Sabtu, 02 Juni 2012

Kesabaran Rasulullah Berdakwah di Tha’if



Saat berdakwah di Tha’if, Rasulullah SAW dicemooh dan dilempari batu. Namun dengan keihkhlasann dan kesabran beliau tidak membalasnya dari gangguan orang-orang kafir, hingga akhirnya mereka menerima dakwah Islam

            Setelah sembilan tahun Muhammad SAW diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya, selebihnya beliau selalu dengan daya dan upaya untuk mengganggu dan menghalangi beliau dan pengikut-pengikutnya. Di antara mereka yang bersimpati dengan dakwah Nabi adalah paman beliau sendiri yakni  Abu Thalib, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.
            Pada tahun kesepuluh setelah kenabian Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib ini, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa mengganggu dan menentang Nabi SAW.
            Tha’if merupakan kota terbesar setelah Hijaz. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu Kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah SAW pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam.
Dengan demikian, beliau dan pengikutnya  akan mendapatkan perlindungan dari gangguan kaum kafir Quraisy. Beliaupun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat gerakan dakwah.
Setiba di sana, Rasulullah SAW mengunjungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun apa yang terjadi???
Bani Tsaqif bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi SAW pun mereka tidak mau. Rasulullah SAW diperlakukan secara kasar dan biadab.
Sikap kasar mereka itu sungguh bertententangan dengan sikap bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang dengan Rasulullah dan pengikutnya tinggal di kota mereka. Semula Rasulullah membayangkan akan mendapatkan perlakuan sopan diiringi tutur kata yang lemah lembut , tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata yang kasar.
Salah seorang diantara mereka berkata sambil mengejek beliau dengan sangat kasar, ”Benarkah Allah telah mengangkatmu sebagai pesuruh-Nya?”
Yang lain berkata sambil tertawa,”Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi Pesuruh-Nya?”
Ada juga yang berkata,”Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya, jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara denganmu.”
Menghadapi perlakuan tiga tokoh Bani Tsaqif yang sedemikian kasar itu, Rasulullah SAW yang memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkannya berputus asa dan kecewa.
Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah mencoba berdakwah di kalangan rakyat biasa. Namun kali ini pun beliau mendapat kegagalan.
Mereka mengusir Rasulullah SAW dari Tha’if dengan berkata,”Keluarlah kamu dari kampung ini! Dan pergilah ke mana saja kamu suka!”
Ketika Raulullah SAW menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if. Tetapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan aman. Mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan.
Lemparan batu yang mengenai Nabi SAW sedemikian hebat, tiap beliau bergeser dari suatu tempat, lemparan batu bertubi-tubi mengenai tubuh beliau, sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dengan berjalan tertatih-tatih dan tubuh bersimbah darah, beliau dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW  kemudian menjumpai tempat yang aman  dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudian beliau berdoa dengan sambil meneteskan air mata mengadukannya kepada yang Allah Jalazalluhu warahamatuh, ”Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engakaulah tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nya lah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku azab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”
Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT oleh Nabi SAW sehingga Allah SWT mengirimkan malaikat Jibril untuk menemuinya.
Setibanya di hadapan Nabi, Jibril AS memberi salam seraya berkata,”Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.”
Sambil berkata demikian, Jibril AS memperlihatkan barisan para malaikat itu kepada Rasululah SAW.
Kata malaikat itu, “Wahai Rasululah, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertintid. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran malaikat itu  Rasulullah dengan sifat kasih sayangnya berkata, ”Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.” (Fadhail A’mal, Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandhalawi hal  520) Aji Setiawan

Tidak ada komentar: