan 50 salat. Siapapun yang berniat melakukan kebajikan, kemudian ia tidak mengerjakannya, ditulis baginya satu kejahatan.
Ketika Nabi Muhammad SAW turun ke langit keenam di mana tempat Musa berada.
”Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah pengurangan!” perintah Musa.
“Saya telah berulang kali menghadap Tuhan dan memohon pengurangan sampai-sampai saya malu di hadapan-Nya,” jawab Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW yang telah menerima perintah salat lima waktu itu pun kemudian bergegas dengan Jibril meninggalkan Musa dan mengunjungi Surga. Jibril pun menerangkan tentang keberadaan surga yang disediakan bagi manusia-manusia beriman sesudah mereka dibangkitkan.
Kemudian Nabi SAW kembali menuju tangga yang membawanya kembali ke bumi. Buraq pun dilepaskan, maka ia pun kembali dari Baitul Maqdis menuju Mekah. AST, Al-Bisyr Wa Al-Ibtihaj fi Qissah Al-Isra’ wa Al-Mi’raj 







Keberkahan Hidangan Jabir


Semula Jabir Radiallahu ‘Anhu merasa khawatir dengan hidangan yang ia persembahkan pada Rasulullah dan para sahabat. Namun berkah cipratan ludah dan berkah sentuhan tangan beliau yang agung makanan yang ia masak cukup untuk mereka semua


Ketika perang Khandaq berkecamuk, banyak sahabat yang kelaparan. Sebab, mereka tidak dapat keluar kota untuk mencari bahan makanan dan tidak ada pula yang masuk ke dalam kota Madinah. Bersama para sahabat, Rasulullah SAW bertahan di dalam kota, sedangkan di sekeliling kota Madinah penuh dengan musuh yang siap menyerbu. Pedang kaum kafir senantiasa terhunus, berkilauan ditimpa cahaya matahari dan panah berserta anak panah siap lepas dari busurnya mengincar setiap gerak kaum muslimin.
Kedua kekuatan ini saling bertahan, umat Islam bertahan di dalam, sedangkan kaum kafir menunggu di luar.Perang ini dinamakan perang Khandaq atau parit karena umat Islam menggali parit yang mengelilingi kota Madinah untuk berlindung dari serangan musuh dari kota. Setiap kaum kafir mendesak sedikit demi sedikit ke dalam kota, pasukan kaum muslimin segera membuat halangan dengan membuat parit-parit yang dalam. 
Alkisah, siang itu di tengah panas mentari yang membakar, pasukan kaum muslimin terus menggali parit-parit yang dalam. Rasulullah SAW tidak tinggal diam, bersama para pengikutnya, beliau tak kenal lelah turun ke dalam lubang yang telah diberi garis memanjang dan mulai menggali parit dengan tangannya yang suci. Sudah tiga hari terakhir ini beliau turun langsung membuat parit-parit yang dalam dan memanjang mengitari kota Madinah. Bahkan beliau sudah tidak makan dalam beberapa hari.
Untuk mengatasi rasa lapar, perut beliau diganjal dengan batu dan sabuk. Tangan beliau yang agung terus mengerus butiran-butiran pasir dari dalam parit yang digalinya. Satu per satu batu-batu sebesar kepala orang dewasa beliau angkat sendiri. Badan beliau yang kekar telah bersimbah keringat. 
Jabir bin Abdullah Ra yang melihat tanda-tanda kelelahan di wajah Rasul karena beberapa hari tidak makan dan hanya mengganjal perut beliau dengan batu. Wajah beliau yang biasanya cerah bercahaya, terlihat pucat dan bulir-bulir keringat menetes satu persatu, Jabir khawatir akan kesehatan Rasulullah SAW bisa terganggu. Maka ia segera pulang ke rumah menemui isterinya. 
Sampai di rumahnya ia berkata pada isterinya,”Makanan apa yang kau miliki? Aku melihat Rasulullah SAW sudah sangat lapar?”
“Kita hanya ada gandum yang sekitar 2 mud (2,5 kg),” jawab sang isteri.
“Keluarkan semua dan masak semua. Hari ini kita mengundang Rasulullah untuk bersantap di rumah kita!” perintah Jabir.
Sang isteri kemudian dengan bergegas mengeluarkan buliran-buliran gandum kering itu dari kantongnya dan menumbuknya hingga halus. Setelah itu ia memasukan tepung gandum itu ke dalam bejana. Sementara itu Jabir menuju ke belakang rumahnya dan menuju kandang anak domba. Saat itu Jabir hanya memiliki seekor anak domba.
Dengan sigap, tangannya yang kekar itu mengeluarkan seekor anak dan domba dan menyembelihnya. 
Jabir lalu dengan sangat cekatan memotong-motong daging anak domba itu dan merebusnya dengan bejana yang penuh air. 
Saat akan keluar rumah, isteri Jabir berpesan agar ia mengundang Rasul dengan berbisik jangan sampai terdengar oleh para sahabat yang lainnya. Sebab, hidangan yang ia sediakan hanya cukup untuk beberapa orang. 
”Jangan permalukan aku di hadapan Rasulullah SAW dan para sahabatnya,” pesan sang isteri.
Jabir segera berangkat menemui Rasulullah SAW. Ia pun kemudian berbisik mengundang Rasul untuk bersantap makan di rumahnya.
“Duhai Rasul, aku menyembelih anak domba dan menanak sedikit gandum.Ajaklah beberapa orang untuk makan di rumahku,”kata Jabir.
Tetapi yang terjadi di luar dugaan Jabir. Rasulullah SAW mengundang seluruh sahabat yang ada di sana untuk ikut menikmati jamuan yang dipersiapkan Jabir. 
Rasulullah SAW berseru,”Wahai para sahabatku yang ikut menggali parit, Jabir membuat makanan lezat hari ini. Mari kita ke sana memenuhi undangannya!”
Setelah melihat Jabir, Rasulullah SAW lalu memerintahkan Jabir untuk jangan menurunkan periuknya,”Jangan turunkan periukmu dari tungku sebelum aku tiba di rumahmu!”
Jabir segera pulang dan menyampaikan peristiwa ini kepada isterinya. Sang isteri semula terkejut, tetapi ketika diberitahu bahwa Rasulullah SAW yang mengundang sahabat, ia menjadi tenang. Tak lama kemudian Rasulullah SAW datang. 
Seperti yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, maka isteri Jabir lalu mengeluarkan adonan roti dari bejana. Kemudian Rasul mendekati adonan roti itu dan meludahinya sedikit dan berdoa memohon keberkahan. 
Tak hanya itu, Rasul kemudian berjalan menghampiri periuk yang berisi daging anak domba itu meludahinya seperti pada adonan roti dan memberkatinya. Setelah itu beliau berkata,”Panggil tukang roti untuk membuat roti bersama ku. Ambillah makanan dai periuk itu dan biarkan dia di atas tungku!”
Para sahabat kemudian secara bergantian mengambil kuah dari periuk dan roti dari wadahnya. Mereka semua makan sampai kenyang.
Jabir lalu berkata,”Demi Allah, jumlah mereka yang ikut makan adalah seribu orang. Setelah mereka pulang, ternyata isi periuk itu tetap seperti sedia kala, begitu pula adonan rotinya.
Subhanallah!














Usapan Yang Penuh Berkah


Suatu waktu, Rasulullah SAW hendak memberikan tugas pada Ali bin Thalib, namun saat itu ia sedang sakit mata. Berkat sentuhan tangan beliau yang mulia, seketika itu sakit matanya langsung sembuh dan pandangan matanya bertambah tajam

Setelah Islam menguasai kota Madinah, kota tersebut tidak hanya dihuni oleh kaum muslimin saja, melainkan kaumYahudi dan Nasrani serta kaum keturunan Bani Israil juga masih banyak yang berdiam di dalam kota. Kehadiran kaum muslimin di Madinah sedikit banyak menentramkan hati mereka dari bahaya serangan bangsa lain.
Tingkah laku yang baik dari kaum muslimin di Madinah menjadi contoh teladan suku lain yang sama-sama mendiami kota itu. Sehingga tidak mengherankan bila mereka senang bertetangga dengan kaum muslimin yang ramah-tamah dan berbudi luhur. Tatanan masyarakat seperti inilah yang kemudian disebut masyarakat Madaniyah.
Kedamaian yang diciptakan oleh kaum muslimin lama-lama memudar karena ulah bangsa-bangsa yang tidak suka melihat kejayaan Islam di Madinah. Kasak-kusuk kaum munafiq untuk memecah belah persatuan turut andil bagian dalam rangka menghancurkan kaum muslimin dari dalam. Begitu juga dengan kaum Yahudi dari Bani Quraizhah. Mereka bersekutu dengan orang-orang munafik untuk memecah kaum muslimin.
Tindakan kaum Yahudi dan Bani Quraizhah telah melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan kaum muslimin. Bahkan kaum Yahudi yang bertempat tinggal di Khaibar berusaha menyebar fitnah pada penduduk Ghathfan supaya mereka bangkit menyerang kaum muslimin. Rasulullah SAW yang telah mencium gelagat itu, lalu menyusun formasi pasukan untuk kerahkan menuju Gathfan.
Penduduk Gathfan ternyata panik juga ketika mendengar pasukan kaum muslimin sedang berjalan menuju posisi mereka. Buru-buru mereka mengumpulkan penduduknya di suatu tempat untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin.
Setelah penduduk Ghathfan mengadakan perjanjian dengan penduduk Islam, barulah kaum muslimin mengetahui kalau kaum Yahudi Khaibar tidak bergabung dengan penduduk Ghathfan.
Oleh karena itu, kaum muslimin segera mengerahkan pasukannya ke posisi kaum Yahudi Khaibar dan penduduk Ghathfan pun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lega.
Setelah itu Rasulullah SAW membentuk pasukan perang untuk memerangi Yahudi Khaibar yang telah berkhianat. Penduduk Ghathfan juga tidak membantu kaum Yahudi Khaibar karena merasa telah dikhianati oleh mereka.
Di Khaibar, kaum muslimin membuat semacam pagar betis untuk membentengi mereka dari serangan kaum Yahudi Khaibar yang terkenal ahli dalam strategi perang. Untuk merebut benteng-benteng perang kaumYahudi yang tangguh. Kaum muslimin memakai taktik pengepungan sehingga peperangan ini terkesan lama dan lamban, walau akhirnya satu persatu benteng Yahudi dapat di rebut.
Benteng-benteng kaum Yahudi yang banyak membuat mereka bisa berpindah dari benteng yang satu ke benteng yang lain. Hal ini berlangsung terus menerus sehingga mengacaukan serangan kaum muslimin. Melihat permainan Yahudi Khaibar ini akhirnya semangat kaum muslimin semakin tergugah untuk terus berjihad di jalan Allah. Mereka dengan sekuat tenaga dan semangat yang membara berusaha meluluh lantakan benteng-benteng musuh yang tersisa. Dalam situasi demikian, Rasulullah SAW bersabda,”Besok pagi, bendera ini akan aku berikan kepada seseorang yang cinta Allah dan Rasul-Nya, di mana Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya!”
Para sahabat yang mendengar perkataan Rasulullah SAW, dalam hatinya saling mengharapkan dirinya untuk ditunjuk menjadi pembawa bendera kebesaran. Pemberian bendera tersebut merupakan satu penghormatan yang tak bernilai harganya bagi para sahabat, sampai-sampai Umar ibn Khaththab berkata,”Aku sangat mengharapkan bendera yang dijanjikan Rasulullah tersebut!”
Keesokan harinya, ketika mereka usai melaksanakan shalat subuh berjamaah, banyak sahabat yang sengaja menampakan diri di hadapan Rasulullah dengan maksud agar mereka ditunjuk oleh beliau sebagai pemimpin pasukan. Namun, nasib mujur yang mereka harapkan tak kunjung tiba karena rupa-ruapanyanya beliau masih menunggu orang yanfg beliau kehendaki.
Beliau menoleh ke sana kemari seolah-olah sedang dinantikannya itu tidak muncul juga.
Beliau sampai bertanya,”Di manakah Ali bin Abi Thalib sekarang?”
Salah seorang sahabat ada yang menjawab,”Dia sedang sakit mata, ya Rasulullah!”
“Panggilah ia kemari,”perintah beliau.
Sahabat Ali memang sedang menderita sakit mata. Itu terlihat jelas oleh Rasulullah SAW ketika Ali telah sampai di hadapannya, tampak matanya merah dan bengkak. Maka, tanpa berkata apa-apa Rasulullah SAW langsung mengusap mata Ali dengan telapak tangannya.
Ajaib sekali karena seketika itu juga mata Ali yang membengkak langsung sembuh seketika, tiada bekas-bekas bahwa Ali baru saja menderita sakit mata.
Hal ini tentu menggembirakan hati Ali karena di samping matanya sembuh, ia juga merasakan bahwa matanya lebih tajam dan terang penglihatannya dari pada sebelumnya.
Saat itu Ali mendapat kemujuran yang tak pernah diperoleh orang lain. Pertama matanya sembuh, dan menurut salah satu sumber riwayat, setelah mendapat usapan dari tangan Rasulullah sampai akhir hayatnya Ali tidak pernah menderita sakit mata lagi. Di samping itu, penglihatan kedua matanya lebih tajam dari pada sebelumnya.
Kedua, ia mendapat kepercayaan dari Rasulullah untuk membawa panji Islam dalam pertempuran nanti. Kemujuran yang sehari sebelumnya telah diharapkan oleh para sahabat, kini jatuh ke tangan Ali, seorang yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Sahabat yang menyaksikan kejadian ini tercengang. Rasulullah yang diketahui oleh mereka bukan tabib atau dokter namun dapat menyembuhkan mata Ali hanya dengan sekali usapan tangan. 
Mereka kagum menyaksikan mukjizat yang diturunkan Allah kepada nabi mereka. Yang lebih mencengangkan lagi, sorotan mata Ali bertambah tajam sejak saat itu. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang biasa kecuali oleh orang-orang yang menjadi kekasih Allah dan diberi-Nya mukjizat. AST 










Dajal, Isa Ya’juj dan Ma’juj


Tanda-tanda dari hari kiamat adalah munculnya Dajal, Isa Ya’juj dan Ma’juj. Demikian sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat

Pada suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajal, maka suaranya turun naik, sehingga para sahabat menduga berada di tengah-tengah pepohonan korma. Selepas Rasulullah SAW selesai bersabda, para sahabat kemudian pamit undur diri. Namun pada petang harinya, para sahabat kembali bertandang ke kediaman Rasulullah SAW. 
Hari itu beliau sedang berduka, raut kesedihan tampak di mukanya yang bersih bercahaya. Kedua kelompak mata beliau sedikit sembab, tanda sehabis menangis. Seusai mengucap salam, beliau langsung menyapa para sahabat.
“Bagaimana keadaan kalian?” Tanya beliau.
“Wahai Rasulullah, tadi pagi engkau membicarakan Dajal. Sesekali engkau merendahkan suara dan sesekali engkau meninggikannya, sehingga kami seakan-akan berada di tengah kerumunan lebah,” jawab salah seorang sahabat.
Beliau terdiam sejenak, wajah beliau selalu indah ditatap, namun para sahabat tapi berani menatap wajah baginda yang agung itu. Dengan nada suara yang berwibawa dan ketegasan beliau bersabda,
“Bukan Dajal yang aku khawatirkan terhadap kalian. Jika dia muncul dan aku berada di tengah kalian, tentu aku akan membela kalian dengan hujjah-hujjahku. Tapi jika dia muncul, sementara aku tidak berada di tengah kalian, maka setiap orang akan membela dirinya dengan hujjahnya sendiri, sedang Allah merupakan penggantiku untuk membalas setiap orang muslim. Dajal adalah dalam rupa seorang pemuda yang rambutnya keriting dan matanya buta.”
“Sepertinya aku bisa menyerupakannya dengan Abdul Uzza bin Qathan. Siapa pun yang bertemu dengannya, hendaklah dia membaca permulaan surat Al-Kahfi. Dia akan muncul di tempat yang sepi antara Syam dan Irak. Lalu dia membuat kerusakan di sebelah kiri dan kanan. Wahai hamba-hamba Allah, teguhkanlah hati kalian!”
Para sahabat sejenak tak ada satu pun yang berani menatap wajah beliau. Keheningan terpecahkan ketika salah seorang sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, berapa lama ia tinggal di bumi?”
“Empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti sepekan. Dan seluruh harinya seperti hari-hari kalian,” jawab beliau.
“Wahai Rasulullah, satu hari seperti satu tahun, apakah cukup bagi kami mendirikan shalat seperti shalat kami dalam satu hari?” tanya para sahabat serempak.
“Tidak, tapi hitunglah sebagaimana mestinya menurut hitungan saat itu,” jawab Rasulullah dengan penuh kesabaran.
“Berapa kecepatan Dajal dalam berjalan di bumi?” Tanya salah seorang sahabat dengan penuh penasaran.
Sambil menatap salah seorang sahabat, beliau menjawab,“Kecepatan Dajal seperti hujan yang ditiup angin kencang. Ia mendatangi suatu kaum dan menyeru mereka, hingga mereka pun beriman kepadanya dan memenuhi seruannya. Ia lalu menyuruh langit untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan. 
Ia menyuruh bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka tumbuhlah tanaman itu. Binatang ternak mereka pulang pada petang hari, lebih panjang dan lebih gemuk dari keadaan sebelumnya serta lebih besar kantung susunya. Kemudian ia mendatangi suatu kaum dan menyerunya. Namun mereka mengingkari perkataannya. Ia lalu meninggalkan mereka dan pada keesokan harinya mereka kekeringan dan semua harta yang mereka miliki lenyap entah kemana.”
Rasulullah SAW lalu melanjutkan penjelasan Dajal yang melewati suatu tempat yang telah luluh lantak. Dajal lalu berkata,’Keluarkan harta simpananmu!” Maka kekayaan tempat itu mengikuti Dajal seperti kumpulan lebah yang mengikuti pemimpinnya. Kemudian Dajal memanggil seorang pemuda, membabatnya dengan pedang hingga terbelah menjadi dua bagian, yang keduanya terpisah sejauh lemparan anak panah ke sasarannya. Dajal memanggil tubuh yang sudah terbelah itu, dan anehnya tubuh pemuda itu kembali menjadi seperti semula dengan wajah yang berseri menyunggingkan senyuman.
Dalam keadaan seperti itu, lanjut Rasulullah SAW, Allah SWT lalu mengutus Al Masih Isa putra Maryam, turun di dekat menara berwarna putih di sebelah timur Damaskus, sambil mengenakan dua pakaian yang warnanya seperti celupan kunyit. Ia meletakan telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Jika dia menundukan kepala, maka air hujan turun, dan jika dia mengangkat kepalanya, maka berjatuhan butiran-butiran air seperti mutiara. 
Orang kafir tidak diperbolehkan mencium bau, melainkan dia langsung mati ketika sekelebatan pandangan mereka tertuju pada Isa. Kemudian Isa mencarinya hingga menemukannya di dekat Pintu Lud dan membunuhnya. Kemudian ia menemui suatu kaum yang telah dijaga Allah dari Dajal itu. Isa bin Maryam lalu mengusap muka mereka dan memberitahukan derajat mereka di surga. Selagi keadaan seperti itu, Allah memberikan wahyu kepada Isa AS,”Sesungguhnya Aku sudah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak dapat ditundukan oleh siapa pun yang memerangi mereka. Karena itu selamatkanlah hamba-hamba-Ku dengan cara menaiki bukit.”
Allah SWT kemudian mengutus Ya’juj dan Ma’juj beserta pasukannya yang datang dari tempat-tempat yang tinggi. Bagian depan pasukan berada di Telaga Thibriyah lalu meminum seluruh airnya. Ketika bagian akhir pasukan lewat di tempat ini, mereka berkata,’Sebelumnya di tenpat ini ada airnya.’ Nabi Isa Alaihis Salam beserta rekan-rekannya terkepung, hingga kepala salah seorang di antara kalian pada hari ini. Nabi Isa dan rekan-rekannya lalu berdoa kepada Allah, sehingga Allah mengirim cacing yang biasa menjangkiti hidung binatang ke tengkuk mereka, sehingga secara serentak mereka mati seperti matinya satu jiwa. Kemudian Nabi Isa dan rekannya turun ke bumi. Mereka tidak mendapatkan tempat sejengkal pun di bumi melainkan ada bangkai yang busuk. Isa dan rekan-rekannya lalu berdoa kepada Allah, lalu Allah mengirim burung-burung sebesar punuk unta lalu membawa bangkai-bangkai itu dan membawanya ke tempat mana pun yang dikehendaki Allah SWT.
“Kemudian Allah mengirim hujan, sehingga tidak ada satu rumah pun melainkan tersiram air hujan itu, dan bumi dibersihkan hingga seperti cermin. Kemudian dikatakan pada bumi,’Tumbuhkanlah tanaman-tanamanmu dan kembalikan barakahmu!’ Maka pada hari itu sekelompok orang memakan buah delima dan bersama mereka bernaung di bawah kulitnya.
Air susunya diberkahi sehingga seekor unta cukup bagi segolongan besar orang, seekor lembu cukup bagi penduduk satu kabilah, seekor kambing cukup bagi sekumpulan orang. Dalam keadaan seperti itu, Allah lalu mengirim angin yang baik lalu mengambil mereka di bawah hembusannya dan mencabut ruh setiap orang mukmin dan muslim. Sedangkan orang-orang kafir melakukan hubungan seksual seperti layaknya keledai. Maka kepada mereka inilah Kiamat ditimpakan,” sabda Rasulullah SAW kepada sahabat petang itu. (HR Muslim syarah Nawawi, Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan Mustadrak Hakim). AST 

Lelaki Terakhir Masuk Sorga
Suatu hari orang-orang telah berkumpul di kediaman Rasulullah SAW untuk memperbincangkan syafa’at Rasulullah. Setelah mengucap salam, kemudian berkata,”Wahai Rasulullah, apakah kami melihat Tuhan kami pada hari kiamat?”
Mendengar pertanyaan para sahabatnya itu, Rasulullah tersenyum dan lalu menjawab, ”Apakah kamu saling memadharatkan dalam melihat bulan pada malam purnama?”
Para sahabat terdiam sejenak, mereka saling pandang tanda tidak tahu. Sejurus kemudian mereka menjawab serempak,”Tidak, wahai Rasulullah.”
Rasulullah kemudian bersabda,”Apakah kamu saling memadharatkan matahari yang tidak berawan?”
“Tidak, Wahai Rasulullah,” jawab para sahabat dengan kompaknya, tanda mereka benar-benar tidak mengetahuinya.
“Maka sesungguhnya kamu akan melihat seperti itu. Allah yang akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat,” demikian sabda Rasul sambil menyitir firman Allah (hadits qudsi),”Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka hendaklah ia mengikutinya. Orang yang menyembah matahari, mengikuti matahari. Orang yang menyembah bulan, ia mengikuti bulan. Orang yang menyembah berhala, ia akan mengikuti berhala. Dan yang masih adalah umat ini yang di dalamnya ada orang yang dapat memberikan pertolongan atau orang-orang munafik,”.
Rasulullah kemudian menceritakan tentang kedatangan Tuhan dalam rupa yang indah dan menemui seluruh umat manusia di hari kiamat nanti.“Allah datang kepada mereka dan berfirman,’Aku lah Tuhan mu’. Lalu mereka berkata,’Inilah tempatku sehingga Tuhan kami dating, kami mengenalnya.’
Lalu Tuhan mereka, sabda Rasulullah selanjutnya, dalam bentuknya yang mereka kenal, dan berfirman,’Aku lah Tuhanmu,’ lalu mereka mengikuti-Nya, dan dipasanglah jembatan di antara dua tebing jahanam, lalu aku (Muhammad) dan umatku adalah orang yang pertama melewatinya.
Rasulullah SAW lalu mengisahkan tentang betapa sunyinya hari kiamat. Pada hari itu tidak ada orang yang bercakap-cakap kecuali para Rasul. Pada hari itu para Rasul berdoa,”Wahai Allah, selamatkanlah, selamatkanlah”. 
Di Jahanam ada penyambar seperti duri sa’dan, hanya saja tidak tahu ukuran besarnya kecuali Allah, mereka menyambar manusia karena perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang dihancurkan karena perbuatannya, atau dicincang atau diampuni dan sebagainya.
Kemudian, jelaslah sehingga apabila Allah telah selesai memutusi diantara hamba-hamba Nya dan mengeluarkan mereka dari neraka.Bila Allah selesai memutus perkara segenap manusia, Dia berkenan mengeluarkan dari neraka orang-orang yang dikehendaki dengan rahmat-Nya. Dia memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang-orang yang tidak mensekutukan Tuhan, untuk diberi rahmat-Nya.
Rahmat-Nya dari orang-orang yang menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. 
Para malaikat mengetahui mereka di neraka dengan bekas-bekas sujud. Kemudian mereka keluar dari neraka dengan telah terbakar.
“Lalu air hidup ditumpahkan kepada mereka, mereka tumbuh di bawahnya, sebagaimana tumbuhnya biji-bijian di tanah yang terbawa banjir. Kemudian Allah menyelesaikan untuk memberikan keputusan di antara hamba-hamba. Dan yang masih ada dari mereka adalah seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka, dialah penghuni neraka yang terakhir masuk sorga,”sabda Rasulullah sambil mata Rasulullah berkaca-kaca. Beliau kemudian melanjutkan ceritanya,”Lelaki itu kemudian berkata pada Tuhan,’Wahai Tuhan, palingkanlah wajahku dari neraka. Sesungguhnya baunya telah menghancurkan aku. Nyala apinya telah membakar aku’. Maka ia berdoa kepada Allah dengan sesuatu yang ia kehendaki untuk berdoa kepada Nya.
Kemudian Allah berfirman,’Jika hal itu aku berikan kepadamu, apakah barangkali kamu minta lagi kepadaku selainnya?’
Lelaki itu lalu menjawab,’Tidak, demi kemuliaan Mu. Saya tidak minta lagi selamanya.’ Sang lelaki itu kemudian memberikan janji-janji kepada Tuhannya dengan sesuatu yang dikehendakinya. Kemudian Allah memalingkannya dari neraka. Ketika ia melihat sorga dan melihatnya, ia diam sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk diam, lalu dia berkata,’Wahai Tuhan, ajukanlah saya ke pintu sorga,’
Maka Allah berfirman kepada lelaki itu,”Bukankah kamu telah memberikan janji-janji untuk selama-lamanya selain apa yang telah diberikan kepadamu? Celaka lah wahai anak Adam, alangkah hianatmu!”
Lelaki itu kemudian berkata,”Wahai Tuhan,” dan dia berdoa kepada Allah sehingga Ia berfirman,”Jika kamu telah diberi hal itu, apakah barangkali kamu minta selainnya?”
“Tidak. Demi kemuliaan Mu, saya tidak minta selainnya,” jawab lelaki itu. Dan ia lalu memberikan janji-janji sesuai dengan apa yang dikehendaki Nya, maka Tuhan mengajukannya ke pintu sorga. Ketika ia telah berdiri di pintu sorga, tampaklah sorga itu baginya. Maka ia melihat kesenangan di dalamnya, maka ia diam sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk diam.
Kemudian ia berkata,”Wahai Allah, masukanlah aku ke sorga.”
Maka Allah berfirman,”Bukankah kamu telah memberikan janji-janji untuk tidak minta selain apa yang telah Aku berikan kepadamu. Celakalah kamu wahai anak Adam!Alangkah hianatnya kamu!”
“Wahai Tuhan, janganlah aku menjadi hamba-Mu yang paling celaka,” rengek lelaki malang itu dengan penuh ketakutan seraya terus berdoa pada Tuhan.
Melihat hambanya yang satu ini, Tuhan tertawa, Dia lalu berfirman,”Masuklah kamu ke sorga!”.
Ketika ia memasukinya, Allah melanjutkan firmannya,”Bercita-citalah!”. Maka ia kembali memohon kepada Tuhan dan cita-citanya, sehingga Allah menyebutkannya dan berfirman kepadanya,”Bercita-citalah demikian dan demikian, sehingga habis cita-citanya.”
Allah kemudian melanjutkan firman-Nya,”Itulah untukmu dan bersamamu itu mendapat lagi yang sama.” Setelah mengisahkan seluruh kejadian yang menimpa sang lelaki malang itu.
 Lalu Rasulullah SAW bersabda,”Itulah seorang lelaki penghuni sorga yang paling akhir masuk sorga.” (HR Bukhari).AST 












Syafa’at Rasulullah SAW


Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”

Pada suatu hari, Rasulullah SAW dibawakan sebuah daging bakar berupa paha kesukaannya. Beliau menggigitnya sekali, lalu bersabda: “Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian apa sebab demikian?”
Pertanyaan Rasulullah SAW menyentak para sahabatnya tertegun diam seribu bahasa. Kemudian ia melanjutkan perkataannya.
“Pada hari kiamat, Allah SWT mengumpulkan semua manusia, baik orang-orang yang terdahulu maupun yang datang kemudian, pada suatu tempat. Ada penyeru yang memperdengarkan pada mereka dan penglihatan yang mengawasi mereka. Matahari begitu dekat, sehingga sampalah manusia pada puncak kesusahan dan kepayahan yang tidak kuasa mereka tanggungkan serta mereka pikul. Sebagian manusia akan berkata kepada sebagian yang lain:’Tidakkah kalian tahu apa yang sedang kalian alami?Tidakkah kalian tahu kepayahan yang telah menimpa kalian? Tidakkah kalian mempunyai pandangan siapa yang dapat memintakan syafaat kepada Tuhan kalian?”
Orang-orang berkata satu sama lain:“Datanglah kepada Adam”.
Mereka pun datang kepada Adam dan berkata: “Hai Adam! Engkau adalah Bapak manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan roh-Nya ke dalam dirimu. Dia juga memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”
Adam berkata: ‘Sungguh, pada hari ini Tuhan sedang marah, dengan kemarahan yang belum pernah terjadi mendekati sebatang pohon, tetapi aku mendurhakai-Nya. Diriku, diriku! Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Nuh!’
Mereka mendatangi nabi Nuh Alaihis Salam, dan mereka bertanya kepadanya: ”Wahai Nuh! Engkau adalah rasul pertama di atas bumi dan Allah menyebutmu hamba yang banyak bersyukur. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang akan kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”
Nuh kemudian menjawab:“Pada hari ini, Tuhanmu marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya. Dulu, aku berdoa dengan doa yang mencelakakan kaumku. Diriku, diriku! Pergilah kalian pada Ibrahim Alaihis Salam!”
Mereka pun lalu mendatangi Ibrahim Alaihis Salam dan berkata:”Engkau adalah Nabi dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang akan kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”
Ibrahim Alaihis Salam yang menyaksikan orang sebanyak itu, kemudian menjawab:“Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya.—dan Ibrahim menyebutkan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukannya dalam hidup(diulangnya sampai tiga kali)--. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada selain diriku! Pergilah kepada Musa!”
Mereka pun lantas mendatangi Musa Alaihis Salam dan berkata:”Hai Musa! Engkau adalah utusan Allah. Allah telah mengutamakanmu dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, melebihi manusia lain. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu! Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”
Nabi Musa yang mendapat pertanyaan semacam itu, kemudian menjawabnya: ”Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi dan tidak akan terjadi sesudahnya. Dulu, aku membunuh orang, padahal aku tidak diperintahkan membunuhnya. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada Isa Alahis Salam!”
Mereka pun mendatangi Isa Alahis Salam berharap mendapat pertolongan, seraya berkata:“Hai Isa! Engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia selagi engkau masih berada dalam buaian. Engkau adalah Kalimah-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, dan roh dari-Nya. Karena itu, mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”
Isa Alaihis Salam yang mendapat giliran pertanyaan dari umat manusia yang sedikian banyaknya kemudian menjawab:“Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar. Kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya—tetapi ia tidak menyebutkan dosanya, seperti Ibrahim, Nuh dan Musa --. Diriku, diriku! Pergilah kepada orang lain! Pergilah kepada Muhammad SAW!”
Mereka mendatangiku dan berkata:”Hai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampunimu, dosa yang dahulu dan kemudian. Syafa’atilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”
Aku pun kemudian berangkat kepada Allah SWT. Sesampai di bawah Arsy aku bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan kepadaku dan memberiku ilham, berupa puji-pujian bagi-Nya dan sanjungan kepada-Nya. Sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelumku. Aku menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya.
Kemudian Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”
Aku berkata:”Wahai Tuhanku! Ummatku, ummatku!”
Difirmankan kepadaku:”Berangkatlah! Barangsiapa di dalam hatinya terdapat iman, meski hanya seberat biji sawi, engkau boleh mengeluarkannya dari neraka.”
Aku pun berangkat dan melaksanakan perintah Allah SWT. Sesudah itu aku kembali kepada-Nya, memuji-Nya dengan puji-pujian yang tadi, lalu menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya.
Diceritakan, Muhammad sampai empat kali mengambil umat manusia yang beriman, walau imannya sebesar biji sawi(dzarah) dari neraka. Setelah itu Muhammad kembali menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya. Lalu di firmankan kepada Ku: 
Kemudian Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”
Aku kemudian berkata:”Wahai Tuhanku, berilah aku izin memberi syafa’at kepada orang yang hanya mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH.”
Allah kemudian berfirman: ”Itu bukan bagianmu! Tetapi, demi kemuliaan-Ku, demi kebesaran-Ku, demi keagungan-Ku dan demi kekuasaan-Ku; Aku pasti mengeluarkan orang yang mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH.”
Dalam sumber hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, diceritakan bahwa Allah SWT kemudian menjawab puji-pujian Muhammad SAW itu dengan firman-Nya:
”Hai Muhammad! Masuklah ke sorga dari ummatmu, orang-orang yang tidak harus dihisab melalui pintu kanan di antara pintu-pintu sorga. Mereka juga bisa masuk bersama orang-orang lain(Ahli sorga yang bukan termasuk golongan di atas) dari pintu-pintu lain.Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad! Sesungguhnya jarak antara dua sisi pintu sorga itu sama dengan jarak antara Mekkah dan Hajar(kota di Bahrain), atau sama dengan jarak kota Mekkah dan Bushra (dekat Damaskus).” (HR Bukhari) AST 










































Pelajaran Hakikat Rasulullah SAW


Rasulullah SAW terlambat hadir di masjid untuk mengimami shalat Subuh, karena bermimpi mendapat pelajaran hakikat dari Alah SWT.

Sejak adzan Subuh berkumandang sampai menjelang fajar, Rasulullah SAW belum muncul di masjid. Para sahabat sudah gelisah. Beberapa sahabat diutus menemui Rasulullah SAW di rumahnya. Namun yang lain mencegah, sebab mereka yakin Rasulullah SAW akan hadir. Maka mereka pun menunggu Rasulullah SAW sembari membaca Al-Quran.
Tak lama kemudian, Rasulullah SAW masuk ke masjid dan memerintahkan salah seorang sahabat membaca iqamat. Kemudian beliau menjadi imam dan mempercepat shalatnya. Seusai salam, beliau membaca doa dengan suara keras. Suaranya yang jernih penuh wibawa menggetarkan para jemaah. Lalu beliau bersabda, ”Tetaplah kalian berada di shaf masing-masing.”
Rasulullah SAW lalu menghadap ke arah jamaah dengan pandangan yang sejuk. Wajahnya yang putih bersinar menandakan suasana hati yang sedang gembira. Matanya yang indah dan tajam menatap jamaah satu per satu. Para jamaah tertunduk, tak berani menatap wajah Rasulullah SAW yang agung. Sejurus kemudian beliau bersabda, ”Aku akan memberi tahu kalian apa yang membuatku terlambat datang. Semalam aku bangun mengambil air wudhu, lalu mendirikan shalat. Dalam shalatku aku tertidur karena kantuk yang amat berat. Ternyata aku bermimpi bersama Allah SWT dalam rupa yang sangat gemilang.”
Setelah diam sejurus, beliau meneruskan sabdanya, “Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad!’ Aku menjawab, ‘Labbaika ya Rabbi’.” ”Mengapa para malaikat berselisih?”
“Hamba tidak tahu.”
Lalu Rasululah SAW melanjutkan ceritanya, “Allah SWT bertanya sampai tiga kali. Kulihat Dia meletakkan telapak-Nya di atas bahuku, hingga dapat kurasakan dingin jari-jari-Nya di dadaku. Segala sesuatu tampak jelas di depanku, dan aku mengetahuinya. Lalu Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad...’.”
”Labbaika ya Rabbi.”
“Tentang apa para malaikat berselisih?”
”Tentang penebus-penebus dosa.”
”Apa penebus dosa-dosa itu?”
”Langkah menuju kebaikan, duduk di masjid setelah shalat, mengguyurkan air wudhu pada saat-saat tidak disukai.”
”Tentang apa mereka berselisih?”
”Tentang memberi makan, ucapan yang lemah lembut, shalat malam ketika manusia tidur nyenyak.”
”Mintalah!”
”Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu taufik untuk mengerjakan hal-hal yang baik, meninggalkan yang munkar, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku jika Engkau hendak menimpakan cobaan.”
Setelah itu Rasulullah SAW membaca sebuah doa pendek yang semalam dipanjatkan kepada Allah SWT, ”Allahuma inni as-aluka khubaka wa hubba man yukhibbuka wa kulla ‘amalin yuqarribuni illa khubbika.” (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kecintaan-Mu dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan kepada amal yang mendekatkan kepada kecintaan kepada-Mu).
Kemudian, dengan suara sangat pelan – sementara matanya yang mulia berkaca-kaca – Rasulullah SAW mengakhiri sabdanya, ”Ini adalah pelajaran hakikat. Maka pelajarilah!” AST Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah SAW bersabda, “Iman adalah kesabaran dan suka memaafkan.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hiban)








































Amal yang diterima Allah SWT

Setiap amal seseorang akan melewati tujuh langit sebelum diterima oleh Allah SWT.
Pada setiap langit, malaikat penjaga pintu langit akan memeriksa setiap amal hamba-Nya


Muadz bin Jabbal suatu ketika bertemu dengan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Muadz! Sekarang aku akan mengisahkan kepadamu, bila engkau menghafal dan menjaganya akan sangat berguna bagimu. Tapi jika engkau menganggap remeh, maka kelak di hadapan Allah SWT, engkau tidak mempunyai hujjah (alasan) apa pun juga.”
Muadz bin Jabbal mendengarkan dengan cermat setiap perkataan Nabi Muhammad SAW.
Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan sabdanya, ”Wahai Muadz! Sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi, Allah SWT telah menciptakan tujuh malaikat yang bertugas sebagai penjaga pintu langit. Setiap langit mempunyai seorang malaikat penjaga. Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk mencatat amalan hamba-Nya dan kemudian sang malaikat penjaga membawa catatan amalan tersebut ke langit.”
Rasulullah menceritakan tentang sampainya amal seorang hamba ke langit pertama. Sesampainya di langit pertama, malaikat Hafazhah memuji amalan hamba. Akan tetapi malaikat penjaga pintu berkata pada malaikat Hafazhah, ‘Tamparkan amalan ini ke muka pemiliknya! Aku adalah malaikat penjaga orang-orang yang suka mengumpat atau riba. Aku diperintahkan Allah agar menolak amalan orang yang suka mengumpat atau riba untuk melewati pintu berikutnya.’
Di pintu kedua, terdapat malaikat khusus yang memeriksa, apakah amalan si hamba untuk mengharapkan dunia, dan bila amalan tersebut untuk kepentingan dunia, maka akan ditolak untuk dilaporkan ke atas. 
Di pintu ketiga, malaikat memeriksa amal apa pun yang dilakukan oleh manusia. Bila orang yang beramal memiliki sifat sombong, maka malaikat penjaga akan berkata, ‘Berhenti! Dan lemparkan amalan itu ke wajah pemiliknya! Aku malaikat penjaga kibr (sombong), Allah SWT memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku dan tidak disampaikan kepada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri. Ia sombong di dalam majelis.’
Di hari yang lain, malaikat Hafazhah membawa amalan seorang hamba yang sangat banyak, tapi semuanya tertolak karena amalan tersebut dibarengi sifat ujub atau kesombongan pelakunya. Di hari yang lain lagi, saat amalan seorang hamba naik ke langit. Malaikat penjaga langit kelima akan menolaknya dengan berkata, ’Aku malaikat penjaga sifat hasad (iri).
Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka iri pada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah. Berarti ia membenci yang meridhainya, yaitu Allah SWT. Aku diperintahkan agar amalan semacam itu tidak melewati pintuku.’
Pada kesempatan yang lain, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan hamba. Setelah lolos dari langit pertama hingga langit kelima. Tetapi sesampainya di langit keenam malaikat penjaga pintu berkata, ‘Aku malaikat penjaga Rahmat. Amalan yang kelihatan bagus itu tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan apabila ada orang yang terkena musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amalan ini tidak melewati pintuku untuk diteruskan ke langit berikutnya.’
Hari yang lain malaikat Hafazhah naik ke langit dengan membawa amalan seorang hamba. Akan tetapi sesampainya di langit ketujuh, malaikat penjaga pintu langit berkata, ‘Aku malaikat penjaga sum’ah (ingin dikenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran di dalam setiap perkumpulan. Menginginkan derajat yang tinggi di kala berkumpul dengan kawan. Ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amalan tersebut tidak melewati pintu ini.’
Di kemudian hari, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa berbagai amalan hamba dari langit pertama hingga langit ketujuh. Amalan tersebut telah lolos dari para malaikat penjaga. Amalan yang terdiri dari shalat, puasa, zakat, tilawatil Quran, haji, shadaqah dll, tampak berkilau bagai cahaya yang terang. Malaikat Hafazhah selanjutnya menembus hijab hingga sampai di hadapan Allah SWT. Seluruh malaikat menyaksikan amalan itu. Amalan ibadah itu soleh dan diikhlaskan karena Allah. 
Lalu Allah berfirman, ‘Wahai Hafadzah! Malaikat penjaga amal hamba-Ku! Aku lah Allah yang mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk-Ku. Tetapi ia beramal untuk selain-Ku. Bukan diniatkan untuk-Ku.’
Dan selanjutnya, Allah SWT melanjutkan firman-Nya, ‘Mereka telah menipu orang lain dan juga kalian. Aku tidak tertipu. Aku mengetahui yang ghaib. Aku melaknatnya!’
Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat yang hadir kemudian berkata, ‘Ya Allah, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.’
Kemudian semua yang ada di langit mengucapkan, ‘Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknatnya orang-orang yang melaknat!
Mendengar semua kisah yang diceritakan oleh Rasulullah SAW itu, dengan sambil menangis Muadz bertanya, ”Ya Rasulullah! Bagaimana aku bisa selamat dari semua yang engkau ceritakan?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Wahai Muadz! Ikutilah nabimu dalam hal keyakinan.”
Muadz bertanya lagi, ”Engkau adalah Rasulullah SAW dan aku adalah Muadz bin Jabbal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”
Rasulullah SAW menerangkan, ”Memang begitulah bila ada kekurangan dalam amal ibadahmu, maka jagalah lisanmu jangan sampai menjelekkan orang lain, terutama para auliya mu. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu penuh dengan aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan orang lain. Jangan menonjolkan diri dengan menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan ria dalam beramal. Jangan mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di dalam majelis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka mengungkit-ungkit kebaikan dan jangan menghancurkan pribadi orang lain. Kelak engkau akan dirobek-robek dalam jahanam!”
Beliau kemudian membaca firman Allah, ”Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras. Kalian mau tahu seperti apa orang yang dicabut nyawanya, bagaikan orang yang menarik daging dari tulang.”
Mendengar semua keterangan ini, Muadz masih bertanya, ”Ya Rasulullah! Siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam itu?”
Rasulullah menjawab, ”Muadz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan bencilah terhadap yang engkau benci. Dengan demikian engkau akan selamat.” 
AST, dari Ihya’ Ulumuddin, Babul Amal.




Jaminan Rasulullah SAW

Setelah mendapat jaminan Rasulullah SAW, Ikrimah akhirnya memeluk Islam. Ia menjadi seorang muslim yang patuh pada Rasulullah dan syahid dalam perang Yarmuk


Abu Isha As-Ayabi’i meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, Ikrimah berkata,”Aku tidak akan tinggal di tempat ini!”
Dia lalu pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantu mengemasi barang-barang yang akan dibawa serta. Melihat gelagat suaminya itu hendak pergi, lalu sang isteri berkata,”Hendak kemana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy? Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?”
Ikrimah kemudian melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya. Maka isteri Ikrimah bergegas menemui Rasulullah SAW.
Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah. Ia kemudian berkata,”Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau baginda akan membunuhnya. Justeru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”
“Dia akan berada dalam keadaan aman,” jawab Rasulullah SAW.
Mendengar jaminan Rasulullah SAW itu, lalu isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya.
Sementara itu Ikrimah telah sampai ke pelabuhan dan siap menaiki kapal. Melihat salah satu penumpangnya berwajah muram, pengemudi kapal itu berkata pada Ikrimah,”Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!”
“Apakah yang harus aku ikhlaskan?” Ikrimah balik bertanya.
“Ikhlaskanlah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah!” kata pengemudi kapal itu.
“Tidak, justeru aku melarikan diri karena ucapan itu,” jawab Ikrimah.
Selepas itu datanglah isterinya dan berkata,”Wahai Ikrimah putera bapa saudaraku! Aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama. Dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah SAW.”
“Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?” tanya Ikrimah memastikan jaminan Rasul SAW itu.
“Benar, aku telah berbicara dengan baginda dan baginda pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu,”jawab istrinya.
Mendengar berita gembira dari isterinya itu pada malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan persetubuhan dengan isterinya. Akan tetapi isterinya menolaknya sambil berkata,”Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim.”
“Penolakan kamu itu adalah satu masalah besar bagiku,” kata Ikrimah.
Malam itu Ikrimah tidak jadi berhubungan suami isteri. Beberapa hari kemudian mereka pulang kembali ke Mekkah. Begitu mendengar berita Ikrimah dan isteri kembali ke Mekkah, Rasulullah SAW segera menemuinya. Karena rasa kegembiraan yang tidak terkira itu membuat Rasulullah SAW sampai lupa memakai serbannya.
Setelah bertemu dengan Ikrimah, beliau pun duduk. Ketika itu Ikrimah berserta dengan isterinya berada di hadapan Rasulullah SAW. Ikrimah langsung membuka perbincangan,”Sesungguhnya aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah utusan Allah.”
Mendengar ucapan Ikrimah itu, Rasulullah SAW sangat gembira, wajahnya bertambah cerah.
”Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan,” kata Ikrimah.
”Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya,”jawab Rasulullah SAW.
“Selepas itu apa lagi?” tanya Ikrimah.
“Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya,”jawab Rasulullah SAW.
Ikrimah pun kemudian mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Selepas itu beliau bersabda,”Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, niscaya aku akan mengabulkannya.”
“Aku memohon kepadamu ya Rasulullah. Supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah SWT, atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu. Setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu,” pinta Ikrimah.
Mendengar permintaan Ikrimah, Rasulullah SAW lalu berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuhan denganku. Setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung denganku mau pun tidak.”
Mendengar doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW itu, hati Ikrimah menjadi gembira. Seketika itu juga ia berkata,”Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya. Aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”
Janji Ikrimah kemudian dibuktikan ketika terjadi Perang Yarmuk. Ia ikut serta berperang sebagai pasukan perang yang berjalan kaki. Pada waktu itu Khalid bin Walid memperingatkan,”Jangan kamu lakukan hal itu, karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”
“Wahai Khalid! Kamu dahulu pernah ikut berperang bersama Rasalullah SAW. Maka biarkan aku lakukan!” jawab Ikrimah.
Ikrimah tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. 
Abdullah bin Mas’ud pula berkata,“Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata, ‘Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku.’ Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.” 
AST












































Rasulullah SAW Dibantu Jin Muslim


Rasulullah SAW dituduh sebagai pembohong oleh setan yang merasuk ke dalam berhala. Gantian jin muslim merasuk ke dalam berhala, menyatakan kebenaran Rasulullah SAW.


Suatu hari, Rasulullah SAW menerima wahyu Allah SWT berupa ayat 1-10 surah Al-Mudattsir, yang memerintahkan agar berdakwah secara terang-terangan. Maka beliau pun segera mengumpulkan kaum Quraisy Makkah di Bukit Abu Qubays. ”Wahai kaum Quraisy, katakanlah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”
Mendengar dakwah itu, serta merta mereka berlalu sambil bersungut-sungut, bahkan sebagian di antaranya marah. Mereka lalu berkumpul di Dar Al-Nadwah membicarakan dakwah Rasul yang menurut mereka aneh. ”Muhammad telah mencerca tuhan kita. Ia mengajak kita menyembah Tuhannya. Kita harus cari akal untuk memperdayainya,” kata salah seorang di antaranya. Di antara mereka tampak beberapa gembong kafir Quraisy seperti Al-Walid bin Harits, Shafwan bin Umayah, Kaab bin Asyraf, dan Abu Jahal.
Satu per satu mereka yang hadir ditanya, apa yang telah dikatakan oleh Muhammad. Mereka rata-rata menjawab, Muhammad adalah penyihir, gila, dan mengambil kesempatan untuk mencari kedudukan. Pada umumnya mereka sangat marah mendengar dakwah Rasulullah SAW. Mereka mencaci dan memperolok-olok beliau.
Ketika tiba giliran Al-Walid bin Harist, ia menjawab, ”Aku tidak punya pendapat apa-apa.” Tapi, jawaban itu dianggap membela Muhammad. Karena itu mereka memperolok, mengejek, dan mencaci maki Al-Walid. Maka Al-Walid pun dengan lantang berkata,”Tangguhkanlah penghinaan kalian selama tiga hari!”
Al-Walid adalah salah seorang pedagang Makkah yang kaya raya. Seperti halnya warga kafir Makkah yang lain, ia juga punya berhala sesembahan. Ia punya dua buah berhala yang bentuknya lebih bagus ketimbang berhala yang lain, karena terbuat dari emas dan perak, bertatahkan intan permata. Kedua berhala itu ditaruh di sebuah rumah khusus.
Selama tiga hari berturut-turut, tanpa makan-minum, ia menyembah berhala emasnya dengan harapan sang berhala dapat memberi jalan keluar mengenai dakwah Muhammad. Ia berkata kepada kedua berhala itu, ”Aku telah menyembahmu selama tiga hari. Aku sangat berharap agar engkau memberitahuku perihal dakwah Muhammad!”
Kesempatan itu dipergunakan oleh setan dengan merasuk ke dalam patung dan menggerakkan mulutnya. ”Sesungguhnya Muhammad bukanlah nabi. Kamu jangan membenarkan apa yang ia katakan!” kata berhala itu. Al-Walid menyangka berhala itu benar-benar berbicara. Betapa gembiranya dia. Maka ia pun buru-buru memberi tahu kaum kafir Quraisy bahwa ia sudah menemukan kebohongan Muhammad lewat mulut berhalanya.
Betapa sedih Rasulullah SAW mendengar ejekan kaumnya. Maka turunlah Malaikat Jibril. ”Wahai Muhammad, ejekan itu berasal dari Al-Walid bin Harits,” kata Jibril. Ketika mendatangi Al-Walid dan kawan-kawannya, Rasulullah SAW ditertawakan sejadi-jadinya. 
”Kami tidak akan menghiraukan kamu, pembohong!” kata mereka serempak. Bersamaan dengan itu, mereka mengumpulkan beberapa berhala dan menghiasinya, lalu menyembahnya dengan bersujud.
Rasulullah SAW, yang saat itu bersama Abdullah bin Mas’ud, duduk-duduk saja dekat orang-orang kafir yang sedang menyembah berhala tersebut. Ketika itu setan datang lagi dan mengulangi kata-kata sebagaimana pernah diucapkan lewat berhala Al-Walid. Semua yang hadir, termasuk Rasulullah SAW dan Abdullah bin Mas’ud, mendengarnya. 
Abdullah yang ketakutan berkata, ”Wahai Rasulullah, apa yang baru saja dikatakan oleh berhala itu?”
Dengan tenang Rasulullah SAW menjawab, “Janganlah engkau takut, karena yang berkata itu adalah setan.”

Jin Muslim
Beberapa hari kemudian, Rasulullah SAW kembali menemui orang-orang kafir itu. Di tengah jalan, beliau bertemu seseorang – mengendarai kuda serta mengenakan jubah hijau dan – yang menyalaminya. ”Wahai penunggang kuda, siapakah kamu sebenarnya? Aku heran mendengar salammu kepadaku,” kata Rasulullah SAW.
“Aku Muhair bin Habbar, keturunan jin, tinggal di Bukit Thursina, dan telah lama megembara. Aku sudah memeluk Islam (syariat dari Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad, yang pada hakikatnya sama dengan syariat yang diturunkan kepada beliau) sejak zaman Nabi Nuh. Ketika pulang, kudapati istriku menangis. Katanya, setan Musfir telah berdusta, sehingga Muhammad SAW diejek dan diperolok-olok oleh para penyembah berhala. Aku lalu mencari Musfir, dan menemukannya di antara Bukit Shafa dan Marwah. Kami berkelahi dan aku berhasil membunuh setan yang menyerupai anjing itu,” kata jin itu.
Mendengar penuturan tersebut, Rasulullah SAW mendoakannya dengan doa kebaikan. Lalu jin muslim itu menawarkan diri kepada Rasulullah SAW untuk merasuk ke dalam tubuh patung milik Al-Walid untuk mempermainkan orang kafir. “Baiklah, kalau memang itu cara terbaik untuk menyadarkan mereka,” jawab Rasulullah SAW.
Tak lama kemudian, seperti hari-hari biasanya, orang-orang kafir Makkah berkumpul dan menghiasi serta menyembah berhala-berhala mereka. Tak lupa mereka minta agar berhala-berhala itu membuktikan bahwa Muhammad adalah pembohong. Tiba-tiba patung yang paling besar dan indah berbicara, ”Wahai warga Makkah, ketahuilah, sesungguhnya Muhammad itu benar, dan mengajak kepada kebenaran, sedangkan kalian dan berhala-berhala ini semua adalah batil. Jika tidak beriman kepada Muhammad, kalian akan masuk neraka jahanam!”
Mendengar patung itu bisa bicara, terkejutlah kaum kafir Quraisy Makkah. Apalagi kata-kata yang diucapkannya tidak sebagaimana yang mereka harapkan. Tak ayal, mereka pun bimbang. Bahkan beberapa di antara mereka, diam-diam, mulai mempercayai kenabian Muhammad SAW. 
Abu Jahal, tokoh kafir Qurasy, murka. Ia segera mengangkat dan membanting berhala yang bisa bicara itu hingga hancur. Kepingan-kepingan itu diinjak-injaknya, bahkan kemudian sempat ia kumpulkan sisa-sisanya untuk dibakar. Melihat kejadian itu, Rasulullah SAW pun pulang dengan perasaan lega; sementara jin muslim Muhair bin Habbar, yang diganti namanya oleh Rasulullah dengan Abdullah bin Abhar, segera berlalu. AST 







Terjebak ke Lubang Jebakan Sendiri

Berkali-kali Abu Jahal gagal membunuh Rasulullah SAW. Ia lalu merencanakan membunuh beliau dengan menjebaknya ke dalam sebuah lubang yang dalam, tapi ia sendiri terperosok ke dalamnya.

Semalaman Abu Jahal menggali lubang di depan pintu masuk rumahnya. Begitu selesai, ia menutupinya dengan ranting-ranting pohon kurma, dan menaburinya dengan rumput. Lalu, di atasnya lagi ia taburkan tanah tipis, sehingga tak seorang pun menyangka lubang itu merupakan jebakan. Jika ada orang menginjaknya, biarpun seorang anak kecil, pasti ia terjerembab ke dalamnya.
Setelah semua persiapan selesai, Abu Jahal menyuruh salah seorang pembantunya menemui Rasulullah SAW, mengabarkan bahwa ia sedang sakit. Ia lalu berbaring di tempat tidur, pura-pura sakit keras. Rasulullah SAW, yang mendengar Abu Jahal sakit keras, segera menjenguknya. Walaupun Abu Jahal selalu mengejek, mencaci maki, dan pernah berusaha membunuhnya, beliau tetap bersikap baik.
Dengan tenang dan berwibawa, Rasulullah SAW tanpa curiga sedikit pun melangkah. Ketika langkah beliau kira-kira tinggal sejengkal lagi dari jebakan itu, Rasulullah SAW dibisiki oleh Malaikat Jibril bahwa Abu Jahal telah mempersiapkan lubang jebakan yang hampir saja diinjaknya. Jibril juga menyarankan agar beliau pulang saja, mengurungkan niatnya menjenguk Abu Jahal, karena ia sebenarnya tidak sakit.
Mendengar saran Jibril itu, beliau pulang. Mengetahui Rasulullah SAW tidak jadi masuk ke rumahnya, tanpa pikir panjang ia segera melompat dari tempat tidur, bergegas mengejar Rasulullah SAW. “Hai, Muhammad! Kemarilah, kemari!” teriaknya berkali-kali. Dengan tergopoh-gopoh ia membuka pintu. Ia sama sekali lupa bahwa ia telah membuat jebatan di depan pintu rumahnya.
Ketika kakinya menginjak jebakan yang dibuatnya sendiri itu, terdengarlah bunyi ranting-ranting kering yang terinjak, ”Kraaak...! Bum...!”
Abu Jahal terperosok ke dalam lubang jebakan yang digalinya sendiri. Di dalamnya yang ada hanyalah suasana yang gelap dan pengap, sementara rasa sakit dan dongkol menjalar dari kakinya yang kekar ke sekujur tubuh.
Tangannya mencoba menggapai bibir lubang, namun seluruh daya upayanya nihil.
”Tolong-tolong!” teriaknya berkali-kali.
 
Semakin Terperosok
Mendengar teriakan minta tolong itu, beberapa pembantunya berdatangan mendekat ke arah lubang di depan pintu. Mereka melihat majikannya terpuruk ke dalam lubang yang gelap dan pengap itu. Maka beramai-ramailah mereka menolongnya. Tapi, usaha mereka sia-sia. Berbagai cara mereka tempuh, dengan tangga dan tali panjang, namun tetap tak tergapai oleh tangan Abu Jahal. Ia semakin dalam terperosok ke dalam lubang.
Akhirnya Abu Jahal menyadari, keselamatan jiwanya terancam. Maka segeralah ia berteriak sekuat tenaga, “Pergilah kepada Muhammad! Mintalah ia menolongku! Sebab, tidak ada orang yang bisa menolongku kecuali dia.”
Maka dengan langkah tergopoh-gopoh, salah seorang pembantunya menghadap Rasulullah SAW menyampaikan keadaan dan pesan majikannya.
Dengan bijaksana, Rasulullah SAW memaklumi apa yang sedang terjadi. Bahkan beliau pun segara memaafkan, dan bersedia menolong Abu Jahal, yang berkali-kali telah berusaha mencelakakannya. Maka beliau pun bergegas ke rumah Abu Jahal. Ketika Rasulullah SAW tiba, Abu Jahal merengek, “Wahai Muhammad, jika engkau berhasil mengeluarkan aku, aku akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”
“Baiklah,” jawab Rasulullah SAW dengan nada suara yang halus dan berwibawa. Beliau lalu mengulurkan tangan kanannya ke dalam lubang yang sangat dalam itu. Dan Abu Jahal pun bisa keluar dari lubang jebakan yang dibuatnya sendiri, selamat tak kurang suatu apa. Berkat mukjizat dari Allah SWT, Rasulullah SAW mampu mengeluarkan Abu Jahal hanya dengan sekali angkat. 
Tapi, dasar gembong kafir. Rupanya hati Abu Jahal memang sudah tertutup dari hidayah. Begitu selamat, ia malah mengejek Rasulullah SAW, “Wah, hebat benar sihirmu, ya Muhammad!” Lalu, ia berlalu dari hadapan Rasulullah SAW. Beliau tetap bersabar. Tak lama kemudian Rasulullah SAW pun pulang.
Sampai di rumah, beliau menceritakan terperosoknya Abu Jahal ke dalam lubang jebakan buatannya sendiri kepada para sahabat, yang sejak tadi sudah berkumpul hendak mendengarkan tausiah Rasulullah SAW. Maka beliau pun bersabda, ”Barang siapa menggali lubang untuk mencelakakan saudaranya yang muslim, niscaya ia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya.” 




























Tanda-tanda Kiamat Kecil


Apakah tanda-tanda kiamat kecil? Tanda-tanda itu pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah dialog yang menarik dengan Salman Al-Farisy.

Suatu saat, ketika menunaikan haji wada’, sambil memegangi kiswah Ka’bah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah tidak dilaksanakannya salat, diikutinya syahwat, berkhianatnya para pemimpin, dan fasiknya para menteri.”
Sahabat Salman Al-Farisy langsung menyeruak ke arah beliau. ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apakah hal itu benar-benar akan terjadi?” tanyanya.
”Benar, Salman. Saat itu kemungkaran menjadi kemakrufan dan kemakrufan menjadi kemungkaran,” jawab Rasul. 
“Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” tanya Salman lagi. “Benar. Saat itu hati orang mukmin larut dalam badannya, seperti garam larut dalam air, karena apa yang dilihatnya ia tidak mampu mengubahnya,” jawab Rasul.
Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” Rasul menjawab lagi, ”Benar. Saat itu pengkhianat dipercaya, orang yang dapat dipercaya dianggap berkhianat; para pendusta dianggap jujur, dan orang jujur dianggap dusta.” 
Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu itu akan terjadi?”
Tanpa jemu, Rasul menjawab, “Benar. Sesungguhnya orang yang paling utama ialah orang mukmin yang berjalan di tengah segolongan orang yang dalam ketakutan. Jika dia berbicara, mereka akan memakannya, dan mati karena kemarahan dalam dirinya. Wahai Salman, suatu kaum tidak akan disucikan jika yang kuat memakan yang lemah.”
Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?”
“Benar. Saat itu orang kaya disanjung-sanjung, agama dijual dengan dunia, dunia dicari dengan amal akhirat. Laki-laki berhubungan dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan.
 Mereka adalah bagian dari umatku yang dilaknat Allah SWT. Saat itu, umatku disusul dengan umat yang lain, badan mereka badan manusia namun hatinya hati setan. Jika umatku bicara, mereka dibunuh. Jika diam, darah mereka dihalalkan. Mereka tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang dewasa. Alangkah buruknya perilaku mereka. Para muhrim digagahi, hukum dapat dibicarakan, wanita dijadikan pemimpin, para budak dimintai pendapat, anak kecil dipuja, tentara di mana-mana, orang laki-laki mengenakan perhiasan emas dan berzina, para penyanyi wanita bermunculan, Al-Quran dilagukan, orang hina lebih banyak angkat bicara.”
Salman bertanya, ”Apa makna orang hina lebih banyak angkat bicara?”
Rasul menjawab, ”Dia membicarakan masalah secara umum, padahal sebelumnya tidak pernah bicara.”
Tanya Salman lagi, “Apakah hal itu akan terjadi?”
Jawab Rasul, ”Benar. Saat itu masjid-masjid dihiasi aneka perhiasan seperti gereja dan biara. Mushaf Al-Quran dihiasi emas, mimbar dibuat lebar, banyak saf tapi hati manusia saling berjauhan, dan perkataan mereka beraneka macam. Siapa yang diberi, bersyukur; siapa yang tidak diberi, kufur.”
“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” lagi-lagi Salman bertanya. Rasul menjawab, “Benar. Saat itu datang para tawanan dari timur dan barat dari umatku. Kecelakaan bagi orang-orang lemah di antara mereka, dan kecelakaan dari Allah. Jika bicara, mereka dibunuh; jika diam, juga dibunuh. Mati dalam taat kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kedurhakaan.”
“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman.
”Benar. Saat itu istri bersekutu dengan suami dalam urusan suami, seseorang durhaka kepada bapaknya, dan justru berbuat baik kepada temannya. Mereka mengenakan kulit domba di atas hati serigala, ulama mereka lebih buruk daripada bangkai.”
“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman lagi, tak sabar.
“Benar. Saat itu ibadah mereka hanya membaca lafaz ibadah tanpa kandungannya, mereka disebut orang-orang najis dan kotor di kerajaan langit dan bumi.”
Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?”
“Benar. Saat itu kitab suci dijadikan nyanyian, dilemparkan ke belakang punggung. Mereka tidak menegakkan hukum yang sudah ditetapkan Allah, mereka mematikan sunahku. Mereka menghidupkan bidah, tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Saat itu anak kecil dicemburui sebagaimana budak, anak kecil melamar sebagaimana melamar, wanita dan pasar-pasar saling berdekatan.”
Salman masih penasaran, lalu katanya, ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apa makna pasar saling berdekatan?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Jika setiap orang berkata, ’Aku tidak menjual dan aku tidak membeli’ – padahal tidak ada yang memberi rezeki selain Allah – saat itu yang berkuasa adalah orang-orang jahat yang tidak memberikan hak kepada manusia dan mengisi hati mereka dengan ketakutan. Engkau tidak melihat kecuali orang yang ketakutan. Saat itu haji dielu-elukan, orang-orang terkenal menunaikan haji demi hawa nafsu, kelas menengah berhaji untuk berniaga, dan orang miskin berhaji untuk ria dan mencari nama.”
“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman.
“Benar, wahai Salman,” jawab Rasulullah SAW dengan mantap. 

Disarikan oleh AST dari kitab Muhadharat al-Abrar karya Muhyidin Al-Araby yang dinukil oleh Ibnu Marduwaih, halaman 298 


















Cinta Rasul pada Anak Yatim


“Barang siapa mencintai dan menyantuni anak-anak yatim, kelak akan hidup berdampingan bersamaku di surga.” (Al-Hadis).

Usai menunaikan salat Id dan bersalaman dengan para jemaah, Rasulullah SAW segera pulang. Di jalan pulang, dilihatnya anak-anak sedang bermain di halaman rumah penduduk. Mereka tampak riang gembira menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Pakaian mereka pun baru. Rasulullah SAW mengucap salam kepada mereka, dan serentak mereka langsung mengerubuti Rasul untuk bersalaman.
Sementara itu, tak jauh dari sana, di pojok halaman yang tak terlampau luas, tampak seorang anak kecil duduk sendirian sambil menahan tangis. Matanya lebam oleh air mata, tangisnya sesenggukan. Ia mengenakan pakaian bekas yang sudah sangat kotor penuh tambalan di sana-sini. Compang-camping.
Melihat anak kecil yang tampak tak terurus itu, Rasulullah SAW segera bergegas menghampirinya. Dengan nada suara pelan penuh kebapakan, Rasulullah SAW bersabda,
”Hai anak kecil, mengapa engkau menangis, tidak bermain bersama teman-temanmu?” 
Rupanya anak itu belum tahu bahwa yang menyapanya adalah Rasulullah SAW.
Dengan ekspresi wajah tanpa dosa, ia menjawab sambil menangis, ”Wahai laki-laki, ayahku telah meninggal dunia di hadapan Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Lalu ibuku menikah lagi dan merebut semua harta warisan. Ayah tiriku sangat kejam. Ia mengusirku dari rumah. Sekarang aku kelaparan, tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan rumah. Dan hari ini aku melihat teman-teman berbahagia, karena semua mempunyai ayah. Aku teringat musibah yang menimpa Ayah. Oleh karena itu, aku menangis.” 
Seketika Rasulullah SAW tak kuasa menahan haru mendengar cerita sedih itu. Bulir-bulir air matanya membasahi mukanya yang suci dan putih bersih penuh kelembutan itu. Maka Rasulullah SAW pun lalu memeluknya, tanpa memedulikan bau dan kotornya pakaian anak itu, sambil mengusap-usap dan menciumi ubun-ubun kepalanya.
Lalu sabda Rasul, ”Hai anak kecil, maukah engkau sebut aku sebagai ayah, dan Aisyah sebagai ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudara laki-lakimu, Fatimah sebagai saudara perempuanmu?” Seketika raut wajah anak itu berubah cerah. Meski agak kaget, ia tampak sangat bahagia. ”Mengapa aku tidak mau, ya Rasulullah?”

Hidup Berdampingan
Rasulullah SAW pun lalu membawanya pulang. Disuruhnya anak itu mandi, lalu diberikannya pakaian yang bagus dengan minyak wangi harum. Setelah itu, Rasulullah mengajaknya makan bersama. Lambat laun, kesedihan anak itu berubah menjadi kebahagiaan. Dan tak lama kemudian ia keluar dari rumah Rasul sembari tertawa-tawa gembira. Dan ia pun bermain bersama teman-teman sebayanya. 
”Sebelumnya kamu selalu menangis. Mengapa sekarang kamu sangat gembira?” tanya teman-temannya. 
Dengan gembira anak itu menjawab, “Aku semula lapar, tapi sekarang sudah kenyang, dan sekarang berpakaian bagus. Sebelumnya aku yatim, sekarang Rasulullah adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Nah, bagaimana aku tidak bergembira?”
”Seandainya ayah kami gugur di jalan Allah dalam peperangan itu, niscaya kami menjadi seperti dia,” kata beberapa kawannya.
Namun, kebahagiaan anak yatim itu tidak berlangsung lama. Tak lama berselang beberapa waktu setelah menunaikan haji wadak, Rasulullah SAW wafat. 
“Sekarang aku menjadi anak yatim lagi,” katanya ambil keluar dari rumah Rasulullah dan menaburkan debu di kepalanya karena merasa sedih. Kata-kata anak itu kebetulan terdengar oleh Abubakar Ash-Shiddiq, yang berada tak jauh dari sana. Maka ia pun lalu ditampung di rumah Abubakar.
Demikian sekelumit kisah kecintaan Rasulullah SAW kepada anak yatim di hari raya. Betapa di hari yang penuh kemenangan itu, hari raya menjadi hari yang menyedihkan – sementara nasib mereka banyak yang luput dari perhatian. Anak-anak yatim adalah makhluk yang senantiasa berpuasa dalam hidupnya, baik dalam memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani. Jangankan mengenakan pakaian baru, untuk makan sehari-hari saja sulit.
Sungguh, memperlakukan dengan baik dan menyantuni anak yatim pada hari raya – dan tentu hari-hari biasa – merupakan langkah yang mulia dan terpuji. Dalam Islam, mereka yang menyantuni anak yatim niscaya mendapat penghargaan yang sangat tinggi. Sabda Rasul, ”Barang siapa menyantuni anak yatim, dia berada di surga bersamaku seperti ini (Rasulullah mempersandingkan jari telunjuk beliau dengan dan jari tengah).” AST 




























Menjaga Lisan

Manusia tidak dilemparkan ke neraka karena lehernya, tapi karena lisannya
(Al-Hadis).

Ketika Mu’adz bin Jabal diangkat sebagai gubernur Yaman, sebelum berangkat ia menghadap Rasulullah SAW. Maka Rasulullah pun menyampaikan pesan kepadanya.
”Wahai Mua’adz, bertakwalah di mana saja kamu berada, dan hapuslah perbuatan jelek dengan kebaikan. Bergaullah dengan sebaik-baiknya pergaulan. Sungguh, aku sangat menyayangi kamu, maka jangan lupa kamu membaca doa berikut ini usai salat: Ya Allah, tolonglah aku agar selalu ingat dan bersyukur kepada-Mu, serta bisa memperbaiki ibadah kepada-Mu.”
Rasululah menambahkan, ”Wahai Mu’adz, tahukah kamu, apa hak Allah terhadap hamba-Nya?”
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz.
“Hak Allah atas mereka ialah hendaknya mereka menyembah-Nya, dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Tahukah kamu, apa hak hamba kepada Allah?” tanya Rasulullah SAW lagi.
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz lagi.
“Hak mereka terhadap Allah ialah Allah tidak akan menyiksa mereka. Sebab, pangkal dari semua perkara ialah Islam. Tiangnya adalah salat, dan rangkaiannya adalah jihad di jalan Allah.”
“Wahai Mu’adz, maukah kamu aku beri tahu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah benteng, sedekah dapat menghilangkan kesalahan seperti air memadamkan api. Demikian pula bangunnya seseorang di waktu tengah malam (untuk beribadah),” sabda Rasulullah lagi.
Kemudian Rasulullah SAW membacakan Al-Quran surah As-Sajdah ayat 16-17, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Tak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”
Lalu Rasulullah SAW bersabda lagi, ”Wahai Mu’adz, maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang harus kamu miliki lebih dari semua itu?”
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz.
“Jagalah lisanmu,” jawab Rasulullah.
Sambil memegang lisannya, Mu’adz berkata, ”Wahai Rasulullah, aku sudah berhati-hati dalam bercakap dengan lisan.”
“Wahai Mu’adz, ibumu telah melatih dan mendidikmu. Manusia tidak dilemparkan ke neraka karena lehernya, tapi karena lisannya,” sabda Rasulullah SAW mengakhiri pesannya kepada Mu’adz.
Betapa pentingnya kita menjaga lisan (dari ucapan yang sia-sia atau omongan buruk).
Perhatikanlah hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini, “Orang yang percaya kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah berkata baik, atau diam.”




Ajaran Rasul tentang Zakat


Rasulullah SAW dengan sabar mengajar para sahabat. Antara lain tentang kewajiban berzakat bagi pemilik hewan ternak.

Suatu hari Rasulullah SAW mengajarkan kewajiban berzakat kepada para sahabat. ”Seseorang yang mempunyai emas dan perak, namun tidak mengeluarkan zakat, di hari kiamat emas dan perak itu akan dibentuk menjadi lempengan-lempengan dan dibakar di neraka jahanam lantas disetrikakan pada pinggang, dahi, dan punggung pemiliknya.”
Rasulullah SAW melanjutkan, ”Siksaan itu diulang kembali dalam sehari semalam, yang setara dengan 50.000 tahun, sehingga putusan semua orang selesai. Setelah itu ia baru tahu ke mana ia akan dimasukkan, ke surga atau ke neraka.”
”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki unta?” tanya seorang sahabat.
“Begitu juga orang yang mempunyai unta tetapi tidak mengeluarkan zakat. Di antara zakat unta ialah memerah susunya untuk diberikan kepada orang-orang yang lewat. Pada hari kiamat nanti, ia akan diinjak-injak dan digigit secara bergantian oleh sekelompok besar unta di sebidang lapangan selama satu hari yang lamanya 50.000, hingga selesai putusan semua orang. Kemudian ia baru tahu ke mana akan dimasukkan, ke surga atau neraka,” jawab Rasulullah SAW.
”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki lembu dan kambing?” tanya sahabat yang lain.
”Begitu juga orang yang memiliki lembu dan kambing yang tidak membayar zakat. Pada hari kiamat nanti ia akan diinjak-injak dan diseruduk secara bergantian oleh segerombolan besar kambing dan lembu di sebidang tanah lapang dalam masa satu hari yang lamanya 50.000 tahun hingga selesai putusan semua orang. Kemudian ia baru tahu ke mana akan dimasukkan, ke surga atau neraka.”
”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki kuda?”
Dengan sabar Rasulullah SAW melayani pertanyaan para sahabatnya, ”Kuda punya tiga fungsi: yang dapat mendatangkan dosa, dapat menutupi hajat, dan dapat mendatangkan pahala bagi pemiliknya. Kuda yang mendatangkan dosa ialah yang dipelihara sebagai sarana bersombong, bangga, dan memusuhi Islam. Kuda yang dapat menutupi hajat ialah yang digunakan untuk kepentingan yang diridai Allah, dan tidak melupakan hak dan kewajiban pemeliharaannya.”
Rasulullah SAW melanjutkan, “Adapun kuda yang mendatangkan pahala ialah yang digunakan untuk berjuang di jalan Allah dan untuk kepentingan Islam. Kuda seperti itu, jika dilepas di tanah lapang atau kebun kemudian makan sesuatu, dicatat sebagai kebaikan bagi pemiliknya. Bahkan kotoran dan air kencingnya dicatat sebagai kebaikan.”
Rasulullah SAW melanjutkan lagi, “Jika kuda itu terlepas dari tali kekangnya, kemudian lari atau meloncat-loncat, bilangan langkahnya dicatat Allah SWT sebagai kebaikan bagi pemiliknya. Jika dibawa oleh pemiliknya melewati sungai lantas minum air sungai itu, padahal pemiliknya tidak bermaksud memberinya minum, Allah SWT mencatat air yang diminum sebagai kebaikan bagi pemiliknya.”
”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki keledai?” tanya sahabat yang lain.
Dengan sangat sabar Rasulullah SAW menjawab, ”Tentang keledai, tidak diturunkan kepadaku ayat yang menjelaskannya, kecuali yang bersifat umum, yaitu: Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah, waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.
Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat atom, ia akan melihat balasannya; dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat atom, ia akan melihat balasannya pula.” (Riwayat Bukhari).
Beberapa waktu kemudian, seorang Badui datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal perbuatan yang bila saya kerjakan masuk surga.”
Dengan sabar pula beliau menjawab, ”Hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadan.” Orang Badui itu lalu berkata, ”Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku tidak akan menambah-nambahi ketentuan ini.”
Ketika orang Badui itu pergi, Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa ingin melihat ahli surga, lihatlah orang Badui itu!” AST 



































Keutamaan Bulan Ramadan


Bagi mereka yang berpuasa di bulan Ramadan, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.


Suatu hari Rasulullah SAW ditanya tentang keutamaan bulan Ramadan. Dengan senang hati beliau menerangkan kepada para sahabat yang berkumpul di rumahnya. Inilah cerita Rasulullah SAW,“Sesungguhnya surga itu wangi, dan selalu dihiasi dari tahun ke tahun. Bila malam pertama bulan Ramadan datang, bertiuplah angin Al-Muthsirah dari surga Arsy. Embusan angin itu membuat daun-daun di pepohonan surga saling bergesekan dan menimbulkan dengungan sangat indah yang belum pernah didengar manusia. Kemudian muncul para bidadari di halaman surga dan memanggil-manggil: Adakah orang yang memohon kepada Allah, agar dia menikahkan daku dengannya?”
Lalu para bidadari itu bertanya kepada Malaikat Ridwan penjaga surga, “Malam apakah ini?” Jawab Malaikat Ridwan, “Ini adalah malam pertama bulan Ramadan.” 
Setelah itu pintu-pintu surga dibuka untuk umat Muhammad yang berpuasa. Allah SWT lalu memerintahkan Malaikat Ridwan membuka pintu surga dan Malaikat Malik menutup pintu neraka. Sedang Malaikat Jibril diperintahkan turun ke bumi, “Rantailah setan-setan, belenggulah mereka.Lemparkan mereka ke lautan agar tidak mengganggu puasa umat Muhammad, kekasihku.” 
Rasulullah SAW lalu mengingatkan kepada para sahabat bahwa, pada setiap malam Ramadan, Allah SWT selalu mengerahkan malaikat untuk mencatat amalan manusia yang berpuasa, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadis qudsi, “Aku akan penuhi permohonan mereka yang memohon; Aku akan terima tobat mereka yang bertobat; Aku akan mengampuni mereka yang mohon ampun. Dan siapa yang memberi pinjaman kepada Zat Yang Mahakaya, ia tidak akan kekurangan, karena Zat yang memenuhi janji tanpa menganiaya.”
Para sahabat tertegun mendengar pernyataan Rasulullah SAW itu. Lalu beliau melanjutkan, ”Ketika berbuka puasa, Allah SWT membebaskan sejuta roh, dan hal itu berlangsung hingga akhir Ramadan.” Dan bila tiba malam Lailatulkadar, Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril turun ke bumi bersama serombongan malaikat. Mereka membawa bendera hijau dan menancapkannya di puncak Ka’bah.
Malaikat Jibril memiliki 100 sayap, dua sayap di antaranya tak pernah dibentangkan kecuali hanya pada malam Lailatulkadar. Jika kedua sayapnya dibentangkan, luasnya meliputi Timur dan Barat. Kemudian ia menyerukan kepada para malaikat agar memberi salam kepada orang-orang yang beribadah dan berzikir. Para melaikat menjabat tangan dan mengamini doa mereka sampai terbit fajar. Ketika fajar terbit, Jibril menyeru para malaikat, “Wahai para malaikat, berpencarlah!”
Para malaikat bertanya,”Wahai Jibril, apa yang yang akan Allah perbuat? Apakah sehubungan dengan hajat orang-orang mukmin dari umat Muhammad SAW?”
Jibril menjawab, ”Allah memandang mereka pada malam itu, dan memaafkan mereka, kecuali empat golongan.”




Penerimaan Hadiah
“Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” tanya para sahabat.
Beliau menjawab, ”Mereka adalah orang yang meminum arak, yang durhaka kepada orangtua, yang memutus tali silaturahmi, dan yang memusuhi sesama manusia.” 
Tapi para sahabat belum puas, kemudian kembali bertanya, ”Ya Rasulullah, siapakah yang memusuhi sesama manusia?” Jawab Rasul, “Mereka adalah orang yang membenci dan memutuskan silaturahmi.”
Setelah itu beliau menggambarkan kondisi malam Hari Raya Idulfitri. “Malam itu disebut malam Jai’zah (malam penerimaan hadiah). Ketika tiba hari raya esok harinya, Allah mengutus para malaikat ke setiap negeri di bumi. Mereka memenuhi jalan-jalan dan menyeru dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia.”
Para malaikat berseru, ”Wahai umat Muhammad! Keluarlah menuju Allah, Yang Mahamulia, yang akan mengaruniakan hadiah dan menghapuskan dosa-dosa besar.” Dan apabila mereka datang ke musala, Allah SWT berfirman kepada para malaikat, ”Apakah balasan bagi seorang pekerja apabila ia telah menyelesaikan pekerjaannya?” Jawab para malaikat, ”Wahai Rabb kami, balasan mereka adalah upah mereka sepenuhnya.”
Menurut Rasulullah SAW, gambaran tentang semua itu sesuai dengan firman Allah (dalam hadis qudsi), ”Sesunguhnya Aku menjadikan kalian saksi, wahai para malaikat-Ku, bahwa sesungguhnya Aku telah memberikan rida dan ampunan-Ku sebagai balasan karena puasa dan Tarawih mereka di bulan Ramadan.”
Allah SWT berseru, ”Wahai hamba-hamba-Ku, mohonlah kepada-Ku. Maka demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, tidaklah kamu meminta sesuatu kepada-Ku di pertemuan ini untuk akhiratmu kecuali Aku akan memberimu. Tidak juga untuk keperluan duniamu, kecuali Aku akan memandang kemaslahatanmu. Maka demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan tutupi kesalahan-kesalahanmu selama kalian takut kepada-Ku. Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menghinakan kalian dan tidak akan Aku perlihatkan aib-aibmu di depan orang-orang yang melanggar batas. Bertebaranlah kalian dengan membawa ampunan. Sungguh, kalian telah rida kepada-Ku dan Aku pun telah rida kepada kalian.” 
Mendengar jawaban Allah SWT (dalam hadis qudsi tersebut), para malaikat pun bersuka cita. Lalu Rasulullah SAW melanjutkan, ”Ini menandakan bahwa Allah SWT telah memberi karunia kepada umat Muhammad SAW saat mereka sedang merayakan Idulfitri. Itu sebabnya, para malaikat bersuka cita karena ingin seperti mereka. Wajarlah para malaikat senantiasa bermohon kepada Allah SWT agar bisa dijadikan seperti umat Muhammad SAW. Ini tercermin dalam munajat para malaikat, ”Ya Allah, jadikanlah kami seperti umat Muhammad SAW.” (HR Ibnu Hibban).
Luar biasa! Para malaikat ingin seperti manusia yang mendapat prioritas utama untuk bisa meraih keutamaan bulan Ramadan. Maka selayaknyalah jika kita, manusia, bersungguh-sunguh beribadah di bulan Ramadan. Mari kita sambut bulan Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan meraih keutamaan-keutamaannya. (Riwayat Bukhari dan Muslim). AST







Ancaman Melalaikan Salat


Barang siapa melalaikan salat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT.


Ketika Malaikat Jibril turun dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal saleh seseorang yang meninggalkan salat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran. Demi Allah, yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang meninggalkan salat, setiap hari mendapat 1.000 laknat dan murka. Para malaikat melaknatnya dari langit pertama hingga ketujuh.
Orang yang meninggalkan salat tidak memperoleh minuman dari telaga surga, tidak mendapat syafaatmu, dan tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak berhak dijenguk ketika sakit, diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum. Ia juga tidak berhak memperoleh rahmat Allah.
Tempatnya kelak di dasar neraka bersama orang-orang munafik, siksanya akan dilipatgandakan, dan di hari kiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan terikat di lehernya. Para malaikat memukulinya, pintu neraka jahanam akan dibukakan baginya, dan ia melesat bagai anak panah ke dalamnya, terjun dengan kepala terlebih dulu, menukik ke tempat Qorun dan Haman di dasar neraka.
Ketika ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, makanan itu berkata, ‘Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki Allah namun tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Nya.’ Ketahuilah, sesungguhnya bencana yang paling dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian terhadap salat lima waktu, salat Jumat, dan salat berjemaah. Padahal, semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT ditinggikan derajatnya, dan dihapuskan dosa-dosa maksiat bagi siapa saja yang menjalankannya. 
Orang yang meninggalkan salat karena urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Ia dibenci Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka Jahim atau kembali ke neraka Hawiyah.” 
Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggalkan salat hingga terlewat waktunya, lalu mengadanya, ia akan disiksa di neraka selama satu huqub (80 tahun). Sedangkan ukuran satu hari di akhirat adalah 1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab Majalisul Akbar.
Sementara dalam kitab Qurratul Uyun, Abu Laits Samarqandi menulis sebuah hadis, “Barang siapa meninggalkan salat fardu dengan sengaja walaupun satu salat, namanya akan tertulis di pintu neraka yang ia masuki.” Ibnu Abbas berkata, ”Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakanlah, ya Allah, janganlah salah seorang dari kami menjadi orang-orang yang sengsara.’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘Tahukah kamu siapakah mereka itu?’ Para sahabat menjawab, ‘Mereka adalah orang yang meninggalkan salat. Dalam Islam mereka tidak akan mendapat bagian apa pun’.”

Shirathal Mustaqim
Disebutkan dalam hadis lain, barang siapa meninggalkan salat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, pada hari kiamat Allah SWT tidak akan memedulikannya, bahkan Allah SWT akan menyiksanya dengan azab yang pedih. Diriwayatkan, pada suatu hari Rasulullah SAW berkata, ”Katakanlah, ya Allah, janganlah Engkau jadikan seorang pun di antara kami celaka dan diharamkan dari kebaikan.”
“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka, dan diharamkan dari kebaikan?”
“Siapa, ya, Rasulullah?”
“Orang yang meninggalkan salat,” jawab Rasulullah.
Dalam hadis yang berhubungan dengan peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah SAW mendapati suatu kaum yang membenturkan batu ke kepala mereka. Setiap kali kepala mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala. Demikianlah mereka melakukannya berulang kali. Lalu, beliau bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”
“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mengerjakan salat,” jawab Jibril.
Diriwayatkan pula, di neraka Jahanam ada suatu lembah bernama Wail. Andaikan semua gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya akan meleleh karena panasnya yang dahsyat. Wail adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan salat, kecuali jika mereka bertobat.
Bagi mereka yang memelihara salat secara baik dan benar, Allah SWT akan memuliakannya dengan lima hal, dihindarkan dari kesempitan hidup, diselamatkan dari siksa kubur, dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan, dapat melewati jembatan shirathal mustaqim secepat kilat, dan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.
Dan barang siapa meremehkan atau melalaikan salat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, dan tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SAW.
Adapun enam siksaan yang ditimpakan di dunia adalah dicabut keberkahan umurnya, dihapus tanda kesalehan dari wajahnya (pancaran kasih sayang terhadap sesama), tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, doanya tidak diangkat ke langit, tidak memperoleh bagian doa kaum salihin, dan tidak beriman ketika roh dicabut dari tubuhnya.
Adapun tiga siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah mati secara hina, mati dalam keadaan lapar, dan mati dalam keadaan haus. Andai kata diberi minum sebanyak lautan, ia tidak akan merasa puas. 
Sedangkan tiga siksaan yang didapat dalam kubur ialah, kubur mengimpitnya hingga tulang-belulangnya berantakan, kuburnya dibakar hingga sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya diserahkan kepada seekor ular bernama Asy-Syujaul Aqra. Kedua mata ular itu berupa api dan kukunya berupa besi, kukunya sepanjang satu hari perjalanan. ”Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena engkau mengundurkan salat Subuh hingga terbit matahari, mengundurkan salat Zuhur hingga Asar, mengundurkan salat Asar hingga Magrib, mengundurkan salat Magrib hingga Isya, dan mengundurkan salat Isya hingga Subuh,” kata ular itu.
Setiap kali ular itu memukul, tubuh mayat tersebut melesak 70 hasta, sekitar 3.000 meter, ke dalam bumi. Ia disiksa dalam kubur hingga hari kiamat. Di hari kiamat, di wajahnya akan tertulis kalimat berikut: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputus asalah kamu dari rahmat-Nya.
Adapun tiga siksaan yang dilakukan ketika bertemu dengan Allah SWT adalah, pertama, ketika langit terbelah, malaikat menemuinya, membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya. Kemudian memasukkan rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadang kala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Malaikat itu berkata, ”Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abas berkata, ”Andai kata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.”
Kedua, Allah tidak memandangnya. Ketiga, Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksa yang amat pedih.
Demikianlah ancaman bagi orang-orang yang sengaja melalaikan salat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Amin. AST
 

































Keutamaan Salat


Selain sebagai penghapus dosa, salat juga mengandung rahmat, kelembutan, dan kemurahan Allah SWT.


Suatu hari, di musim dingin, Rasulullah SAW keluar dari rumah dan mengambil ranting sebatang pohon sehingga daun-daunnya berguguran. Rasul memanggil Abu Dzar, sahabat, yang menyertai beliau.
“Labbaik, ya Rasulullah,” jawab Abu Dzar. 
“Sesungguhnya seorang muslim, jika menunaikan salat dengan ikhlas karena Allah, dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya,” sabda Rasulullah SAW.
Dalam hadis yang lain, Abu Hurairah berkata, ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah kalian ada sebuah sungai yang mengalir dan kalian mandi di dalamnya lima kali sehari? Apakah akan tersisa kotoran di tubuh kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak akan tersisa kotoran di tubuh kami sedikit pun.’ Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Begitulah perumpamaan salat lima waktu. Allah akan menghapuskan dosa-dosa kita’.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Selain sebagai jalan penghapusan dosa, salat juga mengandung rahmat, kemurahan, dan kelembutan Allah SWT yang berlimpah. Hanya karena kebodohan kita sendirilah kita tidak memanfaatkan salah satu dari kemurahan Allah itu. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Seseorang yang ketika hendak tidur berniat melaksanakan salat Tahajud tapi kemudian tertidur, dia mendapatkan pahala salat Tahajud.”
Karena kandungan rahmat Allah SWT yang begitu besar, jika mengalami kesulitan Rasulullah SAW segera melaksanakan salat (HR Ahmad dan Abu Dawud). Maka, jika seseorang bersegera mengerjakan salat ketika mengalami kesusahan, sesungguhnya dia sedang menuju rahmat Allah SWT. Jika rahmat Allah datang dan membantu, kesusahan apa lagi yang tersisa?
Kisah keutamaan salat juga terungkap dalam cerita Ummu Kultsum. Suatu hari Abdurahman, anaknya, menderita sakit parah, sehingga semua orang khawatir ia akan segera meninggal. Maka Ummu Kultsum pun melaksanakan salat. Segera setelah itu Abdurrahman sadar kembali, lalu bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya.
“Apakah keadaan saya menunjukkan seolah-olah telah meninggal?
“Ya!” jawab mereka.
Dalam hadis lain, Abdullah bin Salam berkata, apabila keluarga Rasulullah SAW sedang tertimpa kesusahan, beliau memerintahkan melaksanakan salat sambil membaca ayat 132 surah Thaha: Wamru ahlaka bishshalati wash thabir ‘alaiha, la nasaluka rizqan, nahnu narzuquka. Wal ‘aqibatu littaqwa (Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah. Kami tidak minta rezeki kepadamu, bahkan Kami-lah yang memberi rezeki. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa).
Sementara, menurut Asma binti Abubakar, kakak Aisyah, istri Rasul, Rasulullah SAW bersabda, ”Pada hari kiamat seluruh manusia akan dikumpulkan di satu tempat, dan suara yang diumumkan oleh malaikat didengar oleh seluruh manusia. Ketika itu diumumkan, di manakah orang-orang yang selalu memuji Allah dalam setiap keadaan, baik ketika senang maupun susah?
Mendengar seruan itu, sebuah rombongan manusia berdiri lalu masuk ke dalam surga tanpa hisab. Kemudian diumumkan lagi, “Di manakah orang-orang yang menghabiskan waktu malamnya dengan beribadah dan lambung mereka jauh dari tempat tidur?” Maka sebuah rombongan berdiri lalu masuk surga tanpa hisab. Lalu terdengar seruan berikutnya, ”Di manakah orang-orang yang dalam perniagaannya tidak melalaikan mengingat Allah?” Maka sebuah rombongan berdiri dan masuk surga tanpa hisab.
Tidakkah kita ingin menjadi anggota rombongan yang masuk surga tanpa hisab? Untuk bisa menjadi anggota rombongan yang bisa langsung masuk ke surga tanpa hisab, kita harus menyempurnakan salat. Bukan sekadar menunaikan salat sebagai kewajiban, tapi berusaha meraih puncak-puncak kenikmatan cinta dan rahmat Allah SWT, sehingga mendapat limpahan taufik dan karunia-Nya. AST



































Rasul Salat Sepanjang Malam

“Jelaskan kepadaku sesuatu yang luar biasa mengenai salat Rasulullah,” tanya seseorang kepada Aisyah. ”Tidak ada sesuatu yang biasa mengenai beliau. Segala sesuatu yang dilakukannya luar biasa,” jawabnya.

Pada suatu malam Rasulullah SAW berbaring-baring bersama istrinya, Aisyah. Beberapa saat kemudian beliau berkata, ”Biarkanlah aku beribadah kepada Allah.” Kemudian beliau bangun, mengambil air wudu, lalu mendirikan salat. Sejak berdiri salat, beliau menangis terus hingga air matanya membasahi seluruh dadanya. Dalam rukuk, beliau pun menangis, demikian pula ketika sujud, dan setelah bangun dari sujud. Demikian seterusnya hingga Bilal mengumandangkan azan Subuh.
Aisyah kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah SWT telah menghapuskan semua dosamu yang terdahulu dan yang kemudian, dan menjanjikan ampunan untukmu?”
”Apakah tidak sepantasnya aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” jawab Rasulullah SAW, sembari mengutip ayat Al-Quran, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi lalu berkata, ‘Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menjadikan ini dengan sia-sia, maka lindungilah kami dari siksa api neraka’.” (QS Ali Imran:190-191).
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mughirah Ibnu Syu’bah, diceritakan, Nabi Muhammad SAW mendirikan salat malam sepanjang malam. Demikian lama beliau berdiri dalam salat, sehingga kaki beliau bengkak.
Sebagian sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, mengapa engkau begitu bersusah payah mendirikan salat, padahal Allah SWT telah mengampunimu atas segala dosamu?”
Rasulullah menjawab, ”Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Abu Salamah).
Rasulullah SAW lama berdiri dalam salat, karena beliau membaca paling tidak empat surah Al-Quran. Ini diceritakan oleh Awf ibn Malik, ”Suatu hari aku berdua bersama Nabi. Setelah bersiwak dan wudu, beliau berdiri mengerjakan salat, dan aku pun salat bersama beliau.
Pada rakaat pertama beliau membaca surah Al-Baqarah. Apabila membaca ayat-ayat mengenai nikmat dan karunia Allah, beliau memohon rahmat kepada Allah SWT. Dan bila membaca ayat tentang azab Allah, beliau memohon ampunan serta perlindungan. Rukuk dan sujud beliau sama lamanya dengan berdirinya. Dalam rukuk, beliau membaca Subhaana dzil jabaruuti wal malakuuti wal ’azhamah (Mahasuci Allah, yang memiliki keperkasaan, kebesaran, dan kemuliaan). Setelah itu, beliau berdiri untuk rakaat kedua, lalu membaca surah Ali Imran.
Demikian seterusnya, beliau membaca satu surah pada setiap rakaat. Jadi, dalam empat rakaat, beliau membaca empat surah yang berarti sama dengan seperlima Al-Quran.”
Bisa dibayangkan, betapa lamanya salat Rasulullah SAW, terlebih jika ditambah dengan doa-doa yang panjang. Baik ketika membaca ayat mengenai rahmat maupun azab, ditambah lagi dengan rukuk dan sujud yang panjang pula. 
Rasa takut dan patuh kepada Allah SWT memang memenuhi sanubarinya, sehingga membuat Rasulullah SAW tekun beribadah kepada-Nya. Itu merupakan dasar makrifat ketuhanan beliau. ”Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, tentulah kalian jarang tertawa dan akan banyak menangis,” sabda Rasulullah SAW, sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah.
Dalam hadis lain Abu Darr menambahkan, Rasulullah SAW bersabda, ”Aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak dengar. Langit menangis keras, dan sudah sepantasnya ia menangis. Tidak ada tempat di langit selebar empat jari kecuali ada malaikat yang menghuninya, yang dahinya senantiasa bersujud kepada Allah. Demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis, kalian tidak berselera terhadap wanita, tapi akan menuju puncak gunung untuk mendekatkan diri kepada Allah.” AST 





































Kesaksian Seekor Unta


Setelah raja Jahiliyah Habib bin Malik melihat mukjizat yang dimiliki Rasululah SAW, ia kemudian memeluk Islam. Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan tanda terimakasihnya kepada Rasulullah SAW, Raja Habib mengirim hadiah melalui beberapa utusan, berupa emas, perak, unta dan lain sebagainya kepada beliau.


Mengetahui akan datangnya rombongan membawa hadiah untuk Rasulullah SAW, Abu Jahal segera menghadang perjalanan utusan-utusan yang membawa hadiah itu di luar perbatasan kota Mekkah.
Ketika rombongan utusan Raja Habib bin Malik muncul, Abu Jahal dan komplotannya pun langsung melancarkan aksi. Mereka berpura-pura tidak tahu siapa dan maksud kedatangan rombongan tersebut. “Siapakah kalian ini?”
“Kami adalah utusan Raja Habib bin Malik untuk menyampaikan hadiah ini kepada Rasulullah SAW,” jawab para utusan dengan polos.
Abu Jahal kemudian memperkenalkan dirinya dan mengatakan kalau hadiah-hadiah yang dibawa itu adalah dirinya bukan untuk Muhammad. Mendengar pengakuan dari Abu Jahal, para utusan itu bersikeras bahwa mereka diutus untuk menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Para utusan Raja Habib bin Malik itu kemudian pamit dan memacu kendaraannya ke arah kota Mekkah. 
Ketika rombongan itu akan berlalu dari hadapan Abu Jahal. Tanpa membuang banyak waktu lagi, komplotan Abu Jahal pun mendekati para utusan Raja Habib bin Malik dan hendak merampas barang bawaan yang mereka bawa. 
Tentu saja, aksi itu mendapat perlawanan keras dari para pengawal utusan Raja Habib bin Malik, hingga terjadilah pertempuran anatar kubu utusan Raja Habib dan kawanan Abu Jahal.
Pedang-pedang terhunus, saling beradu menimbulkan denting suara yang memekakkan telinga, diselingi teriakan dan umpatan dari kedua belah pihak. Suara kegaduhan dari adu kekuatan antara kedua kelompok itu sampai terdengar di pinggiran pemukiman kota Mekkah. Maka, mereka pun kemudian ramai-ramai mendatangi ajang pertemuran dan bermaksud melerai pertikaian itu. 
Pertempuran itu kemudian terhenti sejenak karena ditonton oleh banyak penduduk Mekkah.
Salah seorang pemuka Quraisy maju ke depan dan menanyakan kepada salah satu utusan Raja Habib bin Malik,”Apa maksud kedatangan kalian ke kota Mekkah?”
“Kami datang ke kemari untuk menyampaikan hadiah ini kepada Rasulullah sedang Abu Jahal mengatakan bahwa hadiah-hadiah ini untuknya,” kata salah satu utusan Raja Habib bin Malik.
Rasulullah SAW yang turut hadir di antara mereka kemudian bersabda,”Wahai masyarakat Mekkah, apakah kalian rela dan mau mendengarkan apa yang hendak kukatakan ini?”
“Baiklah, ya Muhammad, kami akan mendengar perkataanmu,” jawab sebagian yang hadir.
Kemudian Rasul SAW meneruskan ucapannya,”Aku ingin bertanya kepada unta yang membawa hadiah ini.”
Alangkah terkejutnya Abu Jahal mendengar perkataan Rasulullah. Tentu saja Rasulullah SAW akan bisa berbuat apa saja, pikirnya. Oleh sebab itu, Abu Jahal meminta kepada yang hadir untuk menunda beberapa hari apa yang akan dilakukan oleh Muhammad, yakni menanyai unta pembawa hadiah. Karena ia juga merasa yakin dapat menanyai unta pembawa hadiah itu, setelah meminta tolong pada patung sesembahannya. Dan usul dari Abu Jahal pun kemudian disepakati oleh semua yang hadir.
Selama tiga hari berturut-turut, Abu Jahal tidak pernah keluar dari ruang sesembahan berhala. Siang dan malam, ia tak lepas dari bersujud dari berhala, demi kemenangan menandingi Muhammad. Menginjak hari ketiga, Abu Jahal melangkahkan kakinya keluar rumah dan mendatangi orang-orang Mekkah dengan satu keyakinan bisa menandingi Muhammad. 
Sampai di tempat yang telah ditentukan, Abu Jahal pun langsung berhadapan dengan Rasulullah SAW. Di hadapan beliau, ia langsung mengatakan kalau hadiah dari Raja Habib bin Malik itu dihadiahkan kepadanya. Namun Rasulullah SAW tak mau kalah, beliau menentang alasan Abu Jahal, dengan mengatakan bahwa hadiah tersebut diperuntukan baginya dan itulah yang sebenarnya terjadi.
Perdebatan Rasulullah SAW dan Abu Jahal berlangsung cukup lama, sampai kemudian Rasulullah mengingatkan akan perjanjian yang telah mereka buat beberapa hari yang lalu untuk bertanya pada unta pembawa hadiah. Beliau kemudian mempersilahkan Abu Jahal untuk memulai terlebih dahulu kepada unta pembawa hadiah itu.
Setelah mempersilahkan Abu Jahal untuk maju ke muka, maka Abu Jahal secara perlahan mendekati unta itu. Dengan suara serak dan parau, ia berteriak,”Wahai unta! Demi Latta dan Uzza; katakanlah!”
Kata-kata seperti itu berulangkali keluar dari mulut Abu Jahal, sampai matahari tenggelam ke peraduannya. Namun, nasib malang bagi Abu Jahal karena unta tersebut tidak mau menjawab sepatah kata pun. Unta itu tetap diam seribu bahasa, sampai-sampai masyarakat Mekkah yang menyaksikan merasa bosan dengan ocehan-ocehan Abu Jahal. 
“Wahai Abu Jahal! Hentikan saja ocehan kosongmu itu. Engkau tidak akan mampu mengajaknya berbicara. Mundurlah, beri kesempatan pada Muhammad untuk memulainya, guna mengetahui, siapakah yang sebenarnya yang berhak menerima hadiah itu,” kata sebagian mereka.
Maka sadarlah Abu Jahal, bahwa dirinya tidak mungkin dapat mengajak unta itu berkomunikasi. Buktinya dari siang sampai sore hari, unta itu belum menjawab pertanyaannya juga, padahal dirinya telah lelah untuk berkata-kata. Kini, giliran Rasulullah SAW yang maju untuk bertanya kepada unta itu. Maka mulailah beliau mengajukan pertanyaan,”Wahai unta, wahai mahluk yang diciptakan Allah. Katakan yang sebenarnya di hadapan masyarakat Mekkah itu, tentang status dirimu.”
Keajaiban pun terjadi. Tiba-tiba unta yang tadinya mendekam, kini mendadak bangun setelah mendengar pertanyaan Rasulullah SAW. Masyarakat bertambah tercengang manakala telinga mereka mendengar suara yang amat jelas keluar dari mulut unta yang berada di hadapan mereka,”Wahai masyarakat Mekkah! Kami ini adalah hadiah dari Raja Habib bin Malik yang akan dipersembahkan kepada Nabi Muhammad SAW.”
Setelah masyarakat mengetahui untuk siapakah hadiah tersebut, mereka pun mengutuk Abu Jahal yang mengaku-aku hadiah tersebut. Akhirnya, Rasulullah mengambil semua hadiah tadi dan membawanya ke arah gunung Abi Qubaisy. Sedangkan Abu Jahal segera pergi dari tempat tersebut dengan hati yang diliputi rasa malu yang tiada terhingga. Namun begitu, ia bukannya bertambah jera, melainkan semakin bertambah dendam kepada Muhammad. Abu Jahal tetap menganggap Muhammad sebagai musuh besrnya dengan perasaan iri, dengki bercampur hasud dan semuanya bercampur menjadi satu dalam hatinya yang hitam, jauh dari kebenaran dan cahaya Islam.
Rasululah SAW setelah membawa hadiah itu dnegan diikuti oleh penduduk Mekkah, kemudian beliau menumpahkan semua hadiah itu ke tanah sambil bersabda,”Jadilah kalian ini pasir.”
Ajaib! Seketika itu pula semua hadiah dari Raja Habib bin Malik yang berupa emas, perak, intan dan berlian langsung berubah menjadi pasir.
AST 





































Sembuh berkat Doa Rasulullah SAW


Seorang wanita yang sebelah tangannya lumpuh akibat dalam mimpinya mencuri air dari telaga Rasul untuk diminumkan kepada ibundanya yang ada di neraka Jahanam. Ia kemudian disembuhkan oleh doa Rasulullah SAW, bagaimana kisahnya?


Suatu pagi hari yang cerah, matahari sepenggalah naik di ufuk timur memancarkan cahanya menyinari seluruh bumi. Penduduk Madinah sudah mulai bersiap-siap pergi ke pasar untuk menjual barang dagangan. Sementara itu di samping masjid, Rasulullah SAW barusaja beranjak dari majelis shalat Subuh dan disambut oleh senyum cerah sang isteri tercinta Siti Aisyah. Belum lama beliau duduk-duduk bercengkrama dengan Siti Aisyah di beranda rumahnya, tiba-tiba datang seorang wanita dengan satu tangan kanannya yang lumpuh.Selepas mengucap salam, wanita itu kemudian mengadukan permasalahannya.
”Wahai Nabiyallah. Sudilah kiranya engkau memohonkan kepada Allah, semoga Dia menyembuhkan tangan saya,” kata wanita itu terbata-bata dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat.
“Apakah gerangan yang menyebabkan tanganmu lumpuh?” tanya Rasulullah SAW dengan suara yang menyejukan.
Wanita itu kemudian menceritakan kejadian yang telah menimpanya. “Pada suatu malam saya bermimpi seakan-akan hari kiamat telah tiba; Neraka Jahim telah menyala-nyala dan sorga telah tersedia. Saya mengetahui ibu saya di neraka Jahanam, sedang di tangannya terdapat sepotong lemak dan di tangan yang satunya terdapat sepotong kain lap (kain pembersih). Dengan lemak dan kain itu, ibu saya menahan panasnya api neraka. Pada waktu itu saya bertanya, Mengapa ibu di dalam jurang sini? Bukankah ibu dahulu menjadi orang yang taat kepada Tuhan dan ayah pun telah merelakan?”
Rasul dan Aisyah mendengar cerita itu dengan seksama. Kemudian wanita itu melanjutkan ceritanya. “Ibu saya menjawab, ‘Hai anakku, aku di dunia mempunyai sifat kikir. Dan di sini adalah tempat orang-orang yang kikir’.”

“Apakah artinya lemak dan kain yang ada di tangan ibu?”

“Keduanya itu adalah barang-barang yang telah saya dermakan. Dan saya belum pernah berderma selama hidup di dunia kecuali dengan keduanya.”
“Di mana ayah?”

“Ayahmu adalah orang yang dermawan. Maka ia tinggal di tempat orang-orang yang dermawan.”

Lalu tamu wanita itu, menceritakan dalam mimpinya berkunjung ke surga. Ia melihat sang ayah telah berdiri di telaga Rasulullah dan tengah memberi minum orang banyak.
“Wahai ayahku, sungguh ibuku dan juga istri ayah taat kepada Tuhannya. Dan ayah pun telah rela kepadanya. Ibu sekarang tengah dibakar api neraka Jahanam. Padahal engkau, ayah. Sedang memberi minum orang banyak dari telaga Nabi SAW.”

“Hai anakku. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengharamkan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang berdosa dari telaga Nabi SAW.”

Selanjutnya, wanita itu kembali melanjutkan ceritanya.”Maka dengan tanpa ijin dari ayahku, saya mengambil air telaga satu gelas dan saya berikan pada ibu yang tengah kehausan. Tiba-tiba, ada suara,’Mudah-mudahan Allah melumpuhkan tanganmu, karena engkau telah memberi minum kepada orang yang durhaka lagi kikir dari sumber air telaga Rasulullah SAW’. Selepas itu saya terbangun dan mendapati tangan saya telah lumpuh seperti ini,” kata wanita itu kepada Rasulullah SAW dan Siti Aisyah.

Setelah mendengar semua cerita dari wanita tadi, beliau kemudian beranjak dari tempat duduknya seraya mengambil tongkat yang biasa beliau pakai. Rasulullah SAW kemudian mendekati wanita tadi sambil meletakannya pada tangannya yang lumpuh seraya berdoa, ”Ya Tuhanku. Dengan kebenaran mimpi yang diceritakan oleh perempuan ini, maka sembuhkanlah tangannya.”

Subhanallah! Tak lama berselang beliau memanjatkan doa, salah satu tangan yang tadinya lumpuh itu, kini telah sembuh total dan dapat digerakan seperti semula. 
Sebelum wanita itu mengucapkan terima kasih dan pamit beranjak pulang, Rasulullah SAW bersabda,”Sifat dermawan itu bagaikan pohon di sorga yang dahan-dahannya melengkung menjolok ke dunia. Maka barang siapa yang mengambil satu dahan dari pohon di sorga, maka dia akan dibimbingnya ke sorga. Dan sifat kikir itu bagaikan pohon di neraka yang dahan-dahannya melengkung menjolok ke dunia. Maka barang siapa yang mengambil sebatang dahan dai pohon di neraka, maka dia dihalau ke neraka.” AST

















Orang Mukmin dan Kafir Saat Meninggal


Suatu saat, Rasulullah SAW menghadiri sebuah pemakaman jenazah dari kaum Anshar. Sesampainya di kuburan, beliau menerangkan tentang keadaan ruh orang mukmin dan kafir saat meninggal

Saat itu, Rasulullah SAW keluar dari masjid bersama Bara’ bin Azib untuk menghadiri pemakaman jenazah seseorang dari kaum Anshar. Setelah tiba di kuburan, dan mayat sudah dibujurkan di liang lahat kubur. Beliau pun duduk dan para sahabat pun duduk pula di sekitarnya. Tangan beliau memegang ranting dan memukul-mukulkannya ke tanah.
Para sahabat memperhatikannya dengan seksama, tanpa ada yang berani berkata-kata kepada beliau. Tiba-tiba beliau menengadahkan kepala ke langit dan bersabda sampai tiga kali,”Berlindunglah dari siksa kubur!”

Kemudian dia melanjutkan sabdanya,”Jika hamba yang mukmin meninggalkan dunia dan menuju ke akhirat, maka para malaikat turun dari langit. Wajah mereka putih seakan-akan seperti warna matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan minyak wangi untuk mayat dari surga. Mereka duduk di depannya sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut dating hingga duduk di dekat kepalanya, seraya berkata,’Wahai jiwa yang tenang. Keluarlah kepada ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya!”

Beliau kemudian menjelaskan keadaan ruh,”Maka ruh si mayat akan keluar, mengalir seperti aliran tetesan air di mulut geriba. Malaikat maut kemudian mengambilnya. Jika dia sudah mengambilnya, para malaikat yang lain tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya. Mereka meletakannya di dalam kain kafan itu dan di dalam usungan. Lalu ruhnya keluar dari dunia dengan aroma yang sangat harum, seharum hembusan minyak kasturi yang ada di dunia. Mereka membawanya naik ke atas. Mereka tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata,’Siapa ruh yang harum ini?’”

Para malaikat yang membawanya menjawab,”Fulan bin Fulan,” dengan menyebut namanya yang paling indah ketika mereka menamakannya di dunia, hingga mereka tiba di langit dunia. Mereka meminta agar dibukakan pintu baginya. Maka kemudian dibukakan pintu baginya. Dia dibawa para malaikat yang mendekatkannya ke langit berikutnya hingga tiba di langit ketujuh.
”Tulislah kitab hamba-Ku di Illiyin dan kembalikan dia ke bumi, karena darinya aku menciptakan mereka. Kepadanya Aku mengembalikan mereka, dan darinya Aku mengeluarkan mereka sekali lagi,” firman Allah Jala Jalalluhu Wa Rahmatuhu kepada para malaikat.

Rasulullah SAW melanjutkan kembali sabdanya,”Lalu ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Dia didekati dua malaikat dan mendudukkannya, lalu bertanya,’Siapa Rabb-mu?’
Dia menjawab,’Rabb-ku adalah Allah.’

‘Apa agamamu?’

‘Agamaku Islam,’

Siapakah orang yang diutus di tengah kalian ini?’

‘Rasul Allah,’

‘Apa ilmumu?’

‘Aku membaca Kitab Allah lalu aku beriman kepadanya dan membenarkannya,’

Lalu ada Penyeru yang berseru dari langit,’Hamba-Ku benar. Maka bentangkan surga baginya, kenakanlah pakaian dari surga kepadanya dan bukakan baginya satu pintu dari surga’.”

Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya,”Dia datang dengan aroma yang harum dan kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang. Dia didatangi seorang lelaki yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya. Lelaki itu berkata,’Bergembiralah karena sesuatu yang memberikan kemudahan kepadamu pada hari yang dijanjikan ini.’

Hamba itu berkata,’Siapa engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.’
‘Aku adalah amalmu yang shalih,’ jawabnya.

Hamba itu lalu berkata,’Ya Rabbi, datangkanlah hari kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.’


Orang Kafir

Sedangkan hamba yang kafir, jika meninggalkan dunia dan menuju akhirat, maka para malaikat turun. Wajah mereka hitam sambil membawa kain wool yang kasar. Mereka duduk sejauh mata memandang banyak. Kemudian malaikat maut datang hingga duduk di dekat kepalanya, seraya berkata,”Wahai jiwa yang buruk! Keluarlah kepada kemurkaan dari Allah dan kemarahan-Nya.”
Beliau melanjutkan kembali sabdanya,”Lalu ia menyebar di dalam jasadnya dan mencabutnya dengan sekali cabutan sebagaimana besi pembakar daging dicabut dari sutera yang dibasahi air, lalu mengambilnya. Ketika malaikat maut sudah mengambilnya, para malaikat lain tidak membiarkannya sekejap mata pun, hingga mereka meletakkannya di atas kain wool yang kasar itu. Ruhnya dibawa keluar dengan bau yang sangat busuk, sebusuk bau bangkai yang ada di dunia. Mereka lalu membawanya naik ke atas. Mereka tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka bertanya,’Apakah bau busuk ini?’”

Mereka menjawab,’Fulan bin Fulan,’ dengan namanya yang paling buruk sebagaimana dia dipanggil di dunia, hingga sampai langit dunia. Lalu diminta agar dibukakan pintu baginya, namun pintu itu tidak dibukakan baginya.

Rasulullah SAW terdiam sejenak, beliau kemudian membacakan ayat,”Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya. Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.”(QS Al-A’raf:40)

Allah SWT berfirman,”Tulislah kitabnya di dalam Sijjin di bumi yang paling rendah.” 
Lalu ruhnya dilemparkan dengan sekali lemparan. Rasulullah SAW membaca QS Al-Hajj:31, ”Dan, barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”

Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat mendatanginya, mendudukkannya dan bertanya kepadanya,’Siapa Rabb-mu?’

‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab si mayat.
‘Apa agamamu?’
‘Hah, hah, aku tidak tahu.’
‘Siapa orang ini yang diutus di tengah kalian?’
‘Hah, hah, aku tidak tahu.’

Lalu ada Penyeru yang berseru dari langit,’Dia dusta. Maka gelarkan baginya neraka dan bukakan baginya pintu neraka!’

Lalu didatangkan kepadanya dari panasnya api neraka, racunnya dan kuburannya menyempit hingga sendi-sendinya berserakan. Kemudian ia didatangi seorang lelaki yang wajahnya buruk, pakaiannya buruk dan mengeluarkan aroma yang busuk, seraya berkata,’Terimalah kabar yang menyedihkanmu. Inilah hari yang pernah dijanjikan kepadamu.’

‘Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa keburukan.’
‘Aku amalmu yang buruk.’

Rasulullah SAW kemudian menceritakan tentang permohonan dari hamba yang kafir itu,”Ya, Rabb! Janganlah Engkau datangkan hari Kiamat.” (Musnad Imam Ahmad). AST 




















Kunci Kegaiban dan Kejadian Sesudah Kematian

“Sesungguhnya Allah mengutus seorang Nabi pada akhir setiap tujuh umat. Siapa yang durhaka kepada nabinya, maka dia termasuk orang-orang yang sesat, dan siapa yang menaati nabinya, maka dia termasuk yang mendapat petunjuk.” (HR. Thabrany)

Suatu ketika, Luqait bin Amir bersama seorang temannya yang bernama Nuhaik bin Ashim bin Malik bin Al-Muntafiq menemui Rasulullah SAW. Waktu itu beliau baru saja selesai menunaikan shalat Subuh. Selepas salam, beliau bersabda, ”Wahai manusia, selama empat hari ini aku tidak berbicara dengan kalian dan banyak mendengarkan suara-suara kalian. Adakah seseorang diantara kalian di sini yang menjadi utusan kaumnya? Mereka ada yang berkata, ’Beritahukanlah kepada kami apa yang lupa karena bisikan hatinya atau pembicaraan temannya atau dia dilalaikan kesesatan. Ketahuilah, sesungguhnya aku akan dimintai tanggung jawab, apakah aku sudah menyampaikan? Ketahuilah, dengarkanlah niscaya kalian tetap hidup.Ketahuilah, hendaklah kalian duduk. Ingatlah, hendaklah kalian duduk.”

Orang-orang kembali duduk di tempatnya semula. Semua pandangan mata jamaah tertunduk, tak berani menatap wajah baginda Rasulullah SAW yang sangat mulia bermandikan cahaya. Luqait bin Amir kemudian memberanikan diri bertanya,”Wahai Rasulullah, apa yang engkau ketahui tentang ilmu gaib?”

Beliau tersenyum mendengar pertanyaan itu sambil menggerak-gerakan kepala. Beliau tahu, kalau Luqait saat itu membuat pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Setelah diam sejenak, Rasulullah SAW kemudian bersabda, ”Rabb-mu menjamin lima kunci ilmu gaib yang tidak diketahui kecuali Allah SWT semata.”

Tangan beliau lalu diangkat dan memberikan kode isyarat.

“Apa itu?” tanya Luqait penuh penasaran.
“Itulah ilmu kematian. Allah SWT mengetahui kapan kematian salah seorang di antara kalian, sedang kalian tidak mengetahuinya. Dia tahu apa yang terjadi esok hari, apakah kamu bisa makan sedang kamu tidak mengetahuinya. Dia mengetahui hari turunnya hujan, yang sebelumnya kalian dalam keadaan susah dan takut. Dia tersenyum karena sudah tahu sebentar lagi akan turun hujan.”

Luqait kembali berkata,”Kami tidak menganggap mustahil bahwa Allah tersenyum karena suatu kebaikan.”
“Dia mengetahui datangnya kiamat,” sabda beliau lagi.
“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada kami apa yang engkau ajarkan kepada manusia, karena kami berasal dari suatu kaum yang tidak mudah mau membenarkan seseorang karena persahabatan kami, tidak pula kaum kerabat di antara kami,” kata Luqait kembali.
“Kalian hidup sesuai dengan umur kalian, lalu Nabi kalian meninggal dunia. Kemudian kalian hidup sesuai dengan umur kalian. Kemudian dibangkitkan tiupan yang pertama. Demi Allah, tidak ada yang hidup di permukaan bumi, melainkan mati. Begitu pula para malaikat yang bersama Rabb-mu. Kemudian Rabb-mu berjalan di muka bumi dan Dia sendirian di sana. Kemudian Dia mengutus langit membawa hujan dari sisi ‘Arsy-Nya. Demi Rabb-mu, tidak ada tempat terpendamnya mayat dan tidak pula mayat yang dikubur melainkan kuburan itu terbelah hingga menyembulkan kepalanya lalu duduk tegak. Rabb-mu bertanya, ’Bagaimana keadaanmu setelah sekian lama di dalam kubur?’.”

Rasulullah SAW kemudian menceritakan jawaban dari mayat yang dibangkitkan itu. “Wahai Rabbi, aku masih dapat merasakan hari itu. Seakan-akan dia baru saja berkumpul dengan keluarganya.”

Luqait tampak belum puas dengan cerita itu, ia kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah mengumpulkan kami setelah kami dicecerkan angin, bencana dan binatang buas?”
Beliau bersabda,”Aku akan memberitahukan kepadamu perumpamaan hal itu dalam karunia dan nikmat Allah Jala Jalalluhu Wa Rahmatuhu. Tadinya, bumi itu tandus dan kering serta tidak hidup. Kemudian, Rabb-mu mengirim hujan. Selang beberapa lama kemudian bumi itu hidup dan banyak air yang menggenang untuk minum. Demi Rabb-mu, Dia benar-benar berkuasa mengumpulkan kalian dari air, sebagaimana Dia mengumpulkan tanaman bumi. Lalu, kalian keluar dari kubur dan dari tempat kalian terbunuh. Lalu kalian melihat Allah dan Allah SWT melihat kalian.”

“Wahai Rasulullah, bagaimana itu terjadi? Padahal kita memenuhi bumi ini. Padahal Allah SWT adalah satu diri yang kita lihat?” Luqait kembali bertanya.

“Akan kuberitahukan yang demikian itu dalam nikmat Allah. Matahari dan rembulan adalah satu tanda kekuasaan Allah. Keduanya terlihat kecil dalam pandangan kalian, namun keduanya dapat melihat kalian, dan toh kalian tidak apa-apa ketika melihatnya. Demi Rabb-mu, Dia benar-benar berkuasa melihat kalian semua dan kalian dapat melihat-Nya sebagaimana kalian dapat melihat matahari dan rembulan,” jawab beliau.

“Wahai Rasulullah, apa yang akan diperbuat Rabb kami terhadap kami setelah bersua dengan-Nya?” tanya Luqait.

“Kalian dihadapkan kepada-Nya dengan menunjukkan catatan kalian. Tidak ada yang tersembunyi sedikit pun dari kalian. Kemudian Rabb-mu mengambil segayung air dengan Tangan-Nya, lalu memercikannya ke arah kalian. Demi Rabb-mu, wajah masing-masing orang di antara kalian terkena percikan air itu. Ada pun bila mengenai wajah orang Muslim, maka air itu membuat wajahnya seperti kain putih yang halus. Sedang bagi orang Kafir, bila air itu mengenai hidungnya maka air itu akan menimbulkan bercak hitam. Ketahuilah, kemudian Nabi kalian akan menghadap Allah, dan orang-orang shalih mengikutinya dari belakang. Lalu mereka melewati jembatan hingga salah seorang di antara kalian menginjak bara sambil berkata,”Aduh”. Mereka melewati taman Rasulullah SAW hingga mereka menjadi kehausan. Demi Rabb-mu, tidaklah seseorang di antara kalian mengulurkan tangannya melainkan dia memegang bejana yang dia gunakan untuk membersihkan kotoran dan kencing. Matahari dan rembulan disembunyikan, sehingga kalian tidak melihat keduanya,” sabda Rasulullah SAW.

“Wahai Rasulullah, lalu dengan apa agar kita dapat melihat?”
“Dengan penglihatanmu saat ini. Yang demikian itu terjadi sebelum terbitnya matahari, pada hari diterbitkan bumi di balik gunung.”

“Wahai Rasulullah, dengan apa kita diberi balasan atas keburukan kami?” tanya Luqait kembali. 
“Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan satu keburukan dibalas dengan satu keburukan yang serupa, kecuali dimaafkan.”

“Wahai Rasulullah, bagaimana surga dan neraka?”
“Demi Rabb-mu, neraka itu memiliki tujuh pintu. Tidak ada jarak antara dua pintunya melainkan seperti pengelana yang mengadakan perjalanan selama tujuh puluh tahun,” jawab beliau.
“Wahai Rasulullah SAW, di atas apa kami dapat melihat surga?”
Beliau menjawab,”Dari atas sungai-sungai madu yang dipilih, sungai-sungai dari khamr yang tidak memusingkan jika diminum dan tidak pula membuat menyesal dan sungai-sungai dari susu yang tidak berubah-ubah rasanya, air yang tidak berubah-ubah warnanya dan buah-buahan. Demi Rabb-mu, kalian tidak tahu yang lebih baik dari itu, di samping istri-istri yang disucikan.”

“Wahai Rasulullah, apakah kami akan mempunyai isteri di sana? Ataukah di antara mereka ada wanita-wanita yang shalih?” tanya Luqait dengan nada malu-malu, hingga para jemaah di masjid itu tersenyum simpul dibuatnya.

“Para wanita shalihah bagi para lelaki yang shalih. Kalian mendapatkan kenikmatan dari mereka seperti kalian rasakan di dunia dan mereka tidak melahirkan,” jawab baginda Rasulullah SAW.
“Bagaimana puncak kenikmatan yang kami dapatkan di sana?” Tanya Luqait kembali dengan penuh penasaran.

Namun, beliau tidak diam dan tidak menjawabnya. Semua hening. Luqait kembali memecah kesunyian masjid itu dengan bertanya,”Wahai Rasulullah, atas apa aku berbaiat kepada engkau?”
Beliau kemudian membentangkan tangan dan bersabda,”Dengan engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, memisahkan diri dari orang-orang musyrik dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun selain-Nya.”

“Sesungguhnya bagi kami apa yang ada di antara timur dan barat.”
Beliau lalu memegang tangannya sendiri dan membeberkan jari-jarinya. Rupanya Rasulullah SAW mengira Luqait meminta syarat yang tidak mungkin juga dapat Rasulullah penuhi. Luqait kembali berkata,”Artinya, kami menghalalkan apa pun yang kami kehendaki darinya dan tidak ada yang menimpa seseorang dari apa yang dilakukannya kecuali dirinya sendiri.”
Sambil membeberkan tangan, beliau bersabda,”Yang demikian itu bagimu. Engkau dapat menghalalkan apa pun menurut kehendakmu dan tidak ada yang menimpa, kecuali dirimu sendiri.”

Luqait bin Amir dan Nuhaik bin Ashim bin Malik bin Al-Muntafiq tampak puas mendengar jawaban dari Rasulullah SAW, mereka berdua lalu berlalu dari majelis. Beliau lalu bersabda,”Demi Rabb-mu, aku ingin memberitahukan bahwa mereka adalah termasuk orang-orang yang paling bertaqwa di dunia dan akhirat.”

Ka’b bin Al-Khidariyah, salah seorang dari Bani Ka’b bin Kilab, bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?”

Beliau menjawab,“ Mereka adalah Bani Al-Muntafiq. Mereka adalah orang-orang yang layak melakukannya.” 

Tak lama berselang, Luqait bin Amir dan Nuhaik bin Ashim bin Malik bin Al-Muntafiq kembali menghadap Rasulullah SAW, dan Luqait bin Amir bertanya pada beliau,”Wahai Rasulullah, apakah seseorang mendapatkan pahala kebaikan yang dia kerjakan pada masa jahiliyah?”
Seseorang dari pemuka Quraisy menjawab,”Demi Allah, ayahmu, Al-Muntafiq berada di neraka.”

Mendengar pernyataan dari salah seorang pemuka Quraisy itu, wajah Luqait merah padam. Ia kembali bertanya,”Wahai Rasulullah, bagaimana dengan keluarga engkau?”
Rasulullah SAW kemudian mejawab,“Tentang keluargaku, demi Allah, ketika engkau melewati kuburan seseorang dari keturunan Amiry atau Quraisy, maka katakanlah,’Aku diutus Muhammad kepadamu untuk mengatakan,’Terimalah kabar tentang keburukanmu, yang membuat wajah dan perutnya ditelungkupkan ke neraka’.”

“Wahai Rasulullah, apa yang diperbuat Allah terhadap mereka, sementara mereka pernah berbuat kebaikan, dan mereka mengira bahwa mereka juga telah berbuat kebaikan?” tanya Luqait.

Beliau lalu bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutus seorang Nabi pada setiap tujuh umat. Siapa yang durhaka kepada nabinya, maka dia termasuk orang-orang yang sesat, dan siapa yang menaati nabinya, maka dia termasuk yang mendapat petunjuk.” 
AST




















Mimpi Rasulullah SAW

Mimpi Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar datangnya dari Allah SWT. Salah satu mimpinya yang diceritakan kepada para sahabat adalah mimpi beliau berkunjung ke alam akhirat

Suatu hari baginda Rasulullah SAW keluar rumahnya dan menemui Abdurrahman bin Samurah yang saat itu bersama para sahabat di kota Madinah. Beliau berdiri di depan para sahabat yang hadir dan beliau bersabda,”Semalam aku bermimpi melihat sesuatu yang menakjubkan. Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang didatangi malaikat maut untuk mencabut ruhnya.Kebaktian kepada kedua orang tuanya menghalangi malaikat maut dari dirinya.”

Beliau kemudian melanjutkan sabdanya,”Aku juga melihat seorang lelaki dari umatku yang kepadanya ditampakan adzab kubur. Lalu wudhunya datang untuk menyelamatkan dirinya dari adzab itu.”

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang dikepung syaitan-syaitan itu dari sekitarnya. Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang dikepung para malaikat adzab. Lalu didatangi shalatnya lalu menyelamatkannya dari tangan mereka. 

Aku melihat seorang lelaki dari umatku megap-megap karena kehausan. Setiap kali dia mendekati kolam, maka dia diusir dan dia pun jauh darinya. Dia didatangi puasa Ramadhannya, lalu memberinya minum hingga kenyang. 

Aku melihat seorang lelaki dari umatku, dan kulihat para nabi membuat beberapa lingkaran yang terdiri dari beberapa orang. Setiap kali dia mendekati satu lingkaran, maka dia diusir. Lalu dia didatangi mandinya dari jinabah, menghela tangannya dan mendudukkannya disisiku.

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang di depan dan belakangnya gelap, di kanan kirinya gelap, di atas dan di bawahnya gelap. Dia didatangi haji dan umrahnya lalu mengeluarkannya dari kegelapan itu dan memasukannya kepada cahaya.

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang melindungi wajahnya dari panasnya api neraka dengan tangannya. Dia lalu didatangi shadaqahnya lalu shadaqah itu menjadi tabir antara dia dengan neraka, serta menjadi lindungan di atas kepala.

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang mengajak bicara seorang mukmin, namun mereka tidak menyahutinya. Kemudian dia didatangi silaturahimnya yang berkata,’Wahai orang-orang mukmin, dia adalah orang yang menyambung tali persaudaraan dengan kerabatnya, maka berbicaralah dengannya.’ Maka mereka pun berbicara dengannya dan berjabat tangan dengan mereka, sehingga dia termasuk golongan mereka.

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang dikepung malaikat Zabaniyah (malaikat adzab), dia didatangi amar ma’ruf nahi munkar-nya, lalu menyelamatkannya dari tangan mereka dan memasukannya ke golongan malaikat Rahmat. 

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berlutut pada kedua lututnya, sementara antara dirinya dengan Allah ada hijab. Dia kemudian didatangi akhlaknya yang baik, lalu menuntunnya dan membawanya ke hadapan Allah.

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang mengambil catatannya dengan tangan kirinya. Dia didatangi ketakutannya kepada Allah, yang kemudian mengambil catatan itu dan meletakkannya di tangan kanannya.

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berdiri di bibir Neraka Jahanam. Dia datangi harapannya kepada Allah, lalu menyelamatkannya dari tempat itu dan berlalu dari sana.
Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang telah turun ke neraka. Dia didatangi air matanya karena takut kepada Allah, lalu menyelamatkannya dari neraka itu.

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berdiri di atas Ash-Shirath. Dia gemetar seperti pelepah yang bergetar karena tertiup angin. Dia didatangi anggapannya yang baik kepada Allah, sehingga dia tidak lagi gemetar dan berlalu di atasnya.

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang merangkak di Ash-Shirath dan kadang bergelayut padanya. Dia didatangi shalawatnya atas diriku lalu menyelamatkannya dan membuatnya berdiri di atas kedua kakinya. 

Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berdiri di depan pintu surga, lalu tiba-tiba pintu itu tertutup di hadapannya. Dia didatangi syahadatnya bahwa tiada Tuhan selain Allah, lalu pintu itu pun dibukakan baginya dan dia dimasukan ke dalam surga. AST





















Pinangan 400 Dirham


Rasulullah SAW memerintahkan seorang pemuda yang berkulit hitam legam untuk menikahi seorang gadis dengan dibekali mahar 400 dirham. Sayang, pemuda itu akhirnya gugur di medan pertempuran


Seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,”Ya Rasulullah, apakah saya akan terhalang untuk masuk surga karena hitamku dan jelek mukaku?”

“Tidak, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya selama kau yakin dengan Tuhanmu dan percaya pada ajaran Rasul-Nya,” jawab Rasulullah.

“Demi Allah yang telah memuliakan engkau dengan kenabian. Saya telah bersyahadat Saya percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah sekitar 8 bulan yang lalu, sebelum engkau datang kemari. Dan saya telah meminang kepada orang-orang yang ada di sekitarmu ini dan semuanya menolak aku karena hitamku dan jelek wajahku. Padahal, aku sebenarnya keturunan yang baik dari suku bani Sulaim. Tetapi jelekku ini didapat dari keturunan ibuku,” kata pemuda berkulit hitam itu.

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada para sahabat yang hadir di majelis,”Apakah yang hadir pada hari ini ada yang bernama Amr bin Wahb dari suku Tsaqief yang belum lama masuk Islam? “
“Tidak” jawab para sahabat.

Nabi SAW kemudian bertanya pada orang itu,”Apakah kamu mengetahui rumahnya?
“Ya” jawab pemuda hitam itu.

Nabi SAW lalu bersabda,”Pergilah dan ketoklah pintunya perlahan-lahan. Kemudian berilah salam kepadanya, dan bila telah masuk, katakan padanya,’Rasulullah SAW telah mengawinkan aku dengan puterimu. Orang itu mempunyai puteri cantik yang bernama Atiqah.”

Pemuda itu segera berlalu dari hadapan Rasulullah SAW dan menuju rumah Amr bin Wahb. Pada mulanya, sang tuan rumah menyambutnya dengan baik, tetapi karena hitam dan mukanya jelek, maka mereka lama-lama tidak senang melihat kondisi pemuda itu. Bahkan setelah pemuda itu menyampaikan pesan Rasulullah SAW bahwa ia telah dikawinkan oleh Nabi SAW dengan salah satu puteri tuan rumah. Kontan, mereka menolak dengan cara yang kasar dan sangat rendah sekali, penuh umpatan kata-kata yang kotor. 

Tentu saja, mendapat sambutan yang tak sopan dari tuan rumah, membuat muka sang pemuda itu merah padam. Ia merasa terhina, ia pun segera kembali ke hadapan Rasulullah SAW. 
Sementara itu, sepulangnya pemuda itu, sang puteri itu mendadak berkata pada sang ayah,”Hai Ayah, carilah selamat. Carilah selamat. Sebelum turun wahyu yang membuka kedokmu. Jika ia benar mengawinkan aku dengannya, maka aku rela pada apa yang telah direlakan oleh Allah dan Rasulullah untukku.”

Amr bin Wahb kemudian menghadap Rasulullah. Ketika sampai di majelis Rasulullah, ia langsung ditegur oleh beliau,”Kamu yang telah menolak pinangan Rasulullah?”
“Benar. Tetapi saya minta ampun kepada Allah, sebab saya sangka ia dusta. Apabila ia benar maka saya terima dan saya kawinkan putriku dengan mahar empat ratus dirham. Dan kami berlindung jangan sampai terkena murka Allah dan Rasulullah SAW. ”

Mendengar permintaan Amr bin Wahb, Rasulullah SAW kemudian menyuruh calon suami, pemuda berkulit hitam tadi, yang bernama Sa’ad Assulami, ”Pergilah kepada calon isterimu dan penuhi permintaannya,” perintah beliau.

“Saya tidak punya apa-apa, saya akan minta pada saudara-saudaraku,” jawab pemuda itu.
Melihat beban yang tak sanggup dipikul oleh pemuda itu, Rasulullah SAW kemudian memberikan perintah, “Pergilah pada Usman bin Affan RA terima darinya duaratus dirham!

Mahar untuk isterimu itu akan ditanggung oleh oleh tiga orang dari kaum mu’minin.” 
Maka pergilah pemuda hitam itu menuruti perintah Rasulullah SAW menuju kediaman Utsman bin Affan. Dari Utsman ia menerima lebih dari duaratus dirham. Selanjutnya ia pergi ke kepada Abdurrahman bin Auf dan Ali bin Abi Thalib. Dari mereka, ia memperoleh lebih dari duaratus dirham.

Setelah mendapat uang yang banyak, ia kemudian pergi ke pasar untuk membeli oleh-oleh isterinya.Namun, sesampainya di pasar ia mendengar seruan, ”Ya Khailallah irkabi! (Hai kuda Allah, berkendaraanlah)!”

Tampak juga Rasulullah SAW tengah berseru kepada kaum msulimin,”Keluarlah untuk berjihad! Keluarlah untuk jihad!” di atas kudanya.

Sa’ad Assulami mendengar seruan Rasulullah SAW ia menjadi berubah pikiran. Ia tertunduk sebentar, kemudian mukanya menengadah ke langit seraya berdoa,”Ya Allah, Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhannya Muhammad SAW. Saya akan mempergunakan uang ini pada sesuatu yang lebih disuka oleh Allah dan Rasulullah dan kepentingan kaum muslimin.” 

Tekadnya telah bulat, ia kemudian membelanjakan seluruh uangnya itu untuk kepentingan jihad. Ia membeli kuda, pedang, tombak dan perisai besi. Tak lupa ia juga membeli seperangkat pakaian perang. Setelah ia mempererat ikat sorbannya dan ikat pinggangnya serta memakai topi baja, hanpir-hampir tidak terlihat postur aslinya, kecuali kedua matanya yang bulat. 

Ia lalu berdiri tegak di tengah-tengah Muhajirin, sehingga mereka bertanya-tanya siapakah penunggang kuda yang tidak dikenal itu?

Sahabat Ali sendiri sampai berkata,”Biarkan. Kemungkinan ia dari Bahrain atau dari Syam. Ia datang untuk menanyakan ajaran-ajaran agama. Karena itu ia kini ingin mengorbankan diri untuk keselamatan kaum muslimin.”

Kemudian orang hitam itu maju ke barisan musuh dengan menggunkan pedang dan tombaknya untuk memukul dan memenggal orang-orang kafir, hingga kudanya pun tak kuat untuk mengimbangi kecepatan dari serangan pemuda itu. Akhirnya, ia turun dari kudanya sambil menyingsingkan lengan baju perang, sehingga Rasulullah SAW yang kebetulan berpapasan dengan orang berpakaian asing itu melihat tanda hitam di seluruh lengan dan beliau langsung mengenalnya. Maka dipanggilah orang asing itu,”Apakah kamu Sa’ad?”

“Ya, benar.”
“Untung nasibmu,”

Selanjutnya Sa’ad dengan penuh semangat kembali merangsek ke barisan terdepan pertempuran.
Dengan penuh semangat ia menikam dengan tombak dan membunuh dengan pedangnya. Hingga akhirnya, ia pun gugur sebagai syahid di medan tempur itu.

Rasulullah SAW begitu mendegar Sa’ad gugur, beliau langsung menuju kepadanya. Dengan perlahan-lahan kepala Sa’ad, beliau angkat dan diletakan di pangkuan Nabi SAW. Sambil mengusap-usap tanah yang melekat di mukanya, beliau bersabda,”Alangkah harum baumu. Alangkah kasihnya Allah dan Rasulullah kepadamu,” sabda Nabi sambil menangis.

Tak berapa lama kemudian Rasulullah SAW tertawa, lalu beliau memalingkan muka Sa’ad dan bersabda,”Kini ia telah sampai di Haudh (telaga). Demi Tuhan yang mempunyai Ka’bah.”
Abu Lababah bertanya,”Ya Rasulullah. Apakah telaga Haudh?”

“Telaga yang diberikan oleh Allah kepadaku. Lebarnya antara Shan’aa Yaman hingga Bushra. Tepinya berhias dengan permata dan mutiara. Airnya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu. Siapa yang minum satu kali dari telaga Haud, tidak aka haus untuk selamanya.”

“Ya, Rasulullah. Mengapa engkau tadi menangis? Lalu tertawa, kemudian berpaling muka dari Sa’ad?” tanya Lababah

“Tangisku karena rindu kepada Sa’ad. Ada pun tertawaku karena gembira melihat kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya. Adapun aku berpaling muka, karena melihat calon isteri-isteri Sa’ad (bidadari) yang berebut mendekatinya hingga terbuka betis mereka. Maka segera aku berpaling muka karena malu, ” Jawab Nabi.

Beliau kemudian menyuruh mengumpulkan pedang, tombak dan kuda dari Sa’ad untuk diserahkan kepada calon isterinya yang sudah di aqad nikah, sambil beliau memberitahu Amr bin Wahb, ”Allah SWT telah mengawinkan Sa’ad pada bidadari yang lebih cantik dari puterimu.” (*)







Sederhana dan Bersahaja


Pribadi Rasulullah SAW itu sederhana. Beliau dan para sahabatnya selalu hidup dalam keterbatasan, tapi mereka tetap teguh dalam barisan tauhid walaupun dalam keadaan sangat lapar

Keserderhanaan pribadi Rasulullah SAW dan para sahabat dikisahkan oleh Abu Hurairah ,” Demi Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (terkadang) aku tidur di atas tanah dengan perut lapar, dan (terkadang) aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar.”

Tidak saja soal makanan, Rasulullah dalam hal tidur, beralaskan tikar dan rumahnya sangat sederhana. Kalau ada pakaian yang sobek atau koyak, beliau sendiri yang menambalnya, tidak menyryh istrinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum Baginda menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur. Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan, “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai shalat.

Pernah Baginda pulang pad awaktu pagi, dan tentulah amat lapar saat itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada, karena ‘Aisyah belum ke pasar.
Maka Nabi bertanya,”Belum ada asarapan, ya Humaira? (Humaira adalah panggilan mesra untuk sayidatuna ‘Aisyah yang berarti “Wahai yang kemerah-merahan”).

Aisyah menjawab dengan agak serba salah,”Belum ada apa-apa, wahai Rasulullah.”
Rasulullah lantas berkata,”Kalau begitu, aku puasa saja hari ini.” Tak sedikitpun tergambar rasa akesal di wajahnya.

Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan kesederhanaan Rasulullah SAW tidak pernah memenuhi perutnya. Ketika bersama keluarganya, beliau tidak pernah minta makan kepada istri-istrinya...Jika mereka menghidangkan makanan , beliau pun makan. Beliau memakan apa yang dihidangkan mereka, dan ameminum apa yang dihidangkan mereka.”

Walau Nabi Muhammad SAW penuh kesederhanaan, bahkan terkadang tak jarang makan, beliau tetap tegar menjalankan risalah kenabian yang melekat pada dirinya. Pernah suatu ketika, saat beliau menjadi imam shalat, para sahabat melihat gerakan Baginda Nabi antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mnedengar bunyi menggerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada tubuh manusia yang paling mulia itu bergeser.

Usai shalat, Sayidina Umar bin Khatab yang tidak tahan melihat keadaan Nabi, langsung bertanya,”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah Tuan menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah, Ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar,” Jawab beliau dengan wajah yang senantiasa tersenyum.

“Ya Rasulullah... mengapa setiap kali Tuan menggerakan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh Tuan? Kami yakin, Tuan sedang sakit....” Umar mendesak, cemas.
Akhirnya Rasulullah SAW mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut Baginda yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapaar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Nabi bergerak.
“Ya Rasulullah...Adakah bila tuan mengatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat Tuan?”

Lalu Baginda Nabi menjawab dengan lembut, Tidak, para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi rasulmu. Namun apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti bahwa aku, sebagai pemimpin , menjadi beban kepada umatnuya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih lebih lagi tiada yangkelaparan di akhirat kelak.”

Mengenai makan dan minum, Rasulullah SAW adalah orang tidak kecanduan terhadapnya. Nabi menganjurkan agar mengurangi keperluan makan minum dan tidur.

Al Miqdam ibn Ma’dikarib berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda,”Anak Adam tidak memenuhi suatu bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa potong makanan untuk menguatkan punggungnya. Jika memerlukan lebih banyak lagi, sepertiganya untuk minum dan sisanya untuk bernafas. Sebab akibat darri banyak makan dan minum adalah banyak tidur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).




Mensyukuri Nikmat Allah SWT


Apabila Anda menikmati hidangan makanan, mulailah dengan mengucap bismillah. Dan selesai makan hendaknya membaca ,”Alhamdulillahilladzi asba’ana wa an’ama ‘alaina wa afdhala”

Suatu hari Abu Bakar Ash Shidiq keluar dri rumahnya dalam keadaan gelisah di tengah panas terik matahari. Ketika sampai di masjid, ia melihat sahabat Umar bin Khaththab datang dalam keadaan yang sama. Umar lalu bertanhya kepada Abu Bakar,”Mengapa engkau berada di sini?”
“Aku di sini karena lapar,” jawab Abu Bakar.
“Demikian juga yang menyebabkan aku datang ke sini,” kata Umar.
Lalu keduanya terus berbincang-bincang sampai kemudian Rasulullah SAW datang menghampiri mereka dan mengucap salam.
“Untuk apa engkau berdua datang ke sini?” Tanya Rasulullah SAW kepada mereka. 
“Ya Rasulullah, kami sedang menderita lapar, “Jawab salah seorang di antara mereka.
Rasulullah SAW tersenyum wajahnya berseri. Beliau lalu bersabda, ”Demikian juga yang menyebabkan aku datang ke sini.”

Tak lama kemudian mereka bertiga pergi ke rumah salah seorang sahabat. Abu Ayub Al-Anshari. Namun saat itu Abu Ayub tidak berada di tumah, dan mereka disambut oleh istri Abu Ayub dengann persaan hormat dan senang.

“Ke manakah Abu Ayub,” tanya Rasulullah SAW.
“Baru saja ia pergi tapi akan segera pulang,” jawab istri Abu Ayub.
Memang benar apa yang dikatakan oleh istrinya, tak berapa lama kemudian Abu Ayub pulang.
Ketika melihat Rasulullah bersama dua sahabat berada di rumahnya, ia sangat gembira. Ia lalu meletakan sejumlah kurma di hadapan Rasulullah SAW.

“Mengapa engkau membawa sejumlah kurma yang sebagian mentah dan sebagian lagi masak? Bukankah lebih baik jika engkau mengambil yang masaknya saja?” kata Rasulullah SAW kepada Abu Ayub.

“Aku membawa semuanya agar kita dapat memilih yang mana yang disukai.” (Karena ada orang yang senang dengan kurma masak, ada juga yang senang dengana kurma masih mentah).
Kemudian Abu Ayub pergi untuk menyembelih seekor kambing muda, separuh dagingnya digoreng, dan separuhnya digulai. Segera ia menghidangkannya ke hadapan Rasulullah SAW.

Beliau lalu mengambil sepotong roti dan sedikit daging, kemudian diserahkannya kepada Abu Ayub dan berkata,”Makanan ini hendaknya engkau berikan kepada anak kesayangan ku , fatimah. Karena ia sudah beberapa hari ini tidak mendapatkan makanan.”

Mendapat perintah dari beliau, Abu Ayub langsung segera pergi menuju rumah Fatimah, untuk memberikan roti dan daging kambing yang telah dimasak itu.
Sementara itu, Rasulullah SAW dan kedua sahabatnya menyantap makanan yang sudah disajikan.

Setelah selesai makan, Rasulullah SAW bersabda, “Roti, daging dan aneka jenis buah kurma ini adalah nikmat Allah SWT.”

Kemudian dengan meneteskan air mata, beliau melanjutkan,” Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ini semua adalah bikmat Allah SWT yang akan ditanya pada hari kiamat.”
Para sahabat memperoleh kenikmatan itu dalam keadaan yang sangat membutuhkannya. Karena itu mereka merasa heran, mengapa kenikmatan yang diperoleh dalam keadaan demikian pun akan ditanya.

Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT itu diwajibkan. Oleh karena itu, apabila kalian menikmati hidangan makanan, minuman mulailah dengan mengucap bismillah dan selesai makan, hendaknya membaca,” ”Alhamdulillahilladzi asba’ana wa an’ama ‘alaina wa afdhala”(Segala puji bagi Allah, yang telah mengenyangkan kami dan memberikan kami kenikmatan yang sangat banyak). Dengan membaca doa ini, kalian bersyukur kepada Allah.” (HR At-Thahawi dari Abu Salamah , Musykilil Aatsari).












































Bangkit Bersama Untuk Perubahan


Rasulullah SAW tidak suka disitimewakan orang lain. Sikap beliau yang penuh kebersamaan di tengah umat membangkitkan semangat perubahan yang luar biasa bagi para sahabat dan pengikutnya.

Rasulullah SAW adalah seorang pemimpin dunia, tapi sikap beleiau di tengah umat selalu penuh dengan kebersamaan, begitu merakyat. Sikap ini terlihat saat beliau berkumpul dengan para sahabat hendak mengadakan pesta makan, dengan menyembelih seekor kambing.
Nabi saat itu hadir mengikuti musyawarah kecil tersebut. Para sahabat memulai musyawarah itu dengan pembagian tugas. Sahabat-sahabat dengan penuh semangat mulai mengacungkan tangan masing-masing untuk mendapatkan permbagian tugas.

“Saya yang menanggung kambinmgnya,” kata salah seorang sahabat.
“Saya bagian menyembelih,” kata seorang sahabat lagi , tidak mau kalah.
“Saya bagian menguliti,” kata seorang sahabat yang pandai menguliti hewan buruan.
“Saya siap mengiris dagingnya,” kata seorang lagi.
“Saya siap memasaknya,” kata seorang sahabat yang pandai memasak.
Ketyika semua sahabat sudah mendapat bagian, Rasulullah SAW yang sedari tadi memperhatikan jalannya rapat, berkata,”Saya bagian apa?”
“Sudahlah, Ya Rasulullah, biarlah para sahabat yang mengerjakan,” kata salah seorang sahabat.
“Saya tidak mau dapat bagian makan saja, saya harus dapat bagian dari pekerjaan bersama ini,” kata Rasulullah SAW sambil mendesak.

Semua sahabat yang hadir terdiam mendengar perintah Rasulullah SAW. Tentu saja mereka tidak berani memerintah Rasulullah SAW , sang pemimpin umat.
“Kalau semua sudah mendapat bagian, baiklah, saya kan mencari kayu bakar dan membantu memasaknya ,” sabda Rasulullah memecah kebuntuan dalam musyawarah kecil itu.

Demikian akhlaq Rasulullah SAW yang begitu mulia dan agung sebagai pemimpin umat. Apa yang beliau lakukan selalu menjadi teladan dalam membangkitkan semangat yang penuh kebersamaan di tengah-tengah umat. 


Jari jemari lecet

Kisah lainnya yang membangkitkan kesadaran dalam berdakwah dicontohkan saat beliau dan para sahabat membangun Masjid Quba, masjid pertama dalam sejarah Islaam.
Sekalipun sudah menjadi pemimpin besar, Nabi SAW tidak berpangku tangan dan membiaarkan pengikutnya bekerja sendiri. Ketika orang-orang sibuk bergotong royong membangun masjid, beliau larut dalam kesibukan mereka. Rasulullah SAW ikut menyisingkan baju, terjun langsung di tengah-tengah para sahabat. Tak segan-segan beliau mengangkat linggis, menggali parit di tengah terik matahari, hingga keringat bercucuran membasahi jubah beliau.

Nabi ikut membawa batu, hingga para sahabat yang melihat kejadian itu meminta beliau untuk tidak turun langsung. Salah seiorang sahabat berkata,” Sudahlah ya Rasulullah, biarlah kami dan para sahabat yang lain yang mengerjakan.

Namun Rasulullah SAW terus bekerja ketika para sahabat melihat kondisi Rasulullah SAW telah payah oleh pekerjaan berat. Bulir-bulir keringat telah mengucur deras membasahi jubah beliau. Jari jemari pun telah lecet-lecet mengeluarkan darah, karena memecah batu menjadi bagian kecil-kecil, kemudian membaawanya ke lokasi pembangunan masjid.

Melihat pemandangan tersebut, para sahabat kembali meminta agar beliau Rasulullah SAW tidak melakukan itu. Beliau lalu mengajak bicara kepada jari jemarinya yang mengeluarkan darah tadi di hadapan para sahabat.” Kamu kan cuma jari jemari tangan; sedangkan pekerjaan ini , demi kepentingan agama Allah, jauh lebih penting.”

Demikian akhlaq dan perilaku Rasulullah SAW. Kebesaran dan jabatan yang beliau pikul , tidak membuat beliau berpangku tangan dan memerintah semau sendiri. Nabi selalu berusaha menempatkan diri sama di hadapan orang lain, sekalipun tidak sama dengan manusia yang lainnya (Basyaran lakal basyar). Inilah cerminan ahlaq Rasulullah SAW dalam membangkitkan kebersamaan untuk sebuah perubahan besar di kemudiana hari, sebagai sebuah pendidikan bagi umatnya.


























Keadilan Rasulullah SAW


Para sahabat berselisih tentang hak pengasuhan seorang akan perempuan Hamzah. Rasulullah SAW memutuskan secara adil, hak pengasuhan anak itu jatuh kepada bibinya, Asma’ binti Umais

Suatu ketika, Rasulullah SAW akan melaksanakan umrah ke Ka’bah di kota Makkah. Tetapi orang-orang Makkah tidak memperbolehkan beliau memasuki kota suci itu, kecuali jika beliau berjanji akan tinggal di sana hanya selama tiga hari. Kemudian kaum muslimin menulis surat perjanjian dengan mereka : Ini adalah syarat-syarat perjanjian yang disetujui Nabi Muhammad SAW.

Orang-orang Makkah mengatakan,”kami tidak menyetujui surat perjanjian ini; karena kalau kami mengakui bahwa engkau utusana Allah, tentu kami tidak akan melarangmu. Tetapi kamu adalah Muhammad bin Abdullah.”

Mendengar jawaban yang sinis dari orang-orang Makkah, dengan raut muka yang cerah dan nada penuh ketegasan Nabi SAW berkata,” Aku utusan Allah dan aku Muhammad bin Abdullah.”
Beliau menyuruh Ali bin Abu Thalibh RA untuk menghapus kata-kata Rasulullah atau utusan Allah dalam surat perjanjian itu. Namun, sahabat Ali menolaknya.

“Demi Allah , saya selamanya tidak mau menghapus namamu,” kata Ali RA. Sesungguhnya ini bukan penolakan, tetapi peneguhan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Kapanpun dan di m anapun kalimat itu terucap atau tertulis.

Rasulullah lalu mengambill surat dari tangan Sayidina Ali dan menyruh sahabat yang lainnya untuk menulis: Ini adalah surat perjanjian yang disetujui Muhammad bin Abdullah. Ia tidak membawa senjata ketika memasuki Makkah kecuali tersarungkan. Ia tidak membawa orang orang Makkah yang ingin mengikutinya , dan ia tidak melarang sahabatnya jika ingin tinggal di Makkah.

Usai mengganti redaksi perjanjian itu dengan maksud sebagai strategi untuk dapat memasuki kota Makkah, Rasulullah hendak meninggalkan kota itu sebagai konsekuensi perjanjian di atas. Karena baru boleh masuk kota Makkahtahun depan. Namun Nabi dan para sahabat sempat memotong rambut mereka sebagai tanda umrah sudah dimulai. Orang-orang Makkah melihat lalu menemui sahabat Ali bin Abu Thalib dan mengatakan,”Katakan pada temanmu,’Keluarlah dari kota kami ini, karena batas waktunya sudah habis’.”

Ali menyampaikan permintaan orang-orang Makkah kepada Rasulullah SAW. Beliau pun dengan lapang dada menerima permintaan tersebut, keluar dari kota Makkah.
Belum lama melangkah, tiba-tiba anak perempuan Hamzah bin Abdul Muthalib mengejar Rasulullah SAW dan para sahabatnya sambil memanggil-manggil, Wahai Paman...Wahai Paman!”

Melihat seorang anak kecil yang berlari, Ali menyambutnya dan memegang tangannya, lalu dibawanya menuju Fatimah , putri Rasulullah SAW, dan berkata “Bawalah putri pamanmu ini!”
Para sahabat yang hadir saat itu kemudian berselisih dengan keberadaan anak kecil tersebut, siapa yang lebih berhak mengasuhnya. Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Ja’far bin Abu Thalib saling mengklaim paling berhak untuk memungut anak asuh.

“Saya lebih berhak mengasuhnya, karena ia putri paman saya dan bibinya menjadi istri saya ,” kata Ali sambil berdiri.

Rasulullah tidak keberatan atas sarana Ali itu. Sesudah ia dikeluarkan dari dari Makkah, Zaid bin Haritsah yang dulunya pernah dipersaudarakan dengan Hamzah sesama Muhajirin oleh Rasulullah SAW, berkata, “Aku lebih berhak mengasuh putri saudaraku di rumahku.”

Melihat perselisihan itu, dengan penuh ketenangan dan kesabaran beliau meutuskan hak penghasuhan anak tersebut bukan kepada ketiganaya , tetapi justru kepada bibinya, yakani Asma’ binti Umais. Para Sahabat yang hadir menundukan kepala masing-masing dan diam , tidak bergerak seolah-olah terdapat seekor burung di atas kepala mereka.

“Bibi (saudara perempuan ibu) sama dengan kedudukan ibu,” beliau menjelaskan dengan penuh kelembutan dan raut muka yang bersinar bagai bulan purnama. Rasulullah SAW memang orang luar biasa. Wajahnya bersih bercahaya bagaikan bulan purnama. Wajahnya yang bersih itu dengan kening yang lebar, alisnya tebal yang keduanya hampir tersambung. Setiao yang hadir saat itu memandangnya dengan terkagum-kagum .Para sahabat sangat mencintai Nabi dan menghormati setiap keputusan yang beliau ambil.

Rasulullah SAW lalu bersabda kepada Ali bin Abu Thalib,” Kamu dari aku, dan aku dari kamui.”
Beliau menatap Ja’far dan berkata,”Sifat dan akhlaqmu serupa denganku.”
Sejenak beliau terdiam llau bersabda kepada Zaid.”Kamu adalah saudara kami dan budak kami yang telah dimerdekakan.”

Jawaban dan perkataan Rasulullah SAW dapat diterima dengan lapang dada oleh para sahabat yang hadir saat itu. Itulah salah satu dari sifat beliau yang senantiasa berlaku adil dalam memutuskan sebuah masalah di tengah para sahabatnya. (HR Al Barra’bi Azib dan HR Bukhari). 











Kearifan Rasulullah SAW


Dalam berdakwah, Raasulullah SAW sering mendapat fitnah. Segala berita yang tidak benar, beliau sikapi dengan arif dan bijaksana


Suatu hari kaum Muhajirin dan Anshar mendatangi Nabi Muhammad SAW yang sedang berada di rumahnya. Setelah para sahabat masuk dan duduk di majlis beliau yang agung dan mulia itu, Nabi SAW dengan muka berseri-seri mempersilahkan para sahabat untuk mengutarakan maksud kedatangan mereka yang beramai-ramai itu.

“Ya Rasulullah, Tuan tentu memerlukan barang-barang untuk nafkah dan kebutuhan Tuan sendiri, juga untuk nafkah dan kebutuhan Tuan sendiri, juga untuk menjamu para utusan yang datang menghadap Tuan. Ambilah harta kekayaan kami dan pergunakanlah menurut kemauan Tuan. Ambilah harata kekayaan kami dan pergunakanlah menurut kemauan Tuan, atau simpanlah jika Tuan ingin menyimpannya,” kata salah seorang sahabat yang hadir.

Mendengar perkataan sahabat itu, Rasulullah SAW dengan wajahnya yang putih bersih dan bercahaya bak bulan purnama , menyampaikan wahyu yang baru saja diterimanya melalui Malaiakat Jibril AS kepada beliau,”Katakanlah (wahai Muhammad); Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (dakwah yang kusampaikan ) selain agar kalian berkasih sayang kepada kerabatku.’ (QS As Syuura:23).

Pada saat itu di majelis itu, para sahabat mendengarnya dengan seksama. Namun saat keluar dan pulang dari majelis Rasulullah SAW yang mulia itu, para sahabat saling berbincang-bincang anatara satu sahabat dengan para saahabat lainnya.

Beberapa orang yang berada dalam rombongan itu berkata di antara mereka.”Yang membuat Rasulullah SAW tidak mau menerima tawaran itu ialah karena beliau hendak mendesak supaya kita mencintai kerabatnya setelah beliau wafat.”

“Jangan berprasangka begitu, wahai sahabatku.” Kata sebagian sahabat yang lain. Karena komentaar salah seorang sahabat itu merupakan fitnah yang kasar sekali.
Allah SWT pada saat itu juga menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW ,”Ataukah mereka mengatakan: Dia (Muhammad) telah mengadakan kedustaan terhadap Allah. Jika Allah menghendaki , niscaya Dia (Muhammad) telah mengadakan kedustaan terhadap Allah. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia mengunci mati hatimu. Allah (berkuasa) menghapuskan yang batil dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimat-Nya (al Qur’an). Sesungguhnya Dia (Allah) Maha mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di dalam dada,” (QS As-Syura : 24).
***

Setelah menerima wahyu tersebut, Rasulullah langsung mengurus seorang sahabat untuk menanyakan berita yang tidak benar di antara para sahabat.
Tidak berapa lama kemudian, beberapa orang di antara rombongan datang menghadap Rasulullah SAW , lalu berkata ,”Ada beberapa orang di antara kami yang berkata sekasar itu dana kami sendiri tidak menyukainya.”

Rasulullah yang mulia dan pemimpin agung umat Islam , mendengar secara seksama setiap ucapana sahabat yang hadir. Beliau adalah manusia yang paling bijak dan arif. Rasulullah SAW lalu membacakan Al Qur’an surat Asy-Syura ayat 24 kepada para sahabat yang hadirr.
Setelah mendengar kalam mulia dari bibir Rasulullah, para sahabat menangis dan menyesali semua fitnah yang sempat mereka lontarkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Seliau adalah seorang yang pemaaf dan begitu penyabar. Atas berita yang tidak benar dan berbagai fitnah,beliau tidak langsung marah, tapi mengecek setiap berita yang beredar. Kalau berita itu tidak benar, beliau membantahnya dengan kata-kata yang bijak. Allah SWT melalui malaikat Jibril AS, senantiasa menyampaikan wahyu sebagai penuntun dan bimbingan bagi umatnya di saat sebuah masalaha timbul.

Mendengar tangisan paran sahabat dan muncul rasa penyesalan yang adlam atas penyesalah yang telah bernai menyebarkan fitnah, Rasulullah SAW lalu membacakan suarah Asy-Syura:25,”Dan Dia (Allah SWT) yang berkenan menerima taubat dari hamba-hamaba-Nya , mengampuni mereka atas kesalahan-kesalahan mereka, dan Dia mengetahui apa-apa yang kalian perbuat.”

Setelah mendengar kalam illahi itu, para sahabat bersalaman dan salinag berangkulan dengan Rasululah SAW. Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lapang. Itulah salah satu kemuliaan Rasulullah SAW yang begitu pemaaf terhadap siapa saja yang memfitnahnya (HR Imam Ahmad bin Hambal, Tabrani, dan Hakim dari Ibnu Abbas). 























Keberkahan Rasulullah


Dalam suatu persiapan perang, para sahabat semuanya tak terkecuali Rasulullah dalam keadaan kelaparan.

Diceritakanlah keadaan tersebut oleh Abu Thalhah kepada istrinya, maka timbulllah rasa iba di hati istrinya itu mengetahui keadaan Rasulullah SAW yang demikian rupa. Istrinya pun berinisiatif mengundang Rasulullah beserta empat atau lima orang sahabatnya untuk makan di rumahnya.

Merekapun menyembelih seekor kambing kecil yang mereka punyai, lalu mengulitinya dan memasaknya. Tanpa sepengetahuan mereka, kedua orang putranya menyaksikan ayahnya menyembelih kambing tersebut, kemudian mereka berdua mempraktekaan apa yang mereka saksikan .

Alangkah terkejutnya Abu Thalhah dan istrinya ketika menemukan kedua putranya, yang satu dalam keadaan lehernya putus dan yang lain pingsan di sampingnya. Rasa duka cita pun segera menyelimuti hati mereka, akan tetapi jamuan yang mereka siapkan harus tetap dilaksanakan. Mereka berdua sepakat untuk menyembunyikan rasa sedih yang mereka alami sehingga seakan akan tidak pernah terjadi apa apa, agar tamu-tamu mereka terutama Rasulullah SAW tidak hilang selera makannya. Akhirnya tamu yang dinanti-nanti datang juga, namun tidak seperti dugaan mereka ternyata Rasulullah SAW mengajak semua sahabatnya yang ada di masjid.

Abu Thalhah tidak dapat menyembunyikan kepanikan dan rasa kagetnya di hadapan istrinya. Bagaimana tidak, karena menurut perhitungannya makanan yang mereka siapkan tidak akan mencukupi untuk semua tamu yang datang. Namun istrinya mencoba menenangkannya sehingga agak berkuranglah kegelisahan Abu Thalhah. Istrinya meyakinkan pasti ada hikmah dibalik perbuatan Rasulullah SAW itu. Semua mereka serahkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW menghampiri mereka dan memerintahkan agar tidak mencampur makanan yang telah mereka buat. Tetapi beliaulah yang akan mencampur dan membagikannya sendiri kepada para sahabat. Mulailah Rasilallah mencampur makanan tersebut, lalu beliau memerintahkan agar sepuluh orang sahabatnya masuk kedalam rumah untuk makan. Setelah kenyang mereka pun keluar lalu masuk lagi sepuluh orang begitulah seterusnya sampai semua sahabat mencicipi makanan tersebut. Namun sungguh ajaib meskipun sudah banyak sahabat yang makan , tetapi makanan yang tersisa seakan-akan belum tersentuh sama sekali masih utuh seperti sedia kala.
Tinggal Rasulullah SAW, Abu Thalhah dan keluarganya yang belum merasakan makanannya.

Lalu Rasulullah menyuruh Abu Thalhah memanggil kedua putranya agar makan bersama-sama. Abu Thalhah tidak ingin Rasulullah mengetahui peristiwa yang dialami kedua putranya, maka diapun mengatakan bahwa kedua putranya itu sudah tertidur. Akan tetapi Rasulullah terus mendesak agar keduanya diajak makan. Sampai akhirnya Abu Thalhah tidak mempunyai alasan lagi untuk menampik kemauan Rasulullah itu. 

Maka Abu Thalhah mengajak beliau ke dalam kamar dimana kedua putranya terbaring disana, dengan ditutup selembar selimut. Rasulullah membuka penutup tersebut, tampaklah oleh beliau bahwa kedua putra sahabatnya itu sudah tidak bernyawa lagi bahkan salah satu diantara keduanya lehernya putus. Kemudian Rasulullah menyeru kepada keduanya, “Bangunlah dengan izin Allah”. 

Maka dengan qudrat dan iradat Allah SWT keduanyapun bangun memenuhi panggilan Rasulullah SAW dalam keadaan sempurna seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Itulah mukjizat Rasulullah SAW yang diperlihatkan kepada keluarga Abu Thalhah yang selalu ingin mengembirakan Rasulullah SAW meskipun mereka ditimpa kesusahan. Namun Allah SWT lebih mengetahui keadaan hambanya dan pasti akan membalas setiap amal yang mereka lakukan dengan balasan yang sepadan bahkan berlipat-lipat ganda. 




































Smiling Full Rasulullah SAW

Hari itu adalah hari yang penuh dengan senyum panjang yang terukir dari bibir Rasulullah SAW serta bibir seluruh kaum muslimin”


Saat menikahkan putri bungsunya, Sayyidah Fatimah Az Zahrah, dengan sahabat Ali bin Abi Thalib, Baginda Nabi Muhammad SAW tersenyum lebar. Itu merupakan peristiwa yang penuh kebahagiaan.

Hal serupa juga diperlihatkan Rasulullah SAW pada peristiwa Fathu Makkah, pembebasan Makkah, karena hari itu merupakan hari kemenangan besar bagi kaum muslimin.
Rasulullah SAW adalah pribadi yang lembut dan penuh senyum. Namun, beliau tidak memberi senyum kepada sembarang orang. Demikian istimewanya senyum Rasul sampai-sampai Abu Bakar dan Umar, dua sahabat utama beliau, sering terperangah dan memperhatikan arti senyum tersebut.

Misalnya mereka heran melihat Rasul tertawa saat berada di Muzdalifah di suatu akhir malam. “Sesungguhnya Tuan tidak biasa tertawa pada saat seperti ini,” kata Umar. “Apa yang menyebabkan Tuan tertawa?” Pada saat seperti itu, akhir malam, Nabi biasanya berdoa dengan khusyu’.

Menyadari senyuman beliau tidak sembarangan, bahkan mengandung makna tertentu, Umar berharap, “Semoga Allah menjadikan Tuan tertawa sepanjang umur”.

Atas pertanyaan diatas, Rasul menjawab, “Ketika iblis mengetahui bahwa Allah mengabulkan doaku dan mengampuni umatku, dia memungut pasir dan melemparkannya kekepalanya, sambil berseru, ‘celaka aku, binasa aku!’ Melihat hal itu aku tertawa.” (HR Ibnu Majah)
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menulis, apabila Rasul dipanggil, beliau selalu menjawab, “Labbaik”. Ini menunjukkan betapa beliau sangat rendah hati. Begitu pula, Rasul belum pernah menolak seseorang dengan ucapan “tidak” bila diminta sesuatu. 
Bahkan ketika tak punya apa-apa, beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang. “Aku tidak mempunyai apa-apa,” kata Rasul.

“Tapi, belilah atas namaku. Dan bila yang bersangkutan datang menagih, aku akan membayarnya.”

Banyak hal yang bisa membuat Rasul tertawa tanpa diketahui sebab musababnya. Hal itu biasanya berhubungan dengan turunnya wahyu Allah. Misalnya, ketika beliau sedang duduk-duduk dan melihat seseorang sedang makan. Pada suapan terakhir orang itu mengucapkan. “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.”

Saat itu beliau tertawa. Tentu saja orang itu terheran-heran.
Keheranan itu dijawab beliau dengan bersabda, “Tadi aku lihat setan ikut makan bersama dia. Tapi begitu dia membaca basmalah, setan itu memuntahkan makanan yang sudah ditelannya.” 

Rupanya orang itu tidak mengucapkan basmalah ketika mulai makan.
Suatu hari Umar tertegun melihat senyuman Nabi. Belum sempat dia bertanya, Nabi sudah mendahului bertanya, “Ya Umar, tahukah engkau mengapa aku tersenyum?”
“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” jawab Umar.

“Sesungguhnya Allah memandang kepadamu dengan kasih sayang dan penuh rahmat pada malam hari Arafat, dan menjadikan kamu sebagai kunci Islam,” sabda beliau.


Kesaksian Anggota Tubuh

Rasul SAW bahkan sering membalas sindiran orang dengan senyuman. Misalnya ketika seorang Badui yang ikut mendengarkan taushiyah beliau tiba-tiba nyeletuk, “Ya Rasul, orang itu pasti orang Quraisy atau Anshar, karena mereka gemar bercocok tanam, sedang kami tidak.”
Saat itu Rasul tengah menceritakan dialog antara seorang penghuni surga dan Allah SWT yang mohon agar diizinkan bercocok tanam di surga. Allah SWT mengingatkan bahwa semua yang diinginkannya sudah tersedia di surga.

Karena sejak di dunia punya hobi bercocok tanam, iapun lalu mengambil beberapa biji-bijian, kemudian ia tanam. Tak lama kemudian biji itu tumbuh menjadi pohon hingga setinggi gunung, berbuah, lalu dipanenkan. Lalu Allah SWT berfirman. “Itu tidak akan membuatmu kenyang, ambillah yang lain.”

Ketika itulah si Badui menyeletuk, “Pasti itu orang Quraisy atau Anshar. Mereka gemar bercocok tanam, kami tidak.”

Mendengar itu Rasul tersenyum, sama sekali tidak marah. Padahal, beliau orang Quraisy juga.
Suatu saat justru Rasulullah yang bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian mengapa aku tertawa?.”

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” jawab para sahabat.

Maka Rasul pun menceritakan dialog antara seorang hamba dan Allah SWT. Orang itu berkata, “Aku tidak mengizinkan saksi terhadap diriku kecuali aku sendiri.”
Lalu Allah SWT menjawab, “Baiklah, cukup kamu sendiri yang menjadi saksi terhadap dirimu, dan malaikat mencatat sebagai saksi.”

Kemudia mulut orang itu dibungkam supaya diam, sementara kepada anggota tubuhnya diperintahkan untuk bicara. Anggota tubuh itupun menyampaikan kesaksian masing-masing. Lalu orang itu dipersilahkan mempertimbangkan kesaksian anggota-anggota tubuhnya.
Tapi orang itu malah membentak, “Pergi kamu, celakalah kamu!” Dulu aku selalu berusaha, berjuang, dan menjaga kamu baik-baik,” katanya.

Rasulpun tertawa melihat orang yang telah berbuat dosa itu mengira anggota tubuhnya akan membela dan menyelamatkannya. Dia mengira, anggota tubuh itu dapat menyelamatkannya dari api neraka. Tapi ternyata anggota tubuh itu menjadi saksi yang merugikan, karena memberikan kesaksian yang sebenarnya (HR Anas bin Malik).

Hal itu mengingatkan kita pada ayat 65 surah Yasin, yang maknanya, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Aji Setiawan)







































Air Minum Tak Pernah Habis

Ketika Abu Hurairah Kelaparan, ia ditemani Rasulullah SAW. Ajaib segelas air minum yang disediakan untuk Rasulullah SAW sangat cukup diminum oleh para sahabat yang hadir


Suatu hari Sahabat Abu Hurairah duduk di jalan yang biasa para sahabat Rasulullah SAW lalui keluar, kemudian melintas Abu Bakar. Abu Hurairah bertanya kepada Abu Bakar tentang sebuah ayat dari Al-Qur’an dan Abu Hurairah tidak bertanya kepadanya kecuali karena mengharapkan dia memberi makanan, akan tetapi dia berlalu dan tidak memberinya.

Kemudian lewat di depan Abu Hurairah sahabat Umar dan bertanya kepadanya tentang
suatu ayat tentang Al-Qur’an, dan Abu Hurairah tidak bertanya kepadanya kecuali agar dia
mau memberi makanan, tetapi dia hanya berlalu dan tidak memberinya.
Kemudian Nabi saw. lewat di depan Abu Hurairah dan tersenyum ketika beliau melihatnya, dan beliau tahu apa yang tengah Abu Hurairah rasakan dan ada apa di balik raut wajah Abu Hurairah, kemudian beliau bersabda:

“Hai Abu Hirr (bapak kucing).” 

Abu Hurairah menyahut, “Labbaik, ya Rasulullah.” 
Sabda beliau, “Ikutlah.”
Kemudian beliau berjalan dan Abu Hurairah mengikuti beliau. Lalu beliau masuk dan
aku meminta izin, dan beliau mengizinkan Abu Hurairah. Beliau masuk dan mendapatkan susu
pada sebuah bejana, lalu beliau bertanya:

“Dari mana susu ini?” 
Mereka menjawab, “Engkau dihadiahi oleh fulan.” 

Sabda beliau, “Abu Hirr.” 

“Labbaik, ya Rasulullah,” Jawab Abu Hurairah.

Sabda beliau, “Pergilah ke Ahlus Shuffah dan panggil mereka untukku.”

Ahlus Shuffah adalah tamu-tamu Islam, yang tidak memiliki keluarga, tidak punya harta, dan tidak punya seorang pun (dan mereka tinggal di serambi belakang Masjid Nabi). Apabila Nabi dibawakan sedekah, beliau langsung mengirimkan kepada mereka dan tidak mengambil sedikitpun darinya. Dan, apabila beliau diberikan hadiah, beliau juga mengirimkannya kepada mereka dan mengambil sedikit darinya.

Perintah beliau untuk memanggil Ahlus Shuffah membuat Abu Hurairah tidak enak, maka ia berkata (kepada dirinya sendiri), “Seberapa banyak susu mau dibagikan terhadap Ahlus Shuffah? Aku lebih berhak untuk mendapatkannya untuk memperkuat diriku. Dan bila beliau datang, beliau memerintahkan aku dan akulah yang membagikannya untuk mereka, dan tidak ada harapan bahwa aku akan mendapat bagian darinya, akan tetapi mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah wajib.”

Maka Abu Hurairah mendatangi mereka dan mereka pun datang. Kemudian meminta izin
dan mereka diizinkan lalu masing-masing mengambil tempat duduk di dalam rumah. 
Sabda beliau, “Ya Abu Hirr.” 

“Labbaik, ya Rasulullah.” 

Sabda beliau, “Ambillah dan berikan kepada mereka.”

Maka Abu Hurairah mengambil bejana itu, kemudian memberikan seorang lalu minum
sampai kenyang, kemudian mengembalikan bejana itu kepada salah seorang sahabat. Lalu Abu Hurairah berikan kepada seorang lagi dan minum sampai kenyang, kemudian dia mengembalikan bejana itu kepada Abu Hurairah. Lantas oleh sahabat Abu Hurairah berikan lagi kepada yang lain dan minum sampai kenyang dan mengembalikan bejana itu kepadanya , sampai selesai kepada Nabi saw. Dan semua orang telah kenyang. Kemudian beliau mengambil bejana itu dan meletakkannya di tangan beliau, kemudian melirik kepada Abu Hurairah dan tersenyum sambil bersabda, “Abu Hirr.” 

“Labbaik, ya Rasulullah.” 

Sabda beliau, “Tinggal aku dan kamu.” 
“Engkau benar, wahai Rasulullah,” jawab Abu Hurairah

Sabda beliau, “Duduk dan minumlah.” 

Abu Hurairah pun duduk dan minum.

Beliau bersabda lagi, “Minumlah.” 

Dan Abu Hurairah pun minum lagi, dan beliau bersabda, “Minumlah.” 
Sampai Abu Hurairah mengatakan, “Tidak, demi Zat Yang telah mengutusmu dengan kebenaran,
aku tidak menemukan tempat lagi (di perutku).”

Sabda beliau, “Perlihatkan kepadaku.” 

Maka Abu Hurairah berikan bejana itu kepada beliau, dan kemudian beliau memanjatkan puji syukur kepada Allah dan meminum yang tersisa. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah RA) Aji Setiawan








Kesabaran Rasulullah Berdakwah

Saat berdakwah di Tha’if, Rasulullah SAW dicemooh dan dilempari batu. Namun dengan keihkhlasann dan kesabran beliau tidak membalasnya dadri gangguan orang-orang kafir, hingga akhirnya mereka menerima dakwah Islam

Setelah sembilan tahun Muhammad SAW diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya, selebihnya beliau selalu dengan daya dan upaya untuk mengganggu dan menghalangi beliau dan pengikut-pengikutnya. Di antara mereka yang bersimpati dengan dakwah Nabi adalah paman beliau sendiri yakni Abu Thalib, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Pada tahun kesepuluh setelah kenabian Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib ini, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa mengganggu dan menentang Nabi SAW.

Tha’if merupakan kota terbesar setelah Hijaz. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu Kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah SAW pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam. 

Dengan demikian, beliau dan pengikutnya akan mendapatkan perlindungan dari gangguan kaum kafir Quraisy. Beliaupun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat gerakan dakwah. 
Setiba di sana, Rasulullah SAW mengunjungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun apa yang terjadi???

Bani Tsaqif bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi SAW pun mereka tidak mau. Rasulullah SAW diperlakukan secara kasar dan biadab. 
Sikap kasar mereka itu sungguh bertententangan dengan sikap bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang dengan Rasulullah dan pengikutnya tinggal di kota mereka. Semula Rasulullah membayangkan akan mendapatkan perlakuan sopan diiringi tutur kata yang lemah lembut , tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata yang kasar.

Salah seorang diantara mereka berkata sambil mengejek beliau dengan sangat kasar,”Benarkah Allah telah mengangkatmu sebagai pesuruh-Nya?” 

Yang lain berkata sambil tertawa,”Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi Pesuruh-Nya?”

Ada juga yang berkata,”Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya, jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara denganmu.”

Menghadapi perlakuan tiga tokoh Bani Tsaqif yang sedemikian kasar itu, Rasulullah SAW yang memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkannya berputus asa dan kecewa.

Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah mencoba berdakwah di kalangan rakyat biasa. Namun kali ini pun beliau mendapat kegagalan.
Mereka mengusir Rasulullah SAW dari Tha’if dengan berkata,”Keluarlah kamu dari kampung ini! Dan pergilah ke mana saja kamu suka!”

Ketika Raulullah SAW menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if. Tetapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan aman.
Mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. 

Lemparan batu yang mengenai Nabi SAW sedemikian hebat, tiap beliau bergeser dari suatu tempat, lemparan batu bertubi-tubi mengenai tubuh beliau, sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dengan berjalan tertatih-tatih dan tubuh bersimbah darah, beliau berjalanan pulang, Rasulullah SAW kemudian menjumpai tempat yang aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudian beliau berdoa dengan sambil meneteskan air mata mengadukannya kepada yang Allah Jalazalluhu warahamatuh, ”Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engakaulah tuhanku.

Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nya lah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dri Engkau turun atasku azab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”

Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT oleh Nabi SAW sehingga Allah SWT mengirimkan malaikat Jibril untuk menemuinya.

Setibanya di hadapan Nabi, Jibril AS memberi salam seraya berkata,”Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.”

Sambil berkata demikian, Jibril AS memperlihatkan barisan para malaikat itu kepada Rasululah SAW.

Kata malaikat itu, “Wahai Rasululah, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertintid. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

Mendengar tawaran malaikat itu Rasulullah dengan sifat kasih sayangnya berkata,”Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah keapda-Nya.” (Fadhail A’mal, Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandhalawi hal 520)











































Keikhlasan Rasulullah SAW


Kesabaran dan keikhlasan Rasulullah SAW dalam berdakwah. Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata, "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah Saw., mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah Saw., menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah Saw., melakukannya hingga menjelang Beliau wafat.

Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abubakar ra., berkunjung ke rumah anaknya Aisyah ra., beliau bertanya kepada anaknya,"Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan."

"Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja".

"Apakah Itu?"

"Setiap pagi Rasulullah Saw., selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana."


Ke esokan harinya Abu Bakar ra., pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar ra., mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar ra., mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu...?"

“Aku orang yang biasa.”

“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri."
Abubakar ra., tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
“Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Saw."
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar ra., ia pun menangis dan kemudian berkata,
“Benarkah demikian?” 

Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.












































Santun dan Sabar
Islam adalah dinun samhah, agama yang mengajarkan kesantunan, kelembutan, dan kesa baran dengan sesama makhluk Allah. Sifat yang baik mesti dilakukan kepada sesama manusia, sehingga akan terwujud hubungan harmonis dan toleransi da lam bermuamalah.

Rasulullah SAW memiliki sifat yang sangat pemaaf dan santun. Tapi, jika hak Allah SWT dilecehkan, beliau akan marah dan tampil meluruskan kedurhakaan itu dengan tegas, namun tetap bijaksana.Keutamaan sikap lemah lembut dan santun itu memiliki kedudukan di atas maqam akhlak lainnya.


Orang yang mempunyai sikap lemah lembut cenderung memperoleh kebajikan dan kebaikan, sedangkan orang yang temperamental dan berhati kasar cenderung memperoleh keburukan.

Suatu kali, ketika Rasulullah lewat di depan rumah seorang wanita yang sangat membenci, bahkan kerap meludahinya, wanita tersebut tak lagi meluda hinya. Bahkan, batang hidungnya saja tak keli- hatan. Nabi pun menjadi "kangen" akan air ludah si wanita tadi. Karena penasaran, Nabi lantas bertanya kepada seseorang, "Wahai Fulan, tahukah engkau, di mana kah wanita pemilik rumah ini yang setiap kali aku lewat selalu meludahiku?"

Orang yang ditanya menjadi heran, mengapa Nabi justru menanyakan wanita itu. Namun, si Fulan tak ambil peduli. Ia pun segera menjawab pertanyaan Nabi, `'Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad bahwa si wanita yang biasa melidahimu sudah beberapa hari terbaring sakit?"Mendengar jawaban itu, Nabi mengangguk-angguk, lantas melanjutkan perjalanan untuk ibadah di depan Ka'bah dan bermunajat kepada Allah Pemberi Rahmah. Sekembalinya dari ibadah, Nabi mampir menjenguk wanita tersebut. Ketika tahu bahwa Nabi, orang yang tiap hari dia ludahi, justru menjenguknya, si wanita menangis dalam hati.

"Duhai, betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjenguk kemari."Dengan menitikan air mata haru bahagia, si wanita bertanya, "Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?"Nabi menjawab, "Aku yakin, engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku.

Jika engkau mengetahuinya, aku yakin, engkau tak akan lagi melakukannya."Mendengar ucapan bijak dari manusia utusan Allah SWT ini, si wanita menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya serasa tersekat. Setelah mengatur napas dan dapat bicara lepas, ia pun berkata, "Wahai Muhammad, mulai saat ini aku ber saksi untuk mengikuti agamamu." Lantas, si wanita mengikrarkan dua kalimat syahadat.


Begitu indahnya Islam mengajarkan kewajiban ber buat baik dalam segala hal perbuatan. Inilah salah satu sifat kasih sayang Nabi SAW yang meru pakan cerminan ajaran Islam. Memudahkan urusan dan menjauhkan hal yang mengandung dosa dan cela.Rasulullah SAW juga mengajarkan tentang akhlak kelemahlembutan, kesabaran, dan kesantunan.

Beliau tidak menunjukkan marah sedikitpun dan tidak ada keinginan untuk menuntut balas pada hal- hal yang memancing dan memprovokasi kemarahan beliau. Inilah sifat dan akhlak Nabi Muhammad SAW yang mulia.








































Kehidupan Beliau Yang Zuhud


Inilah kehidupan dari jiwa yang suci, yang namanya sering kita sebut. Rasulullah SAW memperingatkan Umar Ra akan kehidupan beliau yang zuhud


Suatu ketika Nabi SAW telah bersumpah akan berpisah dengan istri-istrinya selama satu bulan sebagai peringatan bagi mereka. Selama sebulan beliau tinggal seorang diri dalam sebuah kamar sederhana yang letaknya agak tinggi. Terdengar kabar di kalangan para sahabat bahwa Nabi SAW telah menceraikan semua istrinya. Ketika Umar bin Khathab mendengar kabar ini, segera ia berlari ke masjid. Setiba di sana, dia melihat para sahabat sedang duduk termenung, mereka bersedih dan menangis. Juga kaum wanita menangis di rumah-rumah mereka. Kemudian Umar pergi menemui putrinya, Hasah yang telah dinikahi oleh Nabi SAW.

Umar mendapati Hafsah sedang menangis di kamarnya. Ia kemudian bertanya kepada Hafsah,”Mengapa engkau menangis? Bukankah selama ini saya telah melarangmu agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan Nabi SAW?”

Hafsah tak menjawab apa-apa, ia terus menangis. Umar lalu kembali ke masjid, terlihat olehnya beberapa orang sahabat sedang menangis di mimbar. Kemudian ia duduk bersama para sahabat, lalu ia berjalan ke arah kamar Nabi Muhammad SAW yang terletak di tingkat atas masjid. 
Umar mendapati Rabah dan dia minta izin untuk menemui Nabi SAW. Rabah mendapat Nabi kemudian kembali dan memberitahukan bahwa dia telah menyampaikan pesan Umar, namun Nabi SAW hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Permintaan untuk menjumpai Nabi diulang beberapa kali hingga ketiga kalinya barulah Nabi Muhammad SAW mengijinkan Umar untuk naik ke atas. 

Ketika Umar masuk, dia menjumpai Nabi SAW tengah berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga badan Nabi SAW yang putih bersih dan indah itu terlihat jelas bekas-bekas daun korma. Di tempat kepala beliau ada sebuah bantal yang terbuat dari kulit binatang yang dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma.

Selepas mengucapkan salam kepada beliau, Umar kemudian bertanya,”Apakah engkau telah menceraikan istri-istri engkau, Ya Rasulullah?

Nabi SAW menjawab,”Tidak.”

Umar sedikit lega, sambil bercanda ia mengatakan,”Ya Rasulullah, kita adalah kaum Quraisy yang selamanya telah menguasai wanita-wanita kita. Tetapi setelah kita hijrah ke Madinah, keadaannya sungguh berbeda dengan orang-orang Anshar. Mereka telah dikuasai wanita-wanita mereka sehingga wanita-wanita kita terpengaruh dengan kebiasaan mereka.”

Nabi SAW tersenyum mendengar perkataan Umar. Umar lalu memperhatikan keadaan kamar Nabi SAW, terlihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu, selain itu tidak terdapat apa pun. Umar menangis sesenggukan melihat keadaan Nabi yang seperti itu.

Tiba-tiba Rasulullah SAW bertanya kepada Umar,”Mengapa engkau menangis?”
“Bagaimana saya tidak menangis , ya Rasululah. Saya sedih melihat bekas tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia dan saya prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah mengkaruniakan kepada tuan bekal yang lebih banyak. Orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang tengahnya mengalir sungai, sedangkan engkau pesuruh Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan sangat miskin,” Jawab Umar bin Khathab dengan nada prihatin.

Mendengar jawaban Umar, Rasulullah SAW lalu bangun dari bantalnya dan berkata, ”Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat, tentu akan lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. Jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapatkan segala-galanya.”
Mendengar sabda Nabi, Umar lalu menyesal. Lalu ia berkata,”Ya Rasulullah, memohonlah kepada Allah SWT untuk saya. Saya telah bersalah dalam hal ini.” .



























Penghormatan Rasululloh Kepada Ali bin Abu Thalib


Ketika Sayyiduna Ali Terlambat Berjamaah Subuh karena Ali melakukan penghormatan kepada oranglain. Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu kepada para sahabat.


Dini hari itu Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.

Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru Kota Madinah.

Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya.

Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi melambat. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya. Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau kena celaka.

Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid.

Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya kesempatan untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat shalat berjamaah.
Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”

Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?”
“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali. Kenapa?”

Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat
bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga.”

Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”

Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”
Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”

Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau sangat menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain.

Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu kepada para sahabat.




















Jejak Kedermawanan Rasulullah


Sayyidina Umar bin Khattab bercerita, suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi,
Rasulullah juga memberinya. Keesokan harinya, datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah lalu bersabda, “Aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya.”
Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah janganlah memberi diluar batas kemampuanmu.” Rasulullah tidak menyukai perkataan Umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, jangan takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.” (HR Turmudzi).

Jubair bin Muth’im bertutur, ketika ia bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba orang-orang mencegat beliau dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri.

Kemudian salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah berhenti sejenak dan berseru, ”Berikan mantelku itu! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian (HR. Bukhari)

Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW bercerita, suatu hari Rasulullah masuk ke rumahku dengan muka pucat. Aku khawatir beliau sedang sakit. “Ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begini?” tanyaku.

Rasulullah menjawab, ”Aku pucat begini bukan karena sakit, melainkan karena aku ingat uang tujuh dinar yang kita dapat kemarin sampai sore ini masih berada di bawah kasur dan kita belum menginfakkannya.” (HR Al-Haitsami dan hadistnya sahih).

Aisyah berkata, suatu hari, ketika sakit, Rasulullah SAW menyuruhku bersedekah dengan uang tujuh dinar yang disimpannya di rumah. Setelah menyuruhku bersedekah, beliau lalu pingsan. Ketika sudah siuman, Rasulullah bertanya kembali: “Uang itu sudah kau sedekahkan?”
“Belum, karena aku kemarin sangat sibuk,” jawabku.

Rasulullah bersabda, “Mengapa bisa begitu, ambil uang itu!”.
Begitu uang itu sudah di hadapannya, Rasulullah lalu bersabda, “Bagaimana menurutmu seandainya aku tiba-tiba meninggal, sementara aku mempunyai uang yang belum kusedekahkan? Uang ini tidak akan menyelamatkan Muhammad seandainya ia meninggal sekarang, sementara ia mempunyai uang yang belum disedekahkan,”. (HR Ahmad).

Kisah kedermawanan Rasulullah SAW, beliau tunjukan kepada seorang laki-laki yang baru dikenalnya. Begini kisahnya, Sahl bin Sa’ad bertutur, suatu hari datang seorang perempuan menghadiahkan kepada Nabi Saw sepotong syamlah yang ujungnya ditenun (syamlah adalah baju lapang yang menutup seluruh badan). Perempuan itu berkata, “Ya Rasulullah, akulah yang menenun syamlah ini dan aku hendak menghadiahkannya kepada Engkau.” Rasulullah pun sangat menyukainya. Tanpa banyak bicara, beliau langsung mengambil dan memakainya dengan sangat gembira dan berterima kasih kepada wanita itu. Rasulullah betul-betul sangat membutuhkan dan menyukai syamlah tersebut.

Tidak lama setelah wanita itu pergi, tiba-tiba datang seorang laki-laki meminta syamlah tersebut. Rasulullah pun memberikannya. Para sahabat yang lain lalu mengecam laki-laki tersebut. Mereka berkata, “Hai Fulan, Rasulullah sangat menyukai syamlah tersebut, mengapa kau memintanya? Kau kan tahu Rasulullah tidak pernah tidak memberi kalau diminta?” Laki-laki itu menjawab, “Aku memintanya bukan untuk dipakai sebagai baju, melainkan untuk kain kafanku nanti kalau aku meninggal”. Tidak lama kemudian, laki-laki itu meninggal dan syamlah tersebut menjadi kain kafannya. (HR Bukhari).

Beberapa kisah diatas hanyalah sebutir jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah lainnya bagaikan gunung pasir tertinggi yang takkan pernah sanggup diimbangi oleh siapapun, termasuk para sahabat-sahabat terdekatnya di masa beliau masih hidup. Sahabat-sahabat Rasulullah hanya bisa meniru kedermawanan yang diajarkan Baginda Rasul itu, yang kemudian menambah panjang jejak sejarah kedermawanan yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya.

Indah nian jejak-jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW, lebih indah lagi apa-apa yang dijanjikan Allah atas apa yang diberikan di jalan-Nya. Karenanya, seluruh sahabat pada masa itu berlomba-lomba mengikuti jejak Nabi dalam segala hal, termasuk tentang kedermawanan. Semoga, jejak kedermawanan itu terus terukir pada ummat Muhammad hingga kini selama kita masih terus meleburkan diri pada rantai jejak indah itu, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan penerus kehidupan ini. (***) Aji Setiawan



















Harus Optimis

Kita harus yakin bahwa Allah SWT Mahakuasa. Tak ada yang terlepas dari kekuasaan-Nya. Di ‘tangan-Nyalah’ segala sesuatu. Allah Maha mengatur, Allah Maha berkehendak, Allah yang membuat sesuatu menjadi mulia, dan Allah pula yang membuat sesuatu menjadi hina. Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, meskipun sulit menurut kita, maka itu pasti terjadi.

Kepercayaan akan semua ini, dalam pandangan Islam dikenal dengan sebutan tawakal. Semakin kuat kepercayaan ini, maka akan semakin tebal rasa tawakal, dan akhirnya rasa optimis dalam diri semakin bertambah. Dari rasa tawakal inilah optimis berawal. Rasa optimis haruslah mengalahkan pesimis yang bisa menyerang siapa saja. Jika ingin berhasil, kita harus bisa membangun rasa optimis dalam diri dan kita memulainya dengan memupuk rasa tawakal kepada Allah SWT. 

Optimis yang lahir dari tawakal itulah yang menyebabkan Rasulullah SAW dan para khalifah setelahnya bisa memenangkan banyak pertempuran melawan orang kafir. Dalam berbagai medan peperangan, sebenarnya pasukan muslim selalu kalah dalam hal jumlah prajurit, fasilitas persenjataan, kelengkapan medis, dan lain sebagainya. Tetapi sejarah mencatat, kaum muslimin hampir selalu meraih kemenangan dalam setiap pertempuran. Salah satu kuncinya adalah optimisme dan keyakinan kepada kekuasaan Allah.

Pernah, kaum Muslimin agak pesimis. Yaitu, saat menghadapi Romawi di Perang Yarmuk tahun 13 Hijriah. Jumlah prajurit dan perlengkapan senjata antara dua pasukan sangat tidak berimbang. Pasukan Romawi mencapai 240.000 personel, sedangkan jumlah pasukan Islam tidak sampai 30.000 personel. Melihat hal ini, Panglima Khalid bin Walid, mencoba membangkitkan rasa optimisme pasukan Islam. Ia berteriak, “Betapa sedikitnya pasukan Romawi dan betapa banyak pasukan Islam. Banyak dan sedikit bukan dari jumlah prajurit. Pasukan dianggap banyak jika ia menang dan sedikit jika ia kalah.” 

Ketika itu optimisme pasukan Islam bangkit dan akhirnya mampu memporak-porandakan pasukan Romawi.

Manusia, ketika dihadapkan pada hal-hal sulit atau menemukan sebuah tantangan besar, maka ada dua pilihan yang harus dia ambil salah: maju menabrak dan menjawab tantangan tersebut atau mundur tanpa melakukan apa-apa. Jika dia memilih maju, maka ada dua kemungkinan yang bisa diraih, berhasil atau gagal. Tapi, jika dia memilih diam tanpa ada usaha dan tindakan nyata, maka kemungkinannya hanya satu, yaitu gagal. Dari ini, maka diperlukan pemupukan sikap optimis dalam menghadapi setiap tantangan dan membuang jauh-jauh sikap pesimis.

Optimis merupakan keyakinan diri dan merupakan salah satu sifat yang sangat ditekankan dalam Islam. Dengan sifat optimis seseorang akan bersemangat dalam menjalani hidup ini untuk menjadi lebih baik. Allah melarang dan tidak menyukai orang yang bersikap lemah dan pesimistis baik dalam bertindak, berusaha, maupun berpikir. Dalam al-Qur’an Allah berfirman (artinya): “Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kalianlah orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kalian beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139).
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah,…” (HR an-Nasai dan al-Baihaqi) 

Optimis berarti berusaha semaksimal mungkin dalam mencapai target atau standar ideal. Adanya standar ideal dan visi-misi yang jelas bisa menjadi tolok ukur dan memperjelas arah tujuan kita, agar hidup tidak sekadar mengalir begitu saja. Dengan begitu kita bisa mengetahui di manakah posisi kita dalam standar tersebut, sehingga bisa terpacu untuk menjadi lebih baik.
Memang tidak ada manusia yang sempurna, kenyataan tak selalu sesuai dengan impian. Dalam mewujudkan niat dan rencana yang sudah dibuat, tak jarang kita dihadapkan pada kondisi dan keadaan yang jauh berbeda dengan harapan. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah sejauh mana dan sekeras apa kita berusaha mencapainya. Hal ini jika tidak dihadapi dengan sikap optimis, sabar, dan disertai tawakal kepada Allah akan mempengaruhi pola pikir kita berikutnya. Allah berfirman menceritakan doa hamba-Nya:

“Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau memberikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan kepada yang dikehendaki. Engkau memuliakan yang Engkau kehendaki dan menghinakan yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebaikan.
Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran [3]: 26)

Dengan demikian, sikap optimis akan menjadi energi hidup yang terus menyala di waktu yang tepat. Kita harus selalu menumbuhkan semangat pantang menyerah, terus berdoa sambil berusaha, serta beramal dengan penuh keyakinan akan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala. Bila Allah berkehendak hal tersulit sekalipun akan menjadi sangat mudah bagi kita. Jika belum mencoba, jangan mengatakan tidak bisa. Seorang mukmin tidak boleh kalah sebelum berperang. (***) Aji Setiawan




















Memaknai Hari Raya Idul Fitri
Alhamdulillah. Sekarang kita sudah menyelesaikan perintah menunaikan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh dengan masih diberi kesehatan dan semoga Alloh SWT tetap senantiasa memberikan umur kita yang panjang serta badan yang sehat, dengan tetap diberi kekuatan iman, Islam dan taqwa sehingga dapat bisa menunaikan ibadah puasa kembali pada masa yang akan datang. Sekarang kita akan memasuki waktu bulan Syawal, bulan yang tepat untuk mengisi halal bi halal, sesuai sabda Nabi SAW: Man qooma romadhona imaanan wahtisabn ghufiro lahu ma taqoddama min danbihi”. Yang artinya, ”Siapa saja orang giat beribadah ramadhan kanthi iman dan hanya berharap pahala karena Allah, maka orang tersebut akan diampuni dosa-dosa nya pada masa lampau.”
Karena itu pada kesempatan bulan Syawal atau bulan Idul Fitri pada tahun ini mari kita manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan bulan ini untuk berhalal bi halal dengan keluarga, teman dan tetangga serta kepada orang yang lebih tua. Mari kita memohon halal bi halal dan mohon ridha terhadap hak anak adam atau hubungan sesama. Nabi Muhammad bersabda: Man ahabba anyus satholahu fi rizqihi wayuntsaa a lahu fi atsarihi falyasil rohimahu”. Yang artinya, “Siapa saja orang yang senang dan melapangkan urusan rizqi orang lain maka akan dipanjangkan umurnya dan ditambah sanak keluarganya. (HR Muslim).
Jadi jelaslah tujuan diadakannya idul fitri yang sudah mentradisi tidak saja di Indonesia namun oleh umat Islam seluruh dunia tujuannya adalah untuk saling memaafkan, menghilangkan rasa permusuhan dan menyambung tali silaturahmi. Akan tetap kendati tiap tahun diadakan dirayakan masih sering kita jumpai rasa saling bermusuhan diantara manusia. Ketika bulan Ramadhan berlalu, kesalihan umat islam kembali tereduksi atau makin terkikis. Rasa dendam, iri dan dengki kembali merasuki jiwa manusia. Kesadaran sosial semakin bekurang. Kemungkaran dan kemaksiatan menyebar di mana-mana.
Padahal hakikat idul fitri hakikat hari raya idul fitri sebenarnya adalah mengembalikan manusia pada fitrahnya.Yaitu manusia yang beriman dan berserah diri kepada Allah SWT. Nampaknya, nilai-nilai yang terkandung di dalam hari raya idul fitri belum terlaksana dengan baik. Oleh karena itu sudah saatnya kita merenungi akan hakikat dan makna idul fitri yang sebenarnya.
Hari Raya Idul Fitri adalah momen paling tepat untuk membersihkan jiwa dari segala dosa. Hakikat Idul Fitri adalah mengembalikan manusia pada fitrahnya. Sebagimana Sabda Rasulullah SAW: ”Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Akan tetapi orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi.”(HR Bukhari).
Allah SWT juga berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah): (tetapkanlah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah.Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum:30).
Agar hari raya Idul Fitri lebih bermakna bagi kita maka setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, meluruskan kembali arti silaturahmi. Silaturahmi bukan sekedar saling bersalaman dan saling menziarahi. Akan tetapi , harus ada komitmen untuk saling melupakan rasa permusuhan dan membuka lembaran baru untuk saling memaafkan dan berkasih sayang. Rasulullah SAW bersabda,” Bukanlah menyambung (tali silaturahmi) itu dengan saling membalas (mengunjungi), akan tetapi orang yang menyambung (tali silaturahmi) adalah apabila terputus kerabatnya, dia segera menyambungnya. (HR Turmudzi).
Kedua, melekstarikan hikmah-hikmah puasa Ramadhan. Kita semua tentu mengetahui hikmah dan keutamaan Ramadhan, akan tetapi tidak banyak setelah Ramadhan berakhir.Kebanyakan kaum muslimin yang aktif dan rajin shalat berjamaah , bersedekah,tadarus Al Qur’an, mendengarkan ceramah agama dan rajin ke masjid selama sebulan Ramadhan. Namun ketika Ramadhan berakhir, mereka berubah seperti semula. Oleh karena itu, Ramadhan dapat dijadikan untuk memperkuat pribadi dan karakter kaum muslimin yang sehat, tangguh dan sabar serta kembali ke fitrah manusia yakni manusia-manusia yang cinta damai, sabar, ikhlas , jujur dan muara akhirnya adalah menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa di hadapan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT: ”Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang taqwa. (QS Al Baqarah:183).
Bulan Ramadhan adalah bulan ketika kesabaran kaum muslimin diuji. Salah satu i’tibar atau pelajaran kesabaran adalah dengan membaca kisah-kisah kesabaran para nabi dan Rasulullah.Kesabaran yang timpakan kepada para Nabi dapat diambil hikmahnya dan dicontoh dalam menghadapi obaan Tuhan dan juga gangguan oleh para musuh Nabi. Dengan berpuasa, kesabaran kita asah sehingga ketika menghadapi cobaan dan duri onak kehidupan kita semakin tegar dan bersabar dalam menghadapinya.
Oleh karena itu setelah ramadhan berakhir, aktivitas-aktivitas ibadah yang positif dilakukan selama bulan Ramadhan harus tetap dilestarikan setelah bulan Ramadhan. Diantara hikmah puasa yang menjadi prioritas yang dilakukan saat ini adalah menanamkan jiwa sosial terhadap kaum fakir miskin. Selama bulan Ramadhan kita diperintah untuk memperbanyak sedekah kepada kaum fakir miskin dan juga diperintah untuk mengeluarkan zakat fitrah yang kesemuanya itu merupakan manifestasi dari jiwa sosial kita kepada fakir miskin.
Bersedekah dan mengeluarkan zakat bisa mempersempit jurang sosial antara kaya dan orang miskin. Tidak selayaknya bila dihari raya kita bersenang-senang , bersuka ria bersama sementara tetangga kanan kiri kita hidup menderita serta serba kekurangan.
Di hari yang fitri ini, mari kita saling bermaaf-maafan, bersilaturahmi, berziarah kepada orang tua, guru, teman dan sanak saudara. Lupakan rasa permusuhan diantara kita. Mari kita pererat tali persaudaraan umat Islam. Hilangkan segala perselisihan dan kesalahpahaman , lalu kita buka lembaran baru dengan saling pengertian dan kasih sayang. Sehingga hari raya idul fitri ini yang kita rayakan lebih terasa dan bermakna bagi kita semua. Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari orang-orang kembali (‘idul) kepada kesucian (fitrah) serta tergolong menjadi orang-orang yang menang dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah SWT —dimana kita berhasil menundukan hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita—.Taqabalallahu minna wa minkum, minnal ‘aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir bathin.(*)










































Peristiwa Hijrah

Sejak masa permulaan Rasulullah SAW mengajarkan agama Islam, banyak mendapat tantangan dari kaum Quraisy penduduk Mekkah. Hanya belas orang saja yang mau menerima Islam. Karena itu penduduk Mekkah yang menolak ajaran dalam Islam mengadakan tekanan, ancaman, dan siksaan kepada orang-orang yang mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Sebab mereka dianggap telah melanggar atau merusak agama nenek moyang mereka.
Ancaman , tekanan dan siksaan penduduk Mekkah yang tidak menyukai agana Islam tersebut (kemudian kita sebut sebagai kaum kafir Quraisy) dirasakan sangat berat bagi belasan orang yang telah masuk Islam ke tempat lain. Karena itu mereka memohon ijin kepada Rasulullah SAW untuk hijrah ke tempat lain. Rasulullah SAW mengijinkan dan atas saran Abu Thalib lalu Rasulullah SAW menyuruh mereka pergi ke Habsyi (Abessinia, Ethiopia) di Afrika di mana rajanya adalah seorang Nashrani yang saleh bernama Negus (Najasyi).
Peristiwa ini terjadi pada masa permulaan Islam diajarkan Rasulullah SAW pada bulan Rajab tahun 12 sebelum Hijriah (615 M) atau pada tahun kelima setelah kerasulan Nabi Muhammad SAW. Rombongan yang berhijrah terdiri dari 12 orang pria dan 4 orang wanita. Mereka ini termasuk orang-orang yang mula-mula menerima ajaran Islam dan disebut sebagai muslim awal / pemula (assabiqunal awwalin)
Kebetulan saat itu di pelabuhan Syu’aibah di Teluk Syu’aibah sebelah selatan Jeddah berlabuh dua buah perahu dagang yang segera akan berangkat menuju ke pantai Afrika. Maka rombongan ikut menumpang perahu tersebut sampai ke Massawa, sebuah pelabuhan di pantai Afrika wilayah Habsyi (Ethiopia). Setelah mendarat di Massawa rombongan menuju ke kota Adulis (sekarang Zule) di negeri Habsyi (Abesinia atau Ethiopia), kira kira 50 km sebelah tenggara kota Massawa.
Negeri ini diperintah oleh seorang Raja Nashrani, Negus (Najasyi), tetapi karena mengetahui bahwa ajaran Muhammad (Islam) tidak jauh berbeda dengan ajaran Isa Al Masih , maka beliau memberikan perlindungan kepada kaum muslimin yang hijrah dari Mekkah tersebut. Kaum kafirt Quraisy mendengar keberangkatan rombongan 16 orang tersebut mengejar ke pelabuhan Syu’aibah , namun rombongan kaum muslimin telah berangkat, sehingga tidak bertemu.
Beberapa orang di antara mereka yang mengungsi ini , ada yang pulang kembali ke Mekkah setelah bermukim beberapa bulan tetapi ada yang setahun lebih. Sebagian dari mereka ini kelak juga ada yang kembali ikut mengungsi dalam peristiwa hijrah kedua. Tiga tahun kemudian, setelah rombongan kaum muhajirin tiba di Adulis (zule) di Habsyi dan ternyata mereka kerasan karena memperoleh perlindungan yang adil, menyusulah rombongan kedua pada tahun 617 M atau 9 tahun sebelum Hijriah atau tahun ke 8 sejak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Rombongan hijrah kedua ini jumlahnya terdiri 83 orang pria dan 18 orang wanita. Rombongan ini mencerminkan telah menyebarnya ajaran Islam di berbagai kalangan marga di lingkungan suku Quraisy.
Perpindahan hijrah kedua ini rupa-rupanya terdengar oleh kaum Quraisy, sehingga mereka khawatir kalau-kalau umat Islam di tempat barunya nanti akan menjadi lebih kuat dan ajaran islam akan semakin menyebar. Maka untuk mencegah jangan terjadi peningkatan kekuatan kaum muslimin dan penyebaran Islam, kaum kafir Qurais mengutus dua orang pejabatnya yaitu Amr bin Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah dan dikawal Ammarah bin Walid untuk menghadap Raja Najasyi dengan berbagai macam hadiah yang sangat berharga.
Hijrah yang ketiga kaum muslimin adalah yang paling besar dan paling penting karena dikuti oleh seluruh kaum muslimin Mekkah beserta Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Hijrah ketiga ini membawa perubahan besar bagi kehidupan kaum muslimin dan Islam sendiri. Sebab setelah hijrah dari Mekkah ke Yatasrib, kaum muslimin dapat hidup bebas daari tekanan dan ancaman kaum kafir Quraisy dan dapat mempraktikan kehidupan yang Islami, damai dan tentram secara leluasa di Madinah. Di samping itu Rasulullah SAW bersama para sahabat mempunyai kesempatan untuk menyusun strategi dakwah yang lebih canggih rapi dan lengkap dan dakwah Islam memang memancar dari Madinah dan gencar ke seluruh penjuru dunia dari tepi Timur sampai Barat.
Hijrah ketiga ini kemudian dijadikan permulaan perhitungan tahun dalam kalender Islam karenya tahun itu dalam Islam disebut Tahun Hijriah. Sebab tidak serta merta penggunaan hijrah itu sebagai awal perhitungan kalender Islam, karena setelah 17 tahun hijrah terjadi kaum muslimin baru menggunakannya sebagai permulaan kalender Islam. Itu pun setelah melalui perdebatan yang panjang , sebab sebagian kaum muslimin menghendaki agar perhitungan tahun kalender Islam dimulai dari lahirnya Rasulullah SAW atau saat kenabian Nabi Muhammad SAW bahkan ada yang menginginkan agar dihitung sejak kewafatan Rasulullah SAW.
Periode Madinah ini mengedepankan “ukhuwwah wathaniyyah”, persaudaraan lintas agama, periode ini berlangsung sekitar 10 tahun lamanya dimulai sejak hijrah (perpindahan) Muhammad SAW beserta seluruh umat Islam dari Mekkah ke kota Yatsrib (Madinah). Periode Madinah ini memberikan kesempatan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membangun tatanan masyarakat sipil di bawah naungan Piagam Madinah. Dalam piagam yang memuat 47 pasal itu, sungguh pun dibuat oleh mayoritas umat Islam, sama sekali tidak menyebut asas Islam atau pun dasar al-Qur’an serta al-Hadist.
Substansi piagam Madinah merupakan refleksi atas rekonsiliasi antar etnis dan agama guna membangun pranata sosial-masyarakat yang damai, aman dan sentausa, bebas dari intimidasi, anti penindasan, anti sekterianisme, anti diskriminasi dan anti proteksianisme. Karena itu, wajah Islam semakin fungsional tidak sekedar normatif dan formalitas.
Sosok Islam yang fungsional inilah yang dirindukan oleh masyarakat Yatsrib (golongan Ansor) yang dilanda konflik internal antar warga dan etnis. Kedatangan Muhammad SAW yang berkepribadian luhur dan humanis dan pengikutnya (Muhajirin) sudah barang tentu disambut baik oleh masyarakat Yatsrib (Madinah) yang saat itu masyarakatnya terbilang majemuk (golongan Islam, Yahudi, Nasrani, Paganis serta golongan kafir atau kaum musyrikin). Penghargaan masyarakat Yatsrib kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya sambutan hangat semata, namun juga kepercayaan masyarakat Yatsrib kepada Muhammad SAW untuk memimpin masyarakat yang pluralistik tersebut.
Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah tersebar dengan cepat. Para sahabat yang telah terlebih dahulu  di Madinah tak kuasa menahan rindu kepada pemimpin mereka yang tercinta, Nabi Muhammad SAW.Setiap hari mereka menanti kedatangan Nabi SAW di tapal batas kota Madinah. Akhirnya saat yang dinanti-nanti telah tiba. Rasulullah bersama Abu Bakar As-Shiddiq memasuki kota Madinah dengan selamat.
            Seketika wajah kota Madinah berubah total, menjadi bermandikan cahaya lantaran hadirnya sosok yang mulia dan agung, sang pembawa budi pekerti yang luhur yakni Rasulullah SAW.
            Kegembiraan warga Madinah tak dapat dilukiskan dengan kata-kata . Mereka menangis bahagia menyaksikan sang Kekasih yang selama ini dirindukan, telah nampak di depan mata. Gejolak rindu yang telah lama terpendam dalam dada tak kuasa lagi terbendung.Mata menangis bahagia, haru penuh rasa cinta menembus sukma.
            Anak-anak dan para perempuan yang sudah menjadi penduduk Madinah (kaum Anshor) tampil menabuh rebana sembari melantunkan syair Shalawat Badar sebagai sambutan atas kehadiran sang pembawa risalah Islam pari purna yakni Nabi  SAW:

“Thala’al badru ‘alaina
Min tsaniyatil wada’
Wajabsy syukru ‘alaina   
Mada’a lillahi da’….

(Telah terbit purnama bersinar dari Bukit Wada’ . Wajiblah kita bersyukur tibanya penyeru ke jalan Allah….)
            Banyak gubahan syair saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW di hadapan para sahabat. Upacara ceremonial maulid Nabi SAW ini banyak dinyanyikan saat Mahalul Qiyam (Shalawat Berdiri) mulai dari Maulid Simthud Durar, Barjanji, Ad Dibai, Azhabi, sampai Ad Dhiaul Lami’ semua mengugah dan mengundang kita untuk menghadirkan sosok sang manusia teragung dan mulia Habibuna murrobuna al Musthofa wal wafa Nabiyuna alhady Muhammad SAW.”Marhaban Ahlan wa sahlan….
Rasulullah SAW pun menyambutnya dengan penuh haru dan gembira sebagaimana wujud kegembiraan warga Anshor. Sepanjang hidupnya beliau tidak pernah melarang tetabuhan dan senandung syair yang dipersembahkan warga Madinah dalam menyambut beliau tersebut.
Bahkan beberapa waktu kemudian, ketika beliau tiba dari perang Tabuk, warga Madinah (kaum Anshor) kembali menyambut beliau dengan tetabuhan rebana dan syair shalawat Badr tersebut di atas.
Rasa senang dan gembira warga Madinah akhirnya menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh Madinah dalam menyambut kehadiran Rasulullah SAW, mereka wujudkan dengan senandung syair dan iringan tetabuhan rebana. Dan itu menjadi sunnah—lantaran Rasulullah SAW tidak melarangnya dengan cara mendiamkannya, artinya Rasulullah SAW  menyetujui perbuatan yang dilakukan para sahabat dalam menyambutnya.
Dalam sebuah hadist riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad diceritakan , ketika Rasulullah SAW tiba dari sebuah peperangan, seorang budak wanita berkulit hitam legam datang menemui beliau membawa rebana sambil berkata,”Duhai Rasulullah SAW, aku telah bernazar, jika Allah mengembalikan dirimu dalam keadaan selamat, aku akan menabuh rebana dan bernyanyi di hadapanmu.”
Rasulullah SAW kemudian menjawab,”Jika engkau telah bernazar, tunaikanlah nazarmu. Jika tidak, jangan.”
Wanita itupun kemudian menunaikan nazarnya. Ia kemudian menabuh rebana sambil bernyanyi gembira penuh kerinduan di hadapan Rasulullah SAW cukup lama.
Satu demi satu , sahabat utama Rasuullah SAW seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Utsman bin Afan dan Ali bin Abu Thalib datang menemui Nabi Muhammad SAW. Tapi, perempuan Anshor itu tetap menabuh rebana dan bernyanyi, sementara sang Nabi SAW tetap mendengarkan dan menikmati lantunan senandung syair dan iringan rebana.
Ketika Umar bin Khattab tiba, perempuan tersebut berhenti dan menyembunyikan rebana dengan mendudukinya. Rupa-rupanya perempuan itu takut dengan sahabat Umar bin Khattab yang dikenal keras dan tegas.
Setelah keempat Khulafaur Rasyidin itu berkumpul di hadapan Rasulullah SAW lu, beliau pun berkata , ”Hai Umar, sesungguhnya setan saja takut kepadamu. Ketika aku duduk, perempuan itu menabuh rebana. Ketika Abu Bakar masuk, ia tetap menabuh rebana. Ketika Ali masuk, ia tetap bernyanyi dan menabuh rebana demikian pun ketika Ustman masuk. Akan tetapi, ketika engkau masuk, hai Umar, wanita itu segera menghentikan dan menyembunyikan rebananya.” (HR Tirmidzi).
Dengan demikian, peristiwa di atas menandakan bahwa Rasulullah SAW tidak melarang kesenian rebana tersebut.Melantunkan syair semasa Rasulullah SAW masih hidup juga pernah dilakukan oleh sayiddina Abbas bin Abdul Muthalib seusai perang Tabuk dan Rasulullah SAW mendiamkannya, artinya beliau tidak melarangnya.
Sehingga kebiasaan tersebut di jaman sekarang bukanlah sesuatu baru seperti dalam peringatan pengajian hari-hari besar Islam. Bahkan acara pernikahan, sunnatan, pelepasan naik dan pulang haji pun kadang diiringi tetabuhan rebana.
Selepas menetap di Madinah, masyarakat baru tersebut (state) kemudian dideklarasikan dengan nama Madinah al Munawwarah (kota yang disinari/dicerahkan) dengan mengambil ibukota Madinah.
Sungguhpun jumlah penduduk dan wilayah yang sedikit namun kokohnya bangunan masyarakat warga Madinah, akhirnya mampu mewarnai konstalasi politik global bangsa-bangsa dunia. Kekokohan masyarakat tersebut dikuatkan dengan kesadaran persaudaraan dan persatuan antar warga yang sangat tinggi sehingga terajut “ukhuwwah imaniyah” atau persaudaraan antar- iman yang meliputi lintas agama dan kepercayaan; di samping juga ukhuwwah wathaniyyah, persaudaraan antar etnis.
Kedamaian dan kemakmuran masyarakat Madinah akhirnya menjadi daya tarik tersendiri bagai kawasan lain di Arab. Tidak berapa lama, masyarakat kota Mekkah yang dulu anti-Muhamad SAW dan pengikutnya takluk kepada Madinah tanpa pertumpahan darah. Setelah itu itu satu persatu semenanjung Arabia tertarik dan bergabung di bawah payung pemerintah Madinah. Sampai akhirnya , tatkala Nabi Muhammad SAW wafat, seluruh Semenanjung Arabia sudah menyatu dalam satu pemerintahan. Bahkan di akhir masa pemerintahan Nabi Muhammad SAW, beberapa kawasan di Syam (Syiria), Persia dan Mesir tertarik untuk bergabung bersama pemerintahan Madinah, karena ketiga negara tersebut sudah jenuh ditindas oleh Kaisar Romawi dan Kisro Persia.
Masyarakat mutamaddin sebagai konotasi masyarakat sipil (warga) term bentuk ta’rib (pengaraban) dari masyarakat warga (civil society) merupakan proses tansformasi sosial budaya, sosial politik dan sosial ekonomi pada masyarakat Madinah. Ini merupakan proses transformasi masyarakat sebagai mana yang terjadi di bangsa –bangsa Eropa modern (Civil Society).













Saat Terakhir Rasulullah SAW

Misi Islam, kemudian ditutup pada peistiwa Haji Wada’ satu-satunya ibadah haji yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Tepatnya pada tahun 10 Hijriah, Rasulullah SAW niatnya untuk melaksanakan haji  pada tahun itu. Begitu terdengar, berbondong-bondong ummat Islam datang ke Madinah  hendak mengikuti beliau. Empat hari menjelang habisnya bulan Dzulqo’dah selepas shalat Dzuhur, beliau mulai berangkat dan mulai menunaikan ibadah haji sampai memasuki bulan Dzulhijjah (Haji Qiran).
Tanggal 8 Dzulhijjah, tepatnya hari tarwiyah Rasulullah SAW dalam perjalanan Haji Wada’ pergi ke Mina. Beliau shalat Dzuhur, Ashar , Magrib dan Isya di sana. Setelah beberapa saat hingga matahari terbit, beliau melaksanakan perjalanan hingga Arofah, dimana tenda-tenda sudah di sana. Setelah matahari tergelincir, beliau menunggang unta Al Qashwa hingga tiba di tengah Padang Arafah.  Di sana telah berkumpul sekitar 140.000 jamaah haji , dan beliau menyampaikan pidato yang berisi wasiat penting kepada ummat.
“Wahai sekalian manusia, dengarlah perkataanku! Aku tidak tahu pasti, boleh jadi aku tidak akan ketemu kalian lagi setelah tahun ini dalam keadaan seperti ini. Sesungguhnya darah dan harta kalian suci atas kalian, seperti kesucian hari ini, bulan ini dan di negeri kalian ini. Bertaqwalah  kepada Allah dan hati-hati terhadap masalah wanita, karena kalian memperistri mereka yang menjadikan mereka halal bagi kalian juga karena amanat dan dengan kalimah Allah.
Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian ,  sebagaimana kalian memiliki hak atas mereka. Hak kalian adalah istri kalian tidak boleh mengizinkan orang yang tidak disenangi masuk ke rumah kalian kecuali seizin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan kekejian. Jika mereka berbuat keji, bolehlah kalian menahan mereka dan menjauhi tempat tidur mereka serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin makanan dan pakaian mereka sebaik-baiknya.
Aku telah meninggalkan di tengah mereka sesuatu yang sesuatu yang sekali-kali kalian tidak akan tersesat sesudahnya selagi kalian tetap berpegang teguh kepadanya, yaitu kitab Allah.
Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Sembahlah Allah, dirikanlah shalat lima waktu, laksanakan puasa Ramadhan, bayarlah zakat dengan sukarela, tunaikanlah haji dan taatilah ulil amri kalian, niscaya kalian masuk sorga.
Tentu kalian bertanya-tanya tentang diriku. Lalu apa yang kalian pertanyakan?
Mereka menjawab,”Kami bersaksi bahwa engkau telah bertabligh melaksanakan kewajiban dan nasehat.”
Lalu  bersabda sambil mengacungkan telunjuknya ke langit dan mengarahkannya kepada hadirin,”Ya Allah, persaksikanlah!” (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, 2/265).Orang yang menirukan sabda beliau  Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaaf.
Setelah Rasulullah SAW menyampaikan pidato, turunlah QS Al Maidah ayat 3, yang menyatakan bahwa pada hari itu telah sempurnalah nubuwwah (misi kenabian) Muhammad SAW yang merupakan satu rahmat kenikmatan yang tiada tara bagi kaum muslimin berupa agama Islam, yang nyata-nyata telah mendapat Ridha dari Allah SWT Yang Maha Pengasih.
Pidato khutbah selesai. Bilal kemudian mengumandangkan adzan, disusul dengan iqomah dan shalat Dzuhur qashar dan jama’ secara berjama’ah diimami Rasulullah SAW dan diikuti oleh para jama’ah. Begitu selesai shalat Dzuhur, Bilal iqamah lagi untuk melaksanakan jama’ah shalat Ashar. Selesai shalat, dengan menunggang Al Qashwa, beliau menuju tempat wukuf. Di situ beliau menghabiskan wukuf sampai matahari terbenam.
Keremangan senja lambat laun menghilang. Dengan menggendong Usamah, beliau melanjutkan perjalanan menuju Mina. Di sana shalat Maghrib dan Isya dengan satu adzan dan dua iqamah tanpa ada shalat apa pun di antara keduanya, kemudian beliau berbaring sampai fajar menyingsing.
Setelah adzan dan iqamah , beliau lalu menunaikan shralat Subuh dan kemudian beliau naik Al Qashwa menuju Masy’aril Haram. Dengan menghadap qiblat beliau berdoa, bertahlil dan bertakbir meng-Esa kan Allah SWT.
Dari Muzdalifah beliau pergi menuju Mina sebelum matahari terbit dengan membonceng Al Fadhl bin Abbas hingga tiba di Mahsyar. Kemudian jumrah Aqabah, dan beliau melempar jumlah jumrah tersebut dengan 7 butir kerikil, sambil bertakbir pada setiap kali melempar.
Selanjutnya, beliau menuju ke tempat penyembelihan Kurban dan menyembelih 63 ekor unta, selanjutnya memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk melanjutkan penyembelihan sebanyak 37 ekor unta sehingga genap 100 ekor.
Di situ beliau memerintahkan untuk mengambil sebagian daging masing-masing unta, kemudian dimasak dan beliau ikut menikmati masakan itu berikut kuahnya.
Pada waktu Dhuha, di atas punggung bighal, beliau menyampaikan pidato yang ditirukan Sayidinna Ali bin Abi Thalib dengan suara  nyaring, yang isinya banyak mengulang isi pidato yang disampaikan sebelumnya. Namun demikian, banyak hal penting yang beliau tambahkan, antara lain:
“Kalian pada waktunya akan menghadap Allah SWT. Dia  akan menanyakan amal kalian.Ingatlah jangan kalian kembali sesaat sepeninggalku hingga sebagian kalian memenggal leher sebagian lainnya. Ketahuilah, janganlah seseorang menganiaya diri sendiri (dengan berbuat dosa) , menganiaya anak dan anak menganiaya orang tuanya.Ketahuilah, sesungguhnya syetan sudah putus asa untuk dapat disembah di negeri kalian selamanya. Akan tetapi dia akan ditaati dengan amal-amal yang kaitannya dengan amal-amal kalian remehkan  dan dia pun ridha kepadanya.”
Pada hari Tasyriq, beliau di Mina untuk  melaksanakan ibadah haji lainnya sembari mengajarkan syariat perihal dzikir kepada Allah, menegakan sunnah-sunnah, mengenyahkan tanda-tanda syirik, amalan syirik dan pengaruhnya.  Pada hari tasyriq, beliau menyampaikan pidato yang isinya sama dengan hari-hari sebelumnya.
Anas bin Malik meriwayatkan, pada Hari Senin, ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Subuh –sementara sahabat Abu Bakar RA sedang mengimami mereka—Nabi SAW tidak menemui mereka, tetapi hanya menyingkap tabir kamar Aisyah dan memperhatikan mereka yang berada di shaf-shaf shalat. Kemudian beliau tersenyum.
Abu Bakar mundur hendak berdiri di shaf, karena dia mengira Rasululah SAW hendak keluar untuk shalat. Selanjutnya Anas menuturkan bahwa kaum muslimin hampir terganggu di dalam shalat mereka, karena bergembira dengan keadaan Rasulullah SAW.
Namun, beliau memberikan isyarat dengan tangan beliau agar mereka menyelesaikan shalat. Kemudian, beliau masuk kamar dan menurunkan tabir. Setelah itu, Rasulullah SAW tidak mendapatkan waktu shalat lagi.Ketika waktu Dhuha hampir habis, Nabi SAW memanggil Fatimah, lalu membisikan sesuatu kepadanya, dan Fatimah pun menangis. Kemudian memanggilnya lagi dan membisikan sesuatu, lalu Fatimah tersenyum.
Aisyah berkata, setelah itu, kami bertanya kepada Fatimah tentang hal tersebut.
Fatmah Ra menjawab, ”Nabi SAW membisikiku bahwa beliau akan wafat, lalu aku menangis. Kemudian, beliau membisiku lagi dan mengabarkan aku adalah orang pertama di antara keluarga beliau yang akan menyusul beliau.” (Shahihul Bukhari, II: 638).
Nabi SAW juga mengabarkan kepada Fatimah bahwa dia adalah kaum wanita semesta alam.Fatimah melihat penderitaan berat yang dirasakan oleh Rasulullah SAW sehingga dia berkata, ”Alangkah berat penderitaan ayah!” tetapi beliau menjawab,”Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi.”
Beliau memanggil Hasan dan Husain, lalu mencium keduanya, dan berpesan agar bersikap baik kepada keduanya. Beliau juga memanggil istri-istri beliau, lalu beliau memberi nasehat dan peringatan kepada mereka.
Sakit beliau semakin parah, dan pengaruh racun yang pernah beliau makan (dari daging yang disuguhkan oleh wanita Yahudi) ketika di Khaibar muncul, sampai-sampai beliau berkata,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang kumakan ketika di Khaibar. Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut.”
Beliau juga memberi nasehat kepada orang-orang ,”(perhatikanlah) shalat; dan budak-budak yang kalian miliki!” Beliau menyampaikan wasiat ini hingga beberapa kali.
Tanda-tanda datangnya ajal mulai tampak. Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah ke pangkuannya.Aisyah lalu berkata,” Sesunguhnya di antara nikmat Allah yang dikaruniakan kepadaku adalah bahwa Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan di pangkuanku, serta Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Ketika aku sedang memangku Rasulullah SAW, Abdurahman dan Abu Bakar masuk dan di tangannya ada siwak. Aku melihat Rasulullah SAW memandanginya, sehingga aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Aku bertanya ,’Kuambilkan siwak itu untukmu?’
Beliau memberi isyarat “ya” dengan kepala, lalu kuambilkan siwak itu untuk beliau. Rupanya siwak itu terasa keras bagi beliau, lalu kukatakan,’kulunakkan siwak itu untukmu?’ Beliau memberi isyarat”ya” lalu kulunakkan siwak itu. Setelah itu aku menyikat gigi beliau dengan sebaik-baiknya siwak itu. Sementara itu, di hadapan beliau ada bejana berisi air. Beliau memasukan kedua tangannya ke dalam air itu, lalu mengusapkannya ke wajah seraya berkata,’La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekarat nya.” (Shahih Bukhari II, 640).
Seusai bersiwak, beliau mengangkat kedua tangan beliau yang mulia, atau jari-jarinya mengarahkan pandangannya ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah mendengarkan apa yang beliau katakan itu, beliau berkata,”Ya Allah ampunilah aku; Rahmatillah aku; dan pertemukan aku dengan Kekasih yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi.” (Ad Darimi, Misykatul Mashabih, II: 547)
Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali, lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Maha Tinggi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Peristiwa ini terjadi ketika waktu Dhuha sedang memanas, yaitu pada hari Senin, yaitu pada hari 12 Dzulhijjah 11 H. Ketika itu beliau berusia 63 lebih empat hari.








Cinta Nabi SAW

Salah satu hadits yang terkenal mengungkapkan betapa penting kecintaan kaum muslimin pada Rasulullah SAW. Sabda beliau, “Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari).
Memang, mencintai Rasulullah SAW merupakan salah satu bukti keimanan seorang muslim. Sebaliknya, iman pulalah yang membuat para sahabat sangat setia mendampingi beliau, baik dalam susah maupun senang, dalam damai maupun perang. Kecintaan itu bukan hanya di lidah, melainkan terwujud dengan perbuatan nyata.
Betapa cinta sahabat kepada Rasulullah SAW, tergambar ketika Rasulullah SAW bersama Abu Bakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasulullah SAW tertidur berbantalkan paha Abu Bakar. Tiba-tiba Abu Bakar merasa kesakitan karena kakinya digigit kalajengking. Tapi, dia berusaha sekiat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan sampai pahanya bergerak—khawatir Rasulullah SAW terbangun.
Salah seorang sahabat, Zaid bin Datsima, tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Ketika itu, ia sempat disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. ”Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya.
“Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan.
Kisah kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW banyak diungkapkan dalam sejarah. Salah satunya ditunjukan oleh Umar bin Khatthab. ”Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku,” kata Umar. Mendengar itu, Rasulullah SAW menjawab, ”Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”
”Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah SAW pun menukas, ”Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu” (HR Bukhari).

Hari Kiamat
Penghormatan dan pemuliaan terhadap Rasulullah SAW memang merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS Al Fath : 8-9).
Sebuah ayat menekankan pentingnya kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, ”Katakanlah (wahai Muhammad), jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaanmu, perdagangan yang kamu kekhawatirkan kerugiannya, dan rumah yang kamu senangi, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang fasik” (QS At-Taubah: 24).
Kecintaan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW juga merupakan faktor penting bagi keselamatannya di hari kiamat kelak. Hal itu terungkap ketika suatu hari seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, ”Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka jawab Rasulullah SAW, ”Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Jawab sahabat itu, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, sabda Rasulullah SAW, ”Insya Allah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.”
Menurut Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Shafwan, dan Abu Dzar, Rasulullah SAW telah bersabda mengenai seseorang yang dengan tulus mencintainya, ”Seseorang akan berada di Yaumil Mahsyar bersama orang yang dicintainya.” Mendengar itu, para sahabat sangat berbahagia karena mereka sangat mencintai beliau.
Suatu hari seorang sahabat hadir dalam suatu majelis bersama Rasulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?”
Mendengar itu Rasulullah terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, ”Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa : 69-70). 
Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW inilah pula yang menggerakkan mereka menyebarkan berdakwah ke seluruh penjuru dunia.
Kecintaan luar biasa kepada Rasulullah SAW itu tergambar pada diri seorang perempuan—beberapa saat usai Perang Uhud. Dia baru saja kehilangan ayah, kakak laki-laki dan suaminya yang gugur sebagai syuhada. Ia bukannya meratapi mereka, tapi menanyakan nasib rasulullah SAW, ”Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, semoga Allah memberkati dan melimpahkan kedamaian kepadanya.”
”Nabi baik-baik saja sebagaimana engkau mengharapkannya,” jawab para sahabat. Lalu kata perempuan itu lagi, “Tunjukanlah dia kepadaku hingga aku dapat memandangnya.” Kemudian para sahabat menunjukan posisi Rasulullah SAW. “Sungguh, kini semua deritaku tak ada artinya. Sebab, engkau selamat,” kata perempuan itu kepada Rasulullah SAW.
”Mereka yang mencintaiku dengan sangat mendalam adalah orang-orang yang menjemputku. Sebagian dari mereka bersedia mengorbankan keluarga dan kekayaannya untuk berjumpa denganku,” sabda Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah (HR Muslim, Bukhari, Abu Dzar).
Betapa kecintaan sahabat Bilal kepada Rasulullah SAW, terungkap menjelang ia meninggal. Bilal melarang isterinya bersedih hati, sebab, katanya, “Justru ini adalah kesempatan yang menyenangkan, karena besok aku akan berjumpa dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.” Wafatnya Rasulullah SAW merupakan kesedihan luar biasa bagi para sahabat dan pencintanya. Dikisahkan, ada seorang perempuan yang menangis di makam Rasulullah SAW sampai ia meninggal.
Demikianlah gambaran betapa luar biasa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Untuk mengungkapkan rasa cinta itu, sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya.
Itulah cinta sejati, sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (*****)Aji Setiawan, penulis tinggal di Purbalingga 
 
































Aji Setiawan,ST lahir pada Hari Minggu Wage, 1 Oktober 1978. Di lahirkan, tepatnya di Desa Cipawon, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah, Indonesia.
Menempuh pendidikan formal diawali dari Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah II Cipawon di desa Cipawon, kemudian sesudah itu dilanjutkan ke SMP I Bukateja. Pendidikannya berlanjut ke kota kripik, tepatnya sejak 1993-1996, di SMA 3 Purwokerto.
Selepas dari Purwokerto, tahun 1996, ia pergi ke Yogyakarta dan mengambil pendidikan di Jurusan Teknik Manajemen Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta.
Sejak tahun 1997 ia mulai malang melintang di berbagai lembaga kampus, mulai dari Himpunan Mahasiswa TMI-FTI UII, Lembaga Pers Mahasiswa “Profesi” FTI, LPM “Himmah” UII, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Teknologi Industri _UII Jogjakarta, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat KH Wahid Hasyim UII Jogjakarta, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi Korda Jogjakarta (1999-2002).
Lulus kuliah tahun Oktober 2002, kemudian bekerja di Majalah alKisah, anekayess group! tahun 2004-2007. Staff Ahli Fraksi Persatuan Pembaharuan Bangsa Kab Purbalingga 2012-2014.
Memutuskan diri menjadi kontributor banyak media dari tahun 2009. Mulai dari alKisah, Risalah NU, Media Ummat, Sufi, http://www.nu.or.id , www.berita9online.com , mediasantri, islampos, Suraupos,  muslimmedia, majalah tabloid online Islam  ,dan  lain-lain.
Full Name: Aji Setiawan, ST
Born: October 1, 1978
Home Address: Cipawon, 6/1, Bukateja, Central Java Purbalingga 53 382
                                                                                              ,
Tel NO: 081229667400


Account: BANK MANDIRI: 1390010915175
Mengetahui, 


Aji Setiawan









DAFTAR PUSTAKA


1. Riyadlus Solihin, Imam An Nawawi
2. Shahih Bukhari, Imam Bukhari
3. Fadhail ‘Amal, Maaulana Muhammad Zakaria al Kandhalawi
4. Sejarah Hidup Muhammad Siarah Nabawiyah, Syaikh Shafiuyur Rahman Al Mubarakfury
5. Khutbah-khutbah Rasulullah SAW, Muhammad Khalil Al Khatib
6. Tuntutan Tanggung Jawab Terhadap Ahlul Bait dan Kafaahnya, Sayid Muhdor Shahab
7. Kumpulan Kisah Mukjizat Rasulullah SAW
8. Asbabul Wurud 1-3, Ibnu Hamzah Al Husaini Al Hanafi Ad Damsyiqi
9. Majalah Cahaya Nabawiy , Pasuruan
10. Majalah alKisah , Jakarta