Sabtu, 14 September 2013

Gus Hayat Ajak Semua Calon Legislatif (Caleg) PPP Membangun Kebersamaan




 Pertemuan KH Hayatul Makki,SH (Caleg Dapil VII) Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Kebumen dan Banjarnegara dengan Caleg-caleg DPRD II se-Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah pada hari Selasa, 10 September 2013 bertempat di Pondok Pesantren Al Fu’uyyun” Tuk Sewu Jabal Putat yang diasuh oleh KH Mumasdar, Dukuh Kembaran, Desa Cipawon Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah menjadi ajang silaturahmi dan sekaligus persiapan pengukuhan Calon Legislatif  nantinya pada tanggal 15 September 2013 di Semarang.
Acara yang berlangsung shalat ba’da dhuhur itu dimulai dengan sambutan Ketua DPC PPP Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah Hj Nurul Hidayah Supriyati, SH. MSi. Selepas sambutan singkat langsung bersambung dengan sambutan utama KH Khayatl Makki, caleg No 2 dari Partai Ka’bah Dapil VII Jawa Tengah.
Dalam kesempatan itu, KH Khayatul Makki mengajak semua caleg dan jajaran pengurus DPC PPP Kab Purbalingga Jawa Tengah untuk membangun maiyah, kebersamaan.
Saya tidak bisa mengarahkan. Semua akan mendapatkan no 1. Tapi marilah kita bersama-sama. Saya hanya ingin sebuah kebersamaan. Jadi kalau jadi semua, itu tidak mungkin Jadikanlah maiyah kita ini untuk mencintai P3. Ini patut kita syukuri. Saya berharap tidak saja no 1 saja yang bersemangat tapi yang juga nomor-nomor yang lain. Paling tidak, bagi seorang caleg, semua ingin jadi pemeimpin, ingin jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain,” kata KH Khayatul Makki.
Gus Khayat pada kesempatan itu selain berkisah tentang awal pencalegannya juga seiring dengan munculnya Daftar Calon Tetap (DCT), ia senantiasa berdoa kepada Alloh SWT, ”Ya Alloh Andaikan saya nyaleg ketika saya bermanfaat mungguhe (menurut) Alloh SWT dan masyarakat, maka jadikan saya.Tetapi, andaikan saya nyaleg tetapi memberikan madhoro t(ketidakberanfaatan) buat masyarakat, jangan jadikan saya.”
Yang penting bagi P3 , lanjut Gus Hayat, silahkan para Caleg saling bekerja sama, yang penting jangan saling menjelekan. Yang utama bagi Caleg yang ingin jadi, hilangkanlah Su’udhon dan kembangkanlah baik sangka (khusnudhon) dan saling bekerja sama.
Paling tidak lanjut Gus Hayat ada empat langkah agar P3 besar:(1) Jangan saling menjatuhkan satu sama lain; (2) Jangan menggarap wilayah atau daerah (lokasi) yang sudah caleg-caleg garap baik itu oleh caleg lain maupun caleg internal PPP ;(2) Jangan saling menyakiti umat P3; (4) Selepas pertemuan ini kita membuat jadwal (Schedulling) untuk menggarap pertemuan-pertemuan berikutnya.
Insya Alloh P3 akan besar, kalau kita terus bersama-sama untuk membesarkan dan membangun P3,” pungkas KH Khayatul Makki,SH. (***) Aji Setiawan, Purbalingga







Minggu, 08 September 2013

Aku akan terus menulis

Tahukah engkau , sejak aku berhenti menulis
Aku justru menulis apa saja
Apa yang pernah aku tulis
Apa yang aku fikir

Tanganku terus saja menulis
Terima kasih, Tuhan
Engkau menganugrahkan tatap mata ini untuk melihat Cipta-Mu
Engkau menganugrahkan otak ini untuk berfikir tentang Ayat-ayat Kauniyah-Mu
Engkau memperkerjakan tangan ini untuk menulis segala Maha Karya-Mu

Aku tak kan pernah
berhenti menulis
Karena ini pekerjaanku

Aji Setiawan, September 2013

http://ramadan.detik.com/kanal/1523/info-pesantren

Jejak tulisan di www.detik.com

http://ramadan.detik.com/read/2013/08/15/095310/2330228/1523/pesantren-al-falah-kediri-pondok-salaf-dengan-ribuan-santri?r771108bcj

http://ramadan.detik.com/kanal/1523/info-pesantren

http://ramadan.detik.com/read/2013/08/18/172524/2333398/1523/bqs_microsite.php

http://ramadan.detik.com/kanal/1523/info-pesantren

Kehidupan yang Zuhud

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Aji Setiawan

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW telah bersumpah akan berpisah dengan istri-istrinya selama satu bulan sebagai peringatan bagi mereka. Selama sebulan beliau tinggal seorang diri dalam sebuah kamar sederhana yang letaknya agak tinggi.

Terdengar kabar di kalangan para sahabat, Nabi telah menceraikan semua istrinya. Ketika Umar bin Khathab mendengar kabar ini, segera ia berlari ke masjid. Setiba di sana, dia melihat para sahabat sedang duduk termenung, mereka bersedih dan menangis.

Kaum wanita juga menangis di rumah-rumah mereka. Kemudian, Umar pergi menemui putrinya, Hafsah yang telah dinikahi Nabi. Umar mendapati Hafsah sedang menangis di kamarnya.

Ia bertanya kepada Hafsah, “Mengapa engkau menangis? Bukankah selama ini saya telah melarangmu agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan Nabi?” Hafsah tak menjawab apa-apa, ia terus menangis.

Umar kembali ke masjid. Terlihat olehnya beberapa orang sahabat sedang menangis di mimbar. Kemudian, ia duduk bersama para sahabat, lalu ia berjalan ke arah kamar Nabi Muhammad yang terletak di tingkat atas masjid.

Umar mendapati Rabah dan dia minta izin untuk menemui Nabi. Rabah menghampiri Nabi dan memberitahukan bahwa dia telah menyampaikan pesan Umar apakah bisa menemuia beliau. Tapi, Nabi hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya.

Permintaan untuk menjumpai Nabi diulang. Baru setelah permintaan yang ketiga kalinya, Nabi Muhammad mengizinkan Umar naik ke atas. Ketika Umar masuk, dia menjumpai Nabi sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma.

Terlihat jelas bekas daun kurma pada badan Nabi yang putih bersih. Di tempat kepala beliau ada sebuah bantal yang terbuat dari kulit binatang yang dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma.

Selepas mengucapkan salam kepada beliau, Umar bertanya, “Apakah engkau telah menceraikan istri-istri engkau, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak.”

Umar sedikit lega, sambil bercanda ia mengatakan, “Ya Rasulullah, kita adalah kaum Quraisy yang selamanya telah menguasai wanita-wanita kita. Tetapi, setelah hijrah ke Madinah, keadaannya sungguh berbeda dengan orang Anshar. Mereka telah dikuasai wanita-wanita mereka, sehingga wanita-wanita kita terpengaruh dengan kebiasaan mereka.”

Nabi SAW tersenyum mendengar perkataan Umar. Umar lalu memperhatikan keadaan kamar Nabi. Terlihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu, selain itu tidak terdapat apa pun.

Umar menangis sesenggukan melihat keadaan Nabi yang seperti itu. Tiba-tiba Rasulullah bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana saya tidak menangis, ya Rasululah. Saya sedih melihat bekas tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia dan saya prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah mengaruniakan kepada tuan bekal yang lebih banyak,” jawab Umar.

Ia mengatakan, orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang di tengahnya mengalir sungai, sedangkan Rasul, hidup dalam keadaan sangat miskin.

Mendengar jawaban Umar, Rasulullah berkata, “Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat tentu akan lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini.”

Beliau menambahkan, jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, umat Islam pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana, kita akan mendapatkan segala-galanya.

Mendengar sabda Nabi, Umar menyesal. Lalu, ia berkata, “Ya Rasulullah, memohonlah kepada Allah SWT untuk saya. Saya telah bersalah dalam hal ini.”

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/09/05/msmwx1-kehidupan-yang-zuhud

Sabtu, 07 September 2013

MWC NU Bukateja Gelar Pengajian Dwi Mingguan




Majlis Wakil Cabang Nahlatul Ulama Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah mennggelar pengajian dwi mingguan sebagai upaya membentengi jami’yah dari gempuran aliran-aliran yang berseberangan dengan akidah ahlussunnah waljama’ah

Hampir seluruh pimpinan Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga baik tingkat syuriah sampai ke tingkat tanfidziyah bahkan juga seluruh jajaran badan otonom NU seperti Ansor, Muslimat, Fatayat tumpah ruah menghadiri pengajian rutin dwimingguan pada hari Minggu 8 September 2013 (8/9) di kompleks Masjid Al Insyirroh , Desa Kembangan Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga.
Selepas acara dzikir dan haul massal, acara berlanjut dengan ceramah utama dari KH Anwar Idris, Pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Tholabah, desa Kembangan Kec Bukateja.
Dalam tausyiahnya, KH Anwar Idris menjelaskan tentang akidah NU yakni akidah Ahlussunnah Wal Jamaah.Akidah ini banyak diajarkan di pesantren dan sekolah yang bernaung di bawah NU. Yang ada di pendidikan ma’arif yang bernaung di bawah pesantren.
Kita harus mengerti NU itu apa? NU adalah jamiyah terbesar seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia,” tegas KH Anwar.
Tradisi NU adalah tradisi masyarakat Islam Indonesia, mulai tahlilan, yasinan, manakiban, tawasulan, ziarah kuburan, barjajen mauludan dll.
NU terdiri dari beberapa kepengurusan, ada Mustasyar, Syuriah dan Tanfidziyah, lanjut KH Anwar sambil menerangkan tugas-tugas pokoknya serta juga badan-badan otonom yang ada di bawah NU seperti Muslimat, Fatayat dan Ansor.
Selepas itu KH Anwar menerangkan tentang Islam Indonesia. Umat Islam di ndonesia ada tiga macam; Islam Santri, Islam priyayi dan Islam Abangan.
Semua menginginkan akan masuk surga, namun yang dijamin masuk surga, terang KH Anwar Idris hanya empat golongan yakni; para syuhada, orang yang haji mabrur, orang yang memperjuangkan agama dengan hartanya , para alim ulama.
Kembali ke soal NU, para ulama Ahlussunnah sepakat menyatakan bahwa ijma’ dan qiyas dapat dijadikan sebagai dalil syara’ sekalipun keberadaanya sebagai dalil tidak bisa berdiri sendiri sebagaimana Al-Quran dan sunnah. Berdasarkan keterangan tentang sumber dan dalil hukum di atas, maka yang termasuk dalam kategori sumber dan dalil hukum yang disepakati oleh mayoritas ulama ushul, yaitu: Al-Quran, sunnah, ijma’, dan qiyas.
Selepas ceramah KH Anwar Idris, acara berlanjut dengan tanya jawab atau forum Bahsul Masail menjawab pertanyaan jamaah pada pengajian sebelumnya yang dipandu oleh KH Muhammadun Sya'roni, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, dukuh Kembaran, Desa Cipawon , Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah. Acara kemudian ditutup dengan membaca QS Al 'Ashr dan bersalaman bersama.
Untuk pengajian pagi dua mingguan pada hari Minggu depan (20/9) menurut rencana akan diadakan di masjid Nurul Badri, Dusun Kalimenur, Desa Kedungjati, Kecamatan Bukateja (Aji Setiawan Bukateja)


Habib Syech di Purbalingga Bersholawat


Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Banjarnegara Bersholawat (Ahbabul Musthofa Banjarnegara) dan di Purbalingga Bersholawat













Banjarnegara dan Purbalingga Bersholawat
Kehadiran Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada acara Banjarnegara Bersholawat dan Purbalingga Bersholawat disambut antusias puluhan ribu jama'ah. Puluhan ribu jamaah umat Islam dari berbagai daerah itu bersholawat bersama larut dalam lantunan dan kesyahduan kecintaan kepada Rasulullah SAW

Puluhan ribuan warga membanjiri Alun-alun kota Banjarnegara untuk bersholawat bareng Habib Syech Sabtu 31 Agustus 2013 (31/8) atau bertepatan 24 Syawal 1434 H dalam acara Banjarnegara Bersholawat. Banjarnegara Bersholawat sebagai salah satu kegiatan inti pada event Festival Banjarnegara 2013 (FSB) menjadi rangkaian penutup kegiatan FSB yang berlangsung dari tanggal 24-31 Agustus 2013.
Banjarnegara Bersholawat adalah event akbar spiritual berupa sholawat massal bersama Habib Syech Habib Abdul Qadir Assegaf yang selalu dinantidan dihadiri oleh sekitar 50.000 jammaah pencinta shalawat Habib Syech.
Sejak sore hari masyarakat yang berasal dari berbagai penjuru kota di Banjarnegara dan dari kabupaten tetangga seperti Wonosobo, Purbalingga, Kebumen dan Purwokerto sudah mulai merapat ke Alun-alun kota. Mereka sudah larut dalam dendang sholawat yang terdengar sejak sore hari.
Malam harinya Habib Syech bin Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf yang sudah ditunggu kehadirannya pun akhirnya hadir menghapuskan dahaga jemaah yang sudah menunggu sejak sore hari. Dan tidak menunggu terlalu lama sholawat pun mulai dikumandangkan habib syeick yang diikuti puluhan ribu Syekher Mania (sebutan bagi penggemar habib syech). Syair lagu lama seperti Syiir Jawa “Padang Bulan” terdengar indah dan seakan menjadi “baru” dan lebih menggoda telinga (indah) untuk terus mendengarnya.
Sehingga sekalipun berdesak-desakan, puluhan ribu masyarakat Banjarnegara tampak antusias untuk mengikuti acara Banjarnegara Bersholawat. Ratusan Banser dan aparat keamanan memagari panggung berukuran besar itu agar puluhan ribu pengunjung yang memadati alun-alun Bajarnegara. Acara Banjarnegara Bersholawat dimulai tepat pukul 20.00 dengan sambutan dari ketua Panitia pelaksana Wahid mengatakan Banjarnegara bersholawat merupakan  acara dalam rangka HUT RI ke 68 , Hari Jadi ke 182 dan merupakan rangkaian penutup Festival Serayu.
“Kegiatan bersholawat merupakan kegiatan rutin tahunan, dan berharap tahun mendatang kegiatan serupa bisa dilaksanakan kembali, mengingat Banjarnegara bersholawat adalah kegiatan silaturahmi untuk menyatukan umat manusia,” kata Wahid.
Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo dalam sambutannya mengatakan Banjarnegara bersholawat merupakan wujud rasa syukur masyarakat Banjarnegara kepada Tuhan YME. sekaligus memanjatkan doa agar selalau diberikan kekuatan lahir batin dalam mengarungi kehidupan ke depan untuk lebih baik lagi.
“Semoga melalui Banjarnegara bersholawat ini Banjarnegara akan di berikan kemakmuran, tentram, rukun damai, aman dan menjadi Banjarnegara yang baldatun Thayyaibatun wa rabbun Ghofur. Gemah Ripah Loh Jinawi, ” kata Sutedjo.
Turut memberi sambutan Banjarnegara Bersholawat Ir. H. Isran Noor, MSi, Bupati Kutai Timur yang juga Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI).
Selepas itu, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf berpesan supaya masyarakat tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Perbedaan pendapat, menurut dia jangan menjadi sumber perpecahan. Karena itu umat harus mengutamakan toleransi.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Sutedjo Slamet Utomo dan Wabup Hadi Supeno, serta jajarannya terhadap dukungannya terhadap  acara “Banjarnegara Bersholawat.”
Sekitar pukul 12.00 malam, Banjarnegara Bersholawat ditutup dengan pembacaan doa oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Meskipun di hadiri puluhan ribu jemaah acara Banjarnegara bersholawat berlangsung tertib.

Purbalingga Bershalawat
Ribuan masyarakat Purbalingga, Minggu malam 1 September 2013 (1/9) memutihkan Alun Alun Purbalingga dalam acara bertajuk Masyarakat Purbalingga, TNI dan Polri bershalawat. Kegiatan yang digelar untuk kali kedua di Alun Alun menghadirkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf bersama majelis taklim Ahbabul Musthofa. Begitu Habib Syech tiba di panggung sebelah timur Alun Alun, ribuan syekher Mania (sebutan bagi penggemar Habib Syech) langsung mengelu-elukan putra almarhum Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf, tokoh alim dan imam masjid jami Assegaf Solo dan memintanya langsung mengumandangkan syair shalawat yang memang dinantinya sejak sore hari.
Panitia memasang banyak layar proyektor di setiap sudut alun-alun Purbalingga, sehingga penonton tidak perlu lagi berdesak-desakan masuk ke dalam alun-alun Purbalingga yang sudah sangat penuh sesak. Sehingga penonton cukup melihat acara shalawatan melalui layar lebar yang dipasang tanpa mengurangi kekhusyukan dan kesyahduan Purbalingga Bershalawat.
Setelah meminta syekher mania untuk tertib, shalawatpun mulai dikumandangkan Habib Syech yang didampingi ustad KH. Yahya Al Mutamakin, Bupati Drs. Sukento Ridho Marhaendrianto, MM dan para ulama dan pimpinan pondok pesantren di Purbalingga. Terlihat hadir disisi Habib Syech, tamu kehormatan Bupati Kutai Timur Ir. H. Isran Noor, MSi yang juga Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) dan Komandan Korem (Danrem) 071/Wk Kolonel Kav. Nugroho Tjendakiarto, SH.
Wakil Kapolres Purbalingga Komisaris Polisi Mulyadi mewakili panitia Purbalingga Bersholawat menyambut baik acara ini dan berharap acara shalawatan ini berlangsung aman, tertib dan lancar. Selepas sambutan panitia, acara bersambung dengan sambutan Bupati Purbalingga, H. Sukento Ridho Marhendianto, MM.
Bupati Sukento mengaku sempat “kethar – Kethir” (Was Was) karena sang Habib dikabarkan sempat mengalami sakit. Tetapi akhirnya Purbalingga Bershalawat jilid II dapat terlaksana. “Alhamdulillah, akhirnya malam ini Habib Syech bisa hadir kembali bersama masyarakat Purbalingga, para anggota TNI dan Polri, bersenandung shalawat bersama,” katanya saat memberikan sambutan singkat.
Diantara lantunan syair-syair shalawat seperti lagu lama “Padang Bulan”, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf sempat berpesan kepada umat Islam agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan. Perbedaan pendapat yang sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat menurutnya jangan sampai menjadi sumber perpecahan bangsa, apalagi perpecahan diantara umat Islam.
“Purbalingga bershalawat dan kegiatan bershalawat lainnya akan mampu mempersatukan perbedaan. Sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad KH Yahya Mutamakin menuturkan, dengan bershalawat mengagungkan Nabi Muhammad, menjadi salah satu bukti cinta kita kepada rosul Allah SWT yang telah terlebih dahulu mencintai umatnya. “Mudah-mudahan, kita bisa memiliki presiden yang cinta shalawat, wakil presiden cinta shalawat, bupati yang suka bershalawat,” katanya.
Menurut KH Yahya, ketika para pemimpin kita padai bershalawat dan menjadi pemimpin yang baik, maka dirinya berkeyakinan, para menterinya, pembantu-pembantunya, aparatnya dan seluruh masyarakat Indonesia akan menjadi lebih baik. (Aji Setiawan, Purbalingga)


Caption:

  1. Lead
  2. Barisan Serba Guna (Banser) Banjarnegara. Mengamankan panggung shalawatan
  3. Habib Syech di Purbalingga. Jaga persatuan di tengah perbedaan
  4. Melihat melalui layar lebar. Tanpa mengurangi kekhusyukan