Minggu, 30 Desember 2012

Banyumas Bershalawat Menyambut Tahun Baru 2013









Album Maulid
Banyumas Bersholawat
Sekalipun berdesak-desakan, puluhan ribu warga Nahdhiyin Banyumas pada Hari Minggu (30/12) tampak antusias untuk mengikuti acara Banyumas Bersholawat dalam rangka menyambut Tahun Baru 2013 yang digelar oleh Pemkab Banyumas

Alun –alun Bannyumas yang biasanya ramai dengan anak-anak muda nongkrong , pada hari Minggu 30 Desember 2012 telah penuh sesak oleh puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah yang menghadiri acara Banyumas Bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo. Selain itu, Banyumas Bersholawat ini digelar untuk menyambut Acara Tahun Baru 2013 dengan tujuan agar masyarakat introspeksi diri terhadap apa yang telah dilakukan dalam satu tahun terakhir. Dari hasil evaluasi diri tersebut masyarakat diharapkan dapat menjalani kehidupan satu tahun ke depan.
Sembari menunggu para pembicara hadir, jamaah dihibur oleh Kelompok Hadrah dan Shalawat “Ahbabul Musthofa” yang menampilkan tembang-tembang shalawat pilihan.Sekalipun berdesak-desakan, masyarakat Bannyumas tampak antusias untuk mengikuti acara yang digelar oleh Pemkab Bannyumas. Ribuan pedagang tampak mengelilingi alun-alun mulai dari pedagang VCD, pamlet, minyak wangi, makanan dan minuman dll berbaur menjadi satu memenuhi alun-alun yang terletak di jantung kota Banyumas, Jawa Tengah.
Acara yang bertajuk Banyumas bershalawat ini dihadiri Bupati Banyumas Drs H Marjoko, MM , Kapolres Banyumas AKBP Dwiyono, MSIK dan aparat Muspika Kab Banyumas.
Acara Banyumas Bersholawat dimulai tepat pukul 20.00 dengan pembacaan Maulid Simthud Durar mahakarya Habib Ali bin Muhammad Husein Al Habsyi yang dipimpin langsung oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Disela-sela pembacaan Maulid, Habib Syech melantunkan beberapa tembang shalawat yang sontak diikuti secara kompak oleh puluhan ribu jamaah dengan bernyanyi bersama sambil melambaikan tangan bersama. Tampak ratusan liukan bendera berdominasi warna hijau menyemarakan suasan. Mereka mengibarkan bendera Nahdlatul Ulama, Ansor, Jamaah masjid, Majlis Taklim, pondok pesantren dll. Tepat pukul 22.00 Habib Syech sebagai satu-satunya pembicara malam itu menyampaikan maudizah hasanah tentang pentingnya pentingnya kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Selain itu dalam menyambut tahun baru 2013 ini Habib Syech memberikan pesan kepada jamaah Ahbabul Musthofa untuk tidak ikut-ikutan seperti anak muda jaman sekarang yang merayakan Tahun baru dengan acara hura-hura seperti konvoi di jalan, meniup terompet dan pesta anak muda namun mengajak jamaah untuk memperingati tahun baru 2013 ini dengan kegiatan yang positif di lingkungan masing-masing, seperti dengan makan bersama keluarga atau mengaji di lingkungan masing-masing.
Sungguh semoga tahun baru ini diawali dengan kebaikan dan diakhiri dengan kebaikan pula. Janganlah tahun ini diawali dengan maksiat dan diakhiri dengan maksiat.”
Ditambahkan oleh Habib Syech, hidup di dunia ini hanya sementara karena itulah sisa umur ini diisi dengan ketaatan kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dalam kesempatan itu juga Habib Syech mengajak kepada jamaah untuk menanamkan sifat khusnudzan (prasangka baik) dengan orang-orang yang disekeliling kita. Sebab dengan berprasangka baik, insya allah akan mendapatkan kenikmatan. Menyitir ungkapan Habib Ali Al Habsyi dimana Habib Ali Al Habsyi bernah berkata,”Hatiku ini kalau dibuka dipenuhi dengan khusnudzhan. Allah SWT pasti akan memandang hamba-hamba yang senang berhusnudzan.”
Habib Syech lalu mengisahkan tentang pentingnya khuszundzan seperti yang dialami oleh Abu Yazid Al Bustomi. Suatu hari Abu Yazid dipukuli oleh seorang pemuda yang sedang mabuk. Sehabis dipukuli oleh pemuda yang mabuk hingga berdarah, Abu Yazid pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan orang-orang dan menyatakan baru dipukuli oleh seorang pemuda yang sedang mabuk. Namun, Abu Yazid Al Bustomi melarang orang-orang untuk membalas dendam, bahkan mendoakan pemuda itu kelak bisa bertaubat dan menjadi ahli surga.
Tentu saja orang-orang sangat marah dengan perbuatan pemuda itu. Lalu orang-orang mencari pemuda itu dan akhirnya ketemu.
Kamu tahu siapa orang yang kamuy pukuli itu?”
Tentu saja pemuda pemabuk itu tidak tahu.
Dia adalah orang mulia, Abu Yazid Al Bustomi,”
Pemuda itu lalu menyesal dan lalu menyatakan diri menjadi murid Abu Yazid Al Bustomi.
Demikian pula tantangan berdakwah yang menimpa dengan Rasulullah SAW saat beliau di Thaif, Rasulullah SAW dilepari batu hingga berdarah. Apa kata Rasulullah SAW?
Rasulullah SAW mempunyai sifat pengasih dan mulia itu menjawab,”Saya hanya berharap kepada Allah SWT. Jika mereka tidak menjadi muslim ,semnga pada suatu saat nanti anak-anak mereka akan menjadi orang-orang yg menyembah dan beribadah kepada-Nya.”
Ditambahkan Habib Syech, Rasulullah SAW diutus dengan membawa Rahmat. “Wa ma arsalnaka illa Rahmatan lil ‘alamin.”
Rahmat Allah akan diturunkan karena saling mencintai karena Allah SWT.”Mudah-mudahan Banyumas dan sekitarnya ini semakin mencintai Rasul dengan maraknya majlis-majlis shalawat dan menjadi tempat yang aman, jauh dari ancaman dan bala. Mudah-mudahkan kita Allah menjaga Akidah kita, Aqidah Ahlusunnah wal Jamaah.”
Sekitar pukul 00.00 dini hari, acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dan jamaah kemudian pulang ke rumah masing-masing membaca kecintaan kepada Allah SWt dan Muhammad SAW.(***) Aji Setiawan


1. Lead
2. Suasana Mahalul Qiyam. Mengharap rahmat dan barakah maulid .
3. Jamaah membludak menutupi alun-alun. Tidak beranjak hingga larut malam

Minggu, 09 Desember 2012

Foto-foto Pengajian Budaya Bersama Cak Nun dan Kyai Kanjeng , Lap Karanggambas, Purbalingga. Sabtu (8/12) , 2012










Pengajian Budaya Bersama Cak Nun di Karanggambas Padamara

Anak-anak muda yang berjoged ria mengikuti dendang rebana, seolah melupakan sejenak kepenatan kehidupan. Tembang shalawat mengalun merdu diiringi rampak rebana. Sontak ribuan jamaah ikut menyanyikan senandung merdu lagu shalawat yang dibawakan, menjadi koor yang indah membawa suasana penuh kecintaan dan puncak kehasyahduan ruhani kepada sang Pencipta kehidupan.
Tampak Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU  menjaga tempat acara dari sekitar 2 kilo sebelum acara digelar sampai lapangan Karanggambas demi tertibnya acara. Para penonton menitipkan kendaraan baik roda dua maupun roda empat di pinggir jalan sepanjang menuju tempat acara. Muda-mudi, baik tua maupun muda berjalan beriringan dengan memakai baju takwa dan mereka lalu menempati duduknya di atas tikar di dalam komplek lapangan.
Demikianlah panggung pengajian budaya bersama Emha dan Kyai Kanjeng yang digelar , malam itu, Sabtu (8/12) suasana pengajian yang digelar di lapangan Karanggambas, Kec Padamara Kab Purbalingga menjadi sarana bertemu berbagai kalangan masyarakat baik itu dari pejabat maupun kalangan masyarakat biasa. Acara dibuka ba’da shalat Isya dengan pembacaan Maulid Simthud Durar yang diiringi hadrah rebana Darul Falah dari Ds Karang Gambas, Kec Padamara.
Acara bersambung dengan pengajian budaya yang dipimpin langsung oleh Emha Ainun Nadjib. Dalam kesempatan itu budayawan, Emha Ainun Najib alias Cak Nun mengungkapkan, tidak ada orang atau kelompok orang yang melarang manusia untuk beribadah sesuai agamnya. Orang Islam juga tidak boleh menilai bahwa cara yang dilakukan oleh organisasi tertentu itu termasuk haram.
Cak Nun mengibaratkan Islam itu sebagai sepotong ketela. Dari ketela itu diolah oleh manuia menjadi berbagai macam penganan. Ada getuk, cimplung, ciwel, kripik dan sebagainya. Aneka makanan itu menjadi kiasan bagi cara manusia untuk mendalami agama.
Menurut Cak Nun, NU, Muhammadiyah, LDII lan sedayanipun, niku sanes agama, namung dalan kangge ngaji sinau agama (NU, Muhammadiyah, LDII dan sebagainya, itu bukan agama, hanya jalan untuk ngaji belajar agama).
“Jadi, yang berhak menyatakan haram itu Alloh. Bila masing-masing menganggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, berarti mereka belum bisa membedakan apa itu ketela, apa itu getuk. Ia menegaskan, bahwa manusia tidak usah menggantikan perannya Alloh,” kata Cak Nun pada pengajian dalam rangka peringatan 1 Muhaaram di lapangan Desa Karanggambas Kecamatan Padamara, Purbalingga (Jateng), Sabtu (8/12/2012) malam.
Diungkapkan Cak Nun, jika ada yang makan getuk itu marah-arah dengan yang makan kripik, itu berarti tidak baik. “Lah wong asale nggih sami, asale niku saking tela, nggih napa mboten? (Sebab asalnya juga sama. Jadi jangan bertengkar hanya karena perbedaan makan getuk dan kripik)," kata penyair kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 itu.
Tausiah yang santun dan berwibawa itu diselingi dengan menampilkan sholawat atas Nabi Muhammad SAW. Dengan iringan musik gamelan yang dibawakan oleh Kyai Kanjeng, ribuan pengunjung pun ikut bersholawat. Sebut saja syair Sidnan Nabi, Sholli Wasalimda, Sholawat Badar, Lir Ilir dan Tola'al Badru . Tidak ketinggalan pula lagu modern dimainkan seperti Pak Tani (Koes Plus) dan Musik (Rhoma Irama).
Sementara KH Supono Mustajab yang mendapat kesempatan kedua mengingatkan tentang celakanya orang yang mempunyai ilmu, kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Celakanya orang-orang yang mengamalkan ilmunya, kecuali orang-orang yang mengamalkannya dengan ikhlas.
Dilanjutkan oleh KH Supono, “Sungguh surga merindukan empat golongan yang jamin masuk surge; orang-orang yang membaca al Qur’an, orang yang menjaga lisan, orang yang member makan dan orang yang puasa di bulan Ramadhan.”
Penceramah ketiga walau singkat, KH AKBP Imam Sutiyono mewakili Kapolres Purbalingga, menyampaikan pentingnya shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”Senandung shalawat yang dilantunkan sungguh mendamaikan hati dan membuat hati menjadi lembut. Apalagi senandung yang dilantunkan adalah shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. Shalawat sesungguhnya dicontohkan langsung Allah SWT dan termasuk bagian dari dzikir sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imron:191.
Dalam kesempatan terakhir Wakil Bupati Purbalingga, H. Sukento Ridho M, MM, yang turut menemani jama’ah dari awal acara sampai akhir acara menyambut dengan rasa kegembiraan atas pengajian budaya yang digelar.”Ini menunjukan masyarakat Purbalingga berakhlaq mulia. Dengan digelarnya acara ini semoga masyarakat Purbalingga semakin makmur, jauh dari bencana dan keluarga menjadi mawadah, warohmah dan sakinah.”
Acara kemudian dipungkasi dengan mahalul Qiyam dan ditutup dengan doa oleh KH Supono Mustajab tepat pukul 12.00 malam. (Aji Setiawan).   

Sabtu, 06 Oktober 2012

Gema Shalawat Bersama Jamrud Lider

 
Indonesia Diuntungkan Dakwah Kyai dan Habaib

“Inilah yang mempererat kebersamaan di antara kita, agar masyarakat tidak saling bermusuhan dan terpecah belah. Ini sudah diteliti oleh para peneliti bangsa Jepang, bahwa Indonesia ternyata diuntungkan oleh dakwah Kyai dan Habaib. Kalau tidak ada majlis-majlis seperti ini, dijamin masyarakat bejad moralnya!” kata KH Budi dengan penuh semangat.

Lantunan shalawat dan nyanyian senandung rindu berkumandang dari ribuan manusia yang memadati ruas-ruas jalan di pertigaan Desa Kutawis Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga-Jawa Tengah. Malam itu, Sabtu malam(6/10)  t2012, jama'ah rutin Maulid Simthud Duror Lintas Daerah (Jamrud Lider) mengadakan acara tabligh akbar bertajuk gema shalawat Bersama Jamrud.
Acara rutinan Jamrud memang menjadi arena pengajian yang mampu mengisi ruang ruhani masyarakat sehingga acara ini tersebar luas tidak hanya di wilayah Kab Purbalingga saja, namun sudah menyebar sampai Kab Banjarnegara, Banyumas, Wonosobo bahkan Cilacap. Jamaah tidak hanya didominasi oleh kalangan muda saja, namun juga oleh bapak-bapak dan ibu-ibu bahkan anak-anak kecil ikut larut dalam senandung shalawat bersama. 
Kurang lebih satu kilometer sebelum tempat acara digelar 3 ruas jalan utama telah ditutup dan sebagian dijadikan area parkir untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Prkatis, jamaah harus berjalan kaki menuju tempat acara dan mulai menempati tempat duduknya masing-masing di jalan raya Kutawis-Banjarnegara dengan bergelarkan karpet atau tikar.  
Acara yang berlangsung selepas waktu shalat Isya itu dibuka dengan tembang shalawat diikuti dengan iringan kibaran bendera dominasi wana hijau dari berbagai majlis taklim dan jamaah maulid yang tersebar di wilayah perbatasan Kab Purbalingga dan Banjarnegara itu. Ribuan manusia larut dalam suasana khidmat dan kesyahduan menyenandungkan rasa mahabah kepada Rasulullah SAW.
Selepas pembacaan maulid Simthud Durar maha karya Habib Ali bin Muhammad Husein Al Habsyi, acara bersambung dengan sambutan dari KM Ali Charisudddin mewakili Panitia yang bersambung dengan sambutan Wakil Bupati Purbalingga, H Sukento M, MM. Dalam sambutannnya Wakil Bupati menyambut gembira adanya acara-acara keagamaan dan maulid yang ada di Kab Purbalingga.
”Acara ini merupakan wujud nyata dari salah satu visi Kabupaten Purbalingga agar masyarakat Purbalingga akhlaqnya semakin baik. Sehingga Purbalingga aman, makmur dan sejahera serta pembangunan di harapkan lancar,” kata Wakil Bupati Kab Purbalingga, Jawa Tengah kepada jama'ah yang hadir.
Selepas sambutan dari Ketua Jamrud, Habib Ali bin Umar Al Quthban, pembicara utama yang ditunggu-tunggu KH Budi Harjono yang juga pengasuh  Pondok Pesantren Al Islah, Meteseh, Tembalang dari Semarang sekitar 1,5 jam menyampaikan tausyiah utama.
Dalam muidzah hasanah yang disampaikan dengan gaya santai itu selain mengungkap pentingnya majlis-majlis pengajian dan shalawatan, KH Budi Harjono juga mengajak jamaah untuk semakin mencintai Rasulullah SAW.
KH Budi Harjono berkisah di mana beberapa hari yang lalu baru bertemu Muryid Thariqah Naqsabandiyah Haqqaniyah , Syekh Hisyam Kabbani di daerah Condet, Jakarta Timur. Dalam pertemuan itu, Syeikh Hisyam mengungkap kegembiraan dan kecintaannya kepada tanah air Indonesia.”Di dunia ini ada dua tempat yang saya cintai. Pertama, kota Mekkah-Madinah karena di sana ada Ka’bah dan makam Rasulullah SAW. Kedua, Indonesia. Karena di langit Indonesia ini bertabur bintang-bintang cahaya. Majlis-majlis maulid dan ilmu tersebar di berbagai pelosok Indonesia,” kata KH Budi menirukan Syaikh Hisyam.
KH Budi melanjutkan orasinya, bahwa Majlis-majlis maulid yang banyak digelar di Indonesia ini. Sesungguhnya menjadi arena “srawung”(semacam bertemu dan berkumpul bersama) agar perjalanan kehidupan ini tidak sepi.
“Inilah yang mempererat kebersamaan di antara kita, agar masyarakat tidak saling bermusuhan dan terpecah belah. Ini sudah diteliti oleh para peneliti bangsa Jepang, bahwa Indonesia ternyata diuntungkan oleh dakwah Kyai dan Habaib. Kalau tidak ada majlis-majlis seperti ini, dijamin masyarakat bejad moralnya!” kata KH Budi dengan penuh semangat.       
Diselingi dengan shalawatan dengan sulukan langgam tembang jawa dan disambut dengan koor bersama dan diringi tetabuhan rampak rebana jamaah Simthud Durar  yang membawa jamaah pada samudra kecintaan kepada Rasulullah SAW.
KH Budi Harjono juga mengingatkan jamaah untuk tidak gumunan (heran) dengan gerakan gelombang budaya dan agama yang terjadi di Barat. “Shalawatan dengan diiringi musik rebana di Indonesia jauh lebih tua di bandingkan dengan apa yang terjadi di Barat. Lagu sulukan dan shalawatan telah dikembangkan Wali Songo sejak Islam pertama masuk Indonesia. Cat Steven atau yang dikenal Yusuf Islam baru belajar rebana dan mengembangkan di Eropa, ini setelah ia masuk Islam dan berkunjung ke Indonesia. Bahkan thoriqoh dan aliran tasawuf yang berkembang di Amerika yang sekarang sedang marak, ternyata aliran thoriqoh di Indonesia jauh lebih dahulu berkembang.”
Ia juga mengingatkan pentingnya shalawat, di mana dalam majlis-majlis semacam shawalatan bersama ini tiada lain untuk menumbuhkan kedalaman cintanya kepada Rasulullah SAW. “Nabi Muhammad SAW diutus sebagai petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat, lahir dan bathin. Semoga masyarakat Purbalingga dikaruniai sifat-sifat mahmudah (baik) yang pernah dianugrahkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Meteseh ini kepada ribuan jamaah.
Jama'ah tidak beranjak dari tempat duduknya, karena gaya ceramah KH Budi Harjono penuh ger-geran yang menyegarkan sehingga tidak membuat ngantuk. Di akhir acara KH Budi Harjono mengijazahkan doa mahabbah kepada jamaah agar semakin dicintai Rasulullah SAW dan meraih cinta Allah SWT. Wirid doa itu adalah “Allahumma inni as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibuka wal ‘amalal ladzi yuballlighuni ila hubbika.” (Ya Allah, aku memohon limpahan cinta-Mu,, cinta orang yang mencintai-Mu, dan setiap amal yang menyampaikanku kepada cinta-Mu). Acara pun ditutup derngan doa oleh KH Budi Harjono tepat pukul 01.00 dini hari.(***)

Aji Setiawan, Purbalingga
  
Caption :

1.   Lead
2.   Iringan rebana Jamrud Lider, Menyemarakan suasana
3. KH Budi Harjono. Diuntungkan dakwah Kyai dan Habaib
3. Jamaah membludak menutupi jalan raya. Menyimak mauidzah hasanah
             

Sabtu, 29 September 2012

Purbalingga Bersholawat 2012



Syeikh Hisyam dan  Habib Syech Shalawatan di Purbalingga
Habib Syeikh Hisyam Al Kabbani bersama Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf (Solo) menggelar Mawlid dan Shalawatan bersama di Alun-Alun Kabupaten Purbalingga. Acara yang bertajuk “Purbalingga Bersholawat” ini pun tak pelak dipenuhi puluhan ribu pengunjung.

Kedatangan Mursyid Thariqah Naqsabandi Al Haqqani Syaikh Hisyam Al Kabbani di Indonesia dari Amerika Serikat, disambut secara semarak oleh jamma’ah umat Islam Indonesia. Sejak kedatangannya di tanah air Indonesia medio 24 September 2012, beserta rombongan Syaikh Hisyam mengadakan silaturahmi di Majid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan. Acara berlanjut Hari Selasa (25/9) di Zawiyah Haqqul Mubbin, Bintaro. Tak kenal lelah, Hari Rabu (26/9) ia bertemu debgan jama’ahnya di Zawiyah Nurul Haq, Cinere dan Hari Kamisnya (27/9) bersama KH Amir Hamzah mengadakan Maulid bersama di Pondok Pesantren Daarul Ishlah, Buncit, Jakarta Selatan. Menurut rencana, Syaikh Hisyam di Indonesia sampai dengan 3 Oktober 2012.
Hari Sabtu bertepatan dengan 29 September kembali Habib Syeikh Hisyam Al Kabbani bersama Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf (Solo) menggelar Mawlid dan Shalawatan bersama di Alun-Alun Kabupaten Purbalingga. Acara yang bertajuk “Purbalingga Bersholawat” ini pun tak pelak dipenuhi puluhan ribu pengunjung. Jama’ah rela berdesak-desakan memadati areal alun-alun Kab Purbalingga sejak ba’da shalat Isya.
Acara dibuka tepat pukul 21.00 dengan pembacaan Simthud Durar yang dibaca secara estafet oleh Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, Habib Alwi bin Ali bin Alwi Al Habsyi, Habib Umar Bilfagih, Habib Ali bin Umar Al Qitban dan diiringi hadrah rebana Ahbabul Musthofa.
Berlanjut dengan sambutan pembuka oleh Wakil Bupati Purbalingga Jawa Tengah H. Sukento Ridho Marhaendrianto MM, MM yang disambung dengan mauidzah hasanah utama oleh Syaikh Hisyam Kabbani dalam berbahasa arab yang diterjamakan oleh Habib Alwi bin Ali bin Alwi bin Muhammad Husein Al Habsyi dari Surakarta.
Dalam tausyiahnya Syaikh Hisyam menyampaikan pesan cinta kepada jama’ah yang hadir.”Kita berkumpul di tempat yang mulia ini karena panggilan cinta kepada Rasulullah SAW,” kata Syaikh Hisyam.
“Wahai para kekasih Rasulullah SAW, kalian datang pada hari ini karena malam ini bersama Rasulullah SAW. Saat ini kita bershalawat bersama dalam majlis mujtama’ yang sangat besar. Malam ini tangan Allah SWT bersama kita. Allah SWT telah memuliakan Nabi Muhammad SAW dadlam kedudukan yang istimewa. Saat kita menyebut nama Rasulullah SAW, Rasulullah SAW membalas setiap shalawat yang kita sampaikan. Rasulullah SAW bersabda,’Orang yang bakhil atau kikir adalah orang yang apabila disebut namaku, orang tersebut tidak bershalawat kepadaku’.”
Syaikh Hisyam juga mengisahkan tentang keberuntungan para sahabat yang hidup semasa Rasulullah SAW.”Lihatlah para sahabat Rasul SAW yang berkumpul dalam majlis-majlis Rasulullah SAW. Mereka mencapai kedudukan mulia karena mereka duduk dan dapat memandang wajah Rasul dan Rasulullah SAW memandang wajah mereka. Sungguh beruntung orang-orang yang dapat memandang wajah Rasulullah SAW.”
Kemudian Syaikh Hisyam kembali bercerita tentang kedudukan mulianya umat Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Musa AS mengatakan kedudukan yang mulia umat Nabi Muhammad SAW, Nabi Musa memohon kepada Allah SWT agar dipertemukan dengan umat Nabi. Nabi Muhammad SAW lalu mengutus Abu Hamid bin Muhammad Al Ghazali untuk menemui Nabi Musa AS.
Nabi Musa AS bertanya kepada Imam Ghazali,”Siapa namamu?”
Imam Ghazali menjawab,”Abu Hamid bin Muhamad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali.”
Mendapat jawaban yang sedemikian panjang, Nabi Musa AS kembali bertanya,”Kenapa engkau ini? Kenapa engkau sebut semua kakekmu, bapakmu dan moyangmu?”
Al Ghazali menjawab,”Ya Musa, bagaimana aku hendak menjawab namaku yang sedemikian panjang. Karena namaku ada Muhammad. Dengan nama itu, aku diangkat di sisi Allah SWT. Adapun engkau Ya Musa, padahal Allah SWT maha tahu. Apa yang ada di tangan kanan mu. Itu tongkat. Kenapa engkau menjawab panjang lebar?”
Musa AS menjawab,”Aku menjawab ini dengan panjang lebar, karena aku lebih nikmat. Demikianpun ketika aku menyebut namamu Abu Hamid bin Muhamad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali. Karena aku merasakan kenikmatan saat menyebut namamu.”
Dilanjutkan,”Inilah umat sejati yang meraih kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Kita adalah para pencinta Rasulullah SAW. Apa yang dilakukan oleh Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf untuk lebih banyak menyebut nama Rasulullah SAW membuat kita semakin dimuliakan oleh beliau. Rasulullah SAW hadir di tengah-tengah kita saat kita sebut namanya. Ketahuilah Allah SWT melimpahkan rahmat Nya saat kita sebut nama Rasulullah SAW. Sekali kita menyebut Rasul SAW, Allah SWT melimpahkan sepuluh rahmat kepada kita. Kita sebut sepuluh, dibalas seratus. Kita sebut seratus, Allah SWT melimpahkan seribu Rahmat-Nya dan seterusnya. Begitulah yang dialami oleh para sahabat Rasulullah SAW saat mereka menyebut Rasulullah SAW.”
Selanjutnya Syaikh Hisyam Al Kabbani menguraikan makna yang terkandung dalam kalimat basmallah. “Di dalam Basmallah ada tiga tempat (huruf mim) yang mempunyai makna tersendiri. Mim pada bismi, merupakan kedudukan sang kekasih Allah SWT yakni Ahmad. Kedua mim pada Ar-Rahman, adalah panggilan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an,”Sungguh Aku mengutus seorang Rasul tiada lain untuk menyebarkan rahmat bagi alam semesta (Rahmatan lil Alamin).  Dan ketiga mim pada Ar-Rahiem adalah menandakan sifat Nabi Muhammad SAW. Sungguh Nabi Muhammad SAW mempunyai sifat yang sangat penyayang kepada umat yang beriman.” 
Sealin mengupas tentang kandungan makna ayat Al Qur’an, Syaikh Hisyam tidak lupa mengajak jamaah untuk semakin mendawamkan shalawat. “Kita menjunjung tinggi Rasulullah SAW itu karena perintah Al Qur’an. Jadikan shawalat sebagai dzikir setiap saat agar hati kita tentram dan tidak lupa kita meneladani ahlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari,” demikian pesan terakhir Habib Syeikh.
Selepas beberapa lagu shalawat yang mendapat antusiasme dari jamaah dengan melambaikan bendera atau tangan sambil menggerakan badan ikut bershalawat bersama berbarengan dengan iringan rebana yang rampak. Habib Syech tepat pukul 24.00 menutup Purbalingga Bersholawat dengan mahalul Qiyam dan doa.(*) Aji Setiawan, Purbalingga