Jumat, 11 Oktober 2013

Tulislah..

Salam,
Berpuluh teman menulis surat melalui email, sms, facebook untuk menularkan ilmu menulis. Tentu sebuah tantangan menarik.
Saya mau menurunkan seluruh ilmu menulis saya, tapi ilmu menulis bukan ilmu sulap yang begitu, Sim Salabim langsung bisa terjadi.
Ada banyak ragam jenis tulisan.
Ada banyak media yang menerima tulisan. (catat alamat email redaksinya)
Ada banyak rubrik di media
Ada banyak kesempatan waktu untuk menulis, menulis apa saja.
Ok..
Buatlah sebuah tulisan yang menarik, bisa dari sebuah peristiwa atau dari kemenarikan dan keber penting nya sebuah tulisan. Bila perlu dilampiri foto.
Kirimlah ke email redaksi media tersebut, jangan lupa juga langsung dilampiri Bank rekening anda.. So tunggu deh hasilnya.
Jangan pernah berhenti belajar.
Bila anda gagal, anda perlu ber KKN (Kolusi, Kongkalikong dan Nepotisme) dalam menulis.
Caranya,
Apabila anda mengundang orang yang bekerja di media, mintalah kartu namanya dan emailnya dan tanyalah apakah bisa menerima tulisan..
Gitu saja kok repot!

Aji Setiawan
081229667400

Kamis, 10 Oktober 2013

Mbah Mangli, Mursyid Kharismatik Penakluk Para Begal

Pondok Pesantren Mangli merupakan salah lembaga pendidikan yang unik dan menarik. Banyak ulama besar yang dicetak oleh pesantren ini. Sepak terjang pesantren tasawuf ini tidak terlepas dari sosok sang pendiri yang memiliki banyak cerita keajaiban.

Berdasar cerita yang beredar di masyarakat, KH Hasan Asy’ari atau lebih dikenal dengan nama Mbah Mangli bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia bisa mengisi pengajian di Mangli, namun pada saat bersamaan juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta dan bahkan Sumatera.

Ia juga tidak memerlukan pengeras suara (loud speaker) untuk berdakwah seperti halnya kebanyakan kiai lainnya. Padahal jamaah yang menghadiri setiap pengajian Mbah Mangli mencapai puluhan ribu orang.

Menurut sesepuh Dusun Mangli, Mbah Anwar (75) warga Mangli sangat menghormati sosok Mbah Mangli. Bahkan meski sudah meninggal sejak akhir tahun 2007, nama Mbah Mangli tetap harum. Setiap hari ratusan pelayat dari berbagai daerah memadati makam Mbah Mangli yang berada di dalam kompleks pondok.

Tokoh sekaliber Gus Dur semasa hidup juga acap berziarah ke makam tersebut. Ini tak terlepas dari sosok kharismatik Mbah Mangli yang menyebarkan Islam di lereng pegunungan Merapi-Merbabu-Andong dan Telomoyo. Ia juga merupakan Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.

Mbah Mangli-lah yang berhasil mengislamkan kawasan yang dulu menjadi markas para begal dan perampok tersebut. Pada masa itu daerah tersebut dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Compleks (MMC).

”Tantangan beliau sangat berat. Para begal membabat lahan pertanian penduduk dan mencemari sumber mata air pondok. Warga Mangli sendiri belum shalat meski sudah Islam. Kebanyakan warga kami hanya Islam KTP,” ungkap Kepala Dusun Mangli Suprihadi.

Dusun Mangli terletak di persis di lereng Gunung Andong. Dengan ketinggian 1.200 dpl, bisa jadi ponpes ini adalah yang tertinggi di Jawa Tengah. Dari teras masjid, para santri bisa melihat hamparan rumah-rumah di Kota Magelang dan Temanggung dengan jelas. Pemandangan lebih menarik terlihat pada malam hari di mana lautan lampu menghias malam.

Untuk ke lokasi ini, kita harus menempuh perjalanan sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Magelang di Kota Mungkid.

Bangunan pondok yang berada di tengah-tengah perkampungan berdiri di atas lereng-lereng bukit sehingga dari kejauhan terlihat seperti bangunan bertingkat. Meski terpencil ribuan masyarakat setiap Minggu mengaji ke pondok tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Magelang namun juga berbagai daerah lain. Uniknya, santri yang menetap tidak pernah lebih dari 41 orang.

Secara khusus Mbah Mangli mendidik para santrinya di sebuah pesantren sederhana di lereng gunung Andong. Tempat pesantren itulah yang kemudian dikenal sebagai desa Mangli yang terletak di perbatasan kecamatan Grabag dan Ngablak, kurang lebih 25 km arah timur laut kota Magelang. Mbah Mangli merupakan salah satu penganut tarekat Nahsyabandiyyah.

Dengan arif, Mbah Mangli tidak melawan berbagai ancaman dan gangguan tersebut. Ia justru mendoakan mereka agar memeroleh kebahagiaan dan petunjuk dari Allah SWT. Keikhlasan, kesederhanaan dan ketokohan ini pula yang membawa Mbah Mangli dekat dengan mantan wapres Adam Malik dan tokoh-tokoh besar lainnya.

Didikan Sang Ayah

Mbah Mangli atau Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilahirkan pada hari Jum’at legi tanggal 17 Agustus 1945 jam 02.00 malam, yang keesokan harinya bertepatan dengan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta. Tempat kelahiran beliau adalah di Dukuh Nepen Desa Krecek kecamatan Pare Kediri Jawa Timur.

Sebelum berangkat ibadah haji, nama beliau adalah Muhammad Bahri, putra bungsu dari bapak Muhammad Ishaq. Meskipun dilahirkan dalam keadaan miskin harta benda, namun mulia dalam hal keturunan. Dari sang ayah, beliau mengaku masih keturunan Sultan Hasanudin bin Sunan Gunung Jati, dan dari sang ibu beliau mengaku masih keturunan KH Hasan Besari Tegal Sari Ponorogo Jawa Timur yang juga masih keturunan Sunan Kalijogo.

Pada masa kecil Syaikh Ahmad Jauhari Umar dididik oleh ayahanda sendiri dengan disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Diantaranya adalah menghafal kitab taqrib dan maknanya dan mempelajari tafsir Al-Qur’an baik ma’na maupun nasakh mansukhnya.

Masih di antara kedisiplinan ayah beliau dalam mendidik adalah: Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak diperkenankan berteman dengan anak-anak tetangga dengan tujuan supaya Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak mengikuit kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak tetangga.

Syaikh Ahmad Jauhari Umar dilarang merokok dan menonton hiburan seperti orkes, wayang, ludruk dll, dan tidak pula boleh meminum kopi dan makan di warung. Pada usia 11 tahun Syaikh Ahmad Jauhari Umar sudah mengkhatamkan Al-Qur’an semua itu berkat kegigihan dan disiplin ayah beliau dalam mendidik dan membimbing.

Orang tua Syaikh Ahmad Jauhari Umar memang terkenal cinta kepada para alim ulama terutama mereka yang memiliki barakah dan karamah. Ayah beliau berpesan kepada Syaikh Ahmad Jauhari Umar agar selalu menghormati para ulama.

Jika sowan (berkunjung) kepada para ulama supaya selalu memberi uang atau jajan (oleh-oleh). Pesan ayahanda tersebut dilaksanakan oleh beliau, dan semua ulama yang pernah diambil manfaat ilmunya mulai dari Kyai Syufa’at Blok Agung Banyuwangi hingga KH Dimyathi Pandegelang Banten, semuanya pernah diberi uang atau jajan oleh Syaikh Ahmad Jauhari Umar.

Setelah mengasuh majelis taklim selama 3 tahun, Hasan Asy’ari kemudian menikah dengan Hj Ning Aliyah dari Sokaraja, Cilacap. Pada 1959, Mbah Mangli mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi. Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Ponpes Mangli dan sosok Hasan Asy’ari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Nama ini diberikan masyarakat karena ia menyebarkan Islam dengan basis dari Kampung Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Di bawah bayang pohon pinus dengan kesejukan hawa dingin pegunungan dan dalam suasana hening diharapkan para santri dapat membiasakan diri berpikir dengan kepala dingin, bukan dengan ledakan nafsu dan amarah. Kejernihan mata air Mangli dipercaya dapat menjernihkan hati dan pikiran para santri agar mampu menjadi manusia yang jernih dalam berpikir, berucap dan bertindak sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad.

Ketenaran pesantren Mangli menebar ke seantero Nusantara. Hal ini terbukti dengan beragam asal usul para santri yang menuntut ilmu. Santri dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Pasundan, Sumatera hingga Kalimantan, bahkan Sulawesi banyak yang kerasan berguru kepada Mbah Mangli.

Selain mendidik umat lewat pesantren, Mbah Mangli juga aktif melakukan dakwah dan syiar agama Islam ke berbagai wilayah. Di desa Mejing wilayah kecamatan Candimulyo, bahkan Mbah Mangli secara khusus menggelar pengajian rutin bertempat di sebuah langgar atau surau yang dikenal sebagai langgar Linggan. Berbagai kalangan umat Islam datang berbondong-bondong untuk mendengarkan nasehat dan petuah kiai kharismatik tersebut dengan penuh kekhidmatan.

Pengajian di masa lalu memang hampir tanpa sentuhan teknologi canggih seperti zaman sekarang. Jangankan peralatan perekam maupun dokumentasi foto, sekedar pengeras suara pun masih jarang bisa dijumpai.

Kita bisa bayangkan seperti apakah suasana pengajian akbar tanpa pengeras suara? Namun inilah salah satu kasekten Mbah Mangli sebagaimana diceritakan sebagian orang. Konon meskipun tanpa pengeras suara, seluruh jamaah pengajian yang hadir di tempat pengajian, apakah di sebuah masjid ataupun di sebuah lapangan terbuka, selalu dapat mendengar tausiyah Mbah Mangli dengan jelas dan terang. Meskipun jumlah jamaah ratusan, bahkan ribuan orang, dari berbagai posisi yang dekat hingga terjauh dapat mendengar suara Mbah Mangli.

Konon lagi pada saat pengajian bubar, selepas mengucap salam penutup, Mbah Mangli langsung dapat berjalan dengan kecepatan kilat meninggalkan arena pengajian untuk berpindah medhar sabdo di tempat lain. Konon pula Mbah Mangli setiap hari Jumat selalu ngrawuhi sholat Jumat di Masjidil Haram. Inilah yang disebut sebagai ilmu melipat bumi, dalam sakedeping mata bisa berpindah tempat di berbagai penjuru dunia.

Keistimewaan Mbah Mangli yang lain, ia dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka dan langsung dapat memberikan nasehat dengan tepat sasaran. Pernah seorang jamaah datang ke pengajian dengan membawa uang ibunya yang semestinya dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Di tengah pengajian, Mbah Mangli langsung menyindir orang tersebut dan menasehatinya agar uang tersebut dikembalikan dan ia segera memohon maaf kepada ibunya tersebut.

Pernah juga seorang tamu datang ke pesantren Mbah Mangli. Sejak dalam perjalanan sang tamu tersebut sudah membayangkan mendapatkan suguhan buah jeruk yang sangat ranum dan menghilangkan rasa dahaganya selepas menempuh perjalanan jauh. Dan sesampainya di tempat Mbah Mangli, apa yang ia dapatkan? Mbah Mangli benar-benar menyuguhinya dengan hidangan jeruk keprok yang sangat segar. Pucuk dicinta ulampun tiba!

Sifat istikomah Mbah Mangli dalam menyikapi perkembangan teknologi tergolong sangat unik. Beliau tidak pernah menggunakan pengeras suara maupun peralatan listrik dalam setiap kegiatan di pondok pesantrennya. Dalam acara pengajian maupun khotbah jumat tidak pernah ada pengeras suara, hal ini masih tetap dilestarikan hingga kini. Penggunaan listrik hanya terbatas untuk penerangan kegiatan belajar mengajar.

Adapun radio dan televisi, apalagi handphone dan internet, sama sekali tidak menyentuh pesantren Mbah Mangli. Kini sosok Mbah Kiai Mangli memang sudah wafat pada akhir tahun 1997, namun pengajian Ahad pagi yang digelar di pesantren beliau tetap berlangsung rutin di bawah asuhan salah seorang menantu beliau, dan masih ratusan jamaah hadir menimba ilmu.

Di zaman itu memang seorang kiai benar-benar diyakini sangat karib dengan Gusti Allah, sehingga ia benar-benar berkedudukan sangat istimewa bahkan dipercaya sebagai waliyullah. Maka tak heran doa seorang ulama kharismatik dipercaya sangat makbul dan mujarab.

Inilah barangkali magnet daya tarik sehingga umat mau mendekat, mendengar setiap nasihat penuh khidmat, dan kemudian berujung kepada pengamalan ajaran agama dengan penuh kemantapan rasa iman dan ketaqwaan. Inilah kunci ketentraman jiwa, lahir dan batin yang akan berdampak luas terhadap ketentraman serta keguyuban masyarakat, bangsa dan negara. (Aji Setiawan)

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,47534-lang,id-c,tokoh-t,Mbah+Mangli++Mursyid+Kharismatik+Penakluk+Para+Begal-.phpx

Rabu, 09 Oktober 2013

Membumikan Shalawat Bersama Rukun Rencang




Senin sore itu puluhan muda mudi yang notabene adalah kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta duduk melingkar sembari membaca Ratib Hadad. Memang setiap senin sore Paguyuban Seni Rukun Rencang membiasakan membaca ratib ini untuk membentengi jamaah dengan iman dan takwa. Selepas membaca Ratib Hadad, seorang ustadz kemudian memberikan tausyiah singkat seputar keislmaan.
Paguyuban Seni Rukun Rencang memiliki pengalaman sejarah yang cukup dinamis dan berliku meskipun masih berusia muda. Group nasyid Rukun Rencang berdiri pada tanggal 6 Februari 2000 di basecamp Gandok, Tambakan, Jl. Kaliurang km 9.2, Sleman Yogyakarta.
Cikal bakal berdirinya Rukun Rencang sebenarnya sudah ada sejak bulan Agustus tahun 1999, tepatnya sebelum kegiatan Pekan Ta’aruf (nama kegiatan seperti halnya ospek kampus), Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII)  tahun 1999. Awalnya group rukun rencang ini terdiri dari Mochamad Maruly Syarief (Aroel), Aji Setiawan (Mas Aji), Izzad Sofyan Amrullah, Denny Fitanto, Kholid Haryono (Oon), Nandang Gumelar dan Agham Satria Pristiwadji.
Rukun Rencang berdiri hanya dengan bermodalkan keinginan, kemauan, keikhlasan dan alat seadanya. Beberapa orang mencoba untuk menentramkan dan menyejukkan hati ini dengan bershalawat. Orang-orang yang notabene menjadi aktivis di kampus FTI UII ini merasa berubah suasana hatinya setelah melantunkan shawalat.
Alat-alat yang digunakan sebagai media bershalawat pada saat itu pun menggunakan alat-alat seadanya, seperti ember, tembok dan alat-alat lain yang bisa menimbulkan bunyi. Saat itu pun tidak ada perhatian dari lingkungan kampus dan bahkan dianggap ‘kurang kerjaan’.
Dengan kemauan tersebut maka cikal bakal dari Rukun Rencang tersebut memberanikan diri untuk mengajak bershalawat secara terbuka pada mahasiswa baru FTI UII secara khusus dan masyarakat kampus secara umum, pada acara Pekan Ta’aruf, FTI UII bulan September tahun 1999.
Setelah pementasan yang pertama kali di dalam kampus FTI UII, selang beberapa minggu, tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 1999, group nasyid FTI UII (nama awal dari Rukun Rencang) mendapat undangan dari Fakultas Hukum, UII untuk mengisi acara pentas seni dalam rangka merayakan malam Lailatul Qodar. Mulai dari sinilah group nasyid FTI UII yang saat itu belum memiliki nama mulai dikenal di luar lingkungan kampus FTI UII.
Dalam jangka waktu kurang lebih dua bulan group nasyid FTI UII ini mengajak saudara-saudaranya yang gemar bershalawat untuk bersama-sama mengkumandangkan shalawat.
Pada tanggal 6 Februari 2000 beberapa personel group nasyid FTI UII yang terdiri dari Mochamad Maruly Syarief (Aroel), Izzad Sofyan Amrullah, Denny Fitanto, Kholid Haryono (Oon), Nandang Gumelar, Agham Satria Pristiwadji, ditambah beberapa personel baru yaitu Waskito Sukarno (Itho), Hendro Handoko, Wiratno (Ciwir), Teuku Reza Pahlevi (Reza), Eva Desi, Ricca Laila Rosemeilia (Icca), yang menginginkan shalawat lebih membumi dan tidak terkesan eksklusif. Saat itu pula diproklamirkan berdirinya Group Nasyid Alternatif Rukun Rencang dengan visi  “Kita Bersama Menjadi Umat Muhammad saw” dan misi  “Bersama Kita Membumikan Shalawat”.
Nama “Rukun Rencang” diambil dari bahasa Jawa yang artinya teman-teman yang selalu rukun. Nama tersebut diberikan oleh ibunda dari salah satu pendiri Rukun Rencang – Agham Satria Pristiwadji.
Regenerasi
Selama kurang lebih satu tahun eksis, Rukun Rencang yang para anggotanya adalah mahasiswa tingkat akhir FTI UII memiliki keinginan untuk mencoba mencari kader yang nantinya akan menjadi penerus Rukun Rencang dalam membumikan shalawat.
Sekitar pertengahan bulan Mei tahun 2001, Rukun Rencang membuka pendaftaran untuk anggota baru. Pada waktu itu pendaftaran dibuka untuk mahasiswa FTI UII saja, namun tidak menutup kemungkinan apabila dikemudian hari anggotanya tidak hanya mahasiswa FTI UII saja.
Dalam jangka waktu satu minggu terdapat 40 mahasiswa yang antusias mendaftarkan diri menjadi anggota Rukun Rencang. Dari situ timbul keinginan dari beberapa ersonel Rukun Rencang untuk membuat sebuah paguyuban untuk menampung semua aspirasi dari para anggota.
Tanggal 1 Juli 2001 pukul 15.10 wib di Wisma Kaliurang, telah dideklarasikan berdirinya Paguyuban Seni Rukun Rencang, Yogyakarta, dengan jumlah anggota kurang lebih 65 orang. Berawal dari situ lah maka Paguyuban Seni Rukun Rencang bertekad dan berikhtiar untuk tetap membumikan shalawat dengan menggunakan musik sebagai medianya.
Rukun Rencang merupakan sebuah komunitas seni yang didirikan untuk membina kerukunan atau ukhuwah antara sesama anggotanya. Pemilihan bentuk paguyuban sebagai wadah untuk mengekspresikan diri dikarenakan sistem birokrasi yang dimiliki oleh organisasi yang dinilai terlalu bertele-tele dan tidak efektif waktu.
“Suatu kreativitas, lebih-lebih kreativitas seni akan susah dikembangkan apabila terkurung oleh aturan-aturan yang menghambatnya, dari sisi waktu,” lanjut Maruli Syarief.
Paguyuban. dalam arti katanya, paguyuban bisa diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan orang-orang yang sepaham untuk membina persatuan atau kerukunan di antara para anggota. Rukun Rencang merupakan suatu aktivitas mahasiswa kampus yang ingin guyub  dan berkreasi seni dalam koridor shalawat. Secara otomatis dengan dipilihnya bentuk paguyuban inilah aturan-aturan yang ditetapkan oleh para pendiri bersifat lebih humanis, bebas, tidak ingin merasa terbatasi oleh birokrasi yang berbelit-belit.
Semangat
“Seperti halnya organisasi yang memiliki Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Rukun Rencang yang berbentuk paguyuban juga memiliki hal yang mirip, hanya saja penyebutannya bukan AD/ART, tetapi diganti dengan nama lain yaitu : Semangat,” kata Mohammad Maruli Syarief ,salah satu sesepuh Rukun Rencang Yogyakarta.
Kembali ke khitah, inilah sebutan untuk proses mengembalikan budaya-budaya yang telah dimunculkan oleh para pendiri paguyuban Rukun Rencang. Budaya silaturahim, budaya saling menghargai, budaya bekerja dengan niat ibadah, budaya berkreativitas dimana kesemuanya merupakan budaya yang tidak lekang oleh jaman dan masih relevan ketika dijalankan untuk masa yang panjang. Budaya-budaya seperti itulah yang akan mendukung para anggota paguyuban untuk memupuk diri dalam mendapatkan nilai-nilai manusia yang tidak diajarkan di bangku perkuliahan.
Para anggota paguyuban yang terdiri dari berbagai suku dari berbagai penjuru di Indonesia ini menyatukan dan meleburkan diri di dalam paguyuban. Interaksi di dalamnya bukan merupakan interaksi yang kaku dan formal. Tetapi lebih interaksi yang melibatkan emosional dan bersifat persaudaraan dan kekeluargaan.
Bentuk perhatian satu sama lain antar anggota membuat kondisi dalam paguyuban terasa hangat seperti halnya sebuah keluarga. Ketika salah seorang dari anggota mendapatkan musibah, maka hampir semua anggota paguyuban mengetahui kondisi tersebut. Dan informasi yang bergulir sangat cepat. Segala bentuk perhatian, seperti mendatanginya, atau sekedar mengirimkan pesan singkat sms sebagai bentuk perhatian, hal ini menjadi budaya yang indah dalam suatu komunitas. Kehangatan dan perhatian ini adalah suatu hal yang mudah dan biasa, tetapi menimbulkan efek yang luar biasa dalam diri pribadi anggota paguyuban. Dan kondisi-kondisi seperti itulah dimana anggota paguyuban belum pernah mendapatkannya di komunitas lain.
Budaya mengirimkan doa untuk anggota yang sedang tertimpa musibah merupakan budaya yang jarang ditemui di komunitas-komunitas lain. Sebuah budaya yang sederhana namun istiqomah inilah yang melahirkan manusia-manusia yang loyal dan menjadi militan, serta memiliki rasa kepemilikan yang besar terhadap paguyuban.
Bisa disebut juga bahwa paguyuban ini sebagai tempat rehabilitasi bagi orang-orang yang ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik. Berubah dan berpindah dari kehidupan yang kelam, menjadi kehidupan yang indah dan diridhoi.
Metode-metode dakwah yang diterapkan merupakan metode yang dibutuhkan oleh orang-orang yang jauh dari agama. Hal ini didukung oleh bentuk paguyuban yang tidak kaku dan menurunkan sifat ke-egoisan antar anggota paguyuban. Sebuah cara berdakwah secara bertahap, berproses dan istiqomah. Karena manusia berubah memerlukan sebuah proses. Bukan sebuah penghakiman atas dirinya yang pernah melakukan kesalahan.


Seumur Hidup
“Ada sebuah keistimewaan lain yang terdapat dalam paguyuban ini, yaitu sifat keanggotaan paguyuban yang ‘seumur hidup’. Tidak ada istilah alumni atau keluar dari paguyuban seni Rukun Rencang. Ketika menjadi anggota paguyuban, maka secara otomatis dirinya menjadi anggota Rukun Rencang. Sampai kapanpun, “ Tebe, salah satu personel grup Rukun Rencang kepada alKisah baru-baru ini.
Karena anggota paguyuban ini semakin hari semakin bertambah, maka cara untuk menjaga hubungan silaturahmi menjadi titik fokus dan pemikiran, karena jarak yang jauh memisahkan ketika anggota paguyuban tersebar di penjuru daerah.
Dengan adanya sifat keanggotaan yang seumur hidup inilah para anggota yang pasif beraktivitas di paguyuban menjadi tidak sungkan lagi untuk kembali mengakrabkan diri ke paguyuban.
Komunikasi masih terjalin antara para anggota paguyuban baik yang aktif mengurus paguyuban dengan yang telah pasif, karena jarak yang jauh memisahkan. Tetapi jarak yang jauh bukan kendala bagi mereka. Komunikasi melalui email, website, sms, telepon, chatting, dan bahkan surat menjadi hal yang biasa digunakan untuk mempertahankan silaturahim yang telah ada. Kehangatan kekeluargaan. Kasih sayang. Perhatian. Rasa rindu. Ataupun sekedar mencari informasi terkait paguyuban, menjadikan paguyuban seni Rukun Rencang sebuah rumah kedua bagi mereka.
Kegiatan rutin lain selain ratiban tiap hari senin, Grup Rukun rencang Yogyakarta juga aktif mengikuti festival budaya yang ada di Yogyakarta, seperti FKY (Festival Kesenian Yogyakarta), Festival Musik Se-DIY, tentu saja aktif di kegiatan-kegiatan kampus di UII sendiri. Selain itu juga Rukun rencang menerima tawaran show dari berbagai even organiser seni yang ada di DIY bahkan luar daerah, samapi termasuk untuk mengisi hiburan acara mantenan. Secara jadwal acara sudah sangat padat, kalau untuk mengisi acara, paling tidak harus booking waktu satu bulan sebelumnya.
Bagi pembaca yang ingin berkomunikasi dengan pengelola Rukun Rencang Yogyakarta bisa menghubungi melalui Email : rukunrencang@gmail.com, Phone : 0857.6620.8889, FB : Facebook RR, Twit : @rukunrencang.
Khusus bulan Maulid, Rukun Rencang menyelenggarakan acara maulidan secara besar-besaran tiap tahun. Beberapa waktu yang lalu pernah mengundang Habib Alwi bin Ali bin Alwi bin Ali bin Muhammad Husein Al Habsyi dan juga Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dari Surakarta. Acara terakhir yang diisi Rukun Rencang adalah menjadi musik pendamping pada acara Damai Indonesiaku (TVOne) dan musik Religi di TVRI Yogyakarta (***) Aji Setiawan

NU Kecamatan Bukateja Bangun Kantor Berlantai 2


Purbalingga, Majlis Wakil Cabang Nahlatul Ulama  (MWC-NU), Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah,  saat ini tengah membangun dan merehabilitasi Gedung MWC NU Bukateja yang terletak di desa Bukateja, Kec. Bukateja.

Pembangunan Gedung NU itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan tokoh-tokoh NU se-kecamatan Bukateja pada bulan Syawal 1334 H, di Ponpes Darul Abror, Desa Kedungjati Kec BUkateja Kab Purbalingga Jawa Tengah. Untuk merekatkan hubungan tokoh-tokoh NU itu, MWC juga menggelar pengajian dwi mingguan sebagai upaya membentengi jami’yah dari gempuran aliran-aliran yang berseberangan dengan akidah ahlussunnah waljama’ah.

Pembangunan Gedung NU Kecamatan Bukateja dengan 2 lantai akan memakan biaya sekitar Rp 365.000.000,- karenanya dihimbau kepada warga NU se Kecamatan Bukateja agar segera menyalurkan dana bantuan ke masing-masing kepengurusan NU yang ada, baik di tingkat ranting maupun badan otonom NU Bukateja atau setor ke Bendahara. Panitia Pembangunan Gedung NU melalui Ibu Inayatul Imtihanah, HP: 08112602925, Rek BRI 0074-01-029088-50-9.

Sampai hari ini Kamis (26/9), bangunan gedung NU sudah dua lantai berdiri, tinggal bagian atap saja yang belum selesai atau bangunan lantai dua yang harus direhab. Selain itu, bagi warga NU yang ingin setor langsung berupa bahan bangunan bisa menghubungi Bpk Slamet melalui HP 082226820331.

Adapun kegiatan MWC NU lintas tokoh NU se kecamatan Bukateja sampai saat ini selalu disambut antusias oleh warga Nahdhiyin di kec Bukateja. Pengajian dwi mingguan selalu dihadiri oleh seluruh pimpinan Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga baik tingkat syuriah sampai ke tingkat tanfidziyah bahkan juga seluruh jajaran badan otonom NU seperti Ansor, Muslimat, Fatayat. “Majlis Wakil Cabang Nahlatul Ulama Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah mennggelar pengajian dwi mingguan ini sebagai upaya membentengi jami’yah dari gempuran aliran-aliran yang berseberangan dengan akidah ahlussunnah waljama’ah,” kata KH Abror Mushodiq yang juga adalah ketua Forum Komunikasi Tokoh NU se Kec Bukateja.

Menurut salah satu anggota Tim Bahsul Masail MWC NU Kec Bukateja, KH Arif Musodiq menceritakan awal pengajian ini dmana pengajian rutin dwi mingguan MWC Kec Bukateja ini adalah forum komunikasi tokoh tokoh Nahdhlatul Ulama yang ada di kec Bukateja. Perlu diketahui forum ini telah berdiri bulan Syawal 1334 H dan kegiatan dikerjakan berkolaborasi antara NU, Muslimat, GP Ansor, Fatayat Ma’arif baik tingkat desa maupun kecamatan se-Kecamatan Bukateja. ”Kegiatan pengajian ahad pagi ini lintas partai politik. Boleh diikuti oleh siapa saja mulai dari PPP, PKB, Gerindra, Golkar, Nasdem pokoknya bisa semua partai politik bisa ikut, yang penting niat lillahy Ta’ala.”

”Pengajian ini umum keliling dan diselenggarakan oleh tiap ranting NU dengan pembicara dari tokoh NU yang dipilih oleh pimpinan setempat. Demkian pun untuk tim Bahtsul Masail untuk menjawab pertanyaan dari jamaah yang diajukan pada pengajian sebelumnya. Ada Tim Sepuluh yang berisi tokoh-tokoh NU yang tugasnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditulis oleh jama’ah yang hadir,” terang KH Arif Mushodiq.

Tim sepuluh itu anggotanya Kiai-kiai , KH Saifudin , KH Salbani, KH Muhammadun, KH Mualimj, KH Salimi, KH Nasuha dll. “Materi sudah dibagi-bagi oleh Tim Materi untuk menjawab pertanyaan jamaah. Tema pengajian dwi mingguan ini selain keorganisasian dan amaliyah Aswaja ada juga dibahas bab Tawasul, Qunut, Faham-faham yang berseberangan dengan Aswaja, Shalat Tarawih, Qodho Sholat dll.

Sekretaris tokoh NU se-Kec Bukateja H Muhtamil S Ag menyatakan bahwa di kec Bukateja ada sekitar 40.000 warga NU.”Jadi kalau iuaran per warga bisa dihitung Rp 10.000,- per anggota NU se- kecamatan Bukateja,” kata H Muhtamil. (Aji Setiawan)

http://www.berita9online.com/nu-kecamatan-bukateja-bangun-kantor-berlantai-2/

Tingkatkan Kebersamaan Menuju Persatuan Umat Islam




Tingkatkan Kebersamaan Menuju Persatuan Umat Islam

Perbedaan khilafiyah dalam umat Islam sering memecah umat Islam sendiri. Kalau ini dibiarkan tentu akan membuat perbedaan sendiri. Dengan Tablig akbar ini kita berharap bisa mempersatukan umat Islam

            Lapangan selatan GOR Goentoer Darjono , kelurahan Purbalingga Kidul Kab Purbalingga malam Sabtu malam Minggu 5 Oktober 2013 (5/10) tak biasanya sudah ramai penuh sesak oleh ribuan jamaah yang hadir dari berbagai penjuru Kab Purbalingga Jawa Tengah. Sebuah panggung besar terpasang di sebelah barat lapangan. Serombongan anak muda dari santri-santri Ponpes Darul Rohman, Kalikabong kecamatan Kalimanah Kab Purbalingga melantunkan shalawat dan membaca Maulid Simthud Durar secara bergantian. Lantunan shalawat tak pelak disambut dengan liukan bendera dari anak-anak muda yang membawa bendera Nahdlatul Ulama dan berbagai majelis Taklim yang ada di Kab Purbalingga.
            Selepas pembacaan Maulid, acara disambung dengan sambutan dari panitia.  ”Tablik akbar yang ketiga ini akan di selenggarakan pada bulan Syawal yang lalu, namun karena kesibukan pembicara yang hadir sehingga pada malam ini bisa terselenggara. Namun karena pembicara yang diharapkan yakni Habib Thohor dalam keadaan sakit. Oleh karena dengan permohonan maaf, pembicara menyampaikan salam kepada hadirin sekalian dan memohon doa agar cepat sembuh,” kata Drs Suroto, M.Si mewakili panitia.
            “Majlis Dzikir Darul Taubat ini adalah sebagai media untuk mengasah diri dan membentengi diri jamaah dari gempuran jaman. Kita juga merasakan perbedaan khilafiyah dalam umat Islam sering memecah umat Islam sendiri. Kalau ini dibiarkan tentu akan membuat perbedaan sendiri. Dengan Tablig akbar ini kita berharap bisa mempersatukan umat Islam,”kata Drs Suroto yang juga adalah pembina Majlis Taklim dan Dzikir Darul Raubat Kab Purbalingga.
            Selepas sambutan panitia acara berlanjut dengan sambutan Bupati Purbalingga, Drs H Sukento Ridho Marhendrianto, MM. Dalam sambutannya Bapak Bupati menyatakan acara ini sangat berguna dan bermanfaat. “Kepada panitia ini mudah-mudahan acara ini bermanfaat karena di tempat ini biasanya mejadi ajang maksiat, mudah-mudahan di tempat ini menjadi tempat yang baik. Alhamdulillah panitia bisa menyelenggarakan acara seperti ini,” kata Drs H Sukento kepada jamaah.
Selain itu Bapak Bupati juga mengajak jamaah agar mendoakan agar Purbalingga pembangunannya semakin lancar dan menjadi kabupaten yang “gemah ripah loh jinawi lan toto tentrem kerto raharjo.
            Sehabis sambutan Gus Panggok, pengasuh Pondok Pesantren Darul Rohman Kalikabong Kec Kalimanah Kab Purbalingga   acara bersambung dengan taushiyah utama oleh Habib Husein bin Abu Bakar bin Salim dari Sokaraja Kab Banyumas. “Alhamdulillah tadi dibacakan mauled Nabi Muhammad SAW. Ini menandakan jamaah senang dengan kanjeng Nabi SAW. Kanjeng Nabi SAW pernah berucap: “Al-mar'u ma'a man ahabba, seseorang akan bersama dengan yang ia cintai”.
            Sebagaimana juga kita cinta dengan Nabi Muhammad SAW apakah kita sudah sampai mencontoh kesabaran, kelomanan, jiwa pertolongan beliau, Nabi Muhammad SAW. ”Pada jaman Rasulullah SAW, orang masuk Islam bukan karena mukjizat tapi orang masuk Islam karena kesabaran dan ketabahan Rasulullah SAW,” tegas Habib Husein.
            Dalam kesempatan itu Habib Husein juga menjelaskan tentang orang-orang yang tidak mendapatkan Rahmat Allah SWT. Pertama orang yang selalu berkacak pinggang, orang yang berani kepada orang tua dan perempuan yang selalu berpakaian seperti laki-laki dan sebaliknya.
            “Kalau kita cinta dengan Kanjeng Nabi, cintanya di mana?” Tanya Habib Husein kepada jamaah.
            Siti Khotijah mendermakan seluruh harta bendanya untuk perjuangan Rasulullah SAW. Pernah suatu waktu Nabi Muhammad SAW sedang jalan-jalan ada suara yang mengucap salam,”Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu…,”
Kanjeng Nabi menjabawab,” Wa’alaikum salam warahmatullahi Wabarakatuhu..
Kanjeng lalu ber jalan lalu terdengar lagi suara yang uluk salam, betapa terkejutnya kanjeng Nabi ternyata suara yang beruluk salam adalah seekor kijang. Kemudian terjadilah dialog antara Kanjeng Nabi nabi SAW dengan seekor Kijang.
Ternyata Kijang itu ternyata tengah disandera oleh orang-orang Yahudi, sehingga sang kijang itu meminta kepada Kanjeng Nabi agar dia dilepaskan oleh sandera orang-orang Yahudi. Kemudian Kanjeng Nabi SAW meminta kepada orang-orang Yahudi agar melepaskan sang kijang, karena sang KIjang itu masih menyusui anak-anaknya.
Dalam kesempatan itu Habib Husein bin Abubakar bin Salim juga mengungkapkan tentang keistimewaan Nabi Muhammad SAW. Di mana Nabi Muhammad SAW adalah tercipta dari Nur Nya Allah SWT. Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah manusia tapi bukan seperti manusia biasa. “Baginda Nabi Muhammad SAW kadang tidak makan sampai tiga hari, bahkan sampai perutnya diganjal dengan batu, tidak seperti kita baru tidak makan sehari saja sudah banyak mengeluh,” kata Habib Husein.
Kedudukan Nabi Muhammad SAW sangat tinggi di sisi Allah SWT karena Allah SWT sendiri menyanjungnya tidak sebagaimana Nabi dan manusia-manusia yang ada. ”Allah SWT sendiri menyampaikan salam langsung kepada Nabi Muhammad SAW,” kata Habib Husein.
Dalam kesempatan itu Habib Husein juga mengijazahkan wirid; ” Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. Wala haula wala quwwata Illa billahil aliyil adzim,” agar jamaah selalu mendapat perlindungan Allah SWT dan  dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Selain itu Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah s.a.w. berkata : "Membaca Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar lebih aku sukai daripada seisi dunia." (Hadith Riwayat Muslim).
            Selepas taushiyah terakhir oleh KH Abdul Aziz dari Comal Kab Pemalang acara langsung ditutup tepat pukul 12.00 oleh Habib Alwi in Ahmad bin Alwi bin Ahmad Ba’abud. (***) Aji Setiawan

Senin, 30 September 2013

Caleg DPRD II Purbalingga Dapil 3

    2. AJI SETIAWAN, ST
    Caleg DPRD II Purbalingga Dapil 3
    Bukateja, Purbalingga, Kemangkon
                                                           

Jumat, 27 September 2013

Mohon Doa Restu dan Dukungan untuk Aji Setiawan, ST

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dengan mengucapkan:
Memohon doa dan restu serta dukungan dalam pencalegan DPRD II Kab Purbalingga dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang bertanda gambar Ka'bah bernomor 9 dengan nomor urut 2 pada Pemilu 2014 untuk wilayah Daerah Pemilihan III Purbalingga yang meliputi Kecamatan Bukateja, Kecamatan Kemangkon dan Kota Purbalingga.
Atas dukungan dan kerja sama Bapak/Ibu, saudara/saudari dan rekan-rekan semua dimana pun berada, saya mengucapkan banyak terima kasih dan sukses selalu untuk kita sekalian. Semoga Alloh SWT senantiasa mengiringi langkah kita dalam membangun nusa ,bangsa dan agama ini sehingga kedamaian, ketenangan, keamanan, keselamatan dan kesejahteraan senantiasa terlimpah dalam lingkungan , keluarga, kerabat kita di mana pun berada. Amin!!
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
 Hormat saya,
 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dengan mengucapkan:
Memohon doa dan restu serta dukungan dalam pencalegan DPRD II Kab Purbalingga dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang bertanda gambar Ka'bah bernomor 9 dengan nomor urut 2 pada Pemilu 2014 untuk wilayah Daerah Pemilihan III Purbalingga yang meliputi Kecamatan Bukateja, Kecamatan Kemangkon dan Kota Purbalingga.
Atas dukungan dan kerja sama Bapak/Ibu, saudara/saudari dan rekan-rekan semua dimana pun berada, saya mengucapkan banyak terima kasih dan sukses selalu untuk kita sekalian. Semoga Alloh SWT senantiasa mengiringi langkah kita dalam membangun nusa ,bangsa dan agama ini sehingga kedamaian, ketenangan, keamanan, keselamatan dan kesejahteraan senantiasa terlimpah dalam lingkungan , keluarga, kerabat kita di mana pun berada. Amin!!
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
 Hormat saya,