Kamis, 14 November 2013

Semarak Jamrud Lider dan MWC NU Susukan Bershalawat

Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.”
                                                                                                                                                    
Suasana malam itu langit cerah, tiada hujan sedikitpun, padahal cuaca di tiga Kabupaten; Purbalingga, Banyumas dan Purbalingga hujan turun dengan derasnya.  Sabtu malam Minggu, 26 Oktober 2013 (26/10) atau bertepatan dengan 21 Zulhijjah 1434 H lapangan desa Dermasari Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah telah dipenuhi oleh jamaah baik muda mudi, dari berbagai penjuru untuk mengikuti acara gema tabligh akbar yang digelar oleh Jamrud Lider (Jama’ah Maulid Rutin Lintas Daerah) dan Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara. Acara terbilang semarak, lapangan Desa Dermasari penuh oleh sekitar 5000 jamaah dan terpaksa area sawah kering disulap menjadi tempat parkir. 1 kilometer jalan menuju acara maulidan berlangsung, macet total.
Acara yang berlangsung lepas shalat Isya itu dibuka dengan pembacaan Maulid Simthud Durar yang dibaca secara estafet oleh para Munsid (penyanyi) Jamrud dengan diiringi oleh penabuh rebana yang rancak dari para penerbang yang rancak, sontak disambut dengan liukan bendera NU dan bendera berbagai majlis taklim yang ada di Kab Purbalingga, Banjarnegara dan Banyumas.
            Tepat pukul 10.00 malam acara dibuka dengan sambutan oleh KH Khayatul Makki, SH yang juga adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilien, Bawang Mantrianom, Banjarnegara.”Pada malam ini dikumandangkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW ini dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sehingga membawa berkah dunia dan akhirat,” kata KH Khayatul Makki, SH.
Dilanjutkan, bahwa saat ini jarang sekali orang membaca shalawat menjadi bacaan rutin. Padahal orang-orang yang membaca shalawat adalah mereka-mereka orang-orang yang marjinal dan shalawat bisa menjadi tolak bala serta menjadi penyelamat bangsa yang sedang sakit dan terpuruk ini.
            Dalam kesempatan itu, Gus Hayat juga mengajak jamaah untuk membangun bangsa ini dimulai dengan lingkungan keluarga masing-masing. “Apabila keluarga sudah kuat maka bangsa pun ikut kuat agar bangsa ini menjadi bangsa yang Baldatun Thoyibatun Warrobun Ghofur.Negara yang gemah ripah loh jinawi dan dalam ridha serta ampunan Allah SWT,” pungkas Gus Hayat mengakhiri sambutan pertama.
            Habib Ali bin Umar Al Quthban dalam sambutan kedua mewakili selaku pembina Jamrud Lider menyatakan rasa syukur kepada Allah  dan berterima kasih kepada segenap jajaran MWC NU Kec Susukan serta aparatur pemerintahan Desa Dermasari Kecamatan Susuakan yang telah menyediakan tempat  atas terselenggaranya acara ini. Dalam kesempatan itu Habib Ali menyatakan acara Jamrud Lider keliling yang akan datang berlangsung tidak seperti biasanya selapanan, tapi ronglapanan ( sekitar 70 hari) sekali. “Insya Allah pada acara Jamrud Lider ke depan akan berlangsung pada 4 Januari 2014 di area kompleks Majlis Taklim Riyadus Shalihin, desa Kedungjati, Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga dengan mengundang pembicara KH Musthofa Aqil (Cirebon),” tukas Habib Ali kepada jama’ah.
            Taushiyah utama dan sudah ditunggu-tunggu oleh jamaah disampaikan oleh KH Hakim An-Naishaburi,Lc. Pada kesempatan itu Gus Hakim, demikian panggilan akrab KH Hakim An Naishaburi, Lc yang juga adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilien, Bawang Mantrianom, Banjarnegara.. Gus Hakim menyatakan bahwa acara pengajian ini termasuk acara yang mendapat berkah dan rahmat Allah SWT. Di dalam perjalanan, papar Gus Hakim, hujan turun dengan derasnya sehabis maghrib. Tapi di tempat yang mulia ini, hujan berhenti sejak acara berlangsung.”Semoga acara ini mendapat ridho dari Allah SWT dan seluruh jamaah Jamrud Lider termasuk ahlul jannah (ahli surga), allohuma –amin.”
            Selanjutnya Gus Hakim mengisahkan kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW dari hadist riwayat Anas bin Malik ra seperti dikisahkan dalam HR Bukhari dalam Shahihnya):
 “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi saw tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?”
Nabi pun saw menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya saw”
Maka Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.”  
            Gus Hakim mengajak pada jamaah untuk mencintai para ahlu bayt (keturunan Rasulullah SAW).”Kita  nunut (ikut) dengan rombongan Jamrud Lider ini karena Habib Ali orang yang paling menguasai dan mengerti Ahli Bayt Rasulullah SAW.”
            Menyambut bulan Muharam atau tahun baru Hijriah, tahun baru Islam yang sebentar lagi akan diperingati oleh ummat Islam, Gus Hakim mengajak jama’ah untuk bermuhasabah, interopeksi diri apakah pada tahun ini lebih baik dari hari- hari kemarin .”Koreksilah diri sendiri dahulu, sebelum dikoreksi di akherat nanti. Sehingga hari-hari ke depan jah lebih baik dari hari-hari kemarin,” kata Gus Hakim.
            Dalam ceramahnya Gus Hakim menyebutkan tiga golongan manusia dalam keadaan meninggal yang akan mendapat cinta Allah SWT dan Rasulullah SAW . Pertama,  orang yang meninggal dunia dalam keadaan cinta kepada Allah SWT. Kedua orang yang meninggal dunia dalam keadaan takut kepada Allah SWT dan yang ketiga adalah orang yang meninggal dunia dalam keadaan malu kepada Rasulullah SAW. Tepat pukul 23.00 WIB acara acara pengajian kemudian ditutup dengan doa oleh Habib Ali bin Umar Al Quthban. Jamaah pulang ke rumah masing-masing baik dalam keadaan berombongan maupun sendiri-sendiri dengan menyusuri jalan tembus Desa Dermasari menuju Kec Susukan Kab Banjarnegara dengan tertib dan lancar. (***) Aji Setiawan
           

Jumat, 25 Oktober 2013

Cinta Sahabat kepada Rasulullah

Salah satu hadits yang terkenal mengungkapkan betapa penting kecintaan kaum muslimin pada Rasulullah SAW. Sabda beliau, “Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari).

Memang, mencintai Rasulullah SAW merupakan salah satu bukti keimanan seorang muslim. Sebaliknya, iman pulalah yang membuat para sahabat sangat setia mendampingi beliau, baik dalam susah maupun senang, dalam damai maupun perang. Kecintaan itu bukan hanya di lidah, melainkan terwujud dengan perbuatan nyata.

Betapa cinta sahabat kepada Rasulullah SAW, tergambar ketika Rasulullah SAW bersama Abu Bakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasulullah SAW tertidur berbantalkan paha Abu Bakar. Tiba-tiba Abu Bakar merasa kesakitan karena kakinya digigit kalajengking. Tapi, dia berusaha sekiat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan sampai pahanya bergerak—khawatir Rasulullah SAW terbangun.

Salah seorang sahabat, Zaid bin Datsima, tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Ketika itu, ia sempat disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. ”Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya.

“Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan.

Kisah kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW banyak diungkapkan dalam sejarah. Salah satunya ditunjukan oleh Umar bin Khatthab. ”Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku,” kata Umar. Mendengar itu, Rasulullah SAW menjawab, ”Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”

”Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah SAW pun menukas, ”Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu” (HR Bukhari).

Hari Kiamat

Penghormatan dan pemuliaan terhadap Rasulullah SAW memang merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS Al Fath : 8-9).

Sebuah ayat menekankan pentingnya kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, ”Katakanlah (wahai Muhammad), jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaanmu, perdagangan yang kamu kekhawatirkan kerugiannya, dan rumah yang kamu senangi, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang fasik” (QS At-Taubah: 24).

Kecintaan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW juga merupakan faktor penting bagi keselamatannya di hari kiamat kelak. Hal itu terungkap ketika suatu hari seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, ”Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka jawab Rasulullah SAW, ”Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Jawab sahabat itu, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, sabda Rasulullah SAW, ”Insya Allah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.”

Menurut Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Shafwan, dan Abu Dzar, Rasulullah SAW telah bersabda mengenai seseorang yang dengan tulus mencintainya, ”Seseorang akan berada di Yaumil Mahsyar bersama orang yang dicintainya.” Mendengar itu, para sahabat sangat berbahagia karena mereka sangat mencintai beliau.

Suatu hari seorang sahabat hadir dalam suatu majelis bersama Rasulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?”

Mendengar itu Rasulullah terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, ”Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa : 69-70).

Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW inilah pula yang menggerakkan mereka menyebarkan berdakwah ke seluruh penjuru dunia.

Kecintaan luar biasa kepada Rasulullah SAW itu tergambar pada diri seorang perempuan—beberapa saat usai Perang Uhud. Dia baru saja kehilangan ayah, kakak laki-laki dan suaminya yang gugur sebagai syuhada. Ia bukannya meratapi mereka, tapi menanyakan nasib rasulullah SAW, ”Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, semoga Allah memberkati dan melimpahkan kedamaian kepadanya.”

”Nabi baik-baik saja sebagaimana engkau mengharapkannya,” jawab para sahabat. Lalu kata perempuan itu lagi, “Tunjukanlah dia kepadaku hingga aku dapat memandangnya.” Kemudian para sahabat menunjukan posisi Rasulullah SAW. “Sungguh, kini semua deritaku tak ada artinya. Sebab, engkau selamat,” kata perempuan itu kepada Rasulullah SAW.

”Mereka yang mencintaiku dengan sangat mendalam adalah orang-orang yang menjemputku. Sebagian dari mereka bersedia mengorbankan keluarga dan kekayaannya untuk berjumpa denganku,” sabda Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah (HR Muslim, Bukhari, Abu Dzar).

Betapa kecintaan sahabat Bilal kepada Rasulullah SAW, terungkap menjelang ia meninggal. Bilal melarang isterinya bersedih hati, sebab, katanya, “Justru ini adalah kesempatan yang menyenangkan, karena besok aku akan berjumpa dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.” Wafatnya Rasulullah SAW merupakan kesedihan luar biasa bagi para sahabat dan pencintanya. Dikisahkan, ada seorang perempuan yang menangis di makam Rasulullah SAW sampai ia meninggal.

Demikianlah gambaran betapa luar biasa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Untuk mengungkapkan rasa cinta itu, sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya.

Itulah cinta sejati, sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Aji Setiawan)

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,47735-lang,id-c,hikmah-t,Cinta+Sahabat+kepada+Rasulullah-.phpx

Selasa, 22 Oktober 2013

OPTIMIS !!

 


Kita harus yakin bahwa Allah SWT Jala Jalalluhu Warahmatuhu, Mahakuasa. Tak ada yang terlepas dari kekuasaan-Nya. Di ‘tangan-Nyalah’ segala sesuatu. Allah Maha mengatur, Allah Maha berkehendak, Allah yang membuat sesuatu menjadi mulia, dan Allah pula yang membuat sesuatu menjadi hina. Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, meskipun sulit menurut kita, maka itu pasti terjadi.
            Kepercayaan akan semua ini, dalam pandangan Islam dikenal dengan sebutan tawakal. Semakin kuat kepercayaan ini, maka akan semakin tebal rasa tawakal, dan akhirnya rasa optimis dalam diri semakin bertambah. Dari rasa tawakal inilah optimis berawal. Rasa optimis haruslah mengalahkan pesimis yang bisa menyerang siapa saja. Jika ingin berhasil, kita harus bisa membangun rasa optimis dalam diri dan kita memulainya dengan memupuk rasa tawakal kepada Allah.
            Optimis yang lahir dari tawakal itulah yang menyebabkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para khalifah setelahnya bisa memenangkan banyak pertempuran melawan orang kafir. Dalam berbagai medan peperangan, sebenarnya pasukan muslim selalu kalah dalam hal jumlah prajurit, fasilitas persenjataan, kelengkapan medis, dan lain sebagainya. Tetapi sejarah mencatat, kaum muslimin hampir selalu meraih kemenangan dalam setiap pertempuran. Salah satu kuncinya adalah optimisme dan keyakinan kepada kekuasaan Allah.
            Pernah, kaum Muslimin agak pesimis. Yaitu, saat menghadapi Romawi di Perang Yarmuk tahun 13 Hijriah. Jumlah prajurit dan perlengkapan senjata antara dua pasukan sangat tidak berimbang. Pasukan Romawi mencapai 240.000 personel, sedangkan jumlah pasukan Islam tidak sampai 30.000 personel. Melihat hal ini, Panglima Khalid bin Walid, mencoba membangkitkan rasa optimisme pasukan Islam. Ia berteriak, “Betapa sedikitnya pasukan Romawi dan betapa banyak pasukan Islam. Banyak dan sedikit bukan dari jumlah prajurit. Pasukan dianggap banyak jika ia menang dan sedikit jika ia kalah.”
            Ketika itu optimisme pasukan Islam bangkit dan akhirnya mampu memporak-porandakan pasukan Romawi.
            Manusia, ketika dihadapkan pada hal-hal sulit atau menemukan sebuah tantangan besar, maka ada dua pilihan yang harus dia ambil salah: maju menabrak dan menjawab tantangan tersebut atau mundur tanpa melakukan apa-apa. Jika dia memilih maju, maka ada dua kemungkinan yang bisa diraih, berhasil atau gagal. Tapi, jika dia memilih diam tanpa ada usaha dan tindakan nyata, maka kemungkinannya hanya satu, yaitu gagal. Dari ini, maka diperlukan pemupukan sikap optimis dalam menghadapi setiap tantangan dan membuang jauh-jauh sikap pesimis.
            Optimis merupakan keyakinan diri dan merupakan salah satu sifat yang sangat ditekankan dalam Islam. Dengan sifat optimis seseorang akan bersemangat dalam menjalani hidup ini untuk menjadi lebih baik. Allah melarang dan tidak menyukai orang yang bersikap lemah dan pesimistis baik dalam bertindak, berusaha, maupun berpikir. Dalam al-Qur’an Allah berfirman (artinya):
“Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kalianlah orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kalian beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139)
            Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah,…” (HR an-Nasai dan al-Baihaqi)
            Optimis berarti berusaha semaksimal mungkin dalam mencapai target atau standar ideal. Adanya standar ideal dan visi-misi yang jelas bisa menjadi tolok ukur dan memperjelas arah tujuan kita, agar hidup tidak sekadar mengalir begitu saja. Dengan begitu kita bisa mengetahui di manakah posisi kita dalam standar tersebut, sehingga bisa terpacu untuk menjadi lebih baik.
            Memang tidak ada manusia yang sempurna, kenyataan tak selalu sesuai dengan impian. Dalam mewujudkan niat dan rencana yang sudah dibuat, tak jarang kita dihadapkan pada kondisi dan keadaan yang jauh berbeda dengan harapan. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah sejauh mana dan sekeras apa kita berusaha mencapainya. Hal ini jika tidak dihadapi dengan sikap optimis, sabar, dan disertai tawakal kepada Allah akan mempengaruhi pola pikir kita berikutnya. Allah berfirman menceritakan doa hamba-Nya:
            “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau memberikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan kepada yang dikehendaki. Engkau memuliakan yang Engkau kehendaki dan menghinakan yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebaikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran [3]: 26)
            Dengan demikian, sikap optimis akan menjadi energi hidup yang terus menyala di waktu yang tepat. Kita harus selalu menumbuhkan semangat pantang menyerah, terus berdoa sambil berusaha, serta beramal dengan penuh keyakinan akan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala. Bila Allah berkehendak hal tersulit sekalipun akan menjadi sangat mudah bagi kita. Jika belum mencoba, jangan mengatakan tidak bisa. Seorang mukmin tidak boleh kalah sebelum berperang. (***) Aji Setiawan

Sabtu, 19 Oktober 2013

Biodata Aji Setiawan

Aji Setiawan,ST lahir pada Hari Minggu Wage, 1 Oktober 1978. Di lahirkan, tepatnya di Desa Cipawon, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah, Indonesia.
Menempuh pendidikan formal diawali dari Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah II Cipawon di desa Cipawon, kemudian sesudah itu dilanjutkan ke SMP I Bukateja. Pendidikannya berlanjut ke kota kripik, tepatnya sejak 1993-1996, di SMA 3 Purwokerto.
Selepas dari Purwokerto, tahun 1996, ia pergi ke Yogyakarta dan mengambil pendidikan di Jurusan Teknik Manajemen Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta.
Baginya, pendidikan yang manusiawi justru ada di luar kampus, bukan di dalam kelas yang beku dan kaku. Justru melalui pergulatan wacana dan pergesekan dunia intelektual, ia mengasah diri untuk menyambut tugas-tugas sejarah, kelak di kemudian hari.
Sejak tahun 1997 ia mulai malang melintang di berbagai lembaga kampus, mulai dari Himpunan Mahasiswa TMI-FTI UII, Lembaga Pers Mahasiswa “Profesi” FTI, LPM “Himmah” UII, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Teknologi Industri _UII Jogjakarta, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat KH Wahid Hasyim UII Jogjakarta, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi Korda Jogjakarta (1999-2002).
Lulus kuliah tahun Oktober 2002, kemudian bekerja di Majalah alKisah, anekayess group! tahun 2004-2007. Memutuskan diri menjadi kontributor banyak media dari tahun 2009. Mulai dari alKisah, Risalah, Media Ummat, Sufi, http://www.nu.or.id , www.berita9online.com dan masih banyak lagi…deh.

Berjuang di PPP sudah lama, sejak tahun 1997 ia sudah bergabung dengan Laskar Intifada PPP Kec Ngaglik, Kab Sleman Yogyakarta. Pada Pemilu 2004 menjabat sebagai divisi Pemenangan Pemilu Kec Bukateja . Tahun 2009 juga masuk dalam Lembaga Pemenangan Pemilu PPP Kab Purbalingga. Baru pada tahun 2011-sekarang, ia dipercaya sebagai Ketua PAC PPP kec Bukateja Kab Purbalingga.
Bekerja untuk ummat adalah prinsip yang ia pegang teguh. Mengabdi untuk banyak orang dan bisa bermanfaat bagi bangsa dan agama adalah tekad visi keumatan yang telah ia darma baktikan sejak dari bangku kuliah sampai sekarang.
Ikhlas, orang bertanya apa itu ikhlas. Maka ia pernah berujar, sirnanya segala harapan karena hanya tertuju titah telah terlaksana berniat ibadah, berbuat amal, berbuah pahala dan ridha illahi muara akhirnya hanya pengabdian total kepada Alloh SWT bukan kepada hamba atau penyembahan berhala -berhala dunia yang berujud dunia materi semu dan sementara .
Sosok pekerja keras ini, orang nya humoris, suka bergaul dengan siapa saja dari mulai pengangguran, cendekia, pelajar, artis, pejabat, preman sampai orang pinggir terminal dan pasar.
Bergulat lama di jalanan, bekerja siang malam membuatnya tidak sering sakit-sakitan, resepnya bangun pagi hari, hirup udara segarnya pagi dan engkau akan sehat serta bugar.
Ada jabatannya yang sangat ditutupi-tutupi, ia enggan disebut sebagai beking pejabat!

Caleg PPP Dapil 3 (Bukateja, Purbalingga, Kemangkon) no urut 2 ini memohon doa restu kepada masyarakat luas agar dalam Pemilu 2014 bisa memperoleh suara yang gemilang..

http://www.ajisetiawan1.blogspot.com

Hari hari Terakhir Rasulullah SAW

Anas bin Malik meriwayatkan, pada Hari Senin, ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Subuh –sementara sahabat Abu Bakar RA sedang mengimami mereka—Nabi SAW tidak menemui mereka, tetapi hanya menyingkap tabir kamar Aisyah dan memperhatikan mereka yang berada di shaf-shaf shalat. Kemudian beliau tersenyum.

Abu Bakar mundur hendak berdiri di shaf, karena dia mengira Rasululah SAW hendak keluar untuk shalat. Selanjutnya Anas menuturkan bahwa kaum muslimin hampir terganggu di dalam shalat mereka, karena bergembira dengan keadaan Rasulullah SAW.

Namun, beliau memberikan isyarat dengan tangan beliau agar mereka menyelesaikan shalat. Kemudian, beliau masuk kamar dan menurunkan tabir.

Setelah itu, Rasulullah SAW tidak mendapatkan waktu shalat lagi.

Ketika waktu Dhuha hampir habis, Nabi SAW memanggil Fatimah, lalu membisikan sesuatu kepadanya, dan Fatimah pun menangis. Kemudian memanggilnya lagi dan membisikan sesuatu, lalu Fatimah tersenyum.

Aisyah berkata, setelah itu, kami bertanya kepada Fatimah tentang hal tersebut.

Fatmah Ra menjawab, ”Nabi SAW membisikiku bahwa beliau akan wafat, lalu aku menangis. Kemudian, beliau membisiku lagi dan mengabarkan aku adalah orang pertama di antara keluarga beliau yang akan menyusul beliau.” (Shahihul Bukhari, II: 638).

Nabi SAW juga mengabarkan kepada Fatimah bahwa dia adalah kaum wanita semesta alam.

Fatimah melihat penderitaan berat yang dirasakan oleh Rasulullah SAW sehingga dia berkata,”Alangkah berat penderitaan ayah!” tetapi beliau menjawab,”Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi.”

Beliau memanggil Hasan dan Husain, lalu mencium keduanya, dan berpesan agar bersikap baik kepada keduanya. Beliau juga memanggil istri-istri beliau, lalu beliau memberi nasehat dan peringatan kepada mereka.

Sakit beliau semakin parah, dan pengaruh racun yang pernah beliau makan (dari daging yang disuguhkan oleh wanita Yahudi) ketika di Khaibar muncul, sampai-sampai beliau berkata,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang kumakan ketika di Khaibar. Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut.”

Beliau juga memberi nasehat kepada orang-orang ,”(perhatikanlah) shalat; dan budak-budak yang kalian miliki!” Beliau menyampaikan wasiat ini hingga beberapa kali.

Saat Terakhir

Tanda-tanda datangnya ajal mulai tampak. Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah ke pangkuannya.

Aisyah lalu berkata,” Sesunguhnya di antara nikmat Allah yang dikaruniakan kepadaku adalah bahwa Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan di pangkuanku, serta Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Ketika aku sedang memangku Rasulullah SAW, Abdurahman dan Abu Bakar masuk dan di tangannya ada siwak. Aku melihat Rasulullah SAW memandanginya, sehingga aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Aku bertanya ,’Kuambilkan siwak itu untukmu?’

Beliau memberi isyarat “ya” dengan kepala, lalu kuambilkan siwak itu untuk beliau. Rupanya siwak itu terasa keras bagi beliau, lalu kukatakan,’kulunakkan siwak itu untukmu?’ Beliau memberi isyarat”ya” lalu kulunakan siwak itu. Setelah itu aku menyikat gigi beliau dengan sebaik-baiknya siwak itu. Sementara itu, di hadapan beliau ada bejana berisi air. Beliau memasukan kedua tangannya ke dalam air itu, lalu mengusapkannya ke wajah seraya berkata,’La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekarat nya.” (Shahih Bukhari II, 640).

Seuasi bersiwak, beliau mengangkat kedua tangan beliau yang mulia, atau jari-jarinya mengarahkan pandangannya ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah mendengarkan apa yang beliau katakan itu, beliau berkata,”Ya Allah ampunilah aku; Rahmatillah aku; dan pertemukan aku dengan Kekasih yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi.” (Ad Darimi, Misykatul Mashabih, II: 547)

Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali, lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Maha Tinggi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Peristiwa ini terjadi ketika waktu Dhuha sedang memanas, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H. Ketika itu beliau berusia 63 lebih empat hari. (***)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,46929-lang,id-c,hikmah-t,Hari+hari+Terakhir+Rasulullah+SAW-.phpx

Minggu, 13 Oktober 2013

Merindu Awan

Mendung datanglah, kemarau panjang telah meretakan tanah dan menjadi tandus gersang segala yang ada di muka bumi
Tumbuh-tumbuhan merangas, merintih karena haus
Seandainya pohon pohon bisa bicara, dia akan bercerita daun-daun yang menguning karena panas, sebentar lagi menjadi klaras 
Haus dahaga yang menggigit, padahal tubuh sang pohon sedang merindu awan agar segera turun hujan agar batang-batang pohon bisa segera bersemi, memancarkan pucuk pucuk hijau segera berkembang , berbunga dan berbuah
Air yang jatuh, merubah tanah menjadi energi makanan yang diserap dalam tanah. Membusukan humus menjadi sari sari makanan yang akan diserap oleh akar-akar pohon
Sayang
Tandus sudah merangas
Kemarau panjang tak tahu kapan berakhir

Merindu awan
Segeralah turun hujan

Aji Setiawan