Kamis, 05 Mei 2011

Ponpes Nurul Haromain Malang


Mencetak Kader Dakwah Yang Tangguh
Pondok pesantren Nurul Haromain Malang ini mencetak kader dakwah yang militan. Ini membutuhkan terapi penempaan lahir dan batin bagi santri sehingga diharapkan kader-kader dakwah yang kuat dan tangguh bermunculan dari mahad ini.
Sejauh mata memandang mungkin yang tampak hanya bentangan gunung pegunungan di sebelah barat kota dingin Batu Malang. Jalanan menanjak diapit cadas dan jurang terjal jadi pemandangan tamabahan bagi yang hendak menempuh perjalanan melalui gugusan gunung Paderman. Nun jauh di balik pegunungan Paderman itulah berjongkok sebuah bangunan kokoh Pesaantren Dakwah yanga telah banyak mengirimkan santrinya ke Ma’had Rushaifah Makkah Al-Mukarramah, tepatnya Pesantren Nurul Haromain yang terletak di Desa Ngroto Pujon, Malang, Jawa Timur.
Itulah Ma’had Nurul haromain yang didirikan oleh seorang Imam Muhhadist dan ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yakni Prof Dr. Sayid Muhammad bin Alawi al Maliki al-Hasani. Sejak dua dasawarsa silam, pesantren yang dimudiri oleh santri senior kesayangan Abuya Al-Maliki, KH M Ihya Ulumiddin ini setia menjadi pelayan masyarakat dan pembenteng akidah umat dari gerakan kristenisasi Kota Malang.
Untuk menuju pesantren Nurul Haromain memang agak sulit dan memerlukan perjalanan yang melelahkan. Karena harus melalui jalan berliku dan jurang yang terjal. Namun di samping itu, suguhan panorama khas kota Batu Malang menjadi hiburan tersendiri di sepanjang jalan. Taburan bangunan villa-villa indah menebar di kaki pegunungan Paderman dan Arjuna.
Medan yang menantang ini mengawali kesan, betapa beratnya medan dakwah yang akan ditempuh para calon dai. Belum lagi suhu dingin Pujon yang berkisar antara 17 sampai 19 derajat Celcius. Sehingga setiap saat udara tempat ini terasa menggigil bahkan bisa dikatakan merupakan daerah paling dingin nse-Malang Raya. Hawa dingin alam pegunungan yang menusuk tulang ini merupakan “kawah candaradimuka” bagi calon dai-dai tangguh dari ponpes Nurul Haromain.
Pondok pesantren ini mengembangkan model dakwah yang tampak berani. Sebab hidup di tengah-tengah komunitas yang berkategori miskin pengetahuan agama dan lokasinya jauh dari hiruk pikuk keramaian kota Batu dan Malang. Maka tidak mengherankan jika para santri yang mondok di tempat ini benar-benar terbentuk menjadi kader dakwah yang sangat militan dan humanis.
Kendati berada jauh di kaki pegunungan Kawi, pesantren para calon dai ini tak ubahnya miniatur Ma’had Rushaifah Makkah Al Mukkarramah. Hal ini tidak terlepas dqari peran dan pengaruh pribadi Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-hasani. Imam Muhaddist dan ulama Sunni abad 21 ini adalah mahaguru KH M Ihya Ulumiddin, pengasuh Pesantren Nurul Haromain. Sehingga pola belajar mengajar dan metode dakwah yang dikembangkan ‘berkiblat’ pada Ma’had Abuya Al-Maliki.
Dahulu di seputar pesantren gencar dilakukan program kristenisasi. Para misionaris yang semula banyak beraksi di sekitar kota Batu, mulai merambah ke wilayah Pujon dan sekitarnya. Fenomena ini mengundang keprihatinan umat Islam. Atas dasar itulah, Abuya as-Sayid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani tergugah untuk mendirikan basis pertahanan aakidah umat. Beliau lalu mengamanahkan kepada KH M Ihya Ulumiddin untuk memangku mudir di lembaga yang baru dibangun itu.
Selanjutnya didirikan lah pesantren dengan nama Nurul Haromain. Pembangunan awal dimulai sejak tahun 1986 dengan menelan biaya sekitar 58 juta rupiah dan baru dihuni pada tahun 1991 atau setelah lima tahun kemudian. Abuya as-Sayid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani dalah inspirator sekaligus donatur pendirian Nurul Haromain, mulai dari ide, pembelian tanah dan sampai peletakan batu pertama hingga pembangunan pesntren. Sedangkan untuk mengasuhnya diamanahkan kepada KH M Ihya Ulumiddin, santri kesayangan Abuya.
Dalam menjalankan amanah ini Abi (begitu para santri memanggil Ustad Ihya’) senantiasa dipantau Abuya dari Arabia sana. Setiap kendala yang dihadapi selalu dibantu dan dicarikan jalan keluarnya. Komunikasi antara Abi dengan Abuya tidak pernah terputus.
Hubungan antara Pujon dengan Makkah terus berkesinambungan. Terbukti ketika pesantren yang juga mengembangkan ekonomi kerakyatan ini sejak awal menjadi tempat transit putra-putra terbaik Indonesia yang akan melanjutkan ke Abuya Al-Maliki di Rushaifah Makkah. Sehingga tidak sedikit dari putra para kyai atau santri terbaik dari beberapa pesantren di tanah air yang harus mampir dahulu ke Pujon, baru kemudian melanjutkan mondok ke Ma’had Abuya al-Maliki.
Nuansa Rushaifah juga sangat kental dalam keseharian santri Nurul Haromain. Kalau di Makkah jumlah dakhili (istilah santri menetap) di batasi 60 orang saja, sedangkan di Pujon hanya menampung 40 santri. Begitupula dengan atribut pesantren, mulai dari cara berpakaian hingga model komunikasi yang menggunakan bahasa Arab, baik diantra sesama santri ataupun dengan pengasuh pesantren yakni Abi KH Ikhya Ulumiddin, ini mempertegas kesan Nurul Haromain sebagai miniataur Ma’had Rushaifah Makkah Al Mukarramah.
Kader Militan
Pesantren ini mempunyai beberapa program pengembangan yang istiqomah (kontinue) dan aplikatif (tathbiqi). Program ini dikembangkan untuk membiasakan para santri bersosialisasi langsung dengan masyarakat, sehingga mereka tidak kaget apalagi minder apabila berhadapan atau berbicara di depan publik (umat) sehingga terbentuk sifat optimis (tafa-ul)
Pada tahun-tahun awal berdirinya Pesantren Nurul Haromain, banyak rintangan yang menghalangi kegiatan dakwah.”Namun alhamdulillah berkat pertolongan Allah SWT, perlahan-lahan masyarakat mulai meresponm positif. Ini dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang menyambut antusias berdirinya pesantren. Mereka berdatangan ke pasantren baik untuk mengikuti pengajian mau pun meminta dai untuk berceramah agama mau pun pengajian rutin yang mereka adakan di daerah mereka dan juga para dai untuk khutbah Jum’at,”kata KH Ihya Ulumiddin.
Perkembangan tersebut, lanjut Abi Ihya, berjalan dengan baik karena adanya penanganan secara profesional oleh seksi dakwah Ponpes Nurul Haromain. “Dalam kerangka pengkaderan, pesantren memiliki jadwal yang padat dan terkoordinasi oleh seksi dakwah,” lanjut pengasuh Ma’had Nurul Haromain.
Pada pukul 02.00 dini hari santri telah dibangunkan untuk melaksanakan shalat malam, membaca wirid dan munajat secara berjamaah. Menjelang Subuh mereka ha’jah, yakni tidur sejenak sekitar setengah jam untuk mennati shalat subuh berjama’ah.Usai shalat dilanjut dengan pembacaan awrad dan ahzab hingga matahari terbit. Setelah itu dirangkai dengan shalat Duha dan sarapan pagi hingga pukul 8.
Sekitar pukul 10 pagi, acara dilanjutkan dengan taklim siang sampai waktu Dhuhur. Lepas itu santri dipersilahkan istirahat siang sampai waktu ashar. Pembacaan awrad dan ahzab dilanjutkan selepas shalat maghrib hingga Isya . Lalu dilanjutkan dengan mudzakarah (membaca kitab yang sudah dikaji) dan bahsul masail hingga pukul 21.00 saat waktu tidur tiba. Jadwal ini berlaku tertib pada hari biasa , yaitu antara Senin, Selasa, dan Rabu.
Yang spesifik dari pola pengembangan di Nurul haromain adalah selain memperdalam kitab-kitab tafsir, hadis dan fiqh. Selain mengkaji kitab fiqh perbandingan mahzab yang bersifat teoritik (an-nadhori), pesantren ini juga mendelegasikan para santri untuk terjun langsung ke tengah masyarakat. Rinciannya, empat hari mereka tinggal di pesantren untuk taklim dan tiga hari (Kamis, Jumatr dan sabtu) turun ke masyarkat untuk berdakwah bergiliran ke pelosok –pelosok desa dan lereng-lereng gunung. Para santri menyebar membewrikan pengajian di beberapa desa binaan dan berhadapan langsung denwgan gerakan kaum misionaris atau kristenisasi.
Secara berkala, ada berbagai model dakwah yang dilakukan dan dikembangkan oleh Ponpes Nurul Haromain dan santri sebagai pelaksana dari program ini sebagai obyek beberapa daerah yang masuik dalam peta dakwah yang dikembangkan antara valaina dakwah harian, mingguan dan dakwah bulanan.
Sebagai perpanjangan dariu program pengembangan pendidikan dan dakwah, pesantren Nurul Haromain memili bebrapa unit pendidikan anatara lain Pendidikan Guru TK, SMP Plus Fityani, SD Islam Terpadu Bunayya dan PADU.
Program pengabdian masyarakat dari Pondok ini disebut paraktek kerja lapangan integratif (PKLI) atau amal bakti santri (ABS). KKN versi Pujon ini menjadi salah satu aindoikator keberhasilan santri. Sebab parameter kesuksesan santri adalah bila mampu menjalankan empat poin.”Santri harus mencapi target sasaran program ABS yakni hidmah (pelayanan), ta’lim(belajar), wirid (terapi spiritual) dan ibadah,” kata KH Ihya.
ABS dilakukan dengan dua model , tajribiyah (percobaan) kubro (besar-besaran). ABS tajribiyah diperuntukan bagi santri-santri baru biasanya dilakukan pada bulan Maulid. Setiap santriik diwajibkan trun ke desa-desa binaan untuk melakukan dakwah selama 13 hari. Kegiatan yang dilakukan bervariasi seperti belajar mengaji di masjid atau musala sampai pendirian masjid di desa tersebut.
ABS kubro diperuntukanb bagi seluruh santri dan dilakukan setiap bulan Sya’ban dengan melakukan safari dakwah ke desa-desa yang minim agama. Di tempat itu mereka melakukan pembinaan anak-anak kecil, merintis TPQ, menyelenggarakan pengajian bagi anak-anak remaja, mendiirkan masjid dll. Selama 20 hari para santri menetap di desa dengan dibagi dalam beberapa pos dakwah.
Keterlibatan para santri secara langsung dengan kondisi real masyarakat dengan membangun kepekaan dakwah yang tajam serta kepedulian yang tinggi terhadap umat. Segala cara dilakukan dan dikembangkan oleh peasntren Nurul Haromain dengan tujuan untuk mengasah kepekaan sosial dan menggugah semangat dakwah.
Satu hal yang kian memperlengkap status pesantren dakwah di Nurul Haromain adalah adanya terobosan inovatif yang bersentuhan langsung dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Sebagai masyarakat agraris yang mayoritas petani, perkebunan dan peternakan sapi, Nurul Haromain mengembangkan juga mengembangkan usaha peternakan lele dan sapi ternak percontohan.
Terobosan lain yang dikembangkan adalah pemberdayaan kotoran sapi menjadi biogas yang bisa difungsikan untuk memasak di dapur. Setelah saripati kotoran sapi diserap habis untuk bahan biogas, lalu ampas kotoran itu dijadikan pupuk kompos yang sangat baik untuk tanaman.
Begitu halnya dengan air kencing sapi. Pesantren ini juga sudah mempunyai teknologi pertanian dan peternakan, sehingga air kencing kotoran sapi dapat disulap menjadi pupuk yang sangat bagus bagi tumbuhan. Uniknya, air kencing kotoran sapi ini jika sudah diolah jauh lebih mahal harganya dari air susu sapi.
Karena “Barokah” sapai-sapi itulah, Nurul Haromain banyak dilirik orang. Seringkali ada pelatihan nasional tentang sapi di wilayah batu dan malang, para pesertta dan instruktur berkesempatan untuk mengunjungi pesantren sekedar melihat sapi unggul milik pesantren.
Langkah inovatif lain yang ditampilkan oleh pesantren ini adalah pengembangan usaha berbasis ma’had yang berupa koperasi “al-Ghina”, penerbitan majalah al mu’tashim , agrobisnis terpadu dan LAZIS.
Segala keberhasilan yang telah diraih oleh pesantreen Nurul Haromain Pujon ini tidak terlepas dari doa Barokah sang mahaguru, Prof Dr Abuya Muhammad bin Alwi Al-Maliki al Hasani. Hubungan emosional dan ruhani ini pun sampai kini (pasca wafat Abuya) tetap berlangsung sangat baik, terutama dengan putra beliau yakni Sayid Ahmad bin Muhammad Al Maliki. (***) Aji Setiawan, Purbalingga

1 komentar:

sederhana mengatakan...

cara daftar gimana geh?