Senin, 23 September 2013

MWC NU Bukateja Bentengi Warga Dengan Aswaja





Majlis Wakil Cabang Nahlatul Ulama Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah mennggelar pengajian dwi mingguan sebagai upaya membentengi jami’yah dari gempuran aliran-aliran yang berseberangan dengan akidah ahlussunnah waljama’ah.


Minggu , 22 September 2013 bertepatan dengan 16 Dzulqo’dah 1434 Syawal 1434 H halaman masjid Halaman Masjid Nurul Badri, Dukuh Kalimenur Desa Kedungjati Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah telah penuh sesak oleh ratusan jamaah dari berbagai daerah yang menghadiri Pengajian Rutin Ahad Pagi Dua Mingguan MWC Nahlatul Ulama Kec Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah.
Majlis Wakil Cabang Nahlatul Ulama Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah mennggelar pengajian dwi mingguan sebagai upaya membentengi jami’yah dari gempuran aliran-aliran yang berseberangan dengan akidah ahlussunnah waljama’ah.
Hampir seluruh pimpinan Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga baik tingkat syuriah sampai ke tingkat tanfidziyah bahkan juga seluruh jajaran badan otonom NU seperti Ansor, Muslimat, Fatayat tumpah ruah menghadiri pengajian rutin tidak saja di dalam masjid, sampai halaman masjid bahkan sampai menutupi jalan raya.
Acara dimulai dengan pembacaan tahlil bersama oleh Ustadz Ahmad Sobari dan langsung berlanjut dengan taushiyah utama oleh KH Abror Mushodiq, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Abror, Desa Kedungjati Kec Bukateja Kab Purbalingga.
Majlis Wakil Cabang Nahlatul Ulama Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah mennggelar pengajian dwi mingguan ini sebagai upaya membentengi jami’yah dari gempuran aliran-aliran yang berseberangan dengan akidah ahlussunnah waljama’ah.
Dalam ceramahnya KH Abror Mshodiq menguraikan bab Tawassul. “Tawassul diperbolehkan dalam Islam karena ada dalilnya yakni QS Al Maidah;35:’Hai orang-orang yang beriman, patuhlah kepada Allah, dan carilah wasilah kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu beruntung’.
Tawasul artinya menjadikan sesuatu sebagai perantara dalam usahanya untuk memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Allah atau mewujudkan keinginan dan cita-citanya . Sedang wasilah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai perantara dalam bertawasul.
Seperti anda ingin dekat gusti Allah SWT , maka anda berwasilah dengan orang-orang yang dekat dengan Gusti Allah SWT,” kata KH Abror Mushodiq menggambarkan.
Sebagaimana anda ingin dekat pak Bupati, anda tidak langsung bertemu dengan pak Bupati, maka anda tidak langsung bertemu dengan Bupati. Namun harus dahulu bertemu dengan orang-orang yang dekat pak Bupati. Baru anda bisa bertemu langsung dengan Pak Bupati,” kata KH Abror menceritakan.
Dilanjutk n, Ketika seseorang bertawasul dengan orang lain, pada saat itu ia berprasangka baik kepadanya dan meyakini bahwa orang tersebut adalah orang saleh yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Ia menjadikan orang tersebut sebagai wasilah (perantara) kaena ia mencintainya. Dengan demikian sebenarnya ia sedang bertawasul dengan cintanya kepada orang tersebut.
Dikisahkan oleh KH Abror Mushodiq, ada orang yang sedang melewati sebuah sungai tiba-tiba ia tenggelam. Ia berteriak berteriak ,’Ya Allah , selamatkan aku dari bencana banjir,” Tapi ia malah ketika awal berdoa justru makin tenggelam ke dalam arus sungai. Akhirnya orang tersebut berteriak dengan keras sambil menyebut nama gurunya sambil menyebut sampai Rasulullah SAW. “Ya Rasulillah Aghitsni sambil menyebut nama gurunya. Anehnya, ia bisa berjalan di atas air dan selamat. Suatu ketika setelah ia selamat dari bencana banjir itu, ia kemudian mendatangi gurunya dan menceritakan hal tersebut. Mendengar cerita itu, sang Guru hanya berujar,”Saya setiap malam tiba sering berdoa kepada Allah SWT agar murid-muridku bisa selamat, dan sukses menjalani bahtera kehidupan.” Sang Guru itu tiap malam mendoakan kepada Allah SWT, selamatlah murid-muridnya.
Dengan demikian setiap orang yang bertawasul dengan orang lain, berarti ia sedang bertawasul dengan orang lain, berarti ia sedang bertawasul dengan amal salehnya sendiri, yaitu cinta.
KH Abror Mushodiq lalu menguraikan beberapa tradisi amaliah Ahlus Sunnah Wal Ja’maah yang ada di lingkungan warga Nahlatul Ulama seperti Istighosah, Mujahadah, Tahlilan, Ziarah Kuburan dll.
Khusus Ziarah Kubur, KH Abror Mushodiq menjelaskan bahwa Ziarah kubur diperbolehkan oleh Islam sebab ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.”Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, akan tetapi sekarang ziarah lah kubur, karena yang demikian itu dapat menjadikan (seseorang) zuhud terhadap dunia dan ingat kepada Akhirat. (HR Ibnu Majah).
KH Abror Mushodiq kemudian mengisahkan bahwa Rasulullah SAW dan sahabatnya pernah melewati salah satu kuburan Muslimin. Setelah memberi salam kepada ahli kubur, tiba-tiba Rasulullah berhenti di dua kuburan. Kemudian beliau berpaling kepada sahabatnya dan bersabda, ”Kalian tahu bahwa kedua penghuni kuburan ini sedang diazab di dalam kubur? Mereka tidak diazab karena dosa-dosa dan kesalahan mereka yang besar. Akan tetapi mereka diazab karena dosa-dosa dan kesalahan mereka yang sepele dan kecil. Yang pertama diazab karena suka berbuat namimah (mengumpat / ceritain orang)  dan yang kedua diazab karna tidak beristinja' (tidak cebok setelah hadats kecil)”.
Kemudian Rasulullah saw memetik dua tangkai pohon dan ditancapkanya di kedua kuburan tersebut. Sahabat bertanya apa maksud dari yang telah dilakukan Rasulullah saw itu. Beliau bersabda : "Allah memberi keringanan azab bagi kedua penghuni kubur tersebut semasih tangkai-tangkai pohon itu basah dan belum kering. Karena tangkai-tangkai pohon tersebut beristighfar untuk penghuni kubur yang sedang diazab” (HR Muslim).
Selepas sambutan panitia kegiatan oleh H Muhtamil S Ag. Acara berlanjut dengan ceramah selanjutnya oleh KH Arif Musodiq , Pengasuh Pondok Pesantren Putra Putri Nurul Qur’an, Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah.
	Dalam kesempatan tersebut KH Arif Musodiq menceritakan awal pengajian ini dmana pengajian rutin dwi mingguan MWC Kec Bukateja ini adalah forum komunikasi tokoh tokoh Nahdhlatul Ulama yang ada di kec Bukateja. Perlu diketahui forum ini telah berdiri bulan Syawal 1334 H  dan kegiatan dikerjakan berkolaborasi antara NU, Muslimat, GP Ansor, Fatayat Ma’arif baik tingkat desa maupun kecamatan se-Kecamatan Bukateja. Serta kegiatan pengajian ahad pagi ini lintas partai politik. Boleh diikuti oleh siapa saja mulai dari PPP, PKB, Gerindra, Golkar, Nasdem pokoknya bisa semua partai politik bisa ikut, yang penting niat lillahy Ta’ala.” “Pengajian ini umum keliling dan diselenggarakan oleh tiap ranting NU dengan pembicara dari tokoh NU yang dipilih oleh pimpinan setempat. Demkian pun untuk tim Bahtsul Masail untuk menjawab pertanyaan  dari jamaah yang diajukan pada pengajian sebelumnya. Ada Tim Sepuluh yang berisi tokoh-tokoh NU yang tugasnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditulis oleh jama’ah yang hadir,” terang KH Arif Mushodiq.
	Tim sepuluh itu anggotanya Kiai-kiai , KH Saifudin , KH Salbani, KH Muhammadun dll. “Materi sudah dibag-bagi oleh Tim Materi untuk menjawab pertanyaan jamaah. Alhamdulillah pada hari ini ada 15 pertanyaan yang masuk. Nanti akan dijawab pada pengajian rutin berikutnya di Pondok Pesantren Darussalam, Cipawon Kec Bukateja Kab Purbalingga yang diasuh oleh KH Abdul Ghofur Arifin.
	Selanjutnya Gus Arif, demikian panggilan akrab KH Arif Musodiq menekankan pentingnya silaturahmi. Sebab selain memperkuat Islamiyah juga bisa menambah umur dan melapangkan rizki. 
Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam pertemuan ini berkumpul semua pengurus dan warga yang tidak perlu lagi kita sambangi tiap rumah bisa satu kecamatan, lanjut Gus Arif. “Tapi di tempat ini kita bisa berkumpul semuanya. Kita bisa saling berbagi kiat sukses dalam berbisnis, apakah karena kendala pemasaran dalam bisnis ataukah karena bahan baku atau karena manusianya (Service),” kata Gus Arif yang juga adalah ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Kab Purbalingga Jawa Tengah.
Kurang lebih 20 menit KH Arif Musodiq berceramah dan acara kemudian ditutup dengan doa oleh KH Abror Mushodiq dan saling bersalaman bersama.
(***) Aji Setiawan, Purbalingga


Tidak ada komentar: