Sabtu, 18 Februari 2012

Maulid Cipawon Bukateja Purbalingga







Album Maulid
Meneladani Rasulullah SAW
Nabi SAW adalah manusia utama yang mulia yang menjadi suri taudalan kita sehari-hari.

Sabtu, 18 Februari 2012 bertepatan 25 Rabiul Awal1433 H Sepanjang Jalan Ponpes Darussalam, Dukuh Desa Cipawon Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah telah penuh sesak oleh ribuan jamaah dari berbagai daerah yang menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Panggung berukuran 7 x 30 meter tak sanggup lagi menampung jamaah yang hadir
Sembari menunggu para pembicara hadir, jamaah dihibur oleh Kelompok Hadrah dan Shalawat “Nurul Abshar” dari murid-murid Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif II NU Cipawon, Kecamatan Bukateja.
Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimulai tepat pukul 20.00 dengan pembacaaan Maulid Barjanji oleh siswa-siswa MI Maarif NU 02 Cipawon dan berlanjut dengan pembacaan kalam illlahi oleh Ustadz Ali Wahyudin. Acara kemudian berlanjut dengan sambutan dari ketua pelaksana Ustadz Syukron, dan Bapak Sukoyo mewakili bapak Kepala Desa Cipawon.
Kembali sambil menunggu pembicara utama, jamaah dihibur oleh Kelompok Hadrah dan Shalawat Al Barokah dari Desa Kranggan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Tepat pukul 21.00 KH Kharis Budino sebagai satu-satunya pembicara malam itu menyampaikan maudizah hasanah tentang pentingnya memperingati hari kelahiran (maulid) nabi Muhammad SAW karena Nabi SAW adalah manusia utama yang mulia yang menjadi suri taudalan kita sehari-hari. Dan Nabi Muhammad SAW diturunkan ke muka bumi sebagai Nabi pembawa Rahmat bagi umat manusia, ”Dalam al Qur’an QS Al Anbiya : 107 di tegaskan,’Dan tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam’,” papar KH Kharis Budiono.
“Di hari kiamat, saat perhitungan hisab, hanya Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang kita harap syaf’aatnya untuk menaungi kita sehingga kit5a masuk surga semua,” kata KH Kharis Budiono.
Kyai yang sedikit nyentrik ini membawa seperangkat karawitan, sinden dan wayang sebagai sarana dakwah dengan melantunkan tembang-tembang shalwatan ala campursari Banyumasan, sehingga jama’ah betah di tempatnya tidak beranjak sampai acara larut.
“Sekarang jaman sudah jaman edan bahkan lebih dahsyat jaman jahiliyah. Syetan-syetan berkeliaran banyak menggoda manusia untuk menjauhi jalan Allah SWT,” kata Kharis.
“Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah untuk merubah masyarakat yang saat itu benar-benar jahiliyah. Dimana patung, manusia, raja disembah selayaknya Tuhan. Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia,” lanjutnya. Sekitar pukul 12.00 malam, acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh KH Kharis Budiono.(***) Aji Setiawan

Senin, 13 Februari 2012

Habib Jakfar Pasuruan


Al Qur’an Berjalan dari Pasuruan

Allah SWT memberikan keistimewaan kepada Habib Jakfar sejak kecil. Di usia belia ia sudah menghatamkan Al-Qur’an, wajarlah setelah dewasa orang menyebutnya Al-Quran berjalan.

Allah SWT memberikan keistimewaan kepada Habib Jakfar sejak kecil. Di usia belia ia sudah menghatamkan Al-Qur’an. Betapa kecerdasan dan dan otak briliannya jauh lebih menonjol dibanding teman-teman sebayanya.

Sekitar bulan Zulhijjah 1298 Habib Jakfar bin Syaikhon lahir di desa Ghurfah. Ia adalah anak dari seorang waliyullah di jamannya yakni Habib Syaikhon bin Ali bin Hasyim Assegaf dan Ruqayyah binti Muhammad Manqusy.

Usai belajar ilmu al-Qur’an dengan ayahnya dan ulama-ulama besar Hadramaut, kemudian ia merantau ke Haramain untuk belajar berbagai ilmu agama dengan para ulama besar seperti Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi (sohibul Maulid Simthud Duror), Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas, Habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi (mufti Haramain), Habib Muhammad bin Salim As-Sary, dan Habib Muhammad bin Ahmad Ak-Mukhdor.

Tahun 1319 H Haib Jakfar berkunjung ke Indonesia dan hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnnya selama satu tahun lamanya. Selepas itu Habib Jakfar kembali Mekkah Al Mukaramah untuk bermukim dan sekaligus berlajar Habib Husein bin Muhammad Al Habsyi (Mufti Haramain) dan Habib Muhammad bin Salim As-Sary hampir selama 8 tahun. Melihat kecerdasan Habib Jakfar, kedua gurunya itu menyuruhnya untuk menghafal Al-Qur’an.

Ketika merasa ilmunya cukup, Habib Jakfar pulang ke kampung halamanya yaitu Ghufrah (Hadramaut). Beliau menjadi imam dan khatib di masjid jami selama 8 tahun.Kemudian hijrah ke kota Tarim dan mengajar di sana selama 2 tahun. Di Tarim itulah, Habib Jakfar berhasil membina banyak ulama di sana.

Tepat berumur 40 tahun, tepatnya tahun 1338 H, Habib Jakfar hijrah ke Indonesia dan tinggal di Surabaya. Sebagaimana kunjungan pertama, Habib Jakfar sering berpindah tempat dari satu kota ke kota lainnya dan kota Bondowoso merupakan kota yang paling sering ia singgahi karena di kota itu tinggal salah seorang gurunya yakni Habib Muhammad bin Ahmad Al-Mukhdor.

Pasuruan

Rupanya Allah SWT memilih pasuruan menjadi tempat tinggal dan persinggahan terakhir agar penduduknya mendapat berkah hingga beliau wafat. Di kota Santri ini,Habib Jakfar mendirikan majlis dzikir dan hizib. Majlis ini berlanjut hingga sekarang dan diteruskan tanpa mengalami banyak perubahan oleh salah seorang cucu beliau yakni Habib Taufik bin Abdulqadir bin Jakfar Asseggaf. Bahkan, hampir seluruh masjid dan mushola di Pasuruan mengamalkan wirid tuntunannya.

Al Habib selalu memberikan bimbingan dan nasehat kepada masyarakat dengan sabar. Sehingga masyarakat kota kecil di jaur pantura jawa timur ini menjadikan beliau tempat rujukan untuk segala urusan. Beliau juga kerap menjadi juru damai antara pihak-pihak yang bertikai. Karena itu tak berlebihan jika masyarakat dari semua kalangan baik masyarakat awam, ulama bahkan auliya’, baik yang dikenal maupun tidak mencintai dan memuji Habib Jakfar.

Itu disebabkan, generasi penerus pasca beliau di kota pasuruan adalah santri-santrinya yang telah menjadi ulama-ulama besar. Diantaranya Kyai Mas Imam bin Thohir dan al arif billah KH Abdul Hamid. Kayai Abadul Hamid dikenal sebagai kyai paling tawadhu’ dan sangat ta’dzim terhadap Habib Jakfar. Bahkan, ketika ziarah ke makam Habib Jakfar, KH Abdul Hamid tidak berani duduk lurus pada posisi di kepala, beliau selalu duduk lurus dengan posisi kaki habib Jakfar.

Gurunya sendiri, Habib Muhammad Al-Muhdor sangat menghormati Habib Jakfar, bahkan memberinya gelar “Al-Quran”. Tidak jarang ketika Habib Jakfar berziarah ke rumah gurunya itu, disembut dengan hangat dan penuh penghormatan, seraya berkata,”Ahlan bil Qur’an wa ahlan bi ahlil Qur’an.” (Selamat datang Al-Qu’ran dan selamat datang ahli Al-Qur’an).

Bahkan Habib Muhammad Al Muhdor selalu menunjuk habib Jakfar untuk menjadi imam shalat,karena dalam shalatnya, beliau membaca Al-Qur’an dengan baik, bertajwid dan dengan hati yang khusyu’. Kekhusyukan dan kehadiran hati beliau ini meliputi para makmum, sehingga mereka semua shalat dengan khudur dan khusyu’. Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi (Surakarta) bahkan berkata,”Ketika mendengar bacaan Habib Jakfar, aku mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa pembcaan fatihah di belakang imam dalamm shalat jahriyah tidak wajib karena khudur yang kurasakan.”

Begitu fasehnya bacaan Habib Jakfar, salah seorang Habib pernah berkata, “Kalau Habib Jakfar membaca Al-Qur’an maka setiap huruf yang beliau ucapkan itu seakan-akan berbentuk.”

Julukan “Al-Quran” untuk Habib Jakfar bin Syaikhon itu sangat tepat. Pasalnya, hafalan, bacaan dan pemahaman Habib Jakfar terhadap Al-Qur’an cukup kuat. Habib Jakfar mengeluarkan berbagai ilmu dari Al-Qur’an dan pemahaman-pemahaman yang baik. Begitu kuatnya hafalan dan pemahamannya hingga tidak jarang menentukan tanggal dengan ayat Al-Qur’an.

Ketika Habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi membangun masjid di Kwitang Jakarta, Habib Jakfar mencatatnya dengan firrman Allah SWT,”Dan Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (QS AL Hijr :99). Jumlah huruf yang ada dalamayat ini menurut hitungan abjad Arab adalah 1356, persis dengan tahun pembangunan masjid itu tahun 1356 H).

Habib Jakfar juga mencatat tahun selesainya pembangunan masjid Riyadh, Gurawan Pasar Kliwon Solo dengan firman Allah SWT :”Lalu mereka menjadi orang –orang yang menang (dikenal),” (QS As-Shaf, 14), yang huruf berjumlah 1354. Ayat itu sebagai pertanda bahwa habib Alwi bin Ali Al Habsyi akan menjadi ulama masyhur (terkenal) menggantikan ayahnya Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi.

Suatu saat beliau menerangkan rahasia asmaul khusna, beliau mengatakan,”Isim Dzat yang paling tinggi adalah Allah SWT,, sedangkan anama-nama sesudahnya adalah sifat. Sifat pertama adalah Ar-Rahman dan terakhir adalah As-Shabur. Jumlah huruf masing-masing kedua sifat Allah itu sama yaitu 298. Jika semua makna ayat Al-Qur’an. Hadist-hadist Nabawiy dan pemahaman –pemahaman sufistik beliau dicatat akan banyak yang dapat dikumpulkan.

Habib Jakfar sangat teguh menjaga ajaran salafus shaleh. Beliau beramal sesuai amal mereka dan berakhalak persis ahlak shalafus shaleh. Bisa dikatakan beliau adalah “duplikat” para salafnya. Selain itu Habib Jakfar adalah ulama yang tekun beribadah, selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan amal sholeh. Sifat mulia ini bisa dilihat ketika bliau sedang shalat. Saat itu beliau sangat khusyu’ bagaikan tiang yang tegak berdiri.

Tak pernah sekalipun meninggalkan shalat berjamaah dan shalat sunah rawatib. Amal ibadah diutamakan adalah membaca Al-Qur’an. Amalan ini yang menjadi keistimewaan beliau, karena tiada hari tanpa menghatamkan Al-Qur’an dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Malam harinya dihidupkan dengan beribadah. Di tengah malam beliau menyendiri di tempat khusus dengan memperbanyak istifgfar. Di saat itu, tak seorang pun berada disisinya, kecuali bila ada tamu berkunjung atau menginap di rumahnya, maka menjelang fajar belaiu bangkit untuk menuangkan kopi bagi tamu-tamunya. Begitulah kebiasaan beliau, menuangkan kopi sendiri dengan tangannya yang mulia, baik tamunya sedikit maupun banyak. Beliau jarang mengijinkan orang lain melakukannya.

Beliau dikenal sangat akrab dengan para tamu, tak jarang pula tamu yang datang tidak selkedar mampir di majlisnya namun juga mengambil berkah dari Barkatusy Syifa’(kolam penyembuhan) yang terletak di ruangan depan, tempat shalat, pengajian dan dzikir. Air minum Habib Jakfar berasal dari kolam itu. Sementara yang memberi nama Barkatusy Syifa’(kolam penyembuhan) adalah Habib Husein bin Muhammad A-Hadad, dan kolamm itu masih ada hingga sekarang.

Habib Jakfar aadlah ulama yang sangat sabar dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan. Bertahun-tahun, beliau menyembunyikan penyakit yang menimpanya , tak pernah terdengar sedikitpun keluh kesahnya. Sampai-sampai keluarganya pun menyangka penyakitnya hanya bengkak di pipinya. Ssampai di akhir usianya baru terungkap lebih dari 12 penyakit yang dideritanya.

Dalam berbagai kesempatan, beliau berpesan agar selalu berabar, bahkan setelah wafat pun beliau muncul dalam mimpi anak cucunya untuk mewasiatkan kesabaran. Seperti diceritakan putra beliau Abdulah bin Jakfar .”aku bermimpi melihat ayahku di atas makamnya amak aku merangkul; beliau dan meminta doa, lantas beliau berkata “Selalulah kamu bersabar,”

Habib Jakfar bin Syaikhon merupaka ulama besar dan sempurna dalam meneladanai Rasulullah SAW. Hal ini menjadikan kedudukan beliau sangat dekat dengan Habibuna wa Murabuna Nabi Muhammad SAW. Buktinya, banyak para sholihin yang memimpikan Nabi SAW dengan wajah mirip Habib Jakfar, diantaranya Habib Zain bin Abdullah Al-Kaff dan Habib Abdul Kadir bin Ahmad Bilfagih (Malang). Ini adalah isyarat bahwa Habib Jakfar adalah Khalifah Rasulullah SAW.

Kehidupan ini memang berada di tangan Allah SWT, begitu pula kehidupan sang Wali pengabdi vAl-Qur’an, Al Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf. Beliau wafat dalam usia 76 tahun, tepatnya pada hari Senin 14 Jumadil Akhir 1374 H. Berita tenytang wafatnya waliuyullah ini cepeat beredar ke seluruh pelosok tanah air, sehingga pemakaman pun diundur sampai hari selasa sore.

Masyarakat berdatangan dari segala penjuru menuju Pasuruan. Puncaknya ketika shalat jenazah berlangsung , rumah-rumah penduduk dan ruas-ruas ajalan serta relung kota penuh sesak dijejali manusia yang ingin berziarah sekaligus ikut menshalati jenazah Wali Allah ini. Dan yang menjadi imam shalat jenazah pada saat itu adalah Habib Ahmad bin Ghalib Al Hamid kemudian makam beliau disandingkan atau berdampingan dengan makam Habib Hadi bin Shadiq bin Syaikh abu bakar.

Habib jakfar telah wafat, jasadnya telah terkubur dalam tanah, namun semangat dakwah dan ibadah belaiu tak pernah mati, masih meliputi orang-orang yang mencintai beliau termasuk masyarakat Pasuruan. Masjlis-majlis yang telah ia bina dan rintis justru semakin berkembang. Terbuktai majlis dzikir dan hizib di tempat kediaman oleh menantunya Habib Abdul Qadir Assegaf, semakin terus berkembang. Lebih-lebih ketika majlis ini diteruskan oleh sang cucu, yakni Habib Taufiq bin Abdulqadir Assegaf tempat yang biasa untuk majlisnya itu tak sanggup menampung lagi untuk jamaah, sebab selalu sja meluber sampai ke jalan KH Wahid Hasyim. Ruang medan dakwah juga tidak hanya sekedar taklim biasa, Habib Taufiq juga mensiarkan dakwah melalui banyak media baik media cetak maupun media elektronik seperti Radio Suara Nabawiy FM, dan Majalah Islam Cahaya Nabawiy. Ini menandakan suatu isyarat bahwa berkah yang dibawa Habib Jakfar masih melekat di tempat majlis dan kediaman beliau.

Sabtu, 11 Februari 2012

Mengharap Syafa'at Rasulullah SAW ,Majalah alKisah No 05/2012






"Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”


Jum'at , 10 Februari 2012 halaman masjid Nurul Badri Dukuh Kalimenur, Desa Kedungjati Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah telah penuh sesak oleh ribuan jamaah dari berbagai daerah yang menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sembari menunggu para pembicara hadir, jamaah dihibur oleh Kelompok Hadrah dan Shalawat dari santri-santri Pondok Pesantren Nurul Quran, Desa Bukateja Kecamatan Bukateja yang melantunkan syair dan shalawat yang berisi pujian dan senandung rasa mahabah kepada AllaH SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimulai tepat pukul 20.00 dengan pembacaan kalam illlahi oleh Ustadz Syamsul Basari. Acara kemudian berlanjut dengan sambutan dari Bapak Riyadi, Kepala Desa Kedungjati. Dalam kesempatan itu, Bapak Sugeng Riyadi mengajak seluruh lapisan masyarakat yang hadir terutama kepada warga desa kedungjati untuk menyukseskan pembangunan Nasional terutama tentang kebersihan lingungan,”Mari kita mulai dari lingkungan kita masing-masing untuk menjaga kebersihan lingkungan, sebab desa kita saat ini banyak diikutkan dalam lomba-lomba tingkat Nasional,” ajak Kepala Desa kepada jamaah.
Kembali sambil menunggu pembicara utama, jamaah dihibur oleh Kelompok Hadrah dan Shalawat dari santri-santri Pondok Pesantren Nurul Quran, Desa Bukateja Kecamatan Bukateja. Tepat pukul 20.00 KH Zuhrul Anam Hisyam sebagai satu-satunya pembicara malam itu menyampaikan maudizah hasanah tentang pentingnya memperingati hari kelahiran (maulid) nabi Muhammad sebagai ungkapan rasa cinta atau mahabah kepada Nabi Muhammad SAW serta mengharap keberkahan dari dunia sampai akhirat.
“Majelis-majelis seperti ini banyak disebut shalawat dan penghormatan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dimaksudkan untuk menghadang Rahmat Allah SWT,” kata KH Zuhrul Anam.
Selain menguraikan pentingnya menghadiri majlis ilmu dimana orang-orang yang hadir di majlis ilmu dan dzikir akan diturunkan ketenangan (sakinah) dan nafahat , dan mereka dikelilinghi oleh par amalaikat, diliputi rahmat dan Allah SWT akan menyebut mereka di majlis para malaikat yang berada di sisinya.
Dalam kesempatan ini KH Zuhrul Anam Hisyam juga menyampaikan tentang pentingnya waktu-waktu mustajab atau waktu berdoa yang pasti langsung diiijabah oleh Allah SWT. Waktu mustajab itu diantaranya hari Jum’at, sepertiga malam terakhir, malam nisfu sya’ban dan lain lain. Khusus hari jumat, sebagian ulama mengatakan waktu do’a diijabah ada yang mengatakan saat diantara dua khutbah. Ada juga ulama yang menyatakan saat sore hari saat terbenamnya matahari.
”Sayidatina Fatimah RA pada tiap jumat sore menyuruh orang untuk menyaksikan saat-saat terbenamnya matahari, karena sat itu Syaidatina Fatimah (putri Rasulullah SAW) akan memanjatkan doa-do’a agar terkabul doa’ dan keinginannya,” kata KH Zuhrul Anam.
Nabi Muhammad SAW juga adalah manusia yang mulia yang menjanjikan seluruh umatnya mendapat jaminan surga."Betapa besar perhatian dan kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya, hingga Beliau bersumpah,'Demi Tuhan, Jiwa Muhammad yang dalam genggaman Tuhan. Sungguh seluruh umatku di akhirat mendapatkan jaminan surga'."

Syafaat Rasulullah SAW
KH Zuhrul Anam kemudian mengisahkan tentang Syafaat Rasulullah SAW dimana para sahabat Nabi SAW berdialog langsung dengan Nabi Muhammad SAW. ”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”
Pada suatu hari, Rasulullah SAW dibawakan sebuah daging bakar berupa paha kesukaannya. Beliau menggigitnya sekali, lalu bersabda: “Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian apa sebab demikian?”
Pertanyaan Rasulullah SAW menyentak para sahabatnya tertegun diam seribu bahasa. Kemudian ia melanjutkan perkataannya.
“Pada hari kiamat, Allah SWT mengumpulkan semua manusia, baik orang-orang yang terdahulu maupun yang datang kemudian, pada suatu tempat. Ada penyeru yang memperdengarkan pada mereka dan penglihatan yang mengawasi mereka. Matahari begitu dekat, sehingga sampalah manusia pada puncak kesusahan dan kepayahan yang tidak kuasa mereka tanggungkan serta mereka pikul. Sebagian manusia akan berkata kepada sebagian yang lain:’Tidakkah kalian tahu apa yang sedang kalian alami?Tidakkah kalian tahu kepayahan yang telah menimpa kalian? Tidakkah kalian mempunyai pandangan siapa yang dapat memintakan syafaat kepada Tuhan kalian?”
Orang-orang berkata satu sama lain:
“Datanglah kepada Adam”.
Mereka pun datang kepada Adam dan berkata: “Hai Adam! Engkau adalah Bapak manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan roh-Nya ke dalam dirimu. Dia juga memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”
Adam berkata: ‘Sungguh, pada hari ini Tuhan sedang marah, dengan kemarahan yang belum pernah terjadi mendekati sebatang pohon, tetapi aku mendurhakai-Nya. Diriku, diriku! Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Nuh!’
Mereka mendatangi nabi Nuh Alaihis Salam, dan mereka bertanya kepadanya:
”Wahai Nuh! Engkau adalah rasul pertama di atas bumi dan Allah menyebutmu hamba yang banyak bersyukur. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang akan kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”
Nuh kemudian menjawab:“Pada hari ini, Tuhanmu marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya. Dulu, aku berdoa dengan doa yang mencelakakan kaumku. Diriku, diriku! Pergilah kalian pada Ibrahim Alaihis Salam!”
Mereka pun lalu mendatangi Ibrahim Alaihis Salam dan berkata:”Engkau adalah Nabi dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang akan kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”
Ibrahim Alaihis Salam yang menyaksikan orang sebanyak itu, kemudian menjawab:“Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya.—dan Ibrahim menyebutkan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukannya dalam hidup(diulangnya sampai tiga kali)--. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada selain diriku! Pergilah kepada Musa!”
Mereka pun lantas mendatangi Musa Alaihis Salam dan berkata:”Hai Musa! Engkau adalah utusan Allah. Allah telah mengutamakanmu dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, melebihi manusia lain. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu! Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”
Nabi Musa yang mendapat pertanyaan semacam itu, kemudian menjawabnya:
”Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi dan tidak akan terjadi sesudahnya. Dulu, aku membunuh orang, padahal aku tidak diperintahkan membunuhnya. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada Isa Alahis Salam!”
Mereka pun mendatangi Isa Alahis Salam berharap mendapat pertolongan, seraya berkata:“Hai Isa! Engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia selagi engkau masih berada dalam buaian. Engkau adalah Kalimah-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, dan roh dari-Nya. Karena itu, mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”
Isa Alaihis Salam yang mendapat giliran pertanyaan dari umat manusia yang sedikian banyaknya kemudian menjawab:“Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar. Kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya—tetapi ia tidak menyebutkan dosanya, seperti Ibrahim, Nuh dan Musa --. Diriku, diriku! Pergilah kepada orang lain! Pergilah kepada Muhammad SAW!”
Mereka mendatangiku dan berkata:”Hai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampunimu, dosa yang dahulu dan kemudian. Syafa’atilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”
Aku pun kemudian berangkat kepada Allah SWT. Sesampai di bawah Arsy aku bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan kepadaku dan memberiku ilham, berupa puji-pujian bagi-Nya dan sanjungan kepada-Nya. Sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelumku. Aku menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya.
Kemudian Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”
Aku berkata:”Wahai Tuhanku! Ummatku, ummatku!”
Difirmankan kepadaku:”Berangkatlah! Barangsiapa di dalam hatinya terdapat iman, meski hanya seberat biji sawi, engkau boleh mengeluarkannya dari neraka.”
Aku pun berangkat dan melaksanakan perintah Allah SWT. Sesudah itu aku kembali kepada-Nya, memuji-Nya dengan puji-pujian yang tadi, lalu menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya.
Diceritakan, Muhammad sampai empat kali mengambil umat manusia yang beriman, walau imannya sebesar biji sawi(dzarah) dari neraka. Setelah itu Muhammad kembali menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya. Lalu di firmankan kepada Ku:
Kemudian Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”
Aku kemudian berkata:”Wahai Tuhanku, berilah aku izin memberi syafa’at kepada orang yang hanya mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH.”
Allah kemudian berfirman: ”Itu bukan bagianmu! Tetapi, demi kemuliaan-Ku, demi kebesaran-Ku, demi keagungan-Ku dan demi kekuasaan-Ku; Aku pasti mengeluarkan orang yang mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH.”
Dalam sumber hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, diceritakan bahwa Allah SWT kemudian menjawab puji-pujian Muhammad SAW itu dengan firman-Nya:
”Hai Muhammad! Masuklah ke sorga dari ummatmu, orang-orang yang tidak harus dihisab melalui pintu kanan di antara pintu-pintu sorga. Mereka juga bisa masuk bersama orang-orang lain(Ahli sorga yang bukan termasuk golongan di atas) dari pintu-pintu lain.Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad! Sesungguhnya jarak antara dua sisi pintu sorga itu sama dengan jarak antara Mekkah dan Hajar(kota di Bahrain), atau sama dengan jarak kota Mekkah dan Bushra (dekat Damaskus).” (HR Bukhari)
"Peringatan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad SAW ini adalah sebagai media untuk bertahaquq atau bertakhaluq. Sebab dengan khuluq (akhlaq), meniru atau meneladani akhlaq dari Nabi Muhammad SAW, Islam mampu bangkit dan merubah peta sejarah dunia. Kedua, meniru akhlaq Nabi dalam sifat pemurahnya. Kanjeng Nabi kalau ada anak yatim, hati beliau langsung menangis dan beliaulah orang pemurah serta mengajarkan kemurahannya. Ketiga, Nabi Muhammad adalah orang gemar mencintai ilmu. Bahkan beliau menjanjikan surga bagi orang-orang yang senang menuntut ilmu," demikian pesan Gus Anam. Sekitar pukul 12.00 malam, acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh KH Zuhrul Anam Hisyam.(***) Aji Setiawan

Caption
1. Lead
2. KH Zuhrul Anam Hisyam. Mengisahkan Syafaat Rasulullah
3. Jamaah membludak menutupi jalan raya. Menyimak mauidzah hasanah
4. Jamaah perempuan. Mengharap rahmat dan barakah maulid

Sabtu, 07 Januari 2012

Habib Husein bin Hadi Al Hamid Brani, Probolinggo


Manakib Salaf alKisah No 1/1/2012

Habib Husein bin Hadi bin Salim Al Hamid



Wali Yang berumur Panjang

Habib ini termasuk wali yang berumur panjang, ia waqfat pada usia 124 tahun dan jauh dari berbagai penyakit. Kunci hidupnya adalah ia tidka pernah absen shalat subuh berjamaah dan berjalan kaki sesudahnya sekitar 1 jam



Brani Kulon, Kecamatan Kraksaan , Probolinggo Jawa Timur pernah hidup seorang habib yang berumur panjang. Dialah Habib Husein bin Hadi bin Salim yang wafat pada usia 124 tahun. Kunci berumur panjang habib yang berdakwah di Brani Kulon ini adalah ia selalu istiqomah shalat Subuh berjamaah dan gemar melakukan jalan kaki sekitar 1 jam . Habib ini gemar berjalan kaki sekitar satu jam untuk menyegarkan tubuh dan melancarkan peredaran darah dalam tubuh sembari berdakwah di sekitar desa-desa di kecamatan Kraksaan.

Setiap tempat yang ia lalui sellau mendatangkan rahmah. Ia berjalan kaki keliling dari rumah ke rumah di sekitar Brani dari kampung ke kampung atau ke pasar. Udara yang segar yang dihirup membuat kesegaran tubuh menjadi tetap prima.

Selain itu, hidupnya senantiasa penuh khusnudzan kepada Allah SWT dan sesama manusia. Pernah suatu ketika ia ditanya, kenapa ia tidak mempunyai penyakit.

“Di hati saya tidak ada sedikit pun rasa iri dan dengki terhadap orang lain,” jawabnya.

Habib Husein lahir di Hadramaut, Yaman Selatan pada 1862 M dari pasangan Habib Hadi bin Salim Al Hamid dan Ummu Hani. Sedari kecil, ia dididik langsung kedua orang tuanya. Habib Hadi dikenal sebagai ulama dan wali yang kesohor di Hadramaut.

Hingga usia 86 tahun, Habib Husain masih tinggal di Hadramaut. Bagi orang sekarang, usia 86 tahun sudah memasuki usia senja, saat ketika orang sudah mulai kehilangan kekuatan dna gairah hidup. Namun bagi Habib Husain , itu tergolong mudah. Kekuatan nya tidak jauh berbeda dengan pemuda pada umumnya . Itulah salah satu kelebihan habib Husein.

Pada usia tersebut, atau tepatnya tahun 1929 M ia masih senang mengembara ke berbagai negeri. Termasuk ke Gujarat dengan menggunakan kapal laut, bersama saudagar-saudagar Arab yang berdagang melalang buana ke berbagai negeri. Sejak itulah Habib Husein meninggalkan Yaman dan tidak pernah kembali lagi ke sana.

Sekita dua tahun, habib Husein tinggal di Gujarat, India. Selama di Gujarat ia berguru kepada ulama setempat dan berdagang. Seetalh itu ia kembali mengembara. Dua kali ia ke Indonesia, namun dengan menggunakan kapal saudagar yang menuju Batavia. Tak berapa lama, ia mengembara lagi ke berbagai daerah dan akhirnya sampai ke Pekalongan. Di kota ini Habib Husein kemudian berguru kepada seorang wali besar yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas, hingga bebebrapa tahun lamanya.

Kepada Auliya Pekalongan itu, Habib Husein selain berguru ilmu lahir , ia juga mendalami ilmu batin .Sebagai tanda bahwa habib Husein telah mencapai maqam kewalian yang mumpuni, ia kemudian dihadiahi sebuah sorban (kain putih) dan kopiah putih dari Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alattas.

Atas perintah Habib Ahmad, Habib Husein kemudian mengasah ilmu kepada Habib Muhammad bin Muhammad Al Muhdor, yang tidak lain adalah guru Habib Ahmad binn Badullah bin Tholib Alattas. Selama menjadi murid Habib Muhammad, Habib Husein senantiasa mendapat perintah untuk berdakwah ke berbagai daerah.

Salah satunya, menyebarkan dakwah ke Brani Kulon kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Ia masuk ke desa terpencil itu sekitar tahun 1939. Saat itu, kondisi desa Brani masih berupa hutan belantara dan menjadi sarang penyamun. Tampaknya Habib Husein memang sengaja di tugasi untuk menyadarkan para penyamun untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Setelah tinggal di Brani Kulon,ia langsung menyebarkan dakawah, dan dakwahnya itu diterima secara luas ke seluruh pelosok Kabupaten Probolinggo.

Namun sebelumnya Habib Husein harus membabat hutan terlebih dahulu, bahkan hidup menumpang pada salah satu penduduk setempat. Hingga ia berhasil mendirikan sebuah pesantren kecil, yang di kemudian hari dikenal sebagai pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah Brani Kulon . Dan di desa itu pula dalam usia 90 tahun ia mengakhiri masa lajangnya.



Dalam sebuah perjalanan bersama para habib dari berziarah ke makam Habib Husein bin Abdullah Alaydrus (keramat Luar Batang, penjaringan Jakarta Utara) habib Husein di dalam sebuah kereta pernah dipaksa menyerahkan tempat duduknya oleh seorang pemuda kumal dan hanya memakai kaos oblong , Habib Husein kemudian berdiri.

Setelah berdialog beberapa saat dan Habib Husein kemudian memberi bekal uang yang tersisa kepada pemuda tersebut, tiba-tiba pemuda asing itu menghilang begitu saja. Kepada teman-teman Habib Husein mendapatinya sendirian dan menanyakan kepada pemuda tersebut, Habib Husein berkata, “ Dia itu sebenarnya adalah Nabiullah Hiddir AS.”

Amaliah Habib Husein tentu saja tidak hanya beribadah kepada Allah SWT ia juga menjalin hubungan dengan sesama manusia. Sering Habib Husein berjalan-jalan ke pasar dan melihat barang dagangan tidak habis terjual atau malah tidak terjual sama sekali. Ia tidak segan-segan memborong barang dagangan tersebut agar si pedagang tidak menderita kerugian. Dengan keseimbangan amaliah tersebut, dakwahnya diterima dengan baik oleh masyarakat luas.

Tidak hanya soal keilmuan, para santri Ponpes Ahlus Sunnah Brani Kulon sangata percaya maqam kewalian Habib Husein mendekati maqam Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani,

Ihwal ia mendapat maqam kewalian setinggi Syaikh Abdul Qadir Jailani diketahui ketika Habib Ahmad bin Soleh Al Haddad (situbondo) salah seorang sahabatnya bermunajat kepada Allah agar bertemu Syaikh Baduil Qadir Jailani. Kemudian ia bermimpi dan dalam mimpinya ia dipertemukan dengan Syaikh Abdul Qadir Jailani yang bersorban putih. Ketika didekati, ternyata wajah itu adalah wajah habibb Husein bin Hadi Al Hamid.

Pada awalnya Habib Ahmad bin Soleh AL Hadad Situbondo tidak yakin wajahh yang terlihat itu adalah wajah Habib Husein ia kemudian bermunajat lagi. Dan sampai tiga kali dalam mimpinya wajahnya selalu sama, wajah Habib Husein bin Hadi LA Hamid. Ahirnya Habib Ahmad menemui Habib Husein di Brani dan meminta ijazah sekaligus dijaadikan murid.

Habib Husein kerap dikunjungi para Habib di jamanya, seperti Habib Soleh Tanggul (jember), salah seorang Pejuang RI. Habib Husein juga mempunyai kedekatan khusus dengan habib Abdullah bin Abdul Qadir bilfagih (Malang) dan lain-lain.

Habib Abdullah pernah tidak akan datang haul Habib Husein, karena sakit. Saat tertidur ia bermimpi didatangi Al Faqih Muqaddam dan Syaikh Abu bakar bin Slaim , keduanya (almarhum) wali di Yaman,”Datanglah ke Haul Habib Husein di Brani, karena kami berdua juga hadir.”

Selepas terbangun dari mikmpinya, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih langsung menuju Brani untuk menghadiri Haul Habub Husein. Anehnya, penyakitnya langsung sembuh. Sejak itulah Habib Abdullah Jarang terkena penyakit, dan sellau menghadiri Haul Habib Husein di Brani sampai akhir hayatnya.

Bahkan karena kedekatannya Habib Husein dengan Habib Abdullah, di kemudian hari anak cucu keturunan habib Husein banyak masuk ke ponpes Darul Hadis Malang seperti Habib Muhammad Shodiq, Habib Abdul Qadir, Habib Salim. Sekarang pesantren peninggalan Habib Husein diasuh oleh Habib Abdul Qadir bin Muhammad Shodiq bin Husein Al Hamid.

Tamu-tamu dari mancanegara yang pernah berkunjung ke Brani diantaranya Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (mufti Jeddah) dan Sayid Alwi AL Maliki Al Hasani (makkah). Setelah Habib Huseinn wafat, banyak juga ualam dan wali Allah yang berkunjungke Brani diantaranya Habib Umar Al Hafidz, Habib Musa AL Kadzim (Hadramaut Yaman).

Habib Husein wafat pada hari Jumat Legi 11 Shofar 1406 H/25 Januari 1986. Jenazahnya kemudian dimakamkan di sebelah utara Masjid Al Mubarok, Kompleks Ponpes Ahlus Sunnah Wal Jamaah Brani Kulon, Kecamatan Maron, Probolingo Jawa Timur. (*) Aji Setiawan, Purbalingga


Honor via Rek Bank Mandiri a/n Aji Setiawan no : 139-00-1091517-5

Selasa, 03 Januari 2012

Materi Jurnalistik Dasar

Materi Jurnalistik Dasar

Pengin jadi penulis?
Bagaimana caranya menulis jurnalistik?
Pengin belajar dengan ahlinya?

Menulis itu mudah, asal mau belajar, berlatih dan terus berusaha  menulis baik dan benar.........

-Pengantar Jurnalisme
-Menulis Berita
-Teknik Reportase (Wawancara)
-Menulis Opini, Feature, Kolom dan Artikel dll
-Menulis Public Relation dan Press Release ke Media
-Menulis Investagasi Reporting
-Menulis Resensi
-Teknik Fotografi
-Praktik menulis

Untuk permintaan pengisian materi, pelatihan dan modul, sebaiknya booking 1 minggu sebelum acara.
Penulis tidak melayani permintaan mendadak! Kontak person:

Thanks,




 Aji Setiawan
Journalist

 Phone mobile: (+062) 081229667400
Setiawan5000@gmail.com
www.ajisetiawan1.blogspot.com



Selasa, 20 Desember 2011

Sufi : Asy-Syaikh Abdul Malik


Sesepuh Mursyid Naqsabandiyah Khalidiyah Tanah Jawa


Ia adalah sosok ulama yang cukup di segani di Banyumas Jawa Tengah.Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah

Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum’at 3 Rajab 1294 H (1881). Nama kecilnya adalah Muhammad Ash’ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya. Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.

Sang ayah adalah KH Muhammad Ilyas bin H Aly Dipowongso. Syaikh Muhammad Ilyas trukah berdakwah di wilayah eks Karsidenan Banumas di mulai dari grumbul Kedungparuk sekembalinya dari menuntut ilmu selama puluhan tahun di Mekkah. Guru Ilyas demikian nama yang lebih dikenal dilahirkan di Kedung Paruk sekitar tahun 1186 H/1765 M dari seorang ibu bernama Siti Zaenab binti Maseh bin KH Abdussamad (Mbah Jombor). Guru Ilyas mulai menyebarkan luaskan thariqah naqsabandiyah khalidiyah sesuai tugas dan amanah gurunya yakni Syaikh Sulaiman Zuhdi Al Makki sekitar tahun 1246 H/1825 M pada usia 60 tahun.

Setelah belajar Al-Qur’an dengan ayahnya, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mendalami kembali Al-Qur’an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas). Pada tahun 1312 H, ketika Syaikh Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh sang ayah, ia dikirim ke Mekkah untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama diantaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, Ulumul Qur’an, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain. Asy-Syaikh belajar di Tanah suci dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.

Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha’ dan Sayid Muhammad Syatha’ (putra penulis kitab I’anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu’in). Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Tha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah), Sayid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi. Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), Kyai Soleh Darat (Semarang).

Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, Sayid Ali Ridha.

Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H, Asy-Syaikh Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada keduaorang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut). Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah.

Sesudah sang ayah wafat, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan kaki. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke- 100 dari hari wafat sang ayah, dan saat itu umur Asy Syaikh berusia tiga puluh tahun.

Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Perlu diketahui, Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh. Mereka bekerjasama dengan Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana. Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Mekkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-‘Allamah.

Syaikh Ma’shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada Asy-Syaikh Abdul Malik. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur’an kepada Syaikh Abdul Malik.

Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, Dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.

Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).

Konon beliau mengamalkan lebih dari 12 thariqah,hanya yang diturunkan paling tidak 4 thariqah yaitu naqsyabandi al-khalidi, syadziliyah, qairiyah naqsyabandiyah dan alawiyah. Di samping memberikan pelajaran tentang ilmu tashawuf (Thariqah), beliau juga mengembangkan ilmu al-qur’an (tahfidul-qur’an dan qira;ah sab’ah). Tidak sedikit para hafidh dan qari’ datang kepada beliau untuk mengambil ilmu al-qur’an atau sekedar tabarukan.

Mbah Malik tidak meninggalkan harta ataupun karya tulis, namun karya agung beliau adalah karya yang dapat berjalan yaitu murid-murid beliau yang kini menjadi tokoh-tokoh masyarakat, ulama, kiyai, rijalul qaum (tokoh panutan) seperti diuangkapkan oleh al ‘alaamah al-mursyid al-habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Aly bin Yahya.

Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik diantaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang), KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.

Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun. “Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.”

Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah ‘ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami’i asy-Syada’id.”

Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala’ilu al-Khairat sebanyak seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.

Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Sanad thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Mekkah).

Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca Al-Qur’an dan Shalawat. Beliau tak kurang membaca shalwat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan sekali menghatamkan Al-Qur’an. Adapun shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad.” Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau. Adapun shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain.

Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau. Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.

Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul. Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,”Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.” Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, ”Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.”

atu hal yang sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh murid kesayangan Mbah Malik yakni Habib Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya (Pekalongan) bahwa beliau memiliki ratusan guru ruhani, tapi yang “kemantil-kantil” di pelupuk mata beliau adalah Mbah Malik.

Tiga hal yang diwasiatkan kepada penerus Mbah Malik yaitu; jangan tinggalkan shalat, jangan tinggalkan al-qur’an dan jangan tinggalkan shalawat. Disamping itu dalam berbagai kesempatan Mbah Malik sering menyampaikan pesan-pesannya kepada murid-murid dan cucu-cucu beliau untuk melakukan dua hal, yaitu pertama agar selalu membaca shalawat kepada Rasulullah SAW dan kedua agar sellau mencintai serta menghormati dzuriyyah (cucu-cucu ) Rasulullah SAW.

Penerus Mbah Malik

Mbah Malik adalah guru besar Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan As-Syadziliyah Indonesia. Silsilah kemursyidan diserahkan kepada murid kesayangan beliau (Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya dan cucu beliau Abdul Qadir bin Lyas Noor).

Kalau kepadasang cucu hanya kemursyidan thariqah An-Naqsabandiyah al-Khalidiyahnya saja, namun kemursyidan kedua thariqah besar tersebut (Naqsyabandi dan Syadzili) diserahkan kepada muridnya yakni Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya.

Mbah Malik menurunkan seorang anak laki-laki dari Nyai Siti Warsiti yang lebih dikenal Mbah Johar (putri syaikh Abubakar bin H Yahya, kaliwedi, guru mbah Malik) yakni Ahmad Busyairi, namun meninggall dalam usia 36 tahun (1953). Sedang dari mBah Mrenek Maos Cilacap, tidak dikaruniai anak. Dari perkawainannya dengan Nyai Siti Hasanah putri H Abdul Khalil (Kedung Paruk), ia menurunkan seorang putri yaitu Nyai Khairiyah. Sang putri tunggal ini Nyai Khairiyah menurunkan sembilan anak. Dengan Kyai Anshor Sokaraja, satu orang putri yaitu Hj Siti Fauziyah dan dariKyai Ilyas Noor, delapan anak tiga laki-laki dan lima perempuan yaitu Hj Siti Faridah, KH Abdul Qadir, Siti Fatimah, Siti Rogayah, KH Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor , Hj Isti Rochati dan Nurul Mu’minah.

Tiga penerus Mbah Malik yang meneruskan amaliah Mbah Malik masing-masing yakni pertama, KH Abdul Qadir bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir di Kedung Paruk 11 Oktober 1942 wafat pada hari Selasa 19 Maret 2002 (5 Muharam 1423 H dalamusia 60 tahun) dan dimakamkan dibelakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 22 tahun (1980-2002).

Penerus kedua yakni yakni KH Sa’id bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir diKedung Paruk pada tanggal 15 April 1951 wafat pada hari kamis tanggal 3 Juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun (2002-2004). Selepas itu kemursyidan thariqah dari tahun 2004 sampai sekarang dipegang oleh KH Muhammad bin KH Ilyas Noor Subtil Malik.

Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April 1980) pada usia 99 tahun dan dimakamkan di belakang masjid Bahaaul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien, Kedung Paruk Purwokerto Banyumas dan memangku kemursyidan selama 68 tahun (1912-1980). (*)Aji Setiawan


KCP Bank Mandiri Purbalingga a/n Aji Setiawan No rek : 139-00-1091517-5

http://www.sufinews.com/index.php/Tokoh-Sufi/syaikh-abdul-malik-sesepuh-mursyid-naqsabandiyah-khalidiyah-tanah-jawa.sufi

Kearifan Rasulullah SAW

Sabtu, 17 Desember 2011 pukul 08:25:00
Kearifan Rasulullah SAW

Oleh Aji Setiawan

Suatu hari kaum Muhajirin dan Anshar mendatangi Nabi Muhammad SAW di rumahnya. Setelah mereka masuk dan duduk di majelis, Rasulullah mempersilakan mereka mengutarakan maksud kedatangannya.

"Ya Rasulullah, tuan tentu memerlukan barang-barang untuk nafkah dan kebutuhan pribadi, juga untuk menjamu para utusan yang datang menghadap tuan. Ambillah harta kekayaan kami dan pergunakanlah menurut kemauan tuan, atau simpanlah jika Rasul ingin menyimpannya," kata salah seorang sahabat.

Mendengar itu, Rasulullah SAW dengan wajahnya yang putih bersih menyampaikan kepada para sahabatnya tentang wahyu yang baru saja diterimanya melalui Malaikat Jibril AS. "Katakanlah (wahai Muhammad), Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (dakwah yang kusampaikan) selain agar kalian berkasih sayang kepada kerabatku." (QS asy-Syuura: 23).

Kemudian, mereka mendengarkan dakwah Rasulullah SAW. Dan, saat pulang dari majelis tersebut, beberapa sahabat saling berbincang-bincang. "Yang membuat Rasulullah SAW tidak mau menerima tawaran itu ialah karena beliau hendak mendesak supaya kita mencintai kerabatnya setelah beliau wafat." "Jangan berprasangka begitu, wahai sahabatku," kata yang lain, karena menganggap itu sebagai fitnah.

Tak berapa lama, Rasul SAW menerima wahyu surah asy-Syuura ayat 24. Ayat tersebut menerangkan supaya umat Islam tidak terjebak dalam perbuatan fitnah. "Bahkan, mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.' Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu, dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Alquran). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati."

Setelah wahyu diterima, Rasul langsung menemui seorang sahabat dan menanyakan berita bohong yang beredar. Kemudian, beberapa orang di antara rombongan datang menghadap Rasulullah SAW. "Ada beberapa orang di antara kami yang berkata kasar dan kami sendiri tidak menyukainya."

Rasul SAW lalu membacakan Alquran surah asy-Syura ayat 24 kepada para sahabat yang hadir. Setelah mendengar wahyu itu, para sahabat pun menangis dan menyesali semua fitnah yang mereka lontarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Rasul pun memaafkan mereka. Beliau lalu membacakan ayat ke-25 surah asy-Syuura. "Dan Dia (Allah SWT) yang berkenan menerima taubat dari hamba-hamaba-Nya, mengampuni mereka atas kesalahan-kesalahan mereka, dan Dia mengetahui apa-apa yang kalian perbuat."

Setelah mendengar kalam Ilahi itu, para sahabat bersalaman dan saling berangkulan dengan Rasululah SAW. Kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lapang. Itulah salah satu kemuliaan Rasulullah SAW yang begitu pemaaf terhadap siapa saja yang memfitnahnya. (HR Imam Ahmad bin Hambal, Tabrani, dan Hakim dari Ibnu Abbas).

Betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau memberikan teladan kepada umatnya dalam menyelesaikan setiap permasalahan. "Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzab [33]: 21).

http://koran.republika.co.id/koran/0/150190/Kearifan_Rasulullah_SAW