Minggu, 13 Oktober 2013
Ada TUHAN di balik skenario Manusia
Setelah berpuluh tahun aku menghilang. Aku kini menentukan jalan hidupku di samping aku berusaha menemuhi sekedar dari jadwal dan skenario manusia, sekedar memenuhi hajat dan kebutuhanku. Kalau aku menyerah, karena aku sudah terlalu lelah. Maka aku tidur.
Engkau mengajakku berkelana. Aku mencari apa sih? Uang? Pangkat? Wanita? Tahta? Semua menggodaku untuk aku tampik dalam Rahasia Nya yang kupenuhi dalam didihan dadaku itu adalah Titipan Nya dan Rahasia Nya.
Aku tidak akan memenuhi skenario manusia mana pun, toh aku pun menskenariokan diri sendiri, patah oleh skenario agung Nya. Bukan berarti aku lari dari ikhtiar. Ikhtiar harus, agar dapur tetap mengebul. Tawakal perlu agar lebih mantap dan bergantung pada yang azali. Ikhtiyat perlu agar tidak terlepas dari takdir dan Takdir harus dipastikan, agar ketidakbernentuan menjadi certainely , menjadi kepastian dalam kehidupan.
Demikian alur kita hidup, tidak sekedar mengalir, tapi bisa merubah kehidupan menjadi lebih baik lebih hidup dan lebih bergairah.
Himmah, ghiroh, apa semangat apalah apa pun nama nya akan berujung pada karunia, rahmat, taufik dan jalan keselamatan yang kita cari. Tapi yang lebih dicari adalah jalan keselamatan. Apa yang perlu diselamatkan?
Rumah tangga mu..
Rumah tangga saya?
Inikah mungkin rahasia Nya yang dititipkan pada hamba-hamba yang hina dina ini, sehingga engkau harus selalu tak usahlah khawatir dengan nasibku. Engkau harus tegar menatapku. Engkau harus tegel melepasku.
Karena aku tidak seperti yang dulu. Tidak sami mawon..itu saja. Kalau masih seperti yang dulu, nanti engkau bisa bernyanyi, "engkau masih seperti yang dulu...Dulu begitu, sekarang begini...engkau begini, aku begitu..he2 hayo tiru sapa hayoh? ngakak co, tiru Yai KH Anwar Zahid.
Jadi , skenario saya simple. sekali menghilang jelas tempat berpijaknya. Jelas bojo nya, jodohku masih seperti dahulu. Menawarkan sesuatu yang berbeda agar kehidupan ini lebih bermakna dan berdaya guna. Bangunlah nak, dik..Tidurmu sudah terlampau cukup, energi tenaga mu saat ini sangat diperlukan bangsa ini. Disamping tentu saja, engkau harus memperbaiki sangkan paran dan panggon, dapur rumah tanggamu. Engkau harus kenyang dulu, baru bisa berjuang. Ndak ada lara lapa sekarang, karena lara lapa hanya untuk orang-orang yang belum merdiko. Kita bangsa yang merdeka, harus mensyukuri kemerdekaan ini dengan hari-hari yang berguna, bermanfaat bagi banyak orang.
Pengabdian harus dicukupkan, harus dimaterialkan dengan pemenuhan primer, apa yang menjadi kebutuhan pokok hidup, sandang pangan papan. Begitu tiga trend hidupmu sudah dicukupkan, engkau menjadi kaya lahir dan batin. Tinggal engkau kebutuhan tersier, yang lebih mewah lagi dikejar...Selamat bekerja!
Aji Setiawan
Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani
Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin ‘Alawi bin
‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani
Alim
Ulama Terkenal dan Ternama
di Kota Makkah
Sayyid Muhammad Al-Maliki ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin
menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada
sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya.
Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin
Sayyid ‘Alawi bin Sayyid ‘Abbas bin Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani
al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di kota suci Makkah pada tahun 1365 H.
Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayahnya Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di
sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram
Makki, dekat Bab As-salam.
Ayah Sayyid
Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid ‘Alawi Maliki al Hasani, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th
1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif
dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan
dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah
seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah
salat Jumat dengan judul “Hadist
al-Jumah”.
Begitu pula ayah Sayyid ‘Alawi
adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan
pernikahan.Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki
selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu
mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar
kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat Sayyid
‘Alawi adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu
berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.
Sebagaimana adat para Sadah
dan Asyraf ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang
berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Ia
selalu mengenakan jubbah, serban (imamah)
dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.
Setelah wafat Sayyid Alwi Al Maliki, anaknya Sayyid Muhammad tampil
sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan
karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah
pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu.
Sayyid Muhammad berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan
pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadist
dan Ushuluddin ia kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di
tempuh sang ayah.
Disamping mengajar di Masjidi
Haram di halaqah, ia diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz-
Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadist
dan Usuluddin. Cukup lama ia menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua
Universiatas tsb, sampai ia memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar
di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di
rumahnya.
Adapun pelajaran yang di
berikan baik di masjid haram atau di rumahnya tidak
berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran
yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau
terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan
Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah
yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa
dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah.
Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya ia selalu menerima semua tamu
dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua
di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama
dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.
Dari rumah beliau telah keluar
ulama-ulama yang membawa panji Rasululloh SAW
ke seluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita
dapatkan muridnya, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi
di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah Sayid
Muhammad Al-Maliki, ribuan murid-muridnya yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak
sedikit dari murid- muridnya yang masuk ke dalam pemerintahan.
Di samping pengajian dan
taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula ia telah berusaha mendirikan
pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh
penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun
bahkan ia memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah
beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk
menyiarkan agama.
Sayid Muhammad Al-Maliki dikenal
sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak
berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah.thariqahnya.
Dalam kehidupannya ia selalu
bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya
atau dengan alirannya. Semua yang berlawanan diterima
dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah
dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian
yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam
terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh
Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik
di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram.
Semua ini diterima dengan kesabaran dan keikhlasan, selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat
dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber
dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari
Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di
samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup
untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka.
Sayyid Muhammad adalah orang
cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap
sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Beliau selalu
menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak
sealiran dengannya atau tidak searah dengannya
Karya Tulis Beliau
Karya Tulis Beliau
Di samping tugasnya sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah
dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau pula seorang
pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah
dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2
beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu,
Indonesia dll.
Sayyid Muhammad merupakan seorang
penulis prolifik dan telah
menghasilkan hampir seratus buah kitab. Ia telah menulis dalam
pelbagai topik agama, undang-undang, sosial serta sejarah,
dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik
yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam
di seluruh dunia. Kita sebutkan sebahagian hasilnya dalam pelbagai bidang.
Buku
bidang aqidah diantaranya; Mafahim
Yajib an Tusahhah, Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus, At-Tahzir min
at-Takfir, Huwa Allah, Qul Hazihi Sabeeli.
Buku dalam bidang tafsir diantaranya; Zubdat
al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Wa Huwa bi
al-Ufuq al-‘A’la, Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ulum al-Quran, Hawl Khasa’is
al-Quran.
Dalam bidang hadist diantaranya; Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif, Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ilm Mustalah al-Hadith, Fadl al-Muwatta wa
Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi, Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta
lil-Imam Malik.
Dalam bidang sirah diantaranya; Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam)
al-Insan al-Kamil,
Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah, ‘Urf al-Ta’rif bi al-Mawlid al-Sharif, Al-Anwar
al-Bahiyyah fi Isra wa M’iraj Khayr al-Bariyyah, Al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah, Zikriyat wa Munasabat, Al-Bushra fi
Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra.
Dalam bidang ushul fiqh diantaranya; Al-Qawa‘id
al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh, Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh, Mafhum al-Tatawwur
wa al-Tajdid fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah.
Dalam bidang fiqh diantaranya; Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa
Khuluduha wa ‘Alamiyyatuha, Shawariq al-Anwar min Ad‘iyat al-Sadah al-Akhyar, Abwab al-Faraj, Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar, Al-Husun al-Mani‘ah, Mukhtasar Shawariq
al-Anwar.
Buku
yang lainnya: Fi Rihab al-Bayt
al-Haram (Sejarah Makkah), Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-‘Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis), Nazrat al-Islam ila al-Riyadah, Al-Qudwah al-Hasanah
fi Manhaj al-Da‘wah ila Allah (Teknik
Dawah), Ma La ‘Aynun Ra’at
(Butiran Syurga), Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam), Al-Muslimun Bayn al-Waqi‘ wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman), Kashf al-Ghumma
(Ganjaran Membantu Muslimin), Dawah al-Islahiyyah
(Dakwah Pembaharuan), Fi
Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi
Ucapan), Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah), Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi), Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk beliau, As-Sayyid Abbas), Al-‘Uqud al-Lu’luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa beliau, As-Sayyid Alawi), Al-Tali‘ al-Sa‘id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa
al-Asanid (Kumpulan Ijazah), Al-‘Iqd al-Farid al-Mukhtasar min
al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah).
Terdapat banyak lagi kitab
yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.Kita juga tidak menyebutkan
berapa banyak karya tulis yang telah dikaji, dan diterbitkan untuk pertama
kali, dengan ta'liq (catatan kaki) dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara
keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung.Banyak hasil kerja
As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.
Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu
kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara.
Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum
Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan
menggunakan sumber-sumber dalil mereka.
Untuk keberanian
intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan dan dituduh sebagai “seorang
yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram
(yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang,
bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau
ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut,
Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau
tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan
menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan
tasawwuf.
Pada akhir hayatnya yang
berkenaan dengan adanya kejadian teroris di Saudi Arabia, ia
mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh Sholeh bin Abdurahman Al Hushen
untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul
Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal
I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana Sayid
Muhammad Al-Maliki mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya
tentang thatarruf atau yang lebih
poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists
atau extremist. Dan dari sana beliau
telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi
yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab
Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikirannya tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan
masyarakat luas.
Pada tanggal 11/11/1424,
beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir
Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya selalu menggaris-bawahi akan usaha
menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.
Sayid Muhammad Al-Maliki wafat hari
jumat tanggal 15 Ramadhan 1425 H dan
dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping kuburan istri Rasulullah Sayyidah
Khadijah binti Khuwailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan beliau seluruh
umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama,
para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau
dari luar negeri.
Semuanya menyaksikan hari
terakhir beliau sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah beliau setelah
disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat Isya
yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga
hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan
belasungkawa. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin
Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid
‘Alawi Maliki al-Hasani untuk memberikan sambutan
belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak
bisa dilupakan umat.Semoga kita bisa meneladani beliau. Amien. ,
diterjemahkan dari Lawami’un
Nurissany fi Manaqibil Imam Muhammad Al-Maliki al-Hasany karya
Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus (*) Aji Setiawan
Jumat, 11 Oktober 2013
Tulislah..
Salam,
Berpuluh teman menulis surat melalui email, sms, facebook untuk menularkan ilmu menulis. Tentu sebuah tantangan menarik.
Saya mau menurunkan seluruh ilmu menulis saya, tapi ilmu menulis bukan ilmu sulap yang begitu, Sim Salabim langsung bisa terjadi.
Ada banyak ragam jenis tulisan.
Ada banyak media yang menerima tulisan. (catat alamat email redaksinya)
Ada banyak rubrik di media
Ada banyak kesempatan waktu untuk menulis, menulis apa saja.
Ok..
Buatlah sebuah tulisan yang menarik, bisa dari sebuah peristiwa atau dari kemenarikan dan keber penting nya sebuah tulisan. Bila perlu dilampiri foto.
Kirimlah ke email redaksi media tersebut, jangan lupa juga langsung dilampiri Bank rekening anda.. So tunggu deh hasilnya.
Jangan pernah berhenti belajar.
Bila anda gagal, anda perlu ber KKN (Kolusi, Kongkalikong dan Nepotisme) dalam menulis.
Caranya,
Apabila anda mengundang orang yang bekerja di media, mintalah kartu namanya dan emailnya dan tanyalah apakah bisa menerima tulisan..
Gitu saja kok repot!
Aji Setiawan
081229667400
Berpuluh teman menulis surat melalui email, sms, facebook untuk menularkan ilmu menulis. Tentu sebuah tantangan menarik.
Saya mau menurunkan seluruh ilmu menulis saya, tapi ilmu menulis bukan ilmu sulap yang begitu, Sim Salabim langsung bisa terjadi.
Ada banyak ragam jenis tulisan.
Ada banyak media yang menerima tulisan. (catat alamat email redaksinya)
Ada banyak rubrik di media
Ada banyak kesempatan waktu untuk menulis, menulis apa saja.
Ok..
Buatlah sebuah tulisan yang menarik, bisa dari sebuah peristiwa atau dari kemenarikan dan keber penting nya sebuah tulisan. Bila perlu dilampiri foto.
Kirimlah ke email redaksi media tersebut, jangan lupa juga langsung dilampiri Bank rekening anda.. So tunggu deh hasilnya.
Jangan pernah berhenti belajar.
Bila anda gagal, anda perlu ber KKN (Kolusi, Kongkalikong dan Nepotisme) dalam menulis.
Caranya,
Apabila anda mengundang orang yang bekerja di media, mintalah kartu namanya dan emailnya dan tanyalah apakah bisa menerima tulisan..
Gitu saja kok repot!
Aji Setiawan
081229667400
Kamis, 10 Oktober 2013
Mbah Mangli, Mursyid Kharismatik Penakluk Para Begal
Pondok Pesantren Mangli merupakan salah lembaga pendidikan yang unik dan
menarik. Banyak ulama besar yang dicetak oleh pesantren ini. Sepak
terjang pesantren tasawuf ini tidak terlepas dari sosok sang pendiri
yang memiliki banyak cerita keajaiban.
Berdasar cerita yang beredar di masyarakat, KH Hasan Asy’ari atau lebih dikenal dengan nama Mbah Mangli bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia bisa mengisi pengajian di Mangli, namun pada saat bersamaan juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta dan bahkan Sumatera.
Ia juga tidak memerlukan pengeras suara (loud speaker) untuk berdakwah seperti halnya kebanyakan kiai lainnya. Padahal jamaah yang menghadiri setiap pengajian Mbah Mangli mencapai puluhan ribu orang.
Menurut sesepuh Dusun Mangli, Mbah Anwar (75) warga Mangli sangat menghormati sosok Mbah Mangli. Bahkan meski sudah meninggal sejak akhir tahun 2007, nama Mbah Mangli tetap harum. Setiap hari ratusan pelayat dari berbagai daerah memadati makam Mbah Mangli yang berada di dalam kompleks pondok.
Tokoh sekaliber Gus Dur semasa hidup juga acap berziarah ke makam tersebut. Ini tak terlepas dari sosok kharismatik Mbah Mangli yang menyebarkan Islam di lereng pegunungan Merapi-Merbabu-Andong dan Telomoyo. Ia juga merupakan Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.
Mbah Mangli-lah yang berhasil mengislamkan kawasan yang dulu menjadi markas para begal dan perampok tersebut. Pada masa itu daerah tersebut dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Compleks (MMC).
”Tantangan beliau sangat berat. Para begal membabat lahan pertanian penduduk dan mencemari sumber mata air pondok. Warga Mangli sendiri belum shalat meski sudah Islam. Kebanyakan warga kami hanya Islam KTP,” ungkap Kepala Dusun Mangli Suprihadi.
Dusun Mangli terletak di persis di lereng Gunung Andong. Dengan ketinggian 1.200 dpl, bisa jadi ponpes ini adalah yang tertinggi di Jawa Tengah. Dari teras masjid, para santri bisa melihat hamparan rumah-rumah di Kota Magelang dan Temanggung dengan jelas. Pemandangan lebih menarik terlihat pada malam hari di mana lautan lampu menghias malam.
Untuk ke lokasi ini, kita harus menempuh perjalanan sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Magelang di Kota Mungkid.
Bangunan pondok yang berada di tengah-tengah perkampungan berdiri di atas lereng-lereng bukit sehingga dari kejauhan terlihat seperti bangunan bertingkat. Meski terpencil ribuan masyarakat setiap Minggu mengaji ke pondok tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Magelang namun juga berbagai daerah lain. Uniknya, santri yang menetap tidak pernah lebih dari 41 orang.
Secara khusus Mbah Mangli mendidik para santrinya di sebuah pesantren sederhana di lereng gunung Andong. Tempat pesantren itulah yang kemudian dikenal sebagai desa Mangli yang terletak di perbatasan kecamatan Grabag dan Ngablak, kurang lebih 25 km arah timur laut kota Magelang. Mbah Mangli merupakan salah satu penganut tarekat Nahsyabandiyyah.
Dengan arif, Mbah Mangli tidak melawan berbagai ancaman dan gangguan tersebut. Ia justru mendoakan mereka agar memeroleh kebahagiaan dan petunjuk dari Allah SWT. Keikhlasan, kesederhanaan dan ketokohan ini pula yang membawa Mbah Mangli dekat dengan mantan wapres Adam Malik dan tokoh-tokoh besar lainnya.
Didikan Sang Ayah
Mbah Mangli atau Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilahirkan pada hari Jum’at legi tanggal 17 Agustus 1945 jam 02.00 malam, yang keesokan harinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta. Tempat kelahiran beliau adalah di Dukuh Nepen Desa Krecek kecamatan Pare Kediri Jawa Timur.
Sebelum berangkat ibadah haji, nama beliau adalah Muhammad Bahri, putra bungsu dari bapak Muhammad Ishaq. Meskipun dilahirkan dalam keadaan miskin harta benda, namun mulia dalam hal keturunan. Dari sang ayah, beliau mengaku masih keturunan Sultan Hasanudin bin Sunan Gunung Jati, dan dari sang ibu beliau mengaku masih keturunan KH Hasan Besari Tegal Sari Ponorogo Jawa Timur yang juga masih keturunan Sunan Kalijogo.
Pada masa kecil Syaikh Ahmad Jauhari Umar dididik oleh ayahanda sendiri dengan disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Diantaranya adalah menghafal kitab taqrib dan maknanya dan mempelajari tafsir Al-Qur’an baik ma’na maupun nasakh mansukhnya.
Masih di antara kedisiplinan ayah beliau dalam mendidik adalah: Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak diperkenankan berteman dengan anak-anak tetangga dengan tujuan supaya Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak mengikuit kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak tetangga.
Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilarang merokok dan menonton hiburan seperti orkes, wayang, ludruk dll, dan tidak pula boleh meminum kopi dan makan di warung. Pada usia 11 tahun Syaikh Ahmad Jauhari Umar sudah mengkhatamkan Al-Qur’an semua itu berkat kegigihan dan disiplin ayah beliau dalam mendidik dan membimbing.
Orang tua Syaikh Ahmad Jauhari Umar memang terkenal cinta kepada para alim ulama terutama mereka yang memiliki barakah dan karamah. Ayah beliau berpesan kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar agar selalu menghormati para ulama.
Jika sowan (berkunjung) kepada para ulama supaya selalu memberi uang atau jajan (oleh-oleh). Pesan ayahanda tersebut dilaksanakan oleh beliau, dan semua ulama yang pernah diambil manfaat ilmunya mulai dari Kyai Syufa’at Blok Agung Banyuwangi hingga KH Dimyathi Pandegelang Banten, semuanya pernah diberi uang atau jajan oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar.
Setelah mengasuh majelis taklim selama 3 tahun, Hasan Asy’ari kemudian menikah dengan Hj Ning Aliyah dari Sokaraja, Cilacap. Pada 1959, Mbah Mangli mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi. Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Ponpes Mangli dan sosok Hasan Asy’ari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Nama ini diberikan masyarakat karena ia menyebarkan Islam dengan basis dari Kampung Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.
Di bawah bayang pohon pinus dengan kesejukan hawa dingin pegunungan dan dalam suasana hening diharapkan para santri dapat membiasakan diri berpikir dengan kepala dingin, bukan dengan ledakan nafsu dan amarah. Kejernihan mata air Mangli dipercaya dapat menjernihkan hati dan pikiran para santri agar mampu menjadi manusia yang jernih dalam berpikir, berucap dan bertindak sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad.
Ketenaran pesantren Mangli menebar ke seantero Nusantara. Hal ini terbukti dengan beragam asal usul para santri yang menuntut ilmu. Santri dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Pasundan, Sumatera hingga Kalimantan, bahkan Sulawesi banyak yang kerasan berguru kepada Mbah Mangli.
Selain mendidik umat lewat pesantren, Mbah Mangli juga aktif melakukan dakwah dan syiar agama Islam ke berbagai wilayah. Di desa Mejing wilayah kecamatan Candimulyo, bahkan Mbah Mangli secara khusus menggelar pengajian rutin bertempat di sebuah langgar atau surau yang dikenal sebagai langgar Linggan. Berbagai kalangan umat Islam datang berbondong-bondong untuk mendengarkan nasehat dan petuah kiai kharismatik tersebut dengan penuh kekhidmatan.
Pengajian di masa lalu memang hampir tanpa sentuhan teknologi canggih seperti zaman sekarang. Jangankan peralatan perekam maupun dokumentasi foto, sekedar pengeras suara pun masih jarang bisa dijumpai.
Kita bisa bayangkan seperti apakah suasana pengajian akbar tanpa pengeras suara? Namun inilah salah satu kasekten Mbah Mangli sebagaimana diceritakan sebagian orang. Konon meskipun tanpa pengeras suara, seluruh jamaah pengajian yang hadir di tempat pengajian, apakah di sebuah masjid ataupun di sebuah lapangan terbuka, selalu dapat mendengar tausiyah Mbah Mangli dengan jelas dan terang. Meskipun jumlah jamaah ratusan, bahkan ribuan orang, dari berbagai posisi yang dekat hingga terjauh dapat mendengar suara Mbah Mangli.
Konon lagi pada saat pengajian bubar, selepas mengucap salam penutup, Mbah Mangli langsung dapat berjalan dengan kecepatan kilat meninggalkan arena pengajian untuk berpindah medhar sabdo di tempat lain. Konon pula Mbah Mangli setiap hari Jumat selalu ngrawuhi sholat Jumat di Masjidil Haram. Inilah yang disebut sebagai ilmu melipat bumi, dalam sakedeping mata bisa berpindah tempat di berbagai penjuru dunia.
Keistimewaan Mbah Mangli yang lain, ia dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka dan langsung dapat memberikan nasehat dengan tepat sasaran. Pernah seorang jamaah datang ke pengajian dengan membawa uang ibunya yang semestinya dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Di tengah pengajian, Mbah Mangli langsung menyindir orang tersebut dan menasehatinya agar uang tersebut dikembalikan dan ia segera memohon maaf kepada ibunya tersebut.
Pernah juga seorang tamu datang ke pesantren Mbah Mangli. Sejak dalam perjalanan sang tamu tersebut sudah membayangkan mendapatkan suguhan buah jeruk yang sangat ranum dan menghilangkan rasa dahaganya selepas menempuh perjalanan jauh. Dan sesampainya di tempat Mbah Mangli, apa yang ia dapatkan? Mbah Mangli benar-benar menyuguhinya dengan hidangan jeruk keprok yang sangat segar. Pucuk dicinta ulampun tiba!
Sifat istikomah Mbah Mangli dalam menyikapi perkembangan teknologi tergolong sangat unik. Beliau tidak pernah menggunakan pengeras suara maupun peralatan listrik dalam setiap kegiatan di pondok pesantrennya. Dalam acara pengajian maupun khotbah jumat tidak pernah ada pengeras suara, hal ini masih tetap dilestarikan hingga kini. Penggunaan listrik hanya terbatas untuk penerangan kegiatan belajar mengajar.
Adapun radio dan televisi, apalagi handphone dan internet, sama sekali tidak menyentuh pesantren Mbah Mangli. Kini sosok Mbah Kiai Mangli memang sudah wafat pada akhir tahun 1997, namun pengajian Ahad pagi yang digelar di pesantren beliau tetap berlangsung rutin di bawah asuhan salah seorang menantu beliau, dan masih ratusan jamaah hadir menimba ilmu.
Di zaman itu memang seorang kiai benar-benar diyakini sangat karib dengan Gusti Allah, sehingga ia benar-benar berkedudukan sangat istimewa bahkan dipercaya sebagai waliyullah. Maka tak heran doa seorang ulama kharismatik dipercaya sangat makbul dan mujarab.
Inilah barangkali magnet daya tarik sehingga umat mau mendekat, mendengar setiap nasihat penuh khidmat, dan kemudian berujung kepada pengamalan ajaran agama dengan penuh kemantapan rasa iman dan ketaqwaan. Inilah kunci ketentraman jiwa, lahir dan batin yang akan berdampak luas terhadap ketentraman serta keguyuban masyarakat, bangsa dan negara. (Aji Setiawan)
http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,47534-lang,id-c,tokoh-t,Mbah+Mangli++Mursyid+Kharismatik+Penakluk+Para+Begal-.phpx
Berdasar cerita yang beredar di masyarakat, KH Hasan Asy’ari atau lebih dikenal dengan nama Mbah Mangli bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia bisa mengisi pengajian di Mangli, namun pada saat bersamaan juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta dan bahkan Sumatera.
Ia juga tidak memerlukan pengeras suara (loud speaker) untuk berdakwah seperti halnya kebanyakan kiai lainnya. Padahal jamaah yang menghadiri setiap pengajian Mbah Mangli mencapai puluhan ribu orang.
Menurut sesepuh Dusun Mangli, Mbah Anwar (75) warga Mangli sangat menghormati sosok Mbah Mangli. Bahkan meski sudah meninggal sejak akhir tahun 2007, nama Mbah Mangli tetap harum. Setiap hari ratusan pelayat dari berbagai daerah memadati makam Mbah Mangli yang berada di dalam kompleks pondok.
Tokoh sekaliber Gus Dur semasa hidup juga acap berziarah ke makam tersebut. Ini tak terlepas dari sosok kharismatik Mbah Mangli yang menyebarkan Islam di lereng pegunungan Merapi-Merbabu-Andong dan Telomoyo. Ia juga merupakan Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.
Mbah Mangli-lah yang berhasil mengislamkan kawasan yang dulu menjadi markas para begal dan perampok tersebut. Pada masa itu daerah tersebut dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Compleks (MMC).
”Tantangan beliau sangat berat. Para begal membabat lahan pertanian penduduk dan mencemari sumber mata air pondok. Warga Mangli sendiri belum shalat meski sudah Islam. Kebanyakan warga kami hanya Islam KTP,” ungkap Kepala Dusun Mangli Suprihadi.
Dusun Mangli terletak di persis di lereng Gunung Andong. Dengan ketinggian 1.200 dpl, bisa jadi ponpes ini adalah yang tertinggi di Jawa Tengah. Dari teras masjid, para santri bisa melihat hamparan rumah-rumah di Kota Magelang dan Temanggung dengan jelas. Pemandangan lebih menarik terlihat pada malam hari di mana lautan lampu menghias malam.
Untuk ke lokasi ini, kita harus menempuh perjalanan sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Magelang di Kota Mungkid.
Bangunan pondok yang berada di tengah-tengah perkampungan berdiri di atas lereng-lereng bukit sehingga dari kejauhan terlihat seperti bangunan bertingkat. Meski terpencil ribuan masyarakat setiap Minggu mengaji ke pondok tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Magelang namun juga berbagai daerah lain. Uniknya, santri yang menetap tidak pernah lebih dari 41 orang.
Secara khusus Mbah Mangli mendidik para santrinya di sebuah pesantren sederhana di lereng gunung Andong. Tempat pesantren itulah yang kemudian dikenal sebagai desa Mangli yang terletak di perbatasan kecamatan Grabag dan Ngablak, kurang lebih 25 km arah timur laut kota Magelang. Mbah Mangli merupakan salah satu penganut tarekat Nahsyabandiyyah.
Dengan arif, Mbah Mangli tidak melawan berbagai ancaman dan gangguan tersebut. Ia justru mendoakan mereka agar memeroleh kebahagiaan dan petunjuk dari Allah SWT. Keikhlasan, kesederhanaan dan ketokohan ini pula yang membawa Mbah Mangli dekat dengan mantan wapres Adam Malik dan tokoh-tokoh besar lainnya.
Didikan Sang Ayah
Mbah Mangli atau Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilahirkan pada hari Jum’at legi tanggal 17 Agustus 1945 jam 02.00 malam, yang keesokan harinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta. Tempat kelahiran beliau adalah di Dukuh Nepen Desa Krecek kecamatan Pare Kediri Jawa Timur.
Sebelum berangkat ibadah haji, nama beliau adalah Muhammad Bahri, putra bungsu dari bapak Muhammad Ishaq. Meskipun dilahirkan dalam keadaan miskin harta benda, namun mulia dalam hal keturunan. Dari sang ayah, beliau mengaku masih keturunan Sultan Hasanudin bin Sunan Gunung Jati, dan dari sang ibu beliau mengaku masih keturunan KH Hasan Besari Tegal Sari Ponorogo Jawa Timur yang juga masih keturunan Sunan Kalijogo.
Pada masa kecil Syaikh Ahmad Jauhari Umar dididik oleh ayahanda sendiri dengan disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Diantaranya adalah menghafal kitab taqrib dan maknanya dan mempelajari tafsir Al-Qur’an baik ma’na maupun nasakh mansukhnya.
Masih di antara kedisiplinan ayah beliau dalam mendidik adalah: Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak diperkenankan berteman dengan anak-anak tetangga dengan tujuan supaya Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak mengikuit kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak tetangga.
Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilarang merokok dan menonton hiburan seperti orkes, wayang, ludruk dll, dan tidak pula boleh meminum kopi dan makan di warung. Pada usia 11 tahun Syaikh Ahmad Jauhari Umar sudah mengkhatamkan Al-Qur’an semua itu berkat kegigihan dan disiplin ayah beliau dalam mendidik dan membimbing.
Orang tua Syaikh Ahmad Jauhari Umar memang terkenal cinta kepada para alim ulama terutama mereka yang memiliki barakah dan karamah. Ayah beliau berpesan kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar agar selalu menghormati para ulama.
Jika sowan (berkunjung) kepada para ulama supaya selalu memberi uang atau jajan (oleh-oleh). Pesan ayahanda tersebut dilaksanakan oleh beliau, dan semua ulama yang pernah diambil manfaat ilmunya mulai dari Kyai Syufa’at Blok Agung Banyuwangi hingga KH Dimyathi Pandegelang Banten, semuanya pernah diberi uang atau jajan oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar.
Setelah mengasuh majelis taklim selama 3 tahun, Hasan Asy’ari kemudian menikah dengan Hj Ning Aliyah dari Sokaraja, Cilacap. Pada 1959, Mbah Mangli mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi. Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Ponpes Mangli dan sosok Hasan Asy’ari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Nama ini diberikan masyarakat karena ia menyebarkan Islam dengan basis dari Kampung Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.
Di bawah bayang pohon pinus dengan kesejukan hawa dingin pegunungan dan dalam suasana hening diharapkan para santri dapat membiasakan diri berpikir dengan kepala dingin, bukan dengan ledakan nafsu dan amarah. Kejernihan mata air Mangli dipercaya dapat menjernihkan hati dan pikiran para santri agar mampu menjadi manusia yang jernih dalam berpikir, berucap dan bertindak sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad.
Ketenaran pesantren Mangli menebar ke seantero Nusantara. Hal ini terbukti dengan beragam asal usul para santri yang menuntut ilmu. Santri dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Pasundan, Sumatera hingga Kalimantan, bahkan Sulawesi banyak yang kerasan berguru kepada Mbah Mangli.
Selain mendidik umat lewat pesantren, Mbah Mangli juga aktif melakukan dakwah dan syiar agama Islam ke berbagai wilayah. Di desa Mejing wilayah kecamatan Candimulyo, bahkan Mbah Mangli secara khusus menggelar pengajian rutin bertempat di sebuah langgar atau surau yang dikenal sebagai langgar Linggan. Berbagai kalangan umat Islam datang berbondong-bondong untuk mendengarkan nasehat dan petuah kiai kharismatik tersebut dengan penuh kekhidmatan.
Pengajian di masa lalu memang hampir tanpa sentuhan teknologi canggih seperti zaman sekarang. Jangankan peralatan perekam maupun dokumentasi foto, sekedar pengeras suara pun masih jarang bisa dijumpai.
Kita bisa bayangkan seperti apakah suasana pengajian akbar tanpa pengeras suara? Namun inilah salah satu kasekten Mbah Mangli sebagaimana diceritakan sebagian orang. Konon meskipun tanpa pengeras suara, seluruh jamaah pengajian yang hadir di tempat pengajian, apakah di sebuah masjid ataupun di sebuah lapangan terbuka, selalu dapat mendengar tausiyah Mbah Mangli dengan jelas dan terang. Meskipun jumlah jamaah ratusan, bahkan ribuan orang, dari berbagai posisi yang dekat hingga terjauh dapat mendengar suara Mbah Mangli.
Konon lagi pada saat pengajian bubar, selepas mengucap salam penutup, Mbah Mangli langsung dapat berjalan dengan kecepatan kilat meninggalkan arena pengajian untuk berpindah medhar sabdo di tempat lain. Konon pula Mbah Mangli setiap hari Jumat selalu ngrawuhi sholat Jumat di Masjidil Haram. Inilah yang disebut sebagai ilmu melipat bumi, dalam sakedeping mata bisa berpindah tempat di berbagai penjuru dunia.
Keistimewaan Mbah Mangli yang lain, ia dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka dan langsung dapat memberikan nasehat dengan tepat sasaran. Pernah seorang jamaah datang ke pengajian dengan membawa uang ibunya yang semestinya dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Di tengah pengajian, Mbah Mangli langsung menyindir orang tersebut dan menasehatinya agar uang tersebut dikembalikan dan ia segera memohon maaf kepada ibunya tersebut.
Pernah juga seorang tamu datang ke pesantren Mbah Mangli. Sejak dalam perjalanan sang tamu tersebut sudah membayangkan mendapatkan suguhan buah jeruk yang sangat ranum dan menghilangkan rasa dahaganya selepas menempuh perjalanan jauh. Dan sesampainya di tempat Mbah Mangli, apa yang ia dapatkan? Mbah Mangli benar-benar menyuguhinya dengan hidangan jeruk keprok yang sangat segar. Pucuk dicinta ulampun tiba!
Sifat istikomah Mbah Mangli dalam menyikapi perkembangan teknologi tergolong sangat unik. Beliau tidak pernah menggunakan pengeras suara maupun peralatan listrik dalam setiap kegiatan di pondok pesantrennya. Dalam acara pengajian maupun khotbah jumat tidak pernah ada pengeras suara, hal ini masih tetap dilestarikan hingga kini. Penggunaan listrik hanya terbatas untuk penerangan kegiatan belajar mengajar.
Adapun radio dan televisi, apalagi handphone dan internet, sama sekali tidak menyentuh pesantren Mbah Mangli. Kini sosok Mbah Kiai Mangli memang sudah wafat pada akhir tahun 1997, namun pengajian Ahad pagi yang digelar di pesantren beliau tetap berlangsung rutin di bawah asuhan salah seorang menantu beliau, dan masih ratusan jamaah hadir menimba ilmu.
Di zaman itu memang seorang kiai benar-benar diyakini sangat karib dengan Gusti Allah, sehingga ia benar-benar berkedudukan sangat istimewa bahkan dipercaya sebagai waliyullah. Maka tak heran doa seorang ulama kharismatik dipercaya sangat makbul dan mujarab.
Inilah barangkali magnet daya tarik sehingga umat mau mendekat, mendengar setiap nasihat penuh khidmat, dan kemudian berujung kepada pengamalan ajaran agama dengan penuh kemantapan rasa iman dan ketaqwaan. Inilah kunci ketentraman jiwa, lahir dan batin yang akan berdampak luas terhadap ketentraman serta keguyuban masyarakat, bangsa dan negara. (Aji Setiawan)
http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,47534-lang,id-c,tokoh-t,Mbah+Mangli++Mursyid+Kharismatik+Penakluk+Para+Begal-.phpx
Rabu, 09 Oktober 2013
Membumikan Shalawat Bersama Rukun Rencang
Senin sore itu puluhan muda
mudi yang notabene adalah kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta duduk melingkar sembari
membaca Ratib Hadad. Memang setiap senin sore Paguyuban Seni Rukun
Rencang membiasakan membaca ratib ini untuk membentengi jamaah dengan
iman dan takwa. Selepas membaca Ratib Hadad, seorang ustadz kemudian
memberikan tausyiah singkat seputar keislmaan.
Paguyuban Seni Rukun Rencang
memiliki pengalaman sejarah yang cukup dinamis dan berliku meskipun
masih berusia muda. Group nasyid Rukun Rencang berdiri pada tanggal 6
Februari 2000 di basecamp Gandok, Tambakan, Jl. Kaliurang km 9.2,
Sleman Yogyakarta.
Cikal bakal berdirinya Rukun
Rencang sebenarnya sudah ada sejak bulan Agustus tahun 1999, tepatnya
sebelum kegiatan Pekan Ta’aruf (nama kegiatan seperti halnya ospek
kampus), Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia
(FTI UII) tahun 1999. Awalnya group rukun rencang ini terdiri
dari Mochamad Maruly Syarief (Aroel), Aji Setiawan (Mas Aji), Izzad
Sofyan Amrullah, Denny Fitanto, Kholid Haryono (Oon), Nandang Gumelar
dan Agham Satria Pristiwadji.
Rukun Rencang berdiri hanya
dengan bermodalkan keinginan, kemauan, keikhlasan dan alat seadanya.
Beberapa orang mencoba untuk menentramkan dan menyejukkan hati ini
dengan bershalawat. Orang-orang yang notabene menjadi aktivis di
kampus FTI UII ini merasa berubah suasana hatinya setelah melantunkan
shawalat.
Alat-alat yang digunakan sebagai
media bershalawat pada saat itu pun menggunakan alat-alat seadanya,
seperti ember, tembok dan alat-alat lain yang bisa menimbulkan bunyi.
Saat itu pun tidak ada perhatian dari lingkungan kampus dan bahkan
dianggap ‘kurang kerjaan’.
Dengan kemauan tersebut maka
cikal bakal dari Rukun Rencang tersebut memberanikan diri untuk
mengajak bershalawat secara terbuka pada mahasiswa baru FTI UII
secara khusus dan masyarakat kampus secara umum, pada acara Pekan
Ta’aruf, FTI UII bulan September tahun 1999.
Setelah pementasan yang pertama
kali di dalam kampus FTI UII, selang beberapa minggu, tepatnya pada
bulan Ramadhan tahun 1999, group nasyid FTI UII (nama awal dari Rukun
Rencang) mendapat undangan dari Fakultas Hukum, UII untuk mengisi
acara pentas seni dalam rangka merayakan malam Lailatul Qodar. Mulai
dari sinilah group nasyid FTI UII yang saat itu belum memiliki nama
mulai dikenal di luar lingkungan kampus FTI UII.
Dalam jangka waktu kurang lebih
dua bulan group nasyid FTI UII ini mengajak saudara-saudaranya yang
gemar bershalawat untuk bersama-sama mengkumandangkan shalawat.
Pada tanggal 6 Februari 2000
beberapa personel group nasyid FTI UII yang terdiri dari Mochamad
Maruly Syarief (Aroel), Izzad Sofyan Amrullah, Denny Fitanto, Kholid
Haryono (Oon), Nandang Gumelar, Agham Satria Pristiwadji, ditambah
beberapa personel baru yaitu Waskito Sukarno (Itho), Hendro Handoko,
Wiratno (Ciwir), Teuku Reza Pahlevi (Reza), Eva Desi, Ricca Laila
Rosemeilia (Icca), yang menginginkan shalawat lebih membumi dan tidak
terkesan eksklusif. Saat itu pula diproklamirkan berdirinya Group
Nasyid Alternatif Rukun Rencang dengan visi “Kita Bersama
Menjadi Umat Muhammad saw” dan misi “Bersama Kita
Membumikan Shalawat”.
Nama “Rukun Rencang” diambil
dari bahasa Jawa yang artinya teman-teman yang selalu rukun. Nama
tersebut diberikan oleh ibunda dari salah satu pendiri Rukun Rencang
– Agham Satria Pristiwadji.
Regenerasi
Selama kurang lebih satu tahun eksis, Rukun Rencang yang para anggotanya adalah mahasiswa tingkat akhir FTI UII memiliki keinginan untuk mencoba mencari kader yang nantinya akan menjadi penerus Rukun Rencang dalam membumikan shalawat.
Selama kurang lebih satu tahun eksis, Rukun Rencang yang para anggotanya adalah mahasiswa tingkat akhir FTI UII memiliki keinginan untuk mencoba mencari kader yang nantinya akan menjadi penerus Rukun Rencang dalam membumikan shalawat.
Sekitar pertengahan bulan Mei
tahun 2001, Rukun Rencang membuka pendaftaran untuk anggota baru.
Pada waktu itu pendaftaran dibuka untuk mahasiswa FTI UII saja, namun
tidak menutup kemungkinan apabila dikemudian hari anggotanya tidak
hanya mahasiswa FTI UII saja.
Dalam jangka waktu satu minggu
terdapat 40 mahasiswa yang antusias mendaftarkan diri menjadi anggota
Rukun Rencang. Dari situ timbul keinginan dari beberapa ersonel Rukun
Rencang untuk membuat sebuah paguyuban untuk menampung semua aspirasi
dari para anggota.
Tanggal 1 Juli 2001 pukul 15.10
wib di Wisma Kaliurang, telah dideklarasikan berdirinya Paguyuban
Seni Rukun Rencang, Yogyakarta, dengan jumlah anggota kurang lebih 65
orang. Berawal dari situ lah maka Paguyuban Seni Rukun Rencang
bertekad dan berikhtiar untuk tetap membumikan shalawat dengan
menggunakan musik sebagai medianya.
Rukun Rencang merupakan sebuah
komunitas seni yang didirikan untuk membina kerukunan atau ukhuwah
antara sesama anggotanya. Pemilihan bentuk paguyuban sebagai wadah
untuk mengekspresikan diri dikarenakan sistem birokrasi yang dimiliki
oleh organisasi yang dinilai terlalu bertele-tele dan tidak efektif
waktu.
“Suatu kreativitas, lebih-lebih
kreativitas seni akan susah dikembangkan apabila terkurung oleh
aturan-aturan yang menghambatnya, dari sisi waktu,” lanjut Maruli
Syarief.
Paguyuban. dalam arti
katanya, paguyuban bisa diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan
orang-orang yang sepaham untuk membina persatuan atau kerukunan di
antara para anggota. Rukun Rencang merupakan suatu aktivitas
mahasiswa kampus yang ingin guyub dan berkreasi seni dalam
koridor shalawat. Secara otomatis dengan dipilihnya bentuk paguyuban
inilah aturan-aturan yang ditetapkan oleh para pendiri bersifat lebih
humanis, bebas, tidak ingin merasa terbatasi oleh birokrasi yang
berbelit-belit.
Semangat
“Seperti halnya organisasi yang memiliki Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Rukun Rencang yang berbentuk paguyuban juga memiliki hal yang mirip, hanya saja penyebutannya bukan AD/ART, tetapi diganti dengan nama lain yaitu : Semangat,” kata Mohammad Maruli Syarief ,salah satu sesepuh Rukun Rencang Yogyakarta.
“Seperti halnya organisasi yang memiliki Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Rukun Rencang yang berbentuk paguyuban juga memiliki hal yang mirip, hanya saja penyebutannya bukan AD/ART, tetapi diganti dengan nama lain yaitu : Semangat,” kata Mohammad Maruli Syarief ,salah satu sesepuh Rukun Rencang Yogyakarta.
Kembali ke khitah, inilah sebutan
untuk proses mengembalikan budaya-budaya yang telah dimunculkan oleh
para pendiri paguyuban Rukun Rencang. Budaya silaturahim, budaya
saling menghargai, budaya bekerja dengan niat ibadah, budaya
berkreativitas dimana kesemuanya merupakan budaya yang tidak lekang
oleh jaman dan masih relevan ketika dijalankan untuk masa yang
panjang. Budaya-budaya seperti itulah yang akan mendukung para
anggota paguyuban untuk memupuk diri dalam mendapatkan nilai-nilai
manusia yang tidak diajarkan di bangku perkuliahan.
Para anggota paguyuban yang
terdiri dari berbagai suku dari berbagai penjuru di Indonesia ini
menyatukan dan meleburkan diri di dalam paguyuban. Interaksi di
dalamnya bukan merupakan interaksi yang kaku dan formal. Tetapi lebih
interaksi yang melibatkan emosional dan bersifat persaudaraan dan
kekeluargaan.
Bentuk perhatian satu sama lain
antar anggota membuat kondisi dalam paguyuban terasa hangat seperti
halnya sebuah keluarga. Ketika salah seorang dari anggota mendapatkan
musibah, maka hampir semua anggota paguyuban mengetahui kondisi
tersebut. Dan informasi yang bergulir sangat cepat. Segala bentuk
perhatian, seperti mendatanginya, atau sekedar mengirimkan pesan
singkat sms sebagai bentuk perhatian, hal ini menjadi budaya yang
indah dalam suatu komunitas. Kehangatan dan perhatian ini adalah
suatu hal yang mudah dan biasa, tetapi menimbulkan efek yang luar
biasa dalam diri pribadi anggota paguyuban. Dan kondisi-kondisi
seperti itulah dimana anggota paguyuban belum pernah mendapatkannya
di komunitas lain.
Budaya mengirimkan doa untuk
anggota yang sedang tertimpa musibah merupakan budaya yang jarang
ditemui di komunitas-komunitas lain. Sebuah budaya yang sederhana
namun istiqomah inilah yang melahirkan manusia-manusia yang loyal dan
menjadi militan, serta memiliki rasa kepemilikan yang besar terhadap
paguyuban.
Bisa disebut juga bahwa paguyuban
ini sebagai tempat rehabilitasi bagi orang-orang yang ingin berubah
menjadi manusia yang lebih baik. Berubah dan berpindah dari kehidupan
yang kelam, menjadi kehidupan yang indah dan diridhoi.
Metode-metode dakwah yang
diterapkan merupakan metode yang dibutuhkan oleh orang-orang yang
jauh dari agama. Hal ini didukung oleh bentuk paguyuban yang tidak
kaku dan menurunkan sifat ke-egoisan antar anggota paguyuban. Sebuah
cara berdakwah secara bertahap, berproses dan istiqomah. Karena
manusia berubah memerlukan sebuah proses. Bukan sebuah penghakiman
atas dirinya yang pernah melakukan kesalahan.
Seumur Hidup
“Ada sebuah keistimewaan lain
yang terdapat dalam paguyuban ini, yaitu sifat keanggotaan paguyuban
yang ‘seumur hidup’. Tidak ada istilah alumni atau keluar dari
paguyuban seni Rukun Rencang. Ketika menjadi anggota paguyuban, maka
secara otomatis dirinya menjadi anggota Rukun Rencang. Sampai
kapanpun, “ Tebe, salah satu personel grup Rukun Rencang kepada
alKisah baru-baru ini.
Karena anggota paguyuban ini
semakin hari semakin bertambah, maka cara untuk menjaga hubungan
silaturahmi menjadi titik fokus dan pemikiran, karena jarak yang jauh
memisahkan ketika anggota paguyuban tersebar di penjuru daerah.
Dengan adanya sifat keanggotaan
yang seumur hidup inilah para anggota yang pasif beraktivitas di
paguyuban menjadi tidak sungkan lagi untuk kembali mengakrabkan diri
ke paguyuban.
Komunikasi masih terjalin antara
para anggota paguyuban baik yang aktif mengurus paguyuban dengan yang
telah pasif, karena jarak yang jauh memisahkan. Tetapi jarak yang
jauh bukan kendala bagi mereka. Komunikasi melalui email, website,
sms, telepon, chatting, dan bahkan surat menjadi hal yang biasa
digunakan untuk mempertahankan silaturahim yang telah ada. Kehangatan
kekeluargaan. Kasih sayang. Perhatian. Rasa rindu. Ataupun sekedar
mencari informasi terkait paguyuban, menjadikan paguyuban seni Rukun
Rencang sebuah rumah kedua bagi mereka.
Kegiatan rutin lain selain
ratiban tiap hari senin, Grup Rukun rencang Yogyakarta juga aktif
mengikuti festival budaya yang ada di Yogyakarta, seperti FKY
(Festival Kesenian Yogyakarta), Festival Musik Se-DIY, tentu saja
aktif di kegiatan-kegiatan kampus di UII sendiri. Selain itu juga
Rukun rencang menerima tawaran show dari berbagai even organiser seni
yang ada di DIY bahkan luar daerah, samapi termasuk untuk mengisi
hiburan acara mantenan. Secara jadwal acara sudah sangat padat, kalau
untuk mengisi acara, paling tidak harus booking waktu satu
bulan sebelumnya.
Bagi
pembaca yang ingin berkomunikasi dengan pengelola Rukun Rencang
Yogyakarta bisa menghubungi melalui Email : rukunrencang@gmail.com,
Phone : 0857.6620.8889, FB : Facebook
RR, Twit : @rukunrencang.
Khusus bulan Maulid, Rukun
Rencang menyelenggarakan acara maulidan secara besar-besaran tiap
tahun. Beberapa waktu yang lalu pernah mengundang Habib Alwi bin Ali
bin Alwi bin Ali bin Muhammad Husein Al Habsyi dan juga Habib Syech
bin Abdul Qadir Assegaf dari Surakarta. Acara terakhir yang diisi
Rukun Rencang adalah menjadi musik pendamping pada acara Damai
Indonesiaku (TVOne) dan musik Religi di TVRI Yogyakarta (***) Aji
Setiawan
NU Kecamatan Bukateja Bangun Kantor Berlantai 2
Purbalingga, Majlis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWC-NU), Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah, saat ini tengah membangun dan merehabilitasi Gedung MWC NU Bukateja yang terletak di desa Bukateja, Kec. Bukateja.
Pembangunan Gedung NU itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan tokoh-tokoh NU se-kecamatan Bukateja pada bulan Syawal 1334 H, di Ponpes Darul Abror, Desa Kedungjati Kec BUkateja Kab Purbalingga Jawa Tengah. Untuk merekatkan hubungan tokoh-tokoh NU itu, MWC juga menggelar pengajian dwi mingguan sebagai upaya membentengi jami’yah dari gempuran aliran-aliran yang berseberangan dengan akidah ahlussunnah waljama’ah.
Pembangunan Gedung NU Kecamatan Bukateja dengan 2 lantai akan memakan biaya sekitar Rp 365.000.000,- karenanya dihimbau kepada warga NU se Kecamatan Bukateja agar segera menyalurkan dana bantuan ke masing-masing kepengurusan NU yang ada, baik di tingkat ranting maupun badan otonom NU Bukateja atau setor ke Bendahara. Panitia Pembangunan Gedung NU melalui Ibu Inayatul Imtihanah, HP: 08112602925, Rek BRI 0074-01-029088-50-9.
Sampai hari ini Kamis (26/9), bangunan gedung NU sudah dua lantai berdiri, tinggal bagian atap saja yang belum selesai atau bangunan lantai dua yang harus direhab. Selain itu, bagi warga NU yang ingin setor langsung berupa bahan bangunan bisa menghubungi Bpk Slamet melalui HP 082226820331.
Adapun kegiatan MWC NU lintas tokoh NU se kecamatan Bukateja sampai saat ini selalu disambut antusias oleh warga Nahdhiyin di kec Bukateja. Pengajian dwi mingguan selalu dihadiri oleh seluruh pimpinan Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga baik tingkat syuriah sampai ke tingkat tanfidziyah bahkan juga seluruh jajaran badan otonom NU seperti Ansor, Muslimat, Fatayat. “Majlis Wakil Cabang Nahlatul Ulama Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah mennggelar pengajian dwi mingguan ini sebagai upaya membentengi jami’yah dari gempuran aliran-aliran yang berseberangan dengan akidah ahlussunnah waljama’ah,” kata KH Abror Mushodiq yang juga adalah ketua Forum Komunikasi Tokoh NU se Kec Bukateja.
Menurut salah satu anggota Tim Bahsul Masail MWC NU Kec Bukateja, KH Arif Musodiq menceritakan awal pengajian ini dmana pengajian rutin dwi mingguan MWC Kec Bukateja ini adalah forum komunikasi tokoh tokoh Nahdhlatul Ulama yang ada di kec Bukateja. Perlu diketahui forum ini telah berdiri bulan Syawal 1334 H dan kegiatan dikerjakan berkolaborasi antara NU, Muslimat, GP Ansor, Fatayat Ma’arif baik tingkat desa maupun kecamatan se-Kecamatan Bukateja. ”Kegiatan pengajian ahad pagi ini lintas partai politik. Boleh diikuti oleh siapa saja mulai dari PPP, PKB, Gerindra, Golkar, Nasdem pokoknya bisa semua partai politik bisa ikut, yang penting niat lillahy Ta’ala.”
”Pengajian ini umum keliling dan diselenggarakan oleh tiap ranting NU dengan pembicara dari tokoh NU yang dipilih oleh pimpinan setempat. Demkian pun untuk tim Bahtsul Masail untuk menjawab pertanyaan dari jamaah yang diajukan pada pengajian sebelumnya. Ada Tim Sepuluh yang berisi tokoh-tokoh NU yang tugasnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditulis oleh jama’ah yang hadir,” terang KH Arif Mushodiq.
Tim sepuluh itu anggotanya Kiai-kiai , KH Saifudin , KH Salbani, KH Muhammadun, KH Mualimj, KH Salimi, KH Nasuha dll. “Materi sudah dibagi-bagi oleh Tim Materi untuk menjawab pertanyaan jamaah. Tema pengajian dwi mingguan ini selain keorganisasian dan amaliyah Aswaja ada juga dibahas bab Tawasul, Qunut, Faham-faham yang berseberangan dengan Aswaja, Shalat Tarawih, Qodho Sholat dll.
Sekretaris tokoh NU se-Kec Bukateja H Muhtamil S Ag menyatakan bahwa di kec Bukateja ada sekitar 40.000 warga NU.”Jadi kalau iuaran per warga bisa dihitung Rp 10.000,- per anggota NU se- kecamatan Bukateja,” kata H Muhtamil. (Aji Setiawan)
http://www.berita9online.com/nu-kecamatan-bukateja-bangun-kantor-berlantai-2/
Tingkatkan Kebersamaan Menuju Persatuan Umat Islam
Tingkatkan
Kebersamaan Menuju Persatuan Umat Islam
Perbedaan
khilafiyah dalam umat Islam sering memecah umat Islam sendiri. Kalau ini
dibiarkan tentu akan membuat perbedaan sendiri. Dengan Tablig akbar ini kita
berharap bisa mempersatukan umat Islam
Lapangan selatan GOR Goentoer Darjono , kelurahan Purbalingga Kidul Kab
Purbalingga malam Sabtu malam Minggu 5 Oktober 2013 (5/10) tak biasanya sudah
ramai penuh sesak oleh ribuan jamaah yang hadir dari berbagai penjuru Kab
Purbalingga Jawa Tengah. Sebuah panggung besar terpasang di sebelah barat lapangan.
Serombongan anak muda dari santri-santri Ponpes Darul Rohman, Kalikabong
kecamatan Kalimanah Kab Purbalingga melantunkan shalawat dan membaca Maulid
Simthud Durar secara bergantian. Lantunan shalawat tak pelak disambut dengan
liukan bendera dari anak-anak muda yang membawa bendera Nahdlatul Ulama dan
berbagai majelis Taklim yang ada di Kab Purbalingga.
Selepas pembacaan Maulid, acara disambung dengan sambutan dari panitia.
”Tablik akbar yang ketiga ini akan di selenggarakan pada bulan Syawal yang
lalu, namun karena kesibukan pembicara yang hadir sehingga pada malam ini bisa
terselenggara. Namun karena pembicara yang diharapkan yakni Habib Thohor dalam
keadaan sakit. Oleh karena dengan permohonan maaf, pembicara menyampaikan salam
kepada hadirin sekalian dan memohon doa agar cepat sembuh,” kata Drs Suroto,
M.Si mewakili panitia.
“Majlis Dzikir Darul Taubat ini adalah sebagai media untuk mengasah diri dan
membentengi diri jamaah dari gempuran jaman. Kita juga merasakan perbedaan
khilafiyah dalam umat Islam sering memecah umat Islam sendiri. Kalau ini
dibiarkan tentu akan membuat perbedaan sendiri. Dengan Tablig akbar ini kita
berharap bisa mempersatukan umat Islam,”kata Drs Suroto yang juga adalah
pembina Majlis Taklim dan Dzikir Darul Raubat Kab Purbalingga.
Selepas sambutan panitia acara berlanjut dengan sambutan Bupati Purbalingga,
Drs H Sukento Ridho Marhendrianto, MM. Dalam sambutannya Bapak Bupati
menyatakan acara ini sangat berguna dan bermanfaat. “Kepada panitia ini
mudah-mudahan acara ini bermanfaat karena di tempat ini biasanya mejadi ajang
maksiat, mudah-mudahan di tempat ini menjadi tempat yang baik. Alhamdulillah
panitia bisa menyelenggarakan acara seperti ini,” kata Drs H Sukento kepada
jamaah.
Selain
itu Bapak Bupati juga mengajak jamaah agar mendoakan agar Purbalingga
pembangunannya semakin lancar dan menjadi kabupaten yang “gemah ripah loh
jinawi lan toto tentrem kerto raharjo.
Sehabis sambutan
Gus Panggok, pengasuh Pondok Pesantren Darul Rohman Kalikabong Kec Kalimanah
Kab Purbalingga acara bersambung dengan taushiyah utama oleh Habib
Husein bin Abu Bakar bin Salim dari Sokaraja Kab Banyumas. “Alhamdulillah tadi
dibacakan mauled Nabi Muhammad SAW. Ini menandakan jamaah senang dengan kanjeng
Nabi SAW. Kanjeng Nabi SAW pernah berucap: “Al-mar'u ma'a man ahabba,
seseorang akan bersama dengan yang ia cintai”.
Sebagaimana juga kita cinta dengan Nabi Muhammad SAW apakah kita sudah sampai
mencontoh kesabaran, kelomanan, jiwa pertolongan beliau, Nabi Muhammad SAW.
”Pada jaman Rasulullah SAW, orang masuk Islam bukan karena mukjizat tapi orang
masuk Islam karena kesabaran dan ketabahan Rasulullah SAW,” tegas Habib Husein.
Dalam kesempatan itu Habib Husein juga menjelaskan tentang orang-orang yang
tidak mendapatkan Rahmat Allah SWT. Pertama orang yang selalu berkacak
pinggang, orang yang berani kepada orang tua dan perempuan yang selalu
berpakaian seperti laki-laki dan sebaliknya.
“Kalau kita cinta dengan Kanjeng Nabi, cintanya di mana?” Tanya Habib Husein
kepada jamaah.
Siti Khotijah mendermakan seluruh harta bendanya untuk perjuangan Rasulullah
SAW. Pernah suatu waktu Nabi Muhammad SAW sedang jalan-jalan ada suara yang
mengucap salam,”Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu…,”
Kanjeng
Nabi menjabawab,” Wa’alaikum salam warahmatullahi Wabarakatuhu..
Kanjeng
lalu ber jalan lalu terdengar lagi suara yang uluk salam, betapa terkejutnya
kanjeng Nabi ternyata suara yang beruluk salam adalah seekor kijang. Kemudian
terjadilah dialog antara Kanjeng Nabi nabi SAW dengan seekor Kijang.
Ternyata
Kijang itu ternyata tengah disandera oleh orang-orang Yahudi, sehingga sang
kijang itu meminta kepada Kanjeng Nabi agar dia dilepaskan oleh sandera
orang-orang Yahudi. Kemudian Kanjeng Nabi SAW meminta kepada orang-orang Yahudi
agar melepaskan sang kijang, karena sang KIjang itu masih menyusui
anak-anaknya.
Dalam kesempatan itu Habib Husein
bin Abubakar bin Salim juga mengungkapkan tentang keistimewaan Nabi Muhammad
SAW. Di mana Nabi Muhammad SAW adalah tercipta dari Nur Nya Allah SWT. Kanjeng
Nabi Muhammad SAW adalah manusia tapi bukan seperti manusia biasa. “Baginda
Nabi Muhammad SAW kadang tidak makan sampai tiga hari, bahkan sampai perutnya
diganjal dengan batu, tidak seperti kita baru tidak makan sehari saja sudah
banyak mengeluh,” kata Habib Husein.
Kedudukan Nabi Muhammad SAW
sangat tinggi di sisi Allah SWT karena Allah SWT sendiri menyanjungnya tidak
sebagaimana Nabi dan manusia-manusia yang ada. ”Allah SWT sendiri menyampaikan
salam langsung kepada Nabi Muhammad SAW,” kata Habib Husein.
Dalam kesempatan itu Habib Husein
juga mengijazahkan wirid; ” Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah
wallahu akbar. Wala haula wala quwwata Illa billahil aliyil adzim,” agar
jamaah selalu mendapat perlindungan Allah SWT dan dalam keadaan sehat wal
‘afiat. Selain itu Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah s.a.w. berkata :
"Membaca Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar
lebih aku sukai daripada seisi dunia." (Hadith Riwayat Muslim).
Selepas taushiyah terakhir oleh KH Abdul Aziz dari Comal Kab Pemalang acara
langsung ditutup tepat pukul 12.00 oleh Habib Alwi in Ahmad bin Alwi bin Ahmad
Ba’abud. (***) Aji Setiawan
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)