Senin, 08 Februari 2010
Bertanam Terung (tentang gali lubang tutup lubang)
Senin, 11 Januari 2010
Nasehat Haji



Oleh : Aji Setiawan
Musim haji telah tiba. Jutaan orang bersiap melaksanakan ibadah itu dengan satu niat, yakni ingin memperoleh haji mabrur. Balasan bagi orang yang hajinya mabrur sangat jelas, yaitu surga.
Ganjaran yang begitu besar ini tentunya mempunyai konsekuensi dalam pelaksanaannya. Haji tidak hanya ritual rohani, melainkan juga melibatkan fisik seseorang. Beberapa ibadahnya merupakan gabungan dari olah fisik dan rohani. Tidak salah kalau kemudian ada yang mengatakan, haji adalah suatu ibadah yang 'berat' bagi seorang Muslim. Sehingga, sayang bila orang yang berhaji tidak bisa menjadi haji mabrur.
Haji termasuk ritual ibadah yang istimewa. Tidak semua umat Islam bisa melaksanakannya. Dibutuhkan segala persiapan yang matang mulai fisik, finansial, hingga mental. Persiapan secara fisik sangat dibutuhkan mengingat dalam beberapa rukun haji perlu perjuangan fisik, seperti sa'i, melempar jumrah, dan tawaf. Sedangkan finansial jelas diperlukan.
Dalam Alquran telah digariskan, yang wajib haji adalah orang yang mampu. Sedangkan persiapan mental adalah yang paling penting karena hal ini menyangkut hati. Menyiapkan mental berarti menata hati guna menyambut panggilan Allah.
Di samping itu, haji merupakan ibadah yang mempunyai dampak luas bagi umat manusia. Tidak hanya dari segi fisik maupun rohani, juga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Tentu saja haji yang mabrur bisa dilihat dari maslahatnya terhadap kehidupan umat manusia. Haji adalah sebuah ibadah spektakuler, karena di balik semua itu terdapat hikmah yang jauh lebih dahsyat.
''Barang siapa yang mengerjakan haji kemudian ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan, maka ia kembali (bersih) seperti saat dilahirkan oleh ibunya.'' (HR Bukhari Muslim)
Bagaimana sebenarnya menjadi haji mabrur itu? Imam Hasan bin Ali Abi Thalib pernah ditanya, apakah haji mabrur? Jawabnya, ''Jika engkau telah pulang, kamu menjadi orang yang zuhud (tidak terbelenggu dalam cinta dunia), dan bersemangat mencapai kebahagiaan di akhirat.''
Zuhud tidak berarti antimateri, tetapi kesanggupan rohani untuk mengalahkan ambisi pribadi, keserakahan kepemilikan benda, serta kebanggaan semu di dunia. Semoga saja kaum Muslimin yang saat ini sedang menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci, pulang kembali ke Tanah Air dengan hajjun mabrur. ( Tuesday, 15 January 2008 - Republika - Nasihat Haji )
Minggu, 10 Januari 2010
Tentang Sebuah Kolam
Tuhan,
Betapa boros hidup ini
Apalagi bila bercerita tentang sebuah materai
Di mana-mana
betapa mahal sebuah materai itu
Bertanya pada sebuah bulan
Dan bulan itu terus beredar pada porosnya
Tak bisa menjawab
Absurd!!!
Absurditas, sebuah kesemrawutan
Sebuah asal dari akar yang jelas berasal dari emosi
Amarah
Kebencian
Dan tanpa sedikitpun
Kasih sayang
Bulan.....
Aku merindumu di setiap pertengahan waktu
Saat perjumpaanku dengan seorang pertapa
Yang senantiasa menjernihkan akal fikirku
Subhanallah,
Di balik keagungan Mu
Aku menatap cahaya terang di hari esok
Ada sebuah harapan
Harapan baru
Tentang sebuah cerita yang akan terus bersambung
Senja bertasbih
10 Januari 2010, Planetarium TIM Jakarta Pusat
Aji Setiawan
Selasa, 10 Maret 2009
Gema Maulid di Kabupaten Banjarnegara
Dengan mencintai Rasulullah SAW oleh Allah SWT akan mendapatkan keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat
Suasana Maulid Nabi Muhammad SAW juga bergema di Kabupaten Banjarnegara. Kemeriahannya tidak saja diselenggarakan di tingkat kabupaten, namun juga sampai ke pelosok-pelosok desa yang ada di Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah.
Pagi itu, 10 Rabiulawal 1430 H, bertepatan dengan 8 Maret 2008, cuaca di kompleks Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilin, Mantrianom, Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara-Jawa Tengah sangat cerah. Secerah hati ribuan jemaah yang akan mengikuti pengajian rutin Ahad Kliwon sekaligus perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagian di antara mereka yang berasal dari berbagai tempat di sekitar Kabupaten Banjarnegara.
Mereka datang secara berombongan maupun sendiri-sendiri. Maka, tidak mengherankan bila sejak pagi hari kompleks pondok pesantren ini sudah ramai oleh ribuan jemaah dari berbagai daerah se-Kab Banjarnegara dan sekitarnya, seperti dari kab Purbalingga, Kebumen, Banyumas, Temanggung, Magelang, Wonosobo dll. Para jemaah yang datang berebut menempati tempat duduk di bagian halaman pondok pesantren. Mereka yang tidak kebagian tempat di dalam masjid, menggelar tikar atau koran di halaman.
Pukul 09.00 WIB, acara dimulai dengan sambutan dari sahibulbait, KH Abdul Jalil, dilanjutkan dengan pembacaan doa untuk jama’ah yang dipimpin oleh H. Ubaidillah.
Mata acara yang dinanti-nanti jemaah, yakni tausiah, pun tiba. KH Hayatul Makki, SH Pengasuh Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilin mendapat giliran pertama. Dalam kesempatan itu Gus Hayat, demikian panggilan akrab KH Hayatul Makki, SH berpesan dalam menghadapi Pemilu 2009 nanti diharapkan jamaah untuk memilih para pemimpin yang Shidiq (jujur), Amanah (terpercaya), Fatonah (cerdas) dan Tabligh (menyampaikan).
Selain itu dalam menghadapi situasi bangsa Indonesia yang sedang memanas situasi politiknya, Gus Hayat mengajak jamaah untuk memperbanyak shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebab dengan shalawat Nabi SAW hati dan pikiran menjadi tenang. “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab:56).
Sementara itu taushiyah kedua disampaikan oleh KH Hamzah Muhammad Hasan, putra tertua KH. Muhammad Hasan (alm) yang juga Pengasuh Ponpes Tanbighul Ghofilin, Mantrianom.
Taushiyah ketiga disampaikan oleh KH Thofur Asnawi dari Magelang yang menyampaikan tentang pentingnya bersyukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW ke muka bumi. Dan bentuk rasa syukur itu melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk mengenang dan meladani Rasulullah SAW sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari.”Memperingati maulid menunjukan rasa syukur kita atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.Allah SWT berfirman,’Katakanlah,”Dengan karunia Allah dan Rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka begembira. Karunia Allah dan Rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS Yunus:58)’.”
Acara ditutup dengan doa oleh KH Thoefur Asnawi. Tak lama berselang, azan Zuhur pun berkumandang. Para jemaah Maulid langsung menunaikan salat berjamaah. Lepas shalat berjamaah para santri senior dan pengasuh Pondok Pesantren mengadakan acara Bahsul Masail untuk membahas masalah agama kontemporer dengan rujukan kitab kuning di aula Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilin, Bawang, Kabupaten Banjarnegara dengan narasumber HM. Rohamurmuziy, ST MT, staf Ahli Menteri Koperasi Republik Indonesia. Acara bahsul masail itu sendiri berlangsung sampai jam 14.00 WIB.
MT Habib Ja’far bin Ali bin Husein Mulaheleh
Sejak pagi hari komplek Majlis Taklim Habib Ja’far bin Ali bin Muchsin Mulaheleh yang terletak di Desa Mandiraja Kulon Kecamatan Mandiraja Kab Banjarnegara pada 10 Rabiulawal 1430 H(8 Maret 2008), telah dipadati oleh ratusan ulama dan mubaligh untuk membahas acara Bahsul Masail Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyah se-Kab Banjarnegara untuk memperingati haul Habib Ali bin Muchsin Mulaheleh yang ke-21 sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Acara Bahsul Masail sendiri di berlangsung sampai sore hari. Lepas shalat Isya dilanjutkan dengan rauhah di musala MT Habib Ja’far yang dihadiri oleh para habaib, ulama dan masyarakat setempat. Puncak acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dibuka dengan pembacaan Maulid dan Shalawat, dan berlanjut kalam ilahi. Selanjutnya bersambung dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh ulama-ulama Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyah secara bergantian.
Lepas sambutan oleh panitia yang diwakili oleh H. Muslimin berlanjut dengan sambutan oleh Ketua Jamiyyah Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyah Kabupaten Banjarnegara, KH Jauhar Hatta Hasan. Sementara itu taushiyah utama disampaikan oleh Habib Abdul Qadir Al-Athas dari Tegal. Dalam taushiyahnya, Habib Abdul Qadir menekankan pentingnya mencintai Rasulullah SAW. Sebab dengan mencintai Rasulullah SAW sebagaimana dijanjikan Allah SWT akan mendapatkan keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Pertama, yakni orang-orang yang mau beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Yang kedua, mau mengagungkan Rasulullah Muhammad SAW.
Dalam kesempatan itu Habib Abdul Qadir juga berpesan kepada Jamaah untuk berpegang teguh dengan Ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal-Jamaah karena ajaran inilah yang paling sesuai dengan bumi Indonesia. Di mana ajaran ini sudah lama dianut oleh masyarakat Indonesia sejak Islam masuk ke Indonesia melalui jalan dakwah yang dibawa oleh Wali Songo.
Acara berakhir sekitar pada pukul 24.00 dan kemudian ditutup dengan doa oleh Habib Ja’far bin Ali bin Muchsin Mulaheleh.
Aji Setiawan, Purbalingga
Caption:
1.Lead
2.Jamaah Pegajian Rutin dan Maulid di PP Tanbighul Ghofilin. Mengharap berkah Maulid
3.Acara Bahsul Masail. Membahas masalah kontemporer dengan rujukan kitab kuning.
4.Doa bersama. Dipimpin oleh ulama-ulama Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyah
5.Habib Abdul Qadir Al-Athas dari Tegal. Pentingnya mencintai Rasulullah SAW.
6.Suasana Maulid di MT Habib Ja’far Mulaheleh. Meriah dan semarak.
Majelis Taklim Riyadus Salihin Desa Kedungjati
Majelis Taklim Riyadus Salihin Desa Kedungjati, Kec Bukateja Kab Purbalingga.
Bukti Mahabbah Kepada Rasulullah SAW
Ikatan cinta ini akan membawa kita mencapai derajat yang tinggi kalau orang orang kita cintai adalah orang yang derajatnya tinggi.Seperti rantai, kita menghubungkan rantai para shalihin, awlia, ulama dan wali. Karena rantainya bersambung kita angkat naik kita angkat bersama rantainya para shalihin.
Minggu malam yang lalu 4 Maret 2009 bertepatan tanggal 14 Rabiul Awal 1430 H ribuan jemaah yang didominasi pemuda, tumpah ruah memadati jalan raya Desa Kedungjati, Kecamatan Bukateja. Mereka adalah tamu Rasulullah SAW, hendak mengikuti peringatan hari kelahiran beliau. Peringatan ini digelar oleh Majelis Taklim Riyadus Shalihin pimpinan Habib Ali bin Umar Al-Qutban.
Para tamu Rasulullah SAW yang datang dari berbagai wilayah sekitar Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen dan sekitarnya langsung menempatkan diri, duduk bersila atau bersama-sama jemaah lain mengobrol dengan para Habaib dan Ulama.
Selepas shalat Isya berja’maah, mereka langung menempatkan diri di shaf-shaf terdepan, memenuhi panggung besar yang telah disediakan panitia. Dengan duduk bersila, sambil menanti kedatangan jemaah yang belum datang. Raut-raut wajah mereka tampak riang, seperti orang yang baru mendapatkan kabar gembira. Semakin malam, jamaah semakin banyak.
Sekitar pukul 8 malam, acara dibuka dengan pembacaan Maulid Simtud Durar karangan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy.Lepas pembacaan ayat kalam illahi, acara dibuka dengan sambutan pimpinan Majelis Taklim Riyadus Shalihin Kab Purbalingga pimpinan Habib Ali bin Umar Al-Qutban. Lalu berlanjut dengan sambutan oleh Wakil Bupati Kab Purbalingga, Drs. H. Heru Sujatmoko, M.Si. Dalam kesempatan itu, bapak Wakil Bupati mengajak para jamaah untuk meneladani contoh teladan dari Nabi kita ketika beliau memimpin negara dan pemerintahan. ”Kita pasti tidak dapat meniru persis karena beliau adalah manusia yang paling mulia. Dan menjadi kewajiban kita, kami mengajak jajaran pemerintahan bagaimana menjadi pemerintahan yang adil sesuai dengan tuntunan agama kita, contoh teladan dari Nabi Muhammad SAW.”
Dalam mauizah hasanah, Habib Mahdi bin Muhammad Al-Hiyed dari Tegal, Jawa Tengah. Habib Mahdi mengingatkan tentang hikmah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. “Cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW adalah bukti cinta kita kepada Alloh SWT. Jalur membuktikan kecintaan kepada Alloh SWT adalah melalui Nabi Muhammad SAW. Caranya? Dengan mengikuti syariat-Nya dan Sunnah yang diatur oleh beliau.Dan semampu mungkin kita hindari apa yang dilarang oleh Rasululloh SAW. Itu adalah bukti kuat cinta kita kepada Alloh SWT. Balasannya apa? Alloh SWT akan menghapus semua dosa-dosanya,” katanya.
Pada kesempatan itu Habib Mahdi pada saat sekarang ini Ghibah, Dusta, Dengki, Hasud, Takabur yang sadar atau tidak sadar tiap hari kita kerjakan.Sementara ibadah kita jauh. “Mencari orang khusyuk di jaman sekarang ini sulit. Ada tapi sulit sekali.”
Pengakuan dosa, Majlis ini adalah majlis pengakuan dosa, kita tawadhu kepada Allah SWT. Rahmat Alloh SWT itu diturunkan oleh Alloh SWT bagaikan air yang mengalir. Artinya, hati kita ini adalah tempat curahan Rahmat Alloh SWT. Tawadhu dan rasa orang yang paling kotor dan rendah di majlis ini.”
Dengan memperingati maulid Nabi Besar Muhammad SAW ini menjadi bukti mahabbah kita kepada Rasulullah SAW, orang-orang shalihin dan para wali Alloh SWT. Karena Nabi Muhammad SAW menjamin dengan jaminan yang pasti. Rasululloh SAW bersabda, “Manusia dibangkitkan di hari kiamat bersama orang-orang yang dicintai-Nya waktu di dunia.Amin Ya Alloh.”
Ikatan cinta ini akan membawa kita mencapai derajat yang tinggi kalau orang orang kita cintai adalah orang yang derajatnya tinggi.Seperti rantai, kita menghubungkan rantai para shalihin, awlia, ulama dan wali. Karena rantainya bersambung kita angkat naik kita angkat bersama rantainya para shalihin. Kitanya ibadah pas-pasan, sering maksiat tapi punya hubungan yang kuat dengan orang-orang yang sholeh.”
Sekitar pukul 12.00 malam, acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Habib Mahdi bin Muhammad Al-Hiyed.
Aji Setiawan, Purbalingga
Langgan:
Entri (Atom)