<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827</id><updated>2012-01-22T17:15:25.427-08:00</updated><title type='text'>Aji Setiawan Bangkit</title><subtitle type='html'>Sebuah perjalanan sunyi seorang pengabdi...www.ajisetiawan.blogspot.com</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-8981308776370597645</id><published>2012-01-07T21:02:00.000-08:00</published><updated>2012-01-07T21:07:04.892-08:00</updated><title type='text'>Habib Husein bin Hadi Al Hamid Brani, Probolinggo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-jfd73cVYkkA/TwkjoJjnibI/AAAAAAAAA0U/wskE3yyEp_8/s1600/habib-husin-bin-hadi-al-hamid.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-jfd73cVYkkA/TwkjoJjnibI/AAAAAAAAA0U/wskE3yyEp_8/s320/habib-husin-bin-hadi-al-hamid.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5695122376453753266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manakib Salaf alKisah No 1/1/2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Husein bin Hadi bin Salim Al Hamid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Yang berumur Panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib ini termasuk wali yang berumur panjang, ia waqfat pada usia 124 tahun dan jauh dari berbagai penyakit. Kunci hidupnya adalah ia tidka pernah absen shalat subuh berjamaah dan berjalan kaki sesudahnya sekitar 1 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brani Kulon, Kecamatan Kraksaan , Probolinggo Jawa Timur pernah hidup seorang habib yang berumur panjang. Dialah Habib Husein bin Hadi bin Salim yang wafat pada usia 124 tahun. Kunci berumur panjang habib yang berdakwah di Brani Kulon ini adalah ia selalu istiqomah shalat Subuh berjamaah dan gemar melakukan jalan kaki sekitar 1 jam . Habib ini gemar berjalan kaki sekitar satu jam untuk menyegarkan tubuh dan melancarkan peredaran darah dalam tubuh sembari berdakwah di sekitar desa-desa di kecamatan Kraksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tempat yang ia lalui sellau mendatangkan rahmah. Ia berjalan kaki keliling dari rumah ke rumah di sekitar Brani dari kampung ke kampung atau ke pasar. Udara yang segar yang dihirup membuat kesegaran tubuh menjadi tetap prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, hidupnya senantiasa penuh khusnudzan kepada Allah SWT dan sesama manusia. Pernah suatu ketika ia ditanya, kenapa ia tidak mempunyai penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di hati saya tidak ada sedikit pun rasa iri dan dengki terhadap orang lain,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Husein lahir di Hadramaut, Yaman Selatan pada 1862 M dari pasangan Habib Hadi bin Salim Al Hamid dan Ummu Hani. Sedari kecil, ia dididik langsung kedua orang tuanya. Habib Hadi  dikenal sebagai ulama dan wali yang kesohor di Hadramaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga usia 86 tahun, Habib Husain masih tinggal di Hadramaut. Bagi orang sekarang, usia 86 tahun sudah memasuki usia senja, saat ketika orang sudah mulai kehilangan kekuatan dna gairah hidup. Namun bagi Habib Husain , itu tergolong mudah. Kekuatan nya tidak jauh berbeda dengan pemuda pada umumnya . Itulah salah satu kelebihan habib Husein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia tersebut, atau tepatnya tahun 1929 M ia masih senang mengembara ke berbagai negeri. Termasuk ke Gujarat dengan menggunakan kapal laut, bersama saudagar-saudagar Arab yang berdagang melalang buana ke berbagai negeri. Sejak itulah Habib Husein meninggalkan Yaman dan tidak pernah kembali lagi ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekita dua tahun, habib Husein tinggal di Gujarat, India. Selama di Gujarat ia berguru kepada ulama setempat dan berdagang. Seetalh itu ia kembali mengembara. Dua kali ia ke Indonesia, namun dengan menggunakan kapal saudagar yang menuju Batavia. Tak berapa lama, ia mengembara lagi ke berbagai daerah dan akhirnya sampai ke Pekalongan. Di kota ini Habib Husein kemudian berguru kepada seorang wali besar yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas, hingga bebebrapa tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Auliya Pekalongan itu, Habib Husein selain berguru ilmu lahir , ia juga mendalami ilmu batin .Sebagai tanda bahwa habib Husein telah mencapai maqam kewalian yang mumpuni, ia kemudian dihadiahi sebuah sorban (kain putih) dan kopiah putih dari Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alattas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perintah Habib Ahmad, Habib Husein kemudian mengasah ilmu kepada Habib Muhammad bin Muhammad Al Muhdor, yang tidak lain adalah guru Habib Ahmad binn Badullah bin Tholib Alattas. Selama menjadi murid Habib Muhammad, Habib Husein senantiasa mendapat perintah untuk berdakwah ke berbagai daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, menyebarkan dakwah ke Brani Kulon kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Ia masuk ke desa terpencil itu sekitar tahun 1939. Saat itu, kondisi desa Brani masih berupa hutan belantara dan menjadi sarang penyamun. Tampaknya Habib Husein memang sengaja di tugasi untuk menyadarkan para penyamun untuk kembali ke jalan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tinggal di Brani Kulon,ia langsung menyebarkan dakawah, dan dakwahnya itu diterima secara luas ke seluruh pelosok Kabupaten Probolinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelumnya Habib Husein harus membabat hutan terlebih dahulu, bahkan hidup menumpang pada salah satu penduduk setempat. Hingga ia berhasil mendirikan sebuah pesantren kecil, yang di kemudian hari dikenal sebagai pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah Brani Kulon . Dan di desa itu pula dalam usia 90 tahun ia mengakhiri masa lajangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah perjalanan bersama para habib dari berziarah ke makam Habib Husein bin Abdullah Alaydrus (keramat Luar Batang, penjaringan Jakarta Utara) habib Husein di dalam sebuah kereta pernah dipaksa menyerahkan tempat duduknya oleh seorang pemuda kumal dan hanya memakai kaos oblong , Habib Husein kemudian berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdialog beberapa saat dan Habib Husein kemudian memberi bekal uang yang tersisa kepada pemuda tersebut, tiba-tiba pemuda asing itu menghilang begitu saja. Kepada teman-teman Habib Husein mendapatinya sendirian dan menanyakan  kepada pemuda tersebut, Habib Husein berkata, “ Dia itu sebenarnya adalah Nabiullah Hiddir AS.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amaliah Habib Husein tentu saja tidak hanya beribadah kepada Allah SWT ia juga menjalin hubungan dengan sesama manusia. Sering Habib Husein berjalan-jalan ke pasar dan melihat barang dagangan tidak habis terjual atau malah tidak terjual sama sekali. Ia tidak segan-segan memborong barang dagangan tersebut agar si pedagang tidak menderita kerugian. Dengan keseimbangan amaliah tersebut, dakwahnya diterima dengan baik oleh masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya soal keilmuan, para santri Ponpes Ahlus Sunnah Brani Kulon sangata percaya maqam kewalian Habib Husein mendekati maqam Syaikh Abdul Qadir Al Jaelani,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal ia mendapat maqam kewalian setinggi Syaikh Abdul Qadir Jailani diketahui ketika Habib Ahmad bin Soleh Al Haddad (situbondo) salah seorang sahabatnya bermunajat kepada Allah agar bertemu Syaikh Baduil Qadir Jailani. Kemudian ia bermimpi dan dalam mimpinya ia dipertemukan dengan Syaikh Abdul Qadir Jailani yang bersorban putih. Ketika didekati, ternyata wajah itu adalah wajah habibb Husein bin Hadi Al Hamid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya Habib Ahmad bin Soleh AL Hadad Situbondo tidak yakin wajahh yang terlihat itu adalah wajah Habib Husein ia kemudian bermunajat lagi. Dan sampai tiga kali dalam mimpinya wajahnya selalu sama, wajah Habib Husein bin Hadi LA Hamid. Ahirnya Habib Ahmad menemui Habib Husein di Brani dan meminta ijazah sekaligus dijaadikan murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Husein kerap dikunjungi para Habib di jamanya, seperti Habib Soleh Tanggul (jember), salah seorang Pejuang RI. Habib Husein juga mempunyai kedekatan khusus dengan habib Abdullah bin Abdul Qadir bilfagih (Malang) dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Abdullah pernah tidak akan datang haul Habib Husein, karena sakit. Saat tertidur ia bermimpi didatangi Al Faqih Muqaddam dan Syaikh Abu bakar bin Slaim , keduanya (almarhum) wali di Yaman,”Datanglah ke Haul Habib Husein di Brani, karena kami berdua juga hadir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas terbangun dari mikmpinya, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih langsung menuju Brani untuk menghadiri Haul Habub Husein. Anehnya, penyakitnya langsung sembuh. Sejak itulah Habib Abdullah Jarang terkena penyakit, dan sellau menghadiri Haul Habib Husein di Brani sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan karena kedekatannya Habib Husein dengan Habib Abdullah, di kemudian hari anak cucu keturunan habib Husein banyak masuk ke ponpes Darul Hadis Malang seperti Habib Muhammad Shodiq, Habib Abdul Qadir, Habib Salim. Sekarang pesantren peninggalan Habib Husein diasuh oleh Habib Abdul Qadir bin Muhammad Shodiq bin Husein Al Hamid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu-tamu dari mancanegara yang pernah berkunjung ke Brani diantaranya Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (mufti Jeddah) dan Sayid Alwi AL Maliki Al Hasani (makkah). Setelah Habib Huseinn wafat, banyak juga ualam dan wali Allah yang berkunjungke Brani diantaranya Habib Umar Al Hafidz, Habib Musa AL Kadzim (Hadramaut Yaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Husein wafat pada hari Jumat Legi 11 Shofar 1406 H/25 Januari 1986. Jenazahnya kemudian dimakamkan di sebelah utara Masjid Al Mubarok, Kompleks Ponpes Ahlus Sunnah Wal Jamaah Brani Kulon, Kecamatan Maron, Probolingo Jawa Timur. (*) Aji Setiawan, Purbalingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Honor via Rek Bank Mandiri a/n Aji Setiawan no : 139-00-1091517-5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-8981308776370597645?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/8981308776370597645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=8981308776370597645' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8981308776370597645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8981308776370597645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2012/01/habib-husein-bin-hadi-al-hamid-brani.html' title='Habib Husein bin Hadi Al Hamid Brani, Probolinggo'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-jfd73cVYkkA/TwkjoJjnibI/AAAAAAAAA0U/wskE3yyEp_8/s72-c/habib-husin-bin-hadi-al-hamid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-5900627930578133249</id><published>2011-12-20T22:45:00.000-08:00</published><updated>2011-12-20T22:49:47.477-08:00</updated><title type='text'>Sufi : Asy-Syaikh Abdul Malik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-gzR-53oWeIs/TvGA6X1-oFI/AAAAAAAAAz8/1HIfDNWUVnw/s1600/mail.google.com.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 166px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-gzR-53oWeIs/TvGA6X1-oFI/AAAAAAAAAz8/1HIfDNWUVnw/s320/mail.google.com.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688469544666832978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesepuh Mursyid Naqsabandiyah Khalidiyah Tanah Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah sosok ulama yang cukup di segani di Banyumas Jawa Tengah.Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum’at 3 Rajab 1294 H (1881). Nama kecilnya adalah Muhammad Ash’ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya. Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah adalah KH Muhammad Ilyas bin H Aly Dipowongso. Syaikh Muhammad Ilyas trukah berdakwah di wilayah eks Karsidenan Banumas di mulai dari grumbul Kedungparuk sekembalinya dari menuntut ilmu selama puluhan tahun di Mekkah. Guru Ilyas demikian nama yang lebih dikenal dilahirkan di Kedung Paruk sekitar tahun 1186 H/1765 M dari seorang ibu bernama Siti Zaenab binti Maseh bin KH Abdussamad (Mbah Jombor). Guru Ilyas mulai menyebarkan luaskan thariqah naqsabandiyah khalidiyah sesuai tugas dan amanah gurunya yakni Syaikh Sulaiman Zuhdi Al Makki sekitar tahun 1246 H/1825 M pada usia 60 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah belajar Al-Qur’an dengan ayahnya, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mendalami kembali Al-Qur’an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas). Pada tahun 1312 H, ketika Syaikh Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh sang ayah, ia dikirim ke Mekkah untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama diantaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, Ulumul Qur’an, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain. Asy-Syaikh belajar di Tanah suci dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha’ dan Sayid Muhammad Syatha’ (putra penulis kitab I’anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu’in). Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Tha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah), Sayid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi. Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), Kyai Soleh Darat (Semarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, Sayid Ali Ridha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H, Asy-Syaikh Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada keduaorang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut). Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah sang ayah wafat, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan kaki. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke- 100 dari hari wafat sang ayah, dan saat itu umur Asy Syaikh berusia tiga puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Perlu diketahui, Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh. Mereka bekerjasama dengan Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana. Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Mekkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-‘Allamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ma’shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada Asy-Syaikh Abdul Malik. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur’an kepada Syaikh Abdul Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, Dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon beliau mengamalkan lebih dari 12 thariqah,hanya yang diturunkan paling tidak 4 thariqah yaitu naqsyabandi al-khalidi, syadziliyah, qairiyah naqsyabandiyah dan alawiyah. Di samping memberikan pelajaran tentang ilmu tashawuf (Thariqah), beliau juga mengembangkan ilmu al-qur’an (tahfidul-qur’an dan qira;ah sab’ah). Tidak sedikit para hafidh dan qari’ datang kepada beliau untuk mengambil ilmu al-qur’an atau sekedar tabarukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Malik tidak meninggalkan harta ataupun karya tulis, namun karya agung beliau adalah karya yang dapat berjalan yaitu murid-murid beliau yang kini menjadi tokoh-tokoh masyarakat, ulama, kiyai, rijalul qaum (tokoh panutan) seperti diuangkapkan oleh al ‘alaamah al-mursyid al-habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Aly bin Yahya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik diantaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang), KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun. “Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah ‘ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami’i asy-Syada’id.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala’ilu al-Khairat sebanyak seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Sanad thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Mekkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca Al-Qur’an dan Shalawat. Beliau tak kurang membaca shalwat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan sekali menghatamkan Al-Qur’an. Adapun shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad.” Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau. Adapun shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau. Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul. Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,”Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.” Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, ”Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atu hal yang sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh murid kesayangan Mbah Malik yakni Habib Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya (Pekalongan) bahwa beliau memiliki ratusan guru ruhani, tapi yang “kemantil-kantil” di pelupuk mata beliau adalah Mbah Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hal yang diwasiatkan kepada penerus Mbah Malik yaitu; jangan tinggalkan shalat, jangan tinggalkan al-qur’an dan jangan tinggalkan shalawat. Disamping itu dalam berbagai kesempatan Mbah Malik sering menyampaikan pesan-pesannya kepada murid-murid dan cucu-cucu beliau untuk melakukan dua hal, yaitu pertama agar selalu membaca shalawat kepada Rasulullah SAW dan kedua agar sellau mencintai serta menghormati dzuriyyah (cucu-cucu ) Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerus Mbah Malik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Malik adalah guru besar Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan As-Syadziliyah Indonesia. Silsilah kemursyidan diserahkan kepada murid kesayangan beliau (Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya dan cucu beliau Abdul Qadir bin Lyas Noor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kepadasang cucu hanya kemursyidan thariqah An-Naqsabandiyah al-Khalidiyahnya saja, namun kemursyidan kedua thariqah besar tersebut (Naqsyabandi dan Syadzili) diserahkan kepada muridnya yakni Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Malik menurunkan seorang anak laki-laki dari Nyai Siti Warsiti yang lebih dikenal Mbah Johar (putri syaikh Abubakar bin H Yahya, kaliwedi, guru mbah Malik) yakni Ahmad Busyairi, namun meninggall dalam usia 36 tahun (1953). Sedang dari mBah Mrenek Maos Cilacap, tidak dikaruniai anak. Dari perkawainannya dengan Nyai Siti Hasanah putri H Abdul Khalil (Kedung Paruk), ia menurunkan seorang putri yaitu Nyai Khairiyah. Sang putri tunggal ini Nyai Khairiyah menurunkan sembilan anak. Dengan Kyai Anshor Sokaraja, satu orang putri yaitu Hj Siti Fauziyah dan dariKyai Ilyas Noor, delapan anak tiga laki-laki dan lima perempuan yaitu Hj Siti Faridah, KH Abdul Qadir, Siti Fatimah, Siti Rogayah, KH Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor , Hj Isti Rochati dan Nurul Mu’minah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga penerus Mbah Malik yang meneruskan amaliah Mbah Malik masing-masing yakni pertama, KH Abdul Qadir bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir di Kedung Paruk 11 Oktober 1942 wafat pada hari Selasa 19 Maret 2002 (5 Muharam 1423 H dalamusia 60 tahun) dan dimakamkan dibelakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 22 tahun (1980-2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerus kedua yakni yakni KH Sa’id bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir diKedung Paruk pada tanggal 15 April 1951 wafat pada hari kamis tanggal 3 Juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun (2002-2004). Selepas itu kemursyidan thariqah dari tahun 2004 sampai sekarang dipegang oleh KH Muhammad bin KH Ilyas Noor Subtil Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April 1980) pada usia 99 tahun dan dimakamkan di belakang masjid Bahaaul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien, Kedung Paruk Purwokerto Banyumas dan memangku kemursyidan selama 68 tahun (1912-1980). (*)Aji Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KCP Bank Mandiri Purbalingga a/n Aji Setiawan No rek : 139-00-1091517-5 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.sufinews.com/index.php/Tokoh-Sufi/syaikh-abdul-malik-sesepuh-mursyid-naqsabandiyah-khalidiyah-tanah-jawa.sufi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-5900627930578133249?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/5900627930578133249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=5900627930578133249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/5900627930578133249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/5900627930578133249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/12/sufi-asy-syaikh-abdul-malik.html' title='Sufi : Asy-Syaikh Abdul Malik'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gzR-53oWeIs/TvGA6X1-oFI/AAAAAAAAAz8/1HIfDNWUVnw/s72-c/mail.google.com.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-8080255858268961077</id><published>2011-12-20T22:44:00.000-08:00</published><updated>2011-12-20T22:45:24.603-08:00</updated><title type='text'>Kearifan Rasulullah SAW</title><content type='html'>Sabtu, 17 Desember 2011 pukul 08:25:00&lt;br /&gt;Kearifan Rasulullah SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Aji Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari kaum Muhajirin dan Anshar mendatangi Nabi Muhammad SAW di rumahnya. Setelah mereka masuk dan duduk di majelis, Rasulullah mempersilakan  mereka mengutarakan maksud kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Rasulullah, tuan tentu memerlukan barang-barang untuk nafkah dan kebutuhan pribadi, juga untuk menjamu para utusan yang datang menghadap tuan. Ambillah harta kekayaan kami dan pergunakanlah menurut kemauan tuan, atau simpanlah jika Rasul ingin menyimpannya," kata salah seorang sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, Rasulullah SAW dengan wajahnya yang putih bersih menyampaikan kepada para sahabatnya tentang wahyu yang baru saja diterimanya melalui Malaikat Jibril AS. "Katakanlah (wahai Muhammad), Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (dakwah yang kusampaikan) selain agar kalian berkasih sayang kepada kerabatku." (QS asy-Syuura: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, mereka mendengarkan dakwah Rasulullah SAW. Dan, saat pulang dari majelis tersebut, beberapa sahabat saling berbincang-bincang. "Yang membuat Rasulullah SAW tidak mau menerima tawaran itu ialah karena beliau hendak mendesak supaya kita mencintai kerabatnya setelah beliau wafat." "Jangan berprasangka begitu, wahai sahabatku," kata yang lain, karena menganggap itu sebagai fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, Rasul SAW menerima wahyu surah asy-Syuura ayat 24. Ayat tersebut menerangkan supaya umat Islam tidak terjebak dalam perbuatan fitnah. "Bahkan, mereka mengatakan,  'Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.' Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu, dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Alquran). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wahyu diterima, Rasul langsung menemui seorang sahabat dan menanyakan berita bohong yang beredar. Kemudian, beberapa orang di antara rombongan datang menghadap Rasulullah SAW. "Ada beberapa orang di antara kami yang berkata kasar dan kami sendiri tidak menyukainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul SAW lalu membacakan Alquran surah asy-Syura ayat 24 kepada para sahabat yang hadir. Setelah mendengar wahyu itu, para sahabat pun menangis dan menyesali semua fitnah yang mereka lontarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Rasul pun memaafkan mereka. Beliau lalu membacakan ayat ke-25 surah asy-Syuura. "Dan Dia (Allah SWT) yang berkenan menerima taubat dari hamba-hamaba-Nya, mengampuni mereka atas kesalahan-kesalahan mereka, dan Dia mengetahui apa-apa yang kalian perbuat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar kalam Ilahi itu, para sahabat bersalaman dan saling berangkulan dengan Rasululah SAW. Kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lapang. Itulah salah satu kemuliaan Rasulullah SAW yang begitu pemaaf terhadap siapa saja yang memfitnahnya. (HR Imam Ahmad bin Hambal, Tabrani, dan Hakim dari Ibnu Abbas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau memberikan teladan kepada umatnya dalam menyelesaikan setiap permasalahan. "Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzab [33]: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://koran.republika.co.id/koran/0/150190/Kearifan_Rasulullah_SAW&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-8080255858268961077?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/8080255858268961077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=8080255858268961077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8080255858268961077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8080255858268961077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/12/kearifan-rasulullah-saw.html' title='Kearifan Rasulullah SAW'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-8612006454563290568</id><published>2011-11-06T05:18:00.000-08:00</published><updated>2011-11-06T05:19:20.068-08:00</updated><title type='text'>NU dalam Persiapan dan Setelah Kemerdekaan Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-aiu7wZ4_bHg/TraJQkAT7aI/AAAAAAAAAzw/wXbRl2dc6GI/s1600/thumbnail.aspx.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 198px; height: 135px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-aiu7wZ4_bHg/TraJQkAT7aI/AAAAAAAAAzw/wXbRl2dc6GI/s320/thumbnail.aspx.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671871698355613090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU dalam Persiapan dan Setelah Kemerdekaan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan NU untuk memperjuangkan berdirinya Republik terus berlanjut ketika Jepang datang menggantikan penjajah Belanda pada tahun 1942.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa Jepang sejak awal lebih condong bekerjasama dengan para pemimpin Islam, ketimbang pemimpin tradisional atau pemimpin nasionalis. Kecondongan ini terjadi karena Jepang menganggap para kyai yang memimpin pesantren merupakan pendidikan masyarakat pedesaan, sehingga dapat dijadikan alat propaganda yang efektif. Sebagai imbalannya para pemimpin Islam diberi kemudahan dalam urusan keagamaan. Kecondongan Jepang yang seperti itu tidak diabaikan oleh NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya bukan karena mau dijadikan sebagai propagandis melainkan untuk memanfaatkan kesempatan untuk mensosialisasikan keinginan untuk merdeka. Ketika Jepang membentuk kantor urusan agama (shumubu) yang membentuk jaringan langsung para kyai pedesaan dan memberi pelatihan terhadap para kyai dengan mengajarkan sejarah, kewarganegaraan, olah raga senam dan bahasa Jepang, bukan malah membawa kyai tunduk pada Jepang tetapi sebaliknya, terjadi politisasi di kalangan kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siasat yang dibuat NU tersebut tercium oleh Jepang. K.H. Hasyim Asyari ditangkap dengan alasan yang tidak jelas. Terjadi kegoncangan di tubuh organisasi NU. Kegoncangan bertambah hebat ketika K.H. Mahfudz Shiddiq ikut ditangkap dengan tuduhan melakukan gerakan anti Jepang. Penangkapan itu terus terjadi pada ulama-ulama lain di Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan tuduhan yang sama yakni gerakan anti Jepang. K.H. Wahab Hasbullah mengeliminir kegoncangan yang terjadi dalam NU dengan melakukan lobi ke beberapa pejabat Jepang, seperti Saiko Siki Kan (Panglima tertingi bala tentara Jepang di Jakarta), Gunseikan (Kepala Pemerintahan militer Jepang di Jakarta) dan Shuutyokan (Residen Jepang di Surabaya). Usaha keras K.H. Wahab untuk membebaskan K.H. Hasyim, K.H. Mahfudz Shiddiq dan beberapa kiai lainnya membuahkan hasil dibebaskannya kiai-kiai itu. Usaha untuk pembebasan ini memakan waktu sampai enam bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperkuat kekuatan militernya, Jepang membentuk kekuatan sukarela Indonesia yakni Peta yang diikuti banyak orang Indonesia dari berbagai kalangan tak terkecuali umat Islam dan para kiai. Kenapa orang Indonesia mau menjadi Peta, padahal mereka tahu pembentukan Peta dimaksudkan untuk membantu tentara Jepang menghadapi Sekutu yang akan datang ke Jawa? Masuknya banyak orang Indonesia ke Peta lebih karena untuk mengetahui seluk-beluk kemiliteran dan mengangankan mendapat peranan politik yang lebih besar di masa yang akan datang, bukan karena semata ingin membantu Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pemerintah Jepang akan membubarkan organisasi sosial-politik-keagamaan yang tidak mau diajak bekerjasama, sebaliknya yang masih mau diajak kerjasama akan dikooptasi. MIAI dibubarkan oleh Jepang pada tahun 1943 dan diganti dengan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang menyatakan siap membantu kepentingan Jepang. Hanya NU dan Muhammadiyah yang diperbolehkan secara sah oleh Jepang untuk menjadi anggota Masyumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1944, NU pertama kalinya masuk ke dalam struktur pemerintahan dengan diangkatnya K.H. Hasyim Asyari sebagai Ketua Shumubu (Kantor Urusan Agama). Pada tahun itu juga K.H. Wahid Hasyim berhasil melobi Jepang untuk memberikan pelatihan militer khusus kepada para santri dan mengizinkan mereka membentuk barisan pertahanan rakyat tersendiri yakni Hizbullah dan Sabillilah. Sejak saat itu ormas Islam memiliki pasukan tersendiri. Kaum nasionalis yang netral agama menguasai tentara nasional (Peta) yang dibentuk Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Peta, Hisbullah ataupun Sabilillah yang diharapkan Jepang bisa membantu Perang Asia Timur Raya, ternyata yang terjadi malah kebalikan, kemampuan ketika komponen ini dipergunakan untuk memukul Jepang. Pada tanggal 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuaki Kaiso menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia. Janji itu dilontarkan karena di beberapa medan pertempuran, Jepang mengalami kekalahan terhadap Sekutu. Janji itu kemudian direspons secara positif oleh Pimpinan Kongres Umat Islam se-Dunia, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dari Palestina mengirimkan surat kepada pemerintahan Jepang melalui Duta Besar berkuasa penuh pemerintah Jepang untuk Jerman. Surat itu juga ditembuskan kepada K.H. Hasyim Asy’ari (Rais Am Masyumi). Dengan cepat K.H. Hasyim menyelenggarakan rapat khusus Masyumi pada tanggal 12 Oktober 1944, yang menghasilkan resolusi ditujukan kepada pemerintah Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi tersebut berisi; pertama, mempersiapkan umat Islam Indonesia agar mampu dan siap menerima kemerdekaan Indonesia dan agama Islam. Kedua, mengaktifkan kekuatan umat Islam Indonesia untuk memastikan terlaksananya kemenangan final dan mengatasi setiap rintangan dan serangan musuh yang mungkin berusaha menghalangi kemajuan kemerdekaan Indonesia dan agama Islam. Ketiga, bertempur dengan sekuat tenaga bersama Jepang Raya di jalan Allah untuk mengalahkan musuh. Keempat, menyebarkan resolusi ini kepada seluruh tentara Jepang dan kepada segenap bangsa Indonesia. (Choirul Anam, 1999: 126). Berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan oleh Jepang dimanfaatkan umat Islam untuk menyadarkan masyarakat akan hak-hak politiknya di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari sebelum persiapan kemerdekaan dilakukan, NU pada Muktamarnya ke-15 yang diselenggarakan bulan Juni 1942 (muktamar terakhir masa kolonial Belanda) diadakan rapat tertutup yang dihadiri oleh 11 orang ulama yang dipimpin oleh K.H. Mahfudz Shiddiq untuk membicarakan calon yang pantas untuk dijadikan presiden pertama Indonesia. Sebelas tokoh NU menentukan pilihan dua nama yang disebut, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta. Para ulama memilih Soekarno banding Hatta dengan perbandingan suara 10:1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan mengenai calon pemimpin pertama Indonesia itu dilakukan pada saat Indonesia belum bisa memastikan kapan akan merdeka. NU melakukan pembicaraan dini mengenai pemimpin bangsa Indonesia dikarenakan NU menganggap pemimpin itu sangat penting. Ada ajaran (Islam) yang menyebutkan bahwa pemimpin yang lalim masih lebih baik ketimbang tidak ada pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mematangkan persiapan Indonesia menyambut kemerdekaannya, pada tanggal 29 April 1945 dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang anggotanya berjumlah 62 orang diketuai oleh Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Dalam badan itu juga tercantum nama K.H. Wahid Hasyim sebagai anggota. BPUPKI selain menyusun Undang-Undang Dasar (UUD) juga muncul pembicaraan mengenai bentuk negara. Polarisasi pendapat di dalam BPUPKI mengenai bentuk negara; satu pihak menginginkan Indonesia menjadi negara Islam, pihak lainnya menginginkan Indonesia menjadi negara kesatuan nasional yang memisahkan negara dan agama. Di BPUPKI inilah Soekarno meletakkan dasar-dasar bakal negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian umat Islam menginginkan dibentuknya Negara Islam sehingga memungkinkan dilaksanakannya syariat Islam secara penuh. Menurut Soekarno ada dua pilihan tentang bentuk negara Indonesia yakni persatuan staat-agama tetapi sonder (tanpa) demokrasi atau demokrasi tetapi staat dipisahkan dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno condong memilih pilihan yang kedua. Menurutnya, negara demokrasi dengan memisahkan agama dari negara tidak mengabaikan (nilai-nilai) agama. (Nilai-nilai) agama bisa dimasukkan ke dalam hukum yang berlaku dengan usaha mengontrol parlemen, sehingga undang-undang yang dihasilkan parlemen sesuai dengan Islam. Pemikiran Soekarno ini substansialistik yang menginginkan dilaksanakannya ajaran Islam, tetapi tidak setuju terhadap formalisasi ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengusulkan agar negara Indonesia didasarkan pada Pancasila atau lima dasar, yakni; 1) kebangsaan; 2) Internasionalisme, perikemanusiaan; 3) Permusyawaratan, perwakilan, mufakat; 4) Kesejahteraan; 5) Ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polarisasi di BPUPKI tidak berhenti begitu saja. Perdebatan sengit tentang sila Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban melaksanakan syariat agama Islam bagi pemeluk-pemeluknya yang diajukan dalam Piagam Jakarta. Tujuh kata terakhir mendapat tentangan keras dari kelompok nasionalis-sekuler-kristen. Perdebatan ini menurun ketika para pemimpin nasionalis-muslim seperti Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo, dan Bagus Hadikusumo dalam pertemuannya dengan Hatta menjelang sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 18 Agustus 1945, sepakat untuk mencabut tujuh kalimat dalam Piagam Jakarta yang menjadi titik sengketa dengan kelompok nasionalis-sekuler-kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piagam Jakarta adalah hasil rumusan dari tim sembilan anggota PPKI (di dalamnya KH. Wahid Hasyim) yang bertugas merumuskan tentang dasar negara. Sikap ketiga pemimpin nasionalais-muslim tersebut merupakan kelanjutan dari diskusi antara KH. Wahid Hasyim, KH. Masykur (NU) dan Kahar Muzakir (PII) dengan Soekarno pada akhir Mei 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Proklamasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia ternyata perjuangan masih terus berlanjut. Kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara diliputi ketegangan setelah kekalahan Jepang dari Sekutu. Sekutu yang datang ke Indonesia untuk melakukan pelucutan senjata terhadap Jepang dilihat sebagai musuh yang akan mengembalikan Indonesia ke tangan Belanda kembali. Terbukti tentara Sekutu diboncengi oleh tentara Belanda (NICA). Selama periode 1945-1949, Tentara Nasional dan laskar-laskar rakyat melakukan perlawanan sengit terhadap Sekutu dan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kiai dan pengikutnya dalam jumlah yang sangat besar sejak awal terlibat aktif dalam perang kemerdekaan. Banyak dari mereka yang tergabung dalam barisan Hizbullah yakni kelompk semi-reguler yang dilatih kemiliteran oleh tentara Jepang. Komandan Hizbullah adalah Zainul Arifin tokoh NU dari Sumatera Utara. Pada saat yang sama laskar-laskar yang terdiri dari kiai desa bersama dengan pengikutnya muncul dengan nama Sabilillah yang dikomandani KH. Masykur, tokoh NU yang kelak menjadi politisi terkenal dan pernah menjabat sebagai Menteri Agama berkali-kali. Pada permulaan tahun 1944 setelah empat bulan Hizbullah terbentuk, seluruh Jawa-Madura dan beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera juga sudah terbentuk. Sabilillah adalah laskar pendamping Hisbullah yang terdiri dari kelompok rakyat non reguler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara Inggris mendarat pada bulan September 1945 yang menduduki Jakarta atas nama Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Pada pertengahan bulan Oktober tentara Jepang merebut kembali beberapa kota di Jawa (Semarang dan Bandung) yang telah jatuh ke tangan Indonesia dan menyerahkan kepada Inggris. Pemerintah Republik Indonesia yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 menahan diri untuk tidak melakukan perlawanan dan mengharapkan penyelesaian secara diplomatik. Pemerintah tampaknya menerima saja ketika bendera Belanda dikibarkan di Jakarta. Kondisi dan kenyataan ini membuat para pempimpin Indonesia sangat marah, termasuk para ulama NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU kemudian ikut terlibat aktif dalam perjuangan ini dengan fatwa yang sangat terkenal “Resolusi Jihad”. Pada tanggal 21-22 Oktober wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad. Resolusi jihad ini meminta pemerintahan RI mendeklarasikan perang suci dengan Resolusi tentang jihad Fisabilillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi resolusi Jihad itu adalah,”berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang harus dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata atau tidak (bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 Km dari tempat masoek dan kedodoekan moesoeh.Bagi orang-orang jadi berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep, kalau dikerdjakan sebagian sadja).Apabila kekoetan dalam no 1 beloem dapat mengalahkan moesoeh, maka orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran 94 Km wajib berperang djoega membantoe No 1, sehingga moesoeh kalah. Kaki tangan moesoeh adalah pemedjah teqat dan kehendak ra’jat, dan haroes dibinasakan, menoeroet hoekoem Islam sabda Chadist, riwajat Moeslim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resoloesi ini disampaikan kepada: P.J.M Presiden Repoeblik Indonesia dengan perantaraan Delegasi Moe’tamar; Panglima Tertinggi T.R.I.; M.T. Hizboellah; M.T. Sabilillah dan Ra’jat Oemoem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi Jihad sangat berpengaruh besar terhadap umat Islam, khususnya NU. Banyak santri dan pemuda NU ataupun rakyat umum yang kemudian bergabung ke pasukan-pasukan non reguler seperti Hizbullah dan Sabillilah. Pada tanggal 10 Nopember, dua minggu setelah Surabaya kedatangan Inggris (diboncengi Belanda) pecah perang, yang dikenal sebagai perang 10 Nopember 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak santri dan kaum muda NU terlibat aktif dalam perang tersebut. Banyak pejuang-pejuang NU ini ‘memakai jimat’ yang diberikan kiai-kiai mereka di pesantren atau di desanya. Bung Tomo yang menggerakkan massa melalui pidato radio, mungkin tidak pernah menjadi santri, tetapi diketahui meminta nasehat kepada K.H. Hasyim Asy’ari. Perang juga terjadi dibeberapa daerah seperti di Ambarawa dan Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Resolusi Jihad dan kritiknya terhadap pemerintahan RI yang dianggap pasif menghadapi serangan kaum agresor penjajah, NU telah menampilkan dirinya sebagai kelompok yang cinta tanah air dengan membangun kekuatan radikal melawan musuh dengan perang. Sikap ini muncul berkali-kali dengan terus mengkritik pemerintah yang menandatangani “Perjanjian Linggarjati dan Renville” dengan Belanda. Perubahan sikap NU yang berpegang pada tradisi Sunni, yang kadang bisa moderat dan kadang bisa radikal dipicu oleh sebuah kaidah fikih yang menjadi dasar pegangan keagamaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini penguasa sah adalah pemimpin-pemimpin RI, walaupun dalam sejarahnya NU juga mengakui pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintah de facto yang sah yang wajib ditaati (walaupun bukan muslim) selama masih memperbolehkan umat Islam menjalankan agamanya. Jepang telah mengakhiri pemerintahan Hindia Belanda, dan ketika Belanda ingin kembali, sebuah pemerintahan pribumi sudah menggantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang ini, Belanda dan sekutunya tidak lain adalah musuh kafir yang harus dilawan. Perang suci menjadi kewajiban agama. Muktamar NU yang pertama setelah perang adalah pada bulan Maret 1946, dan NU kembali mengeluarkan resolusi yang kali ini dikhususkan kepada mereka yang diwajibkan agama untuk ikut serta dalam memperjuangkan mempertahankan Negara Kesatuan Indonesia. (***) Aji Setiawan Rekening: BANK MANDIRI: 139-00-1091517-5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-8612006454563290568?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/8612006454563290568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=8612006454563290568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8612006454563290568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8612006454563290568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/11/nu-dalam-persiapan-dan-setelah.html' title='NU dalam Persiapan dan Setelah Kemerdekaan Indonesia'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-aiu7wZ4_bHg/TraJQkAT7aI/AAAAAAAAAzw/wXbRl2dc6GI/s72-c/thumbnail.aspx.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-8698364718814877804</id><published>2011-11-06T05:12:00.000-08:00</published><updated>2011-11-06T05:13:35.457-08:00</updated><title type='text'>Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-e9DcRO2NUSo/TraH5O9bdgI/AAAAAAAAAzY/ecGiMNL_pZc/s1600/Abubakar%2BGresik.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-e9DcRO2NUSo/TraH5O9bdgI/AAAAAAAAAzY/ecGiMNL_pZc/s320/Abubakar%2BGresik.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671870198057760258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Quthb Yang Menghadirkan Cinta Illahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Al-Habib Umar bin Segaf as-Segaf adalah seorang imam di lembah Al-Ahqof. Garis keturunannya yang suci ini terus bersambung kepada ulama dari sesamanya hingga bermuara kepada pemuka orang-orang terdahulu, sekarang dan yang akan datang, seorang kekasih nan mulia Nabi Muhammad S.A.W .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Habib Abu Bakar terlahir di kampung Besuki (salah satu wilayah di kawasan Jawa Timur) tahun 1285 H. Ayahnya wafat di kota Gresik, sementara ia masih berumur kanak-kanak. Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf tumbuh besar dalam asuhan dan penjagaan yang sempurna. Cahaya kebaikan dan kewalian telah tampak dan terpancar dari kerut-kerut wajahnya, sampai-sampai di usianya ke-3 tahun mampu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya. Semua itu tak lain karena power (kekuatan) dan kejernihan rohaninya, serta kesiapannya untuk menerima curahan anugerah dan Fath (pembuka tabir hati) darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1293 H., atas permintaan neneknya yang sholehah Fatimah binti Abdullah (Ibunda ayahnya), ia merantau ditemani oleh al-Mukaram Muhammad Bazamul ke Hadramaut meninggalkan tanah kelahirannya, Jawa. Di kala Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf akan sampai di kota Sewun, ia di sambut di perbatasan kota oleh paman sekaligus gurunya yakni Habib Abdullah bin Umar berikut para kerabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang pertama kali dilantunkan oleh sang paman bait qosidah Habib al-Arifbillah Syeh bin Umar bin Segaf seorang yang paling alim di kala itu dan menjadi kebanggaan pada jamannya. Dan ketika telah sampai ia dicium dan dipeluk oleh pamannya. Tak elak menahan kegembiraan atas kedatangan sang keponakan dan melihat raut wajahnya yang memancarkan cahaya kewalian dan kebaikan berderailah air mata kebahagiaan sang paman membasahi pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati para kaum arifin memiliki ketajaman pandang. Mampu melihat apa yang tak kuasa dilihat oleh pemandang. Perhatian dan didikan sang paman telah membuahkan hasil yang baik pada diri sang keponakan. Ia belajar kepada sang paman Habib Abdullah bin Umar ilmu fiqh dan tasawuf, sang paman pun suka membangunkannya pada akhir malam ketika masih berusia kanak-kanak guna menunaikan shalat tahajjud bersama-sama, Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mempunyai hubungan yang sangat kuat dalam menimba ilmu dari para ulama dan pemuka kota Hadramaut. Mereka (para ulama) telah mencurahkan perhatiannya pada Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf  banyak menerima dan memperoleh ijazah dari mereka. Diantara para ulama terkemuka Hadramaut yang mencurahkan perhatian kepadanya, adalah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, (seorang guru yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya kepada Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi telah menaruh perhatian kepada Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf semenjak masih berdomisili di Jawa sebelum meninggalkannya menuju Hadramaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata kepada salah seorang murid seniornya, “Perhatikanlah! Mereka bertiga adalah para wali, nama, haliyah, dan maqom (kedudukan) mereka sama. Yang pertama adalah penuntunku nanti di alam barzakh, ia adalah Quthbul Mala Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aidrus, yang kedua, aku melihatnya ketika engkau masih kecil ia adalah Habib Al-Ghoust Abu Bakar bin Abdullah al-Atthos, dan yang ketiga engkau akan melihat sendiri nanti di akhir dari umurmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala memasuki tahun terakhir dari umurnya, ia bermimpi melihat Rosulullah S.A.W. sebanyak lima kali berturut-turut selama lima malam, sementara setiap kali dalam mimpinya Rasulullah S.A.W. mengatakan kepadanya (orang yang bermimpi) : “  Lihatlah di sampingmu, ada cucuku yang sholeh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf " ! Sebelumnya orang yang bermimpi tersebut tidak mengenal Habib Abu Bakar Assegaf kecuali setelah dikenalkan oleh Baginda Rasul Al-Musthofa S.A.W. didalam mimpinya. Lantas ia teringat akan ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dimana beliau pernah berkata “Mereka bertiga adalah para wali, nama dan kedudukan mereka sama “. Setelah itu ia (orang yang bermimpi) menceritakan mimpinya kepada Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dan tidak lama kemudian ia meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mendapat perhatian khusus dan pengawasan yang istimewa dari gurunya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi sampai-sampai Habib Ali sendiri yang meminangkan dan sekaligus menikahkannya. Selanjutnya (diantara para masyayikhnya) adalah Habib Abdullah bin Umar Assegaf sebagai syaikhuttarbiyah, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi sebagai syaikhut taslik, juga Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban sebagai syaikhul fath. Guru yang terakhir ini sering memberi berita gembira kepadanya, ”Engkau adalah pewaris haliyah kakekmu Habib Umar bin Segaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian banyak para ulama para wali dan para kaum sholihin Hadramaut baik itu yang berasal dari Sewun, Tarim dan lain-lain yang menjadi guru Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, seperti Habib Muhammad bin Ali Assegaf, Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, Habib Abdurrahman Al-Masyhur, juga puteranya Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur, dan juga Habib Syekh bin Idrus Al-Idrus dan masih banyak lagi guru-guru yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1302 H, ditemani oleh Habib Alwi bin Segaf Assegaf , Habib Abu Bakar Assegaf pulang ketanah kelahirannya (Jawa) tepatnya di kampung Besuki. Selanjutnya pada tahun 1305 H, ketika itu berumur 20 tahun beliau pindah ke kota Gresik sambil terus menimba ilmu dan meminta ijazah dari para ulama yang menjadi sinar penerang negeri pertiwi Indonesia, sebut saja Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas, Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad, Habib Ahmad bin Abdullah Al-Atthas, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdlar, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 1321 H, tepatnya pada hari jum'at ketika sang khatib berdiri diatas mimbar beliau mendapat ilham dari Allah S.W.T. bergeming dalam hatinya untuk mengasingkan diri dari manusia semuanya. Terbukalah hatinya untuk melakukannya, seketika setelah bergeming ia keluar dari masjid jami’ menuju rumah kediamannya. Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ber-uzlah atau khalwat (mengasingkan diri) dari manusia selama lima belas tahun bersimpuh dihadapan Ilahi Rabbi. Dan tatkala tiba saat Allah mengizinkan ia untuk keluar dari khalwatnya, gurunya  Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi mendatanginya dan memberi isyarat kepadanya untuk mengakhiri masa khalwatnya, Habib Muhammad Al-Habsyi berkata :  “Selama tiga hari kami bertawajjuh dan memohon kepada Allah agar Abu Bakar bin Muhammad Assegaf keluar dari khalwatnya", lantas ia menggandeng Habib Abu Bakar Assegaf dan mengeluarkannya dari khalwatnya. Kemudian masih ditemani Habib Muhammad Al-Habsyi menziarahi Habib Alawi bin Muhammad Hasyim, setelah itu meluncur ke kota Surabaya menuju ke kediaman Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Sambil menunjuk kepada Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi memproklamirkan kepada para hadirin “ Ini Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf termasuk mutiara berharga dari simpanan keluarga Ba’Alawi, kami membukanya agar bisa menularkan manfaat bagi seluruh manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia membuka majlis ta'lim dirumahnya, ia menjadi pengayom bagi mereka yang berziarah juga sebagai sentral (tempat rujukan) bagi semua golongan diseluruh penjuru, siapa pun yang mempunyai maksud kepadanya dengan dasar husnudz dzan niscaya ia akan meraih keinginannya dalam waktu yang relatif singkat. Di rumahnya sendiri, Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah menghatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin lebih dari 40 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap kali hatam ia selalu menghidangkan jamuan yang istimewa. Habib Abu Bakar Assegaf betul-betul memiliki ghirah (antusias) yang besar dalam menapaki aktivitas dan akhlaq para aslaf (pendahulunya), terbukti dengan dibacanya dalam majlisnya sejarah dan kitab-kitab buah karya para aslafnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun maqom (kedudukan) Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Hal itu telah diakui dan mendapat legitimasi dari mereka yang hidup sezaman dengannya. Berikut ini beberapa komentar dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar berkata : ”Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh al Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad berkata :”Sesungguhnya Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthb al Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) Allah SWT.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi pernah berkata di rumah Habib Abu Bakar Assegaf dikala ia membubuhkan tali ukhuwah antaranya dengan Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata. Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi berkata kepada para hadirin ketika itu : “Lihatlah kepada saudaraku fillah Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Lihatlah ia..! Maka melihat kepadanya termasuk ibadah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad berkata :”Sesungguhnya Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Ia adalah penguasa saat ini, ia telah berada pada Maqom As Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu. Ia berhak untuk dikatakan “Dia hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya (sebagai nikmat).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalam salaf Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf diantaranya.... “Keberkahan majlis bisa diharapkan bila yang hadir beradab dan duduk di tempat yang mudah mereka capai. Jadi keberkahan majlis itu pada intinya adalah adab, sedangkan adab dan pengagungan itu letaknya di hati. Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, aku anjurkan kepada kalian, hadirilah majlis-majlis kebaikan. Ajaklah anak-anak kalian ke sana dan biasakan mereka untuk mendatanginya agar mereka menjadi anak-anak yang terdidik baik, lewat majlis-majlis yang baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini aku jarang melihat para pelajar yang menghargai ilmu. Banyak ku lihat mereka membawa mushhaf atau kitab-kitab ilmu lainnya dengan cara tidak menghormatinya. Lebih dari itu mereka mendatangi tempat-tempat pendidikan yang tidak mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai ilmu, tapi mencintai nilai semata-mata ...... Aku pun teringat pada nasihat Habib Ahmad bin Hasan al-'Aththas: “Ilmu adalah alat. Meskipun ilmu itu baik, ia hanya alat, bukan tujuan. Oleh kerananya, ilmu harus diiringi adab, akhlak dan niat-niat yang shalih. Ilmu demikianlah yang dapat mengantarkan seseorang kepada ketinggian maqam ruhaniah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat terakhir hayatnya Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf melakukan puasa selama 15 hari, setelah itu ia wafat pada tahun 1376 H. dalam usia 91 tahun, dimakamkan di pemakaman Masjid Jami’ Alun-Alun, Greasik, Jawa Timur. (*) Aji Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rek Bank Mandiri a/n Aji Setiawan no : 139-00-1091517-5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-8698364718814877804?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/8698364718814877804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=8698364718814877804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8698364718814877804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8698364718814877804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/11/habib-abu-bakar-bin-muhammad-assegaf.html' title='Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-e9DcRO2NUSo/TraH5O9bdgI/AAAAAAAAAzY/ecGiMNL_pZc/s72-c/Abubakar%2BGresik.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-5618348779708550437</id><published>2011-08-28T18:56:00.000-07:00</published><updated>2011-08-28T18:58:44.937-07:00</updated><title type='text'>Tip Sehat Murah Meriah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-VKgqzIPkWVk/TlryMv34KqI/AAAAAAAAAyg/o-YklNu5sKg/s1600/Sayur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-VKgqzIPkWVk/TlryMv34KqI/AAAAAAAAAyg/o-YklNu5sKg/s320/Sayur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646091383685524130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tip Agar Tubuh Sehat dan Fit&lt;br /&gt;Sampai tahun 2014 cuaca panas dingin tidak menentu akibat global warming, isue global yang patut disikapi dengan cara yang hemat dan sederhana, tidak perlu panik. &lt;br /&gt;Kearifan lokal yang perlu dijaga yakni dengan kembali ke kebun menanam buah sedini mungkin dan memberdayakan keanekaragaman pangan di saw ah-saw ah kita serta produktivitasnya ditingkatkan. &lt;br /&gt;Menuju 2014 swa sembada pangan.  2045 , seabad kemerdekaan. Trubus nya benih-benih nasionalisme, menyongsong era kemandirian, kebangkitan teknologi dan energi dalam kancah percaturan global (dunia)    &lt;br /&gt;Jangan lupa kesehatan tubuh dijaga... &lt;br /&gt;serba serbi hijau untuk sehat... &lt;br /&gt;Kata Kuncinya:  key words: (1) efektif; (2)efisien;(3) produktif dan (4) inovatif.        &lt;br /&gt;a.	Makanlah makanan yang beraneka ragam, jangan fanatik pada jenis makanan tertentu saja karena bisa jadi tubuh kekurangan nu trisi yang diperlukan: Perbanyak makan sayur dan buah-buahan; Kurangi makanan berlemak;Perbanyak makanan yang mengandung zat tepung seperti biskuit dan roti; dan batasi makanan manis yang mengandung gula murni.&lt;br /&gt;b.	Bagi penderita kencing manis: Makanlah yang cukup, secara teratur dan beraneka ragam; Kalori makanan disesuaikan dengan beratnya penyakit; Hindari makanan berupa gula pasir/merah, sirup, jeli, buah-buahan yang diawetkan dengan gula, susu kental, es krim, kue manis, dodol, cake dan dendeng manis; Terus mengikuti diet masing-masing.&lt;br /&gt;c.	Makanan penderita Jantung Koroner; Makanlah makanan yang beraneka ragam dalam jumlah dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan tubuh; Jangan makan yang berlemak dan gurih; Hindari kue-kue yang terlalu manis, sayuran yang mengandung banyak serat (kangkung) dan gas (kol), cabe, dan bumbu lain yang merangsang; Jangan minum minuman bersoda, kopi atau teh kental dan mengandung alkohol; Batasi makanan yang mengandung garam.&lt;br /&gt;d.	Makanan Penderita Tekanan Darah Tinggi: Makanlah makanan yang beraneka ragam. Bil Makanlah makanan yang beraneka ragam kegemukan, kurangi makanan yang mengandung karbohidrat (nasi, jagung dll); Gunakan minyak jagung, minyak wijen, minyak biji matahari untuk memasak makanan; Makanlah sayuran dan buah buahan segar yang banyak mengandung vitamin (Jeruk, apel, pir); Batasi pemakaian garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips menghadapi musim dingin&lt;br /&gt;a.	Mempersiapkan perlengkapan seperti  jaket/pakaian hangat (lengan panjang) yang tebal, selimut, krem pelembab kulit, vaseline, masker (penutup mulut dan hidung), sarung tangan dan kaca mata hitam.&lt;br /&gt;b.	Obat-obatan: Antisipasi yang perlu dilakukan adalah pemerikasaan kesehatan di Puskesmas atau rumah sakit terdekat, sehingga diketahui status kesehatannya&lt;br /&gt;c.	Membawa obat-obatan yang biasa digunakan /diperlukan sesuai kondisi penyakit masing-masing. Selalu lah dipersiapkan obat demam, flu, alergi, maag dan multi vitamin&lt;br /&gt;d.	Bagi yang mempunyai penyakit (resiko tinggi) harus segera BEROBAT dan mengikuti anjuran dokter agar penyakit yang diderita terkontrol serta mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung nu trien (gizi) sesuai status kesehatan. Apabila ada gejala atau terasa sakit segeralah konsultasi atau berobat kepada dokter atau Rumah Sakit&lt;br /&gt;e.	Membiasakan selalu minum air putih setiap satu jam, walaupun tidak terasa haus. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya dehidrasi&lt;br /&gt;f.	Sebaiknya selalu minum air hangat. Hindari minuman dingin.&lt;br /&gt;g.	Mengkonsumsi multivitamin setiap hari.&lt;br /&gt;h.	Mengkonsumsi makanan yang berasal dari daging, hati, sayur-sayura, buah-buahan (jeruk , apel, pir, melon, semangka) dan minum susu setiap hari sehingga memenuhi pola makanan empat sehat lima sempurna&lt;br /&gt;i.	Jangan menunda makan. (Jangan mengubah pola makan). Segera makan, sehingga terhindar diare.   &lt;br /&gt;j.	Memperbanyak olahraga atau latihan kebugaran jasmani. Tentu harus bangun pagi agar disiplin, mendapatkan pasokan udara segar pagi hari...&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan serba hijau yang sehat dan pintar  0812-2966-7400&lt;br /&gt;                                                                           2011-2014-2045&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-5618348779708550437?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/5618348779708550437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=5618348779708550437' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/5618348779708550437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/5618348779708550437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/08/tip-sehat-murah-meriah.html' title='Tip Sehat Murah Meriah'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VKgqzIPkWVk/TlryMv34KqI/AAAAAAAAAyg/o-YklNu5sKg/s72-c/Sayur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-1134531747310657487</id><published>2011-08-27T20:04:00.001-07:00</published><updated>2011-08-27T20:06:49.699-07:00</updated><title type='text'>Selamat Idul Fitri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-kJGkPnH0X9o/TlmwYVAf7dI/AAAAAAAAAyY/dRRyjfQn98k/s1600/SMS%2BUcapan%2BSelamat%2BIdul%2BFitri%2B%2528lebaran%2529%2B2011.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 224px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kJGkPnH0X9o/TlmwYVAf7dI/AAAAAAAAAyY/dRRyjfQn98k/s320/SMS%2BUcapan%2BSelamat%2BIdul%2BFitri%2B%2528lebaran%2529%2B2011.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645737539888213458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tiada yang seindah ketika hati tersucikan&lt;br /&gt;Bersih tanpa noda kebencian&lt;br /&gt;yang terbasuh oleh ramadhan&lt;br /&gt;dan kemurnian hati untuk saling memaafkan&lt;br /&gt;selamat hari raya idul fitri, minal aidzin wal fa idzin&lt;br /&gt;mohon maaf lahir batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji Setiawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-1134531747310657487?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/1134531747310657487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=1134531747310657487' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/1134531747310657487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/1134531747310657487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/08/selamat-idul-fitri.html' title='Selamat Idul Fitri'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kJGkPnH0X9o/TlmwYVAf7dI/AAAAAAAAAyY/dRRyjfQn98k/s72-c/SMS%2BUcapan%2BSelamat%2BIdul%2BFitri%2B%2528lebaran%2529%2B2011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-5022453691131163863</id><published>2011-08-11T03:38:00.001-07:00</published><updated>2011-08-11T03:40:04.181-07:00</updated><title type='text'>Majalah Risalah</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.nu.or.id/"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-1FpHuXlKM3c/TkOxVuadJ0I/AAAAAAAAAyQ/xm8bUN4hzGU/s1600/Risalah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-1FpHuXlKM3c/TkOxVuadJ0I/AAAAAAAAAyQ/xm8bUN4hzGU/s320/Risalah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639546145192355650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.nu.or.id/"&gt;&lt;br /&gt;http://www.nu.or.id/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-5022453691131163863?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/5022453691131163863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=5022453691131163863' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/5022453691131163863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/5022453691131163863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/08/majalah-risalah.html' title='Majalah Risalah'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1FpHuXlKM3c/TkOxVuadJ0I/AAAAAAAAAyQ/xm8bUN4hzGU/s72-c/Risalah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-2530293023326226615</id><published>2011-08-11T03:36:00.001-07:00</published><updated>2011-08-11T03:37:58.288-07:00</updated><title type='text'>Majalah AlKisah</title><content type='html'>&lt;a href="http://majalah-alkisah.com/"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-k5A8VY_TrSo/TkOw6OoV9QI/AAAAAAAAAyI/Tothjx9sfdE/s1600/logo.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 96px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-k5A8VY_TrSo/TkOw6OoV9QI/AAAAAAAAAyI/Tothjx9sfdE/s320/logo.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639545672804201730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://majalah-alkisah.com/"&gt;http://majalah-alkisah.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-2530293023326226615?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/2530293023326226615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=2530293023326226615' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/2530293023326226615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/2530293023326226615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/08/majalah-alkisah.html' title='Majalah AlKisah'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-k5A8VY_TrSo/TkOw6OoV9QI/AAAAAAAAAyI/Tothjx9sfdE/s72-c/logo.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-1192584846845919714</id><published>2011-08-11T03:32:00.000-07:00</published><updated>2011-10-19T07:42:35.666-07:00</updated><title type='text'>Pondok pesantren Sidogiri Pasuruan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.sidogiri.net"&gt;http://sidogiri.net/index.php/profil&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://sidogiri.net/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-1192584846845919714?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/1192584846845919714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=1192584846845919714' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/1192584846845919714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/1192584846845919714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/08/popes-sidogiri-pasuruan.html' title='Pondok pesantren Sidogiri Pasuruan'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-6474664369698737950</id><published>2011-08-04T09:27:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T09:28:12.793-07:00</updated><title type='text'>Jadikan Malam-malam mu dengan mujahadah kepada illahi Robbi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Qa9sxQZrKGM/TjrIhd_7JlI/AAAAAAAAAx4/elQk_GDyJfY/s1600/kabah-at-night1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 198px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Qa9sxQZrKGM/TjrIhd_7JlI/AAAAAAAAAx4/elQk_GDyJfY/s320/kabah-at-night1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637038360921581138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-6474664369698737950?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/6474664369698737950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=6474664369698737950' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/6474664369698737950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/6474664369698737950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/08/jadikan-malam-malam-mu-dengan-mujahadah.html' title='Jadikan Malam-malam mu dengan mujahadah kepada illahi Robbi'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Qa9sxQZrKGM/TjrIhd_7JlI/AAAAAAAAAx4/elQk_GDyJfY/s72-c/kabah-at-night1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-751338106691847862</id><published>2011-08-03T00:41:00.000-07:00</published><updated>2011-08-03T20:24:16.920-07:00</updated><title type='text'>0812 29 667 400</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lhuNt4dM85M/Tjj75tqte8I/AAAAAAAAAxw/EqZVxT8WXlo/s1600/Aji%2BSetiawan%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lhuNt4dM85M/Tjj75tqte8I/AAAAAAAAAxw/EqZVxT8WXlo/s320/Aji%2BSetiawan%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636531902584028098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh menelpon atau sms dengan sebutkan nama mu jelas. 0812 29 667 400&lt;br /&gt;رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ        وَاهْدِنَا    الْحُسْنَى   بِحُرْمَتِهِمْ&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, berilah kami manfaat dengan keberkahan mereka, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tunjukkanlah kami kebaikan dalam menghormati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;وَاَمِتْنَا  فِيْ   طَرِيْقَتِهِمْ          وَمُعَـافَـاةٍ           مِـنَ       الْفِـتَـنِ&lt;br /&gt;Dan matikanlah kami di dalam jalan yang ditempuh mereka, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berilah kami keselamatan dari segala fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;يَا  رَبِّ  وَاجْمَعْنَـا  وَاَحْبَابًا  لَنَا  فِيْ  دَارِكَ  الْفِرْدَوْسِ  يَا  رَجْوَانَا&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, kumpulkanlah kami bersama kekasih-kekasih kami &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di dalam surga Firdaus-Mu , Wahai Dzat tempat kami berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji Setiawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-751338106691847862?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/751338106691847862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=751338106691847862' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/751338106691847862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/751338106691847862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/08/0812-29-667-400.html' title='0812 29 667 400'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lhuNt4dM85M/Tjj75tqte8I/AAAAAAAAAxw/EqZVxT8WXlo/s72-c/Aji%2BSetiawan%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-8609732656363873240</id><published>2011-07-29T19:34:00.001-07:00</published><updated>2011-07-29T19:35:06.685-07:00</updated><title type='text'>Marhaban Ya Ramadhan 1432 H</title><content type='html'>Marhaban Ya Ramadhan 1432 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sucikan Hati Menuju Fitri, Selamat menunaikan ibadah Puasa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-8609732656363873240?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/8609732656363873240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=8609732656363873240' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8609732656363873240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8609732656363873240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/07/marhaban-ya-ramadhan-1432-h.html' title='Marhaban Ya Ramadhan 1432 H'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-3842309475947756905</id><published>2011-07-08T01:19:00.000-07:00</published><updated>2011-07-08T01:21:55.911-07:00</updated><title type='text'>Doaku bersama mu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-nb0Gv_Nn7bw/Tha-GqIi1qI/AAAAAAAAAuw/x8kmn8ragpE/s1600/DSCN9454.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-nb0Gv_Nn7bw/Tha-GqIi1qI/AAAAAAAAAuw/x8kmn8ragpE/s320/DSCN9454.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626893806044632738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-3842309475947756905?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/3842309475947756905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=3842309475947756905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/3842309475947756905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/3842309475947756905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/07/doaku-bersama-mu.html' title='Doaku bersama mu'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nb0Gv_Nn7bw/Tha-GqIi1qI/AAAAAAAAAuw/x8kmn8ragpE/s72-c/DSCN9454.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-7642481187326106348</id><published>2011-06-22T00:16:00.000-07:00</published><updated>2011-06-22T00:20:52.476-07:00</updated><title type='text'>Majlis Taklim al Mutaalimin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-p2UU0XMyrMw/TgGXx39-xAI/AAAAAAAAAug/LPtz2pt8mX8/s1600/2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-p2UU0XMyrMw/TgGXx39-xAI/AAAAAAAAAug/LPtz2pt8mX8/s320/2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620940693028389890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-d6HOXw7siPA/TgGXxZsGN4I/AAAAAAAAAuY/YgIhpRjGzfQ/s1600/1p.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-d6HOXw7siPA/TgGXxZsGN4I/AAAAAAAAAuY/YgIhpRjGzfQ/s320/1p.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620940684900317058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-gSKslhcTWwg/TgGXyea9vVI/AAAAAAAAAuo/51AedOg_8m0/s1600/3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-gSKslhcTWwg/TgGXyea9vVI/AAAAAAAAAuo/51AedOg_8m0/s320/3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620940703350504786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;alKisah N0 11, Juni 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                  Mengharap Berkah Khataman Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap tanggal 15 bulan Hijriyah di majlis ini diadakan khataman (menderes atau nderes) Al Qur’an. Jama’ah yang hadir mengharap keberkahan dari al Qur’anul Karim yang dibaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Al Mutaalimin adalah majlis taklim dan dzikir terletak di dusun terpencil dusun Kembaran, Desa Cipawon Kabupaten Purbalingga.Majelis yang diasuh oleh Kyai Anwarudin ini memang terkenal dengan acara khataman Al Qur’an tiap bulannnya. Setiap tanggal 15 bulan hijriah diadakan khataman Al Qur’an di kediaman rumah Kyai Anwaruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberkahan dari majelis Khatmil Qur’an ini dirasakan benar oleh Kyai kelahiran Cipawon tahun 1949 ini. Sebab katanya, disebutkan Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah berkumpul sekelompok orang untuk berdzikir kepada Allah SWT, melainkan para malaikat mengerumuni mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan (sakinah) menhampiri mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang berada di sisinya ( Hadist HR Tirmidzi)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilanjutkan oleh Kyai Anwar bahwa setiap mukmin wajib percaya dan meyakini seseorang yang membaca Al-Qur’an meskipun tidak memahami arti dan maknanya itu termasuk sudah melakukan satu ibadah yang mendatangkan banyak pahala serta mengantarkan kepada kehidupan dunia dan akhirat. Bahkan kata Kyai Anwar,”Setiap mukmin hukumnya wajib kifayah dalam seharinya untuk membaca Al-Qur’an.” Ditambahkan, Rasulullah SAW sendiri bersabda, ”Barang siapa membaca satu huruf yang terdapat dalam Al Qur’an, maka ia memperoleh satu khasanah (kebaikan) dan setiap kebaikan pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim adalah satu huruf, akan tetapi alif merupakan satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (HR Tirmidzi).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping berpahala besar, membaca Al Qur’an merupakan salah satu amal yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit hati. “Sahabat Rasulullah SAW yakni Adullah bin Umar bin Khatab menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,’Sesungguhnya hati ini akan berkarat seperti besi berkarat’. Seorang sahabat bertanya,’Wahai Rasulullah, apakah yang dapat menjadikannya bersinar kembali?’ Beliau menjawab,’Membaca Al Qur’an”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Tadarus atau Khatmil Qur’an tidak hanya dihadiri oleh manusia dan malaikat, bangsa jin pun tidak mau ketinggalan. Mereka sangat terkesan tatkala mendengarkan pembacaan al-Qur’an; hati mereka dipenuhi dengan kecintaan dan penghargaan kepadanya, dan mereka bersegera mengajak kaumnya untuk mengikuti isinya, sebagaimana yang difirmankan oleh SWT,”Katakanlah (wahai Muhammad), Telah diwahyukan kepadaku bahwasannya sekumpulan jin telah mendengarka (Al-Qur’an), lalu mereka berkata, ’Sesungguhnya kami mendengarkan al Qur’an yang menakjubkan (QS Al Jin:1)’,” kata Kyai Anwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis khataman biasanya acara berlanjut dengan taushiah dari ulama atau habaib yang hadir. Saat pengajian khamil Qu’ran di bulan maulid itu kebetulan yang mengisi taushiyah adalah KH Muhammadun Lc, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, desa Cipawon, Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga memaparkan secara detil proses detik-detik sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kyai juga menyatakan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW ke dunia ini memang untuk mengemban tugas khusus merubah masyarakat Arab kala itu yang semula jahiliyah menjadi masyarakat yang berkeadaban. “Bagaimana tidak jahiliyah, patung disembah. Punya bayi perempuan langsung dibunuh. Abu Jahal dan Abu Lahab orangnya sangat pintar. Maunya kaya tetapi tidak dengan cara-cara yang benar, mereka tidak lelah. Maunya menang sendiri. Mereka berdagang sebagaimana pekerjaan masyarakat Arab pada umumnya. Tapi mereka merampas, merampok, memperkosa dan membunuh masyarakat yang tidak patuh dengan Abu Jahal dan Abu Lahab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah masyarakat jahiliyah pada waktu sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak saja di Arab Saudi yang menyembah berhala dari patung dan kayu. Masyarakat Mesir juga mempraktikan hal serupa. Di Mesir, sebagian masyarakatnya bahkan menyembah danyang dengan mengorbankan gadis tercantik kemudian diceburkan ke Sungai Nil sebagai sesaji atau sesembahan untuk mendatangkan hujan sehingga masyarakat sekitar sungai Nil bisa bercocok tanam dan panen juga berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh kelahiran Nabi Muhammad SAW ke dunia ini untuk merubah praktik-praktik masyarakat jahiliyah untuk digantikan ajaran Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam baik dunia maupun kelak smapai akhirat. Ini merupakan nikmat Allah SWT yang wajib kita syukuri, salah satunya dengan memperingati kelahiran beliau (maulid) dan mengamalkan ajara-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, ” Kata KH Muhammadun Lc, yang juga adalah alumnus dari pesantren Darul Musthofa Hadramauth Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Muhammadun Lc juga berpesan kepada Jamaah mulai dari sekarang untuk bisa membagi waktu. Baik waktu untuk beribadah, bekerja dan waktu untuk keluarga. Sebab dengan keseimbangan waktu itu, maka keberkahan akan terwujud kehidupan ini. Dalam kesempatan itu, KH Muhammadun juga menguraikan tentang Syafaat Rasulullah SAW. ”Kita tentu berharap syafaat kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setiap manusia di akhirat kelak ada tiga golongan yang akan mendapat jaminan syafaat dari Rasulullah SAW yakni orang-orang yang banyak membaca al-Quran, ahli ilmu dan ibadah serta orang-orang yang banyak bershalawat kepada Kanjang Nabi Muhammad SAW.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Muhammadun juga berpesan kepada jama’ah untuk kembali menyemarakan syiar-syiar Islam seperti melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, banyak berdzikir, membaca Al-Qur’an untuk menghadapi situasi jaman sekarang yang sedemikian bobrok dan hampir serupa dengan masa-masa jaman jahiliyah (jahiliyah modern). Seusai acara taklim acara berlanjut dengan ramah tamah dengan tuan rumah sahibul bait (tuan rumah) majlis taklim dan dzikir Al Mutaalimin yakni Kyai Anwaruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majlis taklim dan dzikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal ia mendirikan majelis ini sekitar tahun 1971 sehabis ia mondok pesantren di Jombor, Desa Gumelar Lor Kecamatan tambak Kabupaten Banyumas. Saat itu yang mengasuh pondok Jombor adalah KH Tahrir. Kyai Anwar mengenyam pendidikan dimulai dari kecil. Awalnya ia belajar di Sekolah Dasar di Cipawon. Sembari sekolah ia juga ikut belajar di Madrasah Diniyah yang diajarakan ilmu-ilmu mengaji dengan kyai-kyai kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus dari Sekolah dasar ia melanjutkan Madrasah Tsanawiyah NU 05 (dusun Telarpucung), desa Majasari Kecamatan Bukateja Kab Purbalingga lulus tahun 1969. Lepas Madrasah Tsanawiyah (MTS), Kyai Anwar belajar lagi ke Pondok Jombor untuk memperdalam ilmu gramatikal bahasa Arab yakni ilmu Nahwu, Shorof, Balaghah dan Tasawuf dengan KH Tahrir selama tiga tahun. Di Pondok itu, putra pasangan Ahmad Redja dan Tinem ini menamatkan (menghatamkan) beberapa kitab pegangan wajib untuk menguasai dan membedah ilmu-ilmu agama mulai dari kitab Taqrib, Safinah, Jumriyah sampai Imriti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang Pondok, ia langsung mendirikan taklim mengajar anak-anak agar bisa membaca al-Qur’an dan kitab-kitab salaf seperti Sulam Taufiq, Safinah, Duror Bariyyah, Jumriyah dan lain-lain teruama ilmu-ilmu fiqh. “Alhamdulillah, sampai sekarang masih ada anak-anak mau belajar ilmu agama terutama ilmu-ilmu shalat benar, al Qur’an dan fiqh yang setiap ba’da shalat Magrib berjamaah di Mushola al Mutaalimin,” kata Kyai Anwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun metode mengajar dari majelis ini beanr-benar menerapkan metode pesantren atau cara salaf pada umumnya yakni dengan model sorogan dan bandongan. Di mana seorang murid berhadapan langsung dengan sang guru yang mengajar untuk menelaah dan mendalami kitab kuning. Menurut kyai yang terkenal menguasi ilmu fiqh ini, sekarang sudha jarang orang mempelajari dan mengasai ilmu-ilmu fiqh agama. “Pendidikan agama terutama ilmu fiqh kalah oleh ilmu-ilmu umum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengajar ilmu fiqh, Bapak 3 putra dua cucu ini memang dikenal ahli mengenai ilmu-ilmu hikmah. Kyai Anwar selama di pondok pesantren Jombor, desa Gumelar Lor, kec Tambak Kabupaten Banyumas yang diasuh KH Tahrir ini memang mempelajari dan mendalami kitab-kitab mengenai ilmu hikmah seperti Syamsul Ma’arif dan Manba’ul Usul Al-Hikmah yang dikarang Syaikh Ali Al-Buni. Menurutnya mempelajari ilmu tasawuf dan hilmah itu adalah sebuah jalan untuk membaguskan amal-amal kita kepada Allah SWT. “Keluar dari jalan keburukan menuju jalan yang diridhai Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya,” kata Kyai Anwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                            Aji Setiawan, Purbalingga  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    KCP Bank Mandiri Purbalingga a/n Aji Setiawan No rek : 139-00-1091517-5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-7642481187326106348?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/7642481187326106348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=7642481187326106348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/7642481187326106348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/7642481187326106348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/06/majlis-taklim-al-mutaalimin.html' title='Majlis Taklim al Mutaalimin'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-p2UU0XMyrMw/TgGXx39-xAI/AAAAAAAAAug/LPtz2pt8mX8/s72-c/2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-4091883399071782656</id><published>2011-06-16T23:40:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T23:53:45.463-07:00</updated><title type='text'>Isro Mi'roj di Kembangan Kec Bukateja Purbalingga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-OeCUBKWS5FE/Tfr31ZdvJHI/AAAAAAAAAuI/zBbDTTSinio/s1600/DSCN9463.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-OeCUBKWS5FE/Tfr31ZdvJHI/AAAAAAAAAuI/zBbDTTSinio/s320/DSCN9463.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619075981838853234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-6tk6xipoK_o/Tfr300wIcVI/AAAAAAAAAuA/PAAQXwE8_aE/s1600/DSCN9484.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-6tk6xipoK_o/Tfr300wIcVI/AAAAAAAAAuA/PAAQXwE8_aE/s320/DSCN9484.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619075971983896914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-_ZkBukEL5iE/Tfr30nrDOUI/AAAAAAAAAt4/ETmCgnDo0B0/s1600/DSCN9465.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-_ZkBukEL5iE/Tfr30nrDOUI/AAAAAAAAAt4/ETmCgnDo0B0/s320/DSCN9465.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619075968472922434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-KF7WYC25aN8/Tfr30FfKarI/AAAAAAAAAtw/H0eEBhjzTzY/s1600/DSCN9462.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-KF7WYC25aN8/Tfr30FfKarI/AAAAAAAAAtw/H0eEBhjzTzY/s320/DSCN9462.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619075959296256690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-JW5zNes4CN4/Tfr31nVrCeI/AAAAAAAAAuQ/X43Oh3ttHoc/s1600/DSCN9464.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-JW5zNes4CN4/Tfr31nVrCeI/AAAAAAAAAuQ/X43Oh3ttHoc/s320/DSCN9464.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619075985563126242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MT Raudlotul Qur’an Purbalingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jauhkan Indonesia dari Bala dan Bencana&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Isro Mi’roj Nabi Besar Muhammad SAW tidak saja diselenggarakan di kota-kota besar. Suasana kesyahduan dan kekhusyukan dalam memperingati perjalanan Isro dan Mi’roj Muhammad SAW juga terasa di pedesaan.&lt;br /&gt;Pada hari Rabu, 15 Juni 2011 atau bertepatan dengan 14 Rajab 1432 H di halaman Majlis Taklim Raudlotul Qur’an pimpinan Kyai Munawar desa Kembangan, kecamatan Bukateja Kab Purbalingga Jawa Tengah menyelenggarakan Haflah Attasyakur Lil Ikhtitam Majlis Taklim Raudlatul Qur’an ke III dan sekaligus peringatan Isro Mi’roj Nabi Muhammad SAW. &lt;br /&gt;Selepas shalat Isya, acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimulai dengan Khatmil Qur’an dan kitab Aqidatul Awam oleh santri-santri Majlis Taklim Raudlotul Qur’an dan ditutup dengan doa Khotmil Qur’an oleh Ibu Nyai Hj Qomariah pimpinan Pondok Putra Putri Pesantren (PPP) Nurul Qur’an, Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga. Sambil menunggu acara dimulai, jamaah dihibur dengan iringan musik Hajir Rabana Syafaat dari Purbalingga. &lt;br /&gt;Lepas pembacaan Kalam illahi oleh Ustadz Syamsul Bashori acara berlanjut dengan sambutan dari ketua panitia yakni Kyai Sulaiman. Sambutan mewakili Bupati Purbalingga, Drs H Heru Sujatmoko disampaikan oleh Budi Darmoyo. Dalam sambutannya, Bapak Bupati Purbalingga Jawa Tengah menyatakan bergembira dengan peringatan Isro Mi’roj yang berjalan dengan sukses. Selain itu, dengan adanya majlis taklim –majlis taklim yang ada sekarang ini merupakan bentuk pendidikan dasar bagi anak-anak di bidang agama. “Dengan dididik agama sejak kecil, harapannya nanti setelah dewasa atau menjadi orang tua yang bisa melaksanakan agama dengan baik. Peringatan Isro Mi’roj Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa yang mengagumkan dan bagi yang percaya adalah pertanda bagi manusia-manusia yang beriman,” lanjut Budi Darmoyo. &lt;br /&gt;Tepat pukul 22.00 acara inti peringatan Isro Mi’roj dengan taushiyah oleh KH Ahmad Sobirin Syamsuri, Pengasuh Pondok Pesantren (PPP) Al Mujahidin, Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas. Selain memaparkan secara detil proses detik-detik Isro Mi’roj Nabi Muhammad SAW ke langit ketujuh dan bertemu langsung dengan Allah SWT, KH Sobirin mengungkapkan kondisi dunia sekarang sudah mendekati tanda-tanda kiamat. Seperti diungkapkan dalam Hadist Nabi Muhammad SAW, tanda-tanda kiamat diantaranya adalah dicabutnya ilmu (dengan diwafatkannya ahli-ahli ilmu). Kedua, Orang mukmin banyak yang bodoh karena banyak ulama yang wafat. Ketiga, perbuatan zina merajalela. Keempat, banyak orang yang minum minuman keras (khamr). &lt;br /&gt;Banyaknya musibah yang menimpa bangsa Indonesia sekarang ini menandakan kita sedang diuji oleh Allah SWT. Dalam kesempatan malam itu, KH Sobirin banyak mengajak jamaah berdoa bersama dengan doa sifat-sifat khusus Nabi Muhammad SAW sehingga akan dihindarkan bala dan bencana. &lt;br /&gt;Dalam ceramah yang banyak dibumbui guyonan segar ala Banyumasan itu KH Sobirin banyak menyelipkan canda-canda segar sehingga mampu mengocok perut pengunjung yang menghadirinya dan membuat betah jamaah pengajian yang membludak sampai jalan raya itu tidak beranjak dari tempat duduknya. Apalagi sembari berceramah kadang-kadang diiringi tembang-tembang sholawat yang diringi musik campursari ala Banyumasan sehingga tidak membuat jamaah mengantuk.            &lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, KH Ahmad Sobirin Syamsuri juga mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT sebab jelas dalilnya siapa yang bersyukur kepada Allah maka akan ditambah nikmat-Nya. Namun sebaliknya, siapa yang tidak bersyukur maka ia akan menjadi kufur nikmat. Agar Allah SWt tidak marah yang luar biasa, lanjut KH Sobirin, orang mukmin harus menerima Qodar-Nya Allah SWT dan bila banyak diuji musibah senantiasa harus bersabar.&lt;br /&gt;“Sebaliknya, sebagai orang mukmin ada lima perkara yang tidak boleh sabar yakni menghormati tamu, menguburkan jenazah, menikahkan anak perempuan, menepati hutang dan bila berdosa segera bertaubat kepada Allah SWT ,” lanjut KH Sobirin. &lt;br /&gt;Tentang pembacaan dan pengajaran Al Qur’an, KH Sobirin sangat menyambut baik dengan berdirinya majlis-majlis taklim yang mengadakan acara khotmil Qur’an. “Membaca Al Qur’an merupakan salah satu dzikir yang sangat dianjurkan. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda,’Tidaklah berkumpul sekelompok orang untuk berdzikir kepada Allah, melainkan para malaikat mengerumuni mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan (sakinah) menghampiri mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang berada di sisinya’.” (HR Tirmidzi).&lt;br /&gt;“Doa khotmil Qur’an itu mustajab (dikabukan Allah SWT). Barangsiapa membaca Al-Qur’an setelah itu ia berdoa, maka para malaikat datang ke langit dunia untuk mengaminkan doanya, “ kata KH Sobirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang berakhirnya acara, KH Sobirin mengajak ribuan jamaah pengajian yang masih setia menunggu itu untuk mendawamkan doa bulan Rajab dan Sya’ban yang dibaca setiap shalat lima waktu yakni Allohuma barik lana fi rajab wa sya’ban wa ballighna ramadhan.(Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan). “Nanti pada malam 27 Rajab, saya mengajak jama’ah untuk melakukan muhasabah dan mengamalkan serta membaca doa Rajab wa Sya’ban sebanyak 1001 kali ba’da shalat malam (hajat). Semoga Indonesia jauh dan bala dan bencana serta doa-doa kita diijabah oleh Allah SWT, Amin!” tutup KH Sobirin.      &lt;br /&gt;Tepat dinihari pukul 01.00 suasana kabut malam semakin dingin. Acara ini kemudian ditutup doa oleh KH Ahmad Sobirin Syamsuri dan ja’maah kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk semakin mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW. (*) Aji Setiawan, Purbalingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://majalah-alkisah.com/index.php/berita-terhangat/879-isra-miraj-mt-raudlotul-quran-purbalingga-jauhkan-indonesia-dari-bala-dan-bencana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-4091883399071782656?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/4091883399071782656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=4091883399071782656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4091883399071782656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4091883399071782656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/06/isro-miroj-di-kembangan-kec-bukateja.html' title='Isro Mi&apos;roj di Kembangan Kec Bukateja Purbalingga'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-OeCUBKWS5FE/Tfr31ZdvJHI/AAAAAAAAAuI/zBbDTTSinio/s72-c/DSCN9463.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-8370841746849598051</id><published>2011-06-16T20:18:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T20:21:54.813-07:00</updated><title type='text'>Syekh Akbar Abdul Fatah, Cidahu Tasikmalaya Jawa Barat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-gkFVU8gnrfY/TfrHsP_mHII/AAAAAAAAAto/x9hABRXz6v0/s1600/2010-09-08-21-46-03_syeikh%2Bal-akbar%2Babdul%2Bfattah_thumb_500_400.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-gkFVU8gnrfY/TfrHsP_mHII/AAAAAAAAAto/x9hABRXz6v0/s320/2010-09-08-21-46-03_syeikh%2Bal-akbar%2Babdul%2Bfattah_thumb_500_400.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619023048119557250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Si Linggis” dari Desa Cidahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah salah seorang wali besar di Tanah Jawa. Sejak muda ia sudah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya yang sangat tajam setiap kali mengkaji ilmu-ilmu agama dengan pendekatan tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Desa Cidahu, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1884, lahirlah seorang jabang bayi yang kelak menjadi ulama besar. Orangtuanya memberinya nama Abdul Fatah. Sejak muda ia sudah tertarik pada kehidupan rohaniah dengan menimba ilmu tarekat pada K.H. Sudja’i, guru mursyid Tarekat Tijaniyah, selama tujuh tahun sejak 1903.&lt;br /&gt;Selama menjadi santri, Abdul Fatah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya terhadap berbagai ilmu agama yang sangat tajam. Terutama ketika ia menganalisis dengan menggunakan ilmu nahu dan saraf dengan pendekatan tasawuf. Ia suka belajar dengan membaca berbagai kitab, sehingga beberapa pelajaran yang belum sempat disampaikan oleh gurunya sudah ia kuasai.&lt;br /&gt;Suatu hari, ia membaca ayat 17 surah Al-Kahfi, “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, dia termasuk orang yang diberi petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, dia sekali-sekali tidak akan mendapatkan seorang wali yang mursyid.” Ia lalu bertanya kepada Kiai Sudja’i, “Siapakah wali mursyid yang dimaksud dalam ayat ini?” Kiai Sudja’i menjelaskan perihal wali mursyid sebagai guru tarekat, sementara mencari wali mursyid merupakan keharusan. Tapi, karena Kiai Sudja’i mengaku bukan wali mursyid, Abdul Fatah disarankan untuk mencari wali mursyidnya.&lt;br /&gt;Maka berangkatlah Abdul Fatah mencari wali mursyid dengan mengunjungi para ulama di Jawa dan Sumatra. Karena belum menemukan, ia lalu mencarinya ke Timur Tengah, khususnya Mekah. Maka pada 1922 ia pun berangkatlah, dengan membawa seluruh anggota keluarganya. Sampai di Singapura, kapal yang mereka tumpangi rusak. Terpaksalah ia bermukim di Negeri Singa itu. Ia tinggal di Kampung Watu Lima, kemudian di Kampung Gelang Serai, selama lima tahun. Di sanalah ia, suatu hari, bertemu Syekh Abdul Alim Ash-Shiddiqy dan Syekh Abdullah Dagistani, yang mengajarkan Tarekat Sanusiyah. &lt;br /&gt;Pada 1928, setelah memulangkan keluarganya ke Tasikmalaya, ia berangkat ke Mekah bersama beberapa jemaah haji Indonesia, seperti K.H. Toha dari Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, dan K.H. Sanusi dari Pesantren Syamsul Ulum, Gunungpuyuh, Sukabumi (lihat Alkisah edisi 17/III/2005, Khazanah). Selama di Mekah, Abdul Fatah bergabung dengan Zawiyah Sanusiyyah di Jabal Qubais, mengaji kepada Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi selama lima tahun.&lt;br /&gt;Karena sangat alim, belakangan Abdul Fatah mendapat kepercayaan membaiat atau menalkin murid tarekat yang baru masuk. Selama belajar tarekat kepada Syekh Ahmad Syarif, ia sempat mengalami berbagai ujian. Suatu hari, ketika tengah mengajar, Syekh Ahmad Syarif mengamuk dalam majelisnya. Apa saja yang ada di dekatnya dilempar ke arah murid-muridnya. Semua muridnya lari berhamburan karena takut. Namun, ada seorang murid yang bergeming, tetap diam di tempat. Dialah Abdul Fatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursi Istimewa&lt;br /&gt;Sebagai guru mursyid tarekat, Syekh Ahmad Syarif biasa duduk di kursi istimewa, dan tak seorang pun berani mendudukinya. Mengapa? Sebab, siapa yang berani mendudukinya, badannya akan hangus. Suatu hari Syekh Ahmad memerintahkan Abdul Fatah untuk menggantikannya mengajar. Maka dengan tenang Abdul Fatah duduk di kursi istimewa itu, tanpa ada kejadian apa pun yang mencelakakannya.&lt;br /&gt;Akhirnya, pada suatu hari, Syekh Ahmad Syarif memanggilnya. Ia menceritakan, semalam Rasulullah SAW memerintahkan untuk melimpahkan kekhalifahan Tarekat Sanusiyah kepada Abdul Fatah Al-Jawi untuk dikembangkan di negerinya. Sejak itu Abdul Fatah mendapat gelar Syekh Akbar Abdul Fatah. Setelah itu, lebih kurang dua tahun kemudian, Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi pun wafat.&lt;br /&gt;Pada 1930, Syekh Akbar Abdul Fatah pulang kampung dengan membawa ajaran Tarekat Sanusiyah, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Tarekat Idrisiyah karena tiga alasan. Pertama, untuk berlindung dari tekanan politik kaum kolonialis Belanda. Kedua, kandungan ajaran kedua aliran itu sama, karena Idrisiyah juga merupakan anak Tarekat Sanusiyah, yang sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad bin Idris. Ketiga, untuk mendapatkan berkah Syekh Ahmad bin Idris atas keistimewaan lafaz zikirnya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan Nabi Khidlir, yaitu Fi kulli lamhatin wa nafasin ‘adada ma wasi’ahu ‘ilmullah.&lt;br /&gt;Di Cidahu, Syekh Akbar Abdul Fatah menghadapi berbagai tantangan, baik dari penjajah Belanda maupun para jawara. Namun semua itu ia hadapi tanpa takut sedikit pun. Tiga tahun kemudian ia mulai mendirikan beberapa zawiah di beberapa tempat, terutama di Jawa Barat, masing-masing dilengkapi dengan sebuah masjid, Al-Fatah. Pada 1930, ia sempat berdakwah sampai ke Batavia, singgah di Masjid Kebon Jeruk, kini di kawasan Jakarta Kota. Ia juga sempat mengembangkan tarekat di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang, Jakarta Pusat. &lt;br /&gt;Suatu hari ia mengembangkan tarekat di Masjid Al-Falah di Batutulis, kini di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Di sana ia juga harus menaklukkan para jawara. Dan sejak itu syiar dakwah Islam terus berkembang. Banyak muridnya yang kemudian mewakafkan tanah untuk digunakan sebagai zawiah. Ia juga membangun sebuah asrama untuk tempat tinggal para santri dari jauh. Di tengah kesibukannya mengajar di Batavia, dua minggu sekali ia menyempatkan diri mengajar di kampung halamannya.&lt;br /&gt;Pada 1940, karena pesantrennya di Cidahu sudah tidak bisa menampung jemaah, ia lalu memindahkannya ke Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya.&lt;br /&gt;Sebagai wali, Syekh Akbar Abdul Fatah memiliki banyak karamah. Suatu hari, dalam perang kemerdekaan, pasukan Hizbullah, yang terdiri dari para santri pimpinan Syekh Akbar Abdul Fatah, dibombardir oleh pesawat Belanda. Namun, bom-bom itu tidak meledak. Apa pasal? Karena Syekh Akbar Abdul Fatah telah membekali para santrinya dengan air yang telah didoainya. “Air doa” sang wali inilah yang, atas izin Allah SWT, menangkal bom-bom penjajah kafir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perampok Arab&lt;br /&gt;Suatu hari seorang nelayan terdampar sampai ke pantai Australia. Ia kemudian berdoa, “Ya Allah, mengapa Engkau asingkan aku yang lemah ini di sini? Padahal, aku hanya bermaksud mencari nafkah buat anak-istriku. Ya Allah, datangkanlah penolong.” Ketika itulah ia melihat seorang ulama bertubuh tinggi besar berpakaian serba putih. Tiba-tiba ia memindahkan perahu nelayan itu ke tempat asalnya. Setelah selamat, nelayan itu menawarkan ikan besar yang baru saja ditangkapnya kepada ulama penolongnya itu.&lt;br /&gt;Dengan tersenyum, ulama tersebut berkata, “Aku tidak membutuhkan ikan itu. Jika engkau ingin menjumpaiku dan menjadi muridku, datanglah ke Pagendingan, Tasikmalaya.” Setelah itu ulama tinggi bear itu pun lenyap dari pandangan mata. Selang beberapa minggu kemudian, nelayan itu datang ke Pesantren Pagendingan. Di sana ia bertemu seorang ulama yang fisik dan gerak-geriknya persis seperti yang ia lihat di pantai Australia. Ia tiada lain adalah Syekh Akbar Abdul Fatah.&lt;br /&gt;Karamah yang lain terjadi ketika Syekh Akbar Abdul Fatah berada di Mekah. Suatu hari ia ingin berziarah ke makam Rasulullah SAW di Medinah. Membawa bekal secukupnya, bersama beberapa kiai dari Jawa, ia berjalan kaki menuju Medinah. Di tengah perjalanan, rombongan itu diadang perampok bersenjata lengkap. Rombongan peziarah itu terkepung oleh perampok yang mengendarai kuda dengan menghunus pedang. Syekh Akbar lalu memerintahkan rombongannya melepaskan apa saja yang ada di tangannya ke kanan dan kiri, sebagai kepasrahan seorang hamba yang lemah tak berdaya.&lt;br /&gt;Sambil melepaskan apa yang dimiliki, Syekh Akbar berteriak dengan suara lantang, ”Ash-shalatu was salamu ‘alaika ya Rasulallah! Qad Dhaqat hilati, adrikni ya Rasulallah!” (Selawat dan salam serajahtera atas Tuan, wahai Rasulullah! Mohon lenyapkan rintangan jalan kami menuju engkau, wahai Rasulullah!). Ajaib! Kontan para perampok itu berteriak-teriak kesakitan sambil memegang leher mereka, “Ampun ya Syekh Jawa, ampun ya Syekh Jawa! Panas, panas!”&lt;br /&gt;Pemimpin perampok itu lalu minta maaf, mohon dibebaskan dari siksaan. Maka Syekh Akbar pun mendekati dan menepuk pundak para perampok itu satu per satu. Barulah rasa sakit karena panas tak terkirakan di tenggorokan itu reda. Seketika itu pemimpin perampok menyatakan bertobat, dan bersedia mengantarkan rombongan ke mana saja. “Kalian adalah bangsa Arab yang berdekatan dengan kampung Rasulullah SAW, sedangkan kami datang dari negeri yang sangat jauh – tapi demi berziarah kepada Rasulullah SAW. Tidakkah kalian malu melakukan hal yang tidak terpuji ini? Sudah sepantasnya kalian lebih berbangga daripada kami, karena negeri kalian dikunjungi banyak orang dari seluruh pelosok negeri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Akbar Abdul Fatah wafat pada 1947 dalam usia 63 tahun, dimakamkan dalam kompleks Pesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Jalan Raya Ciawi Km 8, Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak itu pemimpin Tarekat Idrisiyah diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Dahlan. Pada 11 September 2001 Syekh Dahlan wafat, dan tongkat kepemimpinan tarekat diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan. (***)Aji Setiawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-8370841746849598051?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/8370841746849598051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=8370841746849598051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8370841746849598051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8370841746849598051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/06/syekh-akbar-abdul-fatah-cidahu.html' title='Syekh Akbar Abdul Fatah, Cidahu Tasikmalaya Jawa Barat'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gkFVU8gnrfY/TfrHsP_mHII/AAAAAAAAAto/x9hABRXz6v0/s72-c/2010-09-08-21-46-03_syeikh%2Bal-akbar%2Babdul%2Bfattah_thumb_500_400.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-7248298851212685544</id><published>2011-06-16T20:16:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T20:18:32.747-07:00</updated><title type='text'>KH. Ahmad Djazuli Utsman, Ploso Kediri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-frlvEcT0Cao/TfrHQTn7IFI/AAAAAAAAAtg/VN1GCplBkkw/s1600/Jazuli.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 271px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-frlvEcT0Cao/TfrHQTn7IFI/AAAAAAAAAtg/VN1GCplBkkw/s320/Jazuli.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619022568057675858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sang Blawong Pewaris Keluhuran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Mas’ud, yang mendapat julukan Blawong dari KH. Zainuddin. Kelak dikemudian hari ia lebih dikenal dengan nama KH. Achmad Djazuli Utsman, pendiri dan pengasuh I Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam KH. Zainuddin memperhatikan gerak-gerik santri baru yang berasal dari Ploso itu. Dalam satu kesempatan, sang pengasuh pesantren bertemu Mas’ud memerintahkan untuk tinggal di dalam pondok.&lt;br /&gt;“Co, endang ning pondok!”&lt;br /&gt;“Kulo mboten gadah sangu, Pak Kyai.”&lt;br /&gt;“Ayo, Co...mbesok kowe arep dadi Blawong, Co!”&lt;br /&gt;Mas’ud yang tidak mengerti apa artinya Blawong, hanya diam saja. Setelah tiga kali meminta, barulah Mas’ud menurut perintah Kyai Zainuddin untuk tinggal di dalam bilik pondok. Sejak itulah, Mas’ud kerap mendapat julukan Blawong.&lt;br /&gt;Ternyata Blawong adalah burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu. Si Blawong itu dipelihara dengan mulia di istana Kerajaan Bawijaya. Alunan suaranya mengagumkan, tidak ada seorang pun yang berkata-kata tatkala Blawong sedang berkicau, semua menyimak suaranya. Seolah burung itu punya karisma yang luar biasa. &lt;br /&gt;Ia lahir di awal abad XIX, tepatnya tanggal 16 Mei 1900 M. Ia adalah anak Raden Mas M. Utsman seorang Onder Distrik (penghulu kecamatan). Sebagai anak bangsawan, Mas’ud beruntung, karena ia bisa mengenyam pendidikan sekolah formal seperti SR, MULO, HIS bahkan sampai dapat duduk di tingkat perguruan tinggi STOVIA (Fakultas Kedokteran UI sekarang) di Batavia.&lt;br /&gt;Belum lama Mas’ud menempuh pendidikan di STOVIA, tak lama berselang Pak Naib, demikian panggilan akrab RM Utsman kedatangan tamu, KH. Ma’ruf (Kedunglo) yang dikenal sebagai murid Kyai Kholil, Bangkalan (Madura). &lt;br /&gt;“Pundi Mas’ud?” tanya Kyai Ma’ruf.&lt;br /&gt;“Ke Batavia. Dia sekolah di jurusan kedokteran,” jawab Ayah Mas’ud.&lt;br /&gt;“Saene Mas’ud dipun aturi wangsul. Larene niku ingkang paroyogi dipun lebetaken pondok (Sebaiknya ia dipanggil pulang. Anak itu cocoknya dimasukan ke pondok pesantren),” kata Kyai Ma’ruf. &lt;br /&gt;Mendapat perintah dari seorang ulama yang sangat dihormatinya itu, Pak Naib kemudian mengirim surat ke Batavia meminta Mas’ud untuk pulang ke Ploso, Kediri. Sebagai anak yang berbakti ia pun kemudian pulang ke Kediri dan mulai belajar dari pesantren ke pesantren yang lainnya yang ada di sekitar karsidenan Kediri. &lt;br /&gt;Mas’ud mengawali masuk pesantren Gondanglegi di Nganjuk yang diasuh oleh KH. Ahmad Sholeh. Di pesantren ini ia mendalami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an, khususnya tajwid dan kitab Jurumiyah yang berisi tata bahasa Arab dasar (Nahwu) selama 6 bulan.&lt;br /&gt;Setelah menguasai ilmu Nahwu, Mas’ud yang dikenal sejak usia muda itu gemar menuntut ilmu kemudian memperdalam pelajaran tashrifan (ilmu Shorof) selama setahun di Pondok Sono (Sidoarjo). Ia juga sempat mondok di Sekarputih, Nganjuk yang diasuh KH. Abdul Rohman. Hingga akhirnya ia nyantri ke pondok yang didirikan oleh KH. Ali Imron di Mojosari, Nganjuk dan pada waktu itu diasuh oleh KH. Zainuddin. &lt;br /&gt;KH. Zainuddin dikenal banyak melahirkan ulama besar, semacam KH. Wahhab Hasbullah (Pendiri NU dan Rais Am setelah KH. Hasjim Asy’ari), Mas’ud yang waktu itu telah kehabisan bekal untuk tinggal di dalam pondok kemudian mukim di langgar pucung (musala yang terletak tidak jauh pondok).&lt;br /&gt;Selama di Pondok Mojosari, Mas’ud hidup sangat sederhana. Bekal lima rupiah sebulan, dirasa sangat jauh dari standar kehidupan santri yang pada waktu rata-rata Rp 10,-. Setiap hari, ia hanya makan satu lepek (piring kecil) dengan lauk pauk sayur ontong (jantung) pisang atau daun luntas yang dioleskan pada sambal kluwak. Sungguh jauh dikatakan nikmat apalagi lezat.&lt;br /&gt;Di tengah kehidupan yang makin sulit itu, Pak Naib Utsman, ayah tercinta meninggal. Untuk menompang biaya hidup di pondok, Mas’ud membeli kitab-kitab kuning masih kosong lalu ia memberi makna yang sangat jelas dan mudah dibaca. Satu kitab kecil semacam Fathul Qorib, ia jual Rp 2,5,-(seringgit), hasil yang lumayan untuk membiayai hidup selama 15 hari di pondok itu. &lt;br /&gt;Setelah empat mondok di Mojosari, Mas’ud kemudian dijodohkan dengan Ning Badriyah putri Kyai Khozin, Widang, Tuban (ipar Kyai Zainuddin). Namun rupa-rupanya antara Kyai Khozin dan Kyai Zainuddin saling berebut pengaruh agar Mas’ud mengajar di pondoknya. Di tengah kebingungan itulah, Mas’ud berangkat haji sekaligus menuntut ilmu langsung di Mekkah. &lt;br /&gt;H. Djazuli, demikian nama panggilan namanya setelah sempurna menunaikan ibadah haji. Selama di tanah suci, ia berguru pada Syeikh Al-‘Alamah Al-Alaydrus di Jabal Hindi. Namun, ia di sana tidak begitu lama, hanya sekitar dua tahun saja, karena ada kudeta yang dilancarkan oleh kelompok Wahabi pada tahun 1922 yang diprakasai Pangeran Abdul Aziz As-Su’ud.&lt;br /&gt;Di tengah berkecamuknya perang saudara itu, H. Djazuli bersama 5 teman lainnya berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah. Sampai akhirnya H. Djazuli dan kawan-kawannya itu ditangkap oleh pihak keamanan Madinah dan dipaksa pulang lewat pengurusan konsulat Belanda.&lt;br /&gt;Sepulang dari tanah suci, Mas’ud kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Ploso dan hanya membawa sebuah kitab yakni Dalailul Khairat. Selang satu tahun kemudian, 1923 ia meneruskan nyantri ke Tebuireng Jombang untuk memperdalam ilmu hadits di bawah bimbingan langsung Hadirotusy Syekh KH. Hasjim Asya’ri. &lt;br /&gt;Tatkala KH. Djazuli sampai di Tebuireng dan sowan ke KH. Hasjim Asya’ri untuk belajar, Al-Hadirotusy Syekh sudah tahu siapa Djazuli yang sebenarnya, ”Kamu tidak usah mengaji, mengajar saja di sini.” H. Djazuli kemudian mengajar Jalalain, bahkan ia kerap mewakili Tebuireng dalam bahtsul masa’il (seminar) yang diselenggarakan di Kenes, Semarang, Surabaya dan sebagainya. &lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup, ia kemudian melanjutkan ke Pesantren Tremas yang diasuh KH. Ahmad Dimyathi (adik kandung Syeikh Mahfudz Attarmasiy). Tak berapa lama kemudian ia pulang ke kampung halaman, Ploso. Sekian lama Djazuli menghimpun “air keilmuan dan keagamaan”. Ibarat telaga, telah penuh. Saatnya mengalirkan air ilmu pegetahuan ke masyarakat. &lt;br /&gt;Dengan modak tekad yang kuat untuk menanggulangi kebodohan dan kedzoliman, ia mengembangkan ilmu yang dimilikinya dengan jalan mengadakan pengajian-pengajian kepada masyarakat Ploso dan sekitarnya. Hari demi hari ia lalui dengan semangat istiqamah menyiarkan agama Islam.&lt;br /&gt;Hal ini menarik simpati masyakarat untuk berguru kepadanya. Sampai akhirnya ia mulai merintis sarana tempat belajar untuk menampung murid-murid yang saling berdatangan. Pada awalnya hanya dua orang, lama kelamaan berkembang menjadi 12 orang. Hingga pada akhir tahun 1940-an, jumlah santri telah berkembang menjadi sekitar 200 santri dari berbagai pelosok Indonesia.&lt;br /&gt;Pada jaman Jepang, ia pernah menjabat sebagai wakil Sacok (Camat). Di mana pada siang hari ia mengenakan celana Goni untuk mengadakan grebegan dan rampasan padi dan hasil bumi ke desa-desa. Kalau malam, ia gelisah bagaimana melepaskan diri dari paksaan Jepang yang kejam dan biadab itu.&lt;br /&gt;Kekejaman dan kebiadaban Jepang mencapai puncaknya sehingga para santri selalu diawasi gerak-geriknya, bahkan mereka mendapat giliran tugas demi kepentingan Jepang. Kalau datang waktu siang, para santri aktif latihan tasio (baris berbaris) bahkan pernah menjadi Juara se-Kecamatan Mojo. Tapi kalau malam mereka menyusun siasat untuk melawan Jepang. Demikian pula setelah Jepang takluk, para santri kemudian menghimpun diri dalam barisan tentara Hisbullah untuk berjuang.&lt;br /&gt;Selepas perang kemerdekaan, pesantren Al-Falah baru bisa berbenah. Pada tahun 1950 jumlah santri yang datang telah mencapai 400 santri. Perluasan dan pengembangan pondok pesantren, persis meniru kepada Sistem Tebuireng pada tahun 1923. Suatu sistem yang dikagumi dan ditimba Kyai Djazuli selama mondok di sana.&lt;br /&gt;Sampai di akhir hayat, KH. Ahmad Djazuli Utsman dikenal istiqomah dalam mengajar kepada santri-santrinya. Saat memasuki usia senja, Kyai Djazuli mengajar kitab Al-Hikam (tasawuf) secara periodik setiap malam Jum’at bersama KH. Abdul Madjid dan KH. Mundzir. Bahkan sekalipun dalam keadaan sakit, beliau tetap mendampingi santri-santri yang belajar kepadanya. Riyadloh yang ia amalkan memang sangat sederhana namun mempunyai makna yang dalam. Beliau memang tidak mengamalkan wiridan-wiridan tertentu. Thoriqoh Kyai Djazuli hanyalah belajar dan mengajar “Ana thoriqoh ta’lim wa ta’allum,”katanya berulangkali kepada para santri.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya Allah SWT berkehendak memanggil sang Blawong kehadapan-Nya, hari Sabtu Wage 10 Januari 1976 (10 Muharam 1396 H). Beliau meninggalkan 5 orang putra dan 1 putri dari buah perkawinannya dengan Nyai Rodliyah, yakni KH. Achmad Zainuddin, KH. Nurul Huda, KH. Chamim (Gus Miek), KH. Fuad Mun’im, KH. Munif dan Ibu Nyai Hj. Lailatus Badriyah. Ribuan umat mengiringi prosesi pemakaman sosok pemimpin dan ulama itu di sebelah masjid kenaiban, Ploso, Kediri.&lt;br /&gt;Konon, sebagian anak-anak kecil di Ploso, saat jelang kematian KH. Djazuli, melihat langit bertabur kembang. Langit pun seolah berduka dengan kepergian ‘Sang Blawong’ yang mengajarkan banyak keluhuran dan budi pekerti kepada santri-santrinya itu.&lt;br /&gt;(***) Aji Setiawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-7248298851212685544?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/7248298851212685544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=7248298851212685544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/7248298851212685544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/7248298851212685544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/06/kh-ahmad-djazuli-utsman-ploso-kediri.html' title='KH. Ahmad Djazuli Utsman, Ploso Kediri'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-frlvEcT0Cao/TfrHQTn7IFI/AAAAAAAAAtg/VN1GCplBkkw/s72-c/Jazuli.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-1531634277904636884</id><published>2011-06-16T20:14:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T20:16:04.970-07:00</updated><title type='text'>KH Abdul Manan Muncar Banyuwangi Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-s9VSKsgHz8s/TfrGunDDASI/AAAAAAAAAtY/34fN8B1uOD8/s1600/1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 303px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-s9VSKsgHz8s/TfrGunDDASI/AAAAAAAAAtY/34fN8B1uOD8/s320/1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619021989156159778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Jadug dari Banyuwangi&lt;br /&gt;Nama KH Abdul Manan adalah nama yang tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk di wilayah kab Banyuwangi-Jawa Timur, khususnya desa Sumberas Muncar Banyuwangi. Kiai ini dikenal sebagai kiai ”jadug” alias jago gelut melawan berandalan dan perampok pada waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Abdul Manan merupakan putra kedua dari KH Moh Ilyas yang berasal dari Banten dan Umi Kultsum, yang berasal dari Jatirejo, Kandangan (Kediri). Lahir di desa Grampang, Kab Kediri pada tahun 1870. Saat berusia 1 tahun, ia dibawa KH Moh Ilyas pindah dari Grempol ke desa Ngadirejo Kecamatan Kandangan, Kab Kediri.  &lt;br /&gt;KH Moh Ilyas di Ngadirejo kemudian membuka pondok pesantren ala kadarnya. Selepas mendapat didikan dari sang ayahanda, KH Moh Ilyas, Abdul Manan juga “nyantri”  ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Saat berusia sekitar 12 tahun ia masuk pondok pesantren Keling atau lebih masyhur dikenal Pondok Pesantren Ringin Agung yang diasuh oleh Mbah KH Nawawi. Sekalipun usianya masih kecil, ia mendapat didikan langsung dari Mbah Nawawi, sehingga saat ia menjadi santrinya ia banyak dikenal sebagai “santri pemberani”. Dimana hanya orang dewasa saja yang semestinya mengaji dengan Mbah Kyai Nawawi, namun ia sudah mengeyamnya sejak pertama kali masuk pesantren.&lt;br /&gt;Lepas dari pondok pesantren Ringin Agung, ia kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Gerompol yang tidak lain adalah pondok pesantren neneknya sendiri . Di pondok gerompol, ia banyak menimba ilmu hikmah dan ia dikenal sebagai jago gelut alias ahli jadug karena sering melawan kalangan berandalan dan perampok yang sering merajalela di daerah tersebut. Bahkan ia pernah berhadapan dengan lima puluh berandalan sekaligus dan ia melawan mereka dengan sendirian dan dari sekian banyak berandalan itu dapat dibrantasnya dengan mudah karena ia memang memeiliki jurus-jurus silat yang pernah ia pelajari di Pondok Pesantren Grompol.&lt;br /&gt;Puas mempelajari ilmu hikmah dan silat di pondok Gerompol, ia kemudian melalaang buana keberbagai pondok pesantren untuk memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Dikalangan santri biasa disebut sebagai “santri kalong” karena mondoknya hanya sebentar saja. Beberapa pondok pesantren yang pernah dirambah oleh KH Abdul Manan diantaranya adalah Pondok Pesantren KH Abas di daerah Wlingi (Blitar), Pondok Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo), Pondok Pesantren Gayam (Jombang), Pondok Pensatren Tegalsari (Ponorogo) dan terakhir ia mondok dengan KH Kholil Al Bankalani (Bangkalan, Madura) atau yang biasa disapa dengan pangilan Mbah Cholil Bangkalan.&lt;br /&gt;Lepas mendapat didikan dari Mbah Cholil ia kemudian melanjutkan belajar ke Mekkah dan belajar dengan ulama-ulama Indonesia yang ada di Mekah dan juga beberapa rubath yang ada di sana selama 9 tahun. &lt;br /&gt;Sepulangnya dari tanah suci, KH Abdul Manan kembali ke daerah asalnya yakni desa Jatirejo, Kandangan, Kab Kediri untuk membantu orang tuanya menularkan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya kepada santri-santri KH Moh Ilyas.&lt;br /&gt;KH Abdul Manan menikah dengan seorang putri dari dusun Sumberbiru Puhrejo, Pare (Kediri) bahkan sampai membangun pondok kecil. Namun karena KH Abdul Manan tidak cocok dengan tempat itu, akhirnya ia furqoh (cerai) dengan istrinya dengan status belum punya putra dan ia akhirnya kembali ke Jatirejo , Kandangan (Kediri).&lt;br /&gt;Di Jatirejo, rupanya ia tidak betah juga karena rasa ghirah (semangat) untuk berta’alum (mencari ilmu) masih sedemikian tinggi. Akhirnya ia kembali mondok ke pesantren Jalen Genteng (Banyuwangi) yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Basyar. Karena usianya paling tua, di Pondok Jalen ia diangkat menjadi kepala pondok atau banyak orang bilang lurahnya Pondok. Tak selang beberaqpa lama kemudian, ia diambil menantu oleh KH Abdul Basyar dengan dinikahkan dengan salah satu putrinya yakni Siti Asmiyatun.&lt;br /&gt;Pernikahan beliau dengan Siti Asmiyatun binti Abdul Basyar ia dikaruniai duabelas putra yakni Nyai Siti Robi’ah Askandar, Tabsyrul Anam, Ma’ariful Waro, Rofiqotuddarri, Nuryatun,Ma’rifatun, Khosyi’atun, Kamaludin, Abdul Malik Luqoni, Mutamimmah, Munawarroh dan Zubaidah.&lt;br /&gt;Pada masa penjajahan Jepang, istrinya yakni Nyai Asmiyatun wafat. Ia kemudian menikah lagi dengan Hj Umtiyatun (Jalen) dan dari istri keduanya ia dikaruniai 9 putra-putri yakni  Ny Asliyatun, Moh Soleh, KH Fahruddin, Moh Dalhar, Ny St Aisyah, Dewi, Dafi’ul Bala’, Ny Mariyati dan KH Toha Muntaha. &lt;br /&gt;Tahun 1929 Ia pindah dari Jalen ke Berasan dan mendirikan pondok pesantren Minhajut Thullab. Sedangkan pondok pesantren Jalen diteruskan olehh adik iparnya yakni Nyai Mawardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai membangun Pondok     &lt;br /&gt;Sebelum memilih daerah Berasan, ia sebelumnya berkeliling mulai dari Kalibaru, Silir, Pesanggrahan, Tamansari dan Berasan. Ternyata dari sekian tempat yang dijelajahi akhirnya terpilih daerah Berasan. Itu pun atas isyaroh dari KH Cholil Canggan Genteng, Banyuwangi agar memilih daerah Berasan menjadi sentral peantren yang akan ia rintis. &lt;br /&gt;Awalnya, ia berangkat ke Berasan dengan tujuh teman santri dari Jalen dan bertemu dengan warga desa Badegan , Rogojampi (Banyuwangi) yang juga adalah pemilik tempat yang akan dijadikan lokasi pondok pesantren yakni H Sanusi. Pemilik tanah dan dan rumah di desa Berasan itu (H Sanusi-red) akhirnya mau menjual rumah dan tanahnya kepada KH Abdul Manan.&lt;br /&gt;Tepat tahun 1932, KH Abdul Manan berserta keluarga  dan diikuti oleh 12 santrinya, resmi boyongan dari Jalen menuju Berasan dan mulai membangun pondok pesantren. Awal berdiri pondok pesantren hanya berupa sebuah rumah dan musola kecil dan bangunan pondok bambu yang beratap daun alang-alang, sangat memprihationkan.&lt;br /&gt;Semakin lama, santri mulai berdatangan dari berbagai daerah, bahkan mulai kerepotan menampung jumlah santri, sehingga ia menambah jumlah lokasi pondok dengan membeli sebagaian tanah penduduk setempat sekaligus membuat bangunan masjid dan bangunan kamar-kamar pondok pesantren yang permanen.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa penjajahan Jepang dan Kolonial              &lt;br /&gt;KH Abdul Manan terkenal sangat gigih melawan penjajah Jepang dan Belanda. Banyak kyai di Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang dan Belanda yang menderita karena ditangkap oleh penjajah.  Akan tetapi berkat lindungan Allah SWT,  KH Abdul Manan dapat lolos dari tiap jeratan penjajah. Pada masa itu, beliau diungsikan oleh para santri dan masyarakat di rumah-rumah penduduk. Nasib nahas memang banyak menimpa Kyai-Kyai besar pada masa penjajahan yang berhasil ditangkap oleh penjajah seperti KH Manshur (Sidoresmo), Kyai Moh Ilyas, KH Askandar dan masih banyak lagi karena melawan penjajahan Kumpeni Belanda. Lepas dari penjajahan Belanda, dan Indonesia telah merdeka, ia tetap mengajar di pesantren.&lt;br /&gt;Tepat tahun 1945 ia membangun sebuah gedung yang bisa menampung banyak jamaah untuk mengaji, yakni gedung “Jam’iyyah  al Ishlah” atau populer dengan jam’iyyah gedong. Pada waktu itu, memang Pondok Pesantren Minhajut Thullab belum ada sistem pendidikan serupa dengan pendidikan sekolah-sekolah, yang ada hanya sistem pengajian-pengajian ala pesantren sepereti sorogan, bandongan , khitobah dll.&lt;br /&gt;Baru pada tahun 1947 mulai dibuka sekolah bnermateri khusus pendidikan agama atau madrasah diniyah yang dibimbing oleh KH Suyuthi. Pada tahun 1951 dibuka sekolah setingkat Madrasah Ibtidaiyah yakni MI Miftahul Mubtadin. Baru pada tahun 1976 didirikan mulai dari tingkat kanak-kanak (TK Khodijah), MTs Miftahul Mubtadin dan SMA Al Hikmah.&lt;br /&gt;KH Abdul Manan adalah sosok ulama yang soleh dan zuhud. Beliau mendidik putra putrinya di rumahnya dan kemudian anak-anaknya ia pondokan ke berbagai pesantren lain. Beliau dikenal sangat teliti dengan pendidikan anak-anaknya dan para santri bahkan juga masyarakat di mana bila sudah jam 20.00 mereka diwajibkan untuk istirahat (tidur). Beliau adalah seorang yang aktif dan disiplin dengan apapun  tugas. Memang awalnya beliau mendidik dan memberi pengajian kepada putra-putranya, santri dan masyarakat sendirian, belum punya tenaga pengajar dari kalangan santri. Namun setelah santri-santri sudah mampu mengajar dan mengaji, mereka dianjurkan untuk memberikan pengajian kepada santri-santri di bawahnya.&lt;br /&gt;Uniknya, para santri atau tenaga pengajar yang ada di pondok Minhajut Tulab tidak dibayar dengan uang. Namun  mereka dijamin dan dicukupi dalam kebutuhan makan sehari-hari, ada yang makan di ndalemnya Mbah Kyai dan ada juga yang sebagian makan di rumahnya orang-orang desa yang diberi garapan berupa sawah atau kebun dari tanah KH Abdul Manan. &lt;br /&gt;Keseharian beliau adalah seorang Kiai dan seorang petani. Sedang dibidang pertanian cukup dipercayakan kepada orang lain. Beliau juga dikenal sebagai pedagang yang sukses. Cara beliau memasarkan daganagannya, beliau cukup dirumah. Kalau ada orang yang ingin menjual barangnya mereka datang ke rumah Mbah KH Abadul Manan. Sedangkan kalau beliau menjualnya cukup dipasarkan oleh orang-orang yang dapat dipercaya. &lt;br /&gt;Rotan bertuah&lt;br /&gt;Setelah Indonesia merdeka,m justru ada peristiwa yang lebih kejam lagi yakni pemberontakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (Gerakan 30 S PKI). Kekejaman dan komunis lebih kejam lagi, banyak kyai dan santri menjadi korban PKI. Melihat tindakan seperti itu, ia bersama santri dan penduduk tidak tinggal diam. KH Abdul Manan mengutus beberapa santri untuk mencari beberapa batang rotan (Kayu penjalin) dan dijadikan azimat untuk melawan PKI.&lt;br /&gt;Rotan-rotan itu oleh KH Abdul Manan setelah didoakan dipergunakan oleh para santri dan masyarakat untuk melawan dan melumpuhkan orang-orang PKI yang masih sering berkeliaran di daerah Banyuwangi. Khasiat rotan itu juga bahkan dapat membakar rumah-rumah penduduk PKI cukup dengan memukulkannya. Tidak hanya rotan yang dapat di asma’ oleh KH Abdul Manan, banyak orang yang datang sambil membawa barang kesayangannya untuk didoakan oleh beliau, seperti cincin, sorban, peci dll.&lt;br /&gt;Kelebihan dan kejadugan KH Abdul Manan bukanlah sesuatu yang didapat secara instan, tetapi buah dari riyadhah sejak ia berusia mua. Saat masih menimba ilmu di pondok pesantren ia sering melakukan puasa mutih, ngrowot. Saat belajar di Mekah selama 9 tahun ia juga berpuasa secara terus menerus, kecuali 2 hari yang diharamkan untuk tidak berpuasa yakni hari Idul Fitri dan hari Idhul Adha (2 hari Idul Adha). Bahkan tak jarang ia hanya berbuka hanya sebutir kurma dan minumnya juga hanya segelas air zam-zam.&lt;br /&gt;Amalan-amalan yang ia lakukan dari usia muda sampai menjelang wafat lewat memperbanyak puasa semata-semata demi keberhasilan dan kebaikan beliau untuk memperihatini (laku prihatin) agar anak –anak dan santrinya kelak dapat menjadi orang yang berhasil serta berguna bagi masyarakat banyak. KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat Kliwon menjelang Subuh 15 Syawal 1399 H (1979 M) dan di makamkan masih di sekitar pondok pesantren Minhajut Thulab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi (Jawa Timur).&lt;br /&gt;  Aji Setiawan, Purbalingga-Jawa Tengah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-1531634277904636884?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/1531634277904636884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=1531634277904636884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/1531634277904636884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/1531634277904636884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/06/kh-abdul-manan-muncar-banyuwangi-jawa.html' title='KH Abdul Manan Muncar Banyuwangi Jawa Timur'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-s9VSKsgHz8s/TfrGunDDASI/AAAAAAAAAtY/34fN8B1uOD8/s72-c/1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-1147822683794310133</id><published>2011-06-16T20:13:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T20:14:18.256-07:00</updated><title type='text'>KH Mukhtar Syafaat Abdul Ghafur Banyuwangi Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-8fkGAGQ0NLI/TfrGaJHsBnI/AAAAAAAAAtQ/-9vNb2lSjeM/s1600/KH%2BMukhtar%2BSyafaat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 301px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8fkGAGQ0NLI/TfrGaJHsBnI/AAAAAAAAAtQ/-9vNb2lSjeM/s320/KH%2BMukhtar%2BSyafaat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619021637525177970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama Panutan Umat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ulama terkemuka di Banyuwangi ini terkenal dengan sikap dan perilaku yang menjadi panutan umat. Dialah KH Mukhtar Syafaat, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, BlokAgung, Jajag, Banyuwangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Muktar Syafaat Abdul Ghafur seorang ulama dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan ulama, dari silsilah ayahnya, yakni KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin Kyai Sobar Iman bin Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).&lt;br /&gt;Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca Al-Qur’an, tajwid dan Sulam Safinah. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.&lt;br /&gt;Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari. Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq Tasawuf. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat mengenyam pendidikan pesantren. &lt;br /&gt;Permintaan tersebut ditampiknya secara halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan. &lt;br /&gt;Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga, Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya Ulumiddin karya Syekh Imam Al-Ghozali. &lt;br /&gt;Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis keberatan bila dijodohkan.&lt;br /&gt;Pengembaraan kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan keadaannya,”KH Syafa’at(Alm) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah, Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit, terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”&lt;br /&gt;Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut kemerdekaan RI.Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at. &lt;br /&gt;Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan pemerasan terhadap harta, jiwa dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.&lt;br /&gt;Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad dan Kyai Musaddad. &lt;br /&gt;Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak. Ini tak lepas dari sosok pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan sekaligus panutan umat. &lt;br /&gt;Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat. &lt;br /&gt;Dengan cara menulis lafadz Ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien, apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada keluarga dan para santri.&lt;br /&gt;KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qanaah, teguh menjaga muru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya. &lt;br /&gt;Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak kebagian.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i ( menjaga kehormatan).&lt;br /&gt;Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil, di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH Syafa’at bertanya,”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang, kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar dikembalikan ke tempatnya semula.&lt;br /&gt;Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu Mustasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.&lt;br /&gt;KH Syafaat pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan meninggalkan 14 anak (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.(Aji Setiawan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-1147822683794310133?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/1147822683794310133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=1147822683794310133' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/1147822683794310133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/1147822683794310133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/06/kh-mukhtar-syafaat-abdul-ghafur.html' title='KH Mukhtar Syafaat Abdul Ghafur Banyuwangi Jawa Timur'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-8fkGAGQ0NLI/TfrGaJHsBnI/AAAAAAAAAtQ/-9vNb2lSjeM/s72-c/KH%2BMukhtar%2BSyafaat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-3056509932388098142</id><published>2011-06-15T20:58:00.000-07:00</published><updated>2011-06-15T20:59:03.826-07:00</updated><title type='text'>Doa Rajab wa Sya'ban</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Allohuma barik lana fi rajab wa sya’ban wa ballighna ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-3056509932388098142?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/3056509932388098142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=3056509932388098142' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/3056509932388098142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/3056509932388098142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/06/doa-rajab-wa-syaban.html' title='Doa Rajab wa Sya&apos;ban'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-4664136520764854348</id><published>2011-05-28T04:33:00.000-07:00</published><updated>2011-07-30T21:26:34.668-07:00</updated><title type='text'>Ponpes Raudutul Ulmu, Besuk Kejayan Pasuruan Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-_x0Sn4acr88/TeDeAqV1mdI/AAAAAAAAAsU/1BrXQ-DVc5o/s1600/01.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 289px; height: 205px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-_x0Sn4acr88/TeDeAqV1mdI/AAAAAAAAAsU/1BrXQ-DVc5o/s320/01.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611729238650886610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-rHh-PNx8cNI/TeDeAlNb5pI/AAAAAAAAAsM/b258cqvuLAY/s1600/Album04.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 195px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-rHh-PNx8cNI/TeDeAlNb5pI/AAAAAAAAAsM/b258cqvuLAY/s320/Album04.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611729237273470610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-PscBeF3sHYg/TeDeA1_gyWI/AAAAAAAAAsc/r4uJ5zFUAI4/s1600/Album03.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 195px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-PscBeF3sHYg/TeDeA1_gyWI/AAAAAAAAAsc/r4uJ5zFUAI4/s320/Album03.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611729241778473314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pondok Pesantren Besuk Kejayan Pasuruan&lt;br /&gt;Pondok Salaf di Pasuruan Jawa Timur&lt;br /&gt;Pondok salaf ini yang mengajarkan Ilmu Agama secara mendalam dengan sistem pendidikan Salaf (bandungan, sorogan, musyawaroh, muroja’ah, bahtsul masa’il, khithobah, qiro’ah, tahfidzul qur’an dan sekolah). Didirikan pada th 1881 M.(1299 H.)&lt;br /&gt;Besuk adalah nama dari hutan belantara yang dibabat (dibuka) oleh mendiang KH. Aly Murtadlo, masyarakat sekitar menyebut daerah ini dengan sebutan Alas Besuk. Area Besuk ini berlokasi didesa Tanggulangin kec. Kejayan kab. Pasuruan Jawa Timur, ± 7 km arah selatan dari kota Pasuruan menuju Malang. Luas area Besuk ± 12 hektar. yakni area yang dikelilingi sungai ditambah utara jalan raya sampai dengan 50 meter kebarat Gapura besuk, dan area ini hanya dihuni oleh Dzurriyah KH Aly Mutradlo dan para santri.&lt;br /&gt;Periode I tonggak sejarah dan pondasi masa depan Pondok Besuk itu diketahui telah di bangun pada tahun 1299H. / 1881M. oleh Hadrotussyeh KH. Aly Murtadlo. Pada tahun itulah secara resmi ditetapkan sebagai tahun kelahiran Pondok Pesantren Besuk, dan Hadrotussyeh KH. Aly Murtadlo sebagai muassis (pendiri) sekaligus pengasuh yang pertama. Selama 40th. &lt;br /&gt;Generasi kedua terjadi antara tahun 1339 H. /1921 M. Pondok Pesantren Besuk diasuh oleh KH. Badar, (KH. Baqir) selama 21th, didampingi oleh kiai Mas Ahmad Zahid. Diperiode II ini menghasilkan banyak jebolan ahli falaq.&lt;br /&gt;Periode III antara tahun 1362 H / 1942 M. Nahkoda PP. Besuk dipegang oleh KH. Masyhadi yang didampingi Kiai Mas Ahmad Zahid, Kiai Mas Aly Baqir, Kiai Mas Mahfudz, Kiai Mas Ahmad Mutamakkin. Diperiode ini PP. Besuk lebih berkosentrasi pada perjuangan melawan para agresor. Dan pada akhirnya, pipa besi laras panjang mengantar kematiannya, setelah beliau menjadi pengasuh Pondok Besuk periode III, selama  lima tahun saja.&lt;br /&gt;Periode IV pada tahun 1367 H / 1947 M. Pengasuh PP. Besuk adalah KH. Ahmad Djufri selama 34th, (1947-1981). pada awal periode IV ini, beliau didampingi Kiai Mas Ahmad Zahid, Kiai Mas Aly Baqir, Kiai Mas Mahfudz, Kiai Mas Ahmad Mutamakkin. Dimasa ini PP. Besuk masih eksis terlibat dalam perang mempertahankan kemerdekaan RI.Baru ditahun-tahun berikutnya PP. Besuk mulai berkosentrasi membangun sarana dan prasarana Pondok Pesantren dan mengalami kemajuan yang signifikan mulai dari sistim pendidikan belajar mengajar, setruktur kepengurusan dan fasilitas hunian santri.&lt;br /&gt;Diera 60an – 80an Beliau dibantu oleh beberapa  keponakan dan menantunya dalam operasional proses belajar mengajar di Besuk. Mereka adalah Kyai Aly Baqir (semenjak tahun 1947), Kyai Achmad Mutamakkin (semenjak tahun 1947), Kyai Abdullah Thohir (semenjak tahun 1959) Kyai Suchaimi Muchsin (semenjak tahun 1960), Kyai Chamzah Achmad (semenjak tahun 1962), Kyai Muchammad Subadar (semenjak tahun 1961 namun tahun berikutnya beliau hanya berkosentrasi keorganisasi IPNU sejak 1964-1967. Baru pada tahun 1967 beliau kembali membantu mengurus Pondok Besuk), Kyai Munir Aly (semenjak tahun 1967-1979), dan Kyai Anshor Ghozali (semenjak tahun 1967)  Kiai Jusbaqir (tahun 1970-1971) dan beberapa santri senior lainnya.&lt;br /&gt;Sedangkan para keluarga putri dikosentrasikan untuk terjun langgsung menangani Pondok putri, diantara mereka adalah Ibu Nyai Chumaidah, Ibu Nyai Asiyah, Ibu Nyai Zainab, Ibu Nyai Chalimah, Ibu Nyai A'isah. Dengan bekerja sama saling membahu mencanangkan pembangunan Pondok dan Madrasah putra putri.&lt;br /&gt;Pada periode IV inilah Pondok Besuk melangkah lebih berani memperkenalkan dan mengaktualisasikan sistim pendidikan modern-klasikal yang pernah ditanamkan oleh mendiang Kyai Masyhadi namun tidak direalisasikan dengan optimal karna berkecamuknya perang melawan Belanda.&lt;br /&gt;Meski terlihat sederhana, lahirlah Madrasah Ibtida'iyah dengan masa pendidikan 6 tahun yang diresmikan Hadratussyekh KH. Achmad Djufri pada tanggal 12 Agustus 1961 M. dengan nama Madrasah Raudlatul Ulum KH. Suchaimi Muchsin diangkat menjadi kepala Madrasah putra. Dan kepala Madrasah putri dipegang oleh Ibu Nyai Hj. Chumaidah.&lt;br /&gt;Pertengaan tahun 1386 H./ 1966 M., angkatan pertama murid Madrasah Raudlatul Ulum Besuk telah menamatkan pendidikannya. Kyai Aly Baqir bersama Bpk. Abdurrochman Syakur ber inisiatif mencanangkan pendidikan lanjutan, guna memberi wadah bagi para santri yang masih haus akan pengajaran para masyayikh. Pada tahun 1967, Pondok Besuk melangkah lebih progresif dengan berdirinya Madrasah lanjutan; Madrasah Mu'allimin. Yang dikepalai KH. Muhammad Subadar. Lulusan pertama Madrasah Mu’allimin 3th. &lt;br /&gt;Pada tahun 1970M. tiga tahun kemudian (1973) dicanangkan program peraktek mengajar bagi kelas akhir (4th.) untuk meningkatkan mutu, dan diwajibkan bagi mereka yang lulus tes (kls 4 M), melaksanakan tugas mengajar selama satu tahun sebagai persyaratan mendapat ijazah. Tahun 1981M. sekolah Mu’allimin menjadi 5th. + tugas mengajar 1th. Berarti masa pendidikan Mu’allimin 6 tahun.Kemudian, diikuti dari sebuah perkembangan, KH. Muchammad Subadar mendorong lahirnya Madrasah Mu’allimat yang diresmikan pada tanggal 3 januari 1971 M.&lt;br /&gt;Periode V pada tahun 1401 H / 1981 M. Pondok Besuk dan Madrasah “Raudlatul Ulum” diasuh oleh tiga  orang. Mereka adalah KH. Muhammad Subadar, KH. Ahmad Mutamakkin dan KH. Chamza Ahmad. Dan usia PP. Besuk genap 100 tahun ketika wafatnya KH. Ahmad Djufri.Sedangkan yang membantu kepengurusan PP Besuk dan Madrasah Raudlatul ulum adalah: KH. Suchaimi Muchsin, KH. Abdulloh Thohir, Kyai Mas Anshor Ghozali. Mereka semua bertanggung jawab sebagai pengurus Pondok Pesantren Besuk dan Madrasah Roudlatul Ulum Besuk putra putri generasi V secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Sedangkan yang menangani langsung mengurus pondok putri adalah ibu nyai Hj. Chumaidah, ibu nyai Hj. Asiyah yang di bantu oleh keluarga putri Besuk yang lain termasuk para pemudinya dan beberapa seniorita santriwati. Tak ketinggalan juga para pemuda Besuk dan beberapa santri seniornya membantu menangani pondok putra.&lt;br /&gt;Di abad ke 21 ini pengasuh PP. Besuk putra-putri adalah KH. Muhammad Subadar. Dan yang menangani Pondok dan Madrasah putra secara langsung atau yang disebut dengan Mudir adalah KH. Abdullah Zaini. Mudir Pondok dan Madrasah Putri Ibu Nyai. Hj. Chumaidah. Pada tahun 2005 M. Masa pendidikan Madrasah Mu’allimat menjadi 6 tahun yang disamakan dengan masa pendidikan Madrasah Mu’allimin yakni sampai dengan kelas 5 + 1 th tugas mengajar. Usia PP.Besuk sampai tahun 20011 ini adalah 131 tahun.&lt;br /&gt;Pendidikan Non Formal &lt;br /&gt;Kegiatan belajar mengajar  dilaksanakan secara klasikal dengan menggunakan kurikulum salafi. madrasah ini bersifat klasikal artinya para siswa di klasifikasikan berdasarkan kemampuan mereka masing-masing sekaligus juga menjawab masalah kesenjangan kemampuan diantara para santri pondok pesantren Besuk.&lt;br /&gt;Pendidikan ini menekankan pentingnya pemahaman akan kebutuhan santri dan cara pemecahan masalah yang terjadi di masyarakat dengan menggunakan potensi yang ada di masyarakat yang sesuai dengan akidah ahkussunnah wal jamaah. Disamping  itu, para santri juga dibekali dengan ilmu-ilmu alat seperti Nahwu dan Shorof agar nantinya para santri dapat memahami kitab kuning secara mandiri dan mampu mengembangkan pendidikan selama berada di pondok pesantren&lt;br /&gt;Tingkat pendidikan di Pondok Besuk ini mulai berjenjang dari tingkat Ibtidaiyah (6 tahun), tingkat Mu'aliimin (5 tahun). Sementara untuk pendidikan formal yakni pendidikan formal berijazah Nasional (Wajardikdas). Sejalan dengan tujuan awal, kegiatan ini diatur dengan tidak merubah system pendidikan dan kegiatan pondok pesantren yang selama ini sudah berjalan.&lt;br /&gt;Dalam menerapkan pendidikan sebagaimana di atas pengurus Program Wajar Dikdas telah menetapkan jadwal kegiatan ini dilaksanakan pada waktu pagi dan siang 2 hari dalam seminggu, hal ini dikarenakan Proses pembelajaran Madrasah Diniyah dilaksanakan pagi dan siang selain itu karena terdapat kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan pagi selain hari sabtu dan ahad, sehingga siswa yang sekolah di madrasah diniyah pada pagi hari wajib mengikuti pembelajaran dalam program ini yang dilaksanakan siang, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, santri pondok pesantren dapat mengikuti program wajar dikdas tanpa mengurangi aktifitas pondok pesantren &lt;br /&gt;Secara umum, program ini terbagi menjadi dua jenjang, yaitu program ULA atau setingkat Sekolah Dasar (SD), program Wustho atau setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) program Wustho ditempuh selama 3 tahun. &lt;br /&gt;Untuk membekali santri, setiap santri diwajibkan menempuh pendidikan khas pesantren yakni Tahfidzul Qur’an, Ta’limul Qur’an, Qiroatul Qur’an bit Tartil Wat Taghonni, Belajar al-Qur’an dengan Metode Yanbua, Kursus Mu’allim Al Qur’an, dan Pengajian Kitab Kuning, Sorogan, Setoran Hafalan dan Halaqoh.&lt;br /&gt;Untuk menunjang ketrampilan agar santri bisa mampu dan siap berkiprah di masyarakat, para santri bisa memilih pendidikan ketrampilan pesantren seperti seni Hadrah, khitobah,  Kursus Kaligrafi, Kursus Komputer, Kursus Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dan seni Bela Diri.&lt;br /&gt;Pengajian kitab kuning secara terjadwal bisa diikuti oleh santri-santri yang telah menempuh kitab-kitab yang dipersyaratkan. Adapun jenis pengajian kitab kuning di pagi hari antara lain Kitab Tafsir Jalalain (diasuh oleh KH Muhammad Subadar), Al-Mahalli (diasuh oleh KH Muhammad Subadar), Fathul Wahhab (diasuh oleh KH. Abdul Chalim), Al-Muwatho’ (diasuh oleh KH. Abdul Chalim), Riyadhus Sholihin (diasuh oleh KH. Lukman Hakim), Ihya’ Ulumuddin (diasuh oleh KH. Lukman Hakim), Tausyich Al Ibni Qosim (diasuh oleh KH. Safrijal), Bidayatul Hidayah (diasuh oleh KH. Safrijal). Sedangkan pengajian sore hari :Ihya’ Ulumuddin (diasuh oleh KH Muhammad Subadar), Fathul Qorib (diasuh oleh KH Muhammad Subadar) dan Bughiyatul Mustarsyidin (diasuh oleh KH Muhibul Aman Ali). Sementara para malam harinya para santri bisa mengaji Riyadhus Sholihin dan Ayatul Ahkam (diasuh oleh KH. Imron Mutamakkin). (***) Aji Setiawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-4664136520764854348?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/4664136520764854348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=4664136520764854348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4664136520764854348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4664136520764854348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/ponpes-raudutul-ulmu-besuk-kejayan.html' title='Ponpes Raudutul Ulmu, Besuk Kejayan Pasuruan Jawa Timur'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-_x0Sn4acr88/TeDeAqV1mdI/AAAAAAAAAsU/1BrXQ-DVc5o/s72-c/01.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-424225759346462136</id><published>2011-05-28T04:30:00.001-07:00</published><updated>2011-07-30T19:20:13.681-07:00</updated><title type='text'>Majalah alKisah No 15 tahun 2011, Isro Mi'roj, Desa Tangkisan Mrebet Kab Purbalingga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tOM4XJWJsx4/TjNrgwy2dAI/AAAAAAAAAwY/Q0IbRN3ATZM/s1600/DSCN9499.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tOM4XJWJsx4/TjNrgwy2dAI/AAAAAAAAAwY/Q0IbRN3ATZM/s320/DSCN9499.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634965769368794114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-UUEaBTVy0q4/TjNrgrt_LII/AAAAAAAAAwQ/UtRy0q4nknE/s1600/DSCN9494.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-UUEaBTVy0q4/TjNrgrt_LII/AAAAAAAAAwQ/UtRy0q4nknE/s320/DSCN9494.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634965768006216834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-j2n5rtFIQqo/TjNriULr-xI/AAAAAAAAAwg/ke-Aoxp4aLg/s1600/DSCN9502.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-j2n5rtFIQqo/TjNriULr-xI/AAAAAAAAAwg/ke-Aoxp4aLg/s320/DSCN9502.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634965796048075538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-gveCdM9uB8I/TiADrf1iA4I/AAAAAAAAAwI/VsH1rYaMIi8/s1600/FSCN9503.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-gveCdM9uB8I/TiADrf1iA4I/AAAAAAAAAwI/VsH1rYaMIi8/s320/FSCN9503.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629503580028404610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-MRwyIhpmPV8/TiADrKv0u0I/AAAAAAAAAwA/pKw2WcnkwQY/s1600/DSCN9498.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-MRwyIhpmPV8/TiADrKv0u0I/AAAAAAAAAwA/pKw2WcnkwQY/s320/DSCN9498.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629503574367320898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah terpenting dari peringatan Isro Mi’roj sesungguhnya adalah perintah shalat lima waktu. Dengan shalat, umat Islam menyembah Tuhan YME yang maha Pencipta dan Perkasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas shalat Isya dan dzikir berjamaah di masjid Al Ikhsan Desa Tangkisan Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga acara peringatan Isro Mi’roj Maulid Nabi Muhammad SAW pada hari Sabtu (25 /6) yang bertepatan dengan 24 Rajab 1432 H dibuka dengan penampilan grup Hadrah Al Hikmah dari remaja-remaja putri masjid Al Ikhsan. &lt;br /&gt;Usai sambutan dari KH Kamalu Rusdi mewakili panitia kegiatan Isro Mi’roj bersambung dengan sambutan dari Bapak Ali Sudarmo, SPd Kepala Bidang Kesra Kabupaten mewakili Bupati Purbalingga yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya di hadapan aparat muspika, alim ulama, tokoh masyrakat dan jamaah pengajian , Bupati Purbalingga Drs H Heru Sujatmoko, M.Si  menyatakan bergembira dengan banyaknya kegiatan keagamaan terutama hari-hari besar Islam yang ada di kota maupun pedesaan di Kabupaten Purbalingga.&lt;br /&gt;”Ini menunjukan adanya keberhasilan pembangunan mental spiritual dari sinergi yang positip segenap lapisan masyarakat mulai dari aparatus pemerintah, tokoh masyarakat, alim ulama dan masyarakat sendiri. Kegiatan-kegaiatan semacam ini perlu dilestarikan sehingga pembangunan di Kabupaten Purbalingga bisa berjalan lancar, damai , aman dan sejahtera,” kata Ali Sudarmo, SPd menirukan Bupati Purbalingga.&lt;br /&gt;Sambil menunggu pembicara malam itu, Grup Hadrah Al Hikmah dari remaja putra dan putri Dusun Sokawera Desa Tangkisan Kecamatan Mrebet Kab Purbalingga itu kembali menghibur jamaah. Taburan bintang di langit dan semilir angin pegunungan tak menyurutkan jamaah untuk menghadiri pengajian akbar sekaligus peringatan Isro Mi’roj Nabi besar Muhammad SAW. Ribuan jamaah tersebar memadati areal kompleks masjid Al Ikhsan. Kapasitas panggung seluas  20x40 meter itu tak sanggup lagi menampung jamaah yang hadir malam itu. &lt;br /&gt;Tepat  pukul 20.30 pembicara utama yakni KH Imam  Sya’roni pengasuh pondok pesntren al Aqsa  dari Kota Gombong Kabupten Kebumen hadir menyampaikan tausyiah. &lt;br /&gt;Isro Mi’roj Nabi Besar Muhammad SAW merupakan perjalanan di waktu malam dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsa (Palestina). Serta Mi’raj sampai ke langit ketujuh untuk menerima perintah shalat lima waktu.&lt;br /&gt;Hikmah dari perintah shalat itu adalah kita telah bersyukur kepada Allah SWT.Karena Allah SWT yang maha agung dan maha besar sehingga seluruh mahluq harus taat dan tunduk kepada Allah SWT yang Maha pemberi Rahmat. Dengan Isro Miroj, artinya shalat kita sudahkah dijalankan dengan baik? Sebab shalat lima waktu itu yang dikerjakan tidak hanya untuk menggugurkan perintah kewajiban, namun yang sudah menjadi kebutuhan adalah shalat sebagai wahana komunikasi dengan Alloh SWT. Shalat akan mendapat Ridho dan pertolongan Alloh SWT. Sehingga dengan shalat kita butuh, kita bisa bisa disebut sebagai golongan yang menjaga shalat. “Dengan shalat lima waktu itu kita semua menjadu  ahli sorga semua. Amin! Menjalankan shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.”   &lt;br /&gt;Pesan Ukhuwah Islamiyah&lt;br /&gt;Dalam pengajian ini jamaah diajak untuk semakin meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah.”Apapun persoalannya. Umat lslam harus bersatu. Islam itu disatukan dengan memperkuat Ukhuwah Islamiyah. Partai boleh berbeda, tapi kita tetap bersaudara.”&lt;br /&gt;Diingatkan oleh KH Imam Sya’roni, tentang pentingnya ukhuwah Islamiyah di antara kita. ”Ka’bah kita satu! Kiblat kita satu! Tuhan kita satu maka Islam itu saat itulah yang mempersatukan kita semua dan menegaskan tentang kesatuan Islam.”&lt;br /&gt;Terutama di negeri kita yang berbingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, Umat Islam Indonesia mempunyai tugas yang mulia yakni mempertahankan kesatuan Republik Indonesia dari rongrongan siapa pun! Termasuk pihak asing yang hendak mengobok-obok bangsa Indonesia. “Dengan Pancasila dan UUD 945 itulah yang mempersatukan kita semua,” tegas KH Imam Sya’roni, dari dari kota Beriman itu dengan berapi-api.&lt;br /&gt;KH Sya’roni mencontohkan bangunan masyarakat Madinah yang berhasil dibina dan dibimbing oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Kunci sukses membangun masyarakat Madani adalah Rasulullah SAW berhasil menyatukan kaum Muhjirin dan Ansor (Ukhuwah Islamiyah). Selain itu juga mempersatukan kaum Ansor dengan Kaum Musyrikin Madinah (Ukhuwah Wathoniyah). Kedatangan Muhammad SAW yang berkepribadian luhur dan humanis dan pengikutnya (Muhajirin) sudah barang tentu disambut baik oleh masyarakat Yatsrib (Madinah)  yang saat itu masyarakatnya terbilang majemuk (golongan Islam, Yahudi, Nasrani, Paganis serta golongan kafir atau kaum musyrikin). Penghargaan masyarakat Yatsrib kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya sambutan hangat semata, namun juga kepercayaan masyrakat Yatsrib kepada Muhammad SAW untuk memimpin masyarakat yang pluralistik tersebut.&lt;br /&gt;“Bangunan masyarakat Madinah yang maju dan dalam bingkai persatuan itu yang membuat Bangsa Mekkah Merdeka bahkan juga negeri-negeri sekitarnya juga bergabung dalam pemerintahan Madinah Munawarah.  Dengan persatuan yang ada di Madinah itulah, Rasulullah Muhammad SAW bisa mewujudkan masyarakat yang tenang, damai dan sejahtera di bawah payung pemerintahan Madinah Munawarah,” pesan KH Sya’roni.&lt;br /&gt;Tepat tengah malam, acara peringatan Isro Mi’roj ditutup langsung oleh KH Imam Sya’roni. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-424225759346462136?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/424225759346462136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=424225759346462136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/424225759346462136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/424225759346462136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/pondok-pesantren-syamsul-huday-desa.html' title='Majalah alKisah No 15 tahun 2011, Isro Mi&apos;roj, Desa Tangkisan Mrebet Kab Purbalingga'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tOM4XJWJsx4/TjNrgwy2dAI/AAAAAAAAAwY/Q0IbRN3ATZM/s72-c/DSCN9499.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-453889619476532087</id><published>2011-05-28T04:27:00.001-07:00</published><updated>2011-06-22T00:12:31.770-07:00</updated><title type='text'>Pondok Pesantren Nurul Barokah Desa Beji, Kecamatan Bojongsari Kab Purbalingga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-R2_8hszi9BM/TeDcrigJ46I/AAAAAAAAArE/MhROuUHW11s/s1600/3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-R2_8hszi9BM/TeDcrigJ46I/AAAAAAAAArE/MhROuUHW11s/s320/3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611727776257794978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-G3t1oBhqe4U/TeDcrKu7T9I/AAAAAAAAAq8/lUS5t3whCCY/s1600/2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-G3t1oBhqe4U/TeDcrKu7T9I/AAAAAAAAAq8/lUS5t3whCCY/s320/2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611727769877303250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/--npYow9uGAA/TeDcr-v_rNI/AAAAAAAAArM/C_VC6tRixgg/s1600/5.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/--npYow9uGAA/TeDcr-v_rNI/AAAAAAAAArM/C_VC6tRixgg/s320/5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611727783840427218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ponpes Nurul Barokah &lt;br /&gt;Pondok Pesantren Berbasis Salaf dan Modern&lt;br /&gt;Di Kaki Gungung Slamet belahan timur ini berdiri sebuah pondok salafiyah dan dipadu dengan pendidikan salaf dan modern.&lt;br /&gt;Pondok Pesantren Nurul Barokah terletak di RT 01 RW 01 desa Beji Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah atau lebih tepatnya terletak diantara jalur kota Purbalingga Bobotsari , tepatnya 500 meter ke barat dari Objek Wisata Air dan Kolam Renang Owabong (Bojongsari) atau lebih tepatnya terletak di Jl Raya Owabong Km 1. Pondok ini dihuni sekitar 250 santri putra dan putri yang berasal dari Purbalingga dan daerah sekitarnya.&lt;br /&gt;Pondok ini berdiri sekitar tahun 2003 dan didirikan oleh KH Syafi’i Abror setelah pulang dari Pondok Pesantren Al Hikmah I, Benda Sirampog, Bumiayu (Brebes) dan Pondok Pesantren Ihya Ulumiddin, Kesugihan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Berdirinya pondok pesantren ini dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat yang masih minim akan pengetahuan agama Islam. &lt;br /&gt;Awal ia berdakwah dimulai dengan cara taklim keliling dari rumah ke rumah penduduk (door to door) di sekitar dan sekitar masjid Al Falah desa Beji kecamatan Bojongsari. Lama kelamaan, taklim keliling itu berubah besar dan sangat dimintai oleh masyarakat sekitar. Sebagai pengembangan dan minat masyarakat untuk mengaji dan menitipkan anaknya untuk belajar ilmu agama, ia akhirnya mendirikan sebuah madrasah diniyah dan masjid di atas tanah wakaf KH Muhammad Abror dan Hj Muawanah dinamakan Pondok Pesantren Nurul Barokah. &lt;br /&gt;Madrasah dan Pondok Pesantren ini sendiri dibiayai oleh sang guru yakni KH Labib Shodiq yang juga adalah pengasuh pondok Pesantren Benda I Sirampog, Bumiayu Kabupaten Brebes. Uniknya, pembiayaan itu diperolehnya tiap malam Jumat Kliwon sehabis mujahadah bulanan di Pondok Pesantren Benda sejak tahun 2004 .”Sehabis mujahadah, saya disangoni oleh KH Labib sekitar 10 juta bahkan sampai 60 juta untuk membangun pondok pesantren Nurul Barokah,” kata KH Syafi’i Abror.&lt;br /&gt;Lambat laun Madrasah Diniyah yang ia kelola semakin berkembang selain bertambah murid juga bertambah bangunan pondok pesantren.  Kini Pesantren Nurul Barokah selain menyelenggarakan pendidikan non  formal, juga membuka pendidikan formal. Untuk pendidikan non formal ada pendidikan pesantren putra dan putri, Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Al Qur’an dan Majlis Taklim. Sementara jenjang pendidikan formal yang mengabungkan kurikulum pesantren dan Kementrian Agama dimulai dari Taman Kanak-Kanak (Tarbiyatul Athfal Yayasan Islam Nurul Barokah/TA YINUBA), Madrasah Ibtidaiyah (MI YINUBA), Madrasah Tsanawiyah Yayasan Islam Nurul Barokah (MTs YINUBA) dan Madrasah Aliyah Yayasan Islam Nurul Barokah (MA YINUBA).  &lt;br /&gt;Adapun kegiatan pondok pesantren Nuurl Barokah selain mendidik santri-santri juga menyelenggarakan kegiatan kemasyarakatan berupa pengajian wetonan dan mujahadah tiap malam Selasa Kiwon. Acara mujahadah ini dimulai selepas shalat ba’da magrib berjammah dan berlanjut dengan acara taushiyah oleh KH M Syafii Abror dan iikuti oleh para santri serta masyarakat sekitar Kbupaten Purbalingga.&lt;br /&gt;Di pesantren ini juga diadakan pesantren kilat yang dibuka tiap musim liburan sekolah tiba dan menjelang bulan puasa  (pengajian pasaran)  dan mengirimkan mubaligh dan mubalighoh ke daerah-daerah yang membutuhkan.&lt;br /&gt;Untuk menunjang dan mendidik menjadi santri-santri yang handal serta bermanfaat bagi nusa dan bangsa, pondok pesantren ini membekali santri-santri dengan berbagai ketrampilan mulai dari ketrampilan di bidang pertukangan, perikanan, menjahit, Kopentren, Bahasa Arab dan Inggris serta pijat therapi (pijat elektropuntur). &lt;br /&gt;“Di pesantren ini setiap santri dipersilahkan memilih minat dan bakatnya masing-masing untuk menekuni  dan ketrampilan yang disediakan oleh pesantren. Setiap kyai tentu ingin anak didiknya berhasil di bidang apa pun. Mereka diharapkan menjadi alumni-alumni Pondok Nurul Barokah yang bermanfaat bagi masyarakat luas ,” kata KH Syafii Abor.&lt;br /&gt;Dalam penyelenggaraan pesantren, kini Pondok Pesantren Nuurl Barokah didukung oleh staf Asatidz/tenaga pengajar yang merupakan pembantu Kyai pengasuh Pondok Pesantren. Adapun dewan asatidz itu sekarang berjumlah sekitar 30 ustadz dan ustadzah dari berbagai disiplin ilmu dan merupakan tenaga-tenaga yang profesional di bidangnya masing-masing dari berbagai pesantren dan perguruan tinggi. &lt;br /&gt;”Para pengajar diperlukan untuk membantu dalam mendidik para santri dalam mengembangkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat pesantren maupun masyarakat luar,” jelas KH Syafii Abror.&lt;br /&gt;Untuk tahun depan (tahun 2012) direncanakan akan dibuka Sekolah Menengah dan Kejurun (SMK) YINUBA dengan jurusan farmasi, komputer dan tata busana. “Sekarang masih dalam tahap perencanaan dan proses perijinan dengan dinas pendidikan, insya Allah tahun depan sudah dapat menampung siswa sekolah menengh kejuruan,” kata KH Syafii.&lt;br /&gt;Menurut KH Syafii Abror, setiap santri yang menempuh pendidikan di pesantrennya diharapkan menjadi santri-santri yang bermanfaat dari berbagai lini kehidupan.”Santri-santri diharapkan ketika pulang dari pesantren tidak menganggur. Bisa bekerja apa saja,  mengamalkan ilmunya saat keluar dari pondok serta bermanfaat  bagi nusa dan bangsa Indonesia,” harap KH Syafii Abror kepada santri-santrinya. &lt;br /&gt;Menurut rencana dari tanggal 17-20 Juni 2011 akan diadakan ulang tahun Pondok Pesantren Nurul Barokah yang kelima di kompleks Pondok . Acara ini terbilang besar karena selain ada pengajian muslimat, santunan anak yatim dan juga tabligh akbar di puncak acara.    (***)&lt;br /&gt; Aji Setiawan , Purbalingga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-453889619476532087?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/453889619476532087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=453889619476532087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/453889619476532087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/453889619476532087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/pondok-pesantren-nurul-barokah-desa.html' title='Pondok Pesantren Nurul Barokah Desa Beji, Kecamatan Bojongsari Kab Purbalingga'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-R2_8hszi9BM/TeDcrigJ46I/AAAAAAAAArE/MhROuUHW11s/s72-c/3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-5693172198752497011</id><published>2011-05-21T07:30:00.000-07:00</published><updated>2011-06-22T00:12:52.731-07:00</updated><title type='text'>Menyambut Sya’ban</title><content type='html'>Oleh : Aji Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Sya’ban adalah bulan yang diagungkan oleh Allah SWT. Banyak sekali keistimewaan bulan Sya’ban. Di dalam bulan Sya’ban selain sebagai bulan persiapan untuk masuk bulan Ramadhan atau  sebagai bulan taqarub kepada Allah SWT. Dinamakan bulan Sya’ban karena di sana amat banyak kebaikan. Sya’ban diambil dari lafadz “Asy-Syibi”, disebut jalan menuju gunung, dan inilah yang disebut jalan menuju kebaikan.&lt;br /&gt;Diriwayatkan melalui Abu Umamah al Bakhili ra. Rasulullah SAW bersabda,”Bilamana datang bulan Sya’ban, maka bersihkanlah dirimu dan perbaiki niatmu.”&lt;br /&gt;Adalah Aisyah ra pernah berkata,”Aku belum pernah melihat Nabi Muhammad SAW menyempurnakan puasanya sebulan kecuali bulan Ramadhan. Dan aku pun belum pernah melihat beliau berpuasa sebulan lebih kecuali berpuasa di bulan Sya’ban.&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain,”Beliau Nabi Muhammad SAW berpuasa apenuh pada bulan Sya’ban kecuali sedikit.” Riwayat ini menjelaskan riwayat pertama, jadi yang dimaksud “penuh” ialah sebagian besar.&lt;br /&gt;Dijelaskan, sesungguhnya para malaikat di langit punya dua malam hari raya, sebagaimana orang-orang Islam di bumi punya dua malam hari Raya. Dan hari raya para malaikat adalah malam “pembebasan,” yakni malam Nisfu Sya’ban dan malam Laitul Qodar. Dan hari rayanya orang-orang mukmin ialah hari Idul Fitri dan Idul Adha.&lt;br /&gt;Imam Subukiy menuturkan dalam tafsirnya,”Sesungguhnya malam Nisfu Sya’ban bisa menutup dosa-dosa setahun, malam Jum’at bisa menutup dosa seumur hidup”. Maksudnya jika kita menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah.&lt;br /&gt;Imam Ghozali dalam Mukasyifil Qulub menamakan bulan Sya’ban karena di bulan tersebut memiliki beberapa kebaikan. Kata asy-si’bi berarti jalan kebaikan. Sya’ban berarti  juga bulan Rasulullah karena di bulan itulah, Rasulullah SAW bermunajat di kompleks makam Janatul Baqi’, Madinah. Ketika itu dikisahkan Rasulullah SAW pergi begitu saja saat sedang bercengkrama dengan Aisyah ra.&lt;br /&gt;Maka Sayidatina Aisyah ra bergegas mencari sang suami ke rumah para istri beliau. Namun, Rasulullah SAW tidak diketemukan. Dalam perjalanan pulang, ia melewati Janatul Baq’i dan  melihat Rasulullah SAW diketemukan tengah memohon ampunan kepada Allah bagi para syuhada dan kaum mukmin.&lt;br /&gt;“Demi ayah dan ibuku, sungguh aku telah berprasangka buruk. Ternyata kekasihku sedang dalam keadaan membutuhkan pertolongan Sang Pencipta, sementara aku dalam keadaan membutuhkan dunia...” demikian kata Aisyah dalam hati sembari menangis tertahan. Ia lalu bergegas pulang, dan tak lama kemudian Rasulullah SAW pun pulang.&lt;br /&gt;Melihat Aisyah ra termangu bersedih. Rasulullah SAW bertanya ,” Ada apa denganmu, hai humaira (wajah yang kemerah-merahan, demikian Rasulullah SAW memanggil Aisyah dalam keseharian beliau -red)?”&lt;br /&gt;Maka jawab Aisyah yang berwajah ayu dan berpipi kemerah-merahan itu menjawab,”Demi ayah dan ibuku, wahai kekasihku...Ketika kita tengah bercumbu, mendadak engkau pergi. Aku cemburu dan mengira engkau menemui istrimu yang lain. Lalu aku melihat engkau bersujud di Baqi.”&lt;br /&gt;“Istriku tersayang, engkau khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menghianatimu? Ketahuilah keetika itu Jibril as datang dan berkata,’Ini adalah malam Nisfu Sya’ban. Allah SWT tengah memerdekakan orang-orang dari api neraka. Di malam ini, Alloh tidak melihat orang musyrik, orang yang bermusuhan, orang yang memanjangkan baju hingga menyentuh tanah (sombong), orang yang durhaka kepada orang tua dan orang yang selalu minum minuman keras.’ Maka izinkan aku wahai istriku, untuk shalat pada malam ini,” kata Nabi Muhammad SAW sambil memandang Asiyah ra dengan mesra.          &lt;br /&gt;Dengan ikhlas, Aisyah ra pun menjawab,”Silahkan wahai utusan Allah...”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu menunaikan shalat dan melakukan sujud sangat lama, sehingga Aisyah mengira sang suami telah wafat. Karena khawatir, ia lalu menyentuh telapak kaki beliau yang terasa masih hangat dan bergerak-gerak.&lt;br /&gt;Dalam sujudnya, Rasulullah SAW berdoa,”Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dengan keagungan-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu seperti Engkau memuji diri-Mu sendiri.(***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-5693172198752497011?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/5693172198752497011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=5693172198752497011' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/5693172198752497011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/5693172198752497011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/menyambut-syaban.html' title='Menyambut Sya’ban'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-4202454498259587603</id><published>2011-05-11T19:53:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T13:54:46.133-07:00</updated><title type='text'>Kado Dari Langit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-YLbLtMkTq3E/TctLbKDZ4QI/AAAAAAAAAqk/imJTWcjOBzo/s1600/Kata-Mutiara-Kehidupan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-YLbLtMkTq3E/TctLbKDZ4QI/AAAAAAAAAqk/imJTWcjOBzo/s320/Kata-Mutiara-Kehidupan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605657091119898882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat menghadapi ujian dan tingkat perjuangan yang maha berat, Nabi Muhammad SAW diperintahkan menjalani Mi’raj. Sebuah kabar gembira dan kado istimewa dari langit untuk menghibur beliau yang tengah berduka cita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wafatnya paman Nabi, Abu Thalib dan tidak berapa lama kemudian disusul oleh isteri tercinta, Siti Khadijah. Baik Abu Thalib maupun Siti Khadijah adalah dua orang sosok yang telah banyak memberikan bantuan kepada Nabi, moril dan materiil. Kedua musibah itu terjadi pada tahun 10 dari masa kenabian. Pada tahun itu dalam sejarah disebut,”Aamul Huzni”(tahun kesedihan). &lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan, beliau juga menghadapi ujian yang maha berat dan tingkat perjuangan yang sudah mencapai puncaknya. Gangguan dan hinaan, aniaya serta siksaan yang dialami beliau dengan pengikut-pengikutnya juga semakin hebat. Maka Nabi diperintahkan oleh Allah SWT menjalani Isra’ dan Mi’raj. Hari itu adalah 27 Rajab pada tahun 621 M. &lt;br /&gt;Pada tengah malam yang sunyi dan hening, burung-burung malam diam membisu, binatang-binatang buas berdiam diri, gemericik air dan siulan angin sudah tidak terdengar lagi. Ketika itu Rasulullah SAW tengah berbaring di samping Ka’bah. Tiba-tiba ia didatangi Malaikat Jibril dan Mikail. Keduanya lalu membawanya ke ke serambi Masjidil Haram.&lt;br /&gt;Jibril lalu berkata pada Mikail,”Bawakan aku semangkuk air zamzam untuk mencuci hatinya dan melapangkan dadanya serta mengangkat namanya.”&lt;br /&gt;Mikail kemudian membawakan mangkuk emas yang penuh dengan permata-permata dari cahaya, dan Jibril langsung menuangkan semua isi mangkuk tersebut ke dada Nabi serta memenuhinya dengan kebijaksanan, ilmu, keyakinan, dan iman kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Setelah selesai, Jibril langsung menutup dada beliau dengan khotamunnubuwah (stempel kenabian) persis di antara dua pundaknya. Kemudian Jibril membawa Buraq. Ia adalah seekor binatang berwarna putih, sedikit lebih tinggi daripada seekor keledai tetapi lebih kecil daripada seekor unta.&lt;br /&gt;Disamping buraq, Malaikat Jibril berdiri dengan wajah yang putih bersih berseri dan berkilauan seperti salju. Ia mengenakan pakaian yang berumbaikan mutiara dan emas, lalu Jibril melepas ikat rambut, terurailah rambutnya yang panjang itu. Dari sekelilingnya sayap-sayap berkilauan yang beraneka warna. Tangannya memegang buraq, yang bersayap seperti garuda. &lt;br /&gt;Hewan itu membungkuk dihadapan Raulullah SAW. Ketika akan dinaiki oleh beliau agak kesulitan, maka Jibril pun menaruh tangannya di atas punggung Buraq yang bersinarkan cahaya. Lalu Jibril berkata,”Tidakkah engkau malu wahai Buraq? Tidak ada mahluq yang pernah menaiki mu lebih mulia di sisi Allah dari orang ini.”&lt;br /&gt;Buraq pun malu sehingga bercucuran keringat. Setelah tenang, Rasulullah SAW pun naik di atasnya bersama Jibril, sambil berucap,”Bismillah wala haula quwata illa bilah.” &lt;br /&gt;Sekali melangkah, meluncurlah buraq itu bagaikan anak panah membumbung di atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju arah utara. Mereka berdua lalu tiba di sebuah daerah yang memiliki banyak kebun korma. Jibril lalu berkata,”Turunlah wahai Muhammad!”&lt;br /&gt;Nabi pun turun dan langsung menunaikan shalat dua rakaat atas perintah Jibril. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan dan Jibril bertanya kepada Nabi,”Tahukah engkau di mana barusan perjalanan dan Jibril bertanya kepada Nabi,”Tahukah engkau di mana barusan engkau shalat?”&lt;br /&gt;“Tidak,” jawab Nabi SAW.&lt;br /&gt;“Wahai orang yang bagus peranginya, engkau tadi shalat di tanah Thoiybah (sekarang Madinah), di sanalah tempat hijrah nantinya,” kata Jibril. &lt;br /&gt;Setelah terbang sebentar, lalu Jibril memerintahkan Buraq,”Turunlah di sini!”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW kemudian shalat dua rakaat dan mereka kembali melanjutkan perjalanan kembali.&lt;br /&gt;Seperti biasa Jibril bertanya,”Wahai yang diutus rahmat, tahukah engkau di mana tadi engkau shalat?”&lt;br /&gt;“Tidak,”&lt;br /&gt;“Engkau tadi shalat di Madyan, di bawah pohon Nabi Musa, Kalimullah,”&lt;br /&gt;Lalu berhenti di gunung Thursina di tempat Tempat Tuhan berbicara dengan Musa. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa dilahirkan.&lt;br /&gt;Sesudah itu kemudian melanjutkan perjalanan dan mereka menjumpai sekelompok manusia yang menanam dan memanen dalam sehari saja. Setiap kali mereka memanen tanaman itu akan tumbuh seperti semula. Nabi SAW kaget dan bertanya,&lt;br /&gt;”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah, pahala mereka dilipatgandakan sampai 700 kali lipat dan siapakah yang tepat janjinya dari Allah.”&lt;br /&gt;Kembali mereka bertemu kelompok manusia yang aneh, kepala mereka dihantam batu besar sampai pecah dan setiap kali pecah kepalanya kembali utuh seperti semula.&lt;br /&gt;Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka gerangan?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang yang kepalanya terasa berat jika diajak melaksanakan shalat.”&lt;br /&gt;Setelah itu mereka bertemu sekelompok manusia yang di bagian depan dan belakangnya ada tambalan. Mereka digembalakan seperti onta, memakan tanaman kering dan tanaman berduri. Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang-orang yang tidak mau membayar zakat harta mereka, padahal Allah tidak pernah mendzalimi mereka.”&lt;br /&gt;Pemandangan aneh lain juga nampak, sekelompok orang di hadapan mereka ada daging matang yang lezat tersedia dalam panci-panci. Di situ juga ada daging mentah busuk yang mengeluarkan bau tak sedap, ternyata mereka makan daging mentah dan busuk serta meninggalkan daging matang dan lezat.&lt;br /&gt;“Apa maksudnya ini wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah laki-laki dari umatmu yang memiliki wanita halal, tetapi malah mendatangi perempuan lacur dan tidur dengannya sampai pagi. Demikian juga dengan perempuan yang memiliki suami halal, tetapi tidur bersama laki-laki keji dan menginap bersamanya dalam maksiat.”&lt;br /&gt;Dalam perjalanan berikutnya mereka melihat sebongkah kayu tergeletak di tengah jalan, tidak seorang pun yang lewat kecuali kayu tersebut dapat mengoyak baju serta menghalangi pejalan kaki yang melewatinya. Melihat hal aneh tersebut, Nabi SAW bertanya,”Apa maksudnya ini, Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah perumpamaan sekelompok kaum dari umatmu yang duduk-duduk di jalanan untuk menggosip, mengadu domba dan mengganggu,” jawab Jibril menjelaskan seraya membaca sebuah ayat dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan itu Nabi juga melihat seorang laki-laki berenang di sebuah sungai darah dan menelan bebatuan terbuat dari api.”Apa ini wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah pemakan riba yang telah diharamkan oleh Allah SWT,”jawab Jibril.&lt;br /&gt;Selanjutnya ada seorang laki-laki yang mengumpulkan beberapa ikat kayu bakar tetapi tidak mampu membawanya,”Apa maksud kejadian ini wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah laki-laki dari umatmu yang membebani dirinya dengan amanat-amanat manusia. Padahal sebenarnya dia tidak mampu untuk melaksanakannya, tetapi dia memaksakan diri untuk menambah amanat-amanat lainnya,” terang Jibril.&lt;br /&gt;Kemudian Nabi SAW bertemu sekelompok orang yang lidah dan bibir mereka digunting dengan gunting besi. Setiap kali digunting langsung kembali seperti semula. Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah para penceramah dari umatmu yang berkata sesuatu yang tidak mereka kerjakan tanpa perhatian dan cegahan,” kata Jibril.&lt;br /&gt;Nabi SAW juga melewati sekelompok kaum dari umatmu yang memiliki kuku dari timah, dengan kuku tersebut mereka mencabik-cabik muka dan dadanya sendiri, mereka benar-benar tersiksa dengan hal itu.&lt;br /&gt;Siapakah mereka?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mengganggu kehormatan mereka.” kata Jibril.&lt;br /&gt;Nabi SAW juga melihat seekor kerbau besar keluar dari lubang kecil dan ingin kembali masuk ke lubang tersebut tapi sama sekali tidak bisa. Beliau lalu bertanya,”Apa maksudnya ini wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah seorang lelaki dari umatmu yang mengeluarkan kata-kata jelek kemudian menyesal atas ucapannya tetapi tidak mampu menarik omongannya yang sudah terlanjur keluar.”&lt;br /&gt;Tak berselang berapa lama kemudian ada seseorang yang memanggil-manggil beliau dari arah kanan,”Wahai Muhammad, tataplah aku!”&lt;br /&gt;Tetapi Nabi SAW tidak menghiraukannya karena hikmah dan tuntunan dari Allah SWT.&lt;br /&gt;Beliau bertanya,”Apakah itu wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Itu adalah panggilan Yahudi, andaikata engkau tadi menjawabnya, maka seluruh umatmu akan menjadi Yahudi,”jawab Jibril.&lt;br /&gt;Setelah itu muncul lagi panggilan dari sebelah kiri,”Wahai Muhammad tataplah aku.” &lt;br /&gt;Sebagaimana yang panggilan yang pertama, Nabi SAW tidak menghiraukannya sama sekali. Kemudian beliau bertanya,”Apakah itu wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Itu adalah panggilan Nasrani. Seandainya engkau penuhi panggilan tersebut, maka umatmu akan menjadi Nasrani.”&lt;br /&gt;Beliaupun meneruskan perjalanan dan tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyingsingkan kedua lengan bajunya memanggil, ”Wahai Muhammad tataplah aku.”&lt;br /&gt;Nabi SAW tidak menghiraukannya karena dia itu adalah dunia, Jibril berkata, ”Kalau seandainya engkau menjawab panggilan itu maka seluruh umatmu akan lebih memilih dunia dari pada akhirat.”&lt;br /&gt;Beliau juga dipanggil oleh seorang tua yang berada di pinggir jalan,”Muhammad kemarilah.”&lt;br /&gt;Namun Jibril langsung bekata,“Teruslah berjalan wahai Muhammad!”&lt;br /&gt;“Siapakah dia itu?”&lt;br /&gt;“Dia itu Iblis,” jawab Jibril sambil melanjutkan,“Ia ingin kamu melenceng dan mengikuti dakwahnya karena dia adalah musuh Allah.”&lt;br /&gt;Nabi SAW masih meneruskan, tiba-tiba ada seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan berada di samping jalan memanggil beliau,”Muhammad, pandanglah aku.”&lt;br /&gt;Nabi SAW kemudian bertanya,”Siapakah dia, Jibril?”&lt;br /&gt;“Sungguh tidaklah tersisa dari umur dunia kecuali seperti yang tersisa dari umur perempuan tua yang sudah rapuh dimakan usia ini.“&lt;br /&gt;Lalu mereka meluncur lagi ke udara bersama Buraq hingga tiba di Baitul Maqdis. Setelah itu beliau pun mengikat Buraq pada sebuah cincin yang biasa dikenakan oleh para nabi. Kemudian beliau masuk ke dalam Masjid lewat pintu Yamaniyah. Bersama Jibril, beliau mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Tak lama berselang, seorang muadzin mengumandangkan adzan. Jibril lalu menuntun Nabi SAW untuk menjadi imam shalat dua rakaat di dalamnya bersama Ibrahim, Musa dan Isa. Seusai shalat para Nabi memuji Allah SWT.&lt;br /&gt;Nabi SAW lalu bersabda, ”Masing-masing dari kalian memuji Tuhan-Nya dan aku pun memuji Tuhanku, Allah SWT.”&lt;br /&gt;Nabi melanjutkan kembali khutbahnya, ”Segala puji bagi Allah yang telah mengutusku sebagai rahmat bagi seluruh manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Allah telah turunkan ayat-ayat Qur’an kepadaku. Dan umatku dijadikan umat yang tengah-tengah, merekalah yang pertama dan terakhir. Allah telah melapangkan dadaku, meninggikan sebutanku, menjadikanku pembuka dan penutup para nabi-nabi-Nya.” &lt;br /&gt;Selesai berkhutbah, Nabi SAW keluar dari masjid, lalu Jibril membawakan secangkir susu dan khamer, Nabi Muhammad SAW memilih secangkir susu. Lalu Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah. Yakni watak yang selamat. Andaikata engkau memilih khamer, tentulah umatmu akan sesat, ” kata Jibril.&lt;br /&gt;Menuju langit ketujuh&lt;br /&gt;KEMUDIAN setelah itu, dibawakannya sebuah tangga yang dipancangkan di atas batu Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit. Kemudian Jibril naik ke atas bersama Nabi Muhammad SAW menuju langit pertama. Jibril memerintahkan langit pertama terbuka dan terdengar suara,”Siapakah gerangan?”&lt;br /&gt;“Jibril,” jawab Malikat Jibril.&lt;br /&gt;Terdengar suara lagi,”Siapakah gerangan bersamamu?”&lt;br /&gt;Jibril menjawab:”Muhammad.”&lt;br /&gt;Terdengar lagi suara,”Adakah ia seorang Rasul?”&lt;br /&gt;Jibril menjawab, ”Ya Muhammad Rasulullah, lalu pintu terbuka bagi kami. Saya bertemu Adam yang menyambutku dan mengucapkan salam kepadaku. Kemudian kami ke langit kedua, dan Jibril memerintahkan agar langit kedua terbuka. &lt;br /&gt;Terdengarlah suara:”Siapakah gerangan?”&lt;br /&gt;Jibril menjawab:”Muhammad”&lt;br /&gt;Terdengar langi suara:”Adakah ia seorang Rasul?”&lt;br /&gt;Lalu Jibril menjawab lagi:”Ya Muhammad Rasulullah.”&lt;br /&gt;Kemudian pintu pun terbuka bagi Muhammad dan Jibril. Mereka disambut Isa putra Maryam dan Yahya Ibn Zakaria. Setelah mengucap salam, Muhammad dan Jibril naik ke langit ketiga dan terjadi seperti sebelumnya. Pintu terbuka dan bertemu dengan Nabi Yusuf. &lt;br /&gt;Selepas mengucap salam, mereka naik ke langit keempat dan bertemu dengan Nabi Idris. Pada langit kelima mereka bertemu dengan Harun As. Lalu dilanjutkan ke langit keenam dan mereka berjumpa dengan Nabi Musa As. Selanjutnya naik lagi ke langit ketujuh dan mereka berjumpa dengan Ibrahim As.&lt;br /&gt;Nabi Muhammad dan Jibril bertemu dengan Ibrahim yang tampak kurus sedang menjaga Baitul Ma’mur (rumah yang banyak dikunjungi). Setiap hari 70.000 malaikat berkunjung kepadanya.&lt;br /&gt;Kemudian Jibril mengantarkan Muhammad lagi ke sebuah pohon di Sidratul Muntaha, daunnya mirip telinga gajah dan buahnya mirip bejana yang terbuat dari tembikar. Ketika itu perintah Allah menyelimutinya, maka tidak satupun dari mahluknya yang mampu menggambarkan keindahannya. &lt;br /&gt;Kemudian Allah mewahyukan apa yang telah Dia wahyukan. Allah SWT menetapkan kewajiban atas Nabi Muhammad SAW 50 salat dalam sehari semalam. Nabi Muhammad SAW kemudian turun dan bertemu dengan Musa dan dia bertanya,”Apa yang telah ditetapkan Allah sebagai kewajiban terhadap umatmu?”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menjawab,”50 salat,”&lt;br /&gt;“Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan! Umatmu tidak akan mampu melakukannya. Saya telah mencobakan hal itu kepada Bani Israil dan aku memberikan saran kepadamu berdasarkan pengalamanku,” kata Musa.&lt;br /&gt;Rasulullah kemudian kembali menjumpai Allah dan berkata,”Ya Tuhanku, kurangilah kewajiban tersebut demi umatku.”&lt;br /&gt;Lalu Allah mengurangi lima salat. Dan Nabi Muhammad SAW dan bertemu Nabi Musa kembali sambil menceritakan bahwa Allah SWT telah mengurangi lima salat. Musa menjawab,”Umatmu tidak akan sanggup melakukannya, jadi kembalilah kepada Tuhanmu mintalah keringan.”&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW berkali-kali naik turun menemui Musa hingga akhirnya Allah berfirman: “Muhammad, sekarang tinggallah lima salat untuk dikerjakan dalam sehari dan semalam. Masing-masing salat setara sepuluh salat, sehingga lima salat tersebut sepadan dengan 50 salat. Siapapun yang berniat melakukan kebajikan, kemudian ia tidak mengerjakannya, ditulis baginya satu kejahatan. &lt;br /&gt;Ketika Nabi Muhammad SAW turun ke langit keenam di mana tempat Musa berada.&lt;br /&gt;”Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah pengurangan!” perintah Musa.&lt;br /&gt;“Saya telah berulang kali menghadap Tuhan dan memohon pengurangan sampai-sampai saya malu di hadapan-Nya,” jawab Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW yang telah menerima perintah salat lima waktu itu pun kemudian bergegas dengan Jibril meninggalkan Musa dan mengunjungi Surga. Jibril pun menerangkan tentang keberadaan surga yang disediakan bagi manusia-manusia beriman sesudah mereka dibangkitkan.&lt;br /&gt;Kemudian Nabi SAW kembali menuju tangga yang membawanya kembali ke bumi. Buraq pun dilepaskan, maka ia pun kembali dari Baitul Maqdis menuju Mekah. &lt;br /&gt;AST,  Al-Bisyr Wa Al-Ibtihaj fi Qissah Al-Isra’ wa Al-Mi’raj&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-4202454498259587603?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/4202454498259587603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=4202454498259587603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4202454498259587603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4202454498259587603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/kado-dari-langit.html' title='Kado Dari Langit'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-YLbLtMkTq3E/TctLbKDZ4QI/AAAAAAAAAqk/imJTWcjOBzo/s72-c/Kata-Mutiara-Kehidupan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-8920884576331559431</id><published>2011-05-11T19:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T02:56:47.863-07:00</updated><title type='text'>Mutiara-mutiara Rasulullah SAW</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-pF_P8vrH9rg/TctK8UQAPuI/AAAAAAAAAqc/oKvaud1VNfU/s1600/mutiara%2Bku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 257px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-pF_P8vrH9rg/TctK8UQAPuI/AAAAAAAAAqc/oKvaud1VNfU/s320/mutiara%2Bku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605656561281154786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AK25.MutiaraRasul.AST&lt;br /&gt;Dusta Yang Diperbolehkan&lt;br /&gt;“Kedustaan ditetapkan sebagai dosa anak Adam kecuali tiga perkara: Seorang lelaki berdusta terhadap istrinya untuk memuaskan hatinya, seseorang yang yang berdusta karena siasat untuk perang, dan seseorang yang berdusta di antara dua orang Muslim untuk mendamaikan keduanya.” (HR. Ath-Thabrany dan Ahmad)&lt;br /&gt;Suatu waktu, beberapa pemuda muslim diutus oleh Rasulullah SAW ke wilayah Mudhar. Di tengah perjalanan mereka kehausan, kelaparan dan kepanasan. Akhirnya, mereka melewati sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan dan sebuah pohon rindang di sisi luarnya. Ternyata tak jauh dari tempat mereka, tampak sebuah kemah kecil yang di depannya ada sekumpulan kambing. Tanpa berpikir panjang lagi, para utusan Rasulullah SAW itu lalu menemui pemiliknya, orang Badui sambil berkata,”Berilah kami satu ekor kambing untuk dimakan.”&lt;br /&gt;Mengetahui yang meminta adalah para utusan Rasulullah SAW yang tengah kelaparan, orang Badui itu kemudian mengambil satu ekor kambing jantan yang gemuk dan dengan sigap ia segera menyerahkannya pada mereka. Para utusan Rasul itu tentu saja gembira mendapat pemberian kambing gemuk. Mereka lalu menyembelih dan memotong daging kambing. Semua dagingnya kemudian dimasak. Setelah matang, mereka makan masakan daging kambing itu dengan lahapnya sampai habis.&lt;br /&gt;Melihat daging yang dimakan para utusan Rasul telah habis, orang Badui itu kemudian memberi mereka satu ekor lagi kambing gemuk. Mereka kembali menyembelih dan memasaknya. Orang badui itu berkata,”Tidak ada yang tersisa dari kambing-kambingku yang dapat disembelih kecuali yang hamil atau seekor pejanntan.” &lt;br /&gt;Utusan-utusan kembali mengambil seekor lagi. Setelah siang hari dan panas menyengat, apalagi saat itu merupakan musim kemarau. Mereka pun tidak mempunyai tempat berlindung. Orang Badui itu menggiring kambing-kambingnya ke bawah perlindungan sebuah pohon rindang di tengah gurun. &lt;br /&gt;Utusan Rasulullah SAW kemudian mendekati orang Badui itu, lalu berkata, ”Kami lebih berhak berlindung di bawah pohon, dari pada kambing-kambing kamu.” &lt;br /&gt;Mereka semakin mendekat dengan orang Badui itu sambil memerintahkan untuk menggiring kambing-kambing yang sedang berteduh, ”Keluarkanlah kambing-kambingmu, agar kami dapat berlindung di tempat ini!”&lt;br /&gt;Orang badui itu berkata, ”Jika kalian mengeluarkan kambing-kambing itu, maka kambing-kambingku yang sedang hamil tidak akan kuat terkena terik panas matahari. Aku takut, anak dalam kandungannya akan keguguran. Sementara aku sudah berima kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat dan juga mengeluarkan zakat.”&lt;br /&gt;Namun jawaban dari orang Badui itu tidak digubris oleh para utusan Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Mereka dengan kasar lalu menggiring semua kambing-kambing yang tengah berlindung di bawah pohon rindang itu. Tak berapa lama kemudian, kambing-kambing itu pun langsung meregang kepanasan oleh terik matahari yang tengah panas-panasnya, berada tepat di atas ubun-ubun kepala. Seperti dugaan orang Badui itu, kambing-kambing yang tengah hamil tak lama berselang mengalami keguguran.&lt;br /&gt;Orang Badui itu dengan muka masam, kemudian berlalu pulang dari para utusan Rasul. Ia dengan langkah tergopoh-gopoh kemudian menemui Rasulullah SAW dan menceritakan semua kejadian yang menimpa kambing-kambingnya. Beliau sangat marah mendengar cerita orang Badui itu, kemudian bersabda,”Tunggulah di sini hingga mereka tiba.”&lt;br /&gt;Setelah para utusan beliau kembali semua, mereka semua dikumpulkan dan dipertemukan dengan orang Badui itu. Satu per satu mereka dipanggil oleh Rasulullah SAW, untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya di padang sahara. Namun para utusan itu semuanya berkata dusta, dan semua yang dikatakan para utusan itu hanya ingin menggembirakan Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;Orang Badui yang mendengar dan melihat langsung kesaksian dari para utusan itu langsung berkata sambil menahan isak tangis karena sedih melihat perilaku sahabat Nabi yang berbohong di hadapan beliau, ”Demi Allah, sesungguhnya Allah Jala Jalalluhu wa Rahmatuhu benar-benar tahu bahwa aku berkata jujur dan merekalah yang berkata dusta. Semoga Allah memberitahukan kepada engkau tentang hal ini wahai Nabi Allah! wahai Rasulullah SAW!”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW pun terharu mendengar kata-kata dari orang Badui. Beliau melihat dengan mata batinnya yang tajam, kalau orang Badui itu kata-katanya begitu polos dan penuh kejujuran. Hingga, membuat bulir-bulir air mata menetes dari sorot mata beliau yang mulia itu. Beliau baru menyadari, kalau perkataan dari orang Badui itulah yang benar, dan perkataan penuh kedustaan dari para utusannya yang penuh tipu muslihat. Tentu saja, beliau marah besar. &lt;br /&gt;Wajah beliau yang biasa teduh, kini langsung berubah dengan sorot mata yang tajam. Maka, segeralah beliau kembali memanggil satu per satu para utusan untuk menghadap dan bersumpah. Suara baginda Rasulullah SAW yang tegas dan berwibawa, membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi gentar dan tergetar hatinya.Ternyata, para utusan itu tak satu pun yang berani mengucap sumpah di hadapan baginda Rasulullah SAW. Akhirnya, para utusan beliau membenarkan semua perkataan orang Badui itu dan mengakui kalau mereka telah berkata dusta. &lt;br /&gt;Sekalipun beliau dari tadi mendengarkan saja kata para utusan dengan seksama dan penuh kearifan, namun Rasulullah SAW tetap tidak bisa menerima serta membenarkan setiap kedustaan. Beliau kemudian berdiri dan bersabda, ”Apa yang mendorong kalian akur dalam kedustaan sebagaimana kasur yang hangus berturut-turut dalam api? Kedustaan ditetapkan sebagai dosa anak Adam kecuali tiga perkara; Seorang lelaki berdusta terhadap istrinya untuk memuaskan hatinya, seseorang yang yang berdusta karena siasat untuk perang, dan seseorang yang berdusta di antara dua orang Muslim untuk mendamaikan keduanya.”&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;AK24.MutiaraRasul.AST&lt;br /&gt;Ridha Allah, Ridha Ibu&lt;br /&gt;”Hai sahabat Muhajir dan Anshar! Siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya, maka ia akan terkena kutukan (laknat) Allah dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunnatnya,” sabda Rasululah SAW&lt;br /&gt;Di jaman Rasulullah SAW pernah hidup seorang pemuda yang rajin beribadah dan banyak sedekah. Namun, tiba-tiba ia menderita penyakit yang sangat berat. Sang isteri dari pemuda tersebut telah menyuruh orang memanggil Rasulullah SAW dan mengabarkan bahwa suaminya sudah mendekati sakaratul maut.&lt;br /&gt;Mendengar permintaan itu, Rasulullah SAW langsung mengutus Bilal, Ali, Salman dan Ammar pergi ke rumah seorang pemuda yang sakit itu dan memperhatikan bagaimana keadaannya. Sampai di rumah pemuda yang bernama Alqomah itu, mereka langsung menemuinya serta menuntunnya supaya membaca,”Laa ilaha illallah.” &lt;br /&gt;Tetapi, walau sudah dituntun berulangkali, lidah Alqomah tetap terkunci tidak bisa mengucapkan hal itu. Para sahabat ketika itu merasa bahwa Alqomah pasti akan mati. Mereka lalu menyuruh Bilal supaya memberitahukan hal itu kepada Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Beliau bertanya pada sahabat Bilal,”Apakah ia masih mempunyai ayah dan ibu?”&lt;br /&gt;“Ayahnya telah meninggal, sedang ibunya masih hidup tetapi terlampau tua,” jawab Bilal.&lt;br /&gt;“Ya Bilal, pergilah kepada ibu Alqomah dan sampaikan salamku kepadanya dan katakan, ’Jika kamu dapat berjalan pergi kepada Rasulullah SAW dan jika tidak dapat, maka Rasulullah akan datang ke tempat mu’.”&lt;br /&gt;Bilal pun kemudian menyampaikan pesan dari Rasulullah SAW pada ibu Alqomah. Apa jawab ibu Alqomah?&lt;br /&gt;“Sayalah yang lebih layak pergi kepada Nabi SAW,” jawab ibu Alqomah. Lalu ia mengambil tongkat dan berjalan kaki dengan diikuti sahabat Bilal hingga masuk ke rumah Nabi SAW. Sesudah memberi salam ia langsung duduk di depan Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;“Katakanlah yang benar kepadaku, jika engkau dusta kepadaku niscaya akan turun wahyu memberitahu kepadaku; Bagaimanakah keadaan Alqomah?” tanya beliau.&lt;br /&gt;“Alqomah adalah anak yang rajin ibadah sembahyang, puasa dan bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui berapa banyaknya,” jawab ibu Alqamah.&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana hubunganmu dengan dia?” Tanya Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;“Saya murka kepadanya,” kata Ibu Alqomah.&lt;br /&gt;“Mengapa?” &lt;br /&gt;“Karena ia lebih mengutamakan isterinya lebih dari padaku dan lebih menurut kepada sang isteri serta berani menentangku,” jawab sang ibu, dengan raut muka masam.&lt;br /&gt;Sejenak semuanya terdiam, wajah Rasulullah SAW tertunduk sebentar dan menarik nafas dalam-dalam, tanda beliau telah mengetahui duduk persoalan yang menimpa Alqomah. &lt;br /&gt;Beliau kemudian bersabda, “Murka ibunya, itulah yang mengunci (menutup) lidahnya untuk mengucap; La ilaha illallah.”&lt;br /&gt;Kemudian Nabi SAW menyuruh Bilal supaya mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untuk membakar Alqomah dengan api.&lt;br /&gt;Ibu Alqomah tentu heran dengan perintah Rasulullah SAW. Ia lalu bertanya, ”Ya Rasulullah, putraku, buah hatiku akan kau bakar dengan api di depanku? Bagaimana aku dapat menerima buah hatiku, engkau perlakukan begitu?”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, ”Hai ibu Alqomah! Siksa Allah lebih berat dan lebih kekal. Karena itu, jika kau ingin Allah mengampunkan dosa anakmu maka relakanlah ia (kau harus ridha kepadanya). Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidak akan berguna sembahyang, sedekahnya selama engkau masih murka kepadanya.” &lt;br /&gt;Lalu ibu Alqomah mengangkat kedua tangannya dan berkata,”Ya Rasulullah! Saya menyaksikan kepada Allah di langit dan kepada mu. Ya Rasulullah, serta kepada siapa saja yang hadir di tempat ini, bahwa saya telah ridha Alqomah.”&lt;br /&gt;Mendengar ucapan itu, gembiralah hati Rasulullah SAW. Beliau langsung menyuruh Bilal untuk pergi melihat Alqomah apakah ia sudah mengucap Laa ilaha illallah atau tidak, khawatir kalau-kalau ibu Alqomah mengucapkan hal itu hanya karena malu pada Rasulullah SAW dan bukan dari lubuk hatinya yang terdalam.&lt;br /&gt;Ketika Bilal sampai di depan pintu kamar Alqomah, terdengar suara Alqomah mengucapkan, ‘Laa ilaha illallah’, lalu Bilal masuk dan berkata,”Hai orang-orang, sesungguhnya murka ibu Alqomah itu menutup lidah untuk mengucapkan syahadat, dan karena ridha ibunya, kini telah melepas lidahnya untuk mengucap “Laa ilaha illallah”.&lt;br /&gt;Kematian Alqomah pada hari itu langsung tersiar sampai ke kediaman Rasulullah SAW. Beliau bersama para sahabat bertakziyah ke rumah Alqomah. Begitu sampai, beliau langsung menyuruh yang hadir supaya jasad Alqomah segera dimandikan dan dikafankan, serta disembahyangkan oleh Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;Sesudah dikubur, Nabi SAW berdiri di atas tepi kubur sambil bersabda,”Hai sahabat Muhajir dan Anshar! Siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya, maka ia akan terkena kutukan (laknat) Allah dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunnatnya.”&lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;AK23.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Takluknya Raja Habib bin Malik&lt;br /&gt;Sekalipun Rasulullah SAW telah membelah bulan menjadi dua bagian, dan masing-masing bagian dimasukan ke lengan bajunya, Raja Habib bin Malik belum mengakui kerasulan beliau. Bagaimana kisahnya sehingga ia bisa takluk?&lt;br /&gt;Pada jaman jahiliyah hiduplah seorang raja bernama Habib bin Malik yang berkuasa di negeri Syam. Namanya sangat terkenal hingga ke kota Mekkah dan orang-orang kafir sangat menghormatinya. Mereka mengaguminya karena Raja Habib bin Malik itu termasuk penyembah berhala yang sangat fanatik sehingga ia sangat menentang dan membenci setiap agama-agama baru yang didakwahkan ke muka bumi.&lt;br /&gt;Kesempatan ini dipergunakan oleh Abu Jahal untuk mengadu domba Raja Habib bin Malik dengan Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;Suatu ketika Abu Jahal mengirim surat kepada Raja Habib bin Malik yang isinya menceritakan tentang Rasulullah dan agama baru yang dibawanya. Isinya tentu saja dibuat sedemikian rupa oleh Abu Jahal sehingga membuat Raja Habib bin Malik penasaran dan ingin bertemu langsung dengan Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Ternyata dugaan Abu Jahal tidak meleset, karena begitu Habib bin Malik mendapat suratnya, ia segera mengirim surat balasan melalui seorang utusan bahwa dalam waktu dekat akan berkunjung ke Mekkah untuk bertemu langsung dengan Muhammad SAW dan mengujinya.&lt;br /&gt;Pada hari yang ditentukan, berangkatlah Habib bin Malik menuju kota Mekkah dengan iring-iringan sepuluh ribu pengawal. Ketika rombongan Raja Habib sampai di daerah yang bernama Abthah, ia mengirim seorang utusan untuk memberitahukan kepada Abu Jahal bahwa dirinya telah sampai perbatasan kita Mekkah. Maka Abu Jahal mendengar berita tersebut, bersama pemuka-pemuka kafir Quraisy lainnya menyambut dengan ramainya dan memberi beraneka macam hadiah.&lt;br /&gt;Pada pertemuan sambutan tersebut, Habib bin Malik bertanya,”Seperti apa kepribadian Muhammad?”&lt;br /&gt;“Sebaiknya itu tuan tanyakan saja kepada keluarga dari Bani Hasyim,” jawab Abu Jahal. &lt;br /&gt;Kemudian Habib bin Malik bertanya kepada kaum kerabat Muhammad dari Bani Hasyim. Apa jawabannya?&lt;br /&gt;“Kami mengetahui masa kecil Muhammad. Ia adalah seorang anak yang bisa dipercaya, jujur serta baik budi pekertinya. Tetapi, sejak usianya menginjak 40 tahun, ia mulai menyiarkan agama baru, dengan menghina dan menyepelekan tuhan-tuhan yang kami sembah. Ia menyiarkan agama selain dari agama warisan nenek moyang kami,” kata salah seorang keluarga bani Hasyim.&lt;br /&gt;Setelah mendengar penjelasan dari Bani Hasyim, Habib bin Malik lalu menyuruh utusan untuk memanggil Muhammad.&lt;br /&gt;“Bila ia tidak mau dipanggil dengan cara yang sopan, maka paksalah ia supaya datang kemari!”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW yang mendapat panggilan tersebut, langsung menuju ke tempat Raja Habib bin Malik berada dengan ditemani sahabat Abu Bakar dan Khadijah, isteri beliau. Sepanjang perjalanan, Khadijah tidak henti-hentinya meneteskan air mata karena khawatir atas keselamatan suaminya di hadapan raja zalim itu.&lt;br /&gt;Perasaan yang serupa juga tampak dari raut muka sahabat Abu Bakar yang penuh kecemasan, hanya ia diam saja mendampingi langkah-langkah Rasulullah SAW yang berjalan cepat di depannya. Khadijah yang semakin cemas itu, dari belakang kemudian berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sangat mengkhawatirkan keadaan dan keselamatanmu dari murka orang-orang kafir.”&lt;br /&gt;“Kalian jangan takut, kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT,” kata Rasulullah SAW yang saat itu memakai jubah warna merah dan sorban hitam pemberian Abu Bakar.&lt;br /&gt;Sampai di tempat Raja Habib bin Malik, Rasulullah disambut dengan cukup ramah dan dipersilahkan duduk di kursi emas yang telah dipersiapkan sebelumnya. Khadijah yang hatinya masih diliputi kekhawatiran, berdoa kepada Allah,”Ya Allah. Tolonglah Muhammad dan kuatkan hatinya.”&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah telah duduk di kursi yang disediakan Habib bin Malik, terpancarlah sinar kemilau dari wajahnya yang penuh kewibawaan sehingga membuat yang melihatnya tertegun keheranan.&lt;br /&gt;Kemudian, Habib bin Malik mengawali pembicaraannya dengan bertanya,”Wahai Muhammad, tentu engkau telah mengetahui bahwa setiap nabi pasti memiliki mukjizat. Bila engkau mengaku sebagai nabi, mukjizat apakah yang telah engkau miliki?”&lt;br /&gt;Mendapat pertanyaan seperti itu beliau tidak langsung menjawabnya, tetapi beliau balik bertanya kepada Habib bin Malik,”Mukjizat apakah yang tuan kehendaki?”&lt;br /&gt;“Aku menginginkan matahari yang sedang bersinar itu engkau tenggelamkan, kemudian munculkanlah bulan. Setelah bulan muncul, lalu turunkanlah dengan tanganmu sendiri. Setelah bulan berada di tanganmu, lalu belahkan bulan itu menjadi dua bagian, dan masukkanlah masing-masing ke lengan baju mu sebelah kiri dan kanan. Kemudian keluarkan lagi bulan itu dari kedua lengan bajumu, lalu satukanlah lagi. Dan suruhlah bulan itu mengakui bahwa kamu adalah seorang rasul. Setelah itu, kembalikanlah bulan itu ke tempatnya semula. Jika kamu dapat melakukan semua itu, aku akan beriman kepadamu dan mengakui kenabianmu,” kata Raja Habib bin Malik.&lt;br /&gt;Permintaan Habib bin Malik tersebut aneh sekali kedengarannya dan terlalu mengada-ada. Mendengar permintaan itu, Abu Jahal sangat gembira sebab ia sudah yakin Muhammad pasti tidak dapat melakukannya. Akan tetapi, ia menjadi waswas ketika dengan tegas dan penuh keyakinan, beliau menjawab tantangan itu dengan berkata,”Aku penuhi permintaan tuan.”&lt;br /&gt;Bagi Rasulullah, tidak ada sesuatu yang mustahil, selama beliau meminta pertolongan Allah SWT, pasti akan dikabulkan. Kemudian, beliau berjalan ke arah Gunung Abi Qubaisy dan melakukan shalat dua rakaat. Selesai shalat, beliau menengadahkan tangannya tinggi-tinggi berdoa memohon kepada Allah agar apa yang menjadi permintaan Habib bin Malik dapat dipenuhi dengan baik dan sempurna.&lt;br /&gt;Kemudian, datanglah pasukan malaikat yang berjumlah 12.000 dan tidak seorang pun yang mengetahui kedatangan malaikat-malaikat tersebut kecuali Rasulullah.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyampaikan salam kepadamu. Allah berfirman,’Wahai kekasihku, janganlah engkau takut dan ragu. Sesungguhnya Aku senantiasa bersamamu di mana pun kamu berada. Aku telah menetapkan keputusan-Ku sejak jaman azali, tentang apa yang menjadi permintaan Habib bin Malik pada hari ini.&lt;br /&gt;Sekarang pergilah engkau ke hadapan mereka untuk menunjukan hujjah tentang kerasulanmu. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang memperjalankan matahari dan bulan serta yang mengganti siang dengan malam. Selain itu, Habib bin Malik mempunyai seorang putri yang cacat, tidak mempunyai kaki dan tangan serta buta. Allah telah menyembuhkan anak perempuan Habib bin Malik menjadi seorang yang sempurna bentuknya, bisa berjalan, meraba dan melihat,’” kata malaikat itu menyampaikan firman Allah.&lt;br /&gt;Maka bergegaslah Rasulullah turun dari Gunung Abi Qubaisy dan menjumpai orang-orang kafir yang sedang menantinya. Bias cahaya yang memantul dari wajah Rasulullah semakin bersinar. Sedangkan di atasnya para malaikat pimpinan Jibril berbaris mengikuti langkah-langkah Rasulullah.&lt;br /&gt;Waktu itu hari telah beranjak senja, matahari hampir saja tenggelam ke peraduannya sehingga suasana menjadi remang-remang. Kemudian, beliau berdoa agar bulan segera keluar maka keluarlah bulan dengan sinarnya yang benderang. Dengan kedua jarinya, Rasulullah mengisyaratkan agar bulan segera turun kepadanya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba suasana menjadi amat menegangkan karena suara gemuruh yang sangat menyeramkan. Awan berjalan mengiringi turunnya bulan ke tangan Rasulullah SAW, kemudian setelah bulan berada dalam tangan beliau, dibelahnya bulan itu menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian dimasukan ke lengan bajunya. Satu di sebelah kanan dan satunya lagi di sebelah kiri.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, beliau mengeluarkan bulan tersebut dan menyatukannya kembali maka jadilah terlihat oleh semua orang bahwa Rasulullah tengah menggenggam bulan yang sedang bersinar cemerlang. Hal tersebut membuat orang-orang yang menyaksikan semakin takjub dan terbengong-bengong.&lt;br /&gt;Lebih terkejut lagi karena kemudian mereka mendengar suara yang sangat keras bergema, ”Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-hamba-Nya dan utusan-Nya.” Itulah suara bulan yang bersaksi akan kerasulan beliau, seperti permintaan Raja Habib bin Malik. &lt;br /&gt;Kejadian tersebut telah menggoncangkan perasaan yang hadir di tempat tersebut. Kalau itu dibilang mimpi, tetapi ini adalah kenyataan. Mukjizat yang demikian luar biasa hebatnya disaksikan sendiri oleh Raja Habib bin Malik. Ia menyadari bahwa kejadian aneh ini tidak mungkin terjadi pada manusia biasa, walaupun ia mempunyai sihir yang sangat hebat.&lt;br /&gt;Akan tetapi hatinya belum terbuka juga untuk menerima kebenaran Islam. Ia masih hendak mencoba kembali Rasulullah dengan suatu cobaan yang sebenarnya telah terjawab melalui pemberitahuan Jibril.&lt;br /&gt;“Aku masih mempunyai syarat lagi untuk mengujimu.” Belum lagi Habib bin Malik melanjutkan ucapannya, Rasulullah telah terlebih dahulu memotong pembicaraan,”Engkau mempunyai seorang putri yang cacat bukan? Sekarang, Allah telah menyembuhkannya dan menjadikannya menjadi seorang putrid yang sempurna bentuknya.”&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Rasulullah, sangatlah girang hati Habib bin Malik. Seketika itu juga ia berdiri dan berseru di hadapan orang-orang kafir Quraisy yang belum habis keheranan mereka. Habib berseru,”Hai penduduk Mekkah, kalian yang telah beriman. Janganlah kembali kafir, karena tidak ada lagi yang perlu diragukan dengan peristiwa ini. Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya dan hamba-Nya!”&lt;br /&gt;Peristiwa itu diakhiri dengan masuk Islamnya Habib bin Malik serta seluruh bala tentaranya. Tiada orang yang paling jengkel dan marah melihat peristiwa selain Abu Jahal. Ia terperangkap oleh permainan yang ia buat sendiri. Dengan emosi, ia langsung mendekati Habib bin Malik dan berkata,”Wahai junjungan orang Quraisy, apakah engkau beriman kepada tukang sihir ini, hanya melihat kehebatan sihirnya?”&lt;br /&gt;Raja Habib bin Malik tidak menghiraukan ejekan Abu Jahal. Ia segera berkemas untuk pulang ke negeri asalnya karena tidak sabar lagi ingin segera melihat keadaan puterinya.&lt;br /&gt;Setiba di istana, baginda raja disambut dengan sangat meriah oleh rakyatnya. Di depan pintu gerbang ia disambut oleh puterinya yang kini mempunyai anggota tubuh yang lengkap dan berucap,”Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya Habib mendengar kata-kata putrinya tadi. Kemudian ia bertanya,”Wahai putriku, darimana kamu mengetahui ucapan seperti ini? Siapa yang mengajarimu?”&lt;br /&gt;“Aku bermimpi. Dalam tidurku aku didatangi oleh seorang laki-laki rupawan. Ia berkata bahwa ayahanda telah masuk Islam. Jika aku mau menjadi muslimah, anggota tubuhku akan menjadi lengkap. Tentu saja aku mau dan kemudian aku mengucapkan dua kalimah syahadat, seperti yang barusan ayahanda dengar.”&lt;br /&gt;Seketika itu Habib bin Malik bersujud ke hadirat Allah SWT dikarenakan rasa syukurnya yang tiada terhingga. Sebagai tanda syukurnya kepada Allah SWT, Habib bin Malik mengirimkan berbagai hadiah kepada Rasulullah sebagai tanda terima kasih, atas pertolongan yang telah diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;Ak22.MutiaraRasul.AST&lt;br /&gt;Kapak untuk Sang Pengemis&lt;br /&gt;Seorang pengemis yang mendatangi Rasulullah SAW, tidak berapa lama kemudian berhenti mengemis. Dengan bermodalkan sebuah kapak, nasibnya berubah menjadi pencari kayu bakar di gurun&lt;br /&gt;Suatu hari ada seorang laki-laki dari kaum Anshar mendatangi kediaman baginda Rasulullah SAW. Ia datang dengan pakaian compang-camping dan wajah yang pucat, langsung menghadap di depan Rasulullah SAW untuk mengemis. Seusai mengucap salam, pengemis itu meminta sesuatu pada baginda Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;“Ya. Ada sehelai kain. Kami pakai sebagiannya dan kami bentangkan sebagiannya untuk duduk dan lain sebagainya. Saya juga punya satu bejana untuk minum air,” Jawab Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Beliau kemudian menyuruh para sahabat yang hadir saat itu untuk membawakan kain dan bejana kepunyaan beliau.”Bawalah keduanya kepadaku!”&lt;br /&gt;Dengan bergegas, salah satu sahabat yang ada di majelis beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil barang-barang yang dimaksud. Lalu sahabat itu membawanya ke hadapan beliau. Rasulullah SAW lalu mengambil keduanya dengan kedua tangannya dan memperlihatkannnya di hadapan para sahabat, beliau kemudian bercerita,”Aku beli kain dan bejana ini satu dirham.”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menawarkan barang-barang kepunyaan beliau kepada para sahabat, ”Aku akan menjualnya. Adakah saudara-saudara akan membelinya? Adakah yang sanggup menambah satu dirham?”&lt;br /&gt;Beliau berulang-ulang menawarkan kepada para sahabat. Akhirnya salah seorang sahabat mengambilnya. “Aku ambil dengan dua dirham, seperti tawaran mu, Ya Rasulullah,” jawab salah seorang sahabat yang hadir. &lt;br /&gt;Rasulullah SAW kemudian memberikan kedua barang itu kepada salah seorang sahabat yang telah sepakat membeli kedua barang itu tadi sembari menerima uang dua dirham. Beliau kemudian mendekati sang pengemis dari kaum Anshar itu dan langsung beliau serahkan uang dua dirham itu seraya memberikan nasehat untuk sang pengemis,”Belilah dengan satu dirham makanan dan serahkan kepada keluargamu. Dan belilah dengan satu dirham lagi sebuah kapak di pasar terdekat dan kemudian bawalah kapak yang kamu beli itu kepadaku!”&lt;br /&gt;Setelah menerima uang dua dirham, sang pengemis itu kemudian pamit pulang. Ia kemudian mampir ke pasar untuk melaksanakan apa yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah SAW yakni membeli makanan dan sebuah kapak besi. Selepas mengantar makanan untuk keluarganya di rumah yang tengah kelaparan, ia kemudian membungkus kapak itu dengan sebuah kantong kulit dan ia langsung kembali menuju ke kediaman Rasulullah.&lt;br /&gt;Saat itu Rasulullah SAW masih dalam satu majelis dengan dikelilingi oleh para sahabat yang menyimak penjelasan tentang masalah agama. &lt;br /&gt;“Hai fulan, sudahkah engkau laksakan perintahku?” tanya Rasulullah SAW pada sang pengemis yang tampak malu-malu berdiri di depan pintu rumah.&lt;br /&gt;“Sudah, tuan,”jawab sang pengemis itu.&lt;br /&gt;“Kemarilah! Bawa kemari kapak yang telah engkau beli itu!” perintah beliau.&lt;br /&gt;Lalu sang pengemis itu dengan berjalan perlahan mendekati baginda Rasulullah SAW dan duduk di depan beliau. Pengemis itu kemudian mengeluarkan kapak itu dari kantong kulit dan diserahkan pada Rasululah SAW.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW hari itu tampak bergembira melihat perangai dari sang pengemis yang telah taat menerima perintah beliau. Baginda Rasulullah SAW lalu mengambil kapak besi dan ia beranjak ke pojok ruangan. Beliau kemudian berjongkok dan mengambil sepotong kayu yang tergeletak di pojok majelis itu. Tangan beliau yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari, dengan sangat cekatan segera memasang tangkai kayu pada lobang kapak besi. Tak berapa lama kemudian kapak besi itu telah siap untuk digunakan. &lt;br /&gt;Selesai memasang tangkai kapak besi itu, Rasulullah SAW kemudian kembali ke tempat semula, di majelis yang sedari tadi para sahabat biasa menyimak penjelasan dan mengambil hikmah ilmu dari beliau. “Pergilah ke gurun dan tebanglah kayu! Kemudian jual kayu bakar yang kau peroleh ke pasar dan kemarilah lima belas hari lagi!” sabda Rasulullah SAW kepada pengemis dari kaum Anshar itu.&lt;br /&gt;Sang pengemis itu lalu pamit pada Rasulullah SAW. Ia kemudian pulang ke rumah dan mengambil perbekalan makanan dan minuman secukupnya untuk dibawa ke gurun. Dengan penuh semangat, sang pengemis itu lalu berangkat ke gurun yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Satu per satu ranting pohon yang telah kering dipotong dengan kapak. Setelah terkumpul banyak kayu bakar, ia kemudian membawanya pulang ke rumah. Selama lima belas hari sang pengemis itu melakukan pekerjaan mencari kayu bakar dan seluruh kayu bakar yang dikumpulkan dijual ke pasar.&lt;br /&gt;Genap pada hari kelima belas, pengemis itu menghadap ke Rasulullah SAW dengan membawa sepuluh dirham dari hasil penjualan kayu bakar. Beliau kemudian memberikan nasihat kepadanya. “Belilah sebahagian dengan uangmu itu makanan dan sebahagian lagi pakaian. Ini adalah lebih baik bagi kamu daripada meminta-minta. Sebab, mengemis itu merupakan satu tanda di muka mu di hari Kiamat nanti. Sesungguhnya mengemis itu tidaklah layak melainkan bagi orang yang sangat miskin/papa dina atau orang yang berhutang berat atau harus membayar diyat (denda karena membunuh orang).”&lt;br /&gt;AST, hadits Ibnu Majah &lt;br /&gt;----------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AK17.MutiaraRasul.MalamIsraMi’raj.AST &lt;br /&gt;Kabar Gembira dari Langit&lt;br /&gt;Di saat menghadapi ujian dan tingkat perjuangan yang maha berat, Nabi Muhammad SAW diperintahkan menjalani Mi’raj. Sebuah kabar gembira dari langit untuk menghibur beliau yang tengah berduka cita&lt;br /&gt;Setelah wafatnya paman Nabi, Abu Thalib dan tidak berapa lama kemudian disusul oleh isteri tercinta, Siti Khadijah. Baik Abu Thalib maupun Siti Khadijah adalah dua orang sosok yang telah banyak memberikan bantuan kepada Nabi, moril dan materiil. Kedua musibah itu terjadi pada tahun 10 dari masa kenabian. Pada tahun itu dalam sejarah disebut,”Aamul Huzni”(tahun kesedihan). &lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan, beliau juga menghadapi ujian yang maha berat dan tingkat perjuangan yang sudah mencapai puncaknya. Gangguan dan hinaan, aniaya serta siksaan yang dialami beliau dengan pengikut-pengikutnya juga semakin hebat. Maka Nabi diperintahkan oleh Allah SWT menjalani Isra’ dan Mi’raj. Hari itu adalah 27 Rajab pada tahun 621 M. &lt;br /&gt;Pada tengah malam yang sunyi dan hening, burung-burung malam diam membisu, binatang-binatang buas berdiam diri, gemericik air dan siulan angin sudah tidak terdengar lagi. Ketika itu Rasulullah SAW tengah berbaring di samping Ka’bah. Tiba-tiba ia didatangi Malaikat Jibril dan Mikail. Keduanya lalu membawanya ke ke serambi Masjidil Haram.&lt;br /&gt;Jibril lalu berkata pada Mikail,”Bawakan aku semangkuk air zamzam untuk mencuci hatinya dan melapangkan dadanya serta mengangkat namanya.”&lt;br /&gt;Mikail kemudian membawakan mangkuk emas yang penuh dengan permata-permata dari cahaya, dan Jibril langsung menuangkan semua isi mangkuk tersebut ke dada Nabi serta memenuhinya dengan kebijaksanan, ilmu, keyakinan, dan iman kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Setelah selesai, Jibril langsung menutup dada beliau dengan khotamunnubuwah (stempel kenabian) persis di antara dua pundaknya. Kemudian Jibril membawa Buraq. Ia adalah seekor binatang berwarna putih, sedikit lebih tinggi daripada seekor keledai tetapi lebih kecil daripada seekor unta.&lt;br /&gt;Disamping buraq, Malaikat Jibril berdiri dengan wajah yang putih bersih berseri dan berkilauan seperti salju. Ia mengenakan pakaian yang berumbaikan mutiara dan emas, lalu Jibril melepas ikat rambut, terurailah rambutnya yang panjang itu. Dari sekelilingnya sayap-sayap berkilauan yang beraneka warna. Tangannya memegang buraq, yang bersayap seperti garuda. &lt;br /&gt;Hewan itu membungkuk dihadapan Raulullah SAW. Ketika akan dinaiki oleh beliau agak kesulitan, maka Jibril pun menaruh tangannya di atas punggung Buraq yang bersinarkan cahaya. Lalu Jibril berkata,”Tidakkah engkau malu wahai Buraq? Tidak ada mahluq yang pernah menaiki mu lebih mulia di sisi Allah dari orang ini.”&lt;br /&gt;Buraq pun malu sehingga bercucuran keringat. Setelah tenang, Rasulullah SAW pun naik di atasnya bersama Jibril, sambil berucap,”Bismillah wala haula quwata illa bilah.” &lt;br /&gt;Sekali melangkah, meluncurlah buraq itu bagaikan anak panah membumbung di atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju arah utara. Mereka berdua lalu tiba di sebuah daerah yang memiliki banyak kebun korma. Jibril lalu berkata,”Turunlah wahai Muhammad!”&lt;br /&gt;Nabi pun turun dan langsung menunaikan shalat dua rakaat atas perintah Jibril. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan dan Jibril bertanya kepada Nabi,”Tahukah engkau di mana barusan perjalanan dan Jibril bertanya kepada Nabi,”Tahukah engkau di mana barusan engkau shalat?”&lt;br /&gt;“Tidak,” jawab Nabi SAW.&lt;br /&gt;“Wahai orang yang bagus peranginya, engkau tadi shalat di tanah Thoiybah (sekarang Madinah), di sanalah tempat hijrah nantinya,” kata Jibril. &lt;br /&gt;Setelah terbang sebentar, lalu Jibril memerintahkan Buraq,”Turunlah di sini!”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW kemudian shalat dua rakaat dan mereka kembali melanjutkan perjalanan kembali.&lt;br /&gt;Seperti biasa Jibril bertanya,”Wahai yang diutus rahmat, tahukah engkau di mana tadi engkau shalat?”&lt;br /&gt;“Tidak,”&lt;br /&gt;“Engkau tadi shalat di Madyan, di bawah pohon Nabi Musa, Kalimullah,”&lt;br /&gt;Lalu berhenti di gunung Thursina di tempat Tempat Tuhan berbicara dengan Musa. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa dilahirkan.&lt;br /&gt;Sesudah itu kemudian melanjutkan perjalanan dan mereka menjumpai sekelompok manusia yang menanam dan memanen dalam sehari saja. Setiap kali mereka memanen tanaman itu akan tumbuh seperti semula. Nabi SAW kaget dan bertanya,&lt;br /&gt;”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah, pahala mereka dilipatgandakan sampai 700 kali lipat dan siapakah yang tepat janjinya dari Allah.”&lt;br /&gt;Kembali mereka bertemu kelompok manusia yang aneh, kepala mereka dihantam batu besar sampai pecah dan setiap kali pecah kepalanya kembali utuh seperti semula.&lt;br /&gt;Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka gerangan?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang yang kepalanya terasa berat jika diajak melaksanakan shalat.”&lt;br /&gt;Setelah itu mereka bertemu sekelompok manusia yang di bagian depan dan belakangnya ada tambalan. Mereka digembalakan seperti onta, memakan tanaman kering dan tanaman berduri. Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang-orang yang tidak mau membayar zakat harta mereka, padahal Allah tidak pernah mendzalimi mereka.”&lt;br /&gt;Pemandangan aneh lain juga nampak, sekelompok orang di hadapan mereka ada daging matang yang lezat tersedia dalam panci-panci. Di situ juga ada daging mentah busuk yang mengeluarkan bau tak sedap, ternyata mereka makan daging mentah dan busuk serta meninggalkan daging matang dan lezat.&lt;br /&gt;“Apa maksudnya ini wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah laki-laki dari umatmu yang memiliki wanita halal, tetapi malah mendatangi perempuan lacur dan tidur dengannya sampai pagi. Demikian juga dengan perempuan yang memiliki suami halal, tetapi tidur bersama laki-laki keji dan menginap bersamanya dalam maksiat.”&lt;br /&gt;Dalam perjalanan berikutnya mereka melihat sebongkah kayu tergeletak di tengah jalan, tidak seorang pun yang lewat kecuali kayu tersebut dapat mengoyak baju serta menghalangi pejalan kaki yang melewatinya. Melihat hal aneh tersebut, Nabi SAW bertanya,”Apa maksudnya ini, Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah perumpamaan sekelompok kaum dari umatmu yang duduk-duduk di jalanan untuk menggosip, mengadu domba dan mengganggu,” jawab Jibril menjelaskan seraya membaca sebuah ayat dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan itu Nabi juga melihat seorang laki-laki berenang di sebuah sungai darah dan menelan bebatuan terbuat dari api.”Apa ini wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah pemakan riba yang telah diharamkan oleh Allah SWT,”jawab Jibril.&lt;br /&gt;Selanjutnya ada seorang laki-laki yang mengumpulkan beberapa ikat kayu bakar tetapi tidak mampu membawanya,”Apa maksud kejadian ini wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah laki-laki dari umatmu yang membebani dirinya dengan amanat-amanat manusia. Padahal sebenarnya dia tidak mampu untuk melaksanakannya, tetapi dia memaksakan diri untuk menambah amanat-amanat lainnya,” terang Jibril.&lt;br /&gt;Kemudian Nabi SAW bertemu sekelompok orang yang lidah dan bibir mereka digunting dengan gunting besi. Setiap kali digunting langsung kembali seperti semula. Nabi SAW bertanya,”Siapakah mereka wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah para penceramah dari umatmu yang berkata sesuatu yang tidak mereka kerjakan tanpa perhatian dan cegahan,” kata Jibril.&lt;br /&gt;Nabi SAW juga melewati sekelompok kaum dari umatmu yang memiliki kuku dari timah, dengan kuku tersebut mereka mencabik-cabik muka dan dadanya sendiri, mereka benar-benar tersiksa dengan hal itu.&lt;br /&gt;Siapakah mereka?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mengganggu kehormatan mereka.” kata Jibril.&lt;br /&gt;Nabi SAW juga melihat seekor kerbau besar keluar dari lubang kecil dan ingin kembali masuk ke lubang tersebut tapi sama sekali tidak bisa. Beliau lalu bertanya,”Apa maksudnya ini wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Ini adalah seorang lelaki dari umatmu yang mengeluarkan kata-kata jelek kemudian menyesal atas ucapannya tetapi tidak mampu menarik omongannya yang sudah terlanjur keluar.”&lt;br /&gt;Tak berselang berapa lama kemudian ada seseorang yang memanggil-manggil beliau dari arah kanan,”Wahai Muhammad, tataplah aku!”&lt;br /&gt;Tetapi Nabi SAW tidak menghiraukannya karena hikmah dan tuntunan dari Allah SWT.&lt;br /&gt;Beliau bertanya,”Apakah itu wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Itu adalah panggilan Yahudi, andaikata engkau tadi menjawabnya, maka seluruh umatmu akan menjadi Yahudi,”jawab Jibril.&lt;br /&gt;Setelah itu muncul lagi panggilan dari sebelah kiri,”Wahai Muhammad tataplah aku.” &lt;br /&gt;Sebagaimana yang panggilan yang pertama, Nabi SAW tidak menghiraukannya sama sekali. Kemudian beliau bertanya,”Apakah itu wahai Jibril?”&lt;br /&gt;“Itu adalah panggilan Nasrani. Seandainya engkau penuhi panggilan tersebut, maka umatmu akan menjadi Nasrani.”&lt;br /&gt;Beliaupun meneruskan perjalanan dan tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyingsingkan kedua lengan bajunya memanggil, ”Wahai Muhammad tataplah aku.”&lt;br /&gt;Nabi SAW tidak menghiraukannya karena dia itu adalah dunia, Jibril berkata, ”Kalau seandainya engkau menjawab panggilan itu maka seluruh umatmu akan lebih memilih dunia dari pada akhirat.”&lt;br /&gt;Beliau juga dipanggil oleh seorang tua yang berada di pinggir jalan,”Muhammad kemarilah.”&lt;br /&gt;Namun Jibril langsung bekata,“Teruslah berjalan wahai Muhammad!”&lt;br /&gt;“Siapakah dia itu?”&lt;br /&gt;“Dia itu Iblis,” jawab Jibril sambil melanjutkan,“Ia ingin kamu melenceng dan mengikuti dakwahnya karena dia adalah musuh Allah.”&lt;br /&gt;Nabi SAW masih meneruskan, tiba-tiba ada seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan berada di samping jalan memanggil beliau,”Muhammad, pandanglah aku.”&lt;br /&gt;Nabi SAW kemudian bertanya,”Siapakah dia, Jibril?”&lt;br /&gt;“Sungguh tidaklah tersisa dari umur dunia kecuali seperti yang tersisa dari umur perempuan tua yang sudah rapuh dimakan usia ini.“&lt;br /&gt;Lalu mereka meluncur lagi ke udara bersama Buraq hingga tiba di Baitul Maqdis. Setelah itu beliau pun mengikat Buraq pada sebuah cincin yang biasa dikenakan oleh para nabi. Kemudian beliau masuk ke dalam Masjid lewat pintu Yamaniyah. Bersama Jibril, beliau mengerjakan shalat tahiyatul masjid. Tak lama berselang, seorang muadzin mengumandangkan adzan. Jibril lalu menuntun Nabi SAW untuk menjadi imam shalat dua rakaat di dalamnya bersama Ibrahim, Musa dan Isa. Seusai shalat para Nabi memuji Allah SWT.&lt;br /&gt;Nabi SAW lalu bersabda, ”Masing-masing dari kalian memuji Tuhan-Nya dan aku pun memuji Tuhanku, Allah SWT.”&lt;br /&gt;Nabi melanjutkan kembali khutbahnya, ”Segala puji bagi Allah yang telah mengutusku sebagai rahmat bagi seluruh manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Allah telah turunkan ayat-ayat Qur’an kepadaku. Dan umatku dijadikan umat yang tengah-tengah, merekalah yang pertama dan terakhir. Allah telah melapangkan dadaku, meninggikan sebutanku, menjadikanku pembuka dan penutup para nabi-nabi-Nya.” &lt;br /&gt;Selesai berkhutbah, Nabi SAW keluar dari masjid, lalu Jibril membawakan secangkir susu dan khamer, Nabi Muhammad SAW memilih secangkir susu. Lalu Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah. Yakni watak yang selamat. Andaikata engkau memilih khamer, tentulah umatmu akan sesat, ” kata Jibril.&lt;br /&gt;Menuju langit ketujuh&lt;br /&gt;KEMUDIAN setelah itu, dibawakannya sebuah tangga yang dipancangkan di atas batu Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit. Kemudian Jibril naik ke atas bersama Nabi Muhammad SAW menuju langit pertama. Jibril memerintahkan langit pertama terbuka dan terdengar suara,”Siapakah gerangan?”&lt;br /&gt;“Jibril,” jawab Malikat Jibril.&lt;br /&gt;Terdengar suara lagi,”Siapakah gerangan bersamamu?”&lt;br /&gt;Jibril menjawab:”Muhammad.”&lt;br /&gt;Terdengar lagi suara,”Adakah ia seorang Rasul?”&lt;br /&gt;Jibril menjawab, ”Ya Muhammad Rasulullah, lalu pintu terbuka bagi kami. Saya bertemu Adam yang menyambutku dan mengucapkan salam kepadaku. Kemudian kami ke langit kedua, dan Jibril memerintahkan agar langit kedua terbuka. &lt;br /&gt;Terdengarlah suara:”Siapakah gerangan?”&lt;br /&gt;Jibril menjawab:”Muhammad”&lt;br /&gt;Terdengar langi suara:”Adakah ia seorang Rasul?”&lt;br /&gt;Lalu Jibril menjawab lagi:”Ya Muhammad Rasulullah.”&lt;br /&gt;Kemudian pintu pun terbuka bagi Muhammad dan Jibril. Mereka disambut Isa putra Maryam dan Yahya Ibn Zakaria. Setelah mengucap salam, Muhammad dan Jibril naik ke langit ketiga dan terjadi seperti sebelumnya. Pintu terbuka dan bertemu dengan Nabi Yusuf. &lt;br /&gt;Selepas mengucap salam, mereka naik ke langit keempat dan bertemu dengan Nabi Idris. Pada langit kelima mereka bertemu dengan Harun As. Lalu dilanjutkan ke langit keenam dan mereka berjumpa dengan Nabi Musa As. Selanjutnya naik lagi ke langit ketujuh dan mereka berjumpa dengan Ibrahim As.&lt;br /&gt;Nabi Muhammad dan Jibril bertemu dengan Ibrahim yang tampak kurus sedang menjaga Baitul Ma’mur (rumah yang banyak dikunjungi). Setiap hari 70.000 malaikat berkunjung kepadanya.&lt;br /&gt;Kemudian Jibril mengantarkan Muhammad lagi ke sebuah pohon di Sidratul Muntaha, daunnya mirip telinga gajah dan buahnya mirip bejana yang terbuat dari tembikar. Ketika itu perintah Allah menyelimutinya, maka tidak satupun dari mahluknya yang mampu menggambarkan keindahannya. &lt;br /&gt;Kemudian Allah mewahyukan apa yang telah Dia wahyukan. Allah SWT menetapkan kewajiban atas Nabi Muhammad SAW 50 salat dalam sehari semalam. Nabi Muhammad SAW kemudian turun dan bertemu dengan Musa dan dia bertanya,”Apa yang telah ditetapkan Allah sebagai kewajiban terhadap umatmu?”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menjawab,”50 salat,”&lt;br /&gt;“Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan! Umatmu tidak akan mampu melakukannya. Saya telah mencobakan hal itu kepada Bani Israil dan aku memberikan saran kepadamu berdasarkan pengalamanku,” kata Musa.&lt;br /&gt;Rasulullah kemudian kembali menjumpai Allah dan berkata,”Ya Tuhanku, kurangilah kewajiban tersebut demi umatku.”&lt;br /&gt;Lalu Allah mengurangi lima salat. Dan Nabi Muhammad SAW dan bertemu Nabi Musa kembali sambil menceritakan bahwa Allah SWT telah mengurangi lima salat. Musa menjawab,”Umatmu tidak akan sanggup melakukannya, jadi kembalilah kepada Tuhanmu mintalah keringan.”&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW berkali-kali naik turun menemui Musa hingga akhirnya Allah berfirman: “Muhammad, sekarang tinggallah lima salat untuk dikerjakan dalam sehari dan semalam. Masing-masing salat setara sepuluh salat, sehingga lima salat tersebut sepadan dengan 50 salat. Siapapun yang berniat melakukan kebajikan, kemudian ia tidak mengerjakannya, ditulis baginya satu kejahatan. &lt;br /&gt;Ketika Nabi Muhammad SAW turun ke langit keenam di mana tempat Musa berada.&lt;br /&gt;”Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah pengurangan!” perintah Musa.&lt;br /&gt;“Saya telah berulang kali menghadap Tuhan dan memohon pengurangan sampai-sampai saya malu di hadapan-Nya,” jawab Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW yang telah menerima perintah salat lima waktu itu pun kemudian bergegas dengan Jibril meninggalkan Musa dan mengunjungi Surga. Jibril pun menerangkan tentang keberadaan surga yang disediakan bagi manusia-manusia beriman sesudah mereka dibangkitkan.&lt;br /&gt;Kemudian Nabi SAW kembali menuju tangga yang membawanya kembali ke bumi. Buraq pun dilepaskan, maka ia pun kembali dari Baitul Maqdis menuju Mekah. &lt;br /&gt;AST,  Al-Bisyr Wa Al-Ibtihaj fi Qissah Al-Isra’ wa Al-Mi’raj &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ak13.MutiaraRAsul.KeberkahanHidanganJabir.RA&lt;br /&gt;Keberkahan Hidangan Jabir&lt;br /&gt;Semula Jabir Radiallahu ‘Anhu merasa khawatir dengan hidangan yang ia persembahkan pada Rasulullah dan para sahabat. Namun berkah cipratan ludah dan berkah sentuhan tangan beliau yang agung makanan yang ia masak cukup untuk mereka semua&lt;br /&gt;Ketika perang Khandaq berkecamuk, banyak sahabat yang kelaparan. Sebab, mereka tidak dapat keluar kota untuk mencari bahan makanan dan tidak ada pula yang masuk ke dalam kota Madinah. Bersama para sahabat, Rasulullah SAW bertahan di dalam kota, sedangkan di sekeliling kota Madinah penuh dengan musuh yang siap menyerbu. Pedang kaum kafir senantiasa terhunus, berkilauan ditimpa cahaya matahari dan panah berserta anak panah siap lepas dari busurnya mengincar setiap gerak kaum msulimin.&lt;br /&gt;Kedua kekuatan ini saling bertahan, umat Islam bertahan di dalam, sedangkan kaum kafir menunggu di luar.Perang ini dinamakan perang Khandaq atau parit karena umat Islam menggali parit yang mengelilingi kota Madinah untuk berlindung dari serangan musuh dari kota. Setiap kaum kafir mendesak sedikit demi sedikit ke dalam kota, pasukan kaum muslimin segera membuat halangan dengan membuat parit-parit yang dalam. &lt;br /&gt;Alkisah, siang itu di tengah panas mentari yang membakar, pasukan kaum muslimin terus menggali parit-parit yang dalam. Rasulullah SAW tidak tinggal diam, bersama para pengikutnya, beliau tak kenal lelah turun ke dalam lubang yang telah diberi garis memanjang dan mulai menggali parit dengan tangannya yang suci. Sudah tiga hari terakhir ini beliau turun langsung membuat parit-parit yang dalam dan memanjang mengitari kota Madinah. Bahkan beliau sudah tidak makan dalam beberapa hari. Untuk mengatasi rasa lapar, perut beliau diganjal dengan batu dan sabuk. Tangan beliau yang agung terus mengerus butiran-butiran pasir dari dalam parit yang digalinya. Satu per satu batu-batu sebesar kepala orang dewasa beliau angkat sendiri. Badan beliau yang kekar telah bersimbah keringat. &lt;br /&gt;Jabir bin Abdullah yang melihat tanda-tanda kelelahan di wajah Rasul karena beberapa hari tidak makan dan hanya mengganjal perut beliau dengan batu. Wajah beliau yang biasanya cerah bercahaya, terlihat pucat dan bulir-bulir keringat menetes satu persatu, Jabir khawatir akan kesehatan Rasulullah SAW bisa terganggu. Maka ia segera pulang ke rumah menemui isterinya. &lt;br /&gt;Sampai di rumahnya ia berkata pada isterinya,”Makanan apa yang kau miliki? Aku melihat Rasulullah SAW sudah sangat lapar?”&lt;br /&gt;“Kita hanya ada gandum yang sekitar 2 mud (2,5 kg),” jawab sang isteri.&lt;br /&gt;“Keluarkan semua dan masak semua. Hari ini kita mengundang Rasulullah untuk bersantap di rumah kita!” perintah Jabir.&lt;br /&gt;Sang isteri kemudian dengan bergegas mengeluarkan buliran-buliran gandum kering itu dari kantongnya dan menumbuknya hingga halus. Setelah itu ia memasukan tepung gandum itu ke dalam bejana. Sementara itu Jabir menuju ke belakang rumahnya dan menuju kandang anak domba. Saat itu Jabir hanya memiliki seekor anak domba.&lt;br /&gt;Dengan sigap, tangannya yang kekar itu mengeluarkan seekor anak dan domba dan menyembelihnya. &lt;br /&gt;Jabir lalu dengan sangat cekatan memotong-motong daging anak domba itu dan merebusnya dengan bejana yang penuh air. &lt;br /&gt;Saat akan keluar rumah, isteri Jabir berpesan agar ia mengundang Rasul dengan berbisik jangan sampai terdengar oleh para sahabat yang lainnya. Sebab, hidangan yang ia sediakan hanya cukup untuk beberapa orang. &lt;br /&gt;”Jangan permalukan aku di hadapan Rasulullah SAW dan para sahabatnya,” pesan sang isteri.&lt;br /&gt;Jabir segera berangkat menemui Rasulullah SAW. Ia pun kemudian berbisik mengundang Rasul untuk bersantap makan di rumahnya.&lt;br /&gt;“Duhai Rasul, aku menyembelih anak domba dan menanak sedikit gandum.Ajaklah beberapa orang untuk makan di rumahku,”kata jabir.&lt;br /&gt;Tetapi yang terjadi di luar dugaan Jabir. Rasulullah SAW mengundang seluruh sahabat yang ada di sana untuk ikut menikmati jamuan yang dipersiapkan Jabir. &lt;br /&gt;Rasulullah SAW berseru,”Wahai para sahabatku yang ikut menggali parit, Jabir membuat makanan lezat hari ini. Mari kita ke sana memenuhi undangannya!”&lt;br /&gt;Setelah melihat Jabir, Rasulullah SAW lalu memerintahkan Jabir untuk jangan menurunkan periuknya,”Jangan turunkan periukmu dari tungku sebelum aku tiba di rumahmu!”&lt;br /&gt;Jabir segera pulang dan menyampaikan peristiwa ini kepada isterinya. Sang isteri semula terkejut, tetapi ketika diberitahu bahwa Rasulullah SAW yang mengundang sahabat, ia menjadi tenang. Tak lama kemudian Rasulullah SAW datang. &lt;br /&gt;Seperti yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, maka isteri Jabir lalu mengeluarkan adonan roti dari bejana. Kemudian Rasul mendekati adonan roti itu dan meludahinya sedikit dan berdoa memohon keberkahan. &lt;br /&gt;Tak hanya itu, Rasul kemudian berjalan menghampiri periuk yang berisi daging anak domba itu meludahinya seperti pada adonan roti dan memberkatinya. Setelah itu beliau berkata,”Panggil tukang roti untuk membuat roti bersama ku. Ambillah makanan dai periuk itu dan biarkan dia di atas tungku!”&lt;br /&gt;Para sahabat kemudian secara bergantian mengambil kuah dari periuk dan roti dari wadahnya. Mereka semua makan sampai kenyang.&lt;br /&gt;Jabir lalu berkata,”Demi Allah, jumlah mereka yang ikut makan adalah seribu orang. Setelah mereka pulang, ternyata isi periuk itu tetap seperti sedia kala, begitu pula adonan rotinya. Subhanallah!&lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;AK12.MutiaraRasul.KasihSayangRasulullah.AST&lt;br /&gt;Usapan Yang Penuh Berkah&lt;br /&gt;Suatu waktu, Rasulullah SAW hendak memberikan tugas pada Ali bin Thalib, namun saat itu ia sedang sakit mata. Berkat sentuhan tangan beliau yang mulia, seketika itu sakit matanya langsung sembuh dan pandangan matanya bertambah tajam&lt;br /&gt;Setelah Islam menguasai kota Madinah, kota tersebut tidak hanya dihuni oleh kaum muslimin saja, melainkan kaumYahudi dan Nasrani serta kaum keturunan Bani Israil juga masih banyak yang berdiam di dalam kota. Kehadiran kaum muslimin di Madinah sedikit banyak menentramkan hati mereka dari bahaya serangan bangsa lain.&lt;br /&gt;Tingkah laku yang baik dari kaum muslimin di Madinah menjadi contoh teladan suku lain yang sama-sama mendiami kota itu. Sehingga tidak mengherankan bila mereka senang bertetangga dengan kaum muslimin yang ramah-tamah dan berbudi luhur. Tatanan masyarakat seperti inilah yang kemudian disebut masyarakat Madaniyah.&lt;br /&gt;Kedamaian yang diciptakan oleh kaum muslimin lama-lama memudar karena ulah bangsa-bangsa yang tidak suka melihat kejayaan Islam di Madinah. Kasak-kusuk kaum munafiq untuk memecah belah persatuan turut andil bagian dalam rangka menghancurkan kaum muslimin dari dalam. Begitu juga dengan kaum Yahudi dari Bani Quraizhah. Mereka bersekutu dengan orang-orang munafik untuk memecah kaum muslimin.&lt;br /&gt;Tindakan kaum Yahudi dan Bani Quraizhah telah melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan kaum muslimin. Bahkan kaum Yahudi yang bertempat tinggal di Khaibar berusaha menyebar fitnah pada penduduk Ghathfan supaya mereka bangkit menyerang kaum muslimin. Rasulullah SAW yang telah mencium gelagat itu, lalu menyusun formasi pasukan untuk dikerahkan menuju Gathfan.&lt;br /&gt;Penduduk Gathfan ternyata panik juga ketika mendengar pasukan kaum muslimin sedang berjalan menuju posisi mereka. Buru-buru mereka mengumpulkan penduduknya di suatu tempat untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Setelah penduduk Ghathfan mengadakan perjanjian dengan penduduk Islam, barulah kaum muslimin mengetahui kalau kaum Yahudi Khaibar tidak bergabung dengan penduduk Ghathfan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kaum muslimin segera mengerahkan pasukannya ke posisi kaum Yahudi Khaibar dan penduduk Ghathfan pun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lega. Setelah itu Rasulullah SAW membentuk pasukan perang untuk memerangi Yahudi Khaibar yang telah berkhianat. Penduduk Ghathfan juga tidak membantu kaum Yahudi Khaibar karena merasa telah dikhianati oleh mereka.&lt;br /&gt;Di Khaibar, kaum muslimin membuat semacam pagar betis untuk membentengi mereka dari serangan kaum Yahudi Khaibar yang terkenal ahli dalam strategi perang. Untuk merebut benteng-benteng perang kaumYahudi yang tangguh. Kaum muslimin memakai taktik pengepungan sehingga peperangan ini terkesan lama dan lamban, walau akhirnya satu persatu benteng Yahudi dapat di rebut.&lt;br /&gt;Benteng-benteng kaum Yahudi yang banyak membuat mereka bisa berpindah dari benteng yang satu ke benteng yang lain. Hal ini berlangsung terus menerus sehingga mengacaukan serangan kaum muslimin. Melihat permainan Yahudi Khaibar ini akhirnya semangat kaum muslimin semakin tergugah untuk terus berjihad di jalan Allah. Mereka dengan sekuat tenaga dan semangat yang membara berusaha meluluh lantakan benteng-benteng musuh yang tersisa. Dalam situasi demikian, Rasulullah SAW bersabda,”Besok pagi, bendera ini akan aku berikan kepada seseorang yang cinta Allah dan Rasul-Nya, di mana Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya!”&lt;br /&gt;Para sahabat yang mendengar perkataan Rasulullah SAW, dalam hatinya saling mengharapkan dirinya untuk ditunjuk menjadi pembawa bendera kebesaran. Pemberian bendera tersebut merupakan satu penghormatan yang tak bernilai harganya bagi para sahabat, sampai-sampai Umar ibn Khaththab berkata,”Aku sangat mengharapkan bendera yang dijanjikan Rasulullah tersebut!”&lt;br /&gt;Keesokan harinya, ketika mereka usai melaksanakan shalat subuh berjamaah, banyak sahabat yang sengaja menampakan diri di hadapan Rasulullah dengan maksud agar mereka ditunjuk oleh beliau sebagai pemimpin pasukan. Namun, nasib mujur yang mereka harapkan tak kunjung tiba karena rupa-ruapanyanya beliau masih menunggu orang yanfg beliau kehendaki. Beliau menoleh ke sana kemari seolah-olah sedang dinantikannya itu tidak muncul juga. Beliau sampai bertanya,”Di manakah Ali bin Abi Thalib sekarang?”&lt;br /&gt;Salah seorang sahabat ada yang menjawab,”Dia sedang sakit mata, ya Rasulullah!”&lt;br /&gt;“Panggilah ia kemari,”peintah beliau.&lt;br /&gt;Ali memang sedang menderita sakit mata. Itu terlihat jelas oleh Rasulullah SAW ketika Ali telah sampai di hadapannya, tampak matanya merah dan bengkak. Maka, tanpa berkata apa-apa Rasulullah SAW langsung mengusap mata Ali dengan telapak tangannya&lt;br /&gt;Ajaib sekali karena seketika itu juga mata Ali yang membengkak langsung sembuh seketika, tiada bekas-bekas bahwa Ali baru saja menderita sakit mata.&lt;br /&gt;Hal ini tentu menggembirakan hati Ali karena di samping matanya sembuh, ia juga merasakan bahwa matanya lebih tajam dan terang penglihatannya dari pada sebelumnya.&lt;br /&gt;Saat itu Ali mendapat kemujuran yang tak pernah diperoleh orang lain. Pertama matanya sembuh, dan menurut salah satu sumber riwayat, setelah mendapat usapan dari tangan Rasulullah sampai akhir hayatnya Ali tidak pernah menderita sakit mata lagi. Di samping itu, penglihatan kedua matanya lebih tajam dari pada sebelumnya.&lt;br /&gt;Kedua, ia mendapat kepercayaan dariu Rasulullah untuk membawa panji Islam dalam pertempuran nanti. Kemujuran yang sehari sebelumnya telah diharapkan oleh para sahabat, kini jatuh ke tangan Ali, seorang yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Sahabat yang menyaksikan kejadian ini tercengang. Rasulullah yang diketahui oleh mereka bukan tabib atau dokter namun dapat menyembuhkan mata Ali hanya dengan sekali usapan tangan. &lt;br /&gt;Mereka kagum menyaksikan mukjizat yang diturunkan Allah kepada nabi mereka. Yang lebih mencengangkan lagi, sorotan mata Ali bertambah tajam sejak saat itu. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang biasa kecuali oleh orang-orang yang menjadi kekasih Allah dan diberi-Nya mukjizat.&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;AK11.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Dajal, Isa Ya’juj dan Ma’juj&lt;br /&gt;Tanda-tanda dari hari kiamat adalah munculnya Dajal, Isa Ya’juj dan Ma’juj. Demikian sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat&lt;br /&gt;Pada suatu pagi Rasulullah SAW bercerita tentang Dajal, maka suaranya turun naik, sehingga para sahabat menduga berada di tengah-tengah pepohonan korma. Selepas Rasulullah SAW selesai bersabda, para sahabat kemudian pamit undur diri. Namun pada petang harinya, para sahabat kembali bertandang ke kediaman Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;Hari itu beliau sedang berduka, raut kesedihan tampak di mukanya yang bersih bercahaya. Kedua kelompak mata beliau sedikit sembab, tanda sehabis menangis. Seusai mengucap salam, beliau langsung menyapa para sahabat.&lt;br /&gt;“Bagaimana keadaan kalian?” Tanya beliau.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, tadi pagi engkau membicarakan Dajal. Sesekali engkau merendahkan suara dan sesekali engkau meninggikannya, sehingga kami seakan-akan berada di tengah kerumunan lebah,” jawab salah seorang sahabat.&lt;br /&gt;Beliau terdiam sejenak, wajah beliau selalu indah ditatap, namun para sahabat tapi berani menatap wajah baginda yang agung itu. Dengan nada suara yang berwibawa dan ketegasan beliau bersabda,“Bukan Dajal yang aku khawatirkan terhadap kalian. Jika dia muncul dan aku berada di tengah kalian, tentu aku akan membela kalian dengan hujjah-hujjahku. Tapi jika dia muncul, sementara aku tidak berada di tengah kalian, maka setiap orang akan membela dirinya dengan hujjahnya sendiri, sedang Allah merupakan penggantiku untuk membalas setiap orang muslim. Dajal adalah dalam rupa seorang pemuda yang rambutnya keriting dan matanya buta. Sepertinya aku bisa menyerupakannya dengan Abdul Uzza bin Qathan. Siapa pun yang bertemu dengannya, hendaklah dia membaca permulaan surat Al-Kahfi. Dia akan muncul di tempat yang sepi antara Syam dan Irak. Lalu dia membuat kerusakan di sebelah kiri dan kanan. Wahai hamba-hamba Allah, teguhkanlah hati kalian!”&lt;br /&gt;Para sahabat sejenak tak ada satu pun yang berani menatap wajah beliau. Keheningan terpecahkan ketika salah seorang sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, berapa lama ia tinggal di bumi?”&lt;br /&gt;“Empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti sepekan. Dan seluruh harinya seperti hari-hari kalian,” jawab beliau.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, satu hari seperti satu tahun, apakah cukup bagi kami mendirikan shalat seperti shalat kami dalam satu hari?” tanya para sahabat serempak.&lt;br /&gt;“Tidak, tapi hitunglah sebagaimana mestinya menurut hitungan saat itu,” jawab Rasulullah dengan penuh kesabaran.&lt;br /&gt;“Berapa kecepatan Dajal dalam berjalan di bumi?” Tanya salah seorang sahabat dengan penuh penasaran.&lt;br /&gt;Sambil menatap salah seorang sahabat, beliau menjawab,“Kecepatan Dajal seperti hujan yang ditiup angin kencang. Ia mendatangi suatu kaum dan menyeru mereka, hingga mereka pun beriman kepadanya dan memenuhi seruannya. Ia lalu menyuruh langit untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan. Ia menyuruh bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka tumbuhlah tanaman itu. Binatang ternak mereka pulang pada petang hari, lebih panjang dan lebih gemuk dari keadaan sebelumnya serta lebih besar kantung susunya. Kemudian ia mendatangi suatu kaum dan menyerunya. Namun mereka mengingkari perkataannya. Ia lalu meninggalkan mereka dan pada keesokan harinya mereka kekeringan dan semua harta yang mereka miliki lenyap entah kemana.”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu melanjutkan penjelasan Dajal yang melewati suatu tempat yang telah luluh lantak. Dajal lalu berkata,’Keluarkan harta simpananmu!” Maka kekayaan tempat itu mengikuti Dajal seperti kumpulan lebah yang mengikuti pemimpinnya. Kemudian Dajal memanggil seorang pemuda, membabatnya dengan pedang hingga terbelah menjadi dua bagian, yang keduanya terpisah sejauh lemparan anak panah ke sasarannya. Dajal memanggil tubuh yang sudah terbelah itu, dan anehnya tubuh pemuda itu kembali menjadi seperti semula dengan wajah yang berseri menyunggingkan senyuman.&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti itu, lanjut Rasulullah SAW, Allah SWT lalu mengutus Al Masih Isa putra Maryam, turun di dekat menara berwarna putih di sebelah timur Damaskus, sambil mengenakan dua pakaian yang warnanya seperti celupan kunyit. Ia meletakan telapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Jika dia menundukan kepala, maka air hujan turun, dan jika dia mengangkat kepalanya, maka berjatuhan butiran-butiran air seperti mutiara. Orang kafir tidak diperbolehkan mencium bau, melainkan dia langsung mati ketika sekelebatan pandangan mereka tertuju pada Isa. Kemudian Isa mencarinya hingga menemukannya di dekat Pintu Lud dan membunuhnya. Kemudian ia menemui suatu kaum yang telah dijaga Allah dari Dajal itu. Isa bin Maryam lalu mengusap muka mereka dan memberitahukan derajat mereka di surga. Selagi keadaan seperti itu, Allah memberikan wahyu kepada Isa AS,”Sesungguhnya Aku sudah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak dapat ditundukan oleh siapa pun yang memerangi mereka. Karena itu selamatkanlah hamba-hamba-Ku dengan cara menaiki bukit.”&lt;br /&gt;Kemudian Allah mengutus Ya’juj dan Ma’juj beserta pasukannya yang datang dari tempat-tempat yang tinggi. Bagian depan pasukan berada di Telaga Thibriyah lalu meminum seluruh airnya. Ketika bagian akhir pasukan lewat di tempat ini, mereka berkata,’Sebelumnya di tenpat ini ada airnya.’ Nabi Isa Alaihis Salam beserta rekan-rekannya terkepung, hingga kepala salah seorang di antara kalian pada hari ini. Nabi Isa dan rekan-rekannya lalu berdoa kepada Allah, sehingga Allah mengirim cacing yang biasa menjangkiti hidung binatang ke tengkuk mereka, sehingga secara serentak mereka mati seperti matinya satu jiwa. Kemudian Nabi Isa dan rekannya turun ke bumi. Mereka tidak mendapatkan tempat sejengkal pun di bumi melainkan ada bangkai yang busuk. Isa dan rekan-rekannya lalu berdoa kepada Allah, lalu Allah mengirim burung-burung sebesar punuk unta lalu membawa bangkai-bangkai itu dan membawanya ke tempat mana pun yang dikehendaki Allah SWT.&lt;br /&gt;“Kemudian Allah mengirim hujan, sehingga tidak ada satu rumah pun melainkan tersiram air hujan itu, dan bumi dibersihkan hingga seperti cermin. Kemudian dikatakan pada bumi,’Tumbuhkanlah tanaman-tanamanmu dan kembalikan barakahmu!’ Maka pada hari itu sekelompok orang memakan buah delima dan bersama mereka bernaung di bawah kulitnya. Air susunya diberkahi sehingga seekor unta cukup bagi segolongan besar orang, seekor lembu cukup bagi penduduk satu kabilah, seekor kambing cukup bagi sekumpulan orang. Dalam keadaan seperti itu, Allah lalu mengirim angin yang baik lalu mengambil mereka di bawah hembusannya dan mencabut ruh setiap orang mukmin dan muslim. Sedangkan orang-orang kafir melakukan hubungan seksual seperti layaknya keledai. Maka kepada mereka inilah Kiamat ditimpakan,” sabda Rasulullah SAW kepada sahabat petang itu. (HR Muslim syarah Nawawi, Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan Mustadrak Hakim).&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;AK10.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Lelaki Terakhir Masuk Sorga&lt;br /&gt;Suatu hari orang-orang telah berkumpul di kediaman Rasulullah SAW untuk memperbincangkan syafa’at Rasulullah. Setelah mengucap salam, kemudian berkata,”Wahai Rasulullah, apakah kami melihat Tuhan kami pada hari kiamat?”&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan para sahabatnya itu, Rasulullah tersenyum dan lalu menjawab, ”Apakah kamu saling memadharatkan dalam melihat bulan pada malam purnama?”&lt;br /&gt;Para sahabat terdiam sejenak, mereka saling pandang tanda tidak tahu. Sejurus kemudian mereka menjawab serempak,”Tidak, wahai Rasulullah.”&lt;br /&gt;Rasulullah kemudian bersabda,”Apakah kamu saling memadharatkan matahari yang tidak berawan?”&lt;br /&gt;“Tidak, Wahai Rasulullah,” jawab para sahabat dengan kompaknya, tanda mereka benar-benar tidak mengetahuinya.&lt;br /&gt;“Maka sesungguhnya kamu akan melihat seperti itu. Allah yang akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat,” demikian sabda Rasul sambil menyitir firman Allah (hadits qudsi),”Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka hendaklah ia mengikutinya. Orang yang menyembah matahari, mengikuti matahari. Orang yang menyembah bulan, ia mengikuti bulan. Orang yang menyembah berhala, ia akan mengikuti berhala. Dan yang masih adalah umat ini yang di dalamnya ada orang yang dapat memberikan pertolongan atau orang-orang munafik,”.&lt;br /&gt;Rasulullah kemudian menceritakan tentang kedatangan Tuhan dalam rupa yang indah dan menemui seluruh umat manusia di hari kiamat nanti.“Allah datang kepada mereka dan berfirman,’Aku lah Tuhan mu’. Lalu mereka berkata,’Inilah tempatku sehingga Tuhan kami dating, kami mengenalnya.’&lt;br /&gt;Lalu Tuhan mereka, sabda Rasulullah selanjutnya, dalam bentuknya yang mereka kenal, dan berfirman,’Aku lah Tuhanmu,’ lalu mereka mengikuti-Nya, dan dipasanglah jembatan di antara dua tebing jahanam, lalu aku (Muhammad) dan umatku adalah orang yang pertama melewatinya.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu mengisahkan tentang betapa sunyinya hari kiamat. Pada hari itu tidak ada orang yang bercakap-cakap kecuali para Rasul. Pada hari itu para Rasul berdoa,”Wahai Allah, selamatkanlah, selamatkanlah”. Di Jahanam ada penyambar seperti duri sa’dan, hanya saja tidak tahu ukuran besarnya kecuali Allah, mereka menyambar manusia karena perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang dihancurkan karena perbuatannya, atau dicincang atau diampuni dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kemudian, jelaslah sehingga apabila Allah telah selesai memutusi diantara hamba-hamba Nya dan mengeluarkan mereka dari neraka.Bila Allah selesai memutus perkara segenap manusia, Dia berkenan mengeluarkan dari neraka orang-orang yang dikehendaki dengan rahmat-Nya. Dia memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang-orang yang tidak mensekutukan Tuhan, untuk diberi rahmat-Nya.&lt;br /&gt;Rahmat-Nya dari orang-orang yang menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. &lt;br /&gt;Para malaikat mengetahui mereka di neraka dengan bekas-bekas sujud. Kemudian mereka keluar dari neraka dengan telah terbakar.&lt;br /&gt;“Lalu air hidup ditumpahkan kepada mereka, mereka tumbuh di bawahnya, sebagaimana tumbuhnya biji-bijian di tanah yang terbawa banjir. Kemudian Allah menyelesaikan untuk memberikan keputusan di antara hamba-hamba. Dan yang masih ada dari mereka adalah seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka, dialah penghuni neraka yang terakhir masuk sorga,”sabda Rasulullah sambil mata Rasulullah berkaca-kaca.&lt;br /&gt;Beliau kemudian melanjutkan ceritanya,”Lelaki itu kemudian berkata pada Tuhan,’Wahai Tuhan, palingkanlah wajahku dari neraka. Sesungguhnya baunya telah menghancurkan aku. Nyala apinya telah membakar aku’. Maka ia berdoa kepada Allah dengan sesuatu yang ia kehendaki untuk berdoa kepada Nya. Kemudian Allah berfirman,’Jika hal itu aku berikan kepadamu, apakah barangkali kamu minta lagi kepadaku selainnya?’&lt;br /&gt;Lelaki itu lalu menjawab,’Tidak, demi kemuliaan Mu. Saya tidak minta lagi selamanya.’ Sang lelaki itu kemudian memberikan janji-janji kepada Tuhannya dengan sesuatu yang dikehendakinya. Kemudian Allah memalingkannya dari neraka. Ketika ia melihat sorga dan melihatnya, ia diam sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk diam, lalu dia berkata,’Wahai Tuhan, ajukanlah saya ke pintu sorga,’ &lt;br /&gt;Maka Allah berfirman kepada lelaki itu,”Bukankah kamu telah memberikan janji-janji untuk selama-lamanya selain apa yang telah diberikan kepadamu? Celaka lah wahai anak Adam, alangkah hianatmu!”&lt;br /&gt;Lelaki itu kemudian berkata,”Wahai Tuhan,” dan dia berdoa kepada Allah sehingga Ia berfirman,”Jika kamu telah diberi hal itu, apakah barangkali kamu minta selainnya?”&lt;br /&gt;“Tidak. Demi kemuliaan Mu, saya tidak minta selainnya,” jawab lelaki itu. Dan ia lalu memberikan janji-janji sesuai dengan apa yang dikehendaki Nya, maka Tuhan mengajukannya ke pintu sorga. Ketika ia telah berdiri di pintu sorga, tampaklah sorga itu baginya. Maka ia melihat kesenangan di dalamnya, maka ia diam sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk diam.&lt;br /&gt;Kemudian ia berkata,”Wahai Allah, masukanlah aku ke sorga.”&lt;br /&gt;Maka Allah berfirman,”Bukankah kamu telah memberikan janji-janji untuk tidak minta selain apa yang telah Aku berikan kepadamu. Celakalah kamu wahai anak Adam!Alangkah hianatnya kamu!”&lt;br /&gt;“Wahai Tuhan, janganlah aku menjadi hamba-Mu yang paling celaka,” rengek lelaki malang itu dengan penuh ketakutan seraya terus berdoa pada Tuhan.&lt;br /&gt;Melihat hambanya yang satu ini, Tuhan tertawa, Dia lalu berfirman,”Masuklah kamu ke sorga!”. Ketika ia memasukinya, Allah melanjutkan firmannya,”Bercita-citalah!”. Maka ia kembali memohon kepada Tuhan dan cita-citanya, sehingga Allah menyebutkannya dan berfirman kepadanya,”Bercita-citalah demikian dan demikian, sehingga habis cita-citanya.”&lt;br /&gt;Allah kemudian melanjutkan firman-Nya,”Itulah untukmu dan bersamamu itu mendapat lagi yang sama.”&lt;br /&gt;Setelah mengisahkan seluruh kejadian yang menimpa sang lelaki malang itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda,”Itulah seorang lelaki penghuni sorga yang paling akhir masuk sorga.” (HR Bukhari) &lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;AK08.MutiaraRasul.Safa’atRasulullahSAW.AST&lt;br /&gt;Syafa’at Rasulullah SAW&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Rasulullah SAW dibawakan sebuah daging bakar berupa paha kesukaannya. Beliau menggigitnya sekali, lalu bersabda: “Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian apa sebab demikian?”&lt;br /&gt;Pertanyaan Rasulullah SAW menyentak para sahabatnya tertegun diam seribu bahasa. Kemudian ia melanjutkan perkataannya.&lt;br /&gt;“Pada hari kiamat, Allah SWT mengumpulkan semua manusia, baik orang-orang yang terdahulu maupun yang datang kemudian, pada suatu tempat. Ada penyeru yang memperdengarkan pada mereka dan penglihatan yang mengawasi mereka. Matahari begitu dekat, sehingga sampalah manusia pada puncak kesusahan dan kepayahan yang tidak kuasa mereka tanggungkan serta mereka pikul. Sebagian manusia akan berkata kepada sebagian yang lain:’Tidakkah kalian tahu apa yang sedang kalian alami?Tidakkah kalian tahu kepayahan yang telah menimpa kalian? Tidakkah kalian mempunyai pandangan siapa yang dapat memintakan syafaat kepada Tuhan kalian?”&lt;br /&gt;Orang-orang berkata satu sama lain:&lt;br /&gt;“Datanglah kepada Adam”.&lt;br /&gt;Mereka pun datang kepada Adam dan berkata: “Hai Adam! Engkau adalah Bapak manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan roh-Nya ke dalam dirimu. Dia juga memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”&lt;br /&gt;Adam berkata: ‘Sungguh, pada hari ini Tuhan sedang marah, dengan kemarahan yang belum pernah terjadi mendekati sebatang pohon, tetapi aku mendurhakai-Nya. Diriku, diriku! Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Nuh!’&lt;br /&gt;Mereka mendatangi nabi Nuh Alaihis Salam, dan mereka bertanya kepadanya:&lt;br /&gt;”Wahai Nuh! Engkau adalah rasul pertama di atas bumi dan Allah menyebutmu hamba yang banyak bersyukur. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang akan kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”&lt;br /&gt;Nuh kemudian menjawab:“Pada hari ini, Tuhanmu marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya. Dulu, aku berdoa dengan doa yang mencelakakan kaumku. Diriku, diriku! Pergilah kalian pada Ibrahim Alaihis Salam!”&lt;br /&gt;Mereka pun lalu mendatangi Ibrahim Alaihis Salam dan berkata:”Engkau adalah Nabi dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang akan kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami?”&lt;br /&gt;Ibrahim Alaihis Salam yang menyaksikan orang sebanyak itu, kemudian menjawab:“Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya.—dan Ibrahim menyebutkan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukannya dalam hidup(diulangnya sampai tiga kali)--. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada selain diriku! Pergilah kepada Musa!”&lt;br /&gt;Mereka pun lantas mendatangi Musa Alaihis Salam dan berkata:”Hai Musa! Engkau adalah utusan Allah. Allah telah mengutamakanmu dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, melebihi manusia lain. Mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu! Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”&lt;br /&gt;Nabi Musa yang mendapat pertanyaan semacam itu, kemudian menjawabnya:&lt;br /&gt;”Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar, kemarahan yang belum pernah terjadi dan tidak akan terjadi sesudahnya. Dulu, aku membunuh orang, padahal aku tidak diperintahkan membunuhnya. Diriku, diriku! Pergilah kalian kepada Isa Alahis Salam!”&lt;br /&gt;Mereka pun mendatangi Isa Alahis Salam berharap mendapat pertolongan, seraya berkata:“Hai Isa! Engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia selagi engkau masih berada dalam buaian. Engkau adalah Kalimah-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, dan roh dari-Nya. Karena itu, mintakanlah kami syafa’at kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”&lt;br /&gt;Isa Alaihis Salam yang mendapat giliran pertanyaan dari umat manusia yang sedikian banyaknya kemudian menjawab:“Sungguh, pada hari ini Tuhan marah besar. Kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya—tetapi ia tidak menyebutkan dosanya, seperti Ibrahim, Nuh dan Musa --. Diriku, diriku! Pergilah kepada orang lain! Pergilah kepada Muhammad SAW!”&lt;br /&gt;Mereka mendatangiku dan berkata:”Hai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampunimu, dosa yang dahulu dan kemudian. Syafa’atilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah kami derita?”&lt;br /&gt;Aku pun kemudian berangkat kepada Allah SWT. Sesampai di bawah Arsy aku bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan kepadaku dan memberiku ilham, berupa puji-pujian bagi-Nya dan sanjungan kepada-Nya. Sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelumku. Aku menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya.&lt;br /&gt;Kemudian Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”&lt;br /&gt;Aku berkata:”Wahai Tuhanku! Ummatku, ummatku!”&lt;br /&gt;Difirmankan kepadaku:”Berangkatlah! Barangsiapa di dalam hatinya terdapat iman, meski hanya seberat biji sawi, engkau boleh mengeluarkannya dari neraka.”&lt;br /&gt;Aku pun berangkat dan melaksanakan perintah Allah SWT. Sesudah itu aku kembali kepada-Nya, memuji-Nya dengan puji-pujian yang tadi, lalu menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya.&lt;br /&gt;Diceritakan, Muhammad sampai empat kali mengambil umat manusia yang beriman, walau imannya sebesar biji sawi(dzarah) dari neraka. Setelah itu Muhammad kembali menjatuhkan diri bersujud kepada-Nya. Lalu di firmankan kepada Ku: &lt;br /&gt;Kemudian Allah SWT berfirman:”Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, engkau pasti kuberi. Berikanlah syafa’at! Syafa’atmu pasti diterima!”&lt;br /&gt;Aku kemudian berkata:”Wahai Tuhanku, berilah aku izin memberi syafa’at kepada orang yang hanya mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH.”&lt;br /&gt;Allah kemudian berfirman: ”Itu bukan bagianmu! Tetapi, demi kemuliaan-Ku, demi kebesaran-Ku, demi keagungan-Ku dan demi kekuasaan-Ku; Aku pasti mengeluarkan orang yang mengucap LAA ILAAHA ILLALLAAH.”&lt;br /&gt;Dalam sumber hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, diceritakan bahwa Allah SWT kemudian menjawab puji-pujian Muhammad SAW itu dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;”Hai Muhammad! Masuklah ke sorga dari ummatmu, orang-orang yang tidak harus dihisab melalui pintu kanan di antara pintu-pintu sorga. Mereka juga bisa masuk bersama orang-orang lain(Ahli sorga yang bukan termasuk golongan di atas) dari pintu-pintu lain.Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad! Sesungguhnya jarak antara dua sisi pintu sorga itu sama dengan jarak antara Mekkah dan Hajar(kota di Bahrain), atau sama dengan jarak kota Mekkah dan Bushra (dekat Damaskus).” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;Kata Mutiara:&lt;br /&gt;Dari Anas r.a, Rasulullah bersabda,”Tidak (sempurna) iman seseorang kamu, sebelum ia lebih mencintai aku dari pada mencintai ibu-bapaknya, anaknya dan manusia umumnya.” (HR Bukhari). &lt;br /&gt;Ak07.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Pelajaran Hakikat Rasulullah&lt;br /&gt;Rasulullah SAW terlambat hadir di masjid untuk mengimami shalat Subuh, karena bermimpi mendapat pelajaran hakikat dari Alah SWT.&lt;br /&gt;Sejak adzan Subuh berkumandang sampai menjelang fajar, Rasulullah SAW belum muncul di masjid. Para sahabat sudah gelisah. Beberapa sahabat diutus menemui Rasulullah SAW di rumahnya. Namun yang lain mencegah, sebab mereka yakin Rasulullah SAW akan hadir. Maka mereka pun menunggu Rasulullah SAW sembari membaca Al-Quran.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Rasulullah SAW masuk ke masjid dan memerintahkan salah seorang sahabat membaca iqamat. Kemudian beliau menjadi imam dan mempercepat shalatnya. Seusai salam, beliau membaca doa dengan suara keras. Suaranya yang jernih penuh wibawa menggetarkan para jemaah. Lalu beliau bersabda, ”Tetaplah kalian berada di shaf masing-masing.”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu menghadap ke arah jamaah dengan pandangan yang sejuk. Wajahnya yang putih bersinar menandakan suasana hati yang sedang gembira. Matanya yang indah dan tajam menatap jamaah satu per satu. Para jamaah tertunduk, tak berani menatap wajah Rasulullah SAW yang agung.&lt;br /&gt;Sejurus kemudian beliau bersabda, ”Aku akan memberi tahu kalian apa yang membuatku terlambat datang. Semalam aku bangun mengambil air wudhu, lalu mendirikan shalat. Dalam shalatku aku tertidur karena kantuk yang amat berat. Ternyata aku bermimpi bersama Allah SWT dalam rupa yang sangat gemilang.”&lt;br /&gt;Setelah diam sejurus, beliau meneruskan sabdanya, “Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad!’ Aku menjawab, ‘Labbaika ya Rabbi’.”&lt;br /&gt;”Mengapa para malaikat berselisih?”&lt;br /&gt;“Hamba tidak tahu.”&lt;br /&gt;Lalu Rasululah SAW melanjutkan ceritanya, “Allah SWT bertanya sampai tiga kali. Kulihat Dia meletakkan telapak-Nya di atas bahuku, hingga dapat kurasakan dingin jari-jari-Nya di dadaku. Segala sesuatu tampak jelas di depanku, dan aku mengetahuinya. Lalu Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad...’.”&lt;br /&gt;”Labbaika ya Rabbi.”&lt;br /&gt;“Tentang apa para malaikat berselisih?”&lt;br /&gt;”Tentang penebus-penebus dosa.”&lt;br /&gt;”Apa penebus dosa-dosa itu?”&lt;br /&gt;”Langkah menuju kebaikan, duduk di masjid setelah shalat, mengguyurkan air wudhu pada saat-saat tidak disukai.”&lt;br /&gt;”Tentang apa mereka berselisih?”&lt;br /&gt;”Tentang memberi makan, ucapan yang lemah lembut, shalat malam ketika manusia tidur nyenyak.”&lt;br /&gt;”Mintalah!”&lt;br /&gt;”Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu taufik untuk mengerjakan hal-hal yang baik, meninggalkan yang munkar, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku jika Engkau hendak menimpakan cobaan.”&lt;br /&gt;Setelah itu Rasulullah SAW membaca sebuah doa pendek yang semalam dipanjatkan kepada Allah SWT, ”Allahuma inni as-aluka khubaka wa hubba man yukhibbuka wa kulla ‘amalin yuqarribuni illa khubbika.” (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kecintaan-Mu dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan kepada amal yang mendekatkan kepada kecintaan kepada-Mu).&lt;br /&gt;Kemudian, dengan suara sangat pelan – sementara matanya yang mulia berkaca-kaca – Rasulullah SAW mengakhiri sabdanya, ”Ini adalah pelajaran hakikat. Maka pelajarilah!”&lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah SAW bersabda, “Iman adalah kesabaran dan suka memaafkan.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hiban)&lt;br /&gt;Ak-06 MutiaraRasul.AST&lt;br /&gt;Amal yang diterima Allah SWT&lt;br /&gt;Setiap amal seseorang akan melewati tujuh langit sebelum diterima oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;Pada setiap langit, malaikat penjaga pintu langit akan memeriksa setiap amal hamba-Nya&lt;br /&gt;Muadz bin Jabbal suatu ketika bertemu dengan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Muadz! Sekarang aku akan mengisahkan kepadamu, bila engkau menghafal dan menjaganya akan sangat berguna bagimu. Tapi jika engkau menganggap remeh, maka kelak di hadapan Allah SWT, engkau tidak mempunyai hujjah (alasan) apa pun juga.”&lt;br /&gt;Muadz bin Jabbal mendengarkan dengan cermat setiap perkataan Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan sabdanya, ”Wahai Muadz! Sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi, Allah SWT telah menciptakan tujuh malaikat yang bertugas sebagai penjaga pintu langit. Setiap langit mempunyai seorang malaikat penjaga. Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk mencatat amalan hamba-Nya dan kemudian sang malaikat penjaga membawa catatan amalan tersebut ke langit.”&lt;br /&gt;Rasulullah menceritakan tentang sampainya amal seorang hamba ke langit pertama. Sesampainya di langit pertama, malaikat Hafazhah memuji amalan hamba. Akan tetapi malaikat penjaga pintu berkata pada malaikat Hafazhah, ‘Tamparkan amalan ini ke muka pemiliknya! Aku adalah malaikat penjaga orang-orang yang suka mengumpat atau riba. Aku diperintahkan Allah agar menolak amalan orang yang suka mengumpat atau riba untuk melewati pintu berikutnya.’&lt;br /&gt;Di pintu kedua, terdapat malaikat khusus yang memeriksa, apakah amalan si hamba untuk mengharapkan dunia, dan bila amalan tersebut untuk kepentingan dunia, maka akan ditolak untuk dilaporkan ke atas. &lt;br /&gt;Di pintu ketiga, malaikat memeriksa amal apa pun yang dilakukan oleh manusia. Bila orang yang beramal memiliki sifat sombong, maka malaikat penjaga akan berkata, ‘Berhenti! Dan lemparkan amalan itu ke wajah pemiliknya! Aku malaikat penjaga kibr (sombong), Allah SWT memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku dan tidak disampaikan kepada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri. Ia sombong di dalam majelis.’&lt;br /&gt;Di hari yang lain, malaikat Hafazhah membawa amalan seorang hamba yang sangat banyak, tapi semuanya tertolak karena amalan tersebut dibarengi sifat ujub atau kesombongan pelakunya. Di hari yang lain lagi, saat amalan seorang hamba naik ke langit. Malaikat penjaga langit kelima akan menolaknya dengan berkata, ’Aku malaikat penjaga sifat hasad (iri). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka iri pada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah. Berarti ia membenci yang meridhainya, yaitu Allah SWT. Aku diperintahkan agar amalan semacam itu tidak melewati pintuku.’&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang lain, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan hamba. Setelah lolos dari langit pertama hingga langit kelima. Tetapi sesampainya di langit keenam malaikat penjaga pintu berkata, ‘Aku malaikat penjaga Rahmat. Amalan yang kelihatan bagus itu tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain. Bahkan apabila ada orang yang terkena musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amalan ini tidak melewati pintuku untuk diteruskan ke langit berikutnya.’&lt;br /&gt;Hari yang lain malaikat Hafazhah naik ke langit dengan membawa amalan seorang hamba. Akan tetapi sesampainya di langit ketujuh, malaikat penjaga pintu langit berkata, ‘Aku malaikat penjaga sum’ah (ingin dikenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran di dalam setiap perkumpulan. Menginginkan derajat yang tinggi di kala berkumpul dengan kawan. Ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amalan tersebut tidak melewati pintu ini.’&lt;br /&gt;Di kemudian hari, malaikat Hafazhah naik ke langit membawa berbagai amalan hamba dari langit pertama hingga langit ketujuh. Amalan tersebut telah lolos dari para malaikat penjaga. Amalan yang terdiri dari shalat, puasa, zakat, tilawatil Quran, haji, shadaqah dll, tampak berkilau bagai cahaya yang terang. Malaikat Hafazhah selanjutnya menembus hijab hingga sampai di hadapan Allah SWT. Seluruh malaikat menyaksikan amalan itu. Amalan ibadah itu soleh dan diikhlaskan karena Allah. &lt;br /&gt;Lalu Allah berfirman, ‘Wahai Hafadzah! Malaikat penjaga amal hamba-Ku! Aku lah Allah yang mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk-Ku. Tetapi ia beramal untuk selain-Ku. Bukan diniatkan untuk-Ku.’&lt;br /&gt;Dan selanjutnya, Allah SWT melanjutkan firman-Nya, ‘Mereka telah menipu orang lain dan juga kalian. Aku tidak tertipu. Aku mengetahui yang ghaib. Aku melaknatnya!’&lt;br /&gt;Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat yang hadir kemudian berkata, ‘Ya Allah, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.’&lt;br /&gt;Kemudian semua yang ada di langit mengucapkan, ‘Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknatnya orang-orang yang melaknat!’&lt;br /&gt;Mendengar semua kisah yang diceritakan oleh Rasulullah SAW itu, dengan sambil menangis Muadz bertanya, ”Ya Rasulullah! Bagaimana aku bisa selamat dari semua yang engkau ceritakan?”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menjawab, ”Wahai Muadz! Ikutilah nabimu dalam hal keyakinan.”&lt;br /&gt;Muadz bertanya lagi, ”Engkau adalah Rasulullah SAW dan aku adalah Muadz bin Jabbal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menerangkan, ”Memang begitulah bila ada kekurangan dalam amal ibadahmu, maka jagalah lisanmu jangan sampai menjelekkan orang lain, terutama para auliya mu. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu penuh dengan aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan orang lain. Jangan menonjolkan diri dengan menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan ria dalam beramal. Jangan mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di dalam majelis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka mengungkit-ungkit kebaikan dan jangan menghancurkan pribadi orang lain. Kelak engkau akan dirobek-robek dalam jahanam!”&lt;br /&gt;Beliau kemudian membaca firman Allah, ”Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras. Kalian mau tahu seperti apa orang yang dicabut nyawanya, bagaikan orang yang menarik daging dari tulang.”&lt;br /&gt;Mendengar semua keterangan ini, Muadz masih bertanya, ”Ya Rasulullah! Siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam itu?”&lt;br /&gt;Rasulullah menjawab, ”Muadz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan bencilah terhadap yang engkau benci. Dengan demikian engkau akan selamat.” &lt;br /&gt;AST, dari Ihya’ Ulumuddin, Babul Amal.&lt;br /&gt;Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab RA, Rasulullah bersabda, “Setiap amal seseorang tergantung niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;AK5.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Jaminan Rasulullah SAW&lt;br /&gt;Setelah mendapat jaminan Rasulullah SAW, Ikrimah akhirnya memeluk Islam. Ia menjadi seorang muslim yang patuh pada Rasulullah dan syahid dalam perang Yarmuk&lt;br /&gt;Abu Isha As-Ayabi’i meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, Ikrimah berkata,”Aku tidak akan tinggal di tempat ini!”&lt;br /&gt;Dia lalu pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantu mengemasi barang-barang yang akan dibawa serta. Melihat gelagat suaminya itu hendak pergi, lalu sang isteri berkata,”Hendak kemana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy? Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?”&lt;br /&gt;Ikrimah kemudian melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya. Maka isteri Ikrimah bergegas menemui Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah. Ia kemudian berkata,”Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau baginda akan membunuhnya. Justeru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”&lt;br /&gt;“Dia akan berada dalam keadaan aman,” jawab Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Mendengar jaminan Rasulullah SAW itu, lalu isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya.&lt;br /&gt;Sementara itu Ikrimah telah sampai ke pelabuhan dan siap menaiki kapal. Melihat salah satu penumpangnya berwajah muram, pengemudi kapal itu berkata pada Ikrimah,”Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!”&lt;br /&gt;“Apakah yang harus aku ikhlaskan?” Ikrimah balik bertanya.&lt;br /&gt;“Ikhlaskanlah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah!” kata pengemudi kapal itu.&lt;br /&gt;“Tidak, justeru aku melarikan diri karena ucapan itu,” jawab Ikrimah.&lt;br /&gt;Selepas itu datanglah isterinya dan berkata,”Wahai Ikrimah putera bapa saudaraku! Aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama. Dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah SAW.”&lt;br /&gt;“Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?” tanya Ikrimah memastikan jaminan Rasul SAW itu. &lt;br /&gt;“Benar, aku telah berbicara dengan baginda dan baginda pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu,”jawab istrinya.&lt;br /&gt;Mendengar berita gembira dari isterinya itu pada malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan persetubuhan dengan isterinya. Akan tetapi isterinya menolaknya sambil berkata,”Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim.”&lt;br /&gt;“Penolakan kamu itu adalah satu masalah besar bagiku,” kata Ikrimah.&lt;br /&gt;Malam itu Ikrimah tidak jadi berhubungan suami isteri. Beberapa hari kemudian mereka pulang kembali ke Mekkah. Begitu mendengar berita Ikrimah dan isteri kembali ke Mekkah, Rasulullah SAW segera menemuinya. Karena rasa kegembiraan yang tidak terkira itu membuat Rasulullah SAW sampai lupa memakai serbannya.&lt;br /&gt;Setelah bertemu dengan Ikrimah, beliau pun duduk. Ketika itu Ikrimah berserta dengan isterinya berada di hadapan Rasulullah SAW. Ikrimah langsung membuka perbincangan,”Sesungguhnya aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah utusan Allah.”&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Ikrimah itu, Rasulullah SAW sangat gembira, wajahnya bertambah cerah.&lt;br /&gt;”Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan,” kata Ikrimah.&lt;br /&gt;”Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya,”jawab Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;“Selepas itu apa lagi?” tanya Ikrimah.&lt;br /&gt;“Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya,”jawab Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Ikrimah pun kemudian mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Selepas itu beliau bersabda,”Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, niscaya aku akan mengabulkannya.”&lt;br /&gt;“Aku memohon kepadamu ya Rasulullah. Supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah SWT, atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu. Setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu,” pinta Ikrimah.&lt;br /&gt;Mendengar permintaan Ikrimah, Rasulullah SAW lalu berdoa,”Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuhan denganku. Setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung denganku mau pun tidak.”&lt;br /&gt;Mendengar doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW itu, hati Ikrimah menjadi gembira. Seketika itu juga ia berkata,”Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya. Aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”&lt;br /&gt;Janji Ikrimah kemudian dibuktikan ketika terjadi Perang Yarmuk. Ia ikut serta berperang sebagai pasukan perang yang berjalan kaki. Pada waktu itu Khalid bin Walid memperingatkan,”Jangan kamu lakukan hal itu, karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”&lt;br /&gt;“Wahai Khalid! Kamu dahulu pernah ikut berperang bersama Rasalullah SAW. Maka biarkan aku lakukan!” jawab Ikrimah.&lt;br /&gt;Ikrimah tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. &lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud pula berkata,“Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata, ‘Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku.’ Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.” &lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;AK5.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Rasulullah SAW Dibantu Jin Muslim&lt;br /&gt;Rasulullah SAW dituduh sebagai pembohong oleh setan yang merasuk ke dalam berhala. Gantian jin muslim merasuk ke dalam berhala, menyatakan kebenaran Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Suatu hari, Rasulullah SAW menerima wahyu Allah SWT berupa ayat 1-10 surah Al-Mudattsir, yang memerintahkan agar berdakwah secara terang-terangan. Maka beliau pun segera mengumpulkan kaum Quraisy Makkah di Bukit Abu Qubays. ”Wahai kaum Quraisy, katakanlah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”&lt;br /&gt;Mendengar dakwah itu, serta merta mereka berlalu sambil bersungut-sungut, bahkan sebagian di antaranya marah. Mereka lalu berkumpul di Dar Al-Nadwah membicarakan dakwah Rasul yang menurut mereka aneh. ”Muhammad telah mencerca tuhan kita. Ia mengajak kita menyembah Tuhannya. Kita harus cari akal untuk memperdayainya,” kata salah seorang di antaranya. Di antara mereka tampak beberapa gembong kafir Quraisy seperti Al-Walid bin Harits, Shafwan bin Umayah, Kaab bin Asyraf, dan Abu Jahal.&lt;br /&gt;Satu per satu mereka yang hadir ditanya, apa yang telah dikatakan oleh Muhammad. Mereka rata-rata menjawab, Muhammad adalah penyihir, gila, dan mengambil kesempatan untuk mencari kedudukan. Pada umumnya mereka sangat marah mendengar dakwah Rasulullah SAW. Mereka mencaci dan memperolok-olok beliau.&lt;br /&gt;Ketika tiba giliran Al-Walid bin Harist, ia menjawab, ”Aku tidak punya pendapat apa-apa.” Tapi, jawaban itu dianggap membela Muhammad. Karena itu mereka memperolok, mengejek, dan mencaci maki Al-Walid. Maka Al-Walid pun dengan lantang berkata,”Tangguhkanlah penghinaan kalian selama tiga hari!”&lt;br /&gt;Al-Walid adalah salah seorang pedagang Makkah yang kaya raya. Seperti halnya warga kafir Makkah yang lain, ia juga punya berhala sesembahan. Ia punya dua buah berhala yang bentuknya lebih bagus ketimbang berhala yang lain, karena terbuat dari emas dan perak, bertatahkan intan permata. Kedua berhala itu ditaruh di sebuah rumah khusus.&lt;br /&gt;Selama tiga hari berturut-turut, tanpa makan-minum, ia menyembah berhala emasnya dengan harapan sang berhala dapat memberi jalan keluar mengenai dakwah Muhammad. Ia berkata kepada kedua berhala itu, ”Aku telah menyembahmu selama tiga hari. Aku sangat berharap agar engkau memberitahuku perihal dakwah Muhammad!”&lt;br /&gt;Kesempatan itu dipergunakan oleh setan dengan merasuk ke dalam patung dan menggerakkan mulutnya. ”Sesungguhnya Muhammad bukanlah nabi. Kamu jangan membenarkan apa yang ia katakan!” kata berhala itu. Al-Walid menyangka berhala itu benar-benar berbicara. Betapa gembiranya dia. Maka ia pun buru-buru memberi tahu kaum kafir Quraisy bahwa ia sudah menemukan kebohongan Muhammad lewat mulut berhalanya.&lt;br /&gt;Betapa sedih Rasulullah SAW mendengar ejekan kaumnya. Maka turunlah Malaikat Jibril. ”Wahai Muhammad, ejekan itu berasal dari Al-Walid bin Harits,” kata Jibril. Ketika mendatangi Al-Walid dan kawan-kawannya, Rasulullah SAW ditertawakan sejadi-jadinya. &lt;br /&gt;”Kami tidak akan menghiraukan kamu, pembohong!” kata mereka serempak. Bersamaan dengan itu, mereka mengumpulkan beberapa berhala dan menghiasinya, lalu menyembahnya dengan bersujud.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW, yang saat itu bersama Abdullah bin Mas’ud, duduk-duduk saja dekat orang-orang kafir yang sedang menyembah berhala tersebut. Ketika itu setan datang lagi dan mengulangi kata-kata sebagaimana pernah diucapkan lewat berhala Al-Walid. Semua yang hadir, termasuk Rasulullah SAW dan Abdullah bin Mas’ud, mendengarnya. &lt;br /&gt;Abdullah yang ketakutan berkata, ”Wahai Rasulullah, apa yang baru saja dikatakan oleh berhala itu?” Dengan tenang Rasulullah SAW menjawab, “Janganlah engkau takut, karena yang berkata itu adalah setan.”&lt;br /&gt;Jin Muslim&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Rasulullah SAW kembali menemui orang-orang kafir itu. Di tengah jalan, beliau bertemu seseorang – mengendarai kuda serta mengenakan jubah hijau dan – yang menyalaminya. ”Wahai penunggang kuda, siapakah kamu sebenarnya? Aku heran mendengar salammu kepadaku,” kata Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;“Aku Muhair bin Habbar, keturunan jin, tinggal di Bukit Thursina, dan telah lama megembara. Aku sudah memeluk Islam (syariat dari Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad, yang pada hakikatnya sama dengan syariat yang diturunkan kepada beliau) sejak zaman Nabi Nuh. Ketika pulang, kudapati istriku menangis. Katanya, setan Musfir telah berdusta, sehingga Muhammad SAW diejek dan diperolok-olok oleh para penyembah berhala. Aku lalu mencari Musfir, dan menemukannya di antara Bukit Shafa dan Marwah. Kami berkelahi dan aku berhasil membunuh setan yang menyerupai anjing itu,” kata jin itu.&lt;br /&gt;Mendengar penuturan tersebut, Rasulullah SAW mendoakannya dengan doa kebaikan. Lalu jin muslim itu menawarkan diri kepada Rasulullah SAW untuk merasuk ke dalam tubuh patung milik Al-Walid untuk mempermainkan orang kafir. “Baiklah, kalau memang itu cara terbaik untuk menyadarkan mereka,” jawab Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, seperti hari-hari biasanya, orang-orang kafir Makkah berkumpul dan menghiasi serta menyembah berhala-berhala mereka. Tak lupa mereka minta agar berhala-berhala itu membuktikan bahwa Muhammad adalah pembohong. Tiba-tiba patung yang paling besar dan indah berbicara, ”Wahai warga Makkah, ketahuilah, sesungguhnya Muhammad itu benar, dan mengajak kepada kebenaran, sedangkan kalian dan berhala-berhala ini semua adalah batil. Jika tidak beriman kepada Muhammad, kalian akan masuk neraka jahanam!”&lt;br /&gt;Mendengar patung itu bisa bicara, terkejutlah kaum kafir Quraisy Makkah. Apalagi kata-kata yang diucapkannya tidak sebagaimana yang mereka harapkan. Tak ayal, mereka pun bimbang. Bahkan beberapa di antara mereka, diam-diam, mulai mempercayai kenabian Muhammad SAW. &lt;br /&gt;Abu Jahal, tokoh kafir Qurasy, murka. Ia segera mengangkat dan membanting berhala yang bisa bicara itu hingga hancur. Kepingan-kepingan itu diinjak-injaknya, bahkan kemudian sempat ia kumpulkan sisa-sisanya untuk dibakar. Melihat kejadian itu, Rasulullah SAW pun pulang dengan perasaan lega; sementara jin muslim Muhair bin Habbar, yang diganti namanya oleh Rasulullah dengan Abdullah bin Abhar, segera berlalu.&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jujur itu menimbulkan ketenangan, sedangkan dusta mengakibatkan kebimbangan.” (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;AK3.Mutiara Rasul.AST &lt;br /&gt;Terjebak ke Lubang Jebakan Sendiri&lt;br /&gt;Berkali-kali Abu Jahal gagal membunuh Rasulullah SAW. Ia lalu merencanakan membunuh beliau dengan menjebaknya ke dalam sebuah lubang yang dalam, tapi ia sendiri terperosok ke dalamnya.&lt;br /&gt;Semalaman Abu Jahal menggali lubang di depan pintu masuk rumahnya. Begitu selesai, ia menutupinya dengan ranting-ranting pohon kurma, dan menaburinya dengan rumput. Lalu, di atasnya lagi ia taburkan tanah tipis, sehingga tak seorang pun menyangka lubang itu merupakan jebakan. Jika ada orang menginjaknya, biarpun seorang anak kecil, pasti ia terjerembab ke dalamnya.&lt;br /&gt;Setelah semua persiapan selesai, Abu Jahal menyuruh salah seorang pembantunya menemui Rasulullah SAW, mengabarkan bahwa ia sedang sakit. Ia lalu berbaring di tempat tidur, pura-pura sakit keras. Rasulullah SAW, yang mendengar Abu Jahal sakit keras, segera menjenguknya. Walaupun Abu Jahal selalu mengejek, mencaci maki, dan pernah berusaha membunuhnya, beliau tetap bersikap baik.&lt;br /&gt;Dengan tenang dan berwibawa, Rasulullah SAW tanpa curiga sedikit pun melangkah. Ketika langkah beliau kira-kira tinggal sejengkal lagi dari jebakan itu, Rasulullah SAW dibisiki oleh Malaikat Jibril bahwa Abu Jahal telah mempersiapkan lubang jebakan yang hampir saja diinjaknya. Jibril juga menyarankan agar beliau pulang saja, mengurungkan niatnya menjenguk Abu Jahal, karena ia sebenarnya tidak sakit.&lt;br /&gt;Mendengar saran Jibril itu, beliau pulang. Mengetahui Rasulullah SAW tidak jadi masuk ke rumahnya, tanpa pikir panjang ia segera melompat dari tempat tidur, bergegas mengejar Rasulullah SAW. “Hai, Muhammad! Kemarilah, kemari!” teriaknya berkali-kali. Dengan tergopoh-gopoh ia membuka pintu. Ia sama sekali lupa bahwa ia telah membuat jebatan di depan pintu rumahnya.&lt;br /&gt;Ketika kakinya menginjak jebakan yang dibuatnya sendiri itu, terdengarlah bunyi ranting-ranting kering yang terinjak, ”Kraaak...! Bum...!” Abu Jahal terperosok ke dalam lubang jebakan yang digalinya sendiri. Di dalamnya yang ada hanyalah suasana yang gelap dan pengap, sementara rasa sakit dan dongkol menjalar dari kakinya yang kekar ke sekujur tubuh. Tangannya mencoba menggapai bibir lubang, namun seluruh daya upayanya nihil. ”Tolong-tolong!” teriaknya berkali-kali. &lt;br /&gt;Semakin Terperosok&lt;br /&gt;Mendengar teriakan minta tolong itu, beberapa pembantunya berdatangan mendekat ke arah lubang di depan pintu. Mereka melihat majikannya terpuruk ke dalam lubang yang gelap dan pengap itu. Maka beramai-ramailah mereka menolongnya. Tapi, usaha mereka sia-sia. Berbagai cara mereka tempuh, dengan tangga dan tali panjang, namun tetap tak tergapai oleh tangan Abu Jahal. Ia semakin dalam terperosok ke dalam lubang.&lt;br /&gt;Akhirnya Abu Jahal menyadari, keselamatan jiwanya terancam. Maka segeralah ia berteriak sekuat tenaga, “Pergilah kepada Muhammad! Mintalah ia menolongku! Sebab, tidak ada orang yang bisa menolongku kecuali dia.” Maka dengan langkah tergopoh-gopoh, salah seorang pembantunya menghadap Rasulullah SAW menyampaikan keadaan dan pesan majikannya.&lt;br /&gt;Dengan bijaksana, Rasulullah SAW memaklumi apa yang sedang terjadi. Bahkan beliau pun segara memaafkan, dan bersedia menolong Abu Jahal, yang berkali-kali telah berusaha mencelakakannya. Maka beliau pun bergegas ke rumah Abu Jahal. Ketika Rasulullah SAW tiba, Abu Jahal merengek, “Wahai Muhammad, jika engkau berhasil mengeluarkan aku, aku akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”&lt;br /&gt;“Baiklah,” jawab Rasulullah SAW dengan nada suara yang halus dan berwibawa. Beliau lalu mengulurkan tangan kanannya ke dalam lubang yang sangat dalam itu. Dan Abu Jahal pun bisa keluar dari lubang jebakan yang dibuatnya sendiri, selamat tak kurang suatu apa. Berkat mukjizat dari Allah SWT, Rasulullah SAW mampu mengeluarkan Abu Jahal hanya dengan sekali angkat. &lt;br /&gt;Tapi, dasar gembong kafir. Rupanya hati Abu Jahal memang sudah tertutup dari hidayah. Begitu selamat, ia malah mengejek Rasulullah SAW, “Wah, hebat benar sihirmu, ya Muhammad!” Lalu, ia berlalu dari hadapan Rasulullah SAW. Beliau tetap bersabar. Tak lama kemudian Rasulullah SAW pun pulang.&lt;br /&gt;Sampai di rumah, beliau menceritakan terperosoknya Abu Jahal ke dalam lubang jebakan buatannya sendiri kepada para sahabat, yang sejak tadi sudah berkumpul hendak mendengarkan tausiah Rasulullah SAW. Maka beliau pun bersabda, ”Barang siapa menggali lubang untuk mencelakakan saudaranya yang muslim, niscaya ia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya.” &lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesama muslim itu bersaudara. Barang siapa memperhatikan kepentingan saudaranya, Allah akan memperhatikan kepentingannya.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;AK1.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Tanda-tanda Kiamat Kecil&lt;br /&gt;Apakah tanda-tanda kiamat kecil? Tanda-tanda itu pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah dialog yang menarik dengan Salman Al-Faisy.&lt;br /&gt;Suatu saat, ketika menunaikan haji wada’, sambil memegangi kiswah Ka’bah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah tidak dilaksanakannya salat, diikutinya syahwat, berkhianatnya para pemimpin, dan fasiknya para menteri.” Sahabat Salman Al-Farisy langsung menyeruak ke arah beliau. ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apakah hal itu benar-benar akan terjadi?” tanyanya.&lt;br /&gt;”Benar, Salman. Saat itu kemungkaran menjadi kemakrufan dan kemakrufan menjadi kemungkaran,” jawab Rasul. &lt;br /&gt;“Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” tanya Salman lagi. “Benar. Saat itu hati orang mukmin larut dalam badannya, seperti garam larut dalam air, karena apa yang dilihatnya ia tidak mampu mengubahnya,” jawab Rasul.&lt;br /&gt;Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu akan benar-benar terjadi?” Rasul menjawab lagi, ”Benar. Saat itu pengkhianat dipercaya, orang yang dapat dipercaya dianggap berkhianat; para pendusta dianggap jujur, dan orang jujur dianggap dusta.” &lt;br /&gt;Salman bertanya lagi, “Apakah hal itu itu akan terjadi?”&lt;br /&gt;Tanpa jemu, Rasul menjawab, “Benar. Sesungguhnya orang yang paling utama ialah orang mukmin yang berjalan di tengah segolongan orang yang dalam ketakutan. Jika dia berbicara, mereka akan memakannya, dan mati karena kemarahan dalam dirinya. Wahai Salman, suatu kaum tidak akan disucikan jika yang kuat memakan yang lemah.”&lt;br /&gt;Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?”&lt;br /&gt;“Benar. Saat itu orang kaya disanjung-sanjung, agama dijual dengan dunia, dunia dicari dengan amal akhirat. Laki-laki berhubungan dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Mereka adalah bagian dari umatku yang dilaknat Allah SWT. Saat itu, umatku disusul dengan umat yang lain, badan mereka badan manusia namun hatinya hati setan. Jika umatku bicara, mereka dibunuh. Jika diam, darah mereka dihalalkan. Mereka tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang dewasa. Alangkah buruknya perilaku mereka. Para muhrim digagahi, hukum dapat dibicarakan, wanita dijadikan pemimpin, para budak dimintai pendapat, anak kecil dipuja, tentara di mana-mana, orang laki-laki mengenakan perhiasan emas dan berzina, para penyanyi wanita bermunculan, Al-Quran dilagukan, orang hina lebih banyak angkat bicara.”&lt;br /&gt;Salman bertanya, ”Apa makna orang hina lebih banyak angkat bicara?” Rasul menjawab, ”Dia membicarakan masalah secara umum, padahal sebelumnya tidak pernah bicara.”&lt;br /&gt;Tanya Salman lagi, “Apakah hal itu akan terjadi?” Jawab Rasul, ”Benar. Saat itu masjid-masjid dihiasi aneka perhiasan seperti gereja dan biara. Mushaf Al-Quran dihiasi emas, mimbar dibuat lebar, banyak saf tapi hati manusia saling berjauhan, dan perkataan mereka beraneka macam. Siapa yang diberi, bersyukur; siapa yang tidak diberi, kufur.”&lt;br /&gt;“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” lagi-lagi Salman bertanya. Rasul menjawab, “Benar. Saat itu datang para tawanan dari timur dan barat dari umatku. Kecelakaan bagi orang-orang lemah di antara mereka, dan kecelakaan dari Allah. Jika bicara, mereka dibunuh; jika diam, juga dibunuh. Mati dalam taat kepada Allah lebih baik daripada hidup dalam kedurhakaan.”&lt;br /&gt;“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman. ”Benar. Saat itu istri bersekutu dengan suami dalam urusan suami, seseorang durhaka kepada bapaknya, dan justru berbuat baik kepada temannya. Mereka mengenakan kulit domba di atas hati serigala, ulama mereka lebih buruk daripada bangkai.”&lt;br /&gt;“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman lagi, tak sabar. “Benar. Saat itu ibadah mereka hanya membaca lafaz ibadah tanpa kandungannya, mereka disebut orang-orang najis dan kotor di kerajaan langit dan bumi.” &lt;br /&gt;Salman masih bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu akan terjadi?” “Benar. Saat itu kitab suci dijadikan nyanyian, dilemparkan ke belakang punggung. Mereka tidak menegakkan hukum yang sudah ditetapkan Allah, mereka mematikan sunahku. Mereka menghidupkan bidah, tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Saat itu anak kecil dicemburui sebagaimana budak, anak kecil melamar sebagaimana melamar, wanita dan pasar-pasar saling berdekatan.”&lt;br /&gt;Salman masih penasaran, lalu katanya, ”Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, wahai Rasulullah, apa makna pasar saling berdekatan?”&lt;br /&gt;Rasul menjawab, ”Jika setiap orang berkata, ’Aku tidak menjual dan aku tidak membeli’ – padahal tidak ada yang memberi rezeki selain Allah – saat itu yang berkuasa adalah orang-orang jahat yang tidak memberikan hak kepada manusia dan mengisi hati mereka dengan ketakutan. Engkau tidak melihat kecuali orang yang ketakutan. Saat itu haji dielu-elukan, orang-orang terkenal menunaikan haji demi hawa nafsu, kelas menengah berhaji untuk berniaga, dan orang miskin berhaji untuk ria dan mencari nama.”&lt;br /&gt;“Apakah yang demikian itu akan terjadi?” tanya Salman. “Benar, wahai Salman,” jawab Rasulullah SAW dengan mantap.&lt;br /&gt;Disarikan oleh AST dari kitab Muhadharat al-Abrar karya Muhyidin Al-Araby yang dinukil oleh Ibnu Marduwaih, halaman 298 &lt;br /&gt;“Hai anak Adam, ingat dan waspadalah bila Tuhan terus-menerus melimpahkan nikmat, sementara engkau terus-menerus mengerjakan maksiat terhadap-Nya.” (Ali bin Abi Thalib)&lt;br /&gt;AK23.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Cinta Rasul pada Anak Yatim&lt;br /&gt;“Barang siapa mencintai dan menyantuni anak-anak yatim, kelak akan hidup berdampingan bersamaku di surga.” (Al-Hadis).&lt;br /&gt;Usai menunaikan salat Id dan bersalaman dengan para jemaah, Rasulullah SAW segera pulang. Di jalan pulang, dilihatnya anak-anak sedang bermain di halaman rumah penduduk. Mereka tampak riang gembira menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Pakaian mereka pun baru. Rasulullah SAW mengucap salam kepada mereka, dan serentak mereka langsung mengerubuti Rasul untuk bersalaman.&lt;br /&gt;Sementara itu, tak jauh dari sana, di pojok halaman yang tak terlampau luas, tampak seorang anak kecil duduk sendirian sambil menahan tangis. Matanya lebam oleh air mata, tangisnya sesenggukan. Ia mengenakan pakaian bekas yang sudah sangat kotor penuh tambalan di sana-sini. Compang-camping.&lt;br /&gt;Melihat anak kecil yang tampak tak terurus itu, Rasulullah SAW segera bergegas menghampirinya. Dengan nada suara pelan penuh kebapakan, Rasulullah SAW bersabda,&lt;br /&gt;”Hai anak kecil, mengapa engkau menangis, tidak bermain bersama teman-temanmu?” &lt;br /&gt;Rupanya anak itu belum tahu bahwa yang menyapanya adalah Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Dengan ekspresi wajah tanpa dosa, ia menjawab sambil menangis, ”Wahai laki-laki, ayahku telah meninggal dunia di hadapan Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Lalu ibuku menikah lagi dan merebut semua harta warisan. Ayah tiriku sangat kejam. Ia mengusirku dari rumah. Sekarang aku kelaparan, tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan rumah. Dan hari ini aku melihat teman-teman berbahagia, karena semua mempunyai ayah. Aku teringat musibah yang menimpa Ayah. Oleh karena itu, aku menangis.” &lt;br /&gt;Seketika Rasulullah SAW tak kuasa menahan haru mendengar cerita sedih itu. Bulir-bulir air matanya membasahi mukanya yang suci dan putih bersih penuh kelembutan itu. Maka Rasulullah SAW pun lalu memeluknya, tanpa memedulikan bau dan kotornya pakaian anak itu, sambil mengusap-usap dan menciumi ubun-ubun kepalanya.&lt;br /&gt;Lalu sabda Rasul, ”Hai anak kecil, maukah engkau sebut aku sebagai ayah, dan Aisyah sebagai ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudara laki-lakimu, Fatimah sebagai saudara perempuanmu?” Seketika raut wajah anak itu berubah cerah. Meski agak kaget, ia tampak sangat bahagia. ”Mengapa aku tidak mau, ya Rasulullah?”&lt;br /&gt;Hidup Berdampingan&lt;br /&gt;Rasulullah SAW pun lalu membawanya pulang. Disuruhnya anak itu mandi, lalu diberikannya pakaian yang bagus dengan minyak wangi harum. Setelah itu, Rasulullah mengajaknya makan bersama. Lambat laun, kesedihan anak itu berubah menjadi kebahagiaan. Dan tak lama kemudian ia keluar dari rumah Rasul sembari tertawa-tawa gembira. Dan ia pun bermain bersama teman-teman sebayanya. &lt;br /&gt;”Sebelumnya kamu selalu menangis. Mengapa sekarang kamu sangat gembira?” tanya teman-temannya. &lt;br /&gt;Dengan gembira anak itu menjawab, “Aku semula lapar, tapi sekarang sudah kenyang, dan sekarang berpakaian bagus. Sebelumnya aku yatim, sekarang Rasulullah adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Nah, bagaimana aku tidak bergembira?”&lt;br /&gt;”Seandainya ayah kami gugur di jalan Allah dalam peperangan itu, niscaya kami menjadi seperti dia,” kata beberapa kawannya.&lt;br /&gt;Namun, kebahagiaan anak yatim itu tidak berlangsung lama. Tak lama berselang beberapa waktu setelah menunaikan haji wadak, Rasulullah SAW wafat. &lt;br /&gt;“Sekarang aku menjadi anak yatim lagi,” katanya ambil keluar dari rumah Rasulullah dan menaburkan debu di kepalanya karena merasa sedih. Kata-kata anak itu kebetulan terdengar oleh Abubakar Ash-Shiddiq, yang berada tak jauh dari sana. Maka ia pun lalu ditampung di rumah Abubakar.&lt;br /&gt;Demikian sekelumit kisah kecintaan Rasulullah SAW kepada anak yatim di hari raya. Betapa di hari yang penuh kemenangan itu, hari raya menjadi hari yang menyedihkan – sementara nasib mereka banyak yang luput dari perhatian. Anak-anak yatim adalah makhluk yang senantiasa berpuasa dalam hidupnya, baik dalam memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani. Jangankan mengenakan pakaian baru, untuk makan sehari-hari saja sulit.&lt;br /&gt;Sungguh, memperlakukan dengan baik dan menyantuni anak yatim pada hari raya – dan tentu hari-hari biasa – merupakan langkah yang mulia dan terpuji. Dalam Islam, mereka yang menyantuni anak yatim niscaya mendapat penghargaan yang sangat tinggi. Sabda Rasul, ”Barang siapa menyantuni anak yatim, dia berada di surga bersamaku seperti ini (Rasulullah mempersandingkan jari telunjuk beliau dengan dan jari tengah).” Maksudnya, hidup berdampingan dengan Rasulullah SAW di surga...&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;AK22.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Menjaga Lisan&lt;br /&gt;Manusia tidak dilemparkan ke neraka karena lehernya, tapi karena lisannya&lt;br /&gt;(Al-Hadis).&lt;br /&gt;Ketika Mu’adz bin Jabal diangkat sebagai gubernur Yaman, sebelum berangkat ia menghadap Rasulullah SAW. Maka Rasulullah pun menyampaikan pesan kepadanya.&lt;br /&gt;”Wahai Mua’adz, bertakwalah di mana saja kamu berada, dan hapuslah perbuatan jelek dengan kebaikan. Bergaullah dengan sebaik-baiknya pergaulan. Sungguh, aku sangat menyayangi kamu, maka jangan lupa kamu membaca doa berikut ini usai salat: Ya Allah, tolonglah aku agar selalu ingat dan bersyukur kepada-Mu, serta bisa memperbaiki ibadah kepada-Mu.” &lt;br /&gt;Rasulullah menambahkan, ”Wahai Mu’adz, tahukah kamu, apa hak Allah terhadap hamba-Nya?”&lt;br /&gt;“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz.&lt;br /&gt;“Hak Allah atas mereka ialah hendaknya mereka menyembah-Nya, dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Tahukah kamu, apa hak hamba kepada Allah?” tanya Rasulullah SAW lagi.&lt;br /&gt;“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz lagi.&lt;br /&gt;“Hak mereka terhadap Allah ialah Allah tidak akan menyiksa mereka. Sebab, pangkal dari semua perkara ialah Islam. Tiangnya adalah salat, dan rangkaiannya adalah jihad di jalan Allah.”&lt;br /&gt;“Wahai Mu’adz, maukah kamu aku beri tahu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah benteng, sedekah dapat menghilangkan kesalahan seperti air memadamkan api. Demikian pula bangunnya seseorang di waktu tengah malam (untuk beribadah),” sabda Rasulullah lagi.&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah SAW membacakan Al-Quran surah As-Sajdah ayat 16-17, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Tak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”&lt;br /&gt;Lalu Rasulullah SAW bersabda lagi, ”Wahai Mu’adz, maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang harus kamu miliki lebih dari semua itu?”&lt;br /&gt;“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Mu’adz.&lt;br /&gt;“Jagalah lisanmu,” jawab Rasulullah.&lt;br /&gt;Sambil memegang lisannya, Mu’adz berkata, ”Wahai Rasulullah, aku sudah berhati-hati dalam bercakap dengan lisan.”&lt;br /&gt;“Wahai Mu’adz, ibumu telah melatih dan mendidikmu. Manusia tidak dilemparkan ke neraka karena lehernya, tapi karena lisannya,” sabda Rasulullah SAW mengakhiri pesannya kepada Mu’adz.&lt;br /&gt;Betapa pentingnya kita menjaga lisan (dari ucapan yang sia-sia atau omongan buruk). Perhatikanlah hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini, “Orang yang percaya kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah berkata baik, atau diam.”&lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;“Orang-orang yang suka melaknat tidak akan pernah menjadi syuhada, dan tidak dapat memberi syafaat kepada siapa pun pada hari kiamat kelak.” (Muhammad SAW)&lt;br /&gt;AK21.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Ajaran Rasul tentang Zakat&lt;br /&gt;Rasulullah SAW dengan sabar mengajar para sahabat. Antara lain tentang kewajiban berzakat bagi pemilik hewan ternak.&lt;br /&gt;Suatu hari Rasulullah SAW mengajarkan kewajiban berzakat kepada para sahabat. ”Seseorang yang mempunyai emas dan perak, namun tidak mengeluarkan zakat, di hari kiamat emas dan perak itu akan dibentuk menjadi lempengan-lempengan dan dibakar di neraka jahanam lantas disetrikakan pada pinggang, dahi, dan punggung pemiliknya.”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW melanjutkan, ”Siksaan itu diulang kembali dalam sehari semalam, yang setara dengan 50.000 tahun, sehingga putusan semua orang selesai. Setelah itu ia baru tahu ke mana ia akan dimasukkan, ke surga atau ke neraka.”&lt;br /&gt;”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki unta?” tanya seorang sahabat.&lt;br /&gt;“Begitu juga orang yang mempunyai unta tetapi tidak mengeluarkan zakat. Di antara zakat unta ialah memerah susunya untuk diberikan kepada orang-orang yang lewat. Pada hari kiamat nanti, ia akan diinjak-injak dan digigit secara bergantian oleh sekelompok besar unta di sebidang lapangan selama satu hari yang lamanya 50.000, hingga selesai putusan semua orang. Kemudian ia baru tahu ke mana akan dimasukkan, ke surga atau neraka,” jawab Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki lembu dan kambing?” tanya sahabat yang lain.&lt;br /&gt;”Begitu juga orang yang memiliki lembu dan kambing yang tidak membayar zakat. Pada hari kiamat nanti ia akan diinjak-injak dan diseruduk secara bergantian oleh segerombolan besar kambing dan lembu di sebidang tanah lapang dalam masa satu hari yang lamanya 50.000 tahun hingga selesai putusan semua orang. Kemudian ia baru tahu ke mana akan dimasukkan, ke surga atau neraka.”&lt;br /&gt;”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki kuda?”&lt;br /&gt;Dengan sabar Rasulullah SAW melayani pertanyaan para sahabatnya, ”Kuda punya tiga fungsi: yang dapat mendatangkan dosa, dapat menutupi hajat, dan dapat mendatangkan pahala bagi pemiliknya. Kuda yang mendatangkan dosa ialah yang dipelihara sebagai sarana bersombong, bangga, dan memusuhi Islam. Kuda yang dapat menutupi hajat ialah yang digunakan untuk kepentingan yang diridai Allah, dan tidak melupakan hak dan kewajiban pemeliharaannya.”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW melanjutkan, “Adapun kuda yang mendatangkan pahala ialah yang digunakan untuk berjuang di jalan Allah dan untuk kepentingan Islam. Kuda seperti itu, jika dilepas di tanah lapang atau kebun kemudian makan sesuatu, dicatat sebagai kebaikan bagi pemiliknya. Bahkan kotoran dan air kencingnya dicatat sebagai kebaikan.”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW melanjutkan lagi, “Jika kuda itu terlepas dari tali kekangnya, kemudian lari atau meloncat-loncat, bilangan langkahnya dicatat Allah SWT sebagai kebaikan bagi pemiliknya. Jika dibawa oleh pemiliknya melewati sungai lantas minum air sungai itu, padahal pemiliknya tidak bermaksud memberinya minum, Allah SWT mencatat air yang diminum sebagai kebaikan bagi pemiliknya.”&lt;br /&gt;”Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki keledai?” tanya sahabat yang lain.&lt;br /&gt;Dengan sangat sabar Rasulullah SAW menjawab, ”Tentang keledai, tidak diturunkan kepadaku ayat yang menjelaskannya, kecuali yang bersifat umum, yaitu: Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah, waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.&lt;br /&gt;Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat atom, ia akan melihat balasannya; dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat atom, ia akan melihat balasannya pula.” (Riwayat Bukhari).&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian, seorang Badui datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal perbuatan yang bila saya kerjakan masuk surga.”&lt;br /&gt;Dengan sabar pula beliau menjawab, ”Hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadan.” Orang Badui itu lalu berkata, ”Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku tidak akan menambah-nambahi ketentuan ini.”&lt;br /&gt;Ketika orang Badui itu pergi, Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa ingin melihat ahli surga, lihatlah orang Badui itu!” &lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR Muslim)&lt;br /&gt;Ak20.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Keutamaan Bulan Ramadan&lt;br /&gt;Bagi mereka yang berpuasa di bulan Ramadan, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.&lt;br /&gt;Suatu hari Rasulullah SAW ditanya tentang keutamaan bulan Ramadan. Dengan senang hati beliau menerangkan kepada para sahabat yang berkumpul di rumahnya. Inilah cerita Rasulullah SAW, “Sesungguhnya surga itu wangi, dan selalu dihiasi dari tahun ke tahun. Bila malam pertama bulan Ramadan datang, bertiuplah angin Al-Muthsirah dari surga Arsy. Embusan angin itu membuat daun-daun di pepohonan surga saling bergesekan dan menimbulkan dengungan sangat indah yang belum pernah didengar manusia. Kemudian muncul para bidadari di halaman surga dan memanggil-manggil: Adakah orang yang memohon kepada Allah, agar dia menikahkan daku dengannya?”&lt;br /&gt;Lalu para bidadari itu bertanya kepada Malaikat Ridwan penjaga surga, “Malam apakah ini?” Jawab Malaikat Ridwan, “Ini adalah malam pertama bulan Ramadan.” &lt;br /&gt;Setelah itu pintu-pintu surga dibuka untuk umat Muhammad yang berpuasa. Allah SWT lalu memerintahkan Malaikat Ridwan membuka pintu surga dan Malaikat Malik menutup pintu neraka. Sedang Malaikat Jibril diperintahkan turun ke bumi, “Rantailah setan-setan, belenggulah mereka. Lemparkan mereka ke lautan agar tidak mengganggu puasa umat Muhammad, kekasihku.” &lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu mengingatkan kepada para sahabat bahwa, pada setiap malam Ramadan, Allah SWT selalu mengerahkan malaikat untuk mencatat amalan manusia yang berpuasa, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadis qudsi, “Aku akan penuhi permohonan mereka yang memohon; Aku akan terima tobat mereka yang bertobat; Aku akan mengampuni mereka yang mohon ampun. Dan siapa yang memberi pinjaman kepada Zat Yang Mahakaya, ia tidak akan kekurangan, karena Zat yang memenuhi janji tanpa menganiaya.”&lt;br /&gt;Para sahabat tertegun mendengar pernyataan Rasulullah SAW itu. Lalu beliau melanjutkan, ”Ketika berbuka puasa, Allah SWT membebaskan sejuta roh, dan hal itu berlangsung hingga akhir Ramadan.” Dan bila tiba malam Lailatulkadar, Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril turun ke bumi bersama serombongan malaikat. Mereka membawa bendera hijau dan menancapkannya di puncak Ka’bah. &lt;br /&gt;Malaikat Jibril memiliki 100 sayap, dua sayap di antaranya tak pernah dibentangkan kecuali hanya pada malam Lailatulkadar. Jika kedua sayapnya dibentangkan, luasnya meliputi Timur dan Barat. Kemudian ia menyerukan kepada para malaikat agar memberi salam kepada orang-orang yang beribadah dan berzikir. Para melaikat menjabat tangan dan mengamini doa mereka sampai terbit fajar. Ketika fajar terbit, Jibril menyeru para malaikat, “Wahai para malaikat, berpencarlah!”&lt;br /&gt;Para malaikat bertanya,”Wahai Jibril, apa yang yang akan Allah perbuat? Apakah sehubungan dengan hajat orang-orang mukmin dari umat Muhammad SAW?”&lt;br /&gt;Jibril menjawab, ”Allah memandang mereka pada malam itu, dan memaafkan mereka, kecuali empat golongan.”&lt;br /&gt;Penerimaan Hadiah&lt;br /&gt;“Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, ”Mereka adalah orang yang meminum arak, yang durhaka kepada orangtua, yang memutus tali silaturahmi, dan yang memusuhi sesama manusia.” &lt;br /&gt;Tapi para sahabat belum puas, kemudian kembali bertanya, ”Ya Rasulullah, siapakah yang memusuhi sesama manusia?” Jawab Rasul, “Mereka adalah orang yang membenci dan memutuskan silaturahmi.”&lt;br /&gt;Setelah itu beliau menggambarkan kondisi malam Hari Raya Idulfitri. “Malam itu disebut malam Jai’zah (malam penerimaan hadiah). Ketika tiba hari raya esok harinya, Allah mengutus para malaikat ke setiap negeri di bumi. Mereka memenuhi jalan-jalan dan menyeru dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia.”&lt;br /&gt;Para malaikat berseru, ”Wahai umat Muhammad! Keluarlah menuju Allah, Yang Mahamulia, yang akan mengaruniakan hadiah dan menghapuskan dosa-dosa besar.” Dan apabila mereka datang ke musala, Allah SWT berfirman kepada para malaikat, ”Apakah balasan bagi seorang pekerja apabila ia telah menyelesaikan pekerjaannya?” Jawab para malaikat, ”Wahai Rabb kami, balasan mereka adalah upah mereka sepenuhnya.”&lt;br /&gt;Menurut Rasulullah SAW, gambaran tentang semua itu sesuai dengan firman Allah (dalam hadis qudsi), ”Sesunguhnya Aku menjadikan kalian saksi, wahai para malaikat-Ku, bahwa sesungguhnya Aku telah memberikan rida dan ampunan-Ku sebagai balasan karena puasa dan Tarawih mereka di bulan Ramadan.”&lt;br /&gt;Allah SWT berseru, ”Wahai hamba-hamba-Ku, mohonlah kepada-Ku. Maka demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, tidaklah kamu meminta sesuatu kepada-Ku di pertemuan ini untuk akhiratmu kecuali Aku akan memberimu. Tidak juga untuk keperluan duniamu, kecuali Aku akan memandang kemaslahatanmu. Maka demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan tutupi kesalahan-kesalahanmu selama kalian takut kepada-Ku. Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menghinakan kalian dan tidak akan Aku perlihatkan aib-aibmu di depan orang-orang yang melanggar batas. Bertebaranlah kalian dengan membawa ampunan. Sungguh, kalian telah rida kepada-Ku dan Aku pun telah rida kepada kalian.” &lt;br /&gt;Mendengar jawaban Allah SWT (dalam hadis qudsi tersebut), para malaikat pun bersuka cita. Lalu Rasulullah SAW melanjutkan, ”Ini menandakan bahwa Allah SWT telah memberi karunia kepada umat Muhammad SAW saat mereka sedang merayakan Idulfitri. Itu sebabnya, para malaikat bersuka cita karena ingin seperti mereka. Wajarlah para malaikat senantiasa bermohon kepada Allah SWT agar bisa dijadikan seperti umat Muhammad SAW. Ini tercermin dalam munajat para malaikat, ”Ya Allah, jadikanlah kami seperti umat Muhammad SAW.” (HR Ibnu Hibban). &lt;br /&gt;Luar biasa! Para malaikat ingin seperti manusia yang mendapat prioritas utama untuk bisa meraih keutamaan bulan Ramadan. Maka selayaknyalah jika kita, manusia, bersungguh-sunguh beribadah di bulan Ramadan. Mari kita sambut bulan Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan meraih keutamaan-keutamaannya.&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan rida Allah SWT, diampunilah dia atas dosanya yang lalu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AK19.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Ancaman Melalaikan Salat&lt;br /&gt;Barang siapa melalaikan salat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT.&lt;br /&gt;Ketika Malaikat Jibril turun dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal saleh seseorang yang meninggalkan salat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran. Demi Allah, yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang meninggalkan salat, setiap hari mendapat 1.000 laknat dan murka. Para malaikat melaknatnya dari langit pertama hingga ketujuh.&lt;br /&gt;Orang yang meninggalkan salat tidak memperoleh minuman dari telaga surga, tidak mendapat syafaatmu, dan tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak berhak dijenguk ketika sakit, diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum. Ia juga tidak berhak memperoleh rahmat Allah. Tempatnya kelak di dasar neraka bersama orang-orang munafik, siksanya akan dilipatgandakan, dan di hari kiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan terikat di lehernya. Para malaikat memukulinya, pintu neraka jahanam akan dibukakan baginya, dan ia melesat bagai anak panah ke dalamnya, terjun dengan kepala terlebih dulu, menukik ke tempat Qorun dan Haman di dasar neraka.&lt;br /&gt;Ketika ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, makanan itu berkata, ‘Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki Allah namun tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Nya.’ Ketahuilah, sesungguhnya bencana yang paling dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian terhadap salat lima waktu, salat Jumat, dan salat berjemaah. Padahal, semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT ditinggikan derajatnya, dan dihapuskan dosa-dosa maksiat bagi siapa saja yang menjalankannya. &lt;br /&gt;Orang yang meninggalkan salat karena urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Ia dibenci Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka Jahim atau kembali ke neraka Hawiyah.” &lt;br /&gt;Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggalkan salat hingga terlewat waktunya, lalu mengadanya, ia akan disiksa di neraka selama satu huqub (80 tahun). Sedangkan ukuran satu hari di akhirat adalah 1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab Majalisul Akbar.&lt;br /&gt;Sementara dalam kitab Qurratul Uyun, Abu Laits Samarqandi menulis sebuah hadis, “Barang siapa meninggalkan salat fardu dengan sengaja walaupun satu salat, namanya akan tertulis di pintu neraka yang ia masuki.” Ibnu Abbas berkata, ”Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ‘Katakanlah, ya Allah, janganlah salah seorang dari kami menjadi orang-orang yang sengsara.’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘Tahukah kamu siapakah mereka itu?’ Para sahabat menjawab, ‘Mereka adalah orang yang meninggalkan salat. Dalam Islam mereka tidak akan mendapat bagian apa pun’.”&lt;br /&gt;Shirathal Mustaqim&lt;br /&gt;Disebutkan dalam hadis lain, barang siapa meninggalkan salat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, pada hari kiamat Allah SWT tidak akan memedulikannya, bahkan Allah SWT akan menyiksanya dengan azab yang pedih. Diriwayatkan, pada suatu hari Rasulullah SAW berkata, ”Katakanlah, ya Allah, janganlah Engkau jadikan seorang pun di antara kami celaka dan diharamkan dari kebaikan.”&lt;br /&gt;“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka, dan diharamkan dari kebaikan?”&lt;br /&gt;“Siapa, ya, Rasulullah?”&lt;br /&gt;“Orang yang meninggalkan salat,” jawab Rasulullah.&lt;br /&gt;Dalam hadis yang berhubungan dengan peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah SAW mendapati suatu kaum yang membenturkan batu ke kepala mereka. Setiap kali kepala mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala. Demikianlah mereka melakukannya berulang kali. Lalu, beliau bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mengerjakan salat,” jawab Jibril.&lt;br /&gt;Diriwayatkan pula, di neraka Jahanam ada suatu lembah bernama Wail. Andaikan semua gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya akan meleleh karena panasnya yang dahsyat. Wail adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan salat, kecuali jika mereka bertobat.&lt;br /&gt;Bagi mereka yang memelihara salat secara baik dan benar, Allah SWT akan memuliakannya dengan lima hal, dihindarkan dari kesempitan hidup, diselamatkan dari siksa kubur, dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan, dapat melewati jembatan shirathal mustaqim secepat kilat, dan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.&lt;br /&gt;Dan barang siapa meremehkan atau melalaikan salat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur, dan tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SAW.&lt;br /&gt;Adapun enam siksaan yang ditimpakan di dunia adalah dicabut keberkahan umurnya, dihapus tanda kesalehan dari wajahnya (pancaran kasih sayang terhadap sesama), tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, doanya tidak diangkat ke langit, tidak memperoleh bagian doa kaum salihin, dan tidak beriman ketika roh dicabut dari tubuhnya.&lt;br /&gt;Adapun tiga siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah mati secara hina, mati dalam keadaan lapar, dan mati dalam keadaan haus. Andai kata diberi minum sebanyak lautan, ia tidak akan merasa puas. &lt;br /&gt;Sedangkan tiga siksaan yang didapat dalam kubur ialah, kubur mengimpitnya hingga tulang-belulangnya berantakan, kuburnya dibakar hingga sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya diserahkan kepada seekor ular bernama Asy-Syujaul Aqra. Kedua mata ular itu berupa api dan kukunya berupa besi, kukunya sepanjang satu hari perjalanan. ”Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena engkau mengundurkan salat Subuh hingga terbit matahari, mengundurkan salat Zuhur hingga Asar, mengundurkan salat Asar hingga Magrib, mengundurkan salat Magrib hingga Isya, dan mengundurkan salat Isya hingga Subuh,” kata ular itu.&lt;br /&gt;Setiap kali ular itu memukul, tubuh mayat tersebut melesak 70 hasta, sekitar 3.000 meter, ke dalam bumi. Ia disiksa dalam kubur hingga hari kiamat. Di hari kiamat, di wajahnya akan tertulis kalimat berikut: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputus asalah kamu dari rahmat-Nya.&lt;br /&gt;Adapun tiga siksaan yang dilakukan ketika bertemu dengan Allah SWT adalah, pertama, ketika langit terbelah, malaikat menemuinya, membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya. Kemudian memasukkan rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadang kala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Malaikat itu berkata, ”Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abas berkata, ”Andai kata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.”&lt;br /&gt;Kedua, Allah tidak memandangnya. Ketiga, Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksa yang amat pedih.&lt;br /&gt;Demikianlah ancaman bagi orang-orang yang sengaja melalaikan salat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Amin.&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;AK17.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Keutamaan Salat&lt;br /&gt;Selain sebagai penghapus dosa, salat juga mengandung rahmat, kelembutan, dan kemurahan Allah SWT.&lt;br /&gt;Suatu hari, di musim dingin, Rasulullah SAW keluar dari rumah dan mengambil ranting sebatang pohon sehingga daun-daunnya berguguran. Rasul memanggil Abu Dzar, sahabat, yang menyertai beliau.&lt;br /&gt;“Labbaik, ya Rasulullah,” jawab Abu Dzar. &lt;br /&gt;“Sesungguhnya seorang muslim, jika menunaikan salat dengan ikhlas karena Allah, dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya,” sabda Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Dalam hadis yang lain, Abu Hurairah berkata, ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah kalian ada sebuah sungai yang mengalir dan kalian mandi di dalamnya lima kali sehari? Apakah akan tersisa kotoran di tubuh kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak akan tersisa kotoran di tubuh kami sedikit pun.’ Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Begitulah perumpamaan salat lima waktu. Allah akan menghapuskan dosa-dosa kita’.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i).&lt;br /&gt;Selain sebagai jalan penghapusan dosa, salat juga mengandung rahmat, kemurahan, dan kelembutan Allah SWT yang berlimpah. Hanya karena kebodohan kita sendirilah kita tidak memanfaatkan salah satu dari kemurahan Allah itu. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Seseorang yang ketika hendak tidur berniat melaksanakan salat Tahajud tapi kemudian tertidur, dia mendapatkan pahala salat Tahajud.”&lt;br /&gt;Karena kandungan rahmat Allah SWT yang begitu besar, jika mengalami kesulitan Rasulullah SAW segera melaksanakan salat (HR Ahmad dan Abu Dawud). Maka, jika seseorang bersegera mengerjakan salat ketika mengalami kesusahan, sesungguhnya dia sedang menuju rahmat Allah SWT. Jika rahmat Allah datang dan membantu, kesusahan apa lagi yang tersisa?&lt;br /&gt;Kisah keutamaan salat juga terungkap dalam cerita Ummu Kultsum. Suatu hari Abdurahman, anaknya, menderita sakit parah, sehingga semua orang khawatir ia akan segera meninggal. Maka Ummu Kultsum pun melaksanakan salat. Segera setelah itu Abdurrahman sadar kembali, lalu bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya.&lt;br /&gt;“Apakah keadaan saya menunjukkan seolah-olah telah meninggal?”&lt;br /&gt;“Ya!” jawab mereka.&lt;br /&gt;Dalam hadis lain, Abdullah bin Salam berkata, apabila keluarga Rasulullah SAW sedang tertimpa kesusahan, beliau memerintahkan melaksanakan salat sambil membaca ayat 132 surah Thaha: Wamru ahlaka bishshalati wash thabir ‘alaiha, la nasaluka rizqan, nahnu narzuquka. Wal ‘aqibatu littaqwa (Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah. Kami tidak minta rezeki kepadamu, bahkan Kami-lah yang memberi rezeki. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa).&lt;br /&gt;Sementara, menurut Asma binti Abubakar, kakak Aisyah, istri Rasul, Rasulullah SAW bersabda, ”Pada hari kiamat seluruh manusia akan dikumpulkan di satu tempat, dan suara yang diumumkan oleh malaikat didengar oleh seluruh manusia. Ketika itu diumumkan, di manakah orang-orang yang selalu memuji Allah dalam setiap keadaan, baik ketika senang maupun susah?”&lt;br /&gt;Mendengar seruan itu, sebuah rombongan manusia berdiri lalu masuk ke dalam surga tanpa hisab. Kemudian diumumkan lagi, “Di manakah orang-orang yang menghabiskan waktu malamnya dengan beribadah dan lambung mereka jauh dari tempat tidur?” Maka sebuah rombongan berdiri lalu masuk surga tanpa hisab. Lalu terdengar seruan berikutnya, ”Di manakah orang-orang yang dalam perniagaannya tidak melalaikan mengingat Allah?” Maka sebuah rombongan berdiri dan masuk surga tanpa hisab.&lt;br /&gt;Tidakkah kita ingin menjadi anggota rombongan yang masuk surga tanpa hisab? Untuk bisa menjadi anggota rombongan yang bisa langsung masuk ke surga tanpa hisab, kita harus menyempurnakan salat. Bukan sekadar menunaikan salat sebagai kewajiban, tapi berusaha meraih puncak-puncak kenikmatan cinta dan rahmat Allah SWT, sehingga mendapat limpahan taufik dan karunia-Nya.&lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;Kata Mutiara&lt;br /&gt;Dari Abu Tsurayyah Sabrah bin Ma’bad Al-Juhanniy RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anakmu mengerjakan salat apabila berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat apabila sudah berumur sepuluh tahun.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi) &lt;br /&gt;AK16.Mutiara Rasul.AST&lt;br /&gt;Salat Malam Sepanjang Malam&lt;br /&gt;“Jelaskan kepadaku sesuatu yang luar biasa mengenai salat Rasulullah,” tanya seseorang kepada Aisyah. ”Tidak ada sesuatu yang biasa mengenai beliau. Segala sesuatu yang dilakukannya luar biasa,” jawabnya.&lt;br /&gt;Pada suatu malam Rasulullah SAW berbaring-baring bersama istrinya, Aisyah. Beberapa saat kemudian beliau berkata, ”Biarkanlah aku beribadah kepada Allah.” Kemudian beliau bangun, mengambil air wudu, lalu mendirikan salat. Sejak berdiri salat, beliau menangis terus hingga air matanya membasahi seluruh dadanya. Dalam rukuk, beliau pun menangis, demikian pula ketika sujud, dan setelah bangun dari sujud. Demikian seterusnya hingga Bilal mengumandangkan azan Subuh.&lt;br /&gt;Aisyah kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah SWT telah menghapuskan semua dosamu yang terdahulu dan yang kemudian, dan menjanjikan ampunan untukmu?”&lt;br /&gt;”Apakah tidak sepantasnya aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” jawab Rasulullah SAW, sembari mengutip ayat Al-Quran, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi lalu berkata, ‘Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menjadikan ini dengan sia-sia, maka lindungilah kami dari siksa api neraka’.” (QS Ali Imran:190-191).&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mughirah Ibnu Syu’bah, diceritakan, Nabi Muhammad SAW mendirikan salat malam sepanjang malam. Demikian lama beliau berdiri dalam salat, sehingga kaki beliau bengkak.&lt;br /&gt;Sebagian sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, mengapa engkau begitu bersusah payah mendirikan salat, padahal Allah SWT telah mengampunimu atas segala dosamu?”&lt;br /&gt;Rasulullah menjawab, ”Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Abu Salamah).&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lama berdiri dalam salat, karena beliau membaca paling tidak empat surah Al-Quran. Ini diceritakan oleh Awf ibn Malik, ”Suatu hari aku berdua bersama Nabi. Setelah bersiwak dan wudu, beliau berdiri mengerjakan salat, dan aku pun salat bersama beliau. Pada rakaat pertama beliau membaca surah Al-Baqarah. Apabila membaca ayat-ayat mengenai nikmat dan karunia Allah, beliau memohon rahmat kepada Allah SWT. Dan bila membaca ayat tentang azab Allah, beliau memohon ampunan serta perlindungan. Rukuk dan sujud beliau sama lamanya dengan berdirinya. Dalam rukuk, beliau membaca Subhaana dzil jabaruuti wal malakuuti wal ’azhamah (Mahasuci Allah, yang memiliki keperkasaan, kebesaran, dan kemuliaan). Setelah itu, beliau berdiri untuk rakaat kedua, lalu membaca surah Ali Imran.&lt;br /&gt;Demikian seterusnya, beliau membaca satu surah pada setiap rakaat. Jadi, dalam empat rakaat, beliau membaca empat surah yang berarti sama dengan seperlima Al-Quran.”&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan, betapa lamanya salat Rasulullah SAW, terlebih jika ditambah dengan doa-doa yang panjang. Baik ketika membaca ayat mengenai rahmat maupun azab, ditambah lagi dengan rukuk dan sujud yang panjang pula. &lt;br /&gt;Rasa takut dan patuh kepada Allah SWT memang memenuhi sanubarinya, sehingga membuat Rasulullah SAW tekun beribadah kepada-Nya. Itu merupakan dasar makrifat ketuhanan beliau. ”Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, tentulah kalian jarang tertawa dan akan banyak menangis,” sabda Rasulullah SAW, sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah.&lt;br /&gt;Dalam hadis lain Abu Darr menambahkan, Rasulullah SAW bersabda, ”Aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak dengar. Langit menangis keras, dan sudah sepantasnya ia menangis. Tidak ada tempat di langit selebar empat jari kecuali ada malaikat yang menghuninya, yang dahinya senantiasa bersujud kepada Allah. Demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis, kalian tidak berselera terhadap wanita, tapi akan menuju puncak gunung untuk mendekatkan diri kepada Allah.”&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;Mutiara Rasul&lt;br /&gt;Kesaksian Seekor Unta&lt;br /&gt;Setelah raja Jahiliyah Habib bin Malik melihat mukjizat yang dimiliki Rasululah SAW, ia kemudian memeluk Islam. Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan tanda terimakasihnya kepada Rasulullah SAW, Raja Habib mengirim hadiah melalui beberapa utusan, berupa emas, perak, unta dan lain sebagainya kepada beliau.&lt;br /&gt;Mengetahui akan datangnya rombongan membawa hadiah untuk Rasulullah SAW, Abu Jahal segera menghadang perjalanan utusan-utusan yang membawa hadiah itu di luar perbatasan kota Mekkah. &lt;br /&gt;Ketika rombongan utusan Raja Habib bin Malik muncul, Abu Jahal dan komplotannya pun langsung melancarkan aksi. Mereka berpura-pura tidak tahu siapa dan maksud kedatangan rombongan tersebut. “Siapakah kalian ini?”&lt;br /&gt;“Kami adalah utusan Raja Habib bin Malik untuk menyampaikan hadiah ini kepada Rasulullah SAW,” jawab para utusan dengan polos.&lt;br /&gt;Abu Jahal kemudian memperkenalkan dirinya dan mengatakan kalau hadiah-hadiah yang dibawa itu adalah dirinya bukan untuk Muhammad. Mendengar pengakuan dari Abu Jahal, para utusan itu bersikeras bahwa mereka diutus untuk menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Para utusan Raja Habib bin Malik itu kemudian pamit dan memacu kendaraannya ke arah kota Mekkah. &lt;br /&gt;Ketika rombongan itu akan berlalu dari hadapan Abu Jahal. Tanpa membuang banyak waktu lagi, komplotan Abu Jahal pun mendekati para utusan Raja Habib bin Malik dan hendak merampas barang bawaan yang mereka bawa. &lt;br /&gt;Tentu saja, aksi itu mendapat perlawanan keras dari para pengawal utusan Raja Habib bin Malik, hingga terjadilah pertempuran anatar kubu utusan Raja Habib dan kawanan Abu Jahal.&lt;br /&gt;Pedang-pedang terhunus, saling beradu menimbulkan denting suara yang memekakkan telinga, diselingi teriakan dan umpatan dari kedua belah pihak. Suara kegaduhan dari adu kekuatan antara kedua kelompok itu sampai terdengar di pinggiran pemukiman kota Mekkah. Maka, mereka pun kemudian ramai-ramai mendatangi ajang pertemuran dan bermaksud melerai pertikaian itu. Pertempuran itu kemudian terhenti sejenak karena ditonton oleh banyak penduduk Mekkah.&lt;br /&gt;Salah seorang pemuka Quraisy maju ke depan dan menanyakan kepada salah satu utusan Raja Habib bin Malik,”Apa maksud kedatangan kalian ke kota Mekkah?”&lt;br /&gt;“Kami datang ke kemari untuk menyampaikan hadiah ini kepada Rasulullah sedang Abu Jahal mengatakan bahwa hadiah-hadiah ini untuknya,” kata salah satu utusan Raja Habib bin Malik.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW yang turut hadir di antara mereka kemudian bersabda,”Wahai masyarakat Mekkah, apakah kalian rela dan mau mendengarkan apa yang hendak kukatakan ini?”&lt;br /&gt;“Baiklah, ya Muhammad, kami akan mendengar perkataanmu,” jawab sebagian yang hadir.&lt;br /&gt;Kemudian Rasul SAW meneruskan ucapannya,”Aku ingin bertanya kepada unta yang membawa hadiah ini.”&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya Abu Jahal mendengar perkataan Rasulullah. Tentu saja Rasulullah SAW akan bisa berbuat apa saja, pikirnya. Oleh sebab itu, Abu Jahal meminta kepada yang hadir untuk menunda beberapa hari apa yang akan dilakukan oleh Muhammad, yakni menanyai unta pembawa hadiah. Karena ia juga merasa yakin dapat menanyai unta pembawa hadiah itu, setelah meminta tolong pada patung sesembahannya. Dan usul dari Abu Jahal pun kemudian disepakati oleh semua yang hadir.&lt;br /&gt;Selama tiga hari berturut-turut, Abu Jahal tidak pernah keluar dari ruang sesembahan berhala. Siang dan malam, ia tak lepas dari bersujud dari berhala, demi kemenangan menandingi Muhammad. Menginjak hari ketiga, Abu Jahal melangkahkan kakinya keluar rumah dan mendatangi orang-orang Mekkah dengan satu keyakinan bisa menandingi Muhammad. &lt;br /&gt;Sampai di tempat yang telah ditentukan, Abu Jahal pun langsung berhadapan dengan Rasulullah SAW. Di hadapan beliau, ia langsung mengatakan kalau hadiah dari Raja Habib bin Malik itu dihadiahkan kepadanya. Namun Rasulullah SAW tak mau kalah, beliau menentang alasan Abu Jahal, dengan mengatakan bahwa hadiah tersebut diperuntukan baginya dan itulah yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;Perdebatan Rasulullah SAW dan Abu Jahal berlangsung cukup lama, sampai kemudian Rasulullah mengingatkan akan perjanjian yang telah mereka buat beberapa hari yang lalu untuk bertanya pada unta pembawa hadiah. Beliau kemudian mempersilahkan Abu Jahal untuk memulai terlebih dahulu kepada unta pembawa hadiah itu.&lt;br /&gt;Setelah mempersilahkan Abu Jahal untuk maju ke muka, maka Abu Jahal secara perlahan mendekati unta itu. Dengan suara serak dan parau, ia berteriak,”Wahai unta! Demi Latta dan Uzza; katakanlah!”&lt;br /&gt;Kata-kata seperti itu berulangkali keluar dari mulut Abu Jahal, sampai matahari tenggelam ke peraduannya. Namun, nasib malang bagi Abu Jahal karena unta tersebut tidak mau menjawab sepatah kata pun. Unta itu tetap diam seribu bahasa, sampai-sampai masyarakat Mekkah yang menyaksikan merasa bosan dengan ocehan-ocehan Abu Jahal. &lt;br /&gt;“Wahai Abu Jahal! Hentikan saja ocehan kosongmu itu. Engkau tidak akan mampu mengajaknya berbicara. Mundurlah, beri kesempatan pada Muhammad untuk memulainya, guna mengetahui, siapakah yang sebenarnya yang berhak menerima hadiah itu,” kata sebagian mereka.&lt;br /&gt;Maka sadarlah Abu Jahal, bahwa dirinya tidak mungkin dapat mengajak unta itu berkomunikasi. Buktinya dari siang sampai sore hari, unta itu belum menjawab pertanyaannya juga, padahal dirinya telah lelah untuk berkata-kata. Kini, giliran Rasulullah SAW yang maju untuk bertanya kepada unta itu. Maka mulailah beliau mengajukan pertanyaan,”Wahai unta, wahai mahluk yang diciptakan Allah. Katakan yang sebenarnya di hadapan masyarakat Mekkah itu, tentang status dirimu.”&lt;br /&gt;Keajaiban pun terjadi. Tiba-tiba unta yang tadinya mendekam, kini mendadak bangun setelah mendengar pertanyaan Rasulullah SAW. Masyarakat bertambah tercengang manakala telinga mereka mendengar suara yang amat jelas keluar dari mulut unta yang berada di hadapan mereka,”Wahai masyarakat Mekkah! Kami ini adalah hadiah dari Raja Habib bin Malik yang akan dipersembahkan kepada Nabi Muhammad SAW.”&lt;br /&gt;Setelah masyarakat mengetahui untuk siapakah hadiah tersebut, mereka pun mengutuk Abu Jahal yang mengaku-aku hadiah tersebut. Akhirnya, Rasulullah mengambil semua hadiah tadi dan membawanya ke arah gunung Abi Qubaisy. Sedangkan Abu Jahal segera pergi dari tempat tersebut dengan hati yang diliputi rasa malu yang tiada terhingga. Namun begitu, ia bukannya bertambah jera, melainkan semakin bertambah dendam kepada Muhammad. Abu Jahal tetap menganggap Muhammad sebagai musuh besrnya dengan perasaan iri, dengki bercampur hasud dan semuanya bercampur menjadi satu dalam hatinya yang hitam, jauh dari kebenaran dan cahaya Islam.&lt;br /&gt;Rasululah SAW setelah membawa hadiah itu dnegan diikuti oleh penduduk Mekkah, kemudian beliau menumpahkan semua hadiah itu ke tanah sambil bersabda,”Jadilah kalian ini pasir.”&lt;br /&gt;Ajaib! Seketika itu pula semua hadiah dari Raja Habib bin Malik yang berupa emas, perak, intan dan berlian langsung berubah menjadi pasir.&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutiara Rasul&lt;br /&gt;Sembuh berkat Doa Rasulullah SAW &lt;br /&gt;Seorang wanita yang sebelah tangannya lumpuh akibat dalam mimpinya mencuri air dari telaga Rasul untuk diminumkan kepada ibundanya yang ada di neraka Jahanam. Ia kemudian disembuhkan oleh doa Rasulullah SAW, bagaimana kisahnuya?&lt;br /&gt;Suatu pagi hari yang cerah, matahari sepenggalah naik di ufuk timur memancarkan cahanya menyinari seluruh bumi. Penduduk Madinah sudah mulai bersiap-siap pergi ke pasar untuk menjual barang dagangan. Sementara itu di samping masjid, Rasulullah SAW barusaja beranjak dari majelis shalat Subuh dan disambut oleh senyum cerah sang isteri tercinta Siti Aisyah. Belum lama beliau duduk-duduk bercengkrama dengan Siti Aisyah di beranda rumahnya, tiba-tiba datang seorang wanita dengan satu tangan kanannya yang lumpuh.Selepas mengucap salam, wanita itu kemudian mengadukan permasalahannya. &lt;br /&gt;”Wahai Nabiyallah. Sudilah kiranya engkau memohonkan kepada Allah, semoga Dia menyembuhkan tangan saya,” kata wanita itu terbata-bata dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat.&lt;br /&gt;“Apakah gerangan yang menyebabkan tanganmu lumpuh?” tanya Rasulullah SAW dengan suara yang menyejukan.&lt;br /&gt;Wanita itu kemudian menceritakan kejadian yang telah menimpanya. “Pada suatu malam saya bermimpi seakan-akan hari kiamat telah tiba; Neraka Jahim telah menyala-nyala dan sorga telah tersedia. Saya mengetahui ibu saya di neraka Jahanam, sedang di tangannya terdapat sepotong lemak dan di tangan yang satunya terdapat sepotong kain lap (kain pembersih). Dengan lemak dan kain itu, ibu saya menahan panasnya api neraka. Pada waktu itu saya bertanya, Mengapa ibu di dalam jurang sini? Bukankah ibu dahulu menjadi orang yang taat kepada Tuhan dan ayah pun telah merelakan?”&lt;br /&gt;Rasul dan Aisyah mendengar cerita itu dengan seksama. Kemudian wanita itu melanjutkan ceritanya. “Ibu saya menjawab, ‘Hai anakku, aku di dunia mempunyai sifat kikir. Dan di sini adalah tempat orang-orang yang kikir’.”&lt;br /&gt;“Apakah artinya lemak dan kain yang ada di tangan ibu?”&lt;br /&gt;“Keduanya itu adalah barang-barang yang telah saya dermakan. Dan saya belum pernah berderma selama hidup di dunia kecuali dengan keduanya.”&lt;br /&gt;“Di mana ayah?”&lt;br /&gt;“Ayahmu adalah orang yang dermawan. Maka ia tinggal di tempat orang-orang yang dermawan.”&lt;br /&gt;Lalu tamu wanita itu, menceritakan dalam mimpinya berkunjung ke surga. Ia melihat sang ayah telah berdiri di telaga Rasulullah dan tengah memberi minum orang banyak.&lt;br /&gt;“Wahai ayahku, sungguh ibuku dan juga istri ayah taat kepada Tuhannya. Dan ayah pun telah rela kepadanya. Ibu sekarang tengah dibakar api neraka Jahanam. Padahal engkau, ayah. Sedang memberi minum orang banyak dari telaga Nabi SAW.”&lt;br /&gt;“Hai anakku. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengharamkan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang berdosa dari telaga Nabi SAW.”&lt;br /&gt;Selanjutnya, wanita itu kembali melanjutkan ceritanya.”Maka dengan tanpa ijin dari ayahku, saya mengambil air telaga satu gelas dan saya berikan pada ibu yang tengah kehausan. Tiba-tiba, ada suara,’Mudah-mudahan Allah melumpuhkan tanganmu, karena engkau telah memberi minum kepada orang yang durhaka lagi kikir dari sumber air telaga Rasulullah SAW’. Selepas itu saya terbangun dan mendapati tangan saya telah lumpuh seperti ini,” kata wanita itu kepada Rasulullah SAW dan Siti Aisyah.&lt;br /&gt;Setelah mendengar semua cerita dari wanita tadi, beliau kemudian beranjak dari tempat duduknya seraya mengambil tongkat yang biasa beliau pakai. Rasulullah SAW kemudian mendekati wanita tadi sambil meletakannya pada tangannya yang lumpuh seraya berdoa, ”Ya Tuhanku. Dengan kebenaran mimpi yang diceritakan oleh perempuan ini, maka sembuhkanlah tangannya.”&lt;br /&gt;Subhanallah! Tak lama berselang beliau memanjatkan doa, salah satu tangan yang tadinya lumpuh itu, kini telah sembuh total dan dapat digerakan seperti semula. &lt;br /&gt;Sebelum wanita itu mengucapkan terima kasih dan pamit beranjak pulang, Rasulullah SAW bersabda,”Sifat dermawan itu bagaikan pohon di sorga yang dahan-dahannya melengkung menjolok ke dunia. Maka barang siapa yang mengambil satu dahan dari pohon di sorga, maka dia akan dibimbingnya ke sorga. Dan sifat kikir itu bagaikan pohon di neraka yang dahan-dahannya melengkung menjolok ke dunia. Maka barang siapa yang mengambil sebatang dahan dai pohon di neraka, maka dia dihalau ke neraka.” &lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, ”Kemiskinan yang kalian takutkan atau kekurangan atau kalian menjadi menjadi berhasrat kepada dunia, sesungguhnya Allah SWT akan menaklukkan bagi kalian negeri Persi dan Romawi lalu menumpahkan dunia pada kalian dengan sekali tumpahan. Hingga tidak ada yang membuat kalian tersesat sesudahku. Kalau pun ada yang menyesatkan kalian, itu hanyalah dunia.” (HR. Imam Ahmad)&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Mutiara Rasul&lt;br /&gt;Orang Mukmin dan Kafir Saat Meninggal&lt;br /&gt;Suatu saat, Rasulullah SAW menghadiri sebuah pemakaman jenazah dari kaum Anshar. Sesampainya di kuburan, beliau menerangkan tentang keadaan ruh orang mukmin dan kafir saat meninggal &lt;br /&gt;Saat itu, Rasulullah SAW keluar dari masjid bersama Bara’ bin Azib untuk menghadiri pemakaman jenazah seseorang dari kaum Anshar. Setelah tiba di kuburan, dan mayat sudah dibujurkan di liang lahat kubur. Beliau pun duduk dan para sahabat pun duduk pula di sekitarnya. Tangan beliau memegang ranting dan memukul-mukulkannya ke tanah.&lt;br /&gt;Para sahabat memperhatikannya dengan seksama, tanpa ada yang berani berkata-kata kepada beliau. Tiba-tiba beliau menengadahkan kepala ke langit dan bersabda sampai tiga kali,”Berlindunglah dari siksa kubur!”&lt;br /&gt;Kemudian dia melanjutkan sabdanya,”Jika hamba yang mukmin meninggalkan dunia dan menuju ke akhirat, maka para malaikat turun dari langit. Wajah mereka putih seakan-akan seperti warna matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan minyak wangi untuk mayat dari surga. Mereka duduk di depannya sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut dating hingga duduk di dekat kepalanya, seraya berkata,’Wahai jiwa yang tenang. Keluarlah kepada ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya!”&lt;br /&gt;Beliau kemudian menjelaskan keadaan ruh,”Maka ruh si mayat akan keluar, mengalir seperti aliran tetesan air di mulut geriba. Malaikat maut kemudian mengambilnya. Jika dia sudah mengambilnya, para malaikat yang lain tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya. Mereka meletakannya di dalam kain kafan itu dan di dalam usungan. Lalu ruhnya keluar dari dunia dengan aroma yang sangat harum, seharum hembusan minyak kasturi yang ada di dunia. Mereka membawanya naik ke atas. Mereka tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata,’Siapa ruh yang harum ini?’”&lt;br /&gt;Para malaikat yang membawanya menjawab,”Fulan bin Fulan,” dengan menyebut namanya yang paling indah ketika mereka menamakannya di dunia, hingga mereka tiba di langit dunia. Mereka meminta agar dibukakan pintu baginya. Maka kemudian dibukakan pintu baginya. Dia dibawa para malaikat yang mendekatkannya ke langit berikutnya hingga tiba di langit ketujuh.&lt;br /&gt;”Tulislah kitab hamba-Ku di Illiyin dan kembalikan dia ke bumi, karena darinya aku menciptakan mereka. Kepadanya Aku mengembalikan mereka, dan darinya Aku mengeluarkan mereka sekali lagi,” firman Allah Jala Jalalluhu Wa Rahmatuhu kepada para malaikat.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW melanjtkan kembali sabdanya,”Lalu ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Dia didekati dua malaikat dan mendudukkannya, lalu bertanya,’Siapa Rabb-mu?’&lt;br /&gt;Dia menjawab,’Rabb-ku adalah Allah.’&lt;br /&gt;‘Apa agamamu?’&lt;br /&gt;‘Agamaku Islam,’&lt;br /&gt;Siapakah orang yang diutus di tengah kalian ini?’&lt;br /&gt;‘Rasul Allah,’&lt;br /&gt;‘Apa ilmumu?’&lt;br /&gt;‘Aku membaca Kitab Allah lalu aku beriman kepadanya dan membenarkannya,’&lt;br /&gt;Lalu ada Penyeru yang berseru dari langit,’Hamba-Ku benar. Maka bentangkan surga baginya, kenakanlah pakaian dari surga kepadanya dan bukakan baginya satu pintu dari surga’.”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya,”Dia datang dengan aroma yang harum dan kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang. Dia didatangi seorang lelaki yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya. Lelaki itu berkata,’Bergembiralah karena sesuatu yang memberikan kemudahan kepadamu pada hari yang dijanjikan ini.’&lt;br /&gt;Hamba itu berkata,’Siapa engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.’&lt;br /&gt;‘Aku adalah amalmu yang shalih,’ jawabnya.&lt;br /&gt;Hamba itu lalu berkata,’Ya Rabbi, datangkanlah hari kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.’&lt;br /&gt;Orang Kafir&lt;br /&gt;Sedangkan hamba yang kafir, jika meninggalkan dunia dan menuju akhirat, maka para malaikat turun. Wajah mereka hitam sambil membawa kain wool yang kasar. Mereka duduk sejauh mata memandang banyak. Kemudian malaikat maut datang hingga duduk di dekat kepalanya, seraya berkata,”Wahai jiwa yang buruk! Keluarlah kepada kemurkaan dari Allah dan kemarahan-Nya.”&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan kembali sabdanya,”Lalu ia menyebar di dalam jasadnya dan mencabutnya dengan sekali cabutan sebagaimana besi pembakar daging dicabut dari sutera yang dibasahi air, lalu mengambilnya. Ketika malaikat maut sudah mengambilnya, para malaikat lain tidak membiarkannya sekejap mata pun, hingga mereka meletakkannya di atas kain wool yang kasar itu. Ruhnya dibawa keluar dengan bau yang sangat busuk, sebusuk bau bangkai yang ada di dunia. Mereka lalu membawanya naik ke atas. Mereka tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka bertanya,’Apakah bau busuk ini?’”&lt;br /&gt;Mereka menjawab,’Fulan bin Fulan,’ dengan namanya yang paling buruk sebagaimana dia dipanggil di dunia, hingga sampai langit dunia. Lalu diminta agar dibukakan pintu baginya, namun pintu itu tidak dibukakan baginya.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW terdiam sejenak, beliau kemudian membacakan ayat,”Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya. Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.”(QS Al-A’raf:40)&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman,”Tulislah kitabnya di dalam Sijjin di bumi yang paling rendah.” &lt;br /&gt;Lalu ruhnya dilemparkan dengan sekali lemparan. Rasulullah SAW membaca QS Al-Hajj:31, ”Dan, barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”&lt;br /&gt;Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat mendatanginya, mendudukkannya dan bertanya kepadanya,’Siapa Rabb-mu?’&lt;br /&gt;‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab si mayat.&lt;br /&gt;‘Apa agamamu?’&lt;br /&gt;‘Hah, hah, aku tidak tahu.’&lt;br /&gt;‘Siapa orang ini yang diutus di tengah kalian?’&lt;br /&gt;‘Hah, hah, aku tidak tahu.’&lt;br /&gt;Lalu ada Penyeru yang berseru dari langit,’Dia dusta. Maka gelarkan baginya neraka dan bukakan baginya pintu neraka!’&lt;br /&gt;Lalu didatangkan kepadanya dari panasnya api neraka, racunnya dan kuburannya menyempit hingga sendi-sendinya berserakan. Kemudian ia didatangi seorang lelaki yang wajahnya buruk, pakaiannya buruk dan mengeluarkan aroma yang busuk, seraya berkata,’Terimalah kabar yang menyedihkanmu. Inilah hari yang pernah dijanjikan kepadamu.’&lt;br /&gt;‘Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa keburukan.’&lt;br /&gt;‘Aku amalmu yang buruk.’&lt;br /&gt;Rasulullah SAW kemudian menceritakan tentang permohonan dari hamba yang kafir itu,”Ya, Rabb! Janganlah Engkau datangkan hari Kiamat.” (Musnad Imam Ahmad).&lt;br /&gt;AST &lt;br /&gt;Ak26.MutiaraRasul.AST&lt;br /&gt;Kunci Kegaiban dan Kejadian Sesudah Kematian &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah mengutus seorang Nabi pada akhir setiap tujuh umat. Siapa yang durhaka kepada nabinya, maka dia termasuk orang-orang yang sesat, dan siapa yang menaati nabinya, maka dia termasuk yang mendapat petunjuk.” (HR. Thabrany)&lt;br /&gt;Suatu ketika, Luqait bin Amir bersama seorang temannya yang bernama Nuhaik bin Ashim bin Malik bin Al-Muntafiq menemui Rasulullah SAW. Waktu itu beliau baru saja selesai menunaikan shalat Subuh. Selepas salam, beliau bersabda, ”Wahai manusia, selama empat hari ini aku tidak berbicara dengan kalian dan banyak mendengarkan suara-suara kalian. Adakah seseorang diantara kalian di sini yang menjadi utusan kaumnya? Mereka ada yang berkata, ’Beritahukanlah kepada kami apa yang lupa karena bisikan hatinya atau pembicaraan temannya atau dia dilalaikan kesesatan. Ketahuilah, sesungguhnya aku akan dimintai tanggung jawab, apakah aku sudah menyampaikan? Ketahuilah, dengarkanlah niscaya kalian tetap hidup.Ketahuilah, hendaklah kalian duduk. Ingatlah, hendaklah kalian duduk.”&lt;br /&gt;Orang-orang kembali duduk di tempatnya semula. Semua pandangan mata jamaah tertunduk, tak berani menatap wajah baginda Rasulullah SAW yang sangat mulia bermandikan cahaya. Luqait bin Amir kemudian memberanikan diri bertanya,”Wahai Rasulullah, apa yang engkau ketahui tentang ilmu gaib?”&lt;br /&gt;Beliau tersenyum mendengar pertanyaan itu sambil menggerak-gerakan kepala. Beliau tahu, kalau Luqait saat itu membuat pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Setelah diam sejenak, Rasulullah SAW kemudian bersabda, ”Rabb-mu menjamin lima kunci ilmu gaib yang tidak diketahui kecuali Allah SWT semata.”&lt;br /&gt;Tangan beliau lalu diangkat dan memberikan kode isyarat.&lt;br /&gt;“Apa itu?” tanya Luqait penuh penasaran.&lt;br /&gt;“Itulah ilmu kematian. Allah SWT mengetahui kapan kematian salah seorang di antara kalian, sedang kalian tidak mengetahuinya. Dia tahu apa yang terjadi esok hari, apakah kamu bisa makan sedang kamu tidak mengetahuinya. Dia mengetahui hari turunnya hujan, yang sebelumnya kalian dalam keadaan susah dan takut. Dia tersenyum karena sudah tahu sebentar lagi akan turun hujan.”&lt;br /&gt;Luqait kembali berkata,”Kami tidak menganggap mustahil bahwa Allah tersenyum karena suatu kebaikan.”&lt;br /&gt;“Dia mengetahui datangnya kiamat,” sabda beliau lagi.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada kami apa yang engkau ajarkan kepada manusia, karena kami berasal dari suatu kaum yang tidak mudah mau membenarkan seseorang karena persahabatan kami, tidak pula kaum kerabat di antara kami,” kata Luqait kembali.&lt;br /&gt;“Kalian hidup sesuai dengan umur kalian, lalu Nabi kalian meninggal dunia. Kemudian kalian hidup sesuai dengan umur kalian. Kemudian dibangkitkan tiupan yang pertama. Demi Allah, tidak ada yang hidup di permukaan bumi, melainkan mati. Begitu pula para malaikat yang bersama Rabb-mu. Kemudian Rabb-mu berjalan di muka bumi dan Dia sendirian di sana. Kemudian Dia mengutus langit membawa hujan dari sisi ‘Arsy-Nya. Demi Rabb-mu, tidak ada tempat terpendamnya mayat dan tidak pula mayat yang dikubur melainkan kuburan itu terbelah hingga menyembulkan kepalanya lalu duduk tegak. Rabb-mu bertanya, ’Bagaimana keadaanmu setelah sekian lama di dalam kubur?’.”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW kemudian menceritakan jawaban dari mayat yang dibangkitkan itu. “Wahai Rabbi, aku masih dapat merasakan hari itu. Seakan-akan dia baru saja berkumpul dengan keluarganya.”&lt;br /&gt;Luqait tampak belum puas dengan cerita itu, ia kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah mengumpulkan kami setelah kami dicecerkan angin, bencana dan binatang buas?”&lt;br /&gt;Beliau bersabda,”Aku akan memberitahukan kepadamu perumpamaan hal itu dalam karunia dan nikmat Allah Jala Jalalluhu Wa Rahmatuhu. Tadinya, bumi itu tandus dan kering serta tidak hidup. Kemudian, Rabb-mu mengirim hujan. Selang beberapa lama kemudian bumi itu hidup dan banyak air yang menggenang untuk minum. Demi Rabb-mu, Dia benar-benar berkuasa mengumpulkan kalian dari air, sebagaimana Dia mengumpulkan tanaman bumi. Lalu, kalian keluar dari kubur dan dari tempat kalian terbunuh. Lalu kalian melihat Allah dan Allah SWT melihat kalian.”&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, bagaimana itu terjadi? Padahal kita memenuhi bumi ini. Padahal Allah SWT adalah satu diri yang kita lihat?” Luqait kembali bertanya.&lt;br /&gt;“Akan kuberitahukan yang demikian itu dalam nikmat Allah. Matahari dan rembulan adalah satu tanda kekuasaan Allah. Keduanya terlihat kecil dalam pandangan kalian, namun keduanya dapat melihat kalian, dan toh kalian tidak apa-apa ketika melihatnya. Demi Rabb-mu, Dia benar-benar berkuasa melihat kalian semua dan kalian dapat melihat-Nya sebagaimana kalian dapat melihat matahari dan rembulan,” jawab beliau.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, apa yang akan diperbuat Rabb kami terhadap kami setelah bersua dengan-Nya?” tanya Luqait.&lt;br /&gt;“Kalian dihadapkan kepada-Nya dengan menunjukkan catatan kalian. Tidak ada yang tersembunyi sedikit pun dari kalian. Kemudian Rabb-mu mengambil segayung air dengan Tangan-Nya, lalu memercikannya ke arah kalian. Demi Rabb-mu, wajah masing-masing orang di antara kalian terkena percikan air itu. Ada pun bila mengenai wajah orang Muslim, maka air itu membuat wajahnya seperti kain putih yang halus. Sedang bagi orang Kafir, bila air itu mengenai hidungnya maka air itu akan menimbulkan bercak hitam. Ketahuilah, kemudian Nabi kalian akan menghadap Allah, dan orang-orang shalih mengikutinya dari belakang. Lalu mereka melewati jembatan hingga salah seorang di antara kalian menginjak bara sambil berkata,”Aduh”. Mereka melewati taman Rasulullah SAW hingga mereka menjadi kehausan. Demi Rabb-mu, tidaklah seseorang di antara kalian mengulurkan tangannya melainkan dia memegang bejana yang dia gunakan untuk membersihkan kotoran dan kencing. Matahari dan rembulan disembunyikan, sehingga kalian tidak melihat keduanya,” sabda Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, lalu dengan apa agar kita dapat melihat?”&lt;br /&gt;“Dengan penglihatanmu saat ini. Yang demikian itu terjadi sebelum terbitnya matahari, pada hari diterbitkan bumi di balik gunung.”&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, dengan apa kita diberi balasan atas keburukan kami?” tanya Luqait kembali. &lt;br /&gt;“Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan satu keburukan dibalas dengan satu keburukan yang serupa, kecuali dimaafkan.”&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, bagaimana surga dan neraka?”&lt;br /&gt;“Demi Rabb-mu, neraka itu memiliki tujuh pintu. Tidak ada jarak antara dua pintunya melainkan seperti pengelana yang mengadakan perjalanan selama tujuh puluh tahun,” jawab beliau.&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah SAW, di atas apa kami dapat melihat surga?”&lt;br /&gt;Beliau menjawab,”Dari atas sungai-sungai madu yang dipilih, sungai-sungai dari khamr yang tidak memusingkan jika diminum dan tidak pula membuat menyesal dan sungai-sungai dari susu yang tidak berubah-ubah rasanya, air yang tidak berubah-ubah warnanya dan buah-buahan. Demi Rabb-mu, kalian tidak tahu yang lebih baik dari itu, di samping istri-istri yang disucikan.”&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, apakah kami akan mempunyai isteri di sana? Ataukah di antara mereka ada wanita-wanita yang shalih?” tanya Luqait dengan nada malu-malu, hingga para jemaah di masjid itu tersenyum simpul dibuatnya.&lt;br /&gt;“Para wanita shalihah bagi para lelaki yang shalih. Kalian mendapatkan kenikmatan dari mereka seperti kalian rasakan di dunia dan mereka tidak melahirkan,” jawab baginda Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;“Bagaimana puncak kenikmatan yang kami dapatkan di sana?” Tanya Luqait kembali dengan penuh penasaran.&lt;br /&gt;Namun, beliau tidak diam dan tidak menjawabnya. Semua hening. Luqait kembali memecah kesunyian masjid itu dengan bertanya,”Wahai Rasulullah, atas apa aku berbaiat kepada engkau?”&lt;br /&gt;Beliau kemudian membentangkan tangan dan bersabda,”Dengan engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, memisahkan diri dari orang-orang musyrik dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun selain-Nya.”&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bagi kami apa yang ada di antara timur dan barat.”&lt;br /&gt;Beliau lalu memegang tangannya sendiri dan membeberkan jari-jarinya. Rupanya Rasulullah SAW mengira Luqait meminta syarat yang tidak mungkin juga dapat Rasulullah penuhi. Luqait kembali berkata,”Artinya, kami menghalalkan apa pun yang kami kehendaki darinya dan tidak ada yang menimpa seseorang dari apa yang dilakukannya kecuali dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;Sambil membeberkan tangan, beliau bersabda,”Yang demikian itu bagimu. Engkau dapat menghalalkan apa pun menurut kehendakmu dan tidak ada yang menimpa, kecuali dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;Luqait bin Amir dan Nuhaik bin Ashim bin Malik bin Al-Muntafiq tampak puas mendengar jawaban dari Rasulullah SAW, mereka berdua lalu berlalu dari majelis. Beliau lalu bersabda,”Demi Rabb-mu, aku ingin memberitahukan bahwa mereka adalah termasuk orang-orang yang paling bertaqwa di dunia dan akhirat.”&lt;br /&gt;Ka’b bin Al-Khidariyah, salah seorang dari Bani Ka’b bin Kilab, bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?”&lt;br /&gt;Beliau menjawab,“ Mereka adalah Bani Al-Muntafiq. Mereka adalah orang-orang yang layak melakukannya.” &lt;br /&gt;Tak lama berselang, Luqait bin Amir dan Nuhaik bin Ashim bin Malik bin Al-Muntafiq kembali menghadap Rasulullah SAW, dan Luqait bin Amir bertanya pada beliau,”Wahai Rasulullah, apakah seseorang mendapatkan pahala kebaikan yang dia kerjakan pada masa jahiliyah?”&lt;br /&gt;Seseorang dari pemuka Quraisy menjawab,”Demi Allah, ayahmu, Al-Muntafiq berada di neraka.”&lt;br /&gt;Mendengar pernyataan dari salah seorang pemuka Quraisy itu, wajah Luqait merah padam. Ia kembali bertanya,”Wahai Rasulullah, bagaimana dengan keluarga engkau?”&lt;br /&gt;Rasulullah SAW kemudian mejawab,“Tentang keluargaku, demi Allah, ketika engkau melewati kuburan seseorang dari keturunan Amiry atau Quraisy, maka katakanlah,’Aku diutus Muhammad kepadamu untuk mengatakan,’Terimalah kabar tentang keburukanmu, yang membuat wajah dan perutnya ditelungkupkan ke neraka’.”&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, apa yang diperbuat Allah terhadap mereka, sementara mereka pernah berbuat kebaikan, dan mereka mengira bahwa mereka juga telah berbuat kebaikan?” tanya Luqait.&lt;br /&gt;Beliau lalu bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutus seorang Nabi pada setiap tujuh umat. Siapa yang durhaka kepada nabinya, maka dia termasuk orang-orang yang sesat, dan siapa yang menaati nabinya, maka dia termasuk yang mendapat petunjuk.” &lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;AK.MutiaraRasulullah.AST&lt;br /&gt;Mimpi Rasulullah SAW&lt;br /&gt;Mimpi Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar datangnya dari Allah SWT. Salah satu mimpinya yang diceritakan kepada para sahabat adalah mimpi beliau berkunjung ke alam akhirat&lt;br /&gt;Suatu hari baginda Rasulullah SAW keluar rumahnya dan menemui Abdurrahman bin Samurah yang saat itu bersama para sahabat di kota Madinah. Beliau berdiri di depan para sahabat yang hadir dan beliau bersabda,”Semalam aku bermimpi melihat sesuatu yang menakjubkan. Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang didatangi malaikat maut untuk mencabut ruhnya.Kebaktian kepada kedua orang tuanya menghalangi malaikat maut dari dirinya.”&lt;br /&gt;Beliau kemudian melanjutkan sabdanya,”Aku juga melihat seorang lelaki dari umatku yang kepadanya ditampakan adzab kubur. Lalu wudhunya datang untuk menyelamatkan dirinya dari adzab itu.”&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang dikepung syaitan-syaitan itu dari sekitarnya. Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang dikepung para malaikat adzab. Lalu didatangi shalatnya lalu menyelamatkannya dari tangan mereka. &lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku megap-megap karena kehausan. Setiap kali dia mendekati kolam, maka dia diusir dan dia pun jauh darinya. Dia didatangi puasa Ramadhannya, lalu memberinya minum hingga kenyang. &lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku, dan kulihat para nabi membuat beberapa lingkaran yang terdiri dari beberapa orang. Setiap kali dia mendekati satu lingkaran, maka dia diusir. Lalu dia didatangi mandinya dari jinabah, menghela tangannya dan mendudukkannya disisiku.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang di depan dan belakangnya gelap, di kanan kirinya gelap, di atas dan di bawahnya gelap. Dia didatangi haji dan umrahnya lalu mengeluarkannya dari kegelapan itu dan memasukannya kepada cahaya.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang melindungi wajahnya dari panasnya api neraka dengan tangannya. Dia lalu didatangi shadaqahnya lalu shadaqah itu menjadi tabir antara dia dengan neraka, serta menjadi lindungan di atas kepala.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang mengajak bicara seorang mukmin, namun mereka tidak menyahutinya. Kemudian dia didatangi silaturahimnya yang berkata,’Wahai orang-orang mukmin, dia adalah orang yang menyambung tali persaudaraan dengan kerabatnya, maka berbicaralah dengannya.’ Maka mereka pun berbicara dengannya dan berjabat tangan dengan mereka, sehingga dia termasuk golongan mereka.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang dikepung malaikat Zabaniyah (malaikat adzab), dia didatangi amar ma’ruf nahi munkar-nya, lalu menyelamatkannya dari tangan mereka dan memasukannya ke golongan malaikat Rahmat. &lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berlutut pada kedua lututnya, sementara antara dirinya dengan Allah ada hijab. Dia kemudian didatangi akhlaknya yang baik, lalu menuntunnya dan membawanya ke hadapan Allah.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang mengambil catatannya dengan tangan kirinya. Dia didatangi ketakutannya kepada Allah, yang kemudian mengambil catatan itu dan meletakkannya di tangan kanannya.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berdiri di bibir Neraka Jahanam. Dia datangi harapannya kepada Allah, lalu menyelamatkannya dari tempat itu dan berlalu dari sana.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang telah turun ke neraka. Dia didatangi air matanya karena takut kepada Allah, lalu menyelamatkannya dari neraka itu.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berdiri di atas Ash-Shirath. Dia gemetar seperti pelepah yang bergetar karena tertiup angin. Dia didatangi anggapannya yang baik kepada Allah, sehingga dia tidak lagi gemetar dan berlalu di atasnya.&lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang merangkak di Ash-Shirath dan kadang bergelayut padanya. Dia didatangi shalawatnya atas diriku lalu menyelamatkannya dan membuatnya berdiri di atas kedua kakinya. &lt;br /&gt;Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berdiri di depan pintu surga, lalu tiba-tiba pintu itu tertutup di hadapannya. Dia didatangi syahadatnya bahwa tiada Tuhan selain Allah, lalu pintu itu pun dibukakan baginya dan dia dimasukan ke dalam surga.&lt;br /&gt;AST&lt;br /&gt;Mutiara Rasul&lt;br /&gt;Pinangan 400 Dirham&lt;br /&gt;Rasulullah SAW memerintahkan seorang pemuda yang berkulit hitam legam untuk menikahi seorang gadis dengan dibekali mahar 400 dirham. Sayang, pemuda itu akhirnya gugur di medan pertempuran &lt;br /&gt;Seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,”Ya Rasulullah, apakah saya akan terhalang untuk masuk surga karena hitamku dan jelek mukaku?”&lt;br /&gt;“Tidak, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya selama kau yakin dengan Tuhanmu dan percaya pada ajaran Rasul-Nya,” jawab Rasulullah.&lt;br /&gt;“Demi Allah yang telah memuliakan engkau dengan kenabian. Saya telah bersyahadat Saya percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah sekitar 8 bulan yang lalu, sebelum engkau datang kemari. Dan saya telah meminang kepada orang-orang yang ada di sekitarmu ini dan semuanya menolak aku karena hitamku dan jelek wajahku. Padahal, aku sebenarnya keturunan yang baik dari suku bani Sulaim. Tetapi jelekku ini didapat dari keturunan ibuku,” kata pemuda berkulit hitam itu.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW lalu bertanya kepada para sahabat yang hadir di majelis,”Apakah yang hadir pada hari ini ada yang bernama Amr bin Wahb dari suku Tsaqief yang belum lama masuk Islam? “&lt;br /&gt;“Tidak” jawab para sahabat.&lt;br /&gt;Nabi SAW kemudian bertanya pada orang itu,”Apakah kamu mengetahui rumahnya?&lt;br /&gt;“Ya” jawab pemuda hitam itu.&lt;br /&gt;Nabi SAW lalu bersabda,”Pergilah dan ketoklah pintunya perlahan-lahan. Kemudian berilah salam kepadanya, dan bila telah masuk, katakan padanya,’Rasulullah SAW telah mengawinkan aku dengan puterimu. Orang itu mempunyai puteri cantik yang bernama Atiqah.”&lt;br /&gt;Pemuda itu segera berlalu dari hadapan Rasulullah SAW dan menuju rumah Amr bin Wahb. Pada mulanya, sang tuan rumah menyambutnya dengan baik, tetapi karena hitam dan mukanya jelek, maka mereka lama-lama tidak senang melihat kondisi pemuda itu. Bahkan setelah pemuda itu menyampaikan pesan Rasulullah SAW bahwa ia telah dikawinkan oleh Nabi SAW dengan salah satu puteri tuan rumah. Kontan, mereka menolak dengan cara yang kasar dan sangat rendah sekali, penuh umpatan kata-kata yang kotor. &lt;br /&gt;Tentu saja, mendapat sambutan yang tak sopan dari tuan rumah, membuat muka sang pemuda itu merah padam. Ia merasa terhina, ia pun segera kembali ke hadapan Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;Sementara itu, sepulangnya pemuda itu, sang puteri itu mendadak berkata pada sang ayah,”Hai Ayah, carilah selamat. Carilah selamat. Sebelum turun wahyu yang membuka kedokmu. Jika ia benar mengawinkan aku dengannya, maka aku rela pada apa yang telah direlakan oleh Allah dan Rasulullah untukku.”&lt;br /&gt;Amr bin Wahb kemudian menghadap Rasulullah. Ketika sampai di majelis Rasulullah, ia langsung ditegur oleh beliau,”Kamu yang telah menolak pinangan Rasulullah?”&lt;br /&gt;“Benar. Tetapi saya minta ampun kepada Allah, sebab saya sangka ia dusta. Apabila ia benar maka saya terima dan saya kawinkan putriku dengan mahar empat ratus dirham. Dan kami berlindung jangan sampai terkena murka Allah dan Rasulullah SAW. ”&lt;br /&gt;Mendengar permintaan Amr bin Wahb, Rasulullah SAW kemudian menyuruh calon suami, pemuda berkulit hitam tadi, yang bernama Sa’ad Assulami, ”Pergilah kepada calon isterimu dan penuhi permintaannya,” perintah beliau.&lt;br /&gt;“Saya tidak punya apa-apa, saya akan minta pada saudara-saudaraku,” jawab pemuda itu.&lt;br /&gt;Melihat beban yang tak sanggup dipikul oleh pemuda itu, Rasulullah SAW kemudian memberikan perintah, “Pergilah pada Usman bin Affan RA terima darinya duaratus dirham! Mahar untuk isterimu itu akan ditanggung oleh oleh tiga orang dari kaum mu’minin.” &lt;br /&gt;Maka pergilah pemuda hitam itu menuruti perintah Rasulullah SAW menuju kediaman Utsman bin Affan. Dari Utsman ia menerima lebih dari duaratus dirham. Selanjutnya ia pergi ke kepada Abdurrahman bin Auf dan Ali bin Abi Thalib. Dari mereka, ia memperoleh lebih dari duaratus dirham.&lt;br /&gt;Setelah mendapat uang yang banyak, ia kemudian pergi ke pasar untuk membeli oleh-oleh isterinya.Namun, sesampainya di pasar ia mendengar seruan, ”Ya Khailallah irkabi! (Hai kuda Allah, berkendaraanlah)!”&lt;br /&gt;Tampak juga Rasulullah SAW tengah berseru kepada kaum msulimin,”Keluarlah untuk berjihad! Keluarlah untuk jihad!” di atas kudanya.&lt;br /&gt;Sa’ad Assulami mendengar seruan Rasulullah SAW ia menjadi berubah pikiran. Ia tertunduk sebentar, kemudian mukanya menengadah ke langit seraya berdoa,”Ya Allah, Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhannya Muhammad SAW. Saya akan mempergunakan uang ini pada sesuatu yang lebih disuka oleh Allah dan Rasulullah dan kepentingan kaum muslimin.” &lt;br /&gt;Tekadnya telah bulat, ia kemudian membelanjakan seluruh uangnya itu untuk kepentingan jihad. Ia membeli kuda, pedang, tombak dan perisai besi. Tak lupa ia juga membeli seperangkat pakaian perang. Setelah ia mempererat ikat sorbannya dan ikat pinggangnya serta memakai topi baja, hanpir-hampir tidak terlihat postur aslinya, kecuali kedua matanya yang bulat. &lt;br /&gt;Ia lalu berdiri tegak di tengah-tengah Muhajirin, sehingga mereka bertanya-tanya siapakah penunggang kuda yang tidak dikenal itu?&lt;br /&gt;Sahabat Ali sendiri sampai berkata,”Biarkan. Kemungkinan ia dari Bahrain atau dari Syam. Ia datang untuk menanyakan ajaran-ajaran agama. Karena itu ia kini ingin mengorbankan diri untuk keselamatan kaum muslimin.”&lt;br /&gt;Kemudian orang hitam itu maju ke barisan musuh dengan menggunkan pedang dan tombaknya untuk memukul dan memenggal orang-orang kafir, hingga kudanya pun tak kuat untuk mengimbangi kecepatan dari serangan pemuda itu. Akhirnya, ia turun dari kudanya sambil menyingsingkan lengan baju perang, sehingga Rasulullah SAW yang kebetulan berpapasan dengan orang berpakaian asing itu melihat tanda hitam di seluruh lengan dan beliau langsung mengenalnya. Maka dipanggilah orang asing itu,”Apakah kamu Sa’ad?”&lt;br /&gt;“Ya, benar.”&lt;br /&gt;“Untung nasibmu,”&lt;br /&gt;Selanjutnya Sa’ad dengan penuh semangat kembali merangsek ke barisan terdepan pertempuran. Dengan penuh semangat ia menikam dengan tombak dan membunuh dengan pedangnya. Hingga akhirnya, ia pun gugur sebagai syahid di medan tempur itu.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW begitu mendegar Sa’ad gugur, beliau langsung menuju kepadanya. Dengan perlahan-lahan kepala Sa’ad, beliau angkat dan diletakan di pangkuan Nabi SAW. Sambil mengusap-usap tanah yang melekat di mukanya, beliau bersabda,”Alangkah harum baumu. Alangkah kasihnya Allah dan Rasulullah kepadamu,” sabda Nabi sambil menangis.&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian Rasulullah SAW tertawa, lalu beliau memalingkan muka Sa’ad dan bersabda,”Kini ia telah sampai di Haudh (telaga). Demi Tuhan yang mempunyai Ka’bah.”&lt;br /&gt;Abu Lababah bertanya,”Ya Rasulullah. Apakah telaga Haudh?”&lt;br /&gt;“Telaga yang diberikan oleh Allah kepadaku. Lebarnya antara Shan’aa Yaman hingga Bushra. Tepinya berhias dengan permata dan mutiara. Airnya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu. Siapa yang minum satu kali dari telaga Haud, tidak aka haus untuk selamanya.”&lt;br /&gt;“Ya, Rasulullah. Mengapa engkau tadi menangis? Lalu tertawa, kemudian berpaling muka dari Sa’ad?” tanya Lababah&lt;br /&gt;“Tangisku karena rindu kepada Sa’ad. Ada pun tertawaku karena gembira melihat kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya. Adapun aku berpaling muka, karena melihat calon isteri-isteri Sa’ad (bidadari) yang berebut mendekatinya hingga terbuka betis mereka. Maka segera aku berpaling muka karena malu, ” Jawab Nabi.&lt;br /&gt;Beliau kemudian menyuruh mengumpulkan pedang, tombak dan kuda dari Sa’ad untuk diserahkan kepada calon isterinya yang sudah di aqad nikah, sambil beliau memberitahu Amr bin Wahb, ”Allah SWT telah mengawinkan Sa’ad pada bidadari yang lebih cantik dari puterimu.” (***)Aji Setiawan&lt;br /&gt;Rek Bank Mandiri a/n Aji Setiawan no : 139-00-1091517-5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-8920884576331559431?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/8920884576331559431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=8920884576331559431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8920884576331559431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/8920884576331559431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/mutiara-mutiara-rasulullah-saw.html' title='Mutiara-mutiara Rasulullah SAW'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pF_P8vrH9rg/TctK8UQAPuI/AAAAAAAAAqc/oKvaud1VNfU/s72-c/mutiara%2Bku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-4214025827273152308</id><published>2011-05-10T22:24:00.000-07:00</published><updated>2011-07-29T19:40:29.541-07:00</updated><title type='text'>Maulid dan Haul Mbah Malik Mersi Kec Kembaran Banyumas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-AKlp1B7ove4/TjNu8Ar5eaI/AAAAAAAAAxA/1bgeHKP3LGw/s1600/DSCN9288.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AKlp1B7ove4/TjNu8Ar5eaI/AAAAAAAAAxA/1bgeHKP3LGw/s320/DSCN9288.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634969536025950626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-o-R3CikI_Vo/TjNu73lYe9I/AAAAAAAAAw4/KTt1hEMDMTo/s1600/DSCN9280.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-o-R3CikI_Vo/TjNu73lYe9I/AAAAAAAAAw4/KTt1hEMDMTo/s320/DSCN9280.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634969533582703570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ZQZi4TENjuQ/TjNu7tL_mHI/AAAAAAAAAww/KmSgIyFs6RE/s1600/DSCN9279.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZQZi4TENjuQ/TjNu7tL_mHI/AAAAAAAAAww/KmSgIyFs6RE/s320/DSCN9279.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634969530791860338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fBXonaDpZcQ/TjNu7VlHsaI/AAAAAAAAAwo/bofBb5c0aIg/s1600/DSCN9276.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fBXonaDpZcQ/TjNu7VlHsaI/AAAAAAAAAwo/bofBb5c0aIg/s320/DSCN9276.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634969524454797730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-wgNP3Rc6kPc/TjNu8VZFWTI/AAAAAAAAAxI/SLJ-yVsfty0/s1600/DSCN9289.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-wgNP3Rc6kPc/TjNu8VZFWTI/AAAAAAAAAxI/SLJ-yVsfty0/s320/DSCN9289.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634969541584181554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haul  MbahMalik Ke 31 dan Para Mursyid Naqsabandiyah Khalidiyah sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT&lt;br /&gt;Dengan jalan dzikir dan beribadah sebagai mana yang dituntunkan guru-guru mursyid Naqsandiyah Khalidiyah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.  &lt;br /&gt;Acara Haul para Mursyid Naqsandiyah Khalidiyah Bani Malik dan berbarengan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jl KH Abdul Malik Kedung Paruk, Desa Ledug Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas sendiri berlangsung sangat meriah dan semarak dengan berbagai kegiatan keagamaan mulai dari hari Kamis-Selasa (25 Februari-1 Maret 2011).Acara dibuka sejak Hari Kamis (25/2) dengan pembacaan Yasin dan dzikir bersama. Pada hari Jumat malam (26/2) pada pukul 20.00-20.30 berlangsung acara Istighosah bersama. &lt;br /&gt;Sementara pada Hari Ahad pagi (27/2) dengan semaan Al-Qur'an dari para santri Pondok Pesantren Bani Malik, Ledug, Kedungparuk, kec Kembaran Kabupaten Banyumas.Puncak acara berlangsung pada tanggal Senin 28 Februari 2011 dengan dimulai lepas shalat Isya di masjid Baha'ul Haq Dhiya'udin, Kedung Paruk Purwokerto dan berlanjut dengan acara pembacaaan maulid Simthud Duror yang dipandu oleh Habib Husein Bin Syaikh Abubakar dan Habib Umar Bafagih di tempat biasa untuk acara Tawajuhan Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah sekaligus rumah kediaman KH. Drs. Mohammad Ilyas Noor oleh para Habaib yang hadir. Lepas pembacaan Maulid Simthud Duror jamaah kemudian menikmati hidangan istimewa yang disajikan oleh shahibul bait dengan diiringi rampak hajir marawis Shifa’ul Qulub (Bantar Soka, Purwokerto Barat) pimpinan Ustad Alhar Fathoni.  &lt;br /&gt;Lepas pembacaan kalam illahi, acara berlanjut dengan pembacaan Manakib pendiri Thariqoh Naqsabandiyah-Khalidiyah di Indonesia oleh Ustadz Muhammad Nu’man Noor. SAg. KH Muhammad Ilyas bin H Aly Dipowongso trukah berdakwah di wilayah eks Karsidenan Banyumas di mulai dari grumbul Kedungparuk sekembalinya dari menuntut ilmu  selama puluhan tahun di Mekkah. &lt;br /&gt;Guru Ilyas demikian nama yang lebih dikenal dilahirkan di Kedung Paruk sekitar tahun 1186 H/1765 M dari seorang ibu bernama Siti Zaenab binti Maseh bin KH Abdussamad (Mbah Jombor). Guru Ilyas mulai menyebarkan luaskan thariqah naqsabandiyah khalidiyah sesuai tugas dan amanah gurunya yakni Syaikh Sulaiman Zuhdi Al Makki sekitar tahun 1246 H/1825 M pada usia 60 tahun. Bertahun-tahun dengan sembunyi-sembunyi pada tahun 1285 H.1864 M beliau berhasil membangun sebuah masjid dan pondok thariqah di Kedung Paruk dan pondok thariqah di Sokaraja. &lt;br /&gt;Amaliah thariqah di Kedung Paruk diserah amanahkan kepada putra dari istri Kedung Paruk yaitu Syaikh Muhammad Abdul Malik sedang di Sokaraja kepad aputra dari istri Sokaraja yakni Syekh Mohammad Affandi. Mbah Guru Ilyas wafat pada usia sekitar 147 tahun dan dimakamkan di kompleks pondok thariqah Annaqsyabandiyah Sokaraja.&lt;br /&gt;KH Muhamamd Abdul Malik atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Malik lahir di Kedung Paruk pada hari Jum’at, 3 Rajab 1294 H/1881 M. Nama kecil beliau Ash’ad. Nama Muhammad Abdul Malik diperoleh sepulang haji pertama. Beliau wafat pada hari kamis malam juat tangal 2 Jumadil Akhir 1400 H/17 April 1980 M, dalam usia 99 tahun dan dimakamkan di belakang masjid Bahaaul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien, Kedung Paruk dan memangku kemursyidan selama 68 tahun (1912-1980).&lt;br /&gt;Konon beliau mengamalkan lebih dari 12 thariqah,hanya yang diturunkan paling tidak 4 thariqah yaitu naqsyabandi al-khalidi, syadziliyah, qairiyah naqsyabandiyah dan alawiyah. Di samping memberikan pelajaran tentang ilmu tashawuf (Thariqah), beliau juga mengembangkan ilmu al-qur’an (tahfidul-qur’an dan qira;ah sab’ah). Tidak sedikit para hafidh dan qari’ datang kepada beliau untuk mengambil ilmu al-qur’an atau sekedar tabarukan.&lt;br /&gt;Mbah Malik tidak meninggalkan harta ataupun karya tulis, namun karya agung beliau adalah karya yang dapat berjalan yaitu murid-murid beliau yang kini menjadi tokoh-tokoh masyarakat, ulama, kiyai, rijalul qaum (tokoh panutan) seperti diuangkapkan oleh al ‘alaamah al-mursyid al-habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Aly bin Yahya.&lt;br /&gt;Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik dioantaranya Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Abdul Qadir (penerus pertama), KH Sa’id (penerus kedua) dan KH Muhammad Ilyas Noor (penerus /mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sampai saat ini.&lt;br /&gt;Satu hal yang sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh murid kesayangan Mbah Malik yakni Habib Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya (Pekalongan) bahwa beliau memiliki ratusan guru ruhani, tapi yang “kemantil-kantil” di pelupuk mata beliau adalah Mbah Malik.&lt;br /&gt;Tiga hal yang diwasiatkan kepada penerus Mbah Malik yaitu; jangan tinggalkan shalat, jangan tinggalkan al-qur’an dan jangan tinggalkan shalawat. Disamping itu dalam berbagai kesempatan Mbah Malik sering menyampaikan pesan-pesannya kepada murid-murid dan cucu-cucu beliau untuk melakukan dua hal, yaitu pertama agar selalu membaca shalawat kepada Rasulullah SAW dan kedua agar sellau mencintai serta menghormati dzuriyyah (cucu-cucu ) Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Penerus Mbah Malik&lt;br /&gt;Mbah Malik adalah guru besar Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan As-Syadziliyah Indonesia. Silsilah kemursyidan diserahkan kepada murid kesayangan beliau (Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya dan cucu beliau Abdul Qadir bin Lyas Noor).&lt;br /&gt;Kalau kepadasang cucu hanya kemursyidan thariqah An-Naqsabandiyah al-Khalidiyahnya saja, namun kemursyidan kedua thariqah besar tersebut (Naqsyabandi dan Syadzili) diserahkan kepada muridnya yakni Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya.&lt;br /&gt;Mbah Malik menurunkan  seorang anak laki-laki dari Nyai Siti Warsiti yang lebih dikenal Mbah Johar (putri syaikh Abubakar bin H Yahya, kaliwedi, guru mbah Malik) yakni Ahmad Busyairi, namun meninggall dalam usia 36 tahun (1953). Sedang dari mBah Mrenek Maos Cilacap, tidak dikaruniai anak. Dari perkawainannya dengan Nyai Siti Hasanah putri H Abdul Khalil (Kedung Paruk), ia menurunkan seorang putri yaitu Nyai Khairiyah. Sang putri tunggal ini Nyai Khairiyah menurunkan sembilan anak. Dengan Kyai Anshor Sokaraja, satu orang putri yaitu Hj Siti Fauziyah dan dariKyai Ilyas Noor, delapan anak tiga  laki-laki dan lima perempuan yaitu Hj Siti Faridah, KH Abdul Qadir, Siti Fatimah, Siti Rogayah, KH Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor , Hj Isti Rochati dan Nurul Mu’minah.&lt;br /&gt;Tiga penerus Mbah Malik yang meneruskan amaliah Mbah Malik masing-masing yakni pertama, KH Abdul Qadir bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir di Kedung Paruk 11 Oktober 1942 wafat pada hari Selasa 19 Maret 2002 (5 Muharam 1423 H dalamusia 60 tahun) dan dimakamkan dibelakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 22 tahun (1980-2002).&lt;br /&gt;Penerus kedua yakni yakni KH SA’id bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir diKedung Paruk pada tanggal 15 April 1951 wafat pada hari kamis tanggal 3 Juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun (2002-2004). Selepas itu kemursyidan thariqah dari tahun 2004 sampai sekarang dipegang oleh KH Muhammad bin KH Ilyas Noor Subtil Malik. &lt;br /&gt;Tausyiah pertama disampaikan oleh Habib Idrus bin Jakfar Al-Habsyi dari Kranggan, kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Dalam kesempatan itu, Habib Idrus banyak mengungkapkan tentang keistimewaan dari Nabi Muhammad SAW karena beliau mahluq pilihan Allah SWT. Sebelum Allah menciptakan alam dan seisinya, Allah telah manusia pertama yang pertama kali diciptakan adalah Nabi Muhammad SAW berupa Nur. Nabi terlahir sudah bagus apalagi sampai dewasa pun akhlaqnya (ahsan) tetap akhlaqul karimah. &lt;br /&gt;Dilanjutkan oleh Habib Idrus bahwa ada lima rasul pilihan Allah yakni Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Isa dan terakhir Nabi Muhammad SAW. Habib Idrus Al Habsyi dalam kesempatan itu mengingatkan kepada Jamaah untuk menggapai kebahagiaan dengan jalan iman dan istiqomah. "Karena orang yang punya Iman, termasuk orang yang bahagia. Orang yang punya ilmu, tapi tidak punya iman, pasti hidupnya tidak bahagia," kata Habib Idrus Al-Habsyi. &lt;br /&gt;Dilanjutkan, Iman yang meresap ke hati ini merupakan iman haq, yakni iman yakni mengamalkan apa yang diucapkan.Setelah mencapai iman haq, akan meningkatlagi menjadi iman ma'rifat yakni melakukan ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasululullah Muhammad SAW serta menjauhi segala larangannya.&lt;br /&gt;“Iman Ma'rifat ini di bisa ditempuh dengan jalan banyak berdzikir sehing&lt;br /&gt;ga dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT,” lanjut Habib Idrus. Tepat dinihari acara pengajian akbar ini ditutup dengan doa oleh Habib Idrus bin Jakfar Al-Habsyi dari Ajibarang, Banyumas. &lt;br /&gt;Pagi harinya, Selasa (1 Maret 2011) rangkaian Haul khusus untuk jama’ah perempuan (pengajia kaum ibu) dengan pembicara utama Hj Aminah Karim dan ditutup doa oleh Nyai Hj Muhsin. Dan siang harinya diadakan ta’aruf sekaligus silaturahim antara ikhwan dan akhwat thariqah yang pengajiannya dipandu langsung oleh Kyai Isya Anshari. (***)&lt;br /&gt;                    Aji Setiawan, Purbalingga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-4214025827273152308?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/4214025827273152308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=4214025827273152308' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4214025827273152308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4214025827273152308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/bagaimana-memulainya.html' title='Maulid dan Haul Mbah Malik Mersi Kec Kembaran Banyumas'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-AKlp1B7ove4/TjNu8Ar5eaI/AAAAAAAAAxA/1bgeHKP3LGw/s72-c/DSCN9288.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-4323646468091484208</id><published>2011-05-09T20:57:00.001-07:00</published><updated>2011-06-16T23:40:07.694-07:00</updated><title type='text'>Maulid MT Riyadus Sholihin Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-KYssMfOKs9A/Tci3ws8pWEI/AAAAAAAAApc/tJLAHK2Gce8/s1600/mail.google.com.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-KYssMfOKs9A/Tci3ws8pWEI/AAAAAAAAApc/tJLAHK2Gce8/s320/mail.google.com.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604931783589713986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Vavb8zvWj3Q/Tci3wnmDv4I/AAAAAAAAApU/_8hh_ojHkYw/s1600/Maulid.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 166px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Vavb8zvWj3Q/Tci3wnmDv4I/AAAAAAAAApU/_8hh_ojHkYw/s320/Maulid.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604931782152798082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-izaAit2Rgfw/Tci3wz8KzeI/AAAAAAAAApk/R_GLnC8s9-I/s1600/maulid2.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 166px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-izaAit2Rgfw/Tci3wz8KzeI/AAAAAAAAApk/R_GLnC8s9-I/s320/maulid2.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604931785466760674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Kepada Rasulullah SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW adalah bukti cinta kita kepada Alloh SWT. Jalur membuktikan kecintaan kepada Alloh SWT adalah melalui Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu malam yang lalu 5 Februari 2011 bertepatan tanggal 3 Rabiul Awal 1432 H ribuan jemaah yang didominasi pemuda dna pemudi, tumpah ruah memadati sepanjang jalan raya depan Pondok Pesantren Al-Qur'an An-Nur Desa Kedungjati menuju Kecamatan Bukateja, Kab Purbalingga. Mereka adalah tamu Rasulullah SAW, hendak mengikuti peringatan hari kelahiran beliau yang digelar oleh Majelis Taklim Riyadhus Solichin  pimpinan Habib Ali bin Umar Al-Qutban dan Jama'ah Simthud Duror (Jamrud) asuhan Habib Alwi bin Ali bin Alwi bin Ali Al Habsyi (Surakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tamu Rasulullah SAW yang datang dari berbagai wilayah sekitar Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen dan sekitarnya langsung menempatkan diri, duduk bersila atau bersama-sama jemaah lain mengobrol dengan para Habaib dan Ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas shalat Isya berja’maah, mereka langung menempatkan diri di shaf-shaf terdepan, memenuhi panggung besar yang telah disediakan panitia di depan pondok Pesantren Putra Putri An-Nur yang diasuh KH Ihsanuddin (alm). Dengan duduk bersila, sambil menanti kedatangan jemaah yang belum datang. Raut-raut wajah mereka tampak riang, seperti orang yang baru mendapatkan kabar gembira. Semakin malam, jamaah semakin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 8 malam, acara dibuka oleh Habib Aqil bin Umar AL Qutban dan berlanjut dengan pembacaan kalam illahi oleh Ustadz Zamami Suyuti dari Kab Tulungagung (Jawa Timur). Acara kemudian berlanjut dengan pembacaan Maulid Simtud Durar karangan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy.Lepas pembacaan ayat kalam illahi, acara dibuka dengan sambutan pimpinan Majelis Taklim Riyadus Sholichin Kab Purbalingga pimpinan Habib Ali bin Umar Al-Qutban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mauizah hasanah pertama, KH Zamrudin dari Pekalongan mengingatkan tentang hikmah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. “Cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW adalah bukti cinta kita kepada Alloh SWT. Jalur membuktikan kecintaan kepada Alloh SWT adalah melalui Nabi Muhammad SAW." Dalam kesempatan itu, KH Zamrudin juga mengingatkan jama'ah agar menyiapkan generasi -generasi yang shalih dan solehah." Didik anak-anak kita dengan mencintai Nabi Kanjeng Muhammad SAW. Ajari mereka untuk mencintai ahli bait (keluarga Nabi) dan dekatkan dengan ulama. Serta yang terpenting ajari mereka gemar membaca dan mengamalkan kandungan isi dari Al-Qur'an," kata KH Zamrudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu pada kesempatan ceramah kedua, KH Zuhrul Anam pengasuh pondok pesantren At-Taujieh al Islami (Leler, Banyumas) menyampaikan tentang keutamaan sya'faat Rasulullah SAW. Disamapaikan oleh Gus Anam,"Betapa besar perhatian dan kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya, hingga Beliau bersumpah,'Demi Tuhan, Jiwa Muhammad yang dalam genggaman Tuhan. Sungguh seluruh umatku di akhirat mendapatkan jaminan surga'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan dan misi Nabi Muhammad SAW dalam alam dunia ini sesungguhnya untuk membangun dan merubah masyarakat yang kala itu dalam masa kebodohan (jahiliyah) menjadi masyarakat mutamaddin (berkeadaban). Dalam sebuah riwayat Tarikh sejarah Fauzy Abu Zyiad disebutkan kala itu masyarakat arab sebelum hadirnya Rasulullah digambarkan hati mereka lebih keras dari batu. Tetapi kehadiran Nabi Muhammad SAW di tengah umatnya dan mendidik mereka dengan akhlaq, menjadikan negeri semenanjung arab yang tadinya masyarakatnya berhati keras sekeras batu, akhirnya meleleh bahkan hati mereka menjadi lembut bak lembutnya mentega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Peringatan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad SAW ini adalah sebagai media untuk bertahaquq atau bertakhaluq. Sebab dengan khuluq (akhlaq), meniru atau meneladani akhlaq dari Nabi Muhammad SAW, Islam mampu bangkit dan merubah peta sejarah dunia. Kedua, meniru akhlaq Nabi dalam sifat pemurahnya. Kanjeng Nabi kalau ada anak yatim, hati beliau langsung menangis dan beliaulah orang pemurah serta mengajarkan kemurahannya. Ketiga, Nabi Muhammad adalah orang gemar mencintai ilmu. Bahkan beliau menjanjikan surga bagi orang-orang yang senang menuntut ilmu," demikian pesan Gus Anam. Sekitar pukul 12.00 malam, acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Habib Ahmad bin Umar Al-Quthban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji Setiawan, Purbalingga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-4323646468091484208?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/4323646468091484208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=4323646468091484208' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4323646468091484208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/4323646468091484208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/maulid-mt-riyadus-sholihin-kecamatan_09.html' title='Maulid MT Riyadus Sholihin Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-KYssMfOKs9A/Tci3ws8pWEI/AAAAAAAAApc/tJLAHK2Gce8/s72-c/mail.google.com.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-3732162825760241546</id><published>2011-05-05T19:05:00.000-07:00</published><updated>2011-07-29T19:48:15.896-07:00</updated><title type='text'>Darul Abror, Majalah Risalah Nu No 24 tahun 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-c68UXyqbPdI/TjNwNXbFjSI/AAAAAAAAAxg/elaHy9dIMYI/s1600/DSCN9514.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-c68UXyqbPdI/TjNwNXbFjSI/AAAAAAAAAxg/elaHy9dIMYI/s320/DSCN9514.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634970933698858274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-gg1dx-1npWI/TjNwNCfjANI/AAAAAAAAAxY/r3GV34hX6zI/s1600/DSCN9509.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gg1dx-1npWI/TjNwNCfjANI/AAAAAAAAAxY/r3GV34hX6zI/s320/DSCN9509.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634970928080421074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-tGnV7O-8xsA/TjNwMnbFvoI/AAAAAAAAAxQ/J8HWWp8d4nM/s1600/DSCN9507.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-tGnV7O-8xsA/TjNwMnbFvoI/AAAAAAAAAxQ/J8HWWp8d4nM/s320/DSCN9507.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634970920813969026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-jTsOQmpwD1M/TjNwNnt_x5I/AAAAAAAAAxo/RJTBKR0Upt0/s1600/FSCN9512.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-jTsOQmpwD1M/TjNwNnt_x5I/AAAAAAAAAxo/RJTBKR0Upt0/s320/FSCN9512.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634970938073139090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-shzk94psIHI/TcNXyjHlXKI/AAAAAAAAAo8/HduqsVBAWu8/s1600/5.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-shzk94psIHI/TcNXyjHlXKI/AAAAAAAAAo8/HduqsVBAWu8/s320/5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603418887311154338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-dFlcQGXBnIo/TcNXy8U97BI/AAAAAAAAApE/7aDlrXuuwvo/s1600/3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-dFlcQGXBnIo/TcNXy8U97BI/AAAAAAAAApE/7aDlrXuuwvo/s320/3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603418894078176274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-3732162825760241546?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/3732162825760241546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=3732162825760241546' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/3732162825760241546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/3732162825760241546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/darul-abror-majalah-risalah-nu-no-24.html' title='Darul Abror, Majalah Risalah Nu No 24 tahun 2011'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-c68UXyqbPdI/TjNwNXbFjSI/AAAAAAAAAxg/elaHy9dIMYI/s72-c/DSCN9514.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-9108046019673362644</id><published>2011-05-05T19:02:00.000-07:00</published><updated>2012-01-22T17:15:25.443-08:00</updated><title type='text'>Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilin, Banjarnegara</title><content type='html'>Majalah Risalah No 30/vi/2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-pQPEK50ogpM/TeDb-0TsRxI/AAAAAAAAAq0/urHVfE3rywo/s1600/KH%2BHamzah%2BHasan%2Bbersama%2Btamu.%2BTerbuka%2Bdengan%2Bsiapa%2Bsaja.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-pQPEK50ogpM/TeDb-0TsRxI/AAAAAAAAAq0/urHVfE3rywo/s320/KH%2BHamzah%2BHasan%2Bbersama%2Btamu.%2BTerbuka%2Bdengan%2Bsiapa%2Bsaja.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611727007943247634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-b7egGMNooD4/TcNXGhzHkrI/AAAAAAAAAok/VzLqgxbb4-c/s1600/DSCN8303.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-b7egGMNooD4/TcNXGhzHkrI/AAAAAAAAAok/VzLqgxbb4-c/s320/DSCN8303.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603418131042636466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-nZsmwQK5W2Y/TcNXGNGHFOI/AAAAAAAAAoc/vq0guat3U0U/s1600/3b.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-nZsmwQK5W2Y/TcNXGNGHFOI/AAAAAAAAAoc/vq0guat3U0U/s320/3b.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603418125485151458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ynBi69Ci1fU/TcNXGy5GqJI/AAAAAAAAAos/EzMS7YsHLuU/s1600/DSCN9390.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ynBi69Ci1fU/TcNXGy5GqJI/AAAAAAAAAos/EzMS7YsHLuU/s320/DSCN9390.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603418135631145106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilin, Banjarnegara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menciptakan Santri Persegi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa menempatkan diri di mana saja. Mengaji bisa, bermasyarakat bisa, berpemerintahan juga bisa. Tapi yang paling penting sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW,” tutur Kiai Chamzah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, sekitar awal abad ke-18, ada dua ulama besar dari Yogyakarta yang bermaksud mengembangkan dunia Islam di wilayah Kabupaten Banjarnegara, yakni Mbah Salim dan Mbah Saliyem. Mereka mengembangkan potensi rakyat di Banjarnegara dengan cara “bertapa”. Tapa mrihatini anak-putu. Ya, Mbah Salim melakukan laku prihatin agar anak-cucunya menjadi priyayi atau pegawai. Sedangkan Mbah Saliyem, mudah-mudahan anak-cucunya menjadi kiai. &lt;br /&gt;Perkawinan Mbah Salim dan Mbah Saliyem ini menurunkan putra, Mbah Basor. Mbah Basor adalah tuan tanah di sekitar pondok ini. “Barang siapa mau menempati tanah saya dan mau shalat berjama’ah di langgar saya ini dipersilakan menempati tanah tanpa harus membeli atau meminjam. Dengan satu syarat, harus shalat berjama’ah di sini,” demikian pesannya. &lt;br /&gt;Dari generasi kedua Mbah Basor ini muncul enam bersaudara, yakni K.H. Basyuni, K.H. Mohammad Hasan, K.H. Mohammad Soleh, K.H. Abdul Jalil, K.H. Jamil, dan K.H. Abdul Kholik (Cirebon), yang semuanya dimasukkan ke pesantren. &lt;br /&gt;Mereka bercita-cita ingin mengabdikan diri pada agama melalui jalur pendidikan dan dakwah. Walau dengan modal sederhana, dirintislah pendirian pesantren yang dimotori oleh K.H. Mohammad Hasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1954, K.H. Mohammad Hasan pulang dari pondok di Tuban, yakni Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin (Tanggir) Singgahan, setelah berguru kepada K.H. Muslih atau K.H. Soim. Ia kemudian mendirikan bangunan kecil kira-kira empat kamar, berukuran tujuh kali 12 meter, untuk tempat tinggal anak-anaknya, juga untuk mengaji dan belajar kitab. Ini menarik minat anak-anak di sekitarnya. &lt;br /&gt;Seiring berkembangnya waktu, karena masyarakat masih minim pengetahuan agama Islam dan Banjarnegara pada waktu itu terkenal sebagai daerah abangan, K.H. Mohammad Hasan mulai memberikan pelajaran dasar keislaman kepada masyarakat. Dari bagaimana cara berwudhu’, shalat, dan sebagainya. &lt;br /&gt;“Di pondok ini juga dilakukan pengobatan gangguan jiwa, karena banyak masyarakat yang mengalami gangguan jiwa. Kebetulan sejak dari pesantren bapak saya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan penyakit gila, dan melalui pengobatan itu banyak yang sembuh,” tutur K.H. Mohammad Chamzah Hasan, putra kedua K.H. Mohammad Hasan. &lt;br /&gt;K.H. Mohammad Hasan, yang lahir pada 1 Januari 1932  dan wafat pada hari Selasa Legi 25 Desember 2007 pada usia 75 tahun, meninggalkan tujuh putra-putri. Yakni Siti Chamdah, K.H. Mohammad Chamzah Hasan, K.H. Khayatul Maki, Siti Inayah, Gus Hakim An-Naishaburi, Lc., Mustain, dan Zulaikha. &lt;br /&gt;“Setelah sembuh, pasien ingin berbakti kepada Allah SWT. Mereka telah diingatkan, karena sebelumnya lupa. Lalu muncullah kalimat ‘Tanbighul Ghofilin’, yang artinya mengingatkan orang-orang yang lupa. Kemudian kedua kata ini dijadikan sebagai nama pondok pesantren,” ujarnya lagi.&lt;br /&gt;Seiring perkembangan waktu pada saat geger 1965, banyak orang yang berlindung di Pesantren Tanbighul Ghofilin sambil mempelajari ilmu hikmah. Mulailah nama pesantren ini dikenal oleh berbagai kalangan dan santri mulai berduyun-duyun datang. Para santri pria dan wanita ditempatkan di asrama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murni Diniyah Salafiyah  &lt;br /&gt;”Pesantren ini metodenya murni diniyah salafiyah. Belum merambah ke dunia lain. Pernah dicoba, tapi tidak sukses,” kata K.H. Mohammad Chamzah Hasan.&lt;br /&gt;Menurut Kiai Chamzah, tantangan dalam mengelola pesantren itu ada dua, internal dan eksternal. Tantangan internal itu spesifik sekali, berbeda dengan pendidikan umum. Pendidikan umum jam 8 hingga 12 siang. Sedangkan di pesantren, 24 jam pengasuh dan santri berinteraksi. Faktor keteladanan sangat penting dalam membentuk kepribadian santri sehingga nanti setelah selesai mereka sudah mempunyai fundamen yang kukuh.&lt;br /&gt;Sedangkan tantangan eksternal adalah pengaruh lingkungan dan teknologi yang semakin maju. Budaya  berbagai isme akan menjadi ujian ketahanan santri, apakah mereka komit dengan Islam atau tidak. Sekarang ada 300-an santri yang bermukim di pesantren Tanbighul Ghofilin. &lt;br /&gt;Untuk pengembangan pendidikan pesantren, kini pesantren Tanbighul Ghofilien telah dilengkapi pendidikan formal dari tingkat taman kanak-kanak, ibdtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah dengan kepala madrasah pesantren yakni KH Hakim An-Naishaburi, Lc.&lt;br /&gt;Adapun acuan kitab kuning untuk para santri pelajaran fiqh menggunakan safinatunaja, fathul qarib al mujib, fathul muin, minhjul qawim, tuhfatut thulab, al Bajuri, al Mahali. Kitab acuan di bidang ushul fiqh menggunakan al waraqat; qawa’idul fiqh : faroidul bahiyah.&lt;br /&gt;Santri-santri juga dibekali dengan pelajaran nahwu dengan acuan kitab nahwul wadhih, al jurumiyah, al imrithy, qowaidul i’rob, alfiyah ibnu malik. Sedangkan ilmu shorof kitab yang diajarkan yakni amtsilatut tasrifiyah, qowaidul i’lal, al lughowiy, al maufud. Dalam pesantren ini acuan kitab al qur’an adalah tafsir jalalaen dan tafsir ayat al ahkam. Di bidang hadist acuan kitabnya adalah al arba’in nawawiy dan muhtholahul hadist. &lt;br /&gt;Di pesantren ini setiap santri juga diajarkan pelajaran bahasa arab (lughotul arobiyah linnasyiin), tajwid (syifaul jinan dan tuhfatu athfal), tahudi (aqidatul awam dan tanbighul ghofilin), sastra (husnus siyaghoh dan jauharul maknun)  dan untuk ilmu kalam menggunakan idhohul mubham.           &lt;br /&gt;Pengajian di lingkungan pesantren  dimulai dari pengajian hari Ahad. Tema dan isi pengajian ditawarkan dan diputuskan pada hari Senin atau hari berikutnya oleh kiai-kiai kampung. Demikian juga dengan pengajian pada hari Rabu, temanya ditawarkan dan diputuskan pada hari Kamis. Sedangkan kegiatan hari Jum’at, pemimpin pesantren berkeliling ke kampung-kampung untuk mengamati kondisi kampung, terkait dengan aqidah dan syari’ah. &lt;br /&gt;Minggu Kliwon merupakan pengajian selapanan, dan jumlah pengunjung mencapai puluhan ribu orang. Saat ini sedang diajarkan Kitab Hikam, karya Ibnu Athoilah. &lt;br /&gt;Setiap malam Rabu ada taqirran muhafadzah, pembacaan Al-Quran. Dan malam Jum’at diadakan pembacaan surah Ya-Sin dan maulid Barzanji.&lt;br /&gt;Sekalipun mempertahankan tradisi pendikan salafiyah murni, diharapkan setiap santri yang belajar di Ponpes Tanbighul Ghofilin menjadi santri yang “persegi”, kalau dilihat dari sisi mana saja ada bentuknya. Artinya, “Bisa menempatkan diri di mana saja. Mengaji bisa, bermasyarakat bisa, berpemerintahan juga bisa. Tapi yang paling penting sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW,” tutur Kiai Chamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji  Setiawan, Purbalingga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-9108046019673362644?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/9108046019673362644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=9108046019673362644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/9108046019673362644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/9108046019673362644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/05/pondok-pesantren-tanbighul-ghofilin.html' title='Pondok Pesantren Tanbighul Ghofilin, Banjarnegara'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-pQPEK50ogpM/TeDb-0TsRxI/AAAAAAAAAq0/urHVfE3rywo/s72-c/KH%2BHamzah%2BHasan%2Bbersama%2Btamu.%2BTerbuka%2Bdengan%2Bsiapa%2Bsaja.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-2784974361304736107</id><published>2011-04-21T00:53:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T23:50:32.007-07:00</updated><title type='text'>Nasehat Haji, 15 Januari 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-SvgZ_RQ2Dl4/Ta_i2cqXwtI/AAAAAAAAAnU/IqDftxPP-Cc/s1600/kabah%2B1.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-SvgZ_RQ2Dl4/Ta_i2cqXwtI/AAAAAAAAAnU/IqDftxPP-Cc/s320/kabah%2B1.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597942286879539922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Aji Setiawan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim haji telah tiba. Jutaan orang bersiap melaksanakan ibadah itu dengan satu niat, yakni ingin memperoleh haji mabrur. Balasan bagi orang yang hajinya mabrur sangat jelas, yaitu surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjaran yang begitu besar ini tentunya mempunyai konsekuensi dalam pelaksanaannya. Haji tidak hanya ritual rohani, melainkan juga melibatkan fisik seseorang. Beberapa ibadahnya merupakan gabungan dari olah fisik dan rohani. Tidak salah kalau kemudian ada yang mengatakan, haji adalah suatu ibadah yang 'berat' bagi seorang Muslim. Sehingga, sayang bila orang yang berhaji tidak bisa menjadi haji mabrur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji termasuk ritual ibadah yang istimewa. Tidak semua umat Islam bisa melaksanakannya. Dibutuhkan segala persiapan yang matang mulai fisik, finansial, hingga mental. Persiapan secara fisik sangat dibutuhkan mengingat dalam beberapa rukun haji perlu perjuangan fisik, seperti sa'i, melempar jumrah, dan tawaf. Sedangkan finansial jelas diperlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alquran telah digariskan, yang wajib haji adalah orang yang mampu. Sedangkan persiapan mental adalah yang paling penting karena hal ini menyangkut hati. Menyiapkan mental berarti menata hati guna menyambut panggilan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, haji merupakan ibadah yang mempunyai dampak luas bagi umat manusia. Tidak hanya dari segi fisik maupun rohani, juga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Tentu saja haji yang mabrur bisa dilihat dari maslahatnya terhadap kehidupan umat manusia. Haji adalah sebuah ibadah spektakuler, karena di balik semua itu terdapat hikmah yang jauh lebih dahsyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Barang siapa yang mengerjakan haji kemudian ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan, maka ia kembali (bersih) seperti saat dilahirkan oleh ibunya.'' (HR Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sebenarnya menjadi haji mabrur itu? Imam Hasan bin Ali Abi Thalib pernah ditanya, apakah haji mabrur? Jawabnya, ''Jika engkau telah pulang, kamu menjadi orang yang zuhud (tidak terbelenggu dalam cinta dunia), dan bersemangat mencapai kebahagiaan di akhirat.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuhud tidak berarti antimateri, tetapi kesanggupan rohani untuk mengalahkan ambisi pribadi, keserakahan kepemilikan benda, serta kebanggaan semu di dunia. Semoga saja kaum Muslimin yang saat ini sedang menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci, pulang kembali ke Tanah Air dengan hajjun mabrur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-2784974361304736107?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/2784974361304736107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=2784974361304736107' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/2784974361304736107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/2784974361304736107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/04/nasehat-haji-15-januari-2008.html' title='Nasehat Haji, 15 Januari 2008'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-SvgZ_RQ2Dl4/Ta_i2cqXwtI/AAAAAAAAAnU/IqDftxPP-Cc/s72-c/kabah%2B1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-3712537172188376755</id><published>2011-04-21T00:50:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T23:50:18.516-07:00</updated><title type='text'>Mengukir Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-dn_ynewKKSw/Ta_h0rr1CkI/AAAAAAAAAnM/bClq1AK1cd8/s1600/713599gidcqc66ex.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-dn_ynewKKSw/Ta_h0rr1CkI/AAAAAAAAAnM/bClq1AK1cd8/s320/713599gidcqc66ex.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597941157040818754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Republika 28 Juni 2008, Mengukir Hati &lt;br /&gt;Aji Setiawan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengapa kita perlu mendekatkan diri kepada Allah SWT? Karena, kita ingin melaksanakan sabda Rasulullah SAW, ''Hidup di sisi Allah itu baik untuk kalian, dan mati di sisi Allah juga baik untuk kalian.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa hidup dengan mencintai dan dicintai Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW memang tak mudah. Tergantung bagaimana kita bisa becermin dengan apa yang telah Allah SWT contohkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan, untuk dapat melaksanakannya, kita harus memperbanyak amal ibadah serta membersihkan hati. Sebab, amal ibadah dunia yang didasari dengan niat yang baik akan menjadi amal akhirat. Amal ibadah yang kelihatannya seperti amal ibadah akhirat tapi tidak disertai dengan niat yang baik, akan menjadi amalan dunia saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya, kita harus memperbaharui setiap amal ibadah kita dengan menyucikan niat, hanya demi berbakti kepada Allah SWT. Jangan sampai kita tergelincir sehingga menderita penyakit hati, seperti ujub (membangga-banggakan diri), riya (pamer), sumah (suka menceritakan amal), dan lainnya, yang bisa menghancurkan amal ibadah akhirat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyucikan hati itu penting sekali, sebab hati manusia mudah berubah-ubah. Itulah sebabnya, Rasulullah SAW mengajarkan doa, ''Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi an dinika. (Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku kepada agama-Mu). Artinya, kita harus selalu membersihkan hati dari kotoran penyakit-penyakit hati. Hati itu ibarat besi yang setiap kali diampelas, segera setelah itu karatan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sejauh mana kita berikhtiar untuk membersihkan dan mencuci hati? Sebagian orang menempuh jalan tarekat, yaitu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagaimana caranya? Pertama, beribadahlah sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Antakbudallaha ka annaka tara, fa-inlam tarahu fa-innahu yara. (Beribadahlah kamu seolah-olah kamu melihat Allah; tapi jika kamu tidak bisa melihat-Nya, beribadahlah seakan-akan kamu merasa dilihat Allah SWT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk kali pertama mencoba ''melihat Allah'', mungkin terasa berat. Tapi, kita harus berusaha beribadah sedemikian rupa sehingga kita bisa merasa dekat pada Allah SWT, berusaha beribadah sehingga merasa seolah-olah kita dilihat Allah SWT. Bagaimana caranya agar kita bisa beribadah dan merasa dekat serta dilihat Allah SWT? Ingatlah firman Allah SWT dalam beberapa ayat Alquran, bahwa kita harus senantiasa berdzikir.(Rek Bank Mandiri a/n Aji Setiawan no : 139-00- 1091517-5)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-3712537172188376755?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/3712537172188376755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=3712537172188376755' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/3712537172188376755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/3712537172188376755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/04/mengukir-hati.html' title='Mengukir Hati'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-dn_ynewKKSw/Ta_h0rr1CkI/AAAAAAAAAnM/bClq1AK1cd8/s72-c/713599gidcqc66ex.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2909648505076174827.post-6123760732747453094</id><published>2011-04-21T00:36:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T23:50:00.974-07:00</updated><title type='text'>Keutamaan Musibah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-O9aL2bwee2A/Ta_e7X2zp5I/AAAAAAAAAnE/RxuS1KsGaws/s1600/books.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 198px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-O9aL2bwee2A/Ta_e7X2zp5I/AAAAAAAAAnE/RxuS1KsGaws/s320/books.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597937973442357138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Republika, Sabtu, 13 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, sesungguhnya rasa syukur itu timbul karena mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Sedangkan sabar muncul karena tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan atau menyusahkan. Meskipun keduanya bertentangan, tetapi kadang ketika memperoleh suatu musibah manusia dapat bersabar sekaligus bersyukur. Ini bisa terjadi jika yang bersangkutan menyadari bahwa di dalam kesabaran itu terdapat kenikmatan tersendiri yang harus disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amirul Mukminin Umar bin Khathab RA berkata, ''Tidaklah aku diuji dengan sebuah musibah melainkan di dalamnya kutemukan empat kenikmatan dari Allah, yaitu karena musibah tersebut tidak menimpa agamaku, tidak lebih besar dari yang sedang terjadi, aku ridha dengan musibah itu, dan aku dapat mengharapkan pahala darinya.'' Begitulah kunci yang diberikan Umar bin Khattab RA kepada kita saat ditimpa musibah agar kita bisa senantiasa bersabar dan bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat begitu banyak nikmat di balik musibah, maka sepantasnya manusia harus tetap bisa bersyukur atas musibah yang menimpanya. Hikmah itu sangat nyata sebagaimana Allah firmankan, ''Dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-nikmat-Nya lahir dan batin.'' (QS Al Luqman (31): 20). Ayat tersebut ditafsirkan sebagian ulama bahwa Allah telah menjadikan berbagai musibah zhahir sebagai nikmat, sebab di balik musibah terdapat pahala dan pendidikan dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan berbagai musibah duniawi dan rasa syukur itu adalah sebuah kebahagiaan dan kesabaran yang menjadi reaksi dari rasa sakit. Sebenarnya berbagai musibah duniawi tersebut merupakan obat penyakit hati sebagaimana rasa sakit menjadi obat bagi penyakit jasmani. Karena itulah sebagian kalangan memahami bahwa untuk membuang sakit itu memang diperlukan kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, memperoleh sehat tetap lebih baik daripada sakit. Karena itu, Rasulullah SAW berlindung kepada Allah dari segala jenis bencana di dunia dan akhirat serta memohon keselamatan darinya. Rasulullah SAW bersabda, "Mintalah kepada Allah kesehatan, sebab tidak ada karunia yang diberikan kepada seorang hamba yang lebih utama daripada kesehatan, kecuali keyakinan.'' (HR Ibnu Majah dan Nasai). Yang dimaksud dengan keyakinan dalam hadis tersebut adalah terselamatkannya hati dari kebodohan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW juga pernah berdoa, ''Dan karunia kesehatan-Mu lebih kusukai.'' (HR Ibnu Ishaq dan Ibnu Abi Dunya). Sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk membuat seseorang memperoleh kenikmatan yang sempurna di dunia dan pahala yang besar di akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita mohon kepada-Nya agar dengan kemurahan-Nya, dalam segala hal, Dia memberi kita kenikmatan zhahir maupun batin yang sempurna dan berkesinambungan. Sabar atau syukur adalah kunci yang bisa kita miliki untuk menggapai kenikmatan tersebut. Sabar dan syukur juga menjadi senjata yang sangat kuat untuk membantu kita dalam menghadapi segala macam bentuk musibah. (Aji Setiawan)Rek Bank Mandiri a/n AJi Setiawan 139-00-1091517-5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2909648505076174827-6123760732747453094?l=ajisetiawan1.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/feeds/6123760732747453094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2909648505076174827&amp;postID=6123760732747453094' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/6123760732747453094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2909648505076174827/posts/default/6123760732747453094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajisetiawan1.blogspot.com/2011/04/keutamaan-musibah.html' title='Keutamaan Musibah'/><author><name>Aji Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00128875740973350707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-gOZvVH_CODY/Tq5hfdgTqQI/AAAAAAAAAyo/xcblRunzhU8/s220/DSC_0250.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-O9aL2bwee2A/Ta_e7X2zp5I/AAAAAAAAAnE/RxuS1KsGaws/s72-c/books.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
