Senin, 12 Agustus 2013

Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri

Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri

Pondok Salaf dengan Ribuan Santri
Pesantren ini bermula dari sebuah majelis taklim yang dirintis KH Achmad Djazuli Utsman untuk memerangi maksiat di kawasan Ploso, Kediri. Kini pesantren Al-Falah telah berkembang dengan mencapai 8000 santri

Ploso, demikian sebuah kampung kecil di sebelah barat sungai Brantas merupakan daerah yang mudah dijangkau dari Kota Kediri. Jaraknya kurang lebih lima belas kilometer. Pada awal abad 19, daerah Ploso dikenal sebagai kawasan basis maksiat di kecamatan Mojo. Tetapi kemaksiatan yang merajela itu lambat laun semakin lenyap. Itu semua berkat adanya majelis taklim yang dirintis oleh KH Achmad Djazuli Utsman yang dikemudian hari dikenal sebagai Pondok Pesantren Al-Falah.
Kini bangunan megah pesantren yang menghadap jalan raya Tulung Agung Kediri itu tampak asri. Sejauh mata memandang, bangunan madrasah dan pemukiman santri berpadu menjadi bukti konkrit dari buah perjuangan yang telah digoreskan oleh pendiri pondok, yakni KH Achmad Djazuli Utsman yang mulai merintis majelis taklim Al-Falah mulai tahun 1925.
Pada awal berdiri, ia hanya mempunyai santri dari daerah sekitar kecamatan Mojo dan berjumlah dua orang. Lambat laun, para santri mulai bertambah. Para santri diajar dan dididik di serambi masjid kena’iban Ploso.
Waktu beranjak dari tahun ke tahun. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri pun semakin bertambah. Ini rupanya yang menuntut berdirinya gedung madrasah untuk menampung para santri yang semakin hari semakin bertambah. Dengan semangat keikhlasan dan kekuatan untuk mensyiarkan dakwah Islamiyah, KH Achamd Djazuli Utsman berkeliling dari desa ke desa dengan mempergunakan sepeda onthel untuk mewujudkan gedung madrasah itu. Upaya kerja keras, jerih payah dan kesabaran yang diiringi sikap tawakal kepada Allah SWT ini pun berbuah. Pada tahun 1927, gedung madrasah abang yang terletak persis di depan masjid dapat dibangun. Gedung asrama pondokan ini masih terlihat utuh dan menjadi saksi sejarah awal berdirinya Ponpes Ploso.
Selang beberapa waktu kemudian didirikan pula pondokan lain dan pada tahun 1939 jumlah santri telah berkembang menjadi sekitar 200 orang. Waktu Jepang datang dan menjajah RI, Pesantren Ploso menjadi tempat pendidikan santri untuk berjuang melawan penjajah. Para santri yang telah digembleng lahir dan bathin, banyak yang ikut berjuang di berbagai daerah tempat asal santri. Sehingga pada masa itu, pesantren Ploso menjadi vakum dari kegiatan pengajaran. Bahkan jumlah santri yang tersisa hanya tinggal 6 orang saja, yakni Bapak Zainuddin (Kebumen), Masudin (Yogyakarta), Kholil (Solo), Abdul Kholik Dhofir (Kediri), Romli (Trenggalek), dan Nawawi (Banyumas).
Keenam pemuda inilah yang bahu membahu membantu dan membina kemajuan pondok setelah agresi militer I dan II Belanda. Selepas kemerdekaan, sedikit demi sedikit keadaan pondok mulai pulih kembali. Demikian juga dengan semakin tersyiarnya dakwah dari Ponpes Ploso, semakin harum dan namanya ke seluruh pelosok tanah air sebagai pencetak ulama-ulama yang handal. Perkembangan santri pun semakin lama semakin bertambah banyak. Untuk mengimbangi jumlah santri yang terus bertambah, pengelola terus membangun sarana dan prasarana pesantren, seperti pondokan, fasilitas kesehatan, perpustakaan, aula, ruang-ruang kelas dan lain-lain.

Jenjang Pendidikan
Memang tidak mudah mudah merintis pesantren, apalagi sebuah pesantren yang besar. Lebih sukar lagi dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran untuk memenuhi kebutuhan para santri. Untuk memudahkan dalam pengaturan pendidikan santri. Setiap calon santri diharapkan memilih sesuai dengan taraf pendidikan yang sudah ditempuh. Bagi para santri baru, mereka masuk jenjang pendidikan ibtidaiyah (sifir) selama 3 tahun. Kemudian dilanjutkan ke tingkat atasnya yakni Tsanawiyah selama 4 tahun.
Lepas dari Tsanawiyah, para santri melanjutkan ke tingkat tertinggi yakni Madrasah Islamiyah Riyadlotul Uqul (MISRU), ataui setingkat Aliyah. Dalam program pendidikan terakhir ini, setiap santri memperdalam pelajaran ‘gramar’ dan ilmu alat bahasa Arab. Selepas tamat dari madrasah tersebut, bagi santri yang ingin memperdalam ilmu agama (Fiqh) dibentuk Jami’yatul Musyawaroh Riyadlatut Tholabah. Para santri yang masuk ke program ini adalah santri-santri yang sudah menguasai ilmu nahwu, shorof dan imu alat untuk memperdalam kitab kuning. Karena di forum ini, para santri dituntut untuk menyelesaikan masalah yang hadapi dan kitab yang dipergunakan dengan cara mandiri. “Diharapkan supaya nantinya bila terjun dalam masyarakat sudah mampu menjawab dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan masyarakatnya,” kata pengasuh Ponpes Al-Falah, KH. Ahmad Zainudin Djazuli.
Di Pesantren yang bersendikan pendidikan salaf ini, hampir seluruh waktu santri dipergunakan untuk belajar, baik belajar formal mau pun informal. Dalam hal pengajian, kepada para santri ada yang diwajibkan. Seperti pengajian kitab Fathul Ghorib dan Ta’limul Muta’alim yang diajarkan oleh Masyayikh (putra-putri Hadrrotussyeikh KH. Achmad Djazuli Utsman). Pengertian wajib di sini adalah para santri yang masih rendah diharuskan mengikuti materi pengajian dua kitab tersebut. Untuk tingkat di atasnya, diwajibkan mengaji kitab yang lebih tinggi yakni Bukhari dan Minhajut Tholibin. Untuk pengajian lainnya ada pengajian kitab Ihya Ulumiddin, Fatkhul Wahab, Fathul Mu’in, Iqna dan lain-lain.
Untuk menambah bobot pengajian, dalam pelajaran juga masih ada pengajian yang diberikan oleh santri senior yang sudah mampu, waktunya pun dipergunakan dalam celah-celah kegiatan para santri. Semua sistem yang dipergunakan adalah model bandongan, yakni guru membaca kitab, para santri kemudian memberi makna gandul (bahasa kromo).
Tidak sebagaimana sekolah atau universitas yang memakai kalender Masehi sebagai patokan dalam memulai aktivitas belajar. Di pesantren ini memakai patokan tahun Hijriah baik untuk pendidikan madrasah maupun pondok. Hari-hari efektif dimulai pertengahan bulan Syawal. Sedangkan ujian pertengahan tahun pada awal bulan Rabiul Awal (Maulud). Setelah ujian selesai, para santri memperoleh libur selama 1 minggu, biasanya waktu libur itu dipergunakan untuk menengok keluarga di kampung halaman masing-masing santri. Ujian akhir sendiri diadakan pada bulan Rajab. Ketika memasuki ulan Ramadhan, pondok ini juga menyelenggarakan pesantren kilat (pasaran/puasanan) yang terbuka untuk santri dan masyarakat umum. Seluruh rangkaian kegiatan belajar santri kemudian ditutup dengan acara Haflatus Tasyakur (acara tutup tahun) yang berbarengan dengan acara Haul Al-Maghfurlah KH. Achmad Djazuli Utsman di bulan Muharram.
Selain kegiatan wajib, para santri juga dianjurkan untuk mengikuti aktivitas lain yang menambah wawasan dan pengetahuan santri, seperti; baca Tahlil dan Yasin, muhafadzah, dhi’baiyah, mujahadah, khitobah, bahtsul masa’il. Demikian gambaran seluruh rangkaian aktivitas pesantren yang saat ini jumlah santri baik putra maupun putri sekitar 8000 orang dan yang tersebar di asrama pondokan yang berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar itu. Peran dan sumbangannya untuk mendidik dan membina generasi yang kokoh, tangguh dan mampu berperan di tengah-tengah kehidupan masyarakat sudah tidak diragukan lagi dengan jumlah alumni yang sudah mencapai lebih dari puluhan ribu dan tersebar di seluruh Indonesia.
Aji Setiawan

1 komentar:

Ihsan mengatakan...

Minta nomer tlpn nya kang,,,
Dari stasiun kediri naek apa ke pon pes ploso?