Catatan Panjang
Seorang Demonstran
Aji Setiawan
Catatan Panjang Seorang Demonstran
Sekedar Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadhirat Allah Jala Jalalluhu wa Rahmatuhu atas Rahmat dan Rahiem-Nya, cerita sederhana ini bisa diselesaikan. Tak lupa Shalawat dan Salam penulis haturkan kepada junjungan kita, yakni Sayidina Muhammad Rasulullah SAW beserta sahabat dan pengikutnya yang telah membawa ajaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin, sehingga kehidupan umat manusia yang semula penuh kegelapan menjadi terang benderang penuh cahaya kebenaran (mina dhulumat illa nur).
Awal menulis cerita ini sangat sederhana. Bermula dari sebuah surat seorang kawan, yang memotivasi penulis untuk membuat sebuah karya tulis yang baik dan bagus.
Sebuah tantangan yang menarik, namun getir untuk dilakukan. Dalam usia yang relatif belum matang benar, penulis menyadari bahwa pekerjaan sebagai jurnalis yang melekat pada diri penulis, masih jauh dari gambaran banyak orang sebagai jurnalis yang baik.
Penulis harus mengakui dengan jujur bahwa kemampuan yang minim dan miskin pengetahuan, memacu penulis untuk terus belajar menulis dengan membaca ulang buku-buku referensi yang ada dan berdiskusi dengan kawan-kawan lama.
Penulis lebih senang dikategorikan sebagai “pengrajin kata” atau “pemulung buku” dan kemudian “didaur” ulang menjadi “tulisan-tulisan”, yang kata sebagian redaktur “layak” muat.
Dari perjumpaan-perjumpaan dengan kawan-kawan lama itulah, banyak memberikan ide-ide baru untuk berkarya dan inspirasi untuk melakukan intropeksi diri secara terus menerus.
Menjadi jurnalis yang baik, dengan pengetahuan dan komitmen perjuangan yang tinggi, dirasa sangat jauh dari gambaran penulis. Komitmen untuk tidak sekedar terjun ke lapangan untuk reportase serta mengemban amanah publik. Itulah pengabdian tiada batas dari seorang jurnalis.
Setidaknya, pengalaman dari menulis novel, selain mengasah diri agar bentuk tulisan semakin menarik, dan tentunya sambil menemukan beberapa pengalaman-pengalaman baru. Tentu saja, pengalaman menulis novel ini, semoga akan menambah kreasi dan semangat baru dalam berkarya di kemudian hari.
Sebagai reporter pemula, penulis banyak kehilangan waktu di tempat kerja atau sekedar untuk reportase lapangan. Di tengah gelombang waktu dan rutinitas, setidaknya masih ada sebuah celah. Sebuah “oase” yang kering. Para jurnalisnya menyebutnya waktu ‘tenggat’ atau waktu sebelum deadline, sementara pekerjaan telah selesai.
“Apa saja yang harus dilakukan pada waktu ‘tenggat’?”
Mulanya ingin mencatat kelucuan-lucuan hidup, sedih atau apa lah segala rasa yang telah dijalani oleh penulis. Yah mengisi waktu luang, yang tersisa sebagai teman sepi dan jalan kesunyian....
Pertanyaan-pertanyaan yang sering dijumpai oleh penulis, ketika beban pekerjaan telah selesai; Bagaimana memanfaatkan waktu ‘tenggat’?
Waktu tenggat, itulah yang sering dipergunakan oleh para jurnalis muda untuk memoles karya-karya jurnalistiknya agar lebih bermutu. Lain dengan penulis, kelebihan waktu luang itu dimanfaatkan untuk menulis sebuah memori panjang yang diharapkan mampu mengungkapkan beberapa catatan masa lalu menjadi catatan yang menarik. Syukur mampu dipetik beberapa makna dari kisah-kisah yang ada di dalamnya.
Memang, menulis sebuah cerita dari kejadian masa lalu kemudian mencoba dikumpulkan dalam bentuk cerita panjang, penuh dengan tantangan. Mulai dari pemilihan nama-nama pelaku, seperti Yudistira yang ada pada bangunan cerita, diusahakan tidak sama benar dengan nama aslinya. Walau beberapa nama kawan dari memory yang tersimpan benar-benar kadang lepas begitu saja, walau telah disamarkan.
Cerita-cerita yang ada di dalamnya sendiri mulai ditulis tepat 3 April 1998 (masih berupa 3 lembar tulisan tangan). Pada awal 2000-an sebagian cerita (hampir 30%) dari keseluruhan cerita terkumpul dalam email seorang kawan dan sebagian lagi tersimpan di laptop adik kelas.
Baru pada tahun 2003-an, beberapa naskah yang tercerai berai berhasil dikumpulan (baik berupa draft naskah, dalam email dan dokumen di Laptop Sdr/i. Ahmad Antono (Aan), TMI UII klas Internasional angkatan 1999). Temen, sobat yang urakan, tapi saya kira setia kawan.
Uniknya, akhir Juli 2007 catatan penting di Laptop temanku itu kembali diketemukan/dipertemukan, ini yang sungguh luar biasa. Setelah semua draft naskah terkumpul, cerita ini dapat dilanjutkan kembali dan diedit sana sini. Jadi sampai saat ini sudah hampir lima belas tahun novel ini ditulis.
Memang sangat lamban dalam menulis novel ini. Kesibukan dan kesempatan menulis, dua sisi yang susah untuk digabungkan. Apalagi, mengumpulkan “celoteh-celoteh nakal” yang konon, bisa menjadi penyembuh stress!!!!
Alhamdulillah, di tengah rutinitas yang semakin banyak, penulis mencoba dapat memoles cerita-cerita di dalamnya, dengan banyak masukan dan saran dari kawan-kawan baik melalui milis maupun pertemuan langsung dengan penulis.
Hanya karena rasa optimisme-lah yang terpatri dalam diri penulis, hingga karya sastra ini dapat diselesaikan. Apalagi, karya sastra tak lekang oleh waktu. Praktis seluruh bangunan cerita adalah berdasar rekaman masa muda penulis, setidaknya, ini memudahkan penulis untuk merumuskan seluruh bangunan cerita yang ada di dalamnya. Semoga ini bisa memotivasi teman-teman untuk menulis pengalaman hidup dan memberikan secercah “makna-makna” (doa serta harapan) kehidupan yang lebih baik bagi teman-teman sekalian.
Cerita ini berisi kisah Yudistira sosok penuh heroik. Dalam “Catatan Panjang Seorang Demonstran”, sang tokoh cerita, Yudi, digambarkan mewakili karakter dan sikap sebagian kecil dari perjalanan (rihlah) panjang para pemuda di jamannya, terutama angkatan 90-an.
Yudi dalam cerita ini digambarkan sebagai tokoh central yang belajar dari muda, lalu menjadi tokoh gerakan. Sosoknya di tengah kawan-kawan selalu menumbuhkan semangat perjuangan (siap menumpahkan kegelisahan?....).
Apa artinya? Setiap masa pergolakan mempunyai zaman sendiri. Dan seperti cerita masa-masa muda, bumbu-bumbu romantisme di tengah perjuangan bermekaran dari awal cerita sampai akhir cerita.
Penulis mencoba melakukan deskripsi singkat proses perjuangan angkatan 90-an. Walau demikian, periode sejarah 90-an masih jarang diungkap oleh karya-karya sastra yang ada. Apakah para aktivis gerakan demonstran angkatan 90-an akan sama seperti 66?
Pertanyaan yang lumayan sulit dijawab memang.
Dan sejarah telah banyak mencatatnya, kita pun sering menyaksikan kejadian-kejadian sejarah senantiasa berulang. Cuma, kita bebal, --sangat bebal!-- karena sering mengulanginya, tanpa sadar.
Terlepas dari keseluruhan cerita ini, penulis telah mencoba merekam dan ingin menyampaikan pesan-pesan yang bermakna bahwa masa muda mestilah di isi dengan berbagai kegiatan yang sarat bagi kepentingan nusa dan bangsa, bukan gerakan-gerakan dan langkah-langkah yang merusak (mafasid). Dan Yudistira mengisi masa muda penuh dengan idealisme (space cita-cita) yang tetap terkepal sampai akhir hayatnya.
Cerita-cerita masa muda yang penuh sentuhan idealisme yang kukuh dari awal sampai akhir cerita menegaskan bangunan cerita akan ide perubahan pada citra diri para pemuda. Penulis menyakini bahwa pemuda adalah agent perubahan (agent of change) paling potensial bagi bangsa ini.
Sebab, di tangan pemuda lah, bangsa ini bisa berubah. Keadaan generasi muda sekarang ini tengah (atau telah?) bergeser ke lintas peradaban yang penuh virus-virus kapitalisme --materialisme, hedonisme, konsumerisme dll—bila itu terjadi, maka bangsa ini akan kehilangan identitas dan bahkan --paling fatal-- tercerabut dari akar sosial yang melingkupinya.
Tema akhir yang tragis dan kata sebagian kawan heroik, hanyalah segelintir akhir dari seorang pejuang. Mungkin, banyak rekan-rekan lain yang dengan senang hati justeru bersetubuh dengan kekuasaan, tanpa mengingat kembali masa-masa perjuangan. Pilihan akhir cerita ini, cuma rekaan penulis.
Paling tidak, perjuangan pada masa lalu, bisa diambil hikmahnya --senantiasa mengingatkan kita di mana saja. Bahwa ada satu kunci terpenting dari kejadian masa silam, yakni perjuangan senantiasa berjalan setiap waktu dan tidak bisa dilewatkan dalam sekejap pun. Ia senantiasa mengalir dalam darah anak manusia, antara konsistensi sebuah pilihan dan bukan sekedar akhir dari sebuah pilihan.
Semoga cerita ini bermanfaat bagi pembaca dan saran kritiknya, sangat penulis harapkan.
Wallahul Muwaffik illa Aqwamith Tharieq.
Salam tangan terkepal dan tetap majoe ke moeka!
1. Masa kecil di Desa
Yudistira adalah anak pertama dari KH. Muhammad seorang ulama tersohor dari sebuah desa terpencil di belahan pantai utara Jawa. Walau Yudi masih keturunan kyai, ia bukanlah termasuk golongan ningrat yang membangun menara gading dalam lingkungan santri yang begitu ketat.
Justru melalui sentuhan kedua orangtuanya, ia mendidik dirinya untuk membaur hidup dengan kalangan masyarakat mana pun. Bahkan, KH. Muhammad, ayah Yudi, sering menitipkan Yudi pada mushala-mushala yang ada di kampungnya. Praktis, sejak kecil Yudi telah membaur dalam alam pendidikan masyarakat desa yang sarat religius itu.
Sedari kecil, Yudi tak segan-segan bergabung dengan teman-teman sebayanya di kampung. Sikap inilah yang kelak menempanya menjadi pemuda yang berjiwa suka berkawan dengan siapa saja dan di mana pun, egaliter.
Ibarat ikan, ia akan berjalan sesuka kehendak hatinya, selama komunitas itu masih bernuansa air, sang ikan akan tetap hidup dan melangsungkan kehidupan nya. ‘Sang ikan’ peradaban itu akan berenang mengitari lautan, berkelana melawan arus jaman ---yang tengah lari tak karuan--tunggang langgang.
Usia Yudistira waktu itu baru enam belas tahun. Sebagai anak tunggal, dari kecil waktunya dihabiskan untuk mengaji, belajar dan bermain. Selepas sekolah madrasah ibtidaiyah yang terletak persis di depan rumahnya, Yudi melanjutkan belajar pada madrasah diniyah di sebuah pondok pesantren. Jelang Maghrib, ia bermain dengan kawan sebayanya. Dan bila malam tiba, aktivitasnya ditutup dengan mengaji ilmu agama pada ayah tercinta di mushala depan rumahnya.
Didikan yang keras dari sang ayah tercinta, tak sia-sia. Pada usia yang relatif muda, ia telah banyak menyerap ilmu agama dari ulama-ulama di desanya. Hampir semua guru-guru mushala yang ada, telah dikenalnya dengan baik dan dirambah ilmu-ilmu agama yang dimilikinya.
Tak heran, Yudi selain menguasai ilmu-ilmu umum dari madrasah, ia juga menguasai ilmu agama dengan pengetahuan plus. Ketika masa pendidikannya telah memasuki sekolah menengah dan atas, Yudi pun senantiasa menempati rangking pertama.
Ditunjang oleh semangat belajarnya yang sangat tinggi. Ia selalu menyempatkan diri untuk membaca beberapa lembar mata pelajaran hari itu setiap selepas shalat Subuh, itu salah satu kunci belajar suksesnya. ...
***
Sore hari mulai menampakan diri. Semburat warna merah jingga di ufuk barat menyeruak mengangkasa. Asap rokok lintingan mengepul menemani suasana dua pemuda desa itu di lapangan belakang kampung.
Selepas asar, waktunya dihabiskan di sawah atau ladang milik ayahnya sambil menggembala kambing bersama Karjo, teman dekatnya sejak kecil. Karjo di mata Yudi bukanlah sekadar teman biasa. Sejak usia lima tahun, Yudi dan Karjo senantiasa bersama-sama, apalagi hubungan orang tua Karjo dan Yudi masih sangat dekat.
Persahabatan yang lekat inilah, membuat Yudi dan Karjo mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang sama. Termasuk memelihara kambing-kambing lokal. Mereka mempunyai belasan kambing yang tiap sore dilepas di lapangan rumput kampung mereka. Mula-mula yang menggembala kambing di situ hanya dua orang, ia dan Karjo saja.
Semakin hari makin banyak orang yang memiliki kambing dan ikut nimbrung untuk menggembala kambing. Pada mulanya mereka sih biasa saja, namun lambat laun, banyak penduduk kampung lain yang ikut serta menggembala kambing di lapangan kecil kampung mereka. Lapangan penuh sesak dengan ribuan kambing dan berebut rumput hijau pada kampung mereka.
Berawal dari saling patok daerah merumput, lama kelamaan kemudian mereka mulai sering “berebut” daerah merumput. Itu mungkin yang menyebabkan Yudi dan Karjo sudah jenuh menjadi penggembala kambing. Padahal, kalau saja “tukang pangon”, punya budaya tertib, mau antri dan sadar diri tanpa saling berebut pun, rumput-rumput yang hijau royo-royo di lapangan kampung pun akan kebagian semua. Asal, tidak serakah dan mau menang sendiri tentunya.
“Jo, sekarang kok banyak yang memelihara kambing, ya?” tanya Yudi sambil membetulkan tali di samping pohon randu.
“Iya, kang. Padahal dua tahun yang lalu sangat sedikit yang memelihara,” jawab Karjo singkat.
“Musim kemarau sebentar lagi, rumput-rumput banyak yang kering. Apa kita masih bisa ngasih makan sama kambing-kambing kita?”
“Entahlah, Kang. Musimnya memang jaman rebutan. Siapa cepat dia dapat. Padahal, kita khan punya budaya ngalahan. Orang mengalah itu bukan berarti orang yang kalah, ” kata Karjo dengan nada rendah.
Ruang makna kehidupan; kalah dan soal kemenangan yang sejati. “Tukang Pangon” kebersamaan dan latihan menyerap kepemimpinan atas nafsu kebinatangan yang ada pada diri manusia.........
“Lho ini bukan soal menang atau kalah, Jo. Tapi, soal etika dan budaya tepa selira,” kata Yudi.
“Tapi, khan sekarang orang sudah tidak peduli dengan budaya guyub rukun apalagi kemauan untuk berbagi. Ini yang membuat kita susah untuk mencari rumput lagi. Padahal tempat merumput yang enak cuma di lapangan kampung kita yang penuh rumput menghijau seperti ini,” terang Karjo.
“Enggak, kalau kita kesulitan cari rumput, kan nanti kambing-kambingnya akan cepat kurus. Apalagi musim kemarau telah tiba,” papar Yudi.
Memang saat itu beberapa kampung di sekitar desa Yudi juga terkena dampak kekeringan panjang. Saat siang hari, panas mentari membakar tubuh namun berbeda ketika malam hari udara terasa lebih dingin dari biasanya.
“Ya, kalau susah cari rumput, dijual saja. Gitu saja kok repot!” ketus Karjo.
“Ya, repot, Jo! Nanti keburu harganya murah,”
“Ah, tahu aja kamu...aku minta rokoknya!” sambil Karjo dengan cekatan melinting sebatang rokok dan menyalakannya.
“Kalau dijual sekarang, kan masih gemuk-gemuk dan otomatis harganya mahal!”
“Terus kita mau ngapain?” tanya Karjo dengan penasaran.
“Sebentar lagi kan ujian Ebtanas, lebih baik kita belajar yang rajin,”
“Bagus juga idemu. Kalau mau jual kambing, nanti coba aku tanyakan dulu sama Bapak, siapa tahu ada pertimbangan lain,” kata Karjo.
“Oke deh. Tak tunggu lho jawabannya besok pagi,”
“Yuk kita pulang, sudah sore, nih!
“Ayo!!!”
Kemudian Yudistira dan Karjo berjalan beriringan menelusuri jalan setapak di perbatasan desa itu. Dan matahari telah mulai membenamkan diri. Penduduk kampung kecil di kaki gunung Slamet itu mulai menutup pintu dan jendela rumahnya. Cahaya lampu jalan juga sebagian telah dinyalakan.
Suara Adzan dari masjid kampung memanggil jama’ah, dengan langkah tergesa-gesa mereka berpisah di ujung gang desa.
Akhirnya diputuskan kambing-kambing yang biasa mereka pelihara dijual. Bosan kali ya? hidup kok untuk menggembala kambing. Tiap sore harus mengeluarkan kambing sambil mencari rumput segar. “Kagak gaul looh, begitooo,” kata sebagian anak kampung jaman sekarang.
Sejak itu, Yudi dan Karjo sudah tidak sering bertemu lagi, apalagi ini menjelang ujian Ebtanas, jadi masing-masing sibuk mempersiapkan ujian. Paling mereka bertemu di sekolah, itu pun jarang ngobrolnya.
Ujian berlalu, dan Yudistira merasa bisa mengerjakan semua. Masih ingat waktu itu, ujian IPA Yudistira selesaikan dengan sangat memuaskan. Pengumuman tiba, Yudi dan Karjo lulus dengan nilai terbaik se-SMA. Karjo memutuskan diri untuk mengadu nasib ke Jakarta dan Yudi harus melanjutkan kuliah di Jogja.
***
“Yudi, baju dan oleh-oleh untuk Pak Dhe sudah di masukan ke tas belum?” tanya Ayah Yudi dari samping kamar.
“Sudah, Pak?” jawabnya singkat sambil memberesi beberapa buku pelajaran untuk persiapan ujian masuk.
“Ini uang selama kamu di Jogja, pakai yang irit. Jangan untuk keperluan yang tidak-tidak. Kalau uangnya berlebih, jangan lupa ditabung,” pesan Ayah Yudi sambil menyerahkan segepok amplop yang tidak terlalu tebal.
Ayah Yudi lalu mengajak Yudi untuk duduk di ruang tengah, tempat ruang keluarga.
“Kamu telah dewasa, sebentar lagi kamu akan hidup di rantau orang. Segala pelajaran yang kamu dapat di kampung, akan bertambah dengan dunia baru. Seraplah ilmu-ilmu pengetahuan namun jangan remehkan akan ajaran keberkahan desa,” kata KH Muhammad dengan penuh kebapakan.
Ayah Yudi yang berumur sekitar 40 tahun itu, tetap tegar. Kulitnya yang kehitam-hitaman, tanda sering pergi ke sawah. Ia kemudian melanjutkan lagi pesannya.
“Kamu boleh menyerap kosmopolitan kehidupan kota. Kamu serap ilmunya, namun kamu tidak larut dalam budaya mereka. Karena itulah, hidup di rantau membutuhkan bekal. Bekalmu yang utama bukan kekayaan, kemegahan atau pangkat. Bekalmu yang utama adalah kamu bisa mengerti siapa diri mu yang sebenarnya. Jadilah dirimu sendiri (be your self)! Kamu paham yang aku maksud?”
“Mboten, Romo,” kata Yudi pendek.
“Kamu adalah anak tertuaku. Sengaja aku memberi mu nama Yudistira. Yudistira adalah pemuka Pandawa, aku berharap engkau bisa menjadi pemimpin. Engkau bisa menyelami ajaran Hyang Ismaya (Begawan Semar). Sebab dengan jiwa yang kasar (Semar) inilah yang bisa menjaga kelima wujud dari Pandawa, berujud panca (lima) indera perasaan tubuh manusia. Kalau engkau sudah menguasai ini semua, dunia ini akan menjadi mudah kamu tundukan dan kamu kuasai,” terang KH Muhammad.
KH Muhammad sejak menjadi santri sampai tua sangat senang dengan dunia wayang. Ia hafal betul akan sosok-sosok dunia pewayangan, tak heran di rumahnya berjejer gambar-gambar wayang. Ia kemudian mengambil sebuah wayang, Sang Semar.
“Yud. Coba kamu perhatikan Wayang Purwa ini. Wayang ini adalah perlambang kehidupan manusia di dunia. Ibu bapak dari dunia wayang yakni Hyang Manikmaya (Betara Guru) dan Hyang Ismaya (Semar).”
Sambil memegang Wayang Semar ia kemudian melanjutkan, ”Semar inilah yang menjaga lima indera; perasaan hidung (Judistira), telinga (Werkudara), mata (Arjuna), mulut (Nakula) dan peraba (Sadewa). Jangan sekali-kali kelima perasaan itu menempuh jalan kesalahan.”
“Inilah penjagaan Semar untuk kesejahteraan Pandawa supaya mereka menjauhi permusuhan dengan Korawa (amarah). Kalau saja para pemimpin, siapa pun dia, kalau tahu rahasia dari Sang Semar ini, mereka bisa mencapai cita-cita kepemimpinannya dengan mudah. Sang Semar inilah yang bisa menampung dan memecahkan segala masalah.”
Tetapi, lanjut KH Muhammad, perang batin antara Pandawa dan Korawa akan terus berkobar, sampai penghabisan (Bratayudha). “Tahukah engkau kunci kemenangan Pandawa itu dalam perang Bratayudha?” tuturnya.
“Tidak tahu, Romo,”
“Orang yang mengalahkan nafsu jahatnya sendiri (Niwatakawaca) dia akan dapat mencapai kemenangan, yakni kebahagiaan (sorga). Ini telah diterangkan oleh Allah Jala Jallaluhu Wa Rahmatuhu dalam firman QS An Nazi’at:40 yang artinya, ’Dan ada pun orang yang takut (tunduk) kepada kebesaran Tuhannya, dan ia mencegah diri dari pada hawa nafsunya. Maka sesungguhnya sorga itu ialah tempatnya kembali’. Inilah ajaran Tuhan yang luar biasa bagi kita sekalian umat di bumi, kalau berfikir,” terang nya lebih lanjut.
“Romo telah membekali beberapa pesan untuk senantiasa menjaga diri di rantau orang. Kamu sekarang harus pandai-pandai menjaga diri. Gapailah ilmu dengan penuh semangat dan jangan pernah berputus asa dalam mencari ilmu. Sesulit apa pun engkau sedang mencari ilmu, niscaya pertolongan Allah selalu mendekat kepada mu. Percayalah dan yakinilah benar-benar.”
Kemudian ia mengeluarkan sepeda palang, merek Gazele yang disimpan di kamar belakang.
“Ayo berangkat!” perintah Ayah Yudistira lagi. Kemudian segera Yudi memakai tas ransel biru itu dan buru-buru Yudistira menuju ke Ibu yang ada di seberang pintu.
“Ananda mau berangkat ke Jogja, Bu. Ananda mohon do’a restunya!” sambil Yudi mencium lembut tangan Ibunda.
Bagi Yudi, sosok sang ibunda adalah sosok perempuan yang begitu mengagumkan. Dari sang ibunda, Yudi belajar banyak hal. Mulai dari sikap mandiri sampai kebiasaan-kebiasaan memasak.
Sungguh, hoby yang sering dicemooh oleh keluarganya, hoby memasak adalah pekerjaan perempuan. Tapi, lewat sentuhan perasaan dan pembelaan ibundanyalah, Yudi mendapat keleluasaan dan kelapangan waktu untuk belajar memasak.
“Hati-hati nak, di rantau! Pinter-pinter jaga diri,” sambil ibu mencium ubun-ubun kepala Yudi, penuh kasih sayang.
Yudi kemudian membonceng sepeda yang dikemudikan bapaknya itu. Sepeda melaju pelan di jalan berdebu. Yudi melihat anak-anak sedang bermain sepakbola, ia mencari-cari di mana Karjo?
Biasanya Karjo nongkrong di bawah pohon jambu melihat anak-anak bermain. Ah... dia ternyata sedang duduk berjongkok sendirian di samping tembok.
“Pak, pak! Berhenti sebentar, Yudi mau pamit sama Karjo!”
Kemudian sepeda direm dan berhenti persis di depan Karjo.
“Jo, Yudi mau ke Jogja. Kapan kamu mau ke Jakarta?” sambil tangan Yudi menyalaminya dengan erat.
“Mungkin, seminggu lagi. Habis uangnya belum kumpul,” jawabnya singkat. Yudi melihat air matanya meleleh di sela-sela pipinya yang hitam.
“Ah, jangan cengeng, Jo. Kalau kamu kangen, kirimi Yudi surat. Pasti kubalas,” pinta Yudi. (suasana sedih dan penuh keharuan )...
“Hati-hati, Kang! Semoga kamu dapat masuk ke perguruan tinggi di Jogja,” sambil ia merangkul tubuh Yudi.
“Sudah, ya Jo. Kakang mau berangkat nih,” kata Yudi sambil melepas tubuh kekar Karjo. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju kota kecamatan.
Kecamatan Yudi memang jauh dari kota besar. Tapi, jalur bis ke kota-kota antar provinsi sering lewat jalan kecamatan. Setelah menempuh sekitar limabelas menit perjalanan, Yudi sampai juga di kota kecamatan.
Hari masih siang, dan tampak hilir mudik para penjual di pasar, menawarkan dagangan. Bis datang, segera Yudi pamit pada bapaknya yang menunggu di atas sepeda bututnya, lepas itu Yudi kemudian naik ke dalam bis menuju Jogja.
2. Kota Gudeg, kota Pelajar
Bus mikro jurusan Purwokerto-Wonosobo memang setiap hari selalu lewat kecamatan Yudi. Setelah membayar ongkos perjalanan, kemudian Yudi tertidur pulas, habis capai sekali pagi ini, persiapan ini itu untuk bekal perjalanan ke Jogja. Setelah berganti bus di terminal Wonosobo, Yudi baru bisa menikmati panorama perkebunan teh melintasi jalan pegunungan Sindoro-Sumbing. Semilir udara dingin dan sejuk pegunungan menerpa wajah pemuda tampan itu. (Narsisssssssss banget !!!!!)
Terlihat di tengah perkebunan teh, ibu-ibu mengenakan caping (tudung) terus memetik tiga pucuk daun-daun segar dari tangkainya berbaris di pinggiran jalan raya itu. Selepas melewati jalanan yang naik turun dan curam. Daun-daun teh itu diolah dengan rajangan yang halus dan menjadi bahan minuman yang segar. Dalam benak Yudi tergambar aktivitas yang sama yang dilakukan oleh kaum perempuan di desa nya.
Kaum perempuan di kampung memetik melati gambir yang berbau harum. Bunga kecil yang berwarna putih dan bergaris merah muda itu memang dikenal bisa menimbulkan aroma yang khas. Melati gambir itu menjadi bahan campuran teh. Hampir setiap hari, sekitar 3 ton bunga melati gambir yang masih berupa kuncup bunga itu dikirim ke kota Tegal atau Pekalongan. Dengan mencampur bunga melati, cita rasa dan bau wangi aroma teh terasa makin nikmat.
Tak berapa lama menatap jendela bus yang terus menyusuri jalan pegunungan itu, sampailah memasuki kota Parakan. Tak terasa, dua jam perjalanan telah tertempuh untuk sampai ke Jogja. Ternyata dalam perjalanan ini, mata Yudi sudah tak tahan lagi menahan kantuk, sejam kemudian ia tertidur pulas.
Sampai di terminal Magelang, Yudi langsung mencari bus kota jurusan Jogja dan tak berapa lama kemudian sampailah di Kota pelajar itu. Kurang lebih 30 menit perjalanan dari terminal, sampailah Yudi di dusun Lodadi, masih wilayah kabupaten Sleman belahan utara.
Tampak di bagian paling utara sejauh mata memandang, sebuah gunung besar Merapi tinggi menjulang. Kabut awan tipis berwarna putih elok dipandang, namun ketika Merapi sedang marah, jangan tanya, lahar panas yang keluar dari dapur magma Merapi berwarna merah turun menyusuri galur-galur sungai dan sambil mengepulkan asap pekat yang bergulung-gulung. Awan panas itu biasa disebut oleh penduduk kaki Merapi, “wedhus gembel”. Konon panas lava Merapi itu mencapai ribuan derajat celcius.
Setelah berjalan kaki, sampai juga pada rumah yang ia tuju. Kebetulan, salah satu kakak sepupu Yudi telah sampai di Jogja dan telah mendapatkan tempat kos, sehingga ia langsung menuju kampung Lodadi. Tak mudah memang mencari tempat kos di saat musim pendaftaran mahasiswa baru.
Ia harus bertanya dahulu dan memesan tempat dengan sistem bayar di muka. Setelah memesan tempat, ia ditunjukkan oleh salah satu kakak sepupu Yudi ke salah satu rumah kos yang berwarna hijau tua di pinggir kampung.
“Assalamu’alaikum,” panggil Yudi sambil menggedor pintu.
“Wa’alaikum salam,” jawaban dari dalam rumah sambil membuka pintu.
Lalu ia dan kakak sepupunya ditunjukkan beberapa ruang kamar yang masih kosong. Yudi kemudian memilih salah satu kamar paling depan dalam rumah kos yang tidak terlalu besar itu.
“Ini kamarmu, sudah Bapak bersihkan seminggu yang lalu,” terangnya.
Kemudian bapak Kos memberikan kunci kamar dan kakak sepupu Yudi juga ikut pamit keluar kos. Yudi lalu berbaring di atas dipan kasur. Pandangan Yudi jauh menerawang langit-langit kamar. Hari pertama di kota Pelajar itu, pikiran Yudi telah mengelana jauh, mengembara dalam nuasa masa depan yang harus segera diukir.
Menghitung hari-hari yang lelah, siap mengubur masa lalunya dan memulai dengan menulis buku catatan serta tulisan yang baru. Hidup memang harus penuh rencana-rencana dan doa. Bila lelah datang, tinggal berpasrah pada segala puncak Kuasa-Nya. Ada hari esok yang mesti kerjakan.
Capek dehhh.
***
Tak terasa, sudah seminggu Yudi di Jogja. Urusan pendaftaran selesai. Kemudian Yudi menempuh ujian masuk. Wah, lumayan juga persaingannya. Sepuluh orang memperebutkan satu bangku kuliah. Sudah bayarnya antri pula, birokrasinya juga, repot.
Sambil menunggu pengumuman ujian masuk, Yudi benar-benar menikmati masa-masa pertama di Kota Gudeg itu. Ia bersama teman-teman kostnya kalau malam minggu naik sepeda motor keliling kota. Jelang dini hari, mereka meluncur ke arah utara, lewat Jalan Kaliurang. Mereka bukan ke kampus terpadu, namun masih terus ke utara sekitar 3 kilometer.
Sampai di tikungan Pakem, sepeda motor diarahkan ke arah timur dan menembus jalan yang berkelok-kelok menembus gelapnya jalan yang di kanan kirinya penuh dengan rimbun pohon sonokeling, ya mereka menghabiskan waktu malam di kompleks Kali Bebeng sembari menikmati panorama turunnya lava panas Merapi. Yudi sangat menikmati suasana dingin kaki Merapi yang elok rupawan itu.
Menghabiskan malam di Kali Bebeng, merupakan keasyikan tersendiri bagi Yudi yang baru saja datang ke Jogja. Yudi dan kawan-kawan kostnya sering membakar jagung sembari minum kopi. Jelang pagi hari, mereka asyik menatap sunrise matahari terbit dari arah timur pegunungan yang begitu indah. Semburat cahaya merah memedar ke angkasa luas, menumbuhkan harapan dan semangat baru dalam hidup.
Hingga akhirnya pengumuman ujian masuk telah tiba. Yudi diterima di fakultas teknik industri. Ia tidak paham, masuk jurusan industri. Tak sengaja selepas mengurus registrasi mahasiswa baru, Yudi mampir ke sebuah kantor lembaga pers mahasiswa.
Kantor itu tidak terlalu besar, pintunya bervernis coklat, lantai kusam dengan karpet coklat yang tampak berdebu. Keinginannya pun tumbuh untuk masuk lembaga kemahasiswaan, timbul minat pada diri Yudistira untuk mengetahui lebih jauh aktivitas dan kegunaan lembaga kampus itu.
Tampak di dalam kantor itu, seorang lelaki agak gendut tampak asyik mengetik di depan komputer. Kedatangan Yudi membuatnya berhenti bekerja. Dengan sangat ramah, ia kemudian menyilahkan masuk dan mereka duduk di atas lantai berkarpet coklat.
“Anak baru, ya?” tanyanya membuka perbincangan.
“Iya, Mas. Baru mau masuk,” jawab Yudi dengan singkat.
“Kenalkan, nama saya Bara, anak fakultas ekonomi,” sambil ia mengulurkan tangan.
“Saya Yudistira, baru diterima di fakultas teknik.”
Mereka kemudian berbincang-bincang tentang dunia pers mahasiswa. Asyik juga acara kerja mereka, sehingga membuat Yudistira semakin bergairah ingin mencicipi dunia kemahasiswaan.
Sayang, pembukaan untuk calon anggota baru akan berlangsung satu bulan setelah kuliah dimulai. Namun itu tidak membuat Yudistira kecewa. Sebab, sebuah informasi penting telah diterimanya.
Selama sebulan menunggu serasa cepat sekali. Kuliah perdana, seperti menempuh pelajaran di SMA. Cuma bedanya nggak pake seragam. Dan harus rajin mencatat. Apalagi, mata kuliah awal khan hanya mata kuliah dasar. Belum banyak Yudi berkenalan dengan para mahasiswa, maklum ia merasa sebagai orang baru yang asing dengan dunia kampus.
Sehabis kuliah, Yudistira kemudian kembali ke kantor lembaga mahasiswa itu. Suasananya agak ramai, sebab ini adalah hari pertama pendaftaran anggota baru.
“Eh, dik Yudistira! Ini formulirnya, diisi ya!” perintah Bara, yang ternyata tidak lupa dengannya. Kemudian Yudistira terima formulir itu, dan dengan hati-hati ia mengisi formulir itu dan menyerahkan kembali pada panitia.
“Yang sudah mengisi formulir, tolong duduk dulu di samping kantor, ada wawancara tambahan!” perintah seorang panitia.
Mereka waktu itu ada sekitar 10 mahasiswa baru kemudian dibimbing memasuki ruangan samping kantor itu. Satu persatu di tanya tentang motivasi, hobi, dan cita-citanya. Setelah semua selesai, kemudian mereka disuruh menunggu 3 hari lagi sembari menunggu pengumuman lebih lanjut.
Capek rasanya seharian ke lembaga mahasiswa itu, Yudistira kemudian pulang ke rumah. Sejak itu ia bergiat di dunia lembaga kampus menapak diri dengan berbagai pelatihan jurnalistik.
Beruntung, memasuki semester tiga, ia mencoba mendaftar pada sebuah koran harian lokal di Yogyakarta. Nasibnya memang selalu beruntung, ia diterima sebagai reporter berita kampus. Setiap hari, Yudi harus menemui beberapa dosen kampusnya untuk dimintai wawancara. Atau kadang-kadang kegiatan seputar lembaga kemahasiswaan tak luput dari kejaran beritanya.
Menjalani rutinitas kerja dan aktif di lembaga membuat Yudi sering tidak masuk kuliah. Rutinitas yang padat, membuatnya sering terburu-buru untuk mengerjakan beberapa hal. Hingga suatu ketika, tak sengaja Yudistira lewat belakang kampus pusat di kawasan Jl. Cik Di Tiro, kota Jogja. Karena terburu-buru ia akhirnya menabrak seorang gadis cantik yang membawa map.
Ia terjatuh, dan map yang berisi kertas-kertas itu jatuh berserakan. Yudistira kemudian dengan sigap membantunya berdiri dan membantu pula memberesi berkas-berkas itu.
“Maaf, tak sengaja,” kata Yudistira basa-basi.
“Ah, nggak papa,” katanya singkat, sambil menyembunyikan rasa malu dari pipinya yang kemerah-merahan. (Ya....gadis itu tertunduk malu rupanya).
Kedua anak manusia sekilas bertatapan mata, beradu kejernihan melihat sisi yang lebih dalam lagi, mengungkap sebuah rasa yang tersimpan dalam sanubari.
Dari raut wajahnya ia adalah anak baru pula. Dengan segenap keberanian yang ia miliki, Yudi kemudian mengajaknya berkenalan.
“Namamu siapa?” tanya Yudi sambil berjalan mendampinginya.
“Saya Novelis Anggita, anak teknik,” jawabnya simpel.
“Oh, sama dong. Saya Yudistira, dari fakultas teknik juga,” kata Yudi dengan wajah gembira.
“Habis ini mau kemana?” Tanya Yudi sekali lagi.
“Pulang!” lagi-lagi jawabannya sangat pendek.
“Ke mana?”
“Ke rumah, dong.”
“Rumahmu mana?”
“Ih, nanyanya kok berondongan,” celotehnya.
“Emang nggak boleh nanya, ya? Kata orang, kalau tidak bertanya khan sesak di jalan,” bela Yudi sambil membetulkan tas.
“Ah, nggak papa! Bercanda kok,” ujarnya.
Memang antara kampus mereka dengan jalan raya agak jauh, jadi mereka berjalan kaki dahulu menelusuri jalan berpavling blok.
“Eh, rumahmu mana?” tanya Yudi, karena gusar juga dengan jawabannya yang mbulet itu.
“Aku kost di Ngaglik,” jawab gadis berjilbab putih itu sambil mengemasi map yang jatuh tertabrak Yudi tadi.
“Wah dekat dong dengan rumahku,”
“Emang kamu di mana?”
“Aku di Lodadi, masih sekitar lima kilometer ke utara lagi dari kost mu. Sewaktu-waktu aku boleh mampir ya?” pinta Yudi padanya.
“Boleh aja, asal bawa jajan,” ledeknya.
“Lho, khan biasanya tuan rumah yang nyediain jajanan, gitu,”
“Ah, sekali-kali khan boleh,”
Tak terasa mobil angkutan telah lewat dan mereka pun naik bersama. Yudi melihat wajahnya memerah terkena terik mentari.
Yudi segera menyodorkan tissue yang dibawanya. Dengan malu-malu Novelis mengambilnya. Dan di pertigaan Klabanan ia menyuruh Pak sopir berhenti.
Dengan buru-buru ia turun persis di muka gang. Dan dengan sedikit melambaikan tangan ia kemudian masuk ke dalam kostnya yang bercat merah menyala.
***
Kuliah Yudi tak terasa memasuki semester empat. Nilai-nilai Yudistira betul-betul pas-pas-an tapi tak sampai Nasakom (Nasib Satu Koma) atau bahkan Cuma IPANG (IP-nya NGepas). Sejak awal kuliah, bagi Yudi, soal IP itu ibarat seperti keadaan orang miskin mau beli mobil, bagaimana mau beli mobil? Untuk makan saja susah...Bagaimana IP nya tinggi, untuk belajar ke ruang kelas sudah enggan, jadi IP bagi Yudi ndak penting-penting amat. Yang penting kuliah (kalau sempat kuliah), bayar SPP dan ujian.
Liburan semester telah tiba, dan dalam liburan ini Yudi tidak pulang kampung. Yudi makin asyik saja di lembaga pers mahasiswa. Ada saja kegiatan yang mesti Yudi ikuti. Entah itu diskusi, wawancara, atau kepanitiaan lain.
Yudistira menemukan sebuah dunia yang hilang, di tengah arus jaman yang tunggang langgang.
Di dunia pers, membaca, diskusi dan menulis adalah perjalanan spiritual mengasyikan yang mesti di lewati. Ini sangat berbeda dengan bangku kampus. Bosan rasanya dengan dinamika kuliah. Datang, mencatat, tugas dan ujian.
Dalam bayangan Yudi, setelah lulus, perilaku mahasiswa macam begini hanya sebagai pengantar “peternakan manusia”. Setelah lulus, mencari kerja, kawin dan beranak pinak, kemudian anaknya, belajar, kuliah, mencari kerja, minta kawin, minta rumah, minta pekerjaan dan punya anak yang bermasalah...gambaran yang mengerikan, tapi tidak ada tantangan. Itulah evolusi manusia yang senantiasa berulang dan berulang, tanpa perubahan.
Tapi mereka semua sebenarnya tidak bisa disalahkan juga. Mereka memilih kehidupan seperti itu-- menjadi korban dari “serakahnya” manusia/ kalau masih merasa menjadi “manusia” dan “ketidakbecusan” penguasa. Tugas penguasa adalah mentasarufkan hak-hak publik (rakyat) secara sungguh-sungguh agar rakyat cerdas, aman, sehat dan sejahtera......
Ucapan Yudi itu, pernah mendapat kecaman pedas dari kawan-kawan sekelasnya. Tapi, Yudi dengan enteng menjawabnya, ”Pikir saja sendiri!” (mau berfikir ndak?)
Sejak itu, komunikasi Yudi dengan teman-teman satu angkatan hampir-hampir jarang ketemu lagi. Ia makin asyik saja berlembaga.
Bagi Yudi, dengan masuk dunia pers, ia bisa berdialog dengan realitas, dan mendengarkan suara suci dari mereka rakyat yang tertindas. Dari diskusi yang diikuti, Yudi merasakan betapa ada sebuah dunia yang menjadi luas dan ilmu yang diperoleh semakin bertambah.
Ini sangat berbeda dengan bangku kuliah yang spesifik dan parsial (juz’iyah dan fakultatif). Sungguh berbeda dengan dunia pers, sarat dengan fenomena sosial dan universal. Dari pola belajar Yudi, ia bisa membaca bahwa perjalanan bangsa memang ada yang salah, ada dunia yang penuh ketidakadilan yang tengah mengepung hidup.
Kebodohan telah nampak merata di mana-mana. Angka pengangguran membengkak. Pendidikan murah mimpi bagi orang-orang miskin, dan uniknya selalu dijual sebagai “kecap kampanye” saat pesta demokrasi digelar. Rakyat adalah wajah-wajah yang baik, pendengar yang sabar untuk menyaksikan panggung-panggung retorika “lima tahunan” itu dengan senyum kecut.
Memang sepertinya kondisi semacam ini sudah menjadi budaya laten negeri-negeri yang pernah terjajah (negeri dunia ketiga), kebanyakan mereka terseok-seok dalam jeratan hutang dan penyakit-penyakit kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan (3K).
Memang belum ketemu solusi terpendek dari masalah kebangsaan dan kemakmuran bagi negeri-negeri dunia ketiga. Semua butuh proses (step by step), perubahan yang radikal belum ketemu. Perubahan selalu menjadi ikon, untuk digelorakan. Semua orang rindu akan iklim perubahan.
Memang untuk merubah semua itu butuh ekstra kesabaran yang luar biasa. Kerjasama berbagai pihak komponen bangsa. Tapi pada ruang kenyataan, perpecahan dan kepongahan penguasa makin merajalela. Egoisme dan rasa kesetiakawanan terhadap sesama semakin merajalela.
Di tengah situasi yang tidak normal semacam itu, untuk bisa bertahan hidup, dalam benak pikiran Yudi tidak ada cara lain, yakni menolak semua asumsi dan pandangan hidup yang selama ini ada. Dengan keluar dari mainstream logika berfikir, sambil menyelami dan mengambil ruang makna baru, maka itu menjadi bekal survival (bertahan hidup) dalam gempuran jaman. Kuncinya tentu belajar dan terus belajar dari fenomena bahkan tiap kejadian yang muncul (tholibil ‘ilm).
Makin lama, pergumulan Yudi mulai merambah jauh dengan perkumpulan para aktivis se-penjuru kota, bahkan berbagai gerakan mahasiswa dan pemuda se-tanah air.
Pertemuan-pertemuan pergerakan itu membuat Yudi semakin kaya akan wacana dan pergerakan. Situasi kampus-lah yang membuat Yudistira bosan, suasana semacam ini pula yang meneguhkan dirinya sering keluyuran mencari sebuah pelarian baru untuk belajar dan mengapresiasikan diri dalam tiap perjalanan sunyi yang ia tempuh.
3. Pergerakan Mahasiswa
Perjumpaannya dengan beberapa aktivis pergerakan di suatu sore sangat mencengangkan. Mereka merencanakan demonstrasi besar-besaran se-kota dalam sebulan ini. Apalagi situasi nasional juga merasakan geliat yang sama.
Di mana-mana orang siap demonstrasi. Strategi dan taktik aksi pun dirancang. Yudi pada awalnya agak takut juga, dengan berbagai resiko. Melawan pemerintah yang syah, sama saja melawan tentara dan peluru! Pilihan untuk terus maju atau tidak sama sekali.
Sebab dalam tiga terakhir ini, di dua kota. Demonstrasi terjadi dan bentrokan berdarah tak terelakan. Beberapa mahasiswa luka parah atau dipastikan hilang tak tahu di mana rimbanya.
Namun hanya dengan cara ini, tampaknya bangsa ini akan lebih baik. Apalagi melihat kinerja dari pemerintahan saat ini yang sarat dengan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) semua jadi amburadul.
Sore itu Yudi berkenalan dengan Mas Agus, seorang aktivis dari perguruan terkemuka di kota ini. Perawakannya tinggi brewok, suara serak, berkumis tipis. Perbincangan mereka dengannya berlanjut sampai di kostnya malam itu.
Kamar kost Mas Agus tidak terlalu besar. Buku-buku berjejer sangat rapi di samping tembok. Pantas, ia sangat fasih bicara tentang perjuangan dan pembebasan. Maklum saja, buku-buku putih waktu itu sangat haram di baca.
Bisa menemukan sebuah buku yang kritis dan penuh pergolakan melawan pemerintah sudah bagus, sebab di toko buku tak ada. Bagaimana buku-buku semacam itu bisa beredar?
Kadang-kadang, aktivis parlemen jalanan memfotocopy dengan sembunyi-sembunyi buku putih, itu pun sampai kertasnya buram, karena sering dipakai. Tapi demi sebuah informasi itu sering mereka lakukan. Mas Agus sangat memperhatikan koleksi buku-buku. Semua rapi.
Mas Agus kemudian menyeduh kopi kental dan menyalakan rokok kretek, dan memulai perbincangan.
“Gimana tawaranku tentang revolusi Mei?” tanyanya memulai diskusi malam itu.
“Aku masih belum paham, Mas. Maklum aku khan anak baru,” kata Yudistira waktu itu.
“Lho, siapa bilang aku lebih senior dari kamu. Aku mungkin lebih dulu saja mencicipi jaman kotor seperti ini. Sehingga aku sudah muak! Sementara kamu baru mencicipinya,” gelak Agus sambil menyodorkan pisang goreng.
“Wah, kalau aku yang mengkoordinir, sangat sulit. Mereka hidup borjuis lokal. Lagaknya seperti orang kaya, padahal bapaknya yang kaya. Suruh bicara revolusi, lebih baik bicara bini atau mobil tongkrongan terbaru,” gurau Yudi.
“Ha..ha..ha......” Tawa mereka meledak memecah kesunyian malam.
“Ah, tak apa-apa. Sedikit demi sedikit, mereka akan merasakan jaman kotor ini mencekik. Kamu tahu khan harga-harga mulai membumbung?” tanyanya membuka kembali perbincangan, sekaligus menyodok perhatian Yudistira .
“BBM semakin naik, pengangguran makin membengkak. Salah siapa? Dan ini berulang dalam sejarah bangsa ini. Ingat itu? Mau apa lagi kita? Kemana kita? Mau Ngapain kita?” lanjut Agus makin bersemangat, mukanya tampak makin tegang dan wajahnya memerah, marah.
“Yah, benar juga. Sekarang apa yang mudah. Semua sulit. Keadilan barang langka yang di simpan di laci sejarah! Kemakmuran tampaknya menjadi mimpi bagi mereka orang-orang miskin,” kata Agus lagi.
Dari kata-kata Agus itulah, mulai muncul keberanian Yudi atas peristiwa mutakhir belakangan ini.
“Apakah kita akan diam saja, ketika kekuasaan, melanggengkan yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Apalagi kepedulian pemerintah terhadap kebijakan global, tidak memihak siapa-siapa. Bahkan tidak punya sikap. Bahkan sikapnya tidak jelas. Ini mudah, dimanfaatkan oleh kepentingan asing. Kalau pun punya sikap, membebek sama kepentingan kapitalis asing...Betapa bodoh kita ini?” pikir Yudi sekali lagi.
“Dan patut dicatat. Kejadian-kejadian yang menyelimuti dinamika kebangsaan ini sesungguhnya terus berulang-ulang dalam sejarah. Perjuangan antara yang tertindas melawan penindas! Antara miskin dan kaya! Antara kebodohan dan kelicikan!” tegas Agus.
“Coba kamu perhatikan orang-orang yang lalu lalang di jalan itu setiap hari, 75% itu mereka hanya sekedar bisa makan. Apakah mereka punya tujuan hidup dan cita-cita? Ya mereka itu manusia yang dituntut untuk memikirkan masa depannya, tapi sibuk hanya berfikir hari ini bisa makan apa? Mereka sangat banyak di sekitar kita. Apa yang salah, dari bangsa ini? ” kata Agus dengan pandangan menerawang jauh ke depan.
Lama mereka tercenung memikirkan nasib arah bangsa ini. Kekuasaan belum sepenuhnya mengabdi pada kepentingan hajat hidup orang banyak. Jadi yang menang adalah mereka yang berkuasa atau minimal dekat dengan kekuasaan. Sementara bagi mereka yang jauh dari kekuasaan, jarang diperhatikan.
“Karena itu, aku tidak salah memilih kamu untuk ikut serta dalam revolusi Mei ini,” buka Agus sambil mencoba meyakinkan Yudi sekali lagi.
“Ah, Mas terlalu melebih-lebihkan. Aku masih butuh banyak belajar dari Mas,” pinta Yudi padanya.
Kemudian Agus melanjutkan cerita nya tentang orang-orang yang radikal.
“Orang-orang radikal adalah orang yang tidak mau kompromi terhadap negara. Mereka memegang prinsip yang keras. Mereka adalah pembela orang-orang dhuafa’ (miskin), Mustada’af (tertindas) yang senantiasa mencari solusi dari akar masalah, mengamati keseluruhan masalah, mempertanyakannya dan membalikan semua hal demi keadilan agar peradaban bangsa ini lebih baik,” papar Agus dengan wajah yang temaram.
Tampak ia memendam sebuah duka masa lalu. Yudi termangu beberapa saat, dan keheningan muncul. Udara dingin masuk tertiup angin dari balik jendela, membuat tubuhnya sedikit menggigil. Segera Yudi beranjak bangun dari tempat duduknya untuk segera menutup jendela besar kamar kost itu.
Mas Agus kemudian menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Sejak kecil ia sudah yatim karena bapaknya telah lebih dulu meninggal dunia pada tragedi Malari, 1974. Ia menceritakan bahwa bapaknya itu seorang aktivis pemuda yang gigih.
Waktu itu, ia masih berumur sangat kecil sehingga tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Yang ia dapat hanya dari cerita-cerita sejarah obrolan kawan bapaknya yang masih sering berkunjung ke rumahnya. Sejak kecil itulah, ia banyak diasuh oleh sang kakek. Melalui sentuhan dingin sang kakek, ia banyak belajar tentang sikap dan kepedulian terhadap sesama.
Menginjak usia dewasa, Agus jadi paham, kalau kakeknya itu adalah seorang negarawan sejati. Satu hal yang masih tertanam dalam benak Agus sampai kini adalah soal ‘idiologi kebangsaan’. Karena itulah, ia memilih kuliah Hukum Tata Negara seperti saran kakeknya agar lebih mengerti dalam mengelola negara RI ini.
“Tapi semakin hari saya mengikuti kuliah, semakin banyak yang timpang. Ini salah idiologinya? Atau orangnya?” ketus Agus.
“Tiap hari kita dijejali slogan pembangunan demi mempertahankan idiologi negara, katanya. Ndak jelas ini yang punya negara!” tambah Agus.
Kemudian Yudi mengambil sebatang rokok kretek dan menyalakannya.
“Perjuangan ini penuh idiologi[1], dan kita adalah korban idiologi semu yang tertanam dalam sekian tahun, Mas! Bisakah kita berhasil mengatasi situasi absurd[2] ini?” tanya Yudi balik.
“Ah, persetan dengan idiologi! Sekarang rakyat harus bergerak dan menyuarakan kebenaran!’ terang Agus lagi.
“Coba kau perhatikan para pemimpin yang sekarang berkuasa. Apakah mereka punya nurani benar-benar membela kepentingan rakyat?”
“Kita bangun sistem demokrasi kita, berulang-ulang dengan sistem ini-itu berganti-ganti. Semua atas nama konstitusi. Tujuannya apa sih? Biar rakyat bisa senang, sejahtera dan utamanya bisa makan. Tapi sekarang, para pemimpin dimana-mana cuma omong doang, realisasi tidak ada (nol besar)! Ini harus dirubah! Kalau tidak, bisa karam nih republik!”
“Kira-kira butuh berapa bulan?”
“Satu bulan sudah cukup,”
Lama Yudi termenung mengeja nasib.
Yudistira harus segera berbenah menjawab teka-teki. Hanya dengan keberanian yang mampu mengatasi persoalan. Akhirnya, Yudi memintanya satu minggu untuk berfikir. Mereka berdiskusi panjang sampai subuh. Dan pagi harinya Yudistira pulang.
***
4. Revolusi atau Mati
Hari itu, Yudistira ada ujian tengah semester. Yudistira belajar sampai larut malam. Beberapa copyan catatan tak bisa Yudi pahami seluruhnya. Namun pemuda berhati baja itu terus berusaha membacanya satu demi satu halaman. Seperti biasa ia hanya ditemani kopi tubruk dan selingan radio RRI[3] yang menyajikan tembang-tembang kenangan.
Tepat pukul 00.00, Yudi membuka sepucuk surat dari kawan Hasib dan Shohib, teman seperjuangan. Ia mulai membaca pelan-pelan;
Salam Pembebasan!
Kawan, akan ada aksi selama sebulan ini, kamu jadi sie advokasi.
Persiapkan diri baik-baik.
Dan selamat menempuh ujian.
Salam tangan terkepal dan tetap maju ke muka!
Jogjakarta, 1 April 1998
ttd
Hasib dan Shohib.
Lama Yudistira termenung seorang diri. Masih dingatnya wajah Agus Setyoko, kawan dari pergerakan pemuda yang sore kemarin diculik dan hilang entah di mana rimbanya. Padahal pertemuan malam itu seperti baru saja berlangsung.
Yudi hisap kembali rokoknya dalam-dalam, ”Ah, aku ternyata masih terbelenggu oleh belenggu kampus!” gumannya memecah kesunyian.
Pemuda berhati baja itu mencoba pejamkan mata, tapi tak bisa. Kemudian dengan pelan-pelan ia baca buku perjalanan revolusioner Che Guevara pinjaman teman lembaga, Jay namanya.
Lumayan juga jalan ceritanya. Timbul minat Yudi untuk membeli buku ini. Tapi, di Jogja belum ada yang menerbitkan. Yang ada hanya di Jakarta. Suatu waktu kalau dirinya ke Jakarta, berniat membeli buku itu. Hari makin larut, Yudi pun terlelap dalam buaian mimpi bersama Novelis Anggita .
Pagi-pagi betul, Yudi bangun dan berangkat ujian. Habis ujian, Yudistira mampir ke kost Novelis dengan naik sepeda motor buntutnya.
Ia ketok pintu kostnya. Satu penghuni kost putri itu keluar.
“Novelis Anggita ada, Mbak?”
“Ada, lagi belajar tuh. Sebentar, tak panggilkan, ya,” sambil mempersilahkan Yudistira duduk di kursi depan.
“Eh, Mas Yudi. Tumben mampir, nih?”
Seperti biasanya ia selalu pura-pura menggoda.
“Emang, nggak boleh mampir?” tanya Yudistira balik.
“Sebentar ya Mas, saya ambil minuman!” ujarnya gesit.
“Ah, bikin repot saja,” kata Yudistira.
Kemudian sepersekian menit ia membawa mampan es sirup dan sepiring kue kering.
“Dicicipi, Mas. Jangan malu-malu!” perintahnya.
“Apa sih yang ada, tak bikin malu,” kata Yudistira balik.
“Ujiannya bisa, ndak?”
“Beres. Cuma satu nomer tak lewati. Abis jarang kuliah sih,”
“Mentang-mentang jadi aktivis, ya. Kuliah jadi tak penting?”
“Bagiku kuliah itu penting, cuman…”
Belum sempat Yudi memberi jawaban ia memotong duluan;
“Cuman, kamu males! banyak aktivitas, sok sibuk dan pasti kamu melupakan aku. Apalagi sama kampus!”
“Tapi khan, kalau sama salah satu penghuni kampus, Yudi tidak lupa khan? Buktinya Mas mau mampir ke sini,”
“Maksud, Mas,” tanyanya dengan nada cemberut.
“Ah, tak papa,” kata Yudi sambil mengalihkan perhatian.
“Eh, ngomong-ngomong enak ndak jadi aktivis?”
“Enak kalau lagi enak! Sebel kalau enek!”
“Kok bisa?” dengan penuh tanda tanya.
“Habis, pertanyaannya kok antara enak atau tidak enak. Mbok yang lain, ”jawabnya singkat.
“Yang lain gimana maksud kamu?”
“Ya. Yang lain lah,”
“Di lembaga ada yang cantik ya.. Mas?”
“Ah, mau tahu aja.”
“Emang kenapa? Ndak Boleh!” jawabnya dengan nada cemburu.
“Cemburu ya?”
“Ih, amit-amit,”
Keduanya diam terpaku. Lalu Yudi dengan sedikit malu-malu berkata,”Gimana kalau hari ini kita jalan-jalan?”
“Jalan-jalan? Kemana?” jawabnya tercekat kaget.
“Kemana saja engkau mau...,” tawar Yudi sekali lagi.
“Ok.lah...tapi jangan pulang terlalu malam ya...,” sambil Novelis beranjak dari kursinya dan ia kemudian berlalu masuk kamar untuk berdandan.
Tak berapa lama kemudian, Novelis sudah berdiri mematung di muka Yudi.
“Ayo berangkat!” ajak Novelis.
“Kemana dulu, baru bisa berjalan,” tawar Yudi.
“Lho kok malah bingung?”
“Gimana kalau ke Kali Bebeng?”
Mendapat pertanyaan mendadak seperti itu, Yudi terdiam sejenak. Ia tengah berfikir.
Kedua muda-mudi itu kemudian telah meluncur menuju arah utara jalan Kaliurang. Memang berkencan di daerah Kali Bebeng waktu sore hari bukanlah hal biasa bagi kaum muda-mudi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, keduanya telah sampai di kompleks wisata Kali Bebeng. Sore itu udara cerah, sekalipun cahaya matahari bersinar terang, udara Kali Bebeng tetap sejuk.
Hawa semilir angin pegunungan di kaki Merapi menerpa kedua wajah sepasang muda-mudi yang tengah diamuk asmara itu.
.......Cakrawala yang jauh tampak sayup-sayup/Ada suara, suara yang memanggil nama mu/Ada kandungan rahasia/Yang merindukamu/Ditemani oleh sepi waktu/
Lautan membentang/Langit terang benderang/Betapa hatinya/Berselimut kesunyian/beku di penantian yang berkepanjangan/Badannya bersimpuh/Hatinya terbang/kekasih nya tiada kunjung datang ......
Sayup-sayup dendang lagu dari warung seberang di kompleks Bebeng itu menentramkan siapa saja yang mendengarnya. Kedua muda-mudi itu gagal mendefinisikan cinta yang sebenarnya. Bodoh memang. Mereka hanya menikmati suasana kegembiraan di kaki Merapi yang elok rupawan, untuk melupakan sejenak kepenatan aktivitas yang tengah menumpuk. Puas memandang alam, keduanya lalu pulang kembali ke arah kota Jogja.
Pulang jalan-jalan dari Kali Bebeng, Yudi dan Novelis langsung meluncur ke kos Novelis yang terletak di sebelah barat perempatan Klabanan itu. Kostnya yang bercat warna merah itu masih tertutup rapat. Mungkin penghuninya, sedang sibuk-sibuknya belajar, karena hari-hari terakhir ini adalah hari ujian semester. Tak enak terlalu lama di kos puteri itu. Yudi kemudian pamit pulang.
“Sudah sore nih, Yudi mau pamit pulang ya,” sambil berkemas-kemas.
“Kok buru-buru amat, apa nggak nunggu?”
“Nunggu apa, maksudmu?”
“Nunggu di usir sama tuan rumah, habis bikin berisik!” tuturnya sengit.
“Ha...ha…ha…Bener nih, Mas Yudi mau belajar!”
“Iya, deh. Hati-hati di jalan ya Mas!”
Pemuda berhati baja itu kemudian keluar dari kost berwarna merah menyala itu. Rupa-rupanya Yudi masih malu mengatakan yang sebenarnya.
Malam hari, ia tak bisa tidur. Semua berjalan lambat. Perubahan apa lagi yang mesti ia tunggu. Mencoba melupakan kenangan-kenangan masa lalu, tak bisa. Pelan-pelan, Yudi bangkit dari pembaringannya dan membuka foto album saat kemah bersama di kaki pegunungan Kopeng, Salatiga, saat-saat awal memasuki masa kuliah. Selama seminggu, Yudi menjadi pembimbing lapangan mahasiswa baru. Kebetulan saat itu Yudi menjadi pemandu kelompok Novelis.
Pergulatan antara kebimbangan untuk mengatakan rasa cinta yang sesungguhnya. ”Masa sih aku pantas menjadi kekasihnya? Inikah yang namanya cinta? Bagaimanakah perasaannya kepadaku?”
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang justru menimbulkan keraguan-raguan tertanam dalam benak Yudi. Yah karena satu cewek kampus ini, membuat malam-malam aktivis kampus itu tak bisa tidur. Membuat perasaan Yudi belingsatan, persis bajingan. Pikirannya gelisah, hatinya bertambah gundah. Matanya nyalang menatap lampu pijar 20 watt, pikiran terbang entah kemana. Lama termenung sendiri.
Yudi perlahan bergerak menuju tempat termos dan mengambil gelas. Dengan amat tangkas ia segera menyeduh satu sendok kecil kopi Lampung dan tiga sendok gula. Tak lupa, ia menuju lemari bajunya dan mengambil sebungkus rokok kretek kegemarannya.
Dengan amat perlahan dan pelan ia lalu mulai menyalakan sebatang rokok kreteknya. Lamunannya mulai melambung tinggi. Diambilnya balpoint dan notes kecil. Tangannya yang lincah dan terbiasa menulis mulai menggores kata-kata. Sebait puisi mulai ia tulis.....
”Aku tak bisa luluhkan hati mu/Dan aku tak bisa menyentuh cinta mu/Seiring jejak kakiku bergetar/Aku tak terpaut oleh cintamu/
Menelusup hariku dengan harapan/Namun kau masih terdiam membisu//Sepenuhnya aku/
Ingin memelukmu/mendekap penuh harapan/mencintaimu//
Setulusnya aku akan terus menunggu/menanti sebuah jawaban tuk memilikimu//.......
Lamat-lamat alunan musik dari kelompok ‘Padi’ terdengar dari seberang kamar Yudi. (komentar saya, ini jelas ankronisme...data tidak detil, lagu PADI melejit di tahun 2000-an, sedangkan peristiwa itu tepatnya terjadi pada tahun 1997.
“Ah, si Helmi belum tidur rupanya,” guman Yudi. Ia lalu bangkit keluar kamar kostnya dan dengan langkah perlahan mendekati kamar Helmi.
“Hel, kau belum tidur?” tanya Yudi sambil mengetuk pintu.
“Oi, masuk saja!” perintah Helmi dari dalam kamar.
Ternyata malam itu, Helmi belum tidur. Dengan santainya, ia kemudian meraih gitar. Ia petik dawai senar gitar listrik dengan suara yang perlahan dan nada kesedihan mengalun. Tersirat dari lengkingan nada getir.
“Mi, kenapa kamu akhir-akhir ini banyak murung?”
“Tak tahulah,..”
Yudi dengan tatap mata ingin tahu terus memandang Helmi yang tengah memetik denting gitarnya. Anak muda berambut gondrong itu dengan santainya terus memetik gitar. Ada perasaan mendalam yang tengah berkecamuk dalam dada anak muda yang satu ini.
Lalu dengan suara yang menyimpan kesyahduan, Helmy mulai bercerita tentang perjalanan asmaranya. Semua kisahnya itu ia ceritakan pada pemuda berhati baja, dan Yudi dengan penuh perhatian, mendengar kisah-kisah dari sahabat karibnya itu. Malam itu mereka berdua bercerita hingga dini hari. Mata Yudi sudah tak tahan lagi menahan kantuk.
Perjalanan hidup memang mesti penuh warna. Ada romantisme, suka, duka, senang dan beraneka corak. Tinggal kesiapan kita untuk menerima dan menghadapinya.
***
Suara Adzan Subuh terdengar menggetarkan sukma, membangunkan setiap insan muslim untuk segera mengambil air wudlu dan bersiap untuk menunaikan kewajiban suci. Sambil berjalan pelan, Yudistira melihat sekeliling kost.
”Masih pagi, wajar anak kost masih banyak yang ngorok (tidur),” gumannya.
Setelah itu, segera ia masuk ke masjid dan baru tampak Kyai Utsman yang melantunkan tembang puji-pujian. Suaranya jernih, pelan tapi mampu menyiram setiap kegelisahaan para jama’ahnya.
Tamba Ati iku lima wernane/kaping siji maca qur’an, syukur sakmanane/kapindo, shalat wengi lakonana/kaping telu, wong kang soleh kembulana/kaping papat weteng siro ingkang luwe/kaping lima dzikir wengi ingkang suwe//Sakebahane sapa bisa ngelakoni/ Insya Allah Gusti Pangeran nyembadani//
Para jama’ah mulai berdatangan, Ustadz Bakri segera memberi iqomat, tanda shalat akan segera dimulai. Pagi itu, Ustadz Usman menyampaikan ceramah tentang ketabahan para pejuang di jalan Allah SWT. “Janji Allah adalah benar. Mereka yang dijadikan pemimpin di muka bumi adalah orang-orang gigih berjuang di jalan-Nya,” katanya.
Demikian sekelumit aktivitas pagi itu di kaki gunung Merapi, kampus perjuangan. Sehabis sholat Shubuh, Yudi mampir ke kost Dion. Ia ketok pintu kamar Dion.
”Yon, bangun! Sudah pagi ini!” tangan Yudi keras-keras menggedor pintu kamar Dion.
Dari dalam kamar, Dion dengan agak malas membuka pintu.
”Jam berapa sekarang?” tanyanya sambil mengucek-ucek mata dengan kedua tangannya.
“Jam 05.30. Eh nanti siang kita turun ke bawah ya?”
“Ngapain?” tanyanya.
“Mau beli kertas HVS,” jawab Yudi.
Kemudian Yudi pamit pada Dion dan segera pulang ke kost untuk mandi pagi, bersiap menuju ke Kampus.
Selesai mandi ia segera berkemas berangkat kuliah. Di kejauhan kampus mulai banyak yang berdatangan. Maklum walau pagi-pagi benar sudah banyak mahasiswa yang datang. Sebab, hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester.
Pikiran Yudi kacau, soal-soal ujian tidak bisa Yudistira jawab sepenuhnya, apalagi dengan banyaknya angkatan lama yang sering tanya ini-itu. Belum lagi angkatan di bawahnya, juga berlaku demikian.
Ini membuat konsentrasi Yudi buyar. Belum lagi suara mahasiswa di lantai bawah yang makin menyemut meneriakkan yel-yel revolusi. Beruntung, hari itu adalah ujian Agama III (tentang muamalah), walau tanpa melihat buku, ingatannya cukup tajam merekam materi pelajaran agama yang pernah ia kenyam. Apalagi, 50% soal yang ada hanyalah menulis Arab dan menterjemahkannya, tidak terlampau sulit.
Perlu pembaca ketahui, hari-hari itu adalah hari penuh dengan pergolakan. Dimana-mana orang teriak revolusi. Di jalanan, ribuan mahasiswa meneriakkan, ”Revolusi-revolusi sampai mati!”
Mereka begitu kompak meneriakkan revolusi, entah revolusi untuk apa.
Yudi melongok melalui kaca jendela, maklum tempat duduk ujiannya dekat jendela. Tampak Hasib dan Shohib, dua kawan seperjuangan Yudi sedang memberikan orasi membakar masa.
Teriakannya lantang, tangan kirinya terkepal menjulang, suaranya menggelegar sampai terdengar di lantai atas.
Sayup-sayup ia bersuara, ”Keadaan kita sudah super sulit! Dollar mencapai 20.000,-! Sidang kabinet cuma berkoak-koak saja!”
“Korupsi tidak ada pemberantasan! Kolusi merajalela! Nepotisme bukan barang yang tabu! Kita bangsa coro!”
“Maukah kalian jadi bangsa coro?????” Tanyanya pada massa. Spontan Yudi dengar ratusan mahasiswa menjawab kompak;
”Tidakkkkkkk!!!!!!!”
Ia menyambung kembali, ”Karena itu, revolusi adalah kebutuhan mutlak, kalau tidak kita akan terus terjajah oleh penguasa yang lalim bin dholiem!”
Lagu Darah Juang, sebuah lagu perjuangan para demonstran mengalun syahdu.
“Di sini negeri kami/tempat padi terhampar/Samudranya kaya raya/Negeri kami subur/ Tuhan/ Di Negeri permai ini/Berjuta rakyat bersimbah luka/Anak kurus tak sekolah/Pemuda desa tak kerja/Mereka dirampas haknya/Tergusur dan lapar/Bunda/Relakkan darah juang kami/Tuk membebaskan negeri//
Mereka dirampas haknya/Tergusur dan lapar/Bunda/Relakkan darah juang kami/Tuk membebaskan rakyat//
Darah Yudi mendidih, tangan Yudistira tergetar hebat, pikirannya sudah tidak tertuju lagi dengan kertas-kertas ujian. Segera Yudi menyambar kartu ujian. Dan setelah meraih lembar jawaban ujian, ia lalu melangkah dengan bergegas dari tempat duduknya dan menyerahkannya pada penjaga. Dengan sedikit berlari, keluar dari ruang ujian dan segera ia menuruni tangga kampus terpadu itu, lalu ia menghampiri kerumunan masa itu.
Tampak Dion juga sudah bergabung dengan mereka.
”Jadi nggak turun?” tanya Yudi mendesak.
“Jadi. Tapi ikut demo dulu ya?” jawabnya antusias.
Kerumunan masa itu tambah banyak mungkin sekitar sepuluhribu mahasiswa. Apalagi ujian di tiga fakultas sudah mulai pada selesai.
Semakin banyaklah kerumunan masa. Dari balik kerumunan itu, seorang mahasiswi yang sudah lama dikenalnya, tampak menundukan muka.
Peluh keringat mulai membasahi pipinya yang putih. Secara spontan saja Yudi berlari mendekati gadis tersebut dan menyodorkan tissue yang diambil dari kantong celana.
“Hapus keringatmu, Dik!” suruhnya pada Novelis.
“Makasih, ya....Kak…,” ucap Novelis pendek sambil menyeka keringat yang mulai menetes. Mereka berjalan bersama di tengah-tengah barisan. Yudistira sudah tidak ingat lagi di mana Dion berada.
Mata Yudi tertuju dengan barisan revolusi dan apalagi di samping ada gadis idamannya itu. Sesekali ia melirik, dan senyum terkembang tampak senantiasa terpancar dari wajahnya yang ayu. Benih-benih cinta yang suci.
Siang itu, terik mentari membakar seluruh bumi. Barisan revolusi itu terus bergerak ke jalan raya dan dengan menggunakan bus kampus rombongan mahasiswa itu lalu menuju kampus UGM yang berada di tengah kota.
Tampak aparat keamanan berjaga-jaga di ujung jalan aspal di sisi luar kampus UGM. Suasana kampus UGM sudah seperti pasar rakyat. Puluhan ribu mahasiswa bergerak menuju bundaran UGM. Beberapa penjual air minum panen raya seperti suasana pasar di tengah oase padang pasir. Waktu terus beranjak naik. Orasi dari para demonstran silih berganti membakar massa. Kerumunan massa makin menyemut.
Tiba-tiba saja, entah siapa memulai. Batu-batu berterbangan, dan massa mahasiswa itu kocar-kacir tunggang langgang. Aparat merangsek maju memukul apa saja yang ada di depannya.
Motor yang berjejer rapi pun terkena sabetan rotan. Para pedagang cepat-cepat menyelamatkan dagangannya dengan cara membawa lari ke arah utara. Dan Yudistira sudah tidak ingat lagi, dengan kedua teman dekatnya itu.
Sebab begitu kerusuhan meledak, Yudistira secara reflek melompat pagar setinggi dua meter yang bercat hijau dan masuk ke gedung Joglo.
Di halaman gedung beberapa orang dengan menggunakan cadar hitam tampak masih memegang batu dan terus melempar ke luar gedung.
“Ah, ini mungkin yang namanya provokator,” gumannya.
Namun belum sempat berfikir panjang. terlihat seorang aparat membidikan senjatanya ke arah Wisma Kagama.
Dengan gerakan tangkas, Yudistira berlari dorong orang tersebut.
Dan keduanya terjatuh bergulingan. Tepat di samping keduanya terjatuh, asap mengepul begitu pekat membuat halaman dan sebagian dalam ruangan tersebut berkabut. Asap itu baunya sangat menyengat dan membuat mata para demonstran perih bukan kepalang.
Gila?
Proyektil peluru itu bukan peluru karet lagi, tapi peluru tajam kaliber 5 mm. Ini jelas, ‘martir’ yang sengaja diciptakan. Peluru-peluru itu berhamburan menabrak dinding, tepat di atas kepala Yudi di antara kepulan asap yang keluar dari ‘gas air mata’.
Segera ia bangun dari tiarapnya dan sambil menutupi kedua mata ia siap berlari. Karena gas air mata dan peluru karet terus berterbangan dan menyapu sekitar bundaran UGM, bahkan masuk sebagian mulai menerobos belahan utara.
Beberapa gas air mata meledak di depan Yudistira yang membuat mata perih dan bau menyengat keluar dari gas tersebut, praktis untuk menyelamatkan diri, hanya dengan berlari menjauh. Yudi kemudian berlari ke arah utara dari komplek gedung itu, lebih dalam lagi memasuki Wisma Kagama.
Di sebuah tikungan pojok ruangan, Yudi melihat sebuah ruangan memasak Wisma Kagama, segera ia memasuki ruangan itu bersama puluhan mahasiswa yang ada. Dalam ruangan itu beberapa mahasiswi menggigil ketakutan.
Yudi yang terbiasa melihat situasi seperti itu segera mengambil peran menyuruh para mahasiswa itu untuk diam serta berdoa kepada Tuhan agar diberi kekuatan dan ketabahan serta tidak banyak menimbulkan keributan karena derap sepatu lars semakin mendekati ruangan tempat mereka berkumpul dan disertai suara pentungan karet yang berdentang menghantam besi-besi pagar gedung-gedung di sekitar Bundaran UGM itu.
Takut juga sih,....kalau aparat bawa bedil ..lalu ditembak satu per satu...koit semua loooh. Cuma ada satu keberanian pilih mati syahid dong, darah yang muncrat, nyawa yang melayang dijamin masuk syurga, mati syahid membela kebenaran! Menentang kemunkaran! (Kulil haq walau kana murran).
Terlihat salah seorang dari pemuda dan dibantu beberapa mahasiswa mencoba menjebol eternit dan atap gedung, berusaha keluar dari atap dengan menyingkirkan genting satu persatu kemudian melompat dan lari masuk ke perumahan dosen UGM.
Yudi kemudian membuka salah satu pintu belakang dari ruang memasak itu dan memastikan aparat sedang ditarik mundur ke belahan selatan. Satu persatu mahasiswa dan mahasiswi kemudian disuruhnya untuk memutari Wisma Kagama lewat jalan sempit ke utara lagi bergabung dengan ribuan mahasiswa yang berkumpul di belahan utara mendekati gedung Graha Sabha Permana.
Tapi aparat terus menyisir jalan tengah bundaran itu lebih ke utara lagi, tampak beberapa mahasiswa yang jatuh terinjak-injak dipukul lagi oleh aparat di bagian selatan. Di depan Yudistira sekitar lima meter seorang mahasiswa tertunduk dengan darah mengucur dekat tiang listrik segera Yudistira dekati dan dipapah bersama dua orang dari unit kesehatan kampus.
Malang tak dapat ditolak, Yudi yang berada dibelahan selatan tiba-tiba ditarik salah seorang intel dari belakang dan disusul kembali penyisiran aparat dari belahan selatan. Yudistira pun diseret lebih jauh ke selatan sambil dipukul, diinjak-injak dan ditendang oleh ribuan aparat yang berpapasan dengan Yudistira sambil diseret menuju arah selatan Jl. Cik Di Tiro.
Yang bisa dilakukan Yudistira hanya melafalkan ‘Wirid Madlumin’(Wirid Orang Tertindas) yakni; Li Anahum Khadalunni Fakun Ya Aziizu Nashiri, Li Anahum Abghadumunni Fakun Ya Wadudu Habibi (Karena Mereka Mencurangiku, Maka Engkau Wahai Yang Maha Perkasa Penolongku, Karena Mereka Membodohiku, Wahai yang Maha Mengasihi Maka Engkaulah Cintaku).
Aneh, walau dipukul dengan pentungan karet ataupun rotan dan pukulan popor senapan betubi-tubi ke arah tubuhnya. Dan tubuh Yudi kemudian diseret sepanjang Bundaran UGM sampai wisma Aceh, kira-kira dua kilometer, ia tidak merasakan sakit. Padahal bajunya sampai robek, kancing bajunya pun terlepas semua dan tidak ada darah yang keluar. Yudi merasa ada yang mendekap erat dan rasanya hangat. Bayangan aneh itu berwujud cahaya terang yang menentramkan.
“Mau dibawa kemana, Pak?” tanya Yudi dengan nada sedikit takut.
“Kita mau ke Surga,” jawab sersan itu sambil memukul muka Yudi.
“Dakkk!” Pukulan telak mendarat tepat di dagu Yudi.
Ia sedikit meringis, apalagi tangan sang Sersan memakai cincin bermata batu hitam. Tapi aneh, pukulan itu dirasakannya seperti mendarat di ban karet saja, ia merasakan sedikit sentuhan, tapi tak ada rasa sakit.
Ada sedikit rasa takut juga dalam diri Yudi, sebab pekan terakhir, berita orang hilang akibat operasi penculikan belum diketahui rimbanya. (Pius Lustrilanang, Nezar Patria, Haryanto Taslam dll) membayang dalam benaknya.
”Jangan-jangan nasibku sama seperti mereka,” guman Yudi dalam hati.
Dan segera tangan Yudistira diborgol dan dimasukan mobil Expass menuju timur kemudian ke arah Gejayan dan sampailah ke kantor Polda di daerah Condong Catur.
Di situ sudah ada 11 mahasiswa yang nasibnya sama seperti Yudistira namun kondisi mereka sama sudah bobrok. Muka lebam, darah mengering membasahi wajah dan pakaian yang mereka kenakan.
Danang, demikian nama salah seorang mahasiswa semester ahir Universitas Janabadra kondisinya paling parah. Menyebut nama sendiri saja sudah sangat pelan, sebelah matanya melebam biru dan kepalanya tampak luka menganga. “Mas bisa wirid, coba wiridkan Ya Lathief...Ya Latihief...banyak-banyak,” kata Yudi sambil mengusap darah segar yang menetes melewati pipi Danang. Ia pun mulai mewiridkan salah satu Asmaul Khusna itu dan perlahan pula, ia mulai tidak mengerang kesakitan.
Karena waktu shalat asar hampir habis dan mendekati Maghrib Yudi pun segera bangkit mendekati terali besi di kantor Polisi.
“Pak saya mau shalat, boleh kan?” pinta Yudistira pada salah seorang penjaga yang duduk di depan ruangan. Sersan itu lalu bangkit dan membuka pintu terali besi dan melepas borgol.
Yudi pun kemudian diantar ke kamar mandi. Setelah mandi sebentar dan mengambil air wudu, Yudistira kemudian shalat ‘Ashar beralaskan koran, kira-kira jam 5 lebih 40 menit. Dengan terus masih membaca ‘Wirid Madlumin’ sampailah ia waktu Maghrib. Ia pun shalat Maghrib.
Selepas shalat maghrib, Yudistira dan 10 mahasiswa tadi kemudian satu persatu digiring ke ruang interogasi untuk dimintai keterangan.
“Kamu paling-paling kalau kuliah, IP kamu 6.1,” kata Sersan itu dengan mantap.
“Saya memang bodoh pak, IP saya tidak mencapai segitu,” jawab Yudi singkat dengan perasaan kecut.
”Masa IP sampai enam? Dasar Sersan Bodoh! Emangnya nilai IP sama dengan nilai SD?” guman Yudi dalam hati tertelan celotehan polisi berpangkat Sertu (Sersan Satu) itu.
Tiba-tiba dari dalam kantor mulai memanggil mereka satu persatu dan menanyakan nama dan alamat mereka. Setelah selesai, mereka disuruh menandatangi berita acara kejadian perkara.
Kedua mahasiswa yang diperban kepalanya tadi, tampaknya semakin lemah kondisinya. Kemudian, Yudistira disuruh oleh salah seorang kapten di situ untuk mengantar mereka berdua ke Rumah Sakit. Selepas shalat Isya, kemudian mereka dikumpulkan lagi dalam ruangan sambil melanjutkan interogasi lanjutan. Tiba-tiba komisaris polisi datang dan menginstruksikan dua sersan kepala untuk mengantar 10 mahasiswa tadi ke Rumah Sakit Panti Rapih.
Yudistira lalu ikut turut serta mengantar rombongan itu dengan mobil Kijang. Malam itu suasana kota Jogjakarta tampak mencekam seperti kota mati, lampu jalan tidak ada yang menyala karena listrik di padamkan. Suasana kota benar-benar gelap gulita. Beberapa penduduk di pinggir kampung memasang portal jalan yang mau masuk ke perumahan penduduk.
Sepanjang jalan Gejayan yang ada hanya pohon bertumbangan dan asap mengepul dari sepeda motor atau pohon yang sengaja dibakar. Mobil menerobos gang-gang sempit merobos lewat kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY/ dahulu IKIP-Jogja-red) dan akhirnya sampai juga di rumah sakit Panti Rapih yang terletak persis di sebelah timur Bundaran UGM.
Yudistira pun turut mengantar satu persatu mahasiswa yang gegar otak dan sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan ke ruang pengobatan untuk dijahit atau diperban. Kemudian satu persatu pula, mereka di masukan ke dalam bangsal perawatan khusus diinapkan dengan dijaga oleh sepeleton polisi.
Namun, kesadaran Yudi tiba-tiba habis. Yudistira serasa terbang, dan terjatuh. Yudi tak sadarkan diri beberapa lama. Waktu Yudistira membuka mata, kepalanya terasa berat, bau obat-obatan menyengat hidungnya. Entah sudah berapa lama Yudi terbaring disitu. Kepala Yudistira terasa pening dan beban berat menghimpit kepala.
Tidak berapa lama kemudian, seorang suster masuk. Dengan pelan ia bertanya, ”Sudah siuman kamu, ya?” tanya Suster yang berwajah manis itu dengan nada lembut sambil menghampirinya. Yudistira hanya bisa mengangguk.
“Kamu tak sadarkan diri selama 3 hari, mereka sudah khawatir dengan kondisi kesehatanmu?” terangnya dengan senyum terkembang.
“Tiga hari????” membayang pada bekas pukulan dan tendangan aparat brengsek itu yang bersarang ke arah kepala.
Yudi sudah tidak ingat lagi. Sehabis sarapan pagi dan makan obat, kembali lagi Yudi terbius oleh efek obat tidur, tatapannya kabur dan ia kembali tertidur pulas.
Hari-hari yang membosankan. Makan, tidur dan mandi, itulah aktivitasnya selama di rumah sakit.
Memasuki hari ke tujuh, Pembantu Rektor III yang membidangi Kemahasiswaan datang disertai dengan beberapa perwakilan lembaga, menjemput Yudi pulang. Kawan Hasib dan Shohib menyambutnya di depan rumah sakit. Dengan muka tertunduk dan perlahan mereka satu persatu memeluk Yudi erat. “Situasi sedang gawat, kamu istirahat dulu, kawan-kawan tetap di garda terdepan perjuangan,” bisik Hasib lembut.
Yudi kemudian diantar sampai rumah. Tidak lama kemudian beberapa kawan aktivis satu persatu datang berkunjung. Mereka bercerita bahwa akhir-akhir ini situasi Jakarta sudah genting.
Ada kawan dari Solo yang mengabarkan Solo terbakar. Sementara itu, ribuan mahasiswa menguasai Gedung MPR/DPR, Senayan. Para pemimpin elite nasional sibuk oleh pekerjaan yang melelahkan.
Sambil duduk di atas pembaringan. Bang Kasman membuka perbincangan. “Gimana ini Mas, jadi ikut nggak ke Jakarta?” tanyanya.
“Aku tak bisa berfikir panjang saat ini. Kawan-kawan sementara ada baiknya, tiarap dulu sambil melihat situasi,” terangnya dengan nada santai.
“Tapi situasi sudah sangat absurd dan butuh tindakan segera!” todong Bang Kasman pada kawan Hasib yang ada di sebelahnya.
Hasib berfikir agak panjang, kemudian ia melirik sama Sohib. “Gimana, Hib pendapatmu?”
“Aku juga merasakan keletihan yang sama. Energi kita habis untuk melakukan tindakan advokasi sama kawan-kawan yang hilang,” jawab Hasib dengan nada lemah.
Dengan agak gemetar, Hasib mengambil secangkir kopi hangat di meja. Kemudian ia melanjutkan perbincangan.
“Kita tunggu saja sampai situasi besok pagi,” paparnya singkat. Dan ketiga tamu Yudi itu kemudian pamit pulang. Yudi mengantarnya sampai pintu depan. Lelah seharian menunggu kabar dari kawan-kawan. Ia tertidur pulas di ambang pagi.
5. Lelah menunggu Revolusi
Sesekali di layar televisi salah seorang elite nasional mengadakan jumpa pers. Bagi Yudi, tontonan televisi pagi itu tidak ada yang menarik.
Yang menarik hanya keharusan sebuah suksesi. Setelah rally panjang revolusi Mei (20 Mei), berjuta-juta orang turun ke jalan raya mendesakan tuntutan. Tepat 21 Mei 1998 jam 08.00 pagi, siaran televisi menayangkan kejadian yang luar biasa itu.
Akhirnya jenderal besar itu mundur. Sambutan luar biasa datang dari seluruh penjuru tanah air. Para mahasiswa sebelah kamar kos berteriak-teriak kegirangan atas ‘lengser keprabon’ jendral tua bangka itu.
Tampak di layar televisi ratusan mahasiswa bersorak sorai penuh kegirangan. Ada yang menceburkan diri ke kolam bundaran Hotel Indonesia ada yang menangis haru. Semua tampak bergembira. Satu tiran telah jatuh, tapi masih menyisakan persoalan. Revolusi adalah keharusan sejarah, dan perubahan atas revolusi adalah perubahan yang radikal itu sendiri.
Pasca revolusi Mei, Yudistira makin bosan dengan demontrasi, tidak ada yang menarik. Di mana-mana masyarakat demam dalam satu eforia kebebasan. Segala sesuatu seolah-olah bisa diselesaikan melalui demo. Musyawarah dan prinsip nilai sudah jauh dari kenyataan. Lepas pemilu 1999 yang konon berlangsung paling demokratis, karena diikuti oleh banyak partai politik dan dengan tingkat partisipasi pemilih yang signifikan. Tapi, itu semua menurut Yudi, berlangsung sementara.
Praktek demokrasi yang ideal dan diimpikan oleh semua partai politik, musnah ketika bertemu di ruang-ruang parlemen. Yang terpilih sibuk berebut “kue kekuasaan” dan berbagi kompromi, namun hak-hak rakyat terbengkelai.
Melihat situasi jaman perubahan yang semakin melelahkan. Yudistira akhirnya memilih jalan menulis dan menulis. Ada sebuah dunia baru yang bisa kita rajut dari lukisan besar cerita kemanusiaan. Ia kembali masuk dunia lembaga kemahasiswaan, mengasah diri untuk untuk mempersiapkan masa depan.
Seperti biasanya, Yudi bangun pagi dan membersihkan kamar tidur.
Tiba-tiba, pintu kamarnya di ketuk dari luar.
“Assalamu’alaikum” suara lembut dari luar pintu.
“Wa’alaikum salam,” jawabnya sambil membuka pintu.
“Astaga?” kata Yudistira kaget.
“Tumben nih, main pagi-pagi benar, ada perlu apa dik?” tanya Yudi pada Novelis Anggita .
“Emang ndak boleh main apa? Kalau nggak boleh, Yudi pulang aja, ya...”
“Eh, tunggu dulu, kan ada kabar terbaru yang bisa kita bagi,” kata Yudi merajuk.
“Nih, mas oleh-oleh dari rumah! selai pisang, enak lho!” sodornya satu tas kresek kecil.
“Makasih, masih memperhatikan kebutuhan ngemilku,” sambil Yudi membuka bungkusan itu.
“Ah, cuma makanan kecil kok, Mas,” jawabnya tersipu malu.
“Gimana keluargamu, baik saja khan?”
“Alhamdulillah, mas sehat wal afi’at,”
“Mas, boleh aku nanya?”
“Tanya apaan, masa ndak boleh, tho..” jawab Yudi dengan sedikit bercanda.
“Begini. Kuliah mas kan amburadul, cobalah untuk kembali ke kampus,” saran Novelis.
“Aduh...kamu kok perhatian banget sama kuliahku...” jawab Yudi pendek saja.
“Lho..perhatian sama kuliah ndak ada salahnya to? Apa aku salah menegur, mas?” tanya Novelis.
“Oh tidak, ... aku sedang tidak enjoy untuk bicara kuliah. Tolong hormati privacy ku ini,” jawab Yudi pendek.
“Ok deh. Aku minta maaf atas pertanyaanku tadi,”
“OK aku maafin. Tapi, tolong! Jangan sebut-sebut kuliah di depan mataku,” jawab Yudi lebih tegas.
Lama Yudi memandang wajah Novelis. Satu hal pada gadis remaja itu, wajahnya yang cantik nian, membuat Yudi sering bertekuk lutut. Namun untuk mengungkapkan rasa cinta, Yudi ternyata takut. Ia tak berdaya untuk mengatakan perasaan terdalamnya pada gadis ini. Padahal orang yang sangat dicintainya ini sudah ada di depan mata.
Kedua pasangan muda ini lalu saling berhadapan badan. Sambil berdiri, dengan tangan bergetar Yudi memegang kedua pundak Novelis.
Sorot mata Yudi tajam memandang kedua mata Novelis. Gadis remaja itu tak tahan dilihat dengan sorot yang tajam, ia kemudian menundukan pandangan matanya.
“Dik, aku mohon kamu jangan sering main kemari.... Ndak baik...,” tiba-tiba Yudi mengeluarkan kata-kata yang jauh dari gambaran Novelis...
“Memang kenapa?” tanya Novelis.
Yudistira bertatapan mata dengan Novelis. Lama, keduanya diam membisu seribu bahasa. Tak terasa, bulir-bulir air mata Novelis tak tertahan lagi...menetes satu per satu...
“Aku......”
Belum sempat Novelis mengucap kalimat berikutnya, Yudi kemudian menyahutnya.
“Kita berteman sudah lama. Aku ingin semua berlangsung sederhana saja. Aktivitasku saat ini tidak memungkinkan kita melangkah lebih jauh. Simpanlah pertemuan ini. Anggap aku ini telah hilang dari pertemanan kita. Sekarang pulanglah! Kalau kamu bisa bantu aku dalam kuliah, entah titip absen atau praktikum, lakukanlah bila engkau anggap baik. Tapi, sekali lagi, aku tak ingin hubungan ini terlalu jauh,” kata Yudi dengan lebih keras.
Novelis yang mendengar kata-kata Yudi makin keras dan nada suara yang tegas. Ia sudah tak tahan lagi melihat perubahan yang terjadi pada diri sahabat karibnya itu.
“Kamu pengecut !!!” teriak Novelis sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Brak !!!!” pintu kamar kos Yudi, dibantingnya dengan keras.
“Kamu pengecut !!!”
Sambil menangis, Novelis kemudian berlari pulang....
Yudi terduduk diam seribu bahasa. “Yah, aku sadar sebagai manusia lemah. Tak berdaya dalam arus besar perubahan. Bahkan terhadap kepentingan diri sendiri pun tidak diperhatikan. Nov, suatu saat aku akan mengatakannya secara lebih jujur dan sederhana,” lamun Yudi sambil membaringkan badan, sejenak mencoba melupakan segala kejadian yang saat ini bergelayut membebani pikiran.
“Kekasihku yang sejati adalah berteman dengan orang-orang yang dilemahkan sepanjang sejarah. Aku ingin membahagiakan mereka, itu saja.”
Shepia
Kekasih sejati tak pernah sanggup untuk meninggalkanmu
Shepia, jangan pernah panggil namaku
Bila kita bertemu lagi
Di lain hari
Hadapilah ini, kisah tak kan abadi
Selamat tidur kekasih gelapku
Semoga kau cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu tak kan pernah sanggup untuk melupakanmu
Selamat tidur kasih tak terungkap
Semoga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejati tak kan pernah sanggup untuk meninggalkanmu
(Shepia)
***
Setelah agak sembuh dari sakit di kepala. Yudistira mulai menyelesaikan satu per satu persoalan kampus. Ada sesuatu yang bisa dibagi antara kebutuhan study dan aktivitas. Tapi, lama kelamaan bosan juga dengan kampus besar yang makin lama makin birokratis dan penuh aturan. Yudi mulai dijangkiti situasi bosan lagi.
Selepas kejadian itu Yudi ternyata bukannya kapok dengan kegiatan demonstrasi tapi ia justru sering dijadikan Korlap oleh rekan-rekannya dalam mengusung ide-ide perubahan sampai rejim Orde Baru tumbang.
Pada kisaran tahun 2000-an ketika aksi-aksi mahasiswa berlangsung menuntut agar salah satu parpol dibubarkan karena bagian dari regim Orba dan Yudi pun menjadi salah satu koordinator aksi-aksi jalanan. Ia memimpin demostrasi dari belahan UGM menuju Malioboro. Sepanjang jalan Cik Di Tiro sampai perempatan Gramedia mereka melakukan longmarch sambil berorasi.
Tapi di perempatan Gramedia inilah, tepatnya, ratusan mahasiswa dengan suka ria membakar bendera salah satu partai politik, simbol pembubaran partai yang dikecam sebagai bagian dari Orde Baru. Aksi tidak saja hanya membakar bendera, salah satu kantor Parpol itu juga mereka lempari dengan telur busuk dan mengecat hitam tanda gambar peserta pemilu pada jaman Orde Baru itu dengan cat hitam.
Pengurus parpol tidak berdaya melihat aksi siang itu, sebab jumlah demonstran mencapai 500-an lebih mahasiswa dari berbagai elemen gerakan kampus. Kemudian aksi dilanjutkan ke arah barat, Jl. Mangkubumi dan menuju arah kraton Jogjakarta.
Sesampainya di kawasan Malioboro, rombongan yang dipimpin Yudi itu dihadang gerakan pemuda anti komunis yang berambut cepak dengan bersenjatakan parang dan pentungan dari bambu.
Yudi yang berada di garis terdepan tak luput dari sabetan parang dan gebukan potongan bambu atau kayu yang besarnya sebesar lengan tangan orang dewasa.
Tidak lupa Yudi kembali membaca ‘Wirid Madlumin’ (Wirid Orang Tertindas) yakni; Li Anahum Khadalunni Fakun Ya Aziizu Nashiri, Li Anahum Abghadumunni Fakun Ya Wadudu Habibi (Karena mereka mencurangiku, Maka engkau Wahai Yang Maha Perkasa Penolongku, Karena mereka membodohiku Wahai yang Maha Mengasihi, Maka Engkaulah cintaku).
Kejadian aneh itu muncul lagi, kali ini tubuh Yudistira benar-benar menjadi hangat, dan tidak merasakan apa-apa akibat sabetan parang dan gebukan potongan balok kayu atau bambu yang di bawa oleh ratusan gerombolan pengacau.
Walau demonstrasi itu sempat dibuat kacau, dan sebagian kawan-kawan Yudi terkena pukulan, dan pentungan bahkan ada yang tersabet parang.
Melihat kejadian yang luar biasa itu, dan perlawanan Yudi serta puluhan korlap keamanan demonstran yang tidak tinggal diam mengantisipasi keadaan. Maka tidak berapa lama kemudian, situasi berbalik arah.
Ratusan gerombolan pengacau yang mengatasnamakan Gerakan Anti Komunis itu pun lari kocar kacir ke arah barat Malioboro. Dan rombongan demonstrasi pun melanjutkan aksi menuju perempatan kantor Pos Besar dan aksi berakhir.
Kejadian yang menimpa Yudi sosok aktivis yang berani dan cinta perubahan serta begitu ikhlas dalam berjuang mendapat pertolongan dari Allah SWT. Yudistira sendiri mengaku ia tidak memiliki kekebalan atau apa, sebab ia menyadari dalam pribadi Rasulullah Muhammad SAW tidak mempunyai ilmu-ilmu semacam itu.
Yang jelas, menurut Yudi, semua pertolongan itu terpulang dari Allah SWT. Yang pasti, Yudistira senantiasa yakin bahwa Allah SWT pasti akan menolong hamba Nya yang berjuang beramar ma’ruf nahi munkar. Bagi mereka yang berjuang di jalan Allah SWT, musibah senantiasa dikembalikan kepada yang maha pencipta.
”Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Nya.’ Mereka itulah yang memperoleh selamat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk.” (QS.al-Baqarah[2] :156-157).
Berbagai kejadian yang menimpanya semakin mematangkan dalam pribadi Yudi untuk berjuang dalam garda terdepan membela rakyat yang tertindas. Kembalinya Yudi di lembaga, senantiasa dinantikan oleh kawan-kawan seperjuangan. Sosoknya yang luar biasa teguh dan sikapnya yang kukuh berhati baja tak lekang oleh waktu. Itulah, betapa keras gambaran sosok pemuda desa itu.
6. Eksedisi ke Jakarta
Ya, Pemuda berhati baja, tak terasa telah menjalani pergulatan dalam pergerakan lembaga mahasiswa selama delapan semester. Sudah empat tahun ia tinggal di kota pelajar ini. Kuliahnya, selalu ditinggalkan dan ia lebih suka merintis pergerakkan bersama kawan-kawan seperjuangan di lembaga kampus. Baginya, bangku kuliah tidak ada yang penting. Hampir duapuluh empat jam, waktu dihabiskan di kantor lembaga kemahasiswaan.
Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mendidik jiwa pejuang dan mengasah intelektualisme. Itulah prinsip kukuh yang ia anut, sebagai persiapan dalam menyambut masa depan yang gemilang. Prinsipnya, “student today, leader tomorrow!”
Ujian tengah semester baru saja usai. Seperti biasa ia makin bergiat di lembaga pers kampus itu. Dari pagi sampai siang, Yudi belum mandi. Ia masih saja mengetik proposal sebuah seminar lembaga pers itu.
”Gila, kawan-kawan benar gila!” teriaknya dari balik lemari besi.
“Apa ada bang?” tanya Broto dari seberang ruang kantor sambil melepas jaket almamaternya yang berwarna biru tua itu dan menggantungkannya di samping lemari besi.
“Nih, proposal sudah aku selesaikan...masa ndak ada yang mau ke Jakarta?”
“Terus gimana dong?”
“Biar aku yang ke Jakarta...,” jawab Yudi lebih tegas.
Setelah selesai ngeprint proposal itu, Yudi kemudian keluar sebentar untuk memfotocopy proposal dan tak lama berselang, ia tela masuk kembali ke kantor lembaga dengan membawa segepok proposal.
“Kapan mau berangkat?”
“Sore ini juga,” jawab Yudi pendek.
Setelah berkemas dengan membawa bekal secukupnya, Yudi lalu diantar Broto dengan sepeda motor buntutnya itu ke Stasiun Tugu. Sambil menunggu kedatangan kereta, mereka berbincang-bincang tentang acara seminar yang akan berlangsung sebulan lagi.
“Tolong, persiapkan matang di Jogja. Soal persiapan hari H utamanya. Kalau soal dana, biar lembaga yang tanggung dulu,” pesan Yudi.
“Kalau pimpinan tak mau nurunkan dana?” tanya Broto balik.
“Biar aku nanti yang urus. Nanti sesampainya di Jakarta, aku akan segera telepon ke Jogja,” kata Yudi lebih menyakinkan. Ia kemudian berdiri dan beranjak menuju ke gardu telepon koin yang ada di stasiun.
Setelah memasukan uang recehan dari balik sakunya, Yudi kemudian menekan tombol-tombol nomor telepon yang sudah dihapalnya di luar kepala. Ternyata, ia menelpon Novelis...
“Halo, bisa bicara dengan Novelis?” tanya Yudi pada yang mengangkat telepon.
“Sebentar,” jawab penerima pesan.
Tak berapa lama kemudian. Terdengar suara yang tak asing lagi bagi Yudi.
“Ni siapa ya?”
“Aku Yudi,”
Lama tidak terdengar suara. Masing-masing tidak memulai perbincaraan.
“Sekarang aku di stasiun Tugu. Aku mau ke Jakarta sekarang,” buka Yudi.
“Terus?” tanya Novelis balik.
“Aku minta maaf atas kejadian beberapa waktu yang lalu. Aku menyesal mengucapkan kata-kata yang kasar kepadamu,”
“Sudah aku maafkan kok,” jawab Novelis pendek.
“Maksudku...”
“Berangkatlah, doaku semoga engkau selamat sampai tujuan,”
“Oke lah..nanti kalau aku pulang ke Jogja, insya allah aku akan mampir ke kostmu,” kata Yudi sambil menutup gagang telepon umum di komplek Stasiun Tugu itu.
Tepat jam enam lewat duapuluh lima menit kereta Senja Mataram datang. Kedua dua aktivis muda itu berpelukan sebelum keberangkatan Yudi.
Selama di dalam kereta, pikiran Yudi sudah menerbangkan segenap pikirannya untuk menyukseskan acara diskusi bahasa yang akan digelar sebulan lagi. Dalam benaknya telah tersusun langkah-langkah selama di Jakarta. Dalam file-file otak sensorik dan motorik telah tersimpan daftar nama-nama lembaga beserta alamatnya untuk dihubungi.
Lelah berfikir dengan berbagai langkah selama sebulan ke depan di Jakarta, Yudi terlelap dalam tidurnya. Pikirannya memang lelah betul, seharian dari pagi sampai sore hanya membuat proposal.
Sampai stasiun Gambir, ia kemudian menuju kampus UNJ untuk melepas lelah dan sekaligus bertanya bagaimana menuju alamat-alamat lembaga yang bisa menyediakan dana bagi kegiatan seminar Bahasa.
Beberapa hari tidak mendapatkan hasil. Akhirnya Yudi menelpon Broto yang saat itu berada di kantor lembaga.
“Begini saja bung, kalau dalam dua minggu ini aku tak mengabari lagi, lebih baik seminar bahasa, dibatalkan saja!” perintah darurat dari Yudi terpaksa dikeluarkan.
Dari pagi hari sampai siang itu, Yudi termenung sendiri di taman kampus yang katanya banyak melahirkan calon-calon guru itu. Langkahnya telah gontai mengintari bangunan-bangunan kampus. Sampailah Yudi mampir di kantin mahasiswa yang persis di basement bawah kantor lembaga kemahasiswaan UNJ.
Tampak salah seorang pengurus Lembaga Pers Didaktika, Thatut namanya tengah berkumpul bersama lima temannya (tiga cewek dan dua cowok).
“Kenalkan, ni mahasiswa dari Jogja!” kata Thatut langsung membuka perbincangan.
“Yudi,” kata Yudi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya menyalami satu per satu teman Thatut itu.
Ternyata perbincangan mereka siang itu di kantin kampus tentang cara melakukan advokasi salah satu Lembaga Pers Mahasiswa di kampus UPN yang terletak di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Mereka pun lalu mulai menyusun strategi dan mengadukan masalahnya ke kantor Kontras yang terletak di kawasan Pegangsaan, Jakarta Pusat.
Lepas dari acara advokasi, mereka pun lalu berkumpul di bundaran Universitas Moestopo menggalang solidaritas menuju gedung Depdiknas yang terletak di kawasan Jl Sudirman, Jakarta. Sempat juga Yudi mendampingi para demonstran aktivis pers kampus se-Jakarta, mereka pun menginap di kantor kementerian itu sampai ketemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Suasana yang penuh heroik itu harus segera di akhiri. Yudi ingat akan tugasnya ke Jakarta ini untuk mencari sponsor kegiatan kelembagaan. Alhamdulillah, berkat kerjasama dan kenalan seorang kawan lembaga, Yudi mendapat dana dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di kawasan Menteng.
Setelah mendapat sponsor dan Yudi akhirnya pulang kembali ke Jogja. Hari-hari yang penuh heroik dan tantangan telah menghadang di depan mata. Begitu sampai di stasiun Tugu, Yudi telah disambut Broto dengan sepeda motornya.
“Bagaimana persiapan terakhir?” tanya Yudi di belakang kemudi.
“Besok, tinggal pelaksanaan saja,” jawab Broto dengan mantap.
Setelah kedua sahabat karib itu sampai di kampus perjuangan, mereka disambut oleh kawan-kawan lembaga yang menanti kelanjutan acara. Yudi dan Broto lalu berbagi tugas dan esok harinya seminar bahasa yang menghadirkan beberapa pembicara ternama hadir menyemarakan suasana.
Demikianlah, perjuangan intelektual dalam dunia lembaga mahasiswa bagi Yudi adalah latihan menempa diri untuk mengasah semangat dan merajut kebersamaan dalam merancang masa depan yang gemilang.
7. Lelahnya Sebuah Perpisahan
Seperti biasanya Yudi selalu menginap di kantor kumuh itu, bangun pagi dan minum teh. Sebagai angkatan lama di kantor lembaga, ia bak raja kesiangan. Belum mandi, tapi minuman pembuka pagi dan asap rokok senantiasa mengebul dari mulutnya.
Bagi aktivis-aktivis lama, mereka senang menginap di lembaga kampus. Dunia terasa tidak ada beban. Kuliah, tidak dipikir. Yang ada hanya antara kesenangan dan perjuangan. Pagi benar, ia kemudian mandi di WC belakang. Alamak, antri juga sesama penghuni kampus. Sehabis mandi, ia kembali masuk kantor lembaga dan membaca koran pagi.
Satu per satu halaman koran pagi ia baca sambil duduk di kursi bambu depan kantor lembaga kampus itu. Segelas teh pagi, tinggal separoh gelas dan rokok kreteknya pun tinggal seperempat bungkus.
Tiba-tiba, Karno adik angkatan lembaga kampus itu datang dan langsung menyahut satu gelas teh. Nama lengkapnya Karno Widiatmoko, temen-temen kadang memanggil Karno atau Wid.
“Heh, heh. Ambil sendiri kenapa?” seru Yudi keras.
“Katanya proletar, bagi-bagi dong!” celetuknya santai.
“Proletar apa? Proletar tidak kenal merampas hak orang lain!” bela Yudistira sengit.
“Emang merampas sudah diharamkan di negeri ini? Semua orang boleh merampas. Cuma kita saja yang tak kebagian harta rampasan,” katanya sambil tertawa.
“Terserah kaulah, yang jelas aku tak tahu menahu soal rampas merampas. Yudi dididik mandiri. Lihat nih! Mencuci sendiri, mandi sendiri dan makan cari sendiri, seperti kata pahlawan besar revolusi. ‘Harus dengan kristalisasi keringat!’” papar Yudi lebih lanjut.
”Sudah makan belum kamu?” tanya Karno.
“Eh, kamu lihat sendiri, aku sudah tongpes nih kantong!” sambil Yudi memperlihatkan kantong baju yang kosong melompong.
“Nah, kalau kamu yang menawari duluan, baru namanya mentraktir nih,” lanjut Yudi lagi.
“Ah, jangan banyak komentar. Yang jelas sekarang saatnya makan. Yuk kita ke warung belakang!” ajak Karno.
Segera Yudi beranjak bangkit mengikutinya dari belakang, menuju Warung Kopi samping jalan dekat Bank BII, tak jauh dari belakang kantor lembaga kemahasiswaan itu.
“Eh, omong-omong gimana nih investigasinya[4]?” potong Karno.
“Emang kenapa?” tanya Yudi balik.
“Belum selesai, nih!” sambil menunjukan TOR[5] yang tampak kumal.”
“Celaka! Deadline[6] tinggal sebulan lagi. Kapan kau mau selesaikan?”
“Bagaimana kalau aku yang berangkat?” ucapnya mantap.
“Lho kok kamu yang bertanya? Bukankah itu tugas kamu?”
“Benar kamu jadi yang mau reportase dan mau ikut kelayaban keluar kampus ?” tanya Yudi meyakinkannya.
“Benar, Mas! aku pengin ikut,” kata Karno lebih mantap.
“Kenapa kamu bela-belain tidak masuk kuliah, malah ikut orang macam saya?”
“Aku ingin mengabdi pada rakyat,” jawab Karno pendek.
“Okelah, kalau itu alasanmu,”
“Kapan mau berangkat?”
“Siang ini. Karena itu kita ke kos ku dulu, ambil perbekalan, Yuk!”
“Ayo!”
***
Bus yang mereka tumpangi berjalan lambat menyusuri sepanjang pantai utara Jawa. Udara tampak panas, keringat mereka berdua mulai bercucuran menetes membasahi kaos oblong yang mereka pakai di tengah sesaknya penumpang bus.
“Rembang masih jauh, Pak?” tanya Yudi pada kondektur bus.
“Sebentar lagi akan memasuki perbatasan kabupaten Rembang, Den,” jawab kenek itu dengan santai.
Yudistira melihat Karno masih tertidur pulas, sebab perjalanan Jogja–Semarang membuat mereka berdua sangat lelah.
Yah, namanya ekspidisi reportase lapangan yang harus mengejar deadline, membuat mereka berdua tak sempat istirahat. Demi mengejar deadline, yang tinggal dua minggu lagi.
“Den, kecamatan Pecanggahan kurang sekilo lagi. Harap mempersiapkan diri!!” perintah kondektur. Segera saja Yudi bangunkan Karno.
“Wid, hampir sampai, bangun Wid!!”
Sambil menggoyangkan badannya. Dan Karno terbangun dari tidur lelapnya, mungkin ia tengah bermimpi indah. Dengan segera pula Yudi membenahi tas ransel, kemudian ia menuju ke bangku depan, di samping pak sopir disusul Karno.
“Pak, gapura depan. Turun!”
Pak sopir bus itu pun dengan sigapnya kemudian memberhentikannya di depan gapura kecamatan Pecanggahan.
Sekali seumur hidup, Yudi baru melangkah di Kabupaten Rembang. Demikian pula Karno, walau dia anak Kudus. Tapi, ia bengong saja melihat potret desa Pecanggahan, yang beberapa waktu lalu dilanda amuk massa gara-gara perebutan daerah tangkapan nelayan ikan.
Mereka berdua kemudian memasuki desa tersebut, perut mereka sudah tampak keroncongan, tidak bisa diajak kompromi.
Sementara rumah-rumah penduduk tampak tertutup rapat, apalagi hari menjelang Maghrib. Mereka terus masuk ke utara lewat jalan setapak yang berdebu bercampur pasir membuat sepatu mereka kotor.
Yudi melihat di seberang utara lautan luas terhampar. Perahu-perahu ditambatkan pada patok-patok kayu. Maklum mereka melaut kala waktu malam hari dan pulang ketika fajar tiba.
Kecemasan menyergap mereka berdua. Kedua pemuda canggung itu terus saja berjalan menelusuri perkampungan nelayan tradisional yang kumuh. Rumah-rumah mereka hanya berdinding bambu, jaring-jaring di jemur di depan rumah di atas tumpukan bambu.
Di mana mereka harus menginap? “Tapi menginap di rumah siapa?”
Di pertigaan jalan, tampak dua orang pemuda yang berkopiah hitam sambil mengapit kitab kuning hendak pergi mengaji. Dengan langkah hati-hati mereka bertanya pada mereka.
”Mas, rumah pak Kades di mana?” tanya Yudi menghentikan langkah mereka.
“Rumah pak Kades, kira-kira dua rumah dari sini,” jawabnya sambil menunjuk sebuah rumah pangung yang tidak terlalu besar.
Setelah mengucapkan terima kasih atas informasinya, mereka bergegas menuju rumah pak Kades itu.
Kemudian mereka mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali, tampak seorang laki-laki berumur 30 tahunan keluar dan mempersilahkan mereka duduk di ruang depan.
“Maaf mas... Mas-mas ini dari mana?” tanya laki-laki itu.
“Kami datang dari Jogja, pak. Maksud kedatangan kami berdua ke daerah Rembang ini untuk melakukan penelitian tentang nelayan,” kata Yudi pada pemilik rumah itu.
Mereka kemudian mengobrol beberapa saat dan saling memperkenalkan diri. Nama laki-laki itu namanya pak Darsun. Ia baru menjabat jadi kepala desa itu baru sebulan. Pribadinya sangat ramah, dan mudah diajak bicara. Kemudian mereka dipersilahkan istirahat di kamar depan yang memang dikhususkan bagi tamu.
Mereka berdua kemudian membersihkan diri, dan makan bersama. “Gimana, kabar mahasiswa Jogja, masih senang demonstrasi?” tanyanya mengawali perbincangan malam itu.
“Wah, demonstrasi sih selalu ada, tapi kami menempuh jalan lain, yaitu lewat tulisan,” jawabnya.
Yudi jadi ingat dengan sebuah pamlet di tembok kampus, sewaktu Yudistira ingin masuk lembaga pers. ‘Tulisanmu mampu merubah dunia, kawan! Goresan tintamu lebih tajam dari sebutir peluru,’ itu yang membuat Yudistira tertarik dengan dunia pers.
“Di sini, demo terjadi di kecamatan. Karena pemerintah tidak serius dalams menangani jaring trawl. Bahkan karena warga mereka emosi, akhirnya bentrok dengan aparat,” ujarnya.
“Sampai bentrok?”
Mereka berdua menyahut berbarengan.
“Yah, bukan saja saat demo. Di laut, kalau mereka berpapasan dengan nelayan yang berjaring besar, tiada jalan lain kecuali melawan dengan kekerasan. Bahkan warga mereka juga banyak yang terluka, sebab mainnya keroyokan,”
“Habis, gimana lagi? Penghasilan kami semakin lama semakin kecil. Penghasilan kami nol! Lahan tangkapan, disapu bersih oleh nelayan besar, berjaring trawl[7]. Sedang mereka pakai jaring tradisional. Untuk biaya operasi ke laut sekarang makin sulit mas. Hasil tangkapan makin berkurang,” keluhnya dengan mimik sedih.
“Sementara, nasib kami-kami ini jarang diperhatikan. Padahal kami mengelola alam dengan penuh kearifan dan tidak merusak tata lingkungan. Tapi, tata ekonomi kita hanya memihak para pemilik kapal besar. Mas, lahan tangkapan kami sudah dirampas, mereka (pemilik kapal-kapal besar) menari-nari di atas penderitaan rakyat miskin. Pemerintah diam saja dan tidak ada yang peduli,” lanjut Lurah muda itu sambil menahan kepedihan yang mendalam.
...
“Oh, ya den. Ikannya dihabiskan, masih banyak tuh!” perintahnya, sambil menyodorkan sepiring ikan bandeng ke hadapan mereka.
“Omong-omong, sekarang proses kelanjutannya gimana, Pak?” tanya Karno.
“Menurut rencana sih, kita akan minta diadakan pertemuan dengan semua pihak terkait. Baik pihak aparat, pemerintah, dinas kelautan, nelayan dan perkumpulannya untuk menyelesaikan masalah ini.”
“Kalau capek, sekarang istirahat saja. Besok kita sambung lagi,” sambung Pak Darsun sambil melangkah ke belakang.
Mereka kemudian masuk ke kamar. Udara makin dingin, sebab angin begitu kencang dari arah laut, suara gemuruhnya sampai terdengar dalam kamar. Maklum tempat mereka menginap dengan pantainya kurang lebih dua puluh meter. Dari jendela kamar saja bisa dilihat sinar-sinar lampu petromak kapal-kapal nelayan yang hendak menuju ke laut.
Kedua anak muda itu berbincang-bincang ...............
Karno, tampak sibuk membaca buku petualangan Ernesto “Che” Ghuevara pejuang asal Argentina, yang Yudi peroleh sewaktu ke Jakarta satu bulan yang lalu.
“Begitu heroik ya, Bang? Apalagi perjalanan hidupnya?” tanyanya menyela keasyikan Yudi memandang laut.
“Yah, begitu mengharu biru, penuh patriotisme sekaligus memilukan bagi seorang pejuang,” jawab Yudistira pendek.
Pertanyaan itu membuat Yudi membayangkan berbagai kejadian masa silamnya, “Apalah artinya nasib kita yang masih sangat sedikit punya kepedulian dengan orang-orang yang tertindas”.
“Bagaimana dengan kisah selanjutnya?”
Pertanyaan adik kelasnya di lembaga pers mahasiswa ini membuatnya tersenyum kecut. Betapa waktu hidup seorang “Che” Guevara habis untuk melakukan pemberontakan dan menolong sesama di mana pun berada.
“Apa yang tidak tercapai seutuhnya dalam perjalanan hidupnya, Bung?” tanya Karno lagi.
“Perjalanan cintanya dengan Ceciliena Feirera adalah sebuah perjalanan cinta yang harus dibayar mahal demi perjuangan,” pikir Yudi sambil menerawang langit-langit kamar.
Yudi jadi ingat dengan Novelis Anggita teman kuliah di Fakultas Teknik. Kini ia ditinggalkan jauh dari gambaran yang tak pernah diduga sebelumnya, mungkin sebentar lagi ia lulus.
Sementara Yudi, masih keluyuran masuk kota, keluar dusun, masuk perkampungan satu ke perkampungan yang lain memotret derit nestapa setiap ummat manusia yang terus melawan penindasan serakah manusia yang lain.
“Bagaimana pertemanannya dengan Albernando Granado?” tanyanya sekali lagi.
“Aku tak bisa menerangkannya lebih jauh. Hanya yang kuketahui, persahabatannya adalah perjuangan yang sejati. Mereka rela meninggalkan kota kelahiran untuk berkelana dengan sepeda motor buntut, menimba pengalaman dan terus melakukan pembebasan. Namun, yang jelas, mereka adalah sahabat sejati perjuangan,” jawabnya dengan lirih.
Membayangkan seorang “Che” yang rela meninggalkan bangku kuliah kedokteran dan menjadi gerilyawan bagi Amerika Latin. Memanggul senjata, berkelana, bergerilya dan membantu setiap insan di muka bumi yang membutuhkan dukungan perjuangan. Sebuah kisah “great spirit” bagi energi-energi perjuangan menghadapi tantangan jaman.
“Kalau kamu lelah, istirahatlah! Besok kita lanjutkan investigative reporting lagi!”
Yudi terpaku menatap laut, pelan-pelan ia mulai menulis sebuah catatan harian dalam sebuah buku agenda yang sudah sangat lusuh. Dengan perasaan terdalamnya, ia kembali menulis beberapa bait syair cinta untuk sang kekasihnya.
Hari jelang pagi, mata Yudi sudah tidak bisa kompromi lagi, segera ia berbaring di samping Karno yang sudah “ngorok” sedari tadi. Tidak lama kemudian mereka tertidur pulas, karena sangat capai oleh jauhnya perjalanan.
***
Pagi-pagi sekali mereka menelusuri pelabuhan kecil di pantai utara itu. Sesekali mereka melakukan wawancara dengan beberapa nelayan yang lewat dan para pedagangnya. Tidak lupa mereka juga melakukan wawancara dengan Satpol air yang tampak menjaga dermaga.
Lengkap sudah tiga hari, mereka menginap di rumah Kepala Desa tersebut. Setelah data-data yang mereka peroleh dirasa cukup, mereka berpamitan.
“Kami terlalu banyak merepotkan Bapak di sini, kalau ada tindakan kami yang tidak berkenan, mereka mohon ma’af dan terima kasih banyak atas jamuannya selama kami di sini,” pamit Yudi dan Karno pada pak Darsun di ujung perbatasan desa.
Selanjutnya mereka pulang menuju ke Jogja. Mereka telah menelusuri kota Paciran, Jawa Timur dan Cilacap, Jawa Tengah. Jadi sudah tiga daerah sudah terbidik, mereka rasa cukup untuk sebuah laporan investigative reporting.
Sepanjang perjalanan dalam bus, mereka tertidur pulas. Untuk sampai ke Jogja, kedua pemuda revolusioner itu harus singgah di kota Semarang terlebih dahulu. Dalam perjalanan menuju Semarang, ketika di tengah perjalanan Karno sempat mengoyang tubuh Yudi, “Hei lihat, itu rumahku!” katanya sambil menunjuk ke arah jendela.
Yudi memandang perilaku kawannya itu dengan tersenyum.
”Kau tidak mampir pulang?” tanya Yudi.
“Tidak, aku ingin segera sampai ke Jogja,” jawabnya pendek.
Setiba di Semarang mereka berganti bus dan menuju ke Jogja. Setibanya di Jogja, mereka langsung mengetik laporan investigative. Dan tugas itu, diketik oleh Karno dengan tangkas.
Tidak sia-sia Karno bersama Yudi selama sebulan ini. Kuliahnya ia tinggalkan demi untuk menulis di majalah. Jalan sunyi, sebuah rihlah penuh kesunyian menyisiri aroma kesetiaan dan menyerap suara-suara orang-orang kecil, tertindas dan nasibnya selalu dikalahkan.
“Latihan memupuk idealisme,” begitulah kira-kira. Di tengah kesibukan itu, Yudi mampu melupakan gadis kecil, teman sefakultasnya. Ia disibukkan oleh sebuah pekerjaan yang terlampau mahal untuk menebus masa depan. Walau pada posisi yang sulit semacam itu, Yudi sering merasakan betapa masa depan semakin tak enak ditatap.
Gambaran akan kehancuran kuliah, ia sadari betul. Dan kawan-kawan kuliah pun semakin jarang ia temui di kampus. Mungkin, satu per satu sudah lulus. Hanya tekad baja yang membuatnya harus berbuat, bahwa ia tetap memilih menjadi aktivis. Hidup memang harus memilih.
Perpisahan dengan kawan, kekasih, bahkan hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua, selalu dihadapinya dengan tegar. Bagi Yudi, perjuangan dalam pergerakan adalah sudah nomor wahid. Pilihan ini sudah final dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, kukuh sekeras baja.
Kuliah dan berbagai janji masa depan yang diajar di ruang-ruang kelas, hanyalah ‘menara gading’ bangunan mimpi. Yudi semakin muak melihat dosen-dosen yang sedang bersemangat mengajar teori-teori besar. Ataukah Yudi yang tidak paham diajar oleh para dosennya?
Ketika teori-teori besar kampus sudah tidak seiring dengan dunia realitas kekinian (kontekstual). Kenyataan sosial telah melangkah jauh dari yang diajarkan kampus. Pada posisi itu, Yudi telah berkesimpulan kampus--hanyalah sebagai ‘laboratorium besar’ dari berbagai teori-teori besar.
Kampus tidak membumikan dirinya di tengah masyarakat. Kampus tidak memimpin perubahan besar di masyarakat sebagai tugas sosial yang diembannya (tridarma perguruan tinggi). Apa yang tengah terjadi di masyarakat, tidak pernah terekam dan terpikir oleh kampus untuk mengkritisi apalagi menyajikan solusi, inilah ketimpangan antara dunia kampus dengan kejadian-kejadian yang ada di tengah masyarakat.
Pada pilihan yang sulit, Yudi telah memilih bahwa hidup tidak bisa mengandalkan dunia kampus belaka. Kampus hanyalah sebagai bagian kecil dari kehidupan sesungguhnya. Kampus hanya menjadi gerbang bagi dirinya untuk menjadi seorang intelektual sejati.
Kuncinya sama seperti mahasiswa lain, dengan belajar tekun, membaca dan membaca. Ia pun gemar membaca, dalam seminggu paling tidak ia menyediakan dua hari untuk membaca buku-buku umum di perpustakaan fakultas atau universitas.
Cuma letak perbedaannya adalah pembacaan yang utuh dari seorang intelektual sejati akan meningkat dengan pergulatan sosial melalui diskusi-diskusi serta rancang aksi pergerakan. Yudi bahkan tak segan-segan turun langsung di tengah rakyat membela yang tertindas. Bila sempat ia akan menulisnya. Itulah kunci seorang intelektual sejati; membaca, diskusi dan menulis.
Pengembaraan Yudi menjadi seorang aktivis yang biasa terdidik berfikir kritis dan bertindak strategis, selalu diasahnya dalam tiap kesempatan. Ia menyelami arti kehidupan intelektual dengan banyak belajar berbagai hal di luar kampus. Berbagai buku bacaan dan klub-klub diskusi pergerakan, selalu menjadi menu hariannya. Berbagai catatan-catatan perjalanan itu, ia tulis dalam memori besar catatan panjang, sebuah catatan panjang seorang demonstran.
***
Yudi terlalu asyik dengan aktivitas. Bahkan tawaran beasiswa dari founding[8] luar negeri untuk pelatihan jurnalisme investigative pun Yudi sambar. Lembar demi lembar formulir Yudi isi dengan berlinang air mata. Sebab ia harus beranjak ke Amerika.
Sore itu, Yudi memacu motor kesayangannya ke kos Novelis. Entah kenapa, hari itu ia ingin bertemu. Sampai di kost dekat kampung Klabanan, Ngaglik, segera ia ketok pintu kos bercat merah itu.
Seorang gadis remaja keluar kamar, sambil menyapa.
“Cari siapa, Mas?”
“Novelis ada?”
“Oh...Mbak Novel sudah lulus Mas. Sekarang ia sudah pulang kampung. Dengar-dengar sih, ia mondok pada pesantren Al-Quran di Jawa Tengah belahan barat,” jawab gadis berjilbab yang baru membuka pintu kos bercat merah itu.
“Kalau gitu, saya permisi,”
Dengan langkah yang gontai Yudi keluar dari halaman kost putri itu. Hatinya remuk redam menahan rasa kecewa. Betapa hari itu, Yudi kecele berat. Niat hati untuk suaka kembali dengan Novelis ternyata batal. Setelah menyetop kendaraan mikrobus yang lewat menuju Jl. Kaliurang, ia segera bergegas kembali ke kostnya.
Dan ternyata, Karno telah menunggu di depan kamar kostnya.
“Sudah lama kamu menunggu?”
“Belum terlalu lama,”
“Ayo masuk.”
Setelah melepas sepatunya, Karno lalu masuk kamar kost itu. Yudi sambil memegang formulir kemudian berkata, “Aku jadi ke Jakarta,”
“Sudah dipertimbangkan masak-masak, Mas?” tanya Karno waktu main ke kamar kost.
“Ah, persetan dengan bangku kuliah ini! Aku tidak pernah mendapatkan pendidikan yang membebaskan! Aku serasa terbelenggu dengan bangku-bangku kuliah! Diktat-diktat tidak mampu merumuskan keadaan! Buku-buku tidak menjawab persoalan!”
“Gimana, dengan orang tuamu?” tanyanya lagi.
Yudi terjegat rasa kaget alang bukan kepalang.
Tatapannya kosong, Yudi melihat gelas-gelas kopi yang telah kering dan putung-putung rokok di asbak, buku-buku di rak dan sebuah perangkat komputer rakitan, membuat mata Yudi berkunang-kunang.
Haruskah semua ini ia tinggalkan……
Yudistira merasakan kepedihan yang terdalam. Yudi menghela nafas panjang, dan untuk menghilangkan kejenuhan ia kembali mengambil sebatang rokoknya. Kemudian segera ia nyalakan sebatang rokok kretek dan menghisapnya dalam-dalam. Berharap segala persoalannya bisa tenang setelah merokok. Tapi, habis berbatang-batang, sebuah jawaban pun tak nampak di depan mata.
Betapa jauh dan panjang jalan yang telah ditempuh. Yudi belum bisa membuat hasil yang terbaik bagi mereka, apa yang bisa bisa Yudi balas atas jerih payah kedua orang tua?
Yudi sadar dalam rimba kehidupan ini, apalah arti sebuah title gelar. Ini membuat orang terpasung dengan rutinitas bangku kuliah. Amat berbahaya bagi sebagian mahasiswa yang pragmatis.
“Kita masih beruntung, bisa mengenyam dunia kampus. Tapi, jangan merasa gagah dan hebat sebagai orang kampus. Justru banyak pemuda di jaman kita sekarang yang tidak kenal bangku kampus, dia bisa sukses dan berhasil...Kita masih punya kesempatan yang lebih baik di banding pemuda yang lain.”
Yudi kemudian menasihati dia; “Karno, kita berjalan dengan kesempatan!”
“Ini kesempatan terbaik bagi kakak, untuk mengasah diri dan meningkatkan pengetahuan. Orang tua kita, tidak melarang anaknya terus berkreasi! Yang penting, tanggung jawab kuliah nantinya diselesaikan!” jawab Yudi dengan tegas.
Kemudian pemuda berhati baja itu sodorkan berita fax dari lembaga founding. Di lembaran itu, nama Yudistira tertera pada urutan nomor tiga, dan besok harus tiba di Jakarta untuk pembekalan.
“Yudi hanya titip pada adik-adikmu di lembaga, ajarilah mereka tentang patriotisme, keberanian dan idealisme akan perjuangan serta pembebasan!! Aku rasa, Aku bukanlah satu-satunya tempat kalian menimba ilmu. Dan bukan aku yang terbaik, jangan gantungan nasibmu pada hanya seorang diriku!! Apalah artinya seekor “coro” macam aku yang tak kenal peduli dengan nasib kuliah dan terus berkelana untuk menggoreskan kata-kata,” jawab Yudi dengan mata berkaca-kaca.
Lalu ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang kumal, namun isinya masih tersusun rapi. “Dalam buku catatan ini, aku telah menuliskan beberapa pesan penting bagi perjuangan. Wariskan nilai-nilai pada kawan-kawan. Katakan ‘sang pejuang akan kembali’ dalam waktu yang tidak berapa lama!”
“Pesanmu akan aku ingat selalu,” ujar Karno dengan wajah bersungguh-sungguh. Mereka kemudian berangkulan amat lama.
“Hanya engkau yang tahu, siapa aku. Hanya engkau yang telah menjadi teman setia dalam tiap perjalanan reportase dan berdiskusi di lembaga. Tolong bimbing adik-adik. Jangan tinggalkan mereka!!!”
Tak terasa tangis Yudi meledak. Pemuda berhati baja itu luluh juga oleh sebuah perpisahan dari sahabat sejatinya itu. Tak terasa, air mata menetes, membasahi baju di pundak mereka berdua. Kemudian Yudi mengemasi barang-barang yang perlu dibawa.
Setelah pamit kepada teman-teman yang ada di Jogja, kalau Yudi akan pergi selama setengah tahun di University of rhode island graduate scool of oceanography the Metcalf institute for marine and environmetal reporting.
Teman-teman satu lembaga pers melepasnya di stasiun Tugu Jogjakarta.
“Jangan lupa surati kami, Mas!”
Sambil mereka melambaikan tangan.
Yudistira pun melambaikan tangan dengan wajah sayu. “Satu orang terdidik adalah pembebasan. Melangkah dengan berani menjawab tantangan, satu langkah menuju pembebasan!!!” guman Yudi tertelan derit suara roda kereta api yang melaju kencang di ujung malam meninggalkan kota Jogja.
(Keasyikan perjalanan kereta bisnis –waktu itu kereta bisnis masih diberangkatkan dari stasiun Tugu, senja Mataram, tiketnya masih 30 rb jogja-jakarta )
***
Waktu masih menunjukan pukul 05.00 pagi, stasiun Gambir sudah tampak ramai. Perutnya yang keroncongan, tanda sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Segera pemuda berhati baja itu menuruni tangga dari lantai stasiun kereta api termewah di Jakarta itu dengan tergesa-gesa. Kemudian ia menghampiri penjual ketupat sayur;
“Mang, ketupat sayurnya, satu porsi, ya! Jangan terlalu pedas!”
“Baik, den!” jawabnya dengan cekatan segara penjual kupat sayur itu meracik.
Tidak berapa lama kemudian, satu porsi kupat sayur masih panas, tersaji di bangku stasiun Gambir di ujung pagi.
“Nih den!”
Segera saja Yudi santap sepiring kupat sayur, dan kemudian Yudi tidak lupa membayarnya. Ia kemudian menengok sebentar jam di pojok stasiun, masih menunjukan 05.30. Yudi mesti mandi dulu, segera ia berjalan ke seberang jalan, dan menemukan WC umum.
Setelah mandi pagi, segar rasanya di badan. Tak lupa ia pilih pakaian terbagus yang Yudistira miliki dan segera bergegas Yudi keluar stasiun Gambir.
Dengan langkah yang pasti, ia dekati Bajaj dan berseru, ”Ke Cikini, Bang!”
Segera kendaraan roda tiga yang bunyi suaranya memekakkan telinga itu melaju ke kencang arah Cikini.
“Astaga!”
Degup jantung Yudistira hampir copot. Tas segala perbekalannya tertinggal di Stasiun kereta. Belum lagi dokumen yang penting yang ada di dalamnya.
Sesuatu yang harus disadarinya, bahwa Yudi telah kehilangan segalanya. Segala dokumen beasiswa, uang bekal bahkan semua pakaian, yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badan. Uang yang tersisa tinggal untuk membayar Bajaj dan sekedar makan siang. Setelah turun di Cikini, Yudistira celingukan kanan kiri jalan. Ah, tak dapat dimengerti...mengapa semua ini bisa terjadi?
Mencari sesuatu yang telah pergi dan tak akan kembali. Jelas, pekerjaan yang sia-sia. Pikirannya cuma satu, segera ke Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Rawamangun.
Melewati jalan sepanjang Utan Kayu, batin Yudi semakin menahan tangis. Apalagi mendekati gedung radio 68H atau yang lebih dikenal sebagai tempat mangkal komunitas Utan Kayu, di sana ia pernah diskusi dengan Thatut (Thoybah) dan Bejo kawan UNJ sewaktu Yudistira terlantar di Jakarta dua tahun yang lampau.
Apalagi mengingat cinta suci Yudi yang terpendam sama Thatut, gadis manis dari kampus UNJ itu. Masih ia ingat ketika mengikuti pelatihan Jurnalisme Radio di Hotel Danau Toba yang berlokasi di Jl. Bekasi Timur, Jatinegara. Lamat-lamat, karena sering bertemu, ternyata Yudi jatuh cinta rupanya.
Namun, selepas mengikuti pelatihan dan Yudistira banyak berkunjung ke LPM Didaktika dan Transformasi di UNJ, cinta Yudistira tak berbalas. Bahkan sejak diskusi terakhir di Komunitas Utan Kayu dengan Romo Ignatius Giyanto yang membicarakan soal filsafat Hermeneutika, persahabatan Yudistira dan Thatut makin jauh.
Apalagi, ketika Thatut mendebatnya soal Islam Liberal, timbulnya fenomena “Islam Liberal”. Menurut Thatut, munculnya Islam Liberal, salah satunya disebabkan kebekuan di antara kalangan umat Islam saat itu. Sikapnya yang keras inilah, membuat Yudi menjauh.
Memang sikap Yudi, cenderung keluar dari mainstream kebanyakan pemuda di jamannya. Pemikirannya kerap berlawanan dengan arus pemikiran yang selama ini berkembang. Bahkan dalam perbedaan yang tajam itulah, beberapa teman Yudi sampai memberi cap Yudi; kafir...lah..., murtad...lah... iblis lah...
”Biarlah, memang kalau sudah perbedaan pemikiran meruncing, Yudi lebih baik mengalah,” pikir Yudistira. Mereka, kata Yudi, terlalu menonjolkan emosi saja.
Mau iblis kek, kafir kek, setan kek, liberal lah, capeeek deh.........
“Kita kok sibuk bertengkar antar sesama kita. Lha ini sudah jaman Dajjal, Ma’juj, Ya’juj keluyuran dalam otak kepala, kok masih ribut soal setan atau iblis, dosa, pahala, surga atau neraka?”
Ajaran Islam bukan terletak pada label apalagi seperti yang dituduhkan. Memang, pahala, dosa, surga atau neraka ada, dan kita wajib mengetahuinya. Tapi, jangan mudah dituduhkan pada orang lain. Sebab, dampaknya fatal—bisa memecah belah umat--
Bagi Yudi, Islam tidak saja hubungan seorang individu dengan Tuhan, tapi lebih jauh mempunyai dampak yang utuh baik terhadap sesama manusia dan alam semesta. Dan jauh lebih penting, setiap manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah manusia.
Sehingga tingkah lakunya sesuai fitrahnya; pengasih, penyayang, pengayom dan sifat-sifat kebaikan (terpuji) terkumpul dalam pribadinya untuk mengabdi secara utuh pada umat dan kemanusiaan secara lebih luas. Itulah ajaran Islam sebagai agama yang Rahmatan lil Alamin; hablun minallah, hablun minannas dan hablun minal’alamin.
Bahkan dalam fikiran yang lebih radikal, kawan-kawan Yudi banyak yang menyindirnya;
”Wah..wah...wah..., kita di Jogja dianggap “Ustadz”, di Betawi jadi dianggap “Murtad” nih...”
Sebagai manusia biasa, Yudi (D) sangat lemah, lemah dalam beragumentasi dengan sosok perempuan. Apalagi bila perempuan yang mendebatnya adalah manusia yang cantik. Pemuda berhati baja itu bisa luluh. Mungkin, ini salah satu kunci kelemahan aktivis demonstran. “Sekukuh batu karang, akan hancur oleh setetes air!”
8. Jaringan Cikini dan Skenario Besar
Sampai tahun 2000 an, Yudi masih bergiat di kegiatan pergerakan. Ia lalu bergabung dengan berbagai perkumpulan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, sudah tak tertahankan lagi. Sikap-sikapnya mulai makin radikal, mulai saat itu, ia lebih banyak menghabiskan waktunya menggelandang dalam berbagai khasanah pertemuan budaya di TIM bersama teman-teman seniman.
Sebelum akhirnya, ia sempat pulang ke Jogja hanya untuk sekedar mengurus administrasi kuliah. Dan kembali ke Jakarta seperti sekarang ini hanya menjadi gelandangan ibu kota. Hari berganti hari, tak terasa sudah hampir dua bulan ia lalui hanya dengan menghadiri berbagai diskusi-diskusi yang ada.
Lamunan Yudi berakhir, sebab Kampus UNJ tinggal dua puluh meter lagi...tampak bangunan berlantai empat itu...(Rawamangun..to..)
***
Sementara itu, pada saat yang bersamaan,- nun jauh di sebuah kota, Jawa Tengah bagian timur. Sore itu, para santri mulai berhamburan keluar ruangan. Sebelumnya mereka menyalami Ustadz yang mengajar dengan mencium tangan, tanda takdzim sama guru. Tampak pula serombongan santri putri dengan mengapit kitab kuning di lengan kanannya berjalan beriringan menyusuri jalan sempit yang di kanan kirinya diapit kebun salak pondoh.
Sekitar seratus meter dari aula tempat mereka belajar, ruang-ruang asrama putri mulai bergeliat. Para santri putri mulai mengisi jelang Maghrib hari itu dengan membersihkan kamar atau berolahraga di depan asrama. Novelis Anggita salah seorang santri dari pantai utara duduk termenung di depan jendela kamarnya yang berukuran empat kali enam meter.
Selepas menamatkan pendidikan Sarjana, Novelis lalu melanjutkan pendidikan pesantren Al-Quran di belahan barat kota Surakarta. Kini, tatapannya kosong, satu persatu bulir air matanya membasahi pipi. Ia sudah diambang kebimbangan. Pinangan dari kawan ayahnya tercinta, KH Muhammad ulama kharismatik dari pantai utara Jawa itu tampak berat untuk ditampik. Sudah tiga kali ia menolak pinangan dari santri yang datang ke Pondok Pesantren Salafiyah di kota Surakarta itu.
Pada usianya yang telah menginjak 26 tahun dan kuliahnya di Universitas Islam itu yang telah ditamatkannya. Ia ibarat sekuntum kembang mawar yang sedang mekar, berwarna merah menyala menyedapkan mata, harum mempesona bagi yang menciumnya dan tak akan bosan untuk menatapnya. Alasan sudah lulus kuliah dan niat menghatamkan Quran tidak cukup kuat untuk dijadikan alasan.
Tiba-tiba pintu kamar asrama itu diketok oleh salah seorang santri. Dengan bergegas sambil mengelap air mata dengan kain kerudungnya dan sebentar bercermin memastikan matanya tidak sembab lagi, ia membuka pintu.
“Oh. Anissa. Ayo masuk saja, pakai ketok-ketok sagala!” perintah Novelis kepada sahabatnya.
“Saya cuma sebentar kok. Ini ada surat dari kampung,” kata Anissa sambil menyodorkan amplop putih.
“Makasih ya,”
“Sama-sama,”
Kemudian Anissa meninggalkan Novelis sendirian dalam kamar. Setelah menutup pintu yang terbuat dari jati itu, ia segera membuka surat dari Ayahnya itu. Isinya masih seperti pokok perbincangan ketika mengantar berangkat ke Pondok Pesantren. Cuma ada permintaan untuk segera pulang sebab Kyai Muhammad tiga hari ke depan akan datang untuk melamarkan putra pertamanya. Di dalam surat itu juga berisi foto sang putra sulung yang sedang memegang kitab kuning. Ayahnya sangat kecewa bila Novelis tidak segera pulang.
Novelis menyadari betapa persahabatan antara Ayahnya dengan Kyai Muhammad ibarat sudah seperti kakak beradik. Persahabatan mereka dimulai ketika mereka hidup seasrama dan sekamar di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.
Sehingga mereka berjanji bila kelak punya putra atau putri akan dijodohkan. Supaya persahabatan mereka lebih erat, demikian alasannya.
Karenanya ketika pinangan dari santri putra yang datang ke Kyai pondok pesantren salaf tempat ia belajar selalu kandas. Sang empu pesantren salaf itu, Kyai Azhuri sendiri, yang menyampaikan lamaran, bahkan sampai mengundang Ayah Novelis untuk datang ke Pondok.
Setelah melipat surat, Novelis Anggita segera mengambil mukena dan sajadah untuk bersiap menuaikan shalat Maghrib berjamaah di masjid dekat kediaman Kyai Azhuri tinggal. Tekadnya sudah bulat, ia akan menemui Kyai Azhuri untuk memperbincangkan tawaran pinangan dari teman ayahnya itu.
Baginya, Kyai Azhuri adalah sosok guru sekaligus pengganti ayahnya sebagai tempat mengadu dan meminta pertimbangan.
Begitu selesai shalat Maghrib, ia kemudian masuk menemui Bu Nyai dan membantu mempersiapkan makan malam. Di Pondok Pesantren Puteri itu, setiap santri dilarang makan di luar, sebab Ibu Nyai pengasuh pondok yang mengkoordinir santri putri dalam hal memasak.
Selain untuk melatih sikap mandiri santri puteri juga memperkecil biaya hidup dan santri disarankan menyisihkan uang mereka untuk lebih memperkaya pengetahuan agama dengan membeli kitab-kitab kuning.
Tak lama berselang, makan malam pun berahir. Novelis Anggita menemui Pak Kyai Azhuri yang telah menunggunya di ruang tamu bersama Ibu Nyai.
“Sini tho nduk! Katakan saja ada apa? Kok tumben, mau datang ke sini!” perintah Kyai Azhuri yang tampak wajahnya semakin senja dengan penuh wibawa.
“Begini. Baru datang surat dari Bapak saya untuk segera pulang” jawab Novelis Anggita dengan wajah cemas.
“Memang nak Novelis mau ijin pulang?”
“Hanya…..” kecemasan Novelis makin bertambah saja untuk menyampaikan permintaan ayahnya itu.
“Katakan saja nduk, siapa tahu saya atau Ibu Nyai bisa memberikan jalan keluarnya”
Permintaan dari Kyai yang sangat meneduhkan hati dan penuh kebersahajaan itu membuatnya berani menyampaikan permintaan ayahnya yang meminta pulang karena akan datang Kyai Muhammad dan putranya untuk meminang.
“Wah-wah, sampeyan itu ketiban ndaru, nduk. Kyai Muhammad itu bukan ulama sembarangan. Sudah ribuan santri digemblengnya dan semua berhasil menjadi tokoh panutan masyarakat. Ada yang mendirikan pondok, menjadi pegawai atau lurah. Kalau kemudian mau menjodohkan kamu dengan anaknya itu sampeyan ketiban ndaru,” jelas Kyai Azhuri.
“Maksud Pak Kyai, saya harus menerima lamaran ini?”
“Sik…sik….sik. Jangan cepat menafsirkan jawaban tadi. Itu terserah nak Novelis. Saya hanya memberikan pertimbangan. Sebab saya juga adalah teman dekat Kyai Muhammad sewaktu menuntut ilmu di Pondok Persantren dulu. Jadi, saya tahu watak dan sifatnya. Semuanya terpulang pada diri Nak Novelis. Tapi kok, sebaiknya nak Novelis terima saja lamaran dari putra Kyai Muhammad,” demikian saran Kyai Azhuri.
“Saya memahami keberatan nak Novelis ingin menghatamkan Qur’an. Niat itu baik, namun menolak keinginan orang tua juga namanya bukan wujud berbakti yang benar. Sebab menikah dengan putra Kyai Muhammad, insya Allah kamu dapat menghatamkan Quran secara cepat ” tambahnya lagi.
Malam itu malam serasa amat panjang. Gelap dan sunyi diselingi suara hewan malam menjadi saksi kegundahan hati Novelis. Jarum jam pendek dan panjang tepat menunjuk angka duabelas. Dentang suara jam kuno dari ruang tengah asrama memantulkan suara yang khas, deng…deng…deng sebanyak duabelas kali.
Novelis segera keluar dari kamarnya dan menuju tempat wudlu yang kebetulan tepat di samping asrama.
Ia bertekad malam ini ingin memperoleh jawaban atas keraguan yang menimpanya. Shalat istikharah dua rakaat dijalani dengan amat khusyuk. Memang, Yudi, telah sangat lama dikenalnya. Lima tahun sudah usia pertemanan itu, sewaktu kuliah di Jogja.
“Tapi, benarkah benih-benih cinta tumbuh dalam diri Mas Yudi?” setidaknya pertanyaan itu bergelayut dalam pikiran Novelis.
Betapa tidak? Lima tahun perjalanan pertemanan, sikap Yudi malah semakin tidak jelas, misterius. Ia kini entah dimana? Kok tiba-tiba datang permintaan dari KH Muhamad, orang tua Yudi untuk melamarkan. “Apakah orang tua melamar atas dasar permintaan Yudi, atau kah karena atas permufakatan kedua orang tua?”
Lagi-lagi Novel dalam ketidakmengertian atas berbagai peristiwa yang terjadi. Ia benar-benar ingin memperoleh kemantapan dalam mengambil keputusan. Kemudian, Novelis mengamalkan wirid mahabah yang diberikan dari Kyai Azhuri dalam 3 bulan terakhir ini.
“Allahumma inni as aluka khubbaka wahubba man yuhibuka wa kula ‘amalin yuqaribuni illa khubika (Ya Allah aku mohon cinta-Mu, dan cinta orang yang mencintai-Mu, serta amalan mendekatkanku kepada Cinta-Mu)”.
Lafal wirid itu terus terlantun dalam hati memberikan ketentraman. Setelah selesai dari shalat malam itu, Novelis kemudian beranjak tidur menyambut pagi menjelang untuk segera pulang ke kampung halaman.
Tak lupa sebelum pulang, ia berkemas dan berpamitan menuju rumah kediaman Kyai Azhuri. Kebetulan Kyai Azhuri sedang membaca kitab di ruang tengah, sehingga ia dengan leluasa bisa bertemu dengan gurunya itu.
“Sudah kamu mantapkan untuk menerima pinangan dari putra Kyai Muhammad?” Tanya Kyai Azhuri dengan suara pelan namun penuh perhatian.
“Dereng, pak Kyai. Tadi malam sudah saya wiridkan, namun tanda-tanda pilihan belum mantap. Mungkin nanti setelah pulang baru dapat isyaratnya,” jawab Novelis dengan santun.
“Sebaiknya, kamu segera pulang. Nanti Bapak Ibu mu cemas, takut kalau kamu tidak pulang. Jangan buat mereka kecewa lagi dan sampaikan salam dari saya untuk Bapak Ibu,” pesan Kyai Azhuri mengiringi kepergian Novelis yang akan pulang ke kampung halaman.
***
Sepanjang perjalanan pulang, hati Novelis tambah dag dig dug saja. Jawaban menerima atau tidak, atas pinangan putra Kyai Muhammad belum juga diputuskan. Baru setelah ketemu dengan orang tua di rumah akan bisa dijadikan pegangan. Bis antar kota antar propinsi itu berjalan serasa amat lambat. Beruntung ia memilih bis AC sehingga tidak penuh dan bising. Selain nyaman juga aman.
Jam duabelas siang ia sampai di perempatan pasar yang tidak terlalu ramai. Terik matahari membakar tubuh, segera ia memanggil tukang becak. Jarak antara pasar dan kampungnya ada sekitar dua setengah kilometer dan hanya dapat ditempuh dengan naik becak.
Sekitar seperempat jam becak yang ditumpanginya menyusuri jalan kampung demi kampung.
Begitu sampai rumah, ia mendapati rumah dalam keadaan kosong. Segera ia tunaikan shalat Dzuhur dan tak lupa membaca kembali wirid yang diberikan Kyai. Diterangkan, wirid Mahabah itu akan menimbulkan ketentraman orang yang sedang dilanda kegelisahan. Diharapkan dengan membaca wirid ini dapat memberikan jalan yang dicintai Allah SWT dan ketentraman batin.
Tepat selesai makan siang, kedua orang tuanya baru pulang dari sawah. Ayahnya memang terkenal seorang petani yang sederhana. Namun punya cita-cita yang luhur kelak anaknya dapat mendirikan pesantren. Ia senantiasa berdoa agar anaknya bisa punya pesantren besar. Sayang, ia hanya dikaruniai satu puteri semata wayang. Dan begitu pulang dari Cairo, Mesir, ia tidak mendirikan pesantren namun dicalonkan sebagai kepala desa.
Baru empat tahun terakhir ini ia selesai menjabat dan mendapat sebidang tanah bengkok. Cita-cita untuk mendirikan pesantren harus dikubur dalam-dalam. Ia hanya bisa berharap puteri kesayangannya itu bisa menikah dengan santri yang benar-benar serius punya pondok pesantren. Sebab dalam tradisi pendidikan pesantren jadi alumni pesantren tidak mendirikan pesantren serasa kering ilmu yang dipelajarinya, “seperti pohon rindang yang tidak berbunga dan berbuah”.
“Eh sudah pulang, nduk. Jam berapa dari Pondok?” Tanya Ayah sambil duduk di dipan kayu di ruang tamu.
“Jam tujuh, Yah. Ada salam dari Kyai Azhuri,” jawab Novelis sambil menyampaikan pesan dari Kyai Azhuri.
“Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pesan bapak sudah kamu baca? Bagaimana tanggapanmu?” tanya ayahnya itu dengan penuh harapan. Wajah ayah yang hitam kecoklat-coklatan dan tampak gurat letih dan bersimbah keringat habis dibakar matahari di sawah membuat hati Novelis bertambah trenyuh.
Ia sadar apa yang dilakukan ayahnya itu hanya untuk membiayai kuliah dan pondok. Apalagi biaya kuliah yang membumbung tinggi semenjak subsidi biaya pendidikan perguruan tinggi dicabut membuat ayahnya lebih giat bekerja untuk membiayainya kuliah. Belum lagi hasil pertanian yang tidak menentu, ia kadang merasakan keadaan itu bila jatah kirimannya terlambat datang.
Ada kebanggaan tersendiri dalam diri Novelis, walau ia anak petani dapat lulus perguruan tinggi dan mulai mengabdi pada perguruan tinggi yang ada di pesantrennya sekarang.
“Baiklah, saya terima pinangan dari putra Kyai Muhammad. Saya sudah siap,” jawab Novelis dengan mantap. Wajah Ayah Novelis pun tersenyum merekah, segera ia bangkit dari duduknya dan memeluk putrinya itu dengan berlinang air mata, penuh perasaan bahagia.
***
Dua hari terasa cepat saja, Kyai Muhammad datang bersama rombongan keluarga dari Pesisir Utara Jawa. Tapi, sang anak sulung itu tak muncul jua.
“Sebelumnya, saya minta maaf,” suara Kyai Muhammad pelan.
“Sebab, mestinya hari ini sesuai rencana akan melakukan perhelatan pinangan akbar dua keluarga besar. Tapi...” suara Kyai Muhammad makin tertelan oleh isak tangis nya.
Ayah Novelis pun tak kuasa juga hanyut dalam suasana duka itu.
“Anak saya belum kembali sampai hari ini,” kata suara Kyai Muhammad dengan lebih tegar.
Seperti yang sudah diduga jauh-jauh hari oleh Novelis pun akhirnya terjadi. Memang Yudistira, pemuda berhati baja yang telah dikenalnya sejak semester satu masih sering keluyuran entah di mana. “Biarlah ia mengembara mencari jati dirinya,..” guman Novelis bersabar dalam hati.
“Saya kira, Nak Novelis bisa bersabar atas musibah yang tak dikira-kira ini,” lanjut Kyai Muhammad sambil memandang gadis yang mukanya tertunduk sedari tadi di samping meja pertemuan itu .
Namun, pertemuan dua keluarga besar itu tetap berlangsung meriah dan berakhir dengan acara pinangan. Acara tukar cincin dua keluarga tetap berjalan sebagaimana mestinya, walau hanya diwakilkan lewat pihak keluarga.
Sambil menunggu sang putra Kyai Muhammad, Yudistira (D) pulang dari rantau, demikian kesimpulan pertemuan dua keluarga besar itu.
Apa arti (hasil) pertemuan dua keluarga besar itu bagi Novelis? Pertarungan ruang ‘bathin’ yang tiada akhir.........
***
Kembali ke Jakarta.......,
Yudistira sampai juga di Kampus UNJ dan tatapannya nanar melihat kampus megah itu. Segera Yudi masuki kampus itu dan naik ke lantai tiga, markas Didaktika.
Yudi hanya melihat satu mahasiswa baru yang tengah berada di depan komputer sambil membaca buku.
“Pagi,” sapa Yudi padanya.
Ia pun bangkit dan menghampiri ku.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya dari Jogja,dari majalah....UII Yogyakarta”
“O....mari mas, masuk ke dalam,”
“Terima kasih,”
Yudistira melihat seisi ruangan itu, semua masih tampak sama. Tapi para penghuninya, tak Yudi kenal satu pun. Semua pengurus telah lulus dan entah berada di mana.
“Baiklah, saya jalan-jalan dulu,”
Yudi kemudian pamit dari seorang pengurus persma itu dan ia ingin melihat suasana kampus yang pernah disinggahi beberapa tahun yang lalu itu. Ia terus mengintari bangunan demi bangunan kampus UNJ itu.
Bagi Yudi, kampus UNJ adalah kampus kedua Yudi setelah UII Jogjakarta. Segala yang ia miliki, pernah Yudi toreh dan peroleh di kampus ini. Yang tidak didapat, barangkali hanya cinta dari salah satu penghuni kampus ini.
Persetan.
Malam datang, perut Yudi telah keroncongan lagi. Gila, hari ini pemuda berhati baja itu hanya makan pagi dan siang sampai malam belum makan apa pun.
Yudi mencoba merogoh kantung celananya, dilihatnya apa diambil dari sisa-sisa perjalanan. Hanya tinggal lima ribu rupiah.
“Wah kalau untuk makan, besok pagi berarti tidak makan,” demikian guman Yudi dalam hati. Ia pun kemudian mencari pedagang gorengan di samping kampus itu dan ia beli seharga seribu lima ratus rupiah singkong goreng.
Tak apalah, yang penting bisa mengganjal perut yang keroncongan.
Malam itu Yudistira menghabiskan malam-malam sepi di lembaga persma terbesar di Jakarta. Berteman seorang sahabat dari persma. Namanya, Asep. Orangnya baik banget, dia pinjami Yudi sehelai handuk dan seperangkat alat shalat. Sungguh keadaan Yudi saat itu dalam kondisi sangat beruntung banget. Walau dalam suasana yang penuh keterbatasan, ia tetap bisa bertahan.
Sepanjang malam Yudi munajat kehadirat Illahi di masjid kampus yang terletak di kawasan Rawamangun itu. Shalat malam, menjadi teman sepi. Yang ada di depan mata hanya gelap. Mencari secercah cahaya terang, tak tampak. Justeru bayang-bayang wajah kekasih tercinta, Novelis menggoda.
Kemungkinan besar -dalam bayangan Yudi- Ia perkirakan, Novelis sudah sekitar tiga bulan ini wisuda. Padahal, ketika pertemuan terakhirnya, Yudi dan Novelis ternyata masih punya hubungan persaudaraan keluarga.
Novelis pernah menyebut-nyebut nama ayah Yudi, bahkan mengatakan bahwa KH Muhmmad adalah teman dekat ayah Novelis.
Namun, lagi-lagi pemuda berhati baja ini tak mengetahui rahasia besar dari hubungan kedua keluarga itu. Pemuda berhati baja itu terlalu sibuk memikirkan orang lain, tak pernah menyibukkan kehidupan diri sendiri. Ia acuh pada diri sendiri. “La illa ha illa anta, Subhanaka inni kuntum mina dhalimin!”
Pagi hari itu Yudistira berkesempatan mengunjungi teman Asep di Blok A, Jakarta Selatan, Hasan namanya. Dari kampus UNJ, Yudistira dan Asep menggunakan bus PPD ke arah Blok M.
Bayangan Yudi pada masa-masa silam, akan kehidupan ibukota serasa masih sama. Jalanan padat dan macet di mana-mana. Air tak bersih, belum lagi udara yang kotor. Kebisingan hidup inilah yang sering di ucapkan Asep padanya
Sebagai orang udik, Yudi menerima keluh kesah itu dari Asep itu dengan lapang hati.
“Wah, di Jogja kehidupannya makin enak?” tanya Asep membuka cerita.
“Enak apaan...?” jawab Yudi pendek.
“Makanan murah, biaya nya juga murah,” kilah Asep.
“Mungkin anggapan orang luar Jogja begitu. Tapi bagi mahasiswa yang kuliah di Jogja sebenarnya sama saja,” jawab Yudi pendek.
Bahkan, lanjut Yudi, kondisi di Jakarta sebenarnya sama saja, makanan juga ada yang murah. Letak murah dan mahal tergantung dari sisi mana memandangnya.
“Kalau kamu di Jogja tiap hari nglencer ke Mall, ya apa bedanya gaya hidupmu dengan gaya hidup di ibukota ini?” tanya Yudi balik.
“Sebagai mantan rakyat kolonialis, kita sebenarnya punya budaya feodalisme. Tak pantas bergaya hidup borjuis apalagi kapitalis betulan. Memang kenapa kita tidak menggali konsep-konsep yang begitu sederhana dari lingkar kehidupan sekitar?” Asep bertanya balik.
“Wah, tidak semua orang punya pikiran yang sama. Semua orang punya kebebasan masing-masing. Dan pilihan sekarang, tentu juga belum tentu baik dan benar. Banyak kelirunya,” terang Yudi.
Asep terdiam lama merenung perkataan sahabatnya itu. Tak berapa lama setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari Blok M, Yudi dan Asep kemudian menemui Hasan. Hasan adalah kawan Asep se-SMA nya. Kemudian Hasan menceritakan apa yang selama ini dialaminya.
9. Berdikari
Menjadi gelandangan di ibu kota, telah mendidik Yudi untuk bertahan hidup dan lebih tahan menghadapi segala cobaan yang menghadang. Segala badai kehidupan yang menerjang selalu dihadapinya dengan penuh ketegaran dan kesabaran.
Sampai di Rawamangun, Yudi kembali menghadapi sebuah persoalan yang sulit untuk diungkapkan. Uangnya telah habis.
Sementara Asep ngelayap mengerjakan tugas-tugas kuliah. Yudi termangu menatap hari. Belum lagi matahari semakin terik saja membakar tubuh. Tenggorokan telah kering menggerogoti pita-pita suara dan perut semakin keroncongan saja. Iseng punya iseng, Yudi kemudian masuk ke Gedung Pusat Bahasa Indonesia Depdiknas masih di komplek Kampus UNJ itu.
Akhirnya setelah bertanya sana ke mari, dengan gaya seorang ingin mencari tahu berbagai informasi seputar dunia Bahasa, Yudi bertemu dengan salah seorang pakar Bahasa. Nama lengkapnya Dr. Dedy Sugono.
Setelah berkenalan, Yudi ditanya tentang aktivitasnya selama di Jakarta. Dengan jujur kemudian Yudi menceritakan sampai hidup menggelandang di Jakarta ini. Kemudian oleh Dr. Dedy, pakar bahasa itu, Yudi mendapat beberapa kerjaan. Diantaranya mengedit buku dan merapikan arsip. Selama seminggu, Yudi menginap di gedung pusat bahasa itu. Setelah semua pekerjaan selesai, Yudi kemudian mendapat uang lelah hampir sekitar Rp 200.000,-. Jumlah yang lumayan besar pada waktu itu.
Sehabis mendapat uang, justeru pikiran Yudi kalut kembali. Di antara dua pilihan. Pulang ke Jogja atau tetap tinggal di Jakarta.
Yudi kemudian menyorongkan langkah kaki ke daerah Cikokol, Tangerang. Sampai di daerah padat penduduk itu, ia bertemu dengan beberapa kawan dari kampung halaman.
“Kamu kok capai-capai ke Jakarta ini, gimana?” tanya Kang Murodi yang sudah tiga tahun merantau dan pekerjaan sehari-harinya sebagai pedagang buah.
“Ya, gimana mencoba jadi orang udik, masa ndak boleh apa?” Yudi malah bertanya balik.
“Yud, di jakarta ini hidup susah. Apa kamu mau hidup macam kami-kami ini?” tanya Sarkun yang juga berdagang buah.
“Kerja apa saja, saya mau...” rengek Yudi pada dua kawan mainnya.
“Kamu salah memilih Jakarta,” sergah Kang Murodi keras.
“Apa yang salah?” tanya Yudi.
“Sebenarnya kamu bisa hidup enak di kampung. Kamu anak keturunan orang kaya. Jangankan untuk satu keturunan. Tujuh turunan harta yang akan kamu punya sudah lebih dari cukup,” Jawab Kang Murodi.
“Justru karena aku ingin hidup mandiri itulah aku merantau. Aku ingin lepas dari bayang-bayang kemegahan dan kemewahan yang aku miliki,” jawab Yudi.
“Gimana, kalau kamu ketemu Karjo saja. Bukankah kamu itu teman dekatnya?” tiba-tiba Kang Murodi memberikan ide yang cemerlang.
“Ya..memang Karjo sekarang dimana?” tanya Yudi penasaran.
Kemudian Kang Murodi menceritakan, kisah sukses Karjo di Jakarta ini. Sejak Lima tahun yang lalu, Karjo telah mendirikan pusat penjualan es Dawet aseli Banjarnegara dan usaha ayam potong di dekat Hotel Grand Cempaka.
“Besok saja kita ke sana. Sekarang kan sudah malam..”
“Oke lah kang..” jawab Yudi.
Mereka duduk di antara bedeng-bedeng pemukiman padat di kawasan Cikokol. Sebuah rawa yang diuruk tanah dan di atasnya dijadikan perumahan. Murah mengontraknya hanya 100 ribu per bulan.
***
Seperti yang sudah dijanjikan Kang Murodi dan Sarkun, mereka berdua menutup kios buah di Cikokol. Demi kawan dari kampung, kedua sahabat itu mengantar Yudi menemui Karjo teman karib Yudi sewaktu di kampung halaman.
Sepanjang perjalanan, Yudi gelisah. Sudah lima tahun ini mereka tidak pernah berjumpa. Walau hari lebaran, Yudi dan Karjo pun jarang pulang ke Kampung, sehingga mereka berdua nyaris tidak pernah bersua.
Ketiga orang itu kemudian berjalan kaki menelusuri sebuah gang kecil di samping Hotel Grand Cepaka Baru.
“Nah itu itu rumahnya!” sambil menunjukkan letak rumah Karjo, kang Murodi mempercepat langkahnya.
Sebuah pemandangan yang kontras sekali, rumah di pinggir jalan itu walaupun kecil namun berhalaman luas. Lima gerobak es tampak berjejer rapi dan sebuah ruko kecil di sampingnya pun selalu ramai oleh pembeli.
“Assalamu’alaikum wr.wb”
“Wa’alaikum salam wr.wb”
“Wah...nih siapa ya...?” Karjo sambil berjabat tangan.
“Aku Jo, Yudi putra pak Muhammad,” buka Yudi.
“Oh, kowe kok tumben datang kemari. Sini masuk dulu,” Sambil Karjo menggenggam erat tangan Yudi. Keduanya lalu berangkulan sangat lama. Pertemuan dua sahabat karib yang terpisah sudah hampir 5 tahun. Air mata Karjo tak tertahan lagi menetes di pundak Yudi.
“Sudah Jo, jangan cengeng gitu,” kata Yudi sambil melepas rangkulan.
Keduanya kemudian terlibat perbincangan yang akrab. Karjo dan Yudi bicara panjang lebar sampai jam 10 malam. Sementara itu Kang Murodi dan Sarkun ba’da shalat Isya telah pamit undur diri pulang ke Cikokol.
Karjo malam itu kemudian mengajak Yudi jalan-jalan menggunakan motor barunya ke pasar Kemayoran. Malam itu suasana terminal dan pasar tiban itu sangat ramai.
“Di sini lah saya dan kawan-kawan biasa mangkal,” kata Karjo sambil menunjuk sebuah kiosnya.
“Wah ramai juga, Ya Kang,”
“Alhamdulillah, ini semua berkat kerja keras dan semangat pantang menyerah,” kata Karjo dengan senyum yang merekah, hingga tampak sebaris gigi-giginya yang putih bersih.
“Mari lihat deretan berikutnya,” ajaknya lagi sambil menelusuri deretan kios-kios yang di depannya penuh dengan tumpukan barang, terutama buku-buku bekas. Rupanya ia selain berjualan es Dawet Asli “Banjarnegara”, ia juga menjual buku-buku bekas yang ia tampung dari para pemulung buku yang datang ke kiosnya.
Hari makin malam, jalanan ibu kota mulai sunyi. Hilir mudik kendaraan mulai tampak jarang. Kedua sahabat karib itu kemudian pulang ke rumah di antara deretan bedeng-bedeng pemukiman yang berpenghuni padat.
“Istirahatlah, kamu sudah sangat lelah,” kata Karjo.
Yudi lalu menggelar tikar dan tidur dengan lelap.
Sayup-sayup terdengar lagu dari nyanyian Iwan Fals dari seberang kontrakan, ”Sayang/ selamat malam// Sayang/selamat tidur// Sayang/Mimpi indah/ Tentang kau dan aku//
***
Pagi senantiasa menawarkan semangat baru. Sehabis mandi pagi, badan Yudi terasa sangat segar. Hari ini harus diisi dengan aktivitas yang membangun, demikian tekadnya menaklukan ibu kota. Karjo yang melihat Yudi sudah rapi, kembali tersenyum. Ia kemudian mengajak sarapan pagi.
“Woi, ikan asin ini makanan kesukaanku. Kamu masih ingat dari dulu, Jo,” sigap tangan Yudi sambil mengambil ikan asin dari meja makan.
“Apa sih yang tak aku lupakan dari mu, sobat,” kata Karjo.
Selesai makan, Karjo lalu mulai memanaskan mesin motornya di depan rumah. Sementara Yudi mulai menata barang dagangan, berupa dua tumpukan buku-buku bekas. Keduanya lalu berangkat ke los ruko terbesar di kawasan Senin itu.
Begitulah sampai Yudi menjalani hari-hari di Ibu Kota itu. Sampai akhirnya Karjo secara diam-diam mendekati Yudi agar segera menuntaskan masalahnya di Jakarta. Sejak jelang sore, Karjo telah mempersiapkan bahan perbincangan malam itu. Beberapa hari yang lalu, ia mengirim ‘pesan khusus’ untuk adik Yudi via telepon ke kampung, agar segera ke Jakarta.
Habis maghrib dan makan malam, Karjo membuka perbincangan di beranda depan kontrakan rumahnya.
“Yud, apa kamu tidak bosan hidup berkelana seperti ini terus?” buka Karjo sambil menyodorkan rokok kretek kesukaan Yudi.
“Ya... tidaklah,” jawab Yudi sekenanya.
Pandangan Yudi yang tajam menatap Karjo. Tak seperti biasanya ‘pemuda berhati baja’ itu menatap tajam sahabat karibnya itu. Lalu, Yudi beranjak bangun dari tempat duduknya sembari mengambil sebatang rokok kretek dan menyalakannya.
“Hidup memang keras. Aku mungkin saja telah salah memilih jalan, atau ini adalah cara diriku dekat dengan jalan kebenaran yang semestinya aku tempuh.”
“Maaf. Saya bukan orang pernah kuliah. Namun setidaknya dari pelajaran hidup, semestinya kamu memilih jalan yang tidak neko-neko,” kata Karjo.
“Orang tuamu telah memilih pendidikan sekolah pada mu, tentu punya harapan besar pada dirimu,” tambah Karjo.
Lalu Karjo mulai menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya bisa menetap di kota Metropolitan ini. “Awalnya saya dulu menjadi pengamen di bus-bus kota. Modal bisa main gitar dan keberanian menyanyi. Sampai akhirnya saya ketemu dengan ‘Si ndoro Kanthong’ temen dari kampung,” cerita Karjo mengawali perjalanannya.
Ia kemudian mengisahkan selama hampir dua tahun hidup dari bus kota ke bus kota yang lain. Pernah suatu ketika ia dan ‘Si ndoro Kanthong’ dicurigai sebagai copet, akhirnya mereka pun lari tunggang langgang dikejar para penumpang. Memang nasib tidak bisa berbicara apa adanya, ia terus berjalan mengitari sang waktu, menembus pengapnya kehidupan.
Di tengah kekalutan dan kesulitan hidup yang menghimpit, akhirnya Karjo dan ‘si Kanthong’ bekerja serabutan sebagai tukang angkat ayam potong pada jasa angkutan pemotongan hewan. Keduanya tekun dalam bekerja dan amat pantaslah bila dalam waktu yang relatif singkat, Karjo akhirnya keluar kerja dan mendirikan usaha sendiri bahkan berbagai jenis usaha telah ia rintis sendiri.
Lambat laun usahanya semakin berhasil dan bertambah maju. Kini ia bisa membuka berbagai jenis usaha di ibu kota ini. Sebuah ruko buku bekas di Pasar Senin sekarang telah ia miliki.
”Benar Yud, apa yang kamu katakan 6 tahun lalu saat di kampung. ’Perjuangan adalah bentuk konkrit dari kristalisasi keringat!’ Dahulu aku harus mengeja tiap kata yang kamu ucapkan, karena agak ilmiah. Setelah aku renungkan, bukankah kamu sudah merasakan apa yang kamu katakan?” tanya Karjo balik.
Yudi kembali memandang Karjo penuh selidik. Memang sahabat inilah yang saat ini punya perhatian yang lebih.
“Kamu untuk sementara waktu bisa tinggal di sini sepanjang kamu suka. Hitung-hitung sambil kamu berfikir sejenak dan mencoba menemukan kembali apa yang sesungguhnya kamu cari selama ini,”
“Terima kasih Jo, kamu banyak membantu saya. Entah dengan cara apa, saya akan membalas budi baik mu ini,”
“Sudahlah, kamu menginap saja di sini dan kerjakan apa yang kamu suka. Sekarang sudah malam, sebaiknya kamu istirahat.”
Dengan berkerja di ruko Pasar Senin Yudi menemukan kembali hobi membacanya yang telah banyak ia tinggalkan. Banyak pelajaran penting yang ia dapatkan dari membaca buku-buku bekas. Kalau dagangannya habis, Yudi biasa mencari stok buku bekas di Kwitang atau pasar Tanah Abang.
Malam terus berarak, cahaya lampu mulai temaram, namun Karjo dan Yudi masih berbincang di beranda rumah kontrakan. Karjo menjanjikan akan bertemu dengan seseorang malam ini.
Tepat jam duabelas malam, seorang pemuda tanggung masuk gang dan langsung masuk ke dalam beranda rumah Karjo.
Sontak, Yudi kaget bukan kepalang.
”Thoyib???” pekik Yudi.
Ternyata pria yang datang itu adalah Thoyib, adik kandung Yudi. Lalu ia menceritakan kenapa sampai datang ke Jakarta ini. Sebelumnya Karjo telah mengabari ke kampung via telpon. Thoyib lalu menceritakan hal ikhwal perjodohan antara dua keluarga besar yang gagal pada beberapa waktu yang lalu.
“Maaf Mas, ayah minta kamu pulang sekarang. Jangan permalukan kedua orang tua,” kata Thoyib dengan terbata-bata.
Singkat kata, singkat cerita Yudi menerima alasan-alasan itu namun ia mengajukan beberapa syarat penting. Yang jelas, ia akan langsung ke Jogja untuk menuntaskan beberapa hal penting perjuangan dan menuntaskan kuliahnya yang berantakan.
Esok harinya Yudi diantar Karjo ke stasiun Gambir.
10. Surat Terakhir
Pulang ke kotamu/
Ada setangkup haru dalam rindu/
Masih seperti dulu/
Tiap sudut menyapaku bersahabat/
Penuh selaksa makna/
Terhanyut aku akan nostalgi/
Saat kita sering luangkan waktu/
Nikmati bersama/
Suasana Jogja/
Di persimpangan langkahku terhenti/
Ramai kaki lima/
Menjajakan sajian khas berselera/
Orang duduk bersila/
Musisi jalanan mulai beraksi/
Seiring lara kehilangan mu/
(Yogyakarta, Kathon Bagaskara)
Sepanjang perjalanan pulang menuju Jogja, Yudi bertekad untuk menuntaskan masa kuliah dan perjuangan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, apa pun resikonya. Begitu sampai ke Jogja, dalam hatinya timbul keinginan untuk bertemu dengan kawan Broto di daerah Turi, lereng gunung Merapi, sekaligus memberikan undangan rapat terakhir di lembaga.
Sudah hampir 10 tahun kedua sahabat itu bertemu kembali. Selepas shalat maghrib, Yudi sengaja memacu sepeda motornya menuju ke arah utara kampus. Jalan Kaliurang sudah semakin ramai. Gemerlap cahaya pedagang pinggir jalan menambah semarak kehidupan kampus terpadu. Dari pertigaan pasar Pakem, Yudi membelokkan kendaraannya ke arah barat. Sampai di perempatan pasar Turi, ia kemudian bertanya pada penduduk kampung yang lewat.
Rumah Broto benar-benar sangat sederhana. Pertemuan dua sahabat lama itu sangat mengharukan. Wajah Broto semakin menua. Rambutnya ternyata mulai memutih. Namun semangatnya untuk berjuang tetap membara. Walau ia sudah jauh dari anak-anak gerakan mahasiswa. Rumahnya yang terletak di kaki Merapi itu tetap terbuka pada siapa saja yang datang kepadanya.
“Gimana kabarmu, sobat?” sapa Broto sambil menjabat erat tangan Yudi.
“Baik,” jawab Yudi singkat.
Kedua sahabat itu kemudian saling bercerita tentang perjalanan hidup masing-masing. Broto dalam kesempatan itu bercerita tentang keprihatinannya dengan kondisi gerakan mahasiswa saat-saat sekarang.
“Kesalahan gerakan kita dulu adalah karena kawan-kawan membiarkan begitu saja gerakan perubahan di tangan elit politik,” kata Broto.
Akibatnya, lanjut pria yang telah berumur sekitar 40 tahun itu, gerakan perubahan mudah ditelikung di tengah jalan. ”Sekarang bisa kau lihat, elit politik sibuk berbagi kue kekuasaan dan bukannya perubahan bangsa yang diharapkan. Justru sekarang, ‘garong-garong’ kekuasaan makin bebas berkeliaran. Mau jadi apa negara ini?”
“Apakah masih relevan kalau gerakan moral ini terus digelorakan?”
“Gerakan perubahan harus terus mengawal perubahan demi perubahan. Apa pun resikonya. Pilihannya cuma dua, revolusi atau tidak sama sekali!” tegas Broto dengan suara lebih keras.
“Coba kamu perhatikan perilaku elit politik. Mereka itu tidak pernah akur dalam soal kekuasaan. Kalau akur, tidak abadi. Tidak ada rumus yang abadi dari pakem politik. Yang ada kepentingan abadi,” kata Broto.
“Negara kita terpuruk dalam jeratan hutang luar negeri yang tiada habisnya. Tahun ini hutang , hanya untuk mencicil hutang-hutang di masa lalu. Bahkan hanya bunga nya saja. Artinya, kita berhutang, ibarat gali lubang bukan tutup lobang lagi, tapi sudah tutup lautan,” imbih Broto dengan kata-kata yang ketus.
“Perbedaan pendapat khan biasa. Kalau perbedaan pendapatan, itu harus! Ha..ha...ha...” canda Yudi dengan nada getir.
Pertemuan lepas Maghrib itu berakhir sampai tengah malam. Sepulangnya dari Turi, Yudi kemudian merancang pertemuan gerakan dengan beberapa kawan seperjuangan di kantor lembaga kampus. Ia lalu menulis sebuah surat untuk Novelis dan tak lupa mengusapkan minyak wangi kesukaannya di lembaran surat. Selepas sore, ia kemudian menitipkan surat itu pada teman kampus, agar disampaikan.
“Malam ini kita akan mengadakan rapat terakhir,” buka Yudi dengan Broto, Karno, Hasib, Shohib dan puluhan aktivis lembaga pro demokrasi, serta jaringan kota.
Malam itu, Yudi dan kawan-kawan mengadakan rapat darurat. Kondisi pergerakan sedang gawat-gawatnya. Demonstrasi terjadi di mana-mana. Beberapa utusan gerakan mahasiswa, buruh, kaum miskin kota dan parlemen jalanan berkumpul di kampus perjuangan.
Yudi dengan suara lantang mengajak kawan-kawan yang hadir untuk menyatukan barisan. ”Pemerintah sekarang sudah sangat bobrok!” suara Yudi yang serak-serak basah itu memecah kebekuan rapat.
“Lihatlah, kaum buruh makin tertindas! Koruptor bebas berkeliaran! Masa kita diam saja ???” kata Yudi lebih berapi-api.
“Ini republik, bukan republik maling! Kita punya sistem dan aturan. Kalau sudah banyak pelanggaran dan ndablek untuk diperbaiki, sementara rakyatnya cuek saja. Maaf, ibarat kapal—bangsa ini—sebentar lagi akan karam. Kita, sebagai generasi muda, tidak boleh diam saja, harus bangkit bersama bergerak mengusung perubahan,” lanjutnya.
Beberapa waktu yang lalu, lanjut Yudi, kawan-kawan telah menegaskan pilihan revolusi. “Saya sampai di sini, kembali menegaskan bahwa revolusi itu adalah kemauan sejarah. Namun harus serius menjalankannya. Pilihannya hanya satu, ‘revolusi atau mati!’ ”
Namun, di tengah situasi rapat yang panas itu, tiba-tiba lampu seluruh kampus itu padam. Kejadiannya sangat cepat, sebuah truk yang berisi sekitar 60 orang berambut cepak langsung menyerbu kantor lembaga. Para pemuda dan mahasiswa yang tengah rapat untuk mempersiapkan aksi-aksi jalanan langsung mereka pukuli satu per satu.
Beberapa mahasiswa langsung kena tonjok, dan nasib malang menimpa Yudistira, sebuah pisau bayonet tepat menancap di tengah dadanya. Darah pemuda berhati baja itu mengucur membasahi lantai kantor kelembagaan. Dan di papan info pengumuman tertulis merah darah:
”Untuk para penghianat, kaum komunis!”
Dengan diiringi teriakan sumpah serapah preman-preman itu terus menghancurkan seisi kantor lembaga, ”Dasar anak PKI! Mau jadi apa kalian?”
Preman-preman berambut cepak itu bergerak dengan cepat dan setelah menyelesaikan aksinya, mereka meninggalkan beberapa catatan kelam korban penindasan, darah dan air mata. Kantor lembaga kemahasiswaan itu menjadi hancur berantakan, kertas-kertas berhamburan memenuhi ruangan.
Sehari sebelum tragedi berdarah itu berlangsung, sebuah surat terakhir dari Yudistira untuk kekasihnya tercinta, Novelis Anggita yang juga adalah adik kelasnya ini telah dititipkan kepada teman seperjuangan untuk disampaikan. Untung surat itu masih selamat dan dikirim oleh yang diberi amanah kepada gadis pujaan Yudistira itu.
Novelis Anggita, seperti cerita di muka adalah tunangan Yudi. Namun, Yudi tak mengetahui pertemuan pertunangan kedua orang tua keluarga besar itu. Sepengetahuan Yudi, ia diminta oleh ayah Novelis untuk banyak mendampinginya di Surakarta.
Selepas Novelis menamatkan khatam Quran, ia melanjutkan ke pendidikan pasca jurusan Manajemen di UMS.
Malam itu, Novelis Anggita mahasiswi S-2 (pasca sarjana) Magister Manajemen itu membuka sampul surat berwarna biru tercium harum beraroma melati.
Tertulis disampul surat itu:
Untuk
Adinda Novelis Anggita
di tempat
Dengan wajah sendu dan mata sembab, masih terbayang di pelupuk mata Novelis Anggita, prosesi paling syahdu dalam sejarah hidup dimana pemuda yang dikasihinya telah dikubur siang tadi. Ribuan mahasiswa mengiringi prosesi pemakaman di sekitar kampus perjuangan.
Pemakaman itu juga adalah tempat persemayaman terakhir para syuhada bangsa yang gugur di masa kemerdekaan. Bunga melati dan mawar menggunung di atas makam sang pejuang revolusioner. Di atas pusara tertulis nama Yudistira, nama pemuda idaman yang telah lama mengisi relung hatinya.
Dengan amat pelan Novelis Anggita membuka lipatan surat terakhir itu.
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”
Salam pembuka surat, ia baca dengan pelan. Satu per satu tetes air mata tak kuasa ia tahan lagi jatuh membasahi pipinya yang kemerah-merahan. Dengan amat pelan ia menjawab dalam hati, ”Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Kembali terbayang wajah putih cerah pejuang pujaannya itu. Berkumis tipis dan suka memakai peci timur tengah. Yudi yang ia kenal ketika masa-masa pertama masuk kampus adalah tidak lain seorang pemuda yang mengajari banyak hal. Mulai dari cara belajar yang efektif sampai pemikiran-pemikiran progresif kontemporer pergerakan.
Yang paling ia kagumi dari pemuda itu adalah rasa solidaritasnya terhadap sesama dan pemikirannya yang kadang-kadang melampaui generasi sebayanya.
Walau Yudi sering diolok-olok oleh teman satu angkatan --karena agak jarang kuliah, Novelis tidak terima atas pernyataan-pernyataan yang memojokan Yudi.
Aktivitas Yudi yang juga sejak semester tiga sudah jadi wartawan dan aktif di pergerakan mahasiswa itu membuat gadis ini memaklumi apa yang dikerjakan kekasihnya adalah sebuah tugas mulia, sebuah perjuangan yang tergolong langka.
Dimana generasi seangkatannya sedang asyik-asyiknya menikmati masa muda, pacaran, mengejar IP dengan harapan cepat lulus. Kekasihnya ini malah dalam sebulan kadang tidak nongol di kampus, akibat banyaknya aktivitas ber amar ma’ruf dan nahi munkar lewat tulisan serta gerakan mahasiswa.
Apalagi sejak kisah perjodohan dengannya dimulai. Novelis masih teringat prosesi pinangan dari keluarga besar Kyai Muhammad dari Pantura itu. Dan selepas itu, Yudi hanya menyarankan agar Novelis lebih memperdalam ilmu Manajemen di Program Pasca Sarjana (S-2) pada kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sekalipun Yudi belum tamat, tapi, minimal bisa membantunya agar lebih rajin kuliah.
“Masa, kuliah di S-1 sudah semester 32 tidak lulus-lulus,” kata Yudi suatu waktu.
“Salam sejahtera Mas haturkan semoga dik Novelis Anggita senantiasa dalam keadaan sehat walafiat dan tak kurang suatu apa pun. Amin, amin Ya Mujibas Sailin.
Sory, terpaksa menulis surat ini dan kutitipkan lewat seorang kawan pergerakan, bukan berarti karena Yudistira penakut untuk bertemu dengan Adik. Tapi semata-mata karena aktivitasnya di tengah kota sedang “panas”. Tahu sendirilah, saat ini sedang dirancang 30 titik kota besar se-Indonesia untuk melancarkan demonstrasi besar-besaran. Dan kebetulan mas ditunjuk menjadi koordinator lapangan dalam sepekan aksi ke depan.
Target kita bulan Mei 2020 penguasa tiran sudah dapat diturunkan. Yudistira tidak akan berteori dengan teori perlawanan kelas, dimana ketika penindasan ada maka kaum tertindas akan bangkit melawan kayak teorinya marxisme. Namun jaman reformasi ini akan menjadi tuntutan sejarah. Eh….kok ngelantur ngalor-ngidul kaya gini…padahal maksud yang sebenarnya,…..,”
Sampai disini bertambah kencang degup jantung Novelis, sebab pemuda pejuang ini memang sudah amat lama mendekatinya. Hampir tiga tahun, walau kadang dalam sebulan paling banter hanya sekali bertemu namun pertemuan itu selalu berarti. Sebab Yudi sebagai kakak kelasnya tidak sekedar datang menjelang ujian untuk meminjam catatan kuliah. Namun dalam tiap pertemuannya, benih-benih rasa cinta telah tumbuh dan bersemi.
“... maksud yang sebenarnya, Mas mau mengutarakan rasa suka sama adik. Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana. Ya soal cinta adalah soal yang sangat sederhana, tapi tidak se sederhana untuk mewujudkannya.”
Deg!!!!!!
Degup jantung Novelis serasa berhenti tiga detik. Malam itu suasana di luar kamar kos amat sunyi, udara dingin menyergap menambah suasana. Irama denyut jantungnya bergemuruh, naik turun.
Setelah menarik nafas sejenak, Novelis kemudian membaca surat dari sang kekasih.
“Sudah lama, Mas Yudi naksir sama adik. Namun kesempatan untuk katakanlah, ‘jadi pacar yang sesungguhnya’ Yudistira sendiri nggak paham. Sebab pacaran itu tidak dikenal dalam agama. Yang ada hanya prosesi ikatan perkawinan. Selain itu relasi atau hubungan sekedar kenal mengenal, kasih sayang dan tolong menolong seperti ditulis dalam Al Quran surat Al-Hujurat: 13.
Kita sudah lama kenal bahkan saling mengetahui kesenangan dan ketidaksukaan masing-masing. Tampaknya kok ada kecocokan, jadi Mas rasa tidak salah kalau dalam kesempatan ini Mas ingin mengikatkan persahabatan kita ini menjadi lebih punya komitmen. Soal jawaban, mau atau tidak…Yudistira rasa tidak usah dijawab adik dengan terburu-buru. Biarlah adik berfikir masak-masak jika sudah siap, tinggal bilang ke Mas Yudi.”
Sampai kalimat terakhir itu, tangisnya meledak tak kuasa lagi ditahan,
”Hu...,hu...,hu…,kenapa mas Yudi begitu cepat tinggalkan Novelis?” ucapnya pelan sesenggukan di tengah isak tangisnya yang sudah tak dapat ditahan lagi. Setelah menenangkan diri beberapa saat, ia kembali membaca bagian akhir surat dari pemuda idamannya itu.
“Mas sebenarnya kepingin revolusi ini segera berakhir, sehingga mas dapat menikmati suasana kuliah dan merampungkan studi. Kemudian kita….tahu ah…”
Mata Novelis tambah sembab saja membaca bagian akhir surat itu. Takdir Tuhan telah menggariskan Pemuda idaman itu sebagai syuhada dalam tragedi malam berdarah di kampus perjuangan.
“Mas rasa, surat ini terlalu ringkas dan dalam suasana ketergesaan. Soalnya, besok revolusi akan pecah dan pastilah cita-cita mahasiswa akan tercapai. Karenanya Yudistira akhiri surat ini. 4X4 sama dengan 16. Sempat tak sempat harap …….”
Mengapa diakhir kalimat itu berisi titik-titik jumlahnya ada tujuh? Sebuah harapankah? Ataukah mungkin penantian dari pemuda berhati baja itu? Jawaban atas penantian panjang dari pemuda itu harus dikubur dalam-dalam ketika takdir telah datang dan berlalu.
“Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .”
“Selamat jalan, kekasih sejatiku. Semoga engkau tenang dalam naungan dan ampunan Allah SWT,” pintanya pelan mengahiri surat terakhir dari pemuda idamannya sambil membalas salam terakhir yang tertera di surat itu dalam hati.
11. Petemuan Tak Terduga
Sembab sudah mata Novelis selepas menguburkan jenazah seorang demonstran di Jogjakarta. Ia segera pulang ke Solo dengan hati bersimbah duka. Sepanjang perjalanan isak tertahan dan duka mendalam menyelimuti hatinya. Ia lalu tertidur pulas sampai sore hari.
Selepas shalat magrib ia kemudian menyemak al Qur’an beberapa halaman sambil menunggu waktu Shalat Isya di depan rumahnya.
Dengan tergesa-gesa ia segera pulang ke rumah dan masuk kamar untuk segera tidur. Malam sunyi senyap.
Masih terbayang saat pertama kali bertemu Yudi dan berlanjut dengan pertemuan di Kostnya. Saat itu malam minggu Yudi main ke kostnya, tanpa permisi, Yudis langsung masuk kamar kontrakannya, padahal kamar itu gelap sekali dan Novelis hanya memakai celana pendek, rambutnya sampai tergerai panjang.
Memang saat itu Novelis tidak memakai kerudung, sehingga kelihatan semua rambutnya yang lurus panjang tergerai, bak pelepah palma menyentuh rerumputan. Ah, membuat bikin malu saja, mengingatnya.
Malam semakin larut. Kebetulan keluarganya sedang pergi keluar kota. Jadi ia di rumah sendirian. Tepat tengah malam, pintu rumahnya di ketok dari luar.
“Assalamu’alaikum Wr Wb,”
Dengan setengah sadar, Novelis masih enggan bangun. Terdengar lagi suara ketokan pintu rumahnya.
“Assalamu’alaikum Wr Wb,”
Novelis dengan agak takut lalu membuka pintu kamarnya, ia menduga suara itu adalah kedua orang tuanya yang baru pulang dari luar kota. Lalu ia membuka pintu.
Betapa kagetnya, ternyata yang di depannya adalah Yudistira....sebuah pertemuan yang mengejutkan. Seolah Novelis tidak percaya dengan kedatangan Yudis.
“Yudis?????”
“Ya,aku Yudis,”
Keduanya lalu berpelukan. Yudis merangkul erat Novelis. Keduanya larut dalam suasana kasmaran yang maha dahsyat.
Lalu Novelis mengajak Yudis untuk duduk di ruang tamu setelah menyalakan lampu pijar di ruang dalam rumah Novelis.
“Yang tadi malam meninggal, itu adalah temanku,” buka Yudis.
Lalu Yudis mengisahkan, kalau situasi malam itu sangat kacau. Jadi ia segera lari ke Klaten dan menginap di rumah temannya.
“Keluarga belum tahu. Sementara waktu aku menginap di Pabelan, Kartosuro. Sampai situasi aman,” lanjut Yudis.
“Memang nya kamu tidak pulang dulu ke rumah?” tanya Novelis.
“Ndak, sebulan lagi aku akan ke Jogja merampungkan kuliah dan sambil bekerja di salah satu media di sana ,” kata Yudis.
“Aku turut mendukung gagasanmu. Aku juga sedang merampungkan S-2 di UMS,” terang Novelis menjawab dengan kalimat pendek.
Malam sunyi senyap. Suara jangkrik malam bercengkrama dengan suara kelelawar yang beterbangan menjadi teman malam pertemuan yang mengharukan kedua insan remaja yang sedang dimabuk asmara itu.
Jelang waktu Subuh, Yudis pamit dari rumah Novelis. Sembari menuliskan no kontak pribadinya. Kamu boleh menelpon apa saja dan sering kabari aku ya,” demikian pesan terakhir Yudis.
Beberapa hari, Yudis menginap di LPM Pabelan, sambil sesekali mengurus kuliah di Jogja.
Lama juga Yudis menunggu Novelis datang.
“Hari ini aku libur. Sedari pagi aku di dapur. Jam 10 siang aku mau takziyah. Temen SMP ku ada yang meninggal,” kata Novelis dalam pesan pendeknya.
Yudis lalu membuka koran pagi. Dalam sekejap seluruh halaman koran itu telah dibaca habis. Tak terasa waktu telah menunjuk jam 11 siang.
“Maaf baru pulang dari Takziyah. Terserah mau ketemu di mana,” pesan pendek SMS kembali terkirim dari Novelis.
“Terserah kamu saja. Aku kini dekat SMP 12 Trangkilan, Sumber. Kamu kesini ya, ” jawab Yudis.
Hingga akhirnya di suatu senja di Warung makan di daerah Sumberejo, kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu bertemu kembali.
“Aku bulan ini sudah kembali ke Jogja untuk merampungkan kuliah,” buka Yudi memulai perbincangan. Sorot matanya tajam menatap Novelis.
“Baguslah kalau begitu,” jawab Novelis pendek.
Pelayan warung makan itu menyodorkan daftar menu.
“Kau dulu yang pilih,” sodor Yudi sambil memberikan daftar menu.
“Ayam goreng dan Jus Jambu,” kata Novelis sembari menyodorkan catatan menu pilihannya.
“Sama. Ah,” kata Yudis.
Sambil menunggu makanan datang, Novelis tiba membuka perbincangan.
“ Di Solo kamu mau berapa hari? “ tanya Novelis.
“Wah tergantung urusanku deh,” jawab Yudis.
“Besok kamu mau ke mana?” tanya Novelis.
“Tahu deh. Di Solo ada hiburan apa? “
“Ndak ada apa-apa. Saya juga di rumah saja. Paling nonton TV,” jawab Nove.
Tiba-tiba Novelis memandangi Yudis dengan sorot mata yang tajam.
“Aku kini malah takut...Jujur aku takut,” kata Novelis pendek.
“Aku juga takut,” kata Yudi menimpali.
“Aku takut kehilangan kamu,” kata Yudi dengan ungkapan polos.
“Ah, gitu kamu juga sudah tahu jawabannya,” ujar Novelis sambil tersenyum manis.
Sekitar sepuluh menit, pelayan rumah makan datang sambil membawa pesanan.
Yudis memandangi cara Novelis makan. Lahap sekali Novelis langsung menyantap hidangan yang terasedia.
“Nih laper, apa doyan?” guman Yudis dalam hati.
“Asyik juga aku melihat kamu makan,” kata Yudis polos sambil memandangi cara Novelis makan.
“Hih, orang lagi makan kok diperhatikan, khan jadi malu.” Kata Nove.
Tiba-tiba Novelis menghentikan makan siang itu. Dengan sorot mata yang sendu, ia llau melanjutkan perbincangan.
“Aku sebenarnya dilarang menjalin hubungan asmara dengan kamu,”
“Kenapa?” tanya Yudis
“Orang tuaku melarangku begitu,” lanjut Nove.
Remuk rendamlah hati Yudis. Ia pun menghentikan makan. Sambil tertahan menahan hawa pengap yang menyumbat dada. Yudis lalu memberanikan diri berkata:
“Tapi aku sangat mencintaimu,”kata Yudis.
“Cinta tidak cukup diucapkan dengan kata-kata. Ah, gombal,” kata Nove dengan manja.
“Tolong jawab dengan jujur, kamu mencintaiku tidak?”
“Tahu ah. Yang jelas, asyik aja aku ngobrol dengan kamu. Tahu kenapa?”
Sejenak mereka berdua terdiam membisu.
Dari kafe tempat mereka makan terdengar lagu “Wali” yang berjudul “Doa untukmu sayang” . Enak jug adidengarkan bagi yang sedang jatuh cinta seperti mereka berdua.
Kau mau apa
Pasti kan kuberi
Kau minta apa akan kuturuti
Walau harus aku terlelah dan letih
Ini demi kamu
Sayang
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangi mu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada illahi
Tuk satukan kami
Di surga nanti
Tahukah kamu
Apa yang kupinta
Di setiap doa sepanjang hariku
Tuhan tolong aku
Tolong jaga dia
Tuhan
Ku pun
sayang dia
Aku takkan berhenti
Menemani dan menyayangi mu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada illahi
Tuk satukan kami
Di surga nanti
Lama mereka terdiam tidak berkata-kata. Mereka telah menghabiskan makan siangnya. Yudis membuka kembali perbincangan.
“Kapan kamu mau menikah?” tanya Yudis.
“Aku memang mau menikah , Tapi tidak terburu-buru. Aku juga punya keluarga. Segala sesuatunya perlu aku bicarakan dengan keluarga,” jawabnya datar.
“Ya sudah ni makan-makan nya. Aku tahu kamu sibuk. Banyak kerjaan. Kalau kamu longgar ketemu aja lagi,” kata Novelis mengakhiri perbincangan.
Sore mereka pulang.
Yudis kemudian pulang ke Jogja.
Kerjaan yang berjibun membuat mereka jarang bertemu.
12. Bercinta dengan waktu
Jujur Yudis sangat mencintai Novelis, bahkan sulit mendapatkan gadis yang se elok dia.
Hingga suatu waktu Yudis mendapat sms sangat singat dari Novelis.
“Kalau memang kita berjodoh Kita akan dipertemukan. Tapi Aku tidak tahu siapa jodohku. Dan kau kamu adalah jodohku, kita pasti akan dipersatukan,” demikian bunyi sms itu.
Yudis terus bekerja di Jogja sambil menyelesaikan kuliahnya demikianpun dengan Novelis ia sudha merampungkan S2 nya dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota Solo.
Perjalanan cinta mereka makin berliku.
Hubungan keduanya kini tidak mendapat restu dari keluarga Novelis. Ayah dan kakak Novelis melarang hubungan keduanya. Dengan alasan Yudis pekerjaannya hanya sebagai karyawan biasa dan jauhnya jarak.
Yudis menerima alasan itu. Kini ia mulai menjaga jarak dengan Novelis.
Yudis juga bekerja di Jakarta. Bahkan terkadang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia bahkan juga ke luar negeri. Kini ia benar-benar mencoba melupakan Novelis.
Hari berganti hari.Bulan menggeser tahun.
Telepon –telepon terakhir memang sangat mesra.
“Sungguh aku mencintai kamu....” guman Yudis.
“Apa alasan kamu mencintai aku?” tanya Novelis kepada Yudis.
“Kamu cantik, masih sendiri, cerdas, berakhlak,” jawab Yudis pendek.
“Mulai gombale keluar, neh....”
“Serius.”
“Tapi hubungan kita tidak direstui begini, gimana yach?” tanya Novelis.
“Kau tetap sahabatku yang terbaik. Aku tetap sayang kamu,” tegas Yudis.
Hingga di suatu hari Minggu. Tanpa sengaja Yudis membuka facebooknya dan mendapati teman lama Novelis saat kuliah di Yogya.
Begitu keluar dari rumah dan menuju rumah makan, baru saja mengambil nasi dan lauk pauk tiba-tiba teleponnya berdering.
“Halo, ni Rosita, teman Novelis. Gimana kabarmu , Yud?”
“Kabarku baik,”
“Kerja di mana?”
“Aku kini karyawan biasa, kamu?”
“Aku ibu rumah tangga, sudah punya anak dua”
“Eh kamu kan, temannya Novelis. Sering kontak-kontak?”
“Kadang sih,” jawab Rosita.
“Saya dengar dia sudah punya anak dan menikah,” terang Rosita lagi.
“Masa? Saya ndak percaya..” jawab Yudis.
“Sudah dulu ya, neih sudah dijemput suami, dah...” telepon berakhir dari Rosita.
Yudis lalu menghabiskan makan siangnya. Selepas dari rumah makan ia lalu memacu kendaraanya menuju GOR Satria Purwokerto melihat pameran bursa mobil dan Pasar Rakyat.
Sambil melihat pasar rakyat itu dan sambil membeli pernak-pernik. Tiba-tiba sms datang dari Novelis.
“Kamu ngobrol apa saja dengan Rosita?”
“Aku tidak mengobrol apa-apa. Dia yang pertama telpon. Ngobrolnya Cuma 2 menit,” jelas Yudis.
“Bicara apa?” Desak Novelis.
“Benar, aku tidak bicara apa-apa,” jelas Yudis lagi.
“Aku ndak tahu mau bicara apa. Karena kamu lebih percaya orang lain. Sedangkan dalam hubungan perlu rasa saling percaya,” gerutu Novelis.
“Kamu jangan cepat menyimpulkan. Benar-benar, Rosika hanya Say Hello saja,” terang Yudis lagi.
“Aku ndak menyimpulkan apa-apa,” sergah Novelis.
“Ya Sudahlah,” kata akhir Novelis menutup perbincangan.
Berkali-kali Yudis mencoba menelpon Novelis tapi tidak diangkat-angkat.
“Sudah tidur aja,” pesan Novelis
“Aku ndak suka kalau kamu mencampuri urusanku,” pesan sms Novelis sengit.
“Pantesan sudah berapa tahun tidak ada kabar, kok dia tiba-tiba telepon. Untung aku tidak dengar pas dia telepon. Jadi kan tidak perlu diangkat. Terus kenapa kamu mesti mengobrol masalah pribadiku sama dia? Emang sich kamu kan kerjaannya cari berita. Tapi, ya tidak dengan cara seperti itu dong kamu perlakukan aku. Masalah urusan pribadiku tidak untuk konsumsi publik.” Demikian smsnya kembali terkirim.
“Ternyata dibandingkan yang lain kamu lebih parah”
"Ya kalau gitu. Aku minta maaf," kata Yudis.
"Maaf," jawab Nove dengan ketus.
“Masak hari minggu juga sibuk sih....Ok deh coba nanti malam tek telp lagi. Aku malah jadi penasaran, kenapa telp aku tidak diangkat,” kata Rosika.
“Aku tidak menuduh. Aku cuma baca dari sms kamu dan kamu dengar dari omongan kamu. Tapi kalau dia mulai menyinggung namaku. Mesti juga tidak akan terjadi obrolan tentang aku. Sampai masalah bobot, bebet segala tambah lagi buntut. Sudahlah, jadi males.” Kata Novelis.
“Kalau yang ada buntutnya, kalau ndak kambing, sapi, ya monyet....”
“Nggak lucu!”
“Sebenarnya kamu maunya apa?”
Pertengkaran mereka semakin seru saja. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya Yudi memulai minta maaf dan mengharap hubungan persahabatan yang sudah lama dijalinnya agar tidak putus begitu saja. Dan Yudis mengajak Novelis untuk berbaikan lagi.
“Ya sudah dengarkan saja apa kata mereka. Mereka lebih tahu,” Kata Novelis.
“Aku tidak berniat memutuskan hubungan ini. Aku bahkan masih mencintai kamu. Bahkan beberapa temanku memotivasiku untuk terus mendekatimu,” terang Yudis.
“Ada yang memotivasi kamu untuk mendekatiku. Tapi dalam pikiran kamu, kamu percaya aku sudah menikah bahkan punya anak. Mana mungkin bisa menjalaninya,” jawab Novelis.
“Mungkin kamu percaya sama aku. Tapi kamu juga percaya dengan orang lain,”lanjut Nove.
“Emang dari awalnya tidak percaya”
“Berarti sudah jelas kan? Ya sudah anggap saja semua itu benar. Beres kan. Dah ndak usah perlu cari –cari info lagi tentang aku . nanti malah jatuhnya jadi gosip.”
“Tapi maaf aku tidak percaya”
“Aku tidak percaya kalau kamu tidak percaya dengan semua berita tentang aku. Aku jadi takut membayangkan nanti yang akan terjadi jika suatu saat kita bersama.
“Maaf mungkin benar yang kamu bilang kemarin. Aku takut menikah. Aku takut menikah sama kamu.”
“Bukan neurosis tapi memang karena perbedaan prinsip saja. Aku takut pun hanya kepada Allah saja. Jangan terus dihubungkan begitu.”
“Ya sudahlah. Anggap tidak ada apa-apa, sekarang urusi pekerjaan masing-masing saja.”
“Aku tidak mau menyakiti kamu dengan sifat dan sikapku ini.”
“Maafin aku ya. Pasti gara-gara aku. Kamu jadi seperrti ini. Mungkin ini sifat jelekku Susah melupakan sesuatu yang membuat aku tersinggung.”
“Aku benar-benar minta maaf . Membuat kamu kecewa. Meski aku berharap bisa bersama. Tapi kata-kata kamu kemarin masih terus ada di pikiranku.”
Bagi Yudis, sulit memang mencari pengganti gadis secantik dan secerdas Novelis.
“Aku tidak punya niat menipu. Makanya sebelum terlanjur aku sudahi saja. Memang sakit daripada besok-besok akan lebih sakit lagi.”
“Mungkin benar. Aku ndak perlu berhubungan lagi,”
“Sebenarnya saat ini pun aku sedih. Inget kamu. Tapi gimana lagi.”
“Minta apa?”
“Kamu tadi bilang kecuali kamu yang minta. Emang kamu nunggu aku minta apa?”
Yudis tidak mencoba menelpon Novelis. Hari makin larut, ia lalu tidur.
Beberapa hari kemudian Novelis kembali mengirim sms.
“Sebenarnya pengin ngobrol tapi takut nanti salah paham lagi.”
Tapi Yudis terlanjur kecewa juga. Dicuekin dan tidak mungkin lagi memaksakan diri untuk melanjutkan hubungan. Ia mendiamkan saja.
Hingga Yudis membalas sms itu.
”Diajeng adalah sahabatku terbaik. Dan diajeng adalah cinta pertamaku. Tak mungkin aku melupakan diajeng...”
“Makasih sudah mencintaiku sepenuh hati. Aku tidak tahu yang akan terjadi esok.”
(Heh kalau ketawa di tahan. Ntar bisa bikin perutnya kaku lho.....)
Entah mengapa, aku tak berdaya, waktu kau bisikan jangan aku tinggalkan, tak tahu di mana ada getar terasa. Waktu kau katakan kubutuh dekat dengan mu.
Seperti biasa. Aku diam tak bicara HANYA mampu pandangi bibir tipismu yang menari. Seperti biasa aku tak sanggup berjanji hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini.
.............................bersambung 081229667400
Key words
Book Islamic
Novel popoler
Novel populis
Novel Terlaris
Best Seller
Penerbit Novel
Penerbit Jogja
Roman Picisan
Gosip terkini
---Setiap perbuatan kita dicatat oleh alloh swt, apakah itu amal kebaikan atau amal jelek. Awasilah amal-amal itu,kendalikan agar senantiasa berbuah positip dan bermanfaat bagi orang banyak. Amal soleh, pantas untuk diri sendiri dan untuk orang lain---
www.ajisetiawan1.blogspot.com
[1] Idiologi= aturan yang muncul dari pandangan hidup
[2] Absurd= situasi yang penuh ketidakjelasan
[3] RRI= Radio Republik Indonesia
[4] Investigave= reportase yang dihasilkan wartawan lewat inisiatifnya sendiri dan diberitakan merupakan hal yang penting yang ingin ditutupi sekelompok orang (menurut Robert Greene and Newsday)
[5] TOR= Term of Reference, sebuah panduan kecil untuk kerja-kerja jurnalistik.
[6] Deadline= waktu terakhir tulisan harus masuk redaksi
[7] Trawl= jaring yang ukuran sangat lembut, sehingga semua ikan kecil tersapu bersih dan sifat dari jaring ini merusak terumbu karang.
[8] Funding= Lembaga penyandang dana
[9] borjuis = orang-orang yang punya modal
[10] trenyuh= tersentuh hatinya
[11] bengkok = tanah bagi mantan pegawai desa
[12] dereng= belum
[13] tumben= tidak biasanya
[14] sampeyan = kamu
[15] Ndaru= cahaya meteor atau bintang beralih
[16] Ketiban ndaru= menerima anugerah kebahagiaan
[17] Karjo=Dinamakan Karjo, karena dulu ayahnya punya tafa’ul (berharap/punya harapan) anak nya bisa kerja, ya kerja apa saja yang penting halal, tidak makan orang
[18] Karno=tafa’ul agar Karno seperti Bung Karno, yang tegar, berani dan menjadi pemimpin bangsa di masa depan
*[Rikhlah]= perjalanan
Catatan Penutup:
Pembaca yang budiman. Saya sesungguhnya berterima banyak atas komentar-komentar karya “yang penuh sampah ini”. Dengan kerendahan hati, saya selalu menerima kritik. Dari ruang kritik itulah, saya menulis cerita ini terus berkembang. Ini adalah karangan “tambal sulam”.
Soal nama pelaku, setting cerita, tempat kejadian bila ada kesamaan dengan pembaca itu di luar kesengajaan penulis. Tujuan cerita ini dibuat tidak bermaksud untuk dirimu, diriku atau siapa pun saja—sebab bisa bermanfaat atau tidak, itu sangat subjektif sekali ukurannya. Kalau ada kemiripan cerita, saya berharap tidak usah ditafsirkan macam-macam—agar tidak timbul prasangka yang tidak-tidak.
“Kenapa bisa begitu?”
Prasangka hanya akan melahirkan banyak kecemasan, ketidaksehatan dan gangguan jiwa, ketakutan (neurosis) dan mental —tuduhan-tuduhan tak berdasar yang terus berputar-putar dalam otak. Efek jangka panjang adalah sakit fisik yang disebabkan oleh penyakit psikis (psikosomatis); gejalanya susah buang air besar, banyak melamun, gelisah, tidak bisa tidur, nafsu makan berkurang, pandangan mata berkunang-kunang, muka pucat, mata cekung dll. Anda jangan jadi dokter, lalu nyuntik sendiri dengan memakai narkoba...udah mahal belum tentu sembuh.
Kalau tanda-tanda itu terjadi, segera ambil air wudhu, itu tandanya anda sedang banyak dibisiki setan!
Padahal, tulisan ini dibuat bukan untuk meneror atau menyakiti siapa pun saja. Namun, cerita di atas diharapkan mempunyai efek menghibur, menyenangkan dan memberi sebuah makna (kesan) bagi siapa saja yang membacanya. Minimal, bisa mentertawakan diri sendiri........loooh?
Oleh karena itu khusnudzan (prasangka baik) dalam membaca cerita-cerita ini sangat diperlukan dan dianjurkan. Apabila anda merasa suka, gembira, bisa ketawa, bersedih, bahkan ada perasaan tidak suka maka bersyukurlah itu artinya anda menikmati cerita ini........
Bacalah terus, nikmati alurnya dan segera ambil makna atau pesan yang terkandung di dalamnya.
Hidup memang keras, penuh kedisplinan, terjal, kadang mudah dan remeh. Semua berjalan apa adanya, penuh kesederhanaan. Demikian pun, kehidupan yang begitu sederhana ternyata sungguh luar biasa. Kita kadang menganggapnya perjalanan hidup seseorang biasa-biasa saja, “Itu khan menurut prasangka kamu?”
Belum tentu bagi orang lain. Jangan menyamaratakan semua persoalan dan masalah. Jangan merasa dirimu hebat dibandingkan dengan orang lain, amat remeh kalau sampai menimpa dirimu. Jangan selalu anda merasa berada dalam klaim kebenaran, sebab belum tentu yang kamu anggap benar, itu benar menurut orang lain.
Jadi? Masih selalu bisa diperdebatkan bukan?
Ada kisah perjalanan hidup seseorang biasa-biasa saja saat ini, siapa tahu pada suatu waktu di masa depan akan menjadi luar biasa; jadi menteri, presiden, gubernur, bupati, anggota legislatif, lurah, manajer atau apa pun saja yang membuat orang itu menjadi lebih terhormat. Amiiiiiiiiiiiiiin....
Ada juga perjalanan orang yang tampaknya luar biasa, ternyata dia menjalaninya dengan begitu sederhana, biasa-biasa saja. Semua di balik itu terjadi karena ada rahasia besar di balik kekuasaan-Nya.
Untuk melihat semua itu, butuh kejernihan dan keluasan hati untuk menerima berbagai perbedaan pendapat. Tapi, tetap dalam koridor berfikir secara sederhana dan tidak mempersulit hidup, apalagi sampai mempersulit hidup orang lain (Tuhan akan melaknat para penindas! Tobatlah! Tobatlah!!!” )
Jadikan hidup ini lebih mudah. Hidup begitu simple (sederhana), kuncinya (ora neko-neko) dan anda menjadi solusi dari masalah, bukan menjadi bagian dari masalah atau malah selalu menimbulkan masalah baru. Maka pahami dengan benar dan renungkanlah...............
Cuciculum Vitae
Nama Pena : Aji Setiawan
Nama Lengkap : Aji Setiawan, ST
Lahir : 1 Oktober 1978
Alamat rumah : Cipawon, 6/1, Bukateja, Purbalingga Jateng 53382
No KTP :3303020110780002
No Telp: 081229667400
E-mail: setiawan5000@gmail.com
Rekening: BANK MANDIRI: 139-00-1091517-5
www.ajisetiawan1.blogspot.com
Pendidikan
-Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta lulus tahun 2002
-SMU Negeri 3 Purwokerto, Banyumas lulus tahun 1996
-SMP Negeri 1 Bukateja, Purbalingga lulus tahun 1994
-Madrasah Ibtidaiyah Cipawon II, Bukateja Purbalingga lulus tahun 1992
Pengalaman Organisasi
-Litbang Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Manajemen Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta 1997
-Lembaga Pers Mahasiswa ”Profesi”, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta 1998
-Staff Litbang Lembaga Pers Mahasiswa “Himmah” Universitas Islam Indonesia (UII), Jogjakarta 1999-2003
- Sekretaris Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Komisariat Universitas Islam Indonesia Jogjakarta tahun 1999-2000
-Ketua Penelitian dan Pengembangan (litbang) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Komisariat Universitas Islam Indonesia Jogjakarta tahun 2000-2002
-Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi Korda Jogjakarta 1999-2003
Pengalaman Bekerja
-Reporter Jogja Pos (1999)
-Staf Redaksi Majalah alKisah, PT Aneka Yess Group (2003-2009)
Aji Setiawan